Senja Kedua

Summary: Dengan iditonya Dazai bilang ingin menyatakan cinta kepada senja. Chuuya sebenarnya cemburu namun kesulitan bilang.

Disclaimer: Asagiri Kafka

Warning: OOC, typo, gagal fluff, dll.


Day 2: Confession

Daun menari dengan langkah berbeda senja itu. Angin merayunya agar menggemulai untuk mengisi ruang waktu dengan kelembutan yang membetahkan. Hendak mencipta rindu pada dua pasang mata berbeda rasa yang sunyi menatap jingga–muda mudi itu telah diam dan duduk bersama, semenjak sepeda berhenti mereka kayuh untuk menepi di pinggir sungai ini. Mengulang rutinitas dengan suara menguap dan gerutu yang familier.

"Oi Dazai!" panggil cewek di sampingnya setengah berteriak. Mata kecokelatan itu melirik singkat pada sepasang laut yang memutar bola mata malas.

"Gue tinggal, ya. Bosen abisnya."

"Jangan dulu, Chuu. Bentar lagi juga beres." Pasti begini sejak kebiasaan tersebut dimulai setahun lalu. Konyolnya pula, dia tetap tinggal walau menggerutu bosan sambil berguling tidak jelas.

"Sebenernya gue heran. Padahal lo bisa liat sendiri tanpa perlu gue temenin."

"Jalan pulang kita sama. Masa Chuuya tega ninggalin aku."

"Mal lebih seru daripada duduk-duduk enggak jelas."

"Tapi begini lebih romantis. Emang Chuuya enggak suka senja?" Wajah ayunya masam menyaingi lengkungan manis yang senantiasa terpasang. Jelas telat bila bertanya sekarang.

"Lo sendiri gimana? Ada hal lain yang disukai selain senja? Misalnya ... seseorang gitu."

Ah, suaranya menanyakan yang dahulu tenggelam dan kadang timbul di benak, sementara kini benar-benar tampak pun jelas. Dazai menimbang-nimbang sejenak dengan menempelkan telapak tangan di dagu. Menatap penuh lika-liku kepada birunya laut yang mengombak dalam kerisihan–detik menyambung jadi menit dan pandangnya seakan menenggelamkan.

Mata bukan telinga yang bisa menangkap telepati dari jantung. Dazai mustahil tahu jika sekarang ini dadanya bergetar bukan? Terlalu kalut sampai berdebar tak karuan disebabkan ekspektasi melampaui batas.

"Enggak ada."

"Terus buat apa lo natap gue lama-lama!" Sumpah. Tangannya sudah terangkat dan nyaris menampar wajah Dazai. Namun, langsung Chuuya urungkan karena terlanjur kesal.

"Aku hanya menyukai senja. Apa Chuuya cemburu?" Pandangnya melayangkan keisengan yang ditanggapi dengan merengut. Chuuya memilih berpaling daripada dipermainkan terlalu jauh.

"Kata siapa! Ngapain gue suka sama lo."

"Heee ...~ Kalo gitu Chuuya mau dong jadi saksi?"

"Saksi apaan?" Telunjuk sang pemuda mengarah pada senja yang perlahan pudar. Alisnya makin naik gagal memahami semua ini.

"Aku mau menyatakan cinta ke senja."

Dazai Osamu memang sinting–siapa sangka gilanya sudah membuang otak dan meninggali jiwa. Chuuya sekadar menggidikkan bahu tanda mempersilakan. Masa bodoh dengan si idiot yang terserah mau teriak-teriak, loncat ke pelukan senja dan terbakar di garis cakrawala atau terbang bersama camar. Chuuya marah pada diri sendiri karena terbawa perasaan.

"Kamu tahu? Aku sudah jatuh cinta dari pandangan pertama." Kenapa pula wajahnya yang memerah? Chuuya menggeleng sembari menjauhkan jarak akibat tidak tahan.

"Jika kamu adalah seorang wanita bernama senja, wajahmu pasti cantik dan pesonanya anggun. Rambutnya berwarna oranye begitupun matamu yang sedikit bercampur dengan warna ungu."

"Kira-kira siapa sebenarnya ibu dan ayah dari senja? Mungkin ibumu adalah siang sementara ayahmu malam, dan pagi merupakan kakak sulungmu yang jatuh cinta sama manusia karena selalu membangunkan mereka."

"Kalian sekeluarga tidak pernah bertemu karena selalu sibuk. Aku paham, kok~ Soalnya aku menerima senja apa adanya bagaimanapun latar belakangmu. Bahkan, meski tanpa orangtua atau keluarga lain, cintaku enggak akan berubah."

"Sebenarnya sebelum mengaku cinta, aku sempat ragu apa senja mencintai yang lain. Mungkin kamu lebih menyukai debur ombak, pasir pantai, biru laut, puncak gunung atau bukit hijau di desa. Aku yang cuma salah satu pecintamu bisa apa kalau begitu?"

"Keberadaanku rapuh, hidup dan mati begitu dekat namun terus berjuang entah demi apa. Kamu tahu? Aku mau bunuh diri sama wanita cantik sebenarnya. Kalau yang di sampingku ini jangan dianggap, dia udah nolak sebelum aku ngomong."

"Hah?! Kok jadi bawa-bawa gue?!"

"Kalau senja itu seorang wanita, sifatmu pasti lembut dan penyayang. Enggak kayak Chuuya yang galak sama kerjaannya marah-marah melulu." Hendak protes juga mulutnya dikunci menggunakan telunjuk. Dazai menggeleng pelan.

"Tetapi, bukan itu yang mau aku bicarain. Senja dan manusia memiliki beberapa kesamaan. Sama-sama indah namun rapuh, masa hidupnya sebentar, abadi dalam kenangan, dan kita juga diciptakan Tuhan dengan pesona tersendiri."

"Meskipun memiliki beberapa kesamaan. Manusia dan senja punya satu perbedaan besar yang menjadikan cintaku ke kamu enggak bisa bersatu." Tiba-tiba Dazai bangkit. Jarinya mengisyaratkan agar Chuuya ikut berdiri dan mereka saling berhadapan.

"Chuuya tau kenapa?"

"Mana gue tau! Sapa juga yang peduli." Aduh, gadis mungilnya sampai cemberut begitu. Dazai merasa bersalah sekaligus bahagia mendapatinya demikian.

"Secinta apa pun aku pada senja, mustahil untuk memilikinya seorang diri. Sementara aku yang egois ini tidak ingin seseorang yang kucintai membagi perasaannya ke orang lain."

"Karenanya ..." Jeda sejenak. Dazai kembali menatap pada senja yang kepala jingganya seakan mengangguk memahami keinginan hati.

"Biarkan aku memiliki 'anakmu' yang merupakan senja kedua."

Bertepatan dengan pengakuannya, senja terbenam penuh haru digantikan hening yang menutup monolog tersebut dengan tirai hitam. Bintang-bintang terpasang apik sekaligus candu untuk ditatap penuh harap–menginginkan salah satunya jatuh dan menjadi si baik yang mengabulkan permohonan.

"Yuk, pulang," ajak Dazai mengambil tas sekolahnya. Chuuya termangu di tempat walau si idiot telah menciptakan tiga langkah yang menjarakkan mereka.

"Kok lo enggak patah hati?"

"Patah hati buat apa?"

"Senja. Lo suka sama senja tapi gak bisa memiliki. Bukannya sakit?"

"Tapi aku memiliki senja kedua. Dia ada di sebelah rumah dan sangat cantik kalo diliat dari jendela kamar."

"Emang apa bedanya senja di sebelah rumah sama di pinggir sungai?" Jingga iya, waktu terbit sebentar dan kalau terbenam memunculkan malam. Malah Chuuya pikir, senja di belahan dunia manapun serupa saja.

"Bedanya yang di sebelah rumah ingin kuajak nikah. Kalau di pinggir sungai hanya kunikmati saja."

Omong-omong, mereka tetangga dan rumahnya bersebelahan.

Tamat.

Balasan review:

Zian: nah iya namanya eodiya, susah jadi lupa bae udah ga aktif maen twitter sih, dan itu nama akunnya apa omong2? untung aku abis bikin angst bikin fluff, kalo aku publish fic dua2nya angst gimana nasibmu wkwkw, anggap aja udah disembuhin secara ga langsung~ CHUUYA EMANG CANTIK DAN AKU GA YAKIN DIA COWOK :( semenjak nonton dead apple aku keracunan 'dazai itu princess chuuya itu pangeran', analoginya lucu banget dan manisss, ampe teriak2 sendiri pas nntn dead apple ntu. mangat yak ulangannya, salam dari kakak kelasmu yang tadi TO sejarah dan silang indah~