.

Two Hours

.

Chanyeol and Baekhyun

.

Chapter 2

.

Remake From Melani KyuminElfSha's Fanfiction

.

Romance, Family, Drama, Hurt.

.

M For Language

.

GS for Baekhyun, OOC, Typo(s), Vulgar Language.

.


Chanyeol mendorong Baekhyun, mendesaknya hingga punggung Baekhyun bersandar di kepala kloset. Baekhyun benar-benar merasa terpojok dan ingin berontak namun pria itu mengunci kedua pergelangan tangannya dengan menggunakan satu tangan. Pria itu sungguh kuat dan sontak membuat Baekhyun berhenti meronta saat merasa perlawanannya hanya sia-sia saja.

Beberapa detik kemudian tangan bebas Chanyeol terulur dan berhenti tepat di tengkuk Baekhyun, mengusapnya dengan gerakan lembut dan jelas saja membuat Baekhyun merinding. Hal itu sukses membuat tubuh Baekhyun melemas dan beberapa saat kemudian Baekhyun ikut menutup mata tanpa sadar saat Chanyeol mulai menggerakkan bibirnya.

Baekhyun tak membalas, hanya memejamkan mata kuat seraya mengepalkan kedua tangannya yang masih dipenjara oleh sebelah tangan Chanyeol. Tampaknya kekalahan Baekhyun dimanfaatkan benar oleh Chanyeol, terbukti pria itu tak membuang-buang kesempatan dan berniat melakukan hal lebih lagi.

Sementara itu Baekhyun tersentak kala merasakan lidah Chanyeol menyapa belahan bibirnya. Bagai mendapat kekuatan super Baekhyun segera membuka mata dan melepaskan kedua tangannya dari penjaraan Chanyeol saat merasakan kungkungan pria itu mulai melemah. Tanpa membuang waktu Baekhyun segera mendorong bahu Chanyeol sekuat mungkin dan hal itu sukses membuat tautan bibir mereka terlepas. Mendapati dorongan mendadak itu membuat punggung Chanyeol hampir menabrak pintu di belakangnya jika saja pria itu tak segera menahan pergerakan dan kelengahan Chanyeol dimanfaatkan oleh Baekhyun untuk bangkit dari duduk, tanpa basa-basi perempuan itu melayangkan tamparan kerasnya ke pipi kiri Chanyeol dan membuat pria itu hampir terjatuh.

Chanyeol kaget, jelas saja karena panas di pipi kirinya terasa hampir membakar seluruh tubuh. Dengan tangan bergetar pria itu menangkup pipi kirinya lalu menatap Baekhyun tak percaya. Baekhyun balas menatap pria itu dengan tatapan tajam.

"Menjijikkan." Ujar Baekhyun dengan suara dingin lalu tanpa peringatan segera melangkah keluar dari bilik dan saat melewati Chanyeol Baekhyun sengaja menabrakkan bahu mereka cukup keras.

Chanyeol masih berdiri mematung saat mendengar pintu di belakangnya tertutup lagi. Pria itu terdiam entah memikirkan apa dan beberapa menit kemudian berbalik untuk menyusul Baekhyun.


Baekhyun ingin menangis, bibir bawahnya sudah bergetar karena sejak tadi ia menahan isakan yang hampir keluar. Dengan langkah dipaksa cepat perempuan itu mendekat ke kursi tunggunya dan sebelum duduk Baekhyun masih sempat-sempatnya mengamati sekitar. Tetap sama, kursi tunggu bandara itu tak ada satupun yang kosong malah pengunjungnya semakin bertambah banyak saja, membuat niat Baekhyun yang ingin pindah ke kursi tunggu lain menjadi sirna seketika.

Baekhyun menghela nafas pasrah sebelum memutuskan duduk dan sadar jika ponselnya masih disita Chanyeol membuatnya menatap koper hitam pria itu yang berada tak jauh darinya. Baekhyun memicingkan mata dan berniat mengobrak-abrik isi koper pria itu demi mendapatkan ponselnya namun segera ia urungkan karena niat tadi benar-benar mencerminkan kelakuan tak baik.

Baekhyun menghela nafas berat dan memilih menyandarkan punggungnya sebelum menatap kosong ke depan. Entah apa yang ia pikirkan dalam otaknya namun terlihat jelas jika Baekhyun tengah gelisah.

Tak lama dari arah depan Chanyeol datang dengan membawa sebuah botol air mineral di tangan kanannya sementara tangan kiri pria itu masih menangkup pipi kiri. Menyadari jika Chanyeol datang membuat Baekhyun mendengus dan menatap arah samping, Baekhyun benar-benar tak ingin bertatapan dengan pria itu karena tak ingin mengamuk detik ini jika.

Chanyeol tanpa canggung kembali duduk di sebelah Baekhyun sebelum membuka tutup botol air mineral itu. "Ini." Chanyeol menyodorkan botol itu tepat di hadapan Baekhyun dan jelas saja membuat perempuan itu menatapnya heran. Chanyeol tersenyum manis mendapati tatapan perempuan itu. "Kau pasti lelah karena aktifitas kita tadi." Ujarnya dan sontak membuat Baekhyun menggeram tertahan. Namun memang benar Baekhyun merasa haus sekali dan dengan gerakan kasar perempuan itu menyambar botol mineral pemberian Chanyeol untuk ia teguk kasar. Beberapa detik kemudian Baekhyun memberikan botol itu pada Chanyeol, pria itu menerimanya dan masih tersenyum sebelum meneguk sisa air mineral dari botol Baekhyun.

Baekhyun berdecih melihat kelakuan Chanyeol yang tanpa canggung menghabiskan sisa air mineralnya. Baekhyun benar-benar muak melihat kelakuan berani pria itu dan kembali mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.

"Sshh. Sakit sekali."

Baekhyun melirik Chanyeol saat mendengar keluhan dari mulut pria itu. Chanyeol tampak mengusap pipi kirinya yang masih terlihat memerah. Baekhyun tertegun sebentar melihat warna merah yang ia buat tadi dan tak menyangka jika tamparannya akan berbekas selama itu di pipi Chanyeol.

"Pipiku rasanya kebas." Ujar Chanyeol lagi dan kali ini setengah merengek membuat Baekhyun memutar bola matanya malas.

'Kebas? Berlebihan sekali pria ini.' Pikir Baekhyun. "Kau pria atau wanita." Akhirnya Baekhyun membuka suara walau dengan nada ketus.

"Pria asli. Kau mau bukti?" Tanya Chanyeol cepat dan sontak membuat Baekhyun menatap kearahnya.

"Aku tak suka mendengar kau berbicara kasar begitu. Sudah cukup." Ujar Baekhyun tegas.

"Siapa yang berbicara kasar? Aku hanya ingin menawarkan bukti jika kau tak percaya." Kilah Chanyeol.

Baekhyun kembali memutar bola matanya, berbincang dengan pria satu ini benar-benar menguras banyak energi. "Jika kau pria kenapa begini saja sudah merengek layaknya anak perempuan." Cibir Baekhyun kemudian.

Chanyeol kembali mengusap pipi kirinya. "Tapi memang sakit. Kau menamparku dengan kekuatan penuh hingga kepalaku pusing." Ujar Chanyeol setengah meringis.

Mendengar ucapan itu membuat hati Baekhyun luluh, rasa belas kasihnya terketuk dan entah dorongan darimana tangan kanan Baekhyun terulur untuk menyingkirkan tangan Chanyeol dari pipinya lalu mengambil alih pekerjaan Chanyeol tadi, mengusap pipi kiri pria itu. Baekhyun kembali kaget kala merasakan pipi kiri Chanyeol hangat. Sepertinya Baekhyun benar-benar menampar pria ini dengan kuat.

"Maaf." Ujar Baekhyun pelan, mendadak ia menyesal dan merasa bersalah sudah menampar pria itu. "Kau melecehkanku tadi makanya aku hilang kendali. Berjanjilah jangan melakukan hal tadi lagi."

"Siapa yang melecehkanmu?" Chanyeol membulatkan matanya sekilas. "Aku menghormatimu makanya aku menciummu." Sambung pria itu.

Baekhyun terdiam, menatap Chanyeol beberapa saat sebelum menekan pipi kiri pria itu dengan ibu jarinya dan sukses membuat ringisan Chanyeol kembali terdengar. "Siapa yang mengajarimu jika mencium artinya menghormati. Dasar gila." Ujar Baekhyun seraya melepaskan tangkupannya, kembali duduk dengan benar dan menyandarkan punggung di kepala kursi, bersiap akan mengabaikan Chanyeol lagi.

Tanpa Baekhyun sadari Chanyeol tersenyum seraya menatapnya lekat seolah tak berkedip, lalu pria itu tersadar dan duduk merapat kearah Baekhyun.

"Sakit sekali. Kau harus bertanggung jawab." Ujar Chanyeol seraya mulai menyandarkan kepalanya di bahu kiri Baekhyun.

"Kenapa aku harus bertanggung jawab? Jelas-jelas ini ulahmu sendiri." Jawab Baekhyun seraya menatap pucuk kepala Chanyeol. Ia ingin menegur pria itu untuk segera menyingkir dari bahunya namun saat melihat Chanyeol sudah bersandar nyaman di sana Baekhyun mengurungkan niat. Baekhyun menghela nafas berat melihat ketidakberdayaannya menghadapi tingkah semena-mena Chanyeol, Baekhyun merasa sangat amat payah sekarang.

"Paling tidak lakukan sesuatu agar pipiku tak sakit lagi." Ujar Chanyeol seraya mengenggam tangan kiri Baekhyun, mengarahkan telapak tangan perempuan itu agar menangkup di pipi kirinya lagi. Chanyeol menahan tangan Baekhyun agar terus menangkup pipi kirinya dan beberapa detik kemudian memejamkan mata, seolah meresapi apa yang tengah ia lakukan.

Mendapati kelakuan Chanyeol dan menyadari jika ini juga kesalahannya membuat Baekhyun mau tak mau mengusap pipi kiri Chanyeol dengan gerakan lembut dan terang saja membuat Chanyeol tersenyum tanpa sepengetahuan Baekhyun.

"Kepalaku juga sakit. Kau bisa memijatnya jika kau mau."

"Tsk." Baekhyun memutar bola matanya lagi dan berniat menarik tangannya dari pipi Chanyeol sebelum pria itu menahan tangannya. Baekhyun terdiam mendapati kelakuan pria itu hingga tanpa peringatan Chanyeol mengecup telapak tangannya sekilas sebelum mengarahkan telapak tangan Baekhyun untuk menangkup pipi kirinya lagi.

"Dulu istriku sering melakukan ini jika aku tengah sakit. Dia memanjakanku hingga aku merasa seperti seorang raja saat berada di dekatnya." Bisik Chanyeol.

Baekhyun kembali terdiam beberapa saat sebelum tersadar dan menanggapi ucapan Chanyeol. "Jika begitu cari dia dan minta ia memanjakanmu." Ujar Baekhyun ketus, entah kenapa ia mendadak kesal mendengar Chanyeol menceritakan perihal istrinya.

"Iya. Jika aku berhasil menculiknya nanti aku akan meminta langsung dia memanjakanku di atas ranjang." Jawab Chanyeol.

"Tsk! Mulai lagi." Komentar Baekhyun malas dan kembali Chanyeol tersenyum mendengarnya.

Lalu tak ada perbincangan setelah itu. Chanyeol yang memejamkan mata dan tampak ingin terlelap sedangkan Baekhyun yang tenggelam dalam pikirannya sendiri seraya masih mengusap pipi kiri Chanyeol.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Baekhyun, mata indahnya mengarah pada pergelangan tangan kiri Chanyeol untuk melirik arloji pria itu.

"Lihat sendiri." Chanyeol tanpa sadar mengarahkan tangan kirinya tepat di pangkuan Baekhyun dan jelas saja membuat perempuan itu mendengus lagi sebelum mengangkat tangan Chanyeol dan memeriksa arlojinya.

"Satu jam lagi. Kenapa lama sekali." Ujar Baekhyun setengah frustasi seraya menjauhkan tangan Chanyeol dari pangkuannya. Namun tampaknya Chanyeol memiliki rencana lain, dengan berani ia memeluk perut Baekhyun sementara tangan kanannya menyusup dan melingkar hangat di pinggang Baekhyun.

"YA!" Baekhyun sontak berteriak saat menyadari pria itu memeluknya dengan sangat erat. Baekhyun merasa sesak namun pria itu tampaknya tak mengerti, terus saja memeluk perut Baekhyun dan menyamankan kepala di bahunya.

"Tsk!" Baekhyun hanya bisa mendengus saat lagi-lagi ia tak berdaya melepaskan diri dari Chanyeol. Dengan rasa jengkel Baekhyun menarik tangannya dari pipi Chanyeol dan beralih menangkup tangan kiri Chanyeol yang sudah bertengger nyaman di perutnya. "Jangan begini." Tampaknya Baekhyun masih ingin melakukan perlawanan, terlihat dari bagaimana ia berusaha menyingkirkan tangan Chanyeol dari perutnya.

"Semakin kau bergerak semakin pula ini mengerat." Ujar Chanyeol tanpa membuka mata, suaranya berubah menjadi dingin dan Baekhyun merasa Chanyeol benar-benar tak sekedar mengancam.

Dengan menghela nafas berat Baekhyun mengalah, tanpa sadar meletakkan tangannya di atas tangan Chanyeol. Entah apa yang perempuan itu pikirkan namun sungguh Baekhyun tak nyaman berada disituasi seperti ini. Ingin mengalihkan perhatiannya dari kungkungan Chanyeol pandangan Baekhyun mulai mengarah keluar bandara dan Baekhyun membulatkan mata saat melihat kondisi di luar sana.

"Hujan?" Tanya Baekhyun tak percaya. Kaca transparan yang memenjara sekeliling mereka tampak basah. Baekhyun tak tahu kapan rintik air yang bisa dibilang deras itu jatuh di luar sana karena sejak tadi Baekhyun tak mendengar tanda-tanda akan turun hujan.

"Pantas mereka menunda keberangkatan." Jawab Chanyeol masih memejamkan mata.

"Apa? Tapi… aish." Baekhyun merasa kesal bukan main. Jika begini ia benar-benar terlambat tiba di London. Baekhyun menatap lagi keluar bandara dan kaca transparan yang memenjara mereka banyak memberitahu Baekhyun. Dari tempatnya duduk Baekhyun bisa melihat kilat serta mendengar guntur bersahut-sahutan, belum lagi angin kencang yang menerbangkan benda ringan di luar sana.

"Jangan bilang hujan di sertai angin hebat." Ujar Baekhyun seraya terus menatap keluar dengan pandangan antisipasi. Mendengar ucapan Baekhyun membuat Chanyeol membuka mata dan ikut menatap keluar ruangan. Sesaat pria itu tersenyum menang sebelum kembali menutup matanya.

"Jelas hujan berangin. Harusnya kau berdoa semoga tidak hujan disertai badai." Ujar Chanyeol dan jelas saja membuat Baekhyun kaget. Badai? Itu jelas membuat Baekhyun semakin terjebak disini.

"Kalimatmu seolah kau tengah meminta hujan disertai badai." Komentar Baekhyun ketus.

Chanyeol kembali tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Ternyata kau pembaca pikiran yang hebat." Jawab Chanyeol tak mau kalah.

"Tsk!" Baekhyun hanya mendengus mendengar jawaban Chanyeol. Pria ini terlalu jujur atau memang ingin membuat Baekhyun kesal? Baekhyun tak terlalu ingin memikirkan jawaban itu dan kembali menatap keluar ruangan. Di luar sana angin kencang semakin menggila, Baekhyun bisa melihatnya dan beruntung sekarang mereka berada di dalam ruangan yang tentu saja aman dari amukan hujan serta angin.

Satu kilat terang dan disusul suara guntur menggelegar membuat Baekhyun kaget dan sontak berteriak, tanpa sadar perempuan itu berbalik memeluk Chanyeol dan berlindung di balik dada pria itu.

Chanyeol yang tadi nyaris terlelap sukses membuka mata saat mendapati Baekhyun memeluk erat tubuhnya. Chanyeol terdiam beberapa saat sebelum mengembangan senyum kemenangan dan balas memeluk Baekhyun. Perempuan itu bergetar hebat, Chanyeol bisa merasakannya.

"Tidak masalah. Kau aman jika berada di dekatku." Bisik Chanyeol seraya mengusap punggung Baekhyun lembut dan membuat getaran dari tubuh perempuan itu semakin menggila. "Jangan takut. Kita aman disini dan kau hanya perlu memejamkan mata serta jangan menatap keluar ruangan." Saran Chanyeol tepat di telinga kanan Baekhyun.

"Bagaimana aku tak takut? Memejamkan mata saja cahaya kilatnya masih dapat kutangkap, belum lagi suara gemuruh yang memekakkan telingaku." Ujar Baekhyun dengan suara bergetar.

Chanyeol lagi-lagi tersenyum, dengan sabar ia terus mengusap punggung Baekhyun. "Kau bisa berlindung di tubuhku. Kau akan aman, aku janji." Ujarnya lirih dan ucapan itu membuat Baekhyun tersentak. Beberapa detik kemudian tak ada perbincangan sebelum Baekhyun menengadah, menatap wajah Chanyeol dan pria itu balas menatapnya dengan senyuman manis. "Kau bisa mengandalkanku." Ujar pria itu lagi.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan sendu dan membuat Chanyeol terdiam. Dalam hati pria itu menggeram tertahan kala terus mendapati tatapan Baekhyun yang seolah memancingnya untuk melakukan hal lebih.

Tanpa sadar Chanyeol melonggarkan pelukan, mengulurkan sebelah tangan untuk mengusap pipi dan rambut samping Baekhyun sebelum Chanyeol mengecup sekilas bibir perempuan itu.

Baekhyun memejamkan mata dan saat Chanyeol menyudahi ciuman mereka kembali perempuan itu memeluknya. "Lagi-lagi kau melecehkanku. Ingatkan aku untuk menamparmu lagi nanti." Bisik Baekhyun tepat di dada Chanyeol.

Mendengar itu membuat Chanyeol tersenyum dan balas memeluk Baekhyun. "Menamparku dengan bibirmu? Aku setuju." Jawab pria itu sekenanya dan Baekhyun hanya bisa mendengus tertahan, beruntung karena petir jika tidak Baekhyun sudah melayangkan tamparannya lagi di pipi Chanyeol. "Tubuhmu hangat. Aku senang memelukmu." Bisik Chanyeol yang jelas saja membuat Baekhyun kaget namun beberapa saat kemudian Baekhyun tersenyum tanpa Chanyeol sadari dan mengeratkan pelukannya. "Dan tubuhmu terlalu panas." Baekhyun balas berbisik.

"Apa?" Chanyeol tak terlalu jelas menangkap ucapan perempuan itu dan beralih menatapnya, sedikit menunduk agar bisa melihat wajah Baekhyun yang tepat berada di dadanya.

Baekhyun menggeleng dan tak ingin menjawab pertanyaan Chanyeol, biarlah pria itu diliputi rasa penasaran, siapa suruh ia bermain-main dengan Baekhyun.

"Kau ini." Bukannya marah, Chanyeol malah tersenyum mendapati ulah Baekhyun. Dengan berani pria itu mengecup pucuk kepala Baekhyun sebelum menenggelamkan wajahnya di helaian rambut hitam perempuan itu. "Wangimu memikat. Aku menyukainya." Ujar Chanyeol lagi dan kali ini Baekhyun tersentak mendengar ucapan itu. Dapat Chanyeol rasakan Baekhyun menegang di dalam pelukannya dan sekali lagi Chanyeol tersenyum menang.

"Kau jangan berbuat kurang ajar padaku. Jika bukan karena petir aku tak akan sudi memelukmu." Ujar Baekhyun ketus, mendadak perempuan itu kembali bersikap dingin dan bukannya kaget, Chanyeol malah terkekeh mendengar nada peringatan Baekhyun.

"Baiklah. Tak akan ada lagi tindakan kurang ajar. Aku janji." Ujar Chanyeol dengan suara yang dibuat-buat, Baekhyun tak menanggapi dan memilih memejamkan matanya. Tak ada perbincangan lagi setelah itu dan Chanyeol kembali merasa bosan. Di luar sana hujan masih turun dengan deras dan kilat serta guruh masih menemani, tak lupa angin yang semakin menggila juga turut memeriahkan kondisi di luar sana.

"Kau ini perempuan yang galak. Aku penasaran apa ada pria yang mau denganmu." Chanyeol berujar seolah ia benar-benar penasaran dan ucapan itu membuat Baekhyun mencebikkan bibirnya.

"Kau saja rela menceraikan istri yang sudah kau cintai selama tujuh tahun demi mendapatkanku, apa kau harus bertanya lagi bagaimana populernya aku diantara para pria?" Tanya Baekhyun dengan nada sombong yang segera mendapati anggukan Chanyeol.

"Benar juga. Pesonamu benar-benar sulit untuk ditolak namun sikap galakmu itu yang menjadi kendala." Komentar Chanyeol.

"Tak masalah. Aku juga tak membutuhkan pria." Ujarnya kemudian.

"Benarkah? Jangan bilang kau penyuka sesama jenis. Pantas saja sangat marah saat kucium." Ujar Chanyeol setengah terkekeh.

Baekhyun menghela nafasnya mendengar ucapan Chanyeol. "Aku normal." Jawabnya datar.

"Jika normal kau tak akan menolak untuk kunikahi." Jawab Chanyeol.

"Kau yang gila jika menginginkan itu." Baekhyun berujar lagi dengan nada suara dingin.

"Tidak. Siapa bilang? Kau bisa mengatakanku gila jika aku menyuruhmu menikahi istriku." Chanyeol berujar tak mau kalah dan kembali membuat Baekhyun menghela nafas.

"Terserahlah." Jawab Baekhyun malas dan tentu saja membuat senyuman Chanyeol lagi-lagi terkembang.

"Jangan bilang kau ke London demi menghindari priamu." Terka Chanyeol.

Baekhyun tak langsung menjawab, memilih kembali menghela nafasnya berat. "Aku ingat jika masalahku bukan urusanmu dan kau tak punya hak untuk bertanya." Jawab Baekhyun ketus.

"Oh maaf." Chanyeol hampir tertawa mendengar jawaban itu. "Aku hanya ingin memberi solusi jika kau ingin menghindari priamu lebih baik habiskan waktu denganku. Kita membuat skandal besar yang akan mencengangkan pasangan kita." Ujar Chanyeol setengah tertawa.

Baekhyun kembali menghela nafas. Pria ini benar-benar tak tahu malu menurut Baekhyun. Diberi hati malah minta jantung, harusnya dia berterima kasih karena Baekhyun telah sudi mengajaknya bicara.

"Ini tak lucu lagi." Baekhyun melepaskan pelukan dan berniat menjauh dari Chanyeol namun pria ini tak sependapat, ia tetap memeluk Baekhyun dan tak ingin sedikitpun melepaskannya.

"Memang tak lucu. Aku tak bermaksud menjadi pelawak di depanmu nona." Bisik Chanyeol tepat di telinga kanan Baekhyun.

Baekhyun kembali terdiam dan entah kenapa pikirannya mendadak kacau. Kenapa pria ini mengucapkan hal yang membuat Baekhyun merasa aneh sendiri?

Mengetahui bungkamnya Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum sekilas, mengeratkan pelukan mereka dan setelah itu tak ada perbincangan di antara mereka. Tampaknya dua orang itu sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Namun tak berapa lama pengumuman dari pihak bandara memenuhi ruangan dan jelas saja bisa didengar Baekhyun. Suara perempuan yang terdengar dari pengeras suara itu mengumumkan jika penerbangan dibatalkan untuk semua jurusan.

"APA!" Baekhyun sontak mendorong tubuh Chanyeol kuat hingga membuat pelukan mereka terlepas. "Dibatalkan? Apa mereka gila?" Tanya Baekhyun panik seraya menatap arah pengeras suara. "Tak bisa dibiarkan." Perempuan itu sontak berdiri dari duduk dan melangkah untuk mencari pihak bandara yang menurutnya harus menjelaskan masalah ini.

"Hei." Chanyeol yang baru sadar jika Baekhyun ingin menemui pihak bandara segera mengejar perempuan itu.


"Dibatalkan? Apa kalian gila? Aku harus segera ke London dan kalian seenaknya membatalkan penerbangan?" Baekhyun sejak tadi terus saja berdebat dan menyuarakan kekecewaannya pada salah satu perempuan berseragam yang duduk di seberang meja.

"Iya nyonya. Maafkan kami atas kejadian ini. Pembatalan bukan tanpa alasan. Anda lihat di luar." Perempuan itu menunjuk kaca transparan di belakangnya dan di sana hujan berangin masih menyergap mereka. "Tidak mungkin kami menantang bahaya dengan melanjutkan penerbangan. Terlalu beresiko nyonya." Jawabnya yang jelas saja masuk akal.

"Tapi…" Baekhyun kehabisan kata-kata dan tampak berpikir. "… ini tetap kesalahan kalian. Kalian menunda dua jam dan apa yang kalian lakukan selama dua jam? Harusnya kalian jangan mengulur waktu dan lihat sekarang. Ini kesalahan kalian." Protes Baekhyun lagi.

Perempuan yang menjadi objek amukan Baekhyun hanya bisa tersenyum ramah sebelum menjawab. "Maaf nyonya. Kami menunda penerbangan dua jam juga bukan tanpa alasan. Mohon nyonya berpikir dewasa dalam menyikapi ini. Kami membatalkan penerbangan untuk keselamatan kita semua." Ujar perempuan itu tenang, tak bergetar sama sekali mendapat amukan Baekhyun.

"Jadi bagaimana sekarang? Aku harus segera tiba di London." Ujar Baekhyun setengah frustasi.

"Jika hujan badai sudah mereda kami rasa besok penerbangan sudah beroperasi seperti sedia kala. Anda tenang saja." Jawabnya lagi.

"Tenang, tenang. Enak sekali kalian berucap begitu. Ini benar-benar karena penundaan selama dua jam. Jika kalian tidak menundanya maka aku sudah berada di dalam pesawat sekarang." Murka Baekhyun lagi.

"Sudahlah." Chanyeol yang sejak tadi berada di samping Baekhyun mulai membuka suara. "Kau bisa pergi dengan penerbangan pagi besok." Sambung Chanyeol.

"Aish!" Baekhyun menggeram mendengar jawaban Chanyeol sementara pria itu mulai menatap perempuan berseragam rapi di depannya seraya tersenyum.

"Maafkan dia nona. Maklum tengah diburu waktu." Ujar Chanyeol menjelaskan.

"Iya tuan. Tak masalah. Maaf sudah mengecewakan anda dan istri anda." Ujar perempuan itu lagi, masih tersenyum.

"Apa? Istri?" Mata Baekhyun membulat menatap perempuan itu seakan tak terima namun sadar jika permasalah penting bukan terletak pada tuduhan perempuan tadi, Baekhyun kembali membuka suara. "Jadi bagaimana sekarang? Apa kami harus menunggu di sini semalaman?" Tanya Baekhyun masih dengan nada marah.

Perempuan berseragam rapi itu tersenyum menanggapi ucapan Baekhyun. "Di bandara ini lengkap nyonya, anda tak perlu cemas. Di sayap kanan tersedia hotel berbintang, anda bisa menyewa salah satu kamar disana." Saran perempuan itu.

"Tsk!" Baekhyun kembali mendengus namun dalam hati membenarkan ucapan perempuan itu.

"Terima kasih sarannya manis." Ujar Chanyeol seraya tersenyum, menyentuh sekilas dagu perempuan itu dan terang saja membuat Baekhyun menatapnya jijik.

"Dasar gila." Maki Baekhyun sebelum berbalik, melangkah terburu-buru menuju kursi tunggunya tadi.

"Sayang tunggu aku." Chanyeol setengah berteriak dan segera menyusul langkah Baekhyun. "Pergi kesana denganku, hm?" Tanya Chanyeol saat melihat Baekhyun tengah menyandang tas lalu menarik gagang kopernya. Sebelum melangkah Baekhyun menyempatkan diri menatap Chanyeol.

"Menjauh dariku!" Ujarnya ketus dan mulai melangkah. Chanyeol tersenyum mendengar ucapan itu dan tanpa buang waktu segera menarik gagang kopernya demi mengekori Baekhyun. Tampaknya peringatan Baekhyun tak diterima baik oleh Chanyeol. Pria satu ini benar-benar keras kepala.


Baekhyun dan Chanyeol tiba di meja resepsionis hotel lalu segera memesan kamar.

"Satu kamar untuk satu malam, tolong." Baekhyun segera berujar dan dengan sigap perempuan resepsionis itu menatap layar komputernya.

"Anda berdua beruntung. Yang tersisa hanya satu kamar VIP di lantai atas."

"Apa?" Mendengar ucapan resepsionis itu membuat Chanyeol dan Baekhyun berteriak bersamaan. "Tidak! Tidak! Kami tidak datang bersama, kami pengunjung berbeda. Apa tak ada dua kamar yang tersisa?" Tanya Baekhyun setengah panik.

"Tidak ada nyonya. Kebetulan banyak pengunjung yang menyewa kamar di karenakan tak bisa pulang." Jelas resepsionis itu.

"Tsk!" Baekhyun kembali mendengus, benar-benar merutuki kejadian yang menimpanya saat ini.

Chanyeol menatap Baekhyun lekat sebelum bertanya pada perempuan itu. "Jadi bagaimana?"

"Aku akan cari hotel lain." Ujar Baekhyun seraya mengenggam gagang kopernya, berniat melangkah namun urung saat Chanyeol mengenggam lengannya. Baekhyun menatap pria itu dengan dahi mengerut seolah bertanya.

"Tak mungkin kau mencari hotel lain. Bahkan aku yakin tak ada taksi yang beroperasi di luar sana saat hujan badai begini. Mau mencari hotel dimana kau?" Tanya Chanyeol yang segera membuat Baekhyun tersadar, perempuan itu membenarkan ucapan Chanyeol dalam hati.

Baekhyun terdiam sesaat dan mendadak keraguan menyelimutinya. Ia tak bisa hanya berdua saja dengan Chanyeol di dalam satu ruangan yang di sebut kamar hotel namun ia juga tak bisa mencari hotel lain di luar sana.

"Jadi bagaimana tuan dan nyonya? Anda berdua ingin menyewa kamar ini atau tidak?" Tanya resepsionis itu memastikan.

"Tunggu sebentar, dia masih berpikir." Chanyeol tersenyum pada resepsionis itu seolah meminta pengertian.

"Berpikir? Kenapa harus berpikir. Bukankah anda berdua pasangan suami-istri?" Tanya perempuan itu lagi.

"Apa?" Baekhyun menatap resepsionis itu tajam dan kembali merasa kesal bukan main. "Dengar nona. Kami…"

"Sepasang suami istri. Benar. Kami akan menyewa satu kamar yang tersisa." Ujar Chanyeol memotong ucapan Baekhyun, pria itu dengan cekatan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Kami ambil kamar itu." Ujar Chanyeol seraya memberikan uang tersebut pada pihak resepsionis.

"Baik tuan." Tanpa menunggu lagi resepsionis itu segera menerima uang Chanyeol dan tampak sibuk dengan layar komputernya.

"Apa?" Baekhyun kembali berteriak dan menatap Chanyeol tajam. "Kau!"

"Baiklah. Ini kuncinya dan semoga ini menjadi malam yang indah untuk anda berdua." Ujar resepsionis itu seraya memberikan sebuah kartu pada Chanyeol.

"Terima kasih." Chanyeol tersenyum dan segera mengambil kartu itu. "Ayo." Chanyeol mengenggam pergelangan tangan Baekhyun sementara sebelah tangannya mulai menyeret koper.

"Apa? Aku tak mau satu kamar denganmu. Hei." Baekhyun ingin berontak namun tak bisa saat Chanyeol terus saja menariknya menuju lift. Saat pintu lift terbuka tanpa buang waktu kembali Chanyeol menarik Baekhyun agar masuk ke dalam kotak besi itu.

"Aku tak mau sekamar denganmu! Hei! Kau tak mendengarku?! YA!" Teriakan Baekhyun teredam kala pintu lift itu tertutup.


To Be Continued


Question, Statement and Answer:

Q: Sudah izin dengan author Melani?

A: Sudah. Kalo anda sekalian (yang memiliki pertanyaan sama) tidak percaya silahkan tanya langsung kak Melani.

S: berhubung dah bc yg versi aslinya, jd bc yg vers ini jadi aneh... Maaf.

A: Mudah saja, jika merasa aneh sebaiknya anda jangan membaca. Di summary saya juga sudah menuliskan jika fanfict ini versi ChanBaek.


Thanks to:

NS Yoonji, LuXiaoLu, kiyutbaek, orange squishy, yeejia, Yo Yong, KyuMin Cho, vitCB9, Happy Virus ' 92, chanbaekalogy, rizki . zelinskaya, Dobi Hano Beef, dewo1804, Baebyla, yeolpark88, 90Rahmayani, Lussia Archery, 407bubleblue, ShinJiWoo920202, Kang Yura, darklova87, bellasung21, byeonst, lily . kurniati . 77, Su Hoo, kkamjongyehet, indaaaaaahhh, minlee, byuntae92, me, nami, jung jungir, seseorang, google . com, luji, lili, gigi onta, sefan, creepyeol, PrincePink, Asdfghjkl, pikabo, nurulpriaarafah, chanie, Fi Zi, parklili, deeryeosin and Guests.