"Kami dapat sesuatu," Zoro mendudukkan diri di sofa, tepatnya di depan Luffy yang sedang bermain game di ponselnya.

Luffy menghentikan kegiatannya sesaat. Wajahnya sedikit mengerut melihat Sanji yang baru datang bersama Zoro dengan wajah mesumnya.

"Abaikan si mesum ini. Kau harus mendengarkan ceritaku," ujar Zoro.

Luffy mengangguk.

"Kami menemukan rumah Nami."

Luffy melompat dari duduknya. "Benarkah?" pekiknya girang.

"Tenang, tenang dulu. Petang tadi aku bersama si bodoh ini tidak sengaja melihat Nami keluar dari rumah Hancock. Lalu dia naik taksi setelah itu. Karena kebetulan kau menyuruh kami menyelidikinya, terpaksa kami mengikutinya sampai ke rumahnya diam-diam," jelas Zoro.

"Jadi, dimana rumahnya?" tanya Luffy.

"Ujung komplek Cocoyashi. Rumah mungil yang dikelilingi tanaman jeruk."

"Boleh aku bertanya lagi?" Luffy menaikkan sebelah alisnya.

"Ya."

"Kenapa wajah Sanji mesum begitu?"

"Kenapa kau bertanya lagi? Nami itu tergolong ke dalam kelas wanita cantik. Apa perlu aku menjelaskan lebih jauh lagi?"

"NANI? Oi Sanji, bukankah aku sudah mengatakan kalau Nami itu akan menjadi kekasihku? Sudah kubilang jangan sampai jatuh hati padanya," geram Luffy.

"Luffy, cari saja yang lain. Nami-San terlalu dalam menembus jantungku," ucap Sanji dengan konyolnya.

"Benar 'kan kataku. Seharusnya aku tidak meminta bantuanmu," ucap Luffy makin kesal.

"Ngomong-ngomong, dimana Robin dan Usopp? Bukankah mereka selalu ada di rumahmu?" tanya Zoro.

"Usopp sedang mencoba mobil baru buatan Franky. Dan Robin ada di toko Brook untuk membeli beberapa kaset lagu terbaru," jawab Luffy.

"Kalau begitu, aku akan menjemput Robin-Chan!" seru Sanji semangat.

"Itu tugasku. Sebaiknya orang mesum sepertimu jangan dekat-dekat dengan tunanganku," sinis Zoro, lalu segera pergi dari sana.

"Kuso Marimo," kesal Sanji.

"Kau juga jangan dekat-dekat dengan Nami," ujar Luffy.

"Ya, ya. Tapi kalau dia tidak menerimamu, aku yang akan mendekatinya," Sanji mengerling.

Luffy mengerutkan keningnya.

"Oh ya. Aku ingin memperingatkanmu tentang kejadian kemarin."

"Kejadian apa?" Luffy menyipitkan matanya.

"Jangan bermain di sawah lagi. Apa kau tidak malu berjalan di tengah kota seperti seorang gelandangan?"

"Memangnya apa peduliku? Lagipula tidak ada yang mengenalku," bantah Luffy.

"Lalu bagaimana kalau mereka tau tentang_"

"Tidak akan," potong Luffy cepat. "Aku akan selalu berada di balik layar sampai aku tau tabiat orang-orang itu," lanjutnya.

"Mau sampai kapan?" Sanji menekan kata-katanya. "Kau ingin mereka memperlakukanmu seenaknya?"

"Aku sudah terbiasa dengan itu. Bahkan kemarin aku mendapatkan cacian dari model sialan itu."

"Hancock-Chan?"

Luffy mengangguk.

"Kalau begitu kau harus keluar dari balik layar bodohmu itu."

"Untuk sekarang aku tidak mau. Aku belum melihat semuanya," ucap Luffy tegas, lalu beranjak menuju kamarnya.

Sanji menyesap rokoknya yang tinggal setengah. "Apa dia yakin? Aku hanya tidak tega melihatnya begitu," batinnya.

*

Luffy berbaring di tempat tidurnya seraya mengamati langit-langit kamarnya. Otaknya mencoba mencerna kata-kata Sanji tadi.

Keluar dari balik layar bodoh ini.

Menurutnya itu terlalu cepat untuk dilakukan. Dia benci dengan orang-orang yang bermuka dua. Orang yang bisa dipercayainya hanyalah teman-temannya saat ini. Zoro, Sanji, Usopp, Robin, Chopper, Franky dan juga Brook. Lalu kedua kakaknya, Ace dan juga Sabo. Mungkin juga dengan ayahnya Dragon dan kakeknya Garp. Tidak ada yang lain, kecuali orang-orang yang pernah menjaganya sewaktu masih kecil. Dunia yang dia kenal ini penuh dengan kemunafikan.

Luffy meraih ponselnya di atas nakas. Sebuah pesan dari Sanji tertera di sana.

"Aku pulang ya. Zeff menyuruhku ke Baratie setengah jam lagi. Dan untuk pembicaraan kita tadi, sebaiknya jangan masukkan ke hati. Aku minta maaf karena sudah memaksamu," tulis Sanji dalam pesannya.

Luffy tersenyum. Terkadang dia mengutuk dirinya sendiri yang selalu bersikap seenaknya. Dan entah kenapa teman-temannya selalu mempercayainya.

"Hm... Aku mau makan ramen. Mungkin aku menyuruh Usopp saja untuk membawanya," gumamnya, lalu segera mengirim pesan pada temannya yang berhidung panjang itu.

*

"ENAK..." teriak Luffy hingga terdengar ke seluruh penjuru rumahnya.

"Oi, tidak perlu berteriak begitu," ujar Usopp.

"Ramen ini sangat enak. Usopp, dari mana kau membelinya?"

"A... Kebetulan tadi aku lewat dari komplek Cocoyashi, dan di sana ada toko kecil yang menjual ramen. Pemiliknya wanita berambut biru dengan banyak tato."

"Cocoyashi? Apa nama tokonya?" Luffy sedikit teringat dengan percakapannya dengan Zoro tadi mengenai rumah Nami.

"Restoran baling-baling. Sebenarnya itu sedikit lucu disebut sebagai restoran. Karena tempat itu hanya toko kecil yang sedikit tersembunyi."

"Sepertinya aku besok akan ke sana. Kebetulan ada seseorang yang ingin kutemui di komplek itu," Luffy menyengir.

"Siapa?" Usopp memiringkan kepalanya bingung, karena yang dia tau, Luffy tidak memiliki kenalan di sana.

"Rahasia. Shishishi..."

"Hm..." gerutu Usopp. "Ngomong-ngomong tadi siang aku melihat Nami bekerja di Kuja Restaurant. Sepertinya dia juga menjadi seorang waitress di sana selain menjadi pelayan Hancock."

"Mungkin besok aku makan di sana saja," Luffy menghela nafas pelan.

Usopp menyipitkan matanya. "Bukankah kau tadi mengatakan ingin pergi ke Cocoyashi? Kau mau kemana sebenarnya?"

"Aku juga bingung. Kurasa aku akan ke restoran itu dulu. Aku benar-benar merindukannya," Luffy mulai berkhayal. Entah apa yang dia bayangkan.

"Hah... Terserah kau saja. Lama-lama kau bisa gila karena wanita itu."

"Aku tidak peduli."

"Oi... Apa kau benar-benar Luffy?"

*

"Mau pesan apa?" seorang wanita cantik dengan rambut oranye panjang mendekati meja tempat Luffy duduk.

Luffy mengalihkan pandangan dari daftar menu yang dipegangnya, lalu beralih menatap wanita di depannya.

"Eh? Sepertinya aku pernah melihatmu," wanita itu sedikit terkejut melihat wajah Luffy yang tidak asing baginya.

"Ya, kita bertemu dua hari yang lalu," Luffy menyengir.

"Oh ya. Luffy-San_"

"Tidak perlu formal begitu, Nami. Panggil Luffy saja," potong Luffy.

"Ya, Luffy." Nami sedikit ragu. "Apakah orang ini bisa membayar makanannya nanti?" batinnya, mengingat Luffy yang dia kenal adalah gelandangan kotor seperti yang dikatakan oleh Hancock.

"Aku pesan Seafood Fritters dengan Chocolate Milkshake."

"Itu saja?" tanya Nami.

Luffy mengangguk. "Nee, Nami."

"Hm?"

"Aku tidak punya uang."

"Sudah kuduga," batin Nami. "So... Sokka? Jadi_"

"Aku sekarang tau kalau kau adalah salah satu waitress di sini. Jadi karena aku mengenalmu, aku berani mengunjungi tempat ini. Kau tau, aku sudah lama ingin makan di sini. Tapi... Aku tidak punya uang. Kupikir dengan mengenal salah satu orang di sini, aku bisa makan sesuai dengan impianku. Walau hanya sekali saja," Luffy menunduk.

Nami menatapnya sedikit iba.

"Maaf, sebenarnya aku tidak ingin merepotkanmu. Kalau aku sudah keterlaluan, aku akan pergi sekarang," ucap Luffy.

Nami tersenyum. "Duduklah di sini. Aku akan membawakan pesananmu."

"Ta... Tapi, aku tidak punya uang."

Nami tersenyum lagi. "Tenang saja. Aku yang akan membayarnya."

"Benarkah?" Luffy melebarkan senyumannya.

Nami mengangguk.

"Arigato. Kau sangat baik."

"Siapa yang membuat peraturan seperti itu, Nami?" sebuah suara tiba-tiba mengejutkan mereka berdua.

"Ha... Hancock-San? Bukankah kau sedang ada pemotretan hari ini?" kaget Nami.

"Kenapa? Kau tidak suka kalau aku ada di sini?" tanya Hancock sinis.

"Bu... Bukan begitu. Ma... Maaf," ucap Nami takut.

Hancock mengalihkan perhatian pada Luffy. "Kau gelandangan yang kemarin 'kan? Kalau kau tidak punya uang, sebaiknya jangan makan di sini. Restoran ini bukan untuk orang rendahan sepertimu."

Gelak tawa langsung terdengar di seluruh penjuru restoran itu, dikarenakan suara cacian Hancock pada Luffy memang cukup keras. Inilah yang sangat dibenci oleh Luffy. Dunia yang begitu menjijikkan. Seringkali orang terhormat merendahkan orang yang ada di bawahnya. Layaknya para pengunjung restoran ini yang sedang menertawakan dirinya.

Luffy kemudian berdiri dari duduknya. "Maaf mengganggu," ucapnya dingin, lalu pergi dari sana.

"Luffy," panggil Nami khawatir.

"Apa? Kau ingin menghentikannya? Dengar wanita hina, aku tidak akan segan-segan memberhentikanmu kalau kau dekat-dekat dengan gelandangan seperti dia. PAHAM?!" bentak Hancock di akhir kalimatnya.

Nami mengangguk. Dia tidak boleh menyia-nyiakan pekerjaannya saat ini. Mencari pekerjaan baru sangat sulit sekarang ini, sementara dia harus menghidupi dirinya sendiri dan dua orang keluarganya.

"Kembali bekerja. Kau digaji bukan untuk berdiam diri," perintah Hancock.

"Ba... Baik Hancock-San," jawab Nami takut-takut, lalu segera melayani tamu yang lain.

Kapan kebahagiaan itu akan datang, Bellmere-San?

*

To Be Continued...