Terima kasih sudah me-review chapter 1: YaotomeShinju, yanchan, Rise Star, WatchFang, atacchan, SeiraAiren, Puti Alam, Putri, Fu, DarkBlueSong, ochan malfoy, widy, bluish3107, megu takuma, Intan Mz65, Kira, tinaWeasley, dricca, weasleyprincess, Dandeliona96, YMFS:D
Selamat Membaca KNG 6 chapter 2 dan review (apa saja), ya!
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: KNG 1, 2, 3, 4, 5 dan Siapa Dipikiranku Saat Kau Menciumku
KISAH NEXT GENERATION 6: CALON POTENSIAL
Chapter 2
Tanggal: Rabu, 20 Oktober 2022
Lokasi: Koridor lantai tujuh, Hogwarts.
Waktu: 9.45 am
Dear Diary,
Airmata ini masih mengalir di pipiku saat aku turun tangga dari kantor kepala sekolah bersama Lorcan, Smith dan Flint. Aku belum bisa menerima bahwa McGonagall tidak mengijinkanku masuk tim, padahal akulah yang lebih mencintai Quidditch daripada semua anak-anak kelas enam, yang akan diujicoba nantinya. Akulah yang mengerti bagaimana Quidditch; teknik-teknik pertandingan, cara-cara memasukkan gol, dan juga beberapa gaya spektakuler yang telah kuciptakan sendiri. Namun, dia malah menyuruhku jadi manager, yang mengatur semua keperluan tim, dari jadwal latihan, makanan sampai semua hal-hal kecil yang dibutuhkan para pemain.
Aku tidak pernah berkeinginan untuk menjadi manager sebuah tim, karena aku yakin aku sama sekali tidak berbakat dalam mengatur segala hal untuk kenyamanan orang lain. Tetapi kata-kata McGonagall yang tegas terngiang kembali di telingaku saat Lorcan, Smith, Flint dan aku melewati Gargoyle, membuatku merasa sangat merana.
"Aku kan sudah bilang kelas tujuh tidak boleh masuk tim, Weasley, dan berhentilah merengek!" (McGonagall)
"Kalau begitu mengapa anda malah menyuruh saya menjadi manager?" (aku)
"Karena aku berpikir bahwa tim memang membutuhkan manager, dan managernya haruslah seseorang yang mengerti Quidditch... Kulihat kau sangat mencintai Quidditch, kau akan menjadi manager yang sempurna untuk tim ini, jadi aku memberimu perkecualian. Tetapi, kalau kau tetap merengek dan menolak, aku bisa mencari orang lain—" (McGonagall)
"Tidak, aku suka menjadi manager!" (aku)
Aku tidak punya pilihan lain, bukan?
Menjadi manager adalah satu-satunya kesempatanku untuk bisa ke Irlandia, bertemu muka dengan klub-klub Quidditch yang ada di Inggris/Irlandia dan juga bertemu para Harpies secara langsung. Holyhead Harpies adalah klub Quidditch favoritku, dan aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan mereka.
"Oh sudahlah, Weasley," kata Smith, kapten Quidditch Hufflepuff. "Suara isakanmu membuatku stress."
Aku mendelik padanya.
"Aku tidak terisak, aku hanya mengeluarkan airmata dan sama sekali tidak mengeluarkan suara," bantahku segera, kemudian menunjuk Smith dan Flint. "Mengapa kalian tidak mendukungku? Kalau kalian mendukungku, McGonagall pasti akan mengijinkan anak-anak kelas tujuh untuk bergabung dalam tim."
"Tidak ada gunanya kita ikut, Weasley," kata Flint tak peduli, "Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kesempatan ini harus diberikan pada kelas enam," dia menganggkat bahu. "Aku sendiri lebih mementingkan NEWT daripada Quidditch."
"Masa, Flint?" kataku tak percaya.
Aku selalu berpikir bahwa anak-anak Slytherin tidak pernah memikirkan pelajaran, dan Flint bukanlah perkecualian.
"Dipandanganmu mungkin seperti itu, Weasley, tapi kami Slytherin, selalu menjadi yang terbaik kedua setelah Ravenclaw."
Aku tertawa.
"Kau boleh saja tertawa," katanya lagi, memberiku pandangan dingin. "Tetapi lihat dirimu sendiri, kau sama sekali tidak mendapatkan kemajuan dalam pendidikanmu."
Wajahku terasa panas dan keinginan untuk mengutuk Flint menjadi serpihan muncul di hatiku.
"Hei, biar begini-begini, aku mendapat Exceeds Expectations dalam OWL mantra," kataku segera sambil menahan diri untuk tidak mencabut tongkat sihirku.
Aku sangat tidak ingin dia mengungkapkan kebodohanku di depan Lorcan.
"Kudengar kau hanya mendapat tiga OWL, Weasley," tambah Smith, menyeringai. "Apakah itu patut dibanggakan?"
Dia melirik Flint dan kedua terkekeh, membuat gema suara seperti troll koridor lantai tujuh. Wajahku kembali panas membara, sementara Lorcan tampak benar-benar santai seolah pencapaian akademisku sama sekali bukan sesuatu yang penting untuknya.
"Yeah, seharusnya kau tetap tinggal di Hogwarts dan belajar, Weasley, bukannya berkeliaran di Irlandia mengatur kebutuhan orang lain," kata Flint.
"Aku bukannya berkeliaran... aku—seperti yang telah kau dengar dengan jelas tadi, Flint—adalah manager tim yang akan dibentuk nanti."
"McGonagall terpaksa menyuruhmu menjadi manager karena sikapmu itu, Weasley, sikapmu yang tidak sesuai umur, dan rengekanmu yang menyakitkan telinga membuat McGonagall mengijinkanmu menjadi manager."
"Benar," Flint mendengus. "McGonagall tampaknya tidak suka mendengar ada yang merengek di dekatnya."
"Aku tidak merengek," kataku, setengah berteriak, melirik Lorcan mengharapkan dia membelaku, tapi tetap saja, Lorcan tidak peduli.
"Ya, kau merengek, Weasley!" kata Flint lagi. "Kau mendapatkan jabatan manager ini karena kau merengek seperti anak keci, dan sikapmu itu benar-benar memalukan!"
"Dengar, ya," kataku akhirnya, membela diriku sendiri. "McGonagall memilihku karena aku mampu, aku punya kemampuan yang dibutuhkan dari seorang manager."
Flint dan Smith mengangkat alis tak percaya, dan Lorcan, cowok yang kupikir sangat mencintaiku ini, sama sekali tidak menunjukkan kepedulian seujung kuku pun padaku. Dia tampak asyik dengan pikirannya sendiri, lalu tiba-tiba berbicara, bukan padaku, tapi pada Smith dan Flint.
"Kita harus segera mengadakan ujicoba untuk tim Hogwarts," katanya.
"Aku akan menyuruh anggota tim Slytherin yang berumur enam belas tahun untuk ikut ujicoba itu," kata Flint. "Dan aku tidak akan mengujicoba semua murid kelas enam di asramaku, itu menghabiskan waktu."
"Aku setuju," kata Smith. "Aku juga akan melakukan hal yang sama..."
"Aku akan menyuruh semua anak-anak kelas enam Gryffindor, yang mau, untuk ikut ujicoba," kataku. "Aku yakin, ada anak-anak lain yang punya bakat, meskipun mereka bukan anggota tim asrama."
"Yeah, sebagai manager yang baik, kau memang harus berpikir seperti itu," kata Flint, mengejek.
Aku mendelik.
"Jadi kapan kita mengadakan ujicoba?" tanya Lorcan.
"Kukira harus secepatnya, karena kita hanya punya waktu seminggu," kataku. "Belum lagi latihan, dan kurasa kita juga harus menciptakan keakraban antar tim, karena mereka semua pastinya bukan berasal dari asrama yang sama."
Sementara berbicara, aku teringat pada Malfoy dan Al. Pasti akan susah sekali menyatukan mereka dalam satu tim, apalagi kalau Rose ikut terpilih.
"Iya... iya, Nona Manager," kata Smith, melirik Flint dan keduanya cekikikan.
"Kurasa Weasley benar," kata Lorcan, memandangku dan tersenyum.
Oh, syukurlah!
Dia tersenyum padaku, yang berarti dia sedang menunjukkan bahwa dia sedang jatuh cinta padaku.
"Tim-tim di Hogwarts ini selalu berseteru tentang Quidditch. Dan, agar kita bisa tampil baik, kita harus memikirkan sesuatu cara agar mereka bisa akrab," kata Lorcan, memandangku sambil berpikir.
Aku memutar otak memikirkan strategi untuk mengakrabkan para anggota tim.
"Kapan ujicoba Quidditch?" tanya Smith, sama sekali tidak mempedulikan Lorcan dan aku yang sedang berpikir keras.
"Bagaimana kalau hari ini sehabis makan malam?" kata Lorcan, memandang Flint dan Smith
"Aku setuju," kata Flint, dan Smith mengangguk.
"Baiklah," kata Lorcan.
"Sampai jumpa nanti malam," kata Smith, kemudian mengedip padaku. "Bye, Nona Manager!"
Aku sakit hati saat melirik Lorcan yang tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengedip pada calon pacarnya, kemudian mendengus sebal memandang Smith dan Flint yang melangkah cepat melewati Lorcan dan aku sambil cekikikan senang seolah menggodaku adalah hiburan mereka setiap hari.
"Apakah kau menemukan ide untuk mengakrabkan anggota tim?" tanya Lorcan saat kami berjalan pelan menyusul Smith dan Flint.
"Er—" aku berpikir lagi. "Bagaimana kalau kita mengharuskan semua anggota memanggil anggota lain dengan nama depan? Dengan begitu, semua orang bisa cepat akrab..."
"Usul yang bagus, Weasley—er, maksudku Roxanne..." dia tersenyum. "Kita akan mulai saling memanggil nama depan dari sekarang."
Aku balas tersenyum dengan jantung berdebar kencang. Entah apa yang terjadi padaku, tapi caranya menyebut 'Roxanne' membuatku seakan mendengar irama lantunan musik yang menghanyutkan.
"Omong-omong, mengapa kau tidak membelaku saat Smith dan Flint mengejekku?" tanyaku.
Akhirnya, aku bisa juga menanyakan pertanyaan ini!
Dia memandangku agak heran.
"Mengapa aku harus membelamu?" dia bertanya. "Kau kan bisa mengatasi mereka sendiri tanpa bantuanku."
"Aku memang bisa mengatasi mereka... Tetapi sebagai cowok kau harus memperhatikanku, kalau kau ingin hubungan kita berjalan lancar," kataku.
Lorcan berhenti berjalan untuk memandangku.
"Miss Weasley," katanya, menatapku tajam. "Apakah aku salah mengartikan ucapanmu, atau kau memang sedang mengisyaratkan bahwa kita memiliki hubungan lain, lebih dari seorang pemain Quidditch dan managernya?"
"Kita memang punya hubungan yang lebih dari itu, kan?" kataku, mencoba membuatnya mengerti bahwa aku tahu dia mencintaiku. "Aku sudah berdiskusi dengan temanku, Alice, tentang kejadian di menara Astronomi itu dan aku menyimpulkan bahwa kau memang jatuh cin—"
"Lorcan!" suara Lily menggema di koridor batu.
Pengambilan waktu yang sangat tepat sekali, Lily!
Mengumpat dalam hati, aku mengalihkan padangan dari Lorcan dan memandang Lily yang berlari dari tikungan koridor menuju ke arah kami. Nafasnya tak beraturan, ngos-ngosan, tampaknya dia menaiki tangga pualam dengan berlari.
"Hai, Roxy," kata Lily, setelah berhenti ngos-ngosan.
"Hai, Lil," kataku tersenyum.
Lily tersenyum padaku, kemudian mengalihkan pandangannya pada Lorcan.
"Aku tahu kau pasti ada di lantai tujuh," katanya.
"Ada apa, Lily Luna?" tanya Lorcan, penasaran.
"Aku sudah melarangmu memanggilku Lily Luna," kata Lily jengkel, lalu melanjutkan. "Aku harus bicara denganmu..." dia memandangku. "Sori, Roxy, aku harus bicara dengan Lorcan sebentar."
Tanpa menunggu jawabanku, dia menyeret Lorcan menjauh ke arah dinding koridor yang berjarak kira-kira tiga meter dari tempatku berdiri. Sedetik kemudian, mereka mulai berbicara pelan, saling memandang dengan serius, mengangguk dan menggeleng, dan Lorcan beberapa kali mengusap puncak kepala Lily sambil tersenyum seolah dia adalah anak kecil yang harus diberikan pujian setelah berkelakuan baik. Aku berusaha menahan diri untuk tidak iri, tapi aku sangat iri. Tanpa sadar aku sudah mendelik pada Lily dan mengutuknya dalam hati.
Tidak!
Aku mengutuk diriku sendiri sambil berjalan mondar-mandir di tengah koridor. Perasaan bersalah menghantamku. Seumur hidupku belum pernah aku mengutuk sepupu-sepupuku, tapi sekarang aku malah mengutuk Lily hanya karena seorang cowok yang jatuh cinta padaku.
Aku adalah orang yang paling hina di dunia, baik dunia sihir mau pun dunia Muggle.
Lily sama sekali tidak bersalah padaku, Lorcan juga tidak bersalah padaku, mereka hanya berbicara di depanku, dan aku langsung merasa bahwa, entah bagaimana, dia telah merebut calon suami potensialku. Lily tentu tidak tahu hal ini karena aku belum bercerita padanya tentang perasaan Lorcan padaku, namun rasanya aku sama sekali tidak keberatan kalau Lily juga menyukainya.
Meskipun Lily dan aku sama-sama cantik, tapi poinnya lebih tinggi dariku dalam hal saling mengenal. Dia mengenal Lorcan lebih dulu daripadaku, Aunt Ginny dan Mrs Scamander adalah sahabat, dan mereka sudah mengenal sejak kecil, aku tidak akan punya kesempatan. Namun, sekali lagi, aku tidak keberatan. Kalau Lily benar-benar mencintai Lorcan, aku bersedia mundur. Kebehagian Lily lebih penting daripada apa pun, bahkan lebih penting dari perasaan Lorcan padaku, dan kurasa Lily dan Lorcan merupakan pasangan yang serasi.
Tetapi bagaimana dengan Lorcan?
Dia jatuh cinta padaku, dan itu bisa dibuktikan dengan ciuman di menara Astronomi, tapi kelihatan sekali dia juga mencintai Lily. Dan dari apa yang kupelajari dari Al—yang mencium banyak sekali cewek dan mencintai mereka semua—aku bisa menyimpulkan bahwa seseorang bisa mencintai lebih dari satu cewek. Jadi, Lorcan mencintai Lily dan juga mencintaiku.
"Tenang saja, Lily Luna, aku akan mengurusnya!"
Aku berhenti mondar-mandir, mengangkat muka dan melihat Lorcan dan Lily sedang berjalan ke arahku, dengan tangannya di bahu Lily. Mereka berdua tersenyum senang, dan Lily tertawa beberapa kali ketika Lorcan mengusap kepalanya.
"Sampai nanti malam, Roxanne!" kata Lorcan, setelah melepaskan Lily. "Bye, Lily Luna!"
Dia berjalan menyusuri koridor, menghilang di tikungan, sementara Lily masih tersenyum ceria memandangku.
"Kau boleh mengambilnya kalau kau jatuh cinta padanya, Lil!" kataku, menggelengkan kepala, mengusir perasaan bahwa aku sudah kehilangan satu-satunya orang yang cocok denganku.
"Mengambilnya?" Lily memandangku agak heran. "Mengambil siapa?"
"Lorcan..." kataku datar. "Kau jatuh cinta padanya, kan?"
"Jatuh cinta?" ulang Lily tampak benar-benar bingung.
"Kurasa dia juga jatuh cinta padamu..." kataku, memalingkan wajah darinya.
"Roxy, apa yang kau bicarakan?" tuntutnya tak mengerti.
"Kau boleh mengambil Lorcan kalau kau jatuh cinta padanya," ulangku, menghindari padangannya, "karena tampaknya Lorcan juga jatuh cinta padamu..." aku menjaga nada suaraku agar tetap netral. "Meskipun dia juga mencintaiku, aku tahu dia pasti memilihmu, karena kaulah yang lebih dulu mengenalnya, sedangkan aku hanyalah tambahan yang datang tiba-tiba dalam hidupnya."
Lily sekarang memandangku seolah aku sudah gila.
"Mengapa kau bicara seperti itu padaku?" dia bertanya. "Mana aku tahu dia jatuh cinta padaku atau tidak. Dan, aku tidak mengerti apa jatuh cinta itu."
"Apakah Lorcan pernah menciummu?" tanyaku.
"Tidak..." jawab Lily, menggeleng. "Dia tidak pernah menciumku, aku tidak pernah menciumnya dan aku tidak pernah merasakan keinginan untuk menciumnya."
"Oh, syukurlah, Lily," kataku senang, tersenyum padanya. "Berarti kau dan Lorcan tidak saling jatuh cinta, artinya dia hanya jatuh cinta padaku."
"Lorcan jatuh cinta padamu?" dia bertanya tampak terkejut.
"Ya," jawabku yakin. "Dia menciumku..."
"Kau sudah berciuman?" dia tersenyum riang dan sekaligus iri. "Oh, Roxy, manis sekali... kurasa kalian berdua sangat cocok... kau membuatku iri karena diam-diam aku lebih menyukai Lorcan daripada Lysander."
"Hah?" aku tercengang, tapi dia tertawa.
"Tenang, Roxy, aku tidak akan merebutnya darimu..."
"Lily, kalau kau mencintainya, aku—aku bersedia mundur," kataku.
"Roxy, aku 14 tahun... aku tidak memikirkan hal-hal seperti itu," katanya. "Lagipula aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak mengerti apa itu cinta."
"Kalau seseorang menciummu berarti dia jatuh cinta padamu," kataku, mengulang teori Alice.
"Benarkah?"
"Dan kalau kau mencium seseorang berarti kau jatuh cinta padanya," kataku lagi.
Lily tampak pucat dan bingung.
"Roxy, bagaimana ini, Hugo sering menciumku dan aku juga sering mencium Hugo, apakah itu berarti aku jatuh cinta padanya?"
"Kau dan Hugo sering berciuman?" aku mengulang kata-kata ini dengan ketakutan seakan kata-kata itu adalah kutukan kematian yang bisa membunuhku dalam sekejap.
"Ya," jawabnya. "Aku kan tidak tahu kalau ciuman berarti mencintai, dan kurasa Hugo juga tidak tahu tentang hal itu... kami empat belas, ingat?"
"Kau seharusnya tidak boleh mencintai Hugo," kataku, memandangnya tak percaya. "Kalian tidak boleh saling mencintai."
"Hal ini membuatku bingung dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan?" dia tampak ketakutan. "Bagaimana kalau semua orang tahu? Mom dan Dad akan membunuhku!"
"Er, Lily, sepertinya kita harus menanyakan hal ini pada orang yang lebih ahli tentang percintaan," kataku, mencoba menenangkannya. "Kurasa Fred dan James akan bersedia membantu kita."
"Aku tidak mau bertanya pada Fred dan James," katanya tegas dan sedikit ketakutan. "Mereka akan mengejek Hugo dan aku."
"Kalau begitu Rose saja, setidaknya dia lebih ahli daripada kita berdua," usulku.
"Benar," kata Lily.
Beberapa saat kemudian, Lily dan aku sudah berjalan turun tangga pualam menuju perpustakaan dan mencari Rose di antara anak kelas enam dan kelas tujuh yang sedang membaca dan mengerjakan PR. Kami melihat Rose sedang duduk di pojok perpus dan menulis sesuatu di sebuah perkamen sementara beberapa buku referensi bertebaran di atas meja.
Rose mengangkat muka saat Lily dan aku bergabung dengannya.
"Roxy, Lily, kalian tidak di kelas?" tanya Rose, mendelik pada kami.
"Jam pertama kosong," jawabku tak sabar.
Rose kadang suka memberi nasihat tentang pentingnya pendidikan membuatku merasa dia lebih tua dariku.
"Kami Pemeliharaan Satwa Gaib, tapi karena hujan kelasnya batal," jawab Lily segera, memandang percikan air di luar jendela.
Aku, yang karena sibuk memikirkan calon suami potensialku dan baru saja menyadari bahwa di luar sedang hujan, segera memandang keluar jendela juga. Pemandangan di luar tidak jelas karena jendela yang berkabut, seperti kabut di otakku yang membuatku tidak memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta dan ciuman, karena diam-diam aku mulai meragukan teori Alice.
"Tetapi kalian bisa menggunakan waktu kalian untuk mengerjakan PR atau membaca daripada berkeliaran," kata Rose.
Aku segera mengalihkan pandanganku kembali pada Rose.
"Masih banyak hal yang perlu kulakukan daripada mengerjakan PR," kataku sebal.
"Roxy, kau sebentar lagi NEWT," kata Rose juga sebal.
"Rose," kata Lily, menyelaku, yang sudah hendak mengucapkan kata-kata tajam. "Aku jatuh cinta pada Hugo..."
"APA?" Rose hampir saja terjatuh dari kursinya.
"Kau mendengarku," kata Lily tak sabar.
"Tidak... tidak mungkin..." wajah Rose langsung pucat dan dia menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak!"
"Ya, Rose," kataku tak sabar. "Mereka sering berciuman, dan itu berarti mereka saling jatuh cinta."
"Berciuman?" ulang Rose. "Berciuman—oh..." kemudian dia tertawa pelan, tak menghiraukan desis marah beberapa anak Hufflepuff yang duduk mengelilingi meja, berjarak tiga meja dari kami.
"Apa yang lucu?" gertak Lily, sementara aku tercengang.
"Roxy, apakah kau yang mengajarkan pada Lily bahwa jika kita mencium seseorang berarti kita jatuh cinta padanya?" Rose memberikan pandangan sebal padaku.
"Eh, bukankah kenyataannya memang begitu?" tanyaku agak bingung.
"Baik, Lily, apakah kau mencium Hugo di bibirnya?"
"Tidak," jawab Lily. "Aku mencium pipinya dan dia mencium keningku... kami belum pernah berciuman di bibir."
Rose tertawa lagi, tampak lega.
"Roxy, Lily, dengarkan aku!" kata Rose, memusatkan perhatiannya pada kami. "Sebuah ciuman tidak berarti cinta. Kau bebas mencium siapa pun yang kau sukai, dan kalau kau tidak merasa berdebar-debar, kalau kau tidak bergetar, kalau kau tidak memikirkan dirinya saat dia menciummu, kalau kau tidak merasa bahwa kau ingin menciumnya lagi setelah ciuman itu, berarti itu bukan cinta. Kalau kau merasakan semua perasaan yang kusebutkan tadi berarti kau jatuh cinta padanya..."
"Aku tidak merasakan perasaan yang kau katakan tadi... aku memang menyayangi Hugo, tapi aku tidak merasakan hal itu," kata Lily setengah berpikir.
"Berarti kau tidak jatuh cinta padanya..." kata Rose.
"Oh, syukurlah," kata Lily tersenyum ceria. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Hugo."
Rose balas tersenyum, sementara aku kebingungan.
"Aku tidak tahu apa yang Lorcan rasakan saat dia menciumku," kataku memandang Rose.
"Lorcan?" ulang Rose. "Lorcan Scamander. Jadi dia calon suami yang kau bicarakan itu, Roxy?"
"Er, kau tidak boleh memberitahu James dan Fred," kataku cepat. "Mereka pasti akan membunuhku."
Rose tertawa dan Lily juga.
"Oh hentikan!" gertakku. "Bisakah kalian berhenti tertawa dan membantuku mengatasi masalahku."
Rose segera berhenti tertawa, tapi Lily cekikikan.
"Oke," kata Rose kembali serius. "Jadi begini Roxy, kurasa kau harus langsung menanyakan perasaan Lorcan, apa yang dipikirkannya tentangmu. Dan kau tidak boleh menyimpulkan sesuatu yang akhirnya bisa membuatmu sedih."
"Tetapi menurut Alice, aku harus menunggu sampai kami berteman, setelah itu baru aku bicara secara terbuka dengannya."
"Oh, entahlah," kata Rose. "Kau bisa menanyakannya langsung atau menunggu sampai kalian berteman, semua terserah padamu. Kau sendiri yang menentukannya, Roxy, dan bukan orang lain."
Aku berpikir sejenak.
"Ya," kataku akhirnya. "Aku akan berusaha berteman dengannya selama di Irlandia, setelah itu aku akan menanyakan bagaimana perasaannya padaku."
"Irlandia?" ulang Rose.
"Irlandia?" ulang Lily.
"Oh, aku belum memberitahu kalian, aku akan pergi ke Irlandia," kataku ceria. "Federasi Liga Inggris/Irlandia—League Quidditch England/Ireland Federation—atau yang disingkat dengan LQE/IF, mengundang tim Hogwarts untuk pertandingan persahabatan pra-liga..." aku mengangkat bahu, "dan McGonagall menyuruhku mendampingi tim sebagai manager."
"Tim Hogwarts?" tanya Lily.
"Manager?" ulang Rose.
"Ya, manager," kataku agak menyesal, kemudian melanjutkan, "Jadi, kami—Lorcan, Smith, Flint dan aku—akan mengadakan ujicoba pada anak-anak kelas enam, yang berbakat Quidditch dari semua asrama untuk menjadi anggota tim Hogwarts."
"Mengapa harus anak kelas enam?" tanya Lily sebal. "Aku juga kan ingin bergabung dalam tim."
"Entahlah," jawabku. "Kau bisa bertanya tentang itu pada McGonagall—"
"Roxy, kau tidak boleh ke mana-mana," kata Rose tegas. "Kau harus tinggal di Hogwarts dan belajar, sebentar lagi NEWT, ingat?"
"No way," kataku, menegakkan tubuh, "Aku ingin pergi, aku tidak akan membiarkanmu melarangku."
"Roxy—"
"Rose, kau juga harus ikut dalam ujicoba ini," kataku, menyelanya. "Ujicobanya nanti setelah makan malam."
"Ya, aku akan ikut, dan aku pasti berhasil... aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian dan hilang di Irlandia," kata Rose mendelik.
"Aku tidak akan hilang, aku lebih pintar dari Lucy," kataku. "Aku bisa membaca peta dan grafik..."
"Yeah, dengan tiga OWL?" Rose mendengus. "Aku akan membawa buku-buku penting agar kau bisa belajar, dan aku akan mengawasimu."
"Tidak..." kataku, tersentak. "Aku manager, aku pasti akan sangat sibuk dan—"
"Kau tidak akan sibuk di malam hari," kata Rose kejam.
Lily cekikikan.
"Dan Roxy, kau tidak boleh memikirkan calon suami karena tahun ini, pendidikanlah yang harus diutamakan... Aku tidak akan membiarkanmu bergantung pada Fred karena saat ujian NEWT dia tidak mungkin bisa membantumu. Ujian adalah saat di mana kemampuan seseorang diuji secara jujur," tambah Rose, lalu kembali memandang perkamennya.
Lily masih cekikikan dan aku mendelik padanya.
Aku seharusnya menyadari hal ini, Rose—dengan kecenderungannya untuk mengawasi semua orang setelah para sepupu yang lebih tua pergi—merupakan hambatan dalam mengejar cita-citaku untuk mendapatkan calon suami. Namun, di Irlandia nanti, aku tentu bisa menghindari Rose.
Semangat!
Sincerely,
Roxy Weasley
Cewek yang tidak akan membiarkan sepupunya mematahkan semangatnya.
Tanggal: Rabu, 20 Oktober 2022
Lokasi: Lapangan Quidditch, Hogwarts.
Waktu: 7. 35 am
Dear Diary,
Malam ini adalah malam yang cerah setelah hujan sepanjang siang. Bintang-bintang bersinar riang di langit, dan di kursi stadion yang seluruhnya kosong Lorcan, Smith, Flint dan aku sedang duduk menunggu para anak-anak kelas enam yang akan diujicoba.
"Ini," kata Lorcan, sambil menyerahkan sebuah perkamen padaku.
"Apa ini?" tanyaku, mengulurkan tangan untuk menerima perkamen itu.
"Itu jadwal pertandingan pra-liga," kata Lorcan, memandang anak-anak yang mulai berdatangan di lapangan Quidditch.
"Mengapa bisa ada di tanganmu?" tanyaku heran.
"McGonagall memberikannya padaku siang tadi," jawab Lorcan mengangkat bahu. "Dia juga mengangkatku menjadi kapten tim baru ini."
"Oh," kataku, kemudian menunduk mencoba meredam rasa iri, marah dan sedih yang tiba-tiba menyerangku.
Tentu saja aku tidak bisa mengumpat McGonagall karena hal ini. Lorcan merupakan pilihan terbaik untuk posisi kapten, dan aku hanya bisa duduk di sini sambil berusaha untuk menjadi manager yang baik. Aku mengerjap untuk mencegah airmataku mengalir, lalu memusatkan perhatian pada perkamen yang ada di tanganku.
Jadwal Pertandingan Pra-Liga Quidditch Inggris/Irlandia untuk Tim Hogwarts dari LQE/IF:
Senin, 6 November 2022, 10 am: Tutshill Tornados, Stadion Gaelic
Rabu, 9 November 2022, 10 am: Beauxbatons, Stadion Gaelic.
Jumat, 11 November 2022, 7 pm: Green Shamrock, Stadion Shamrock
Minggu, 14 November 2012, 7 pm: Belfast Irish, Stadion Gaelic
. . .
Jadwal itu terus berlanjut sampai akhir November.
"Kita tidak bertanding melawan The Harpies?" tanyaku, memandang Lorcan, lalu memandang jadwal pertandingan lagi.
"Tidak," jawab Lorcan sambil lalu.
"Mengapa?" tanyaku heran.
"Ini hanya pertandingan persahabatan, Weasley," kata Lorcan, menjelaskan. "Kita tidak diharuskan untuk bertanding melawan semua klub yang ada di Inggris dan Irlandia..."
"Tenang, Weasley," kata Smith. "Kau akan bisa bertemu The Harpies saat pesta penutupan akhir November nanti."
"Ada pesta penutupan?" tanyaku memandang Lorcan.
"Ada," jawab Lorcan, "Ayo!"
Dia berdiri dan berjalan cepat-cepat menuju lapangan Quidditch tempat para calon anggota tim Quidditch Hogwarts berkumpul. Smith, Flint dan aku segera mengikutinya.
"Baiklah!" kata Lorcan pada anak-anak yang berkumpul di lapangan.
Dari sekitar 15 anak yang berkumpul di bawah lampu menyilaukan stadion Quiddtich Hogwarts, tampak Al dan Rose berdiri berdampingan di sebelah tiga anak Gryffindor lainnya. Sementara Lorcan berbicara untuk menjelaskan tentang langkah-langkah ujicoba, aku tersenyum memberi semangat pada Rose dan dia balas tersenyum.
"Mengapa kau menyuruh anak-anak yang bukan anggota tim ikut ujicoba ini?" desis Flint pelan agar tidak didengar Lorcan yang masih asyik berbicara.
Dia mengangguk pada Rose dan anak Gryffindor lain, Melvin Catterick.
"Aku kan sudah bilang bahwa di luar sana banyak anak yang berbakat Quidditch," jawabku balas mendesis.
"Kau hanya ingin agar sepupu Musang-mu itu masuk tim, kan?" kata Flint tajam.
"Jangan menyebutnya Musang, Flint, atau kau akan tahu akibatnya," ancamku pelan. "Weasley dilahirkan dengan kemampuan dalam Quidditch, dan kau akan tercengang melihat Rose bisa memasukkan Quaffle lebih banyak daripada siapa pun."
"Aku sangat ingin melihatnya," dengus Flint, kemudian tertawa pelan, menghina.
Setelah semua calon pemain menunjukkan kebolehannya dalam terbang, Lorcan, Smith, Flint dan aku sepakat untuk mengeluarkan Melvin yang terbangnya kalah cepat dibandingkan yang lain. Lalu, kami melakukan ujicoba Chaser, dan Rose dengan sangat menakjubkan berhasil membuat gol-gol spektakuler yang akan bisa membuat Aunt Ginny bangga (Rose selalu menjadi bagian timnya setiap kali kami main Qudditch melawan Uncle Harry dan Uncle Ron di The Burrow).
"Kebetulan... kebetulan," desis Flint, membuatku sebal.
Smith menyuruh kami diam dengan pandangan, dan Flint, juga aku kembali memandang ke depan untuk menonton ujicoba Beater. Beberapa saat kemudian, Al berhasil menjadi Beater terpilih berpasangan dengan Malfoy. Mereka berpandangan dengan sinis, dan aku berpikir apa yang terjadi pada tim ini nantinya.
Satu jam kemudian ujicoba berakhir dan kami berhasil mendapatkan pemain-pemain handal untuk dibawa ke Irlandia.
"Buatlah daftar pemain dan antarkan pada McGonagall setelah ini!" perintah Lorcan. "Setelah itu kau harus menulis pada pihak LQE/IF untuk menanyakan keterangan lebih lanjut tentang pertandingan persahabatan ini."
"Baiklah," kataku tersenyum cemerlang padanya sambil menahan rasa iri. "Selamat, kau berhasil mendapatkan pemain untuk tim ini."
"Terima kasih," kata Lorcan, memandangku sesaat, kemudian berjalan ke anggota tim terpilih untuk berbicara dengan mereka, sementara aku mulai mencatat nama-nama pemain.
Daftar Nama Tim Hogwarts:
Seeker/kapten: Lorcan Scamander (Ravenclaw)
Chaser: Norma Dinnet (Ravenclaw), Ariella Zabine (Slytherin), Rose Weasley (Gryffindor)
Beater: Scorpius Malfoy (Slytherin), Albus Potter (Gryffindor)
Keeper: Trevor Birch (Hufflepuff)
Manager tim: Roxanne Weasley (Gryffindor)
Setelah mencatat aku segera berjalan menuju Lorcan, yang sedang berbicara dengan anggota tim.
"Nah, aku akan memperkenalkan manager kita, Roxanne Weasley," katanya, mengangguk padaku.
"Hai," kataku tersenyum pada anggota tim.
"Baiklah," kata Lorcan lagi, memandang anggota timnya yang baru. "Dengar, kita semua akan membawa nama Hogwarts ke pertandingan persahabatan pra-liga Quidditch Inggris/Irlandia, jadi aku mengharapkan kerjasama kalian."
Al, Rose, Ariella dan Malfoy mendengus.
"Kita harus mengadakan persekutuan antar asrama..." tambah Lorcan keras, dan aku tersenyum memberi semangat. "Nama Hogwarts-lah yang kita bawa di pertandingan persahabatan ini, bukan nama pribadi dan nama asrama. Jadi, aku ingin kita melupakan perseteruan kita untuk sementara."
Para anggota tim saling pandang.
"Dan mulai saat ini, aku mengharapkan kita semua memanggil satu sama lain dengan nama depan," katanya, memandang mereka semua dengan tajam. "Oke, sekarang kalian harus saling berjabat tangan dan pastikan kalian saling memanggil dengan nama depan."
Aku tersenyum saat memandang Rose dan Scorpius saling memanggil nama depan sambil mendelik; Al yang tampak setengah hati memanggil Zabini dengan Ariella; dan Ariella, yang menjabat tangan Al dengan gaya tuan putri menjabat tangan tamu kerajaan taklukkan.
"Kau harus membuat jadwal pertandingan untuk seminggu ini, Roxanne," perintah Lorcan.
"Baik," kataku tersenyum.
Diary, aku merasa bahwa ini mungkin adalah awal dari satu persekutuan asrama, juga awal dari suatu hubungan yang indah antara Lorcan dan aku. Meskipun mulai ragu tentang perasaannya padaku, aku tetap ingin percaya bahwa dia sangat mencintaiku. Jadi, aku tidak akan melepaskan calon suami potensial-ku.
Semangat!
Sincerely,
Roxy Weasley
Cewek yang tidak akan mendengarkan kata-kata orang, kecuali suara hatinya sendiri.
Tanggal: Kamis, 21 Oktober 2022
Lokasi: Lapangan Quidditch, Hogwarts.
Waktu: 7. 35 pm
Dear Diary,
Latihan hari pertama benar-benar ancur-ancuran. Scorpius tidak henti-hentinya mengirim Bludger pada Rose, membuatnya harus berjungkir balik di udara, dan Al membalas dengan mengirim Bludger pada Malfoy setiap ada kesempatan.
"Scorpius, apa yang kau lakukan?" gertak Lorcan, saat para anggota tim sudah mendarat kembali di tanah. "Kau tidak boleh menyerang satu orang tertentu... Dan Al, kau juga tidak boleh hanya menyerang Scorpius..."
"Aku ingin Weasley—maksudku Rose, bisa berlatih cara menghindari Bludger," kata Scorpius, sementara Rose mengangkat alis.
"Aku mengharapkan kau juga melakukan hal yang sama pada pemain lain," kata Lorcan tajam, kemudian memandang Rose dan Ariella. "Kalian berdua juga... kalian tidak boleh membawa Quaffle seakan bola itu adalah milik kalian sendiri, bola itu harus di-over-kan pada sesama Chaser, bukan dibawa sendiri. Pakailah beberapa teknik yang kugambarkan pada kalian saat pidato awal latihan!"
"Maaf," kata Rose. "Aku akan berusaha lagi!"
Ariella tidak berkata apa-apa.
"Baiklah, kita mulai lagi..." kata Lorcan.
Latihan selanjutnya tidak lebih baik; terjadi kejar-kejaran hebat antara Scorpius dan Rose karena Bludger darinya menghantam punggung Rose disertai bunyi gaung di lapangan yang kosong. Jadi, selama lima belas menit, Rose terbang berkeliling lapangan Qudditch mengerjar Scorpius sambil membawa pemukul Beater, yang direbutnya dari Al. Lorcan terpaksa melupakan Snitch dan mengejar Rose untuk menghentikannya. Anggota tim yang lain tampak cemas, tapi Al dan aku tertawa terpingkal-pingkal.
Aku masih tertawa saat Lorcan dan aku meninggalkan ruang ganti. Anak-anak lain telah pergi beberapa menit yang lalu.
"Berhenti tertawa!" kata Lorcan sebal.
"Maaf," kataku langsung berhenti tertawa. "Tahu tidak, Scorpius dan Rose merupakan hiburan paling baik dalam tim ini."
"Tidak..." katanya kuatir. "Aku cemas, tim ini tidak akan sesukses seperti yang kuharapkan."
"Tenang saja," kataku menenangkan. "Mereka akan baik-baik saja..."
Dia masih tampak khawatir.
"Aku sudah menulis pada LQE/IF," kataku, berusaha mengalihkan pikirannya dari Rose dan Scorpius.
"Ya, aku tahu," jawabnya.
"Kau tahu?" tanyaku heran.
Dia mengeluarkan sebuah perkamen resmi yang diembos dengan huruh 'LQE/IF' berwarna emas dan memberikannya padaku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Dari LQE/IF, mereka mengirimnya pada McGonagall, dan dia memberikannya padaku."
Aku membuka perkamen itu dan mulai membaca.
Dear Tim Hogwarts
Kami sangat berterima kasih atas kesediaan saudara-saudara untuk mengikuti pertandingan persahabatan pra-liga Inggris/Irlandia ini. Kami mengharapkan kehadiran saudara-saudara pada,
Hari/tanggal: Rabu, 27 Oktober 2022
Jam: 9 am
Tempat: Cranberries House, Dublin
Kehadiran saudara-saudara sangat kami nanti-nantikan.
Sincerely,
Douglas Weigh
Panitia pra-Liga Quidditch Inggris/Irlandia
"Craberries House?" tanyaku.
"Itu nama sebuah penginapan di Dublin," katanya. "Kurasa kita mungkin akan menginap di sana."
"Tampaknya menarik," kataku semangat.
"Yeah, tapi kau mungkin akan sangat sibuk nantinya," kata Lorcan.
"Tidak apa-apa," kataku senang.
Diary, meskipun latihan kami kacau, tapi aku tetap bersemangat dan yakin bahwa semua anggota tentu akan bekerjasama juga pada akhirnya. Lagipula Cranberries House tampaknya adalah tempat yang menarik. Kami akan menginap di sana dan aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk menaikkan jenjang hubunganku dan Lorcan, dari manager menjadi sahabat, setelah itu aku dengan berani akan mengatakan bahwa aku tahu dia jatuh cinta padaku. Dan hubungan kami akan berjalan mulus seperti air mengalir.
Semangat!
Sincerely,
Roxy Weasley
Manager yang sangat yakin akan perasaan calon suami potensial-nya.
Tanggal: Minggu, 01 November 2022
Lokasi: Cranberries House, Dublin.
Waktu: 9. 30 pm.
Dear Diary,
Saat ini aku berada di sebuah kamar di Cranberries House, sebuah tempat penginapan di sebelah selatan kota Dublin. Bangunan ini bertingkat tiga; lantai dua dan lantai tiga adalah tempat penginapan, sedangkan lantai satunya adalah bar. Di depan penginapan ada jalanan desa Muggle yang sepi, sedangkan di belakang ada lapangan Quidditch darurat yang digunakan untuk keperluan sekarang. Lapangan ini digunakan secara bergantian oleh tim Gryffindor, juga tim Durmstrang dan Beauxbatons yang menginap di tempat ini.
Kamar tim Hogwarts terletak di bagian utara gedung, Beauxbatons di sebelah selatan dan Durmstrang di sebelah tenggara. Kamar anak-anak perempuan tim Hogwarts adalah sebuah kamar yang sangat luas dengan empat tempat tidur berkanopi yang nyaman dan empuk. Temboknya di cat dengan warna pink lembut dan lantainya berkarpet bulu tebal. Rose dan aku merasa kamar ini sempurna, tapi Norma selalu saja mengeluh. Ada-ada saja yang dikeluhkannya; kasur yang keras, ruangan yang suram dan kusam, atau lampu yang terlalu terang. Sementara Ariella duduk tenang seperti seorang putri dan tidak berbicara dengan siapa pun, kecuali Malfoy, yang selalu berkunjung ke kamar anak perempuan sehabis makan malam.
Kami bertemu pihak panitia hanya pada hari pertama tiba di Irlandia dan tidak bertemu mereka lagi setelah itu, tapi mereka baru menulis padaku kemarin menanyakan kendala dan kesulitan yang kami alami. Dan jawabannya tentu saja negatif karena kami senang di sini, kami sudah berteman dengan anak-anak Durmstrang dan Beauxbatons. Bahkan Norma, dengan kecenderungannya sebagai cewek centil, berhasil mendekati cowok-cowok tampan dari Durmstrang. Sementara Rose sudah berakrab ria dengan Rosen Krum, adik Terrius Krum, dari Durmstrang. Tak ketinggalan, cowok-cowok Hogwarts dijadikan incaran cewek-cewek Beauxbatons. Al sampai beberapa kali harus menghindar, sementara Lorcan dan Malfoy tak peduli, tapi Trevor sangat menikmati diperhatikan oleh mereka.
Aku tidak bisa berkata apa-apa tentang hal ini. Kau tidak bisa melarang cewek-cewek melirk cowok, juga sebaliknya. Aku hanya bisa berharap agar Trevor tetap menjaga rahasia tim dan rahasia Hogwarts.
Hubungan Lorcan dan aku tidak seperti yang kuharapkan saat sebelum berangkat ke Irlandia. Aku tidak berhasil menaikkan tingkat hubungan kami menjadi sahabat. Baginya, aku adalah seorang manager, padahal aku yakin aku telah berusaha keras untuk berbicara dengannya tentang segala hal agar kami bisa lebih mengenal dengan akrab, dan aku juga yakin sudah mengerjakan semua pekerjaan manager dengan baik; menyusun jadwal latihan agar tidak bentrok dengan latihan tim Drumstrang dan Beauxbatons, mengatur makanan para pemain, dan mengurus segala hal yang berhubungan dengan mengatur sebuah tim; tapi hubungan kami tetap tidak berubah. Dia menolak berbicara tentang hal-hal yang pribadi seperti apa hobinya, siapa cewek pertama yang disukainya, bagaimana hubungannya dengan kembarannya, Lysander. Dia juga tidak pernah mengucapkan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti, 'kerja bagus, Roxanne,' atau 'aku senang kaulah yang menjadi manager'. Topik pembicaraan kami adalah tentang tim; bagaimana membuat sebuat sebuah tim bisa kompak dan bagaimana jadwal latihan harus sesuai dengan keinginan semua anggota. Setelah makan malam tadi, saat aku akan berjalan ke kamar anak-anak perempuan dari ruang makan kecil di sebelah kiri kamar kami, Lorcan mendekatiku dan langsung mengecewakanku karena dia bicara tentang Quidditch lagi.
"Besok kita akan latihan di klub The Shamrock, bersama pelatih Koch." (Lorcan)
"Baiklah..." (aku tersenyum)
Namun, dia sama sekali tidak memperhatikan senyumanku yang indah ini, dia berjalan menjauhiku dan masuk ke kamar anak laki-laki bersama Scorpius sambil mendiskusikan strategi pertandingan. Dia tidak tahu bahwa aku mungkin akan senang sekali kalau dia mau mendiskusikan strategi pertandingan denganku, biar bagaimanapun aku juga adalah kapten Quidditch.
"Lorcan mengajak kita untuk berlatih bersama pelatih The Shamrock besok," kataku pada teman-teman sekamarku.
Rose yang sedang membaca mengangkat muka dari bukunya yang berjudul Sejarah Penyihir Irlandia, Norma berhenti membentuk alisnya di depan cermin kecil yang dipegangnya dengan tangan yang lain, sementara Ariella tampak seperti sedang mengucapkan harapan sebelum tidur pada kalung berliontin yang tergantung di leher.
"Aku sudah mengharapkannya sejak kedatangan kita ke Irlandia ini," kata Rose, lalu kembali kebukunya.
"Apakah Lorcan punya koneksi dengan orang dalam The Shamrock?" tanya Norma, sementara Ariella sudah memasukkan kalung berliontinnya ke balik gaun tidur sutranya dan berbaring, tidak memandang seorangpun dari kami.
"Lorcan adalah pemilik The Shamrock," kataku.
Mata Norma langsung menyala terang saat mendengarnya.
"Maksudmu dia memiliki sebuah tim Quidditch sendiri?" dia bertanya, meletakkan cermin kecil dibantal dan memandangku dengan tertarik.
"Ya," jawabku, memandangnya sebal.
"Oh, aku tidak tahu... kalau aku tahu aku sudah mendekatinya dari dulu," kata Norma, setengah berpikir.
"Tidak boleh," kataku segera. "Dia adalah milikku... dia mencintaiku."
Norman memandangku agak heran, Rose mendengus, sementara Ariella melirikku dari balik selimut hijaunya.
"Kalian pacaran?" tanya Norma tak percaya.
"Belum, tapi kami sudah pernah berciuman dan itu artinya dia mencintaiku," kataku tegas.
Ya, dia memang mencintaiku... dia menciumku!
Meskipun akhir-akhir ini aku merasa bahwa kata-kata Florence lebih tepat dari pada kata-kata Alice, tapi aku tidak ingin kehilangan calon suami potensial-ku.
Ariella mengangkat alis, sementara Rose terlihat sangat serius dengan bukunya.
"Yah, kalau cuma berciuman sih, aku masih bisa mendekatinya," kata Norma tak peduli, dan kembali pada alisnya.
"Jangan coba-coba," gertakku, melompat dari tempat tidur. "Aku akan membunuhmu kalau kau mendekatinya."
Aku memandangnya dengan sangat tajam, sementara dia memandangku selama beberapa saat.
"Oke," katanya tak peduli, kemudian dia memandang Ariella. "Bagaimana dengan Scorpius? Dia punya pacar?"
Ariella membuang muka, lalu membalikkan tubuhnya.
"Ya ampun, aku kan hanya bertanya..." kata Norma, memandangku dan mengangkat bahu.
Aku menggeleng dan kembali ke tempat tidurku sendiri.
"Dia berkencan dengan Gemma Farley," jawab Rose, tanpa mengangkat muka dari bukunya.
"Gemma Farley, cewek kelas lima Ravenclaw?" tanyaku. "Dia kan pernah berkencan dengan James."
"Ya, setelah putus dari James, dia berkencan dengan Malfoy—Scorpius," ralat Rose.
"Scorpius tidak jatuh cinta padanya," kata Ariella, berbalik menghadap kami lagi dan memandang Norma. "Kurasa dia tidak jatuh cinta pada siapa-siapa."
Aku memandang Ariella dengan teliti, ini pertama kalinya dia berbicara lebih dari satu kalimat pada kami.
"Yah, baguslah, kalau begitu aku akan membuat dia jatuh cinta padaku..." kata Norma tampak begitu bersemangat.
Aku melirik Rose, yang masih asyik membaca.
"Jangan," kataku, mendelik pada Norma. "Kau tidak boleh mendekati Scorpius, dia adalah milik Rose."
"Roxy!" kata Rose, mengangkat muka dan memberiku tatapan dingin.
"Scorpius bukan milik siapa-siapa," kata Ariella. "Apa lagi kau, Musang, dia membencimu."
"Kau tidak perlu mengucapkannya, Ariella, aku sudah tahu itu," kata Rose, mendelik pada Ariella. "Dan rasa benciku padanya lebih besar daripada rasa bencinya padaku."
Ariella tampak tidak percaya.
"Tetapi, aku tahu kau menyukai Scorpius, Weasley—Rose," katanya.
"Apa maksudku?" Rose melompat dari tempat tidur, siap berperang.
Ariella terduduk dan memandang Rose dengan menantang.
"Jangan coba-coba menipu perasaanmu sendiri," kata Ariella. "Lihat di punggung tangan kirimu, itu tato scorpion—kalajengking, kau ingin mengukir nama Scorpius di kulitmu, kan?"
"Asal tahu saja, ya, aku tidak memikirkannya saat membuat tato ini," kata Rose, menunjuk Ariella. "Aku membuatnya karena kupikir binatang itu lucu dan penuh misteri."
Ariella memberi pandangan tak percaya lagi.
"Dan aku tidak akan menghapusnya hanya untuk membuktikan bahwa tato ini tidak ada hubungannya dengan Scorpius," kata Rose keras. "Aku tidak akan peduli pada apa pun yang kau katakan, Ariella, karena aku tidak merasakan perasaan apa-apa pada sepupumu."
"Kalau begitu mengapa kau menciumnya?" tuntut Ariella.
"Aku tidak menciumnya, dia yang menciumku..." bantah Rose tak sabar, nada suaranya naik beberapa desibel. "Dengar, kau seharusnya tidak boleh percaya pada apa pun yang dikatakannya tentang aku, karena semuanya bohong."
"Dibandingkan denganmu, aku lebih percaya pada sepupuku," katanya tegas.
"Terserah," kata Rose, lalu kembali berbaring di tempat tidurnya.
"Oke," kata Norma. "Kurasa hanya Al yang masih kosong..."
"Dia sedang berkencan dengan Natalie McDonall," kata Rose sambil lalu, mengambil bukunya dan tenggelam di dalam bacaannya.
"Ya, ampun mengapa semua cowok cakep sudah ada yang punya?" kata Norma, agak jengkel.
"Kau kan sudah punya cowok-cowok Durmstrang dan Beauxbatons itu," kataku.
Aku ingat, sore tadi, dia menemani dua cowok Durmstrang dan satu Beauxbatons berjalan-jalan di pusat perbelanjaan penyihir Irlandia, Urghag Alley, yang berjarak 15 meter dari Cranberries House.
"Ah, cowok-cowok brengsek itu!" Norma tampak jengkel. "Mereka mendekatiku hanya agar aku bisa memperkenalkan mereka padamu," dia memandang Ariella. "Mereka tertarik padamu."
"Aku tidak tertarik," kata Ariella.
"Aku sudah mengatakan hal itu pada mereka," kata Norma. "Aku bilang kau adalah tuan putri, dan akan sangat susah untuk didekati, tapi mereka tetap memintaku untuk berkenalan denganmu."
"Aku tidak ingin berkenalan dengan siapa pun," kata Ariella.
"Kau tidak sopan, tahu," kata Rose mendelik pada Ariella.
"Apa?" gertak Ariella.
"Apakah kau tidak bisa bersikap sopan? Mereka kan hanya ingin berkenalan denganmu..."
"Aku tidak ingin berkenalan dengan siapa pun dan berhubungan dengan siapa pun dan aku tidak peduli dengan kesopanan..." kata Ariella tegas.
Rose masih terus mendelik.
"Dengar, aku tidak sepertimu, yang suka bergonta-ganti cowok, habis berciuman dengan cowok satu, lalu berciuman dengan cowok lain... Aku adalah gadis kelas atas yang mementingkan asal-usul keluarga dan derajat dalam bergaul."
"Gonta-ganti cowok?" gertak Rose. "Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"
"Kau berciuman dengan Scorpius lalu berciuman dengan Krum, cowok Durmstrang itu."
"Aku tidak berciuman dengan Rosen," kata Rose.
"Tetapi kau akrab dengannya..."
"Mengapa kalau aku akrab dengannya?" tanya Rose. "Ayahnya adalah sahabat Mom dan aku sudah sering mendengar tentang keluarganya , jadi wajar Rosen dan aku berteman."
Ariella mengangkat alis.
"Semua orang yang melihat kalian tidak akan berpikir bahwa kalian berteman."
"Buat apa aku peduli dengan apa yang dipikirkan orang," kata Rose. "Selama aku nyaman bergaul dengan seseorang aku tidak akan peduli pada apa pun yang dipikirkan orang lain tentang aku."
"Nah, itulah perbadaan kami dengan kalian rakyat jelata," kata Ariella sok, mencibir.
Rose dan aku saling pandang, sementara Norma tercengang mendengar kata-kata Ariella.
"Kami, penyihir berdarah-murni kelas atas, sangat peduli pada apa yang dikatakan orang tentang keluarga kami... kami hidup dengan mementingkan nama keluarga, kami tidak akan mempermalukan keluarga dengan bertingkah aneh seperti gadis yang tidak mengenal susila."
"Kurasa kau terlalu berlebihan, Ariella," kataku cepat, menyela Rose yang sudah akan menyatakan pendapatnya dengan tajam.
Ariella membuang muka, kemudian membalikkan badannya lagi.
"Setiap keluarga pasti punya peraturan masing-masing," kataku. "Peraturan kami mungkin berbeda dengan peraturanmu, dan aku harap kau bisa menghargai peraturan kami seperti kami menghargai peraturanmu."
"Sudahlah, Roxy," kata Rose. "Kita memang berbeda dengan mereka, buat apa memaksakan diri."
"Dengar, Rose, Ariella, aku tahu perbedaan kalian banyak, tapi aku mengharapkan kalian bekerja sama dengan baik... aku tidak ingin terjadi pertengkarang di lapangan Quidditch," kataku tegas.
Rose mengangkat bahu, sementara Ariella tetap memasang punggungnya pada kami.
"Kenapa sih dia?" tanya Norma, berbisik agar Ariella tidak mendengarnya.
"Dia memang seperti itu," jawabku.
"Yeah, aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan siapa pun kecuali Scorpius dan Lorcan," Norma memandangku. "Kau harus berhati-hati, Lorcan bisa saja jatuh cinta padanya... dia kan sangat cantik... Dengan mata abu-abu yang indah, rambut merah gelap, dan gaya aristokrasinya yang tanpa cela, dia sudah membuat anak-anak Durmstrang itu terpesona padanya dalam sekali pandang... Aku curiga diam-diam Lorcan juga tertarik padanya."
"Lorcan tidak mungkin tertarik padanya," kataku.
"Kau itu terlalu naif," kata Norma. "Cowok-cowok biasanya tertarik pada cewek cantik, lembut, dan tak terjangkau sepertinya... semakin susah dia mendapatkan cewek itu, semakin bersemangat cowok itu."
"Tidak, Lorcan hanya jatuh cinta padaku..." kataku, meyakinkannya dan meyakinkan diriku sendiri.
"Dia tidak kelihatan sedang jatuh cinta padamu," kata Norma. "Kalau seseorang jatuh cinta pada seorang gadis, dia pasti akan menunjukkannya, misalnya dengan bersikap baik, membantunya, melindunginya, mengawasinya dan sebagainya. Aku perhatikan Lorcan sama sekali tidak memperlakukanmu seperti itu, kukira dia hanya menganggapmu sebagai manager."
"Tidak," kataku menggeleng kuat-kuat.
"Oh ayolah, Roxy," kata Norma. "Kau pasti merasakannya di dalam hati... dia tidak menganggapmu lebih dari seorang manager."
"Dia menciumku," kataku.
"Roxy, aku kan pernah bilang padamu bahwa mencium seseorang tidak berarti jatuh cinta padanya," kata Rose, memandangku dari balik bukunya.
"Aku—"
Aku tidak bisa bicara lagi, kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat berbeda dari apa yang kupercaya selama ini.
"Cara terbaik untuk tahu perasaannya adalah dengan bertanya langsung padanya tentang perasaannya padamu," kata Rose. "Kalau kau menunda menanyakan pertanyaan penting itu, aku khawatir semuanya akan terlambat dan kau akan menghancurkan hatimu sendiri."
Aku menggelengkan kepala, tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Yah, Roxy, kau harus cepat-cepat tanya padanya tentang perasaannya, lalu kalau dia menolakmu, aku akan mencoba untuk mendekatinya," kata Norma, tersenyum genit dan aku mendelik.
Diary, aku belum ingin mengambil keputusan. Otakku menyadari hal penting bahwa kata-kata Florence mungkin benar, yaitu aku harus melupakan ciuman itu dan menganggap bahwa ciuman itu benar-benar murni ketidaksengajaan. Namun, sesuatu, yang rasanya sangat mendominasi hatiku pada hari-hari terakhir ini, menyuruhku untuk tetap percaya bahwa kata-kata Alice benar, bahwa ciuman itu berarti bahwa dia mencintaiku. Lagipula, aku tidak ingin kehilangan calon suami potensial.
Semangat!
Sincerely,
Roxy Weasley
Cewek sangat percaya bahwa calon suami potensial sangat mencintainya.
Tanggal: Senin, 02 November 2022
Lokasi: Stadion Quidditch Shamrock, Dublin.
Waktu: 10. 00 am.
Stadion Shamrock adalah stadion yang luas dan mewah dengan kursi-kursi penonton yang empuk dan nyaman, letaknya bertingkat-tingkat sampai sejajar dengan tiang gawang. Para anggota tim berdiri sejajar di depan seorang pria yang sudah diperkenalkan padaku oleh Lorcan sebagai John Koch.
Koch adalah seorang laki-laki berambut pirang beruban yang kira-kira berumur 54 tahun. Kebijaksanaan dan kecerdasan tampak di wajahnya yang bergaris-garis karena usia. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, dia berbicara dengan suara datar yang tegas, namun penuh semangat. Anggota-anggota tim mendengarkannya dengan penuh perhatian; Scorpius dan Rose tampak lupa bahwa mereka berdiri berdampingan, bahkan Ariella untuk sementara melupakan bahwa dia adalah putri kerajaan penakluk.
Beberapa detik kemudian sapu-sapu sudah melayang tinggi di udara dan aku segera menaiki tangga untuk duduk di bangku paling atas memandang para pemain yang terbang dengan riang. Rose, Ariella juga Norma bekerjasama dengan sangat baik, membentuk formasi-formasi indah dan beberapa kali membobol gawang Trevor. Kalau mereka terus seperti itu, aku yakin kami bisa mengalahkan pemenang liga tahun lalu, Tutshill Tornados. Aku begitu asyik memperhatikan mereka sampai tidak menyadari bahwa dua gadis cantik, yang satu pirang dan yang satu berambut gelap, sudah duduk beberapa kursi di sebalah kiriku.
"Nah itu kan, apa kataku!" kata cewek berambut gelap dengan logat Irlandia yang kental. "Lihat, dia benar-benar Lorcan Scamander!"
"Aye," kata cewek kedua yang berambut pirang juga dengan logat Irlandia, "Kita akhirnya bisa bertemu dengan pemilik klub ini, dia benar-benar tampan."
Keduanya lalu cekikikan, sedangkan aku mengalihkan pandanganku pada Lorcan. Dia, seperti yang dengan jelas dikatakan oleh dua cewek itu, memang benar-benar sempurna; sangat tampan dengan rambut pirang berkilau seperti emas di bawah sinar matahari musim gugur; tubuhnya melayang dengan indah di udara berjungkir balik menghindari Bludger seperti sedang menari. Aku mengalihkan pandangan karena merasa tidak pantas kalau menatapnya terlalu lama.
"Hei, siapa cewek berambut merah gelap itu?" tanya cewek berambut gelap.
Aku memandang ke depan lagi dan melihat Lorcan sedang memegang lengan Ariella, yang hampir saja terjatuh dari sapu, mungkin karena terhantam Bludger.
"Cantik sekali cewek itu," kata si pirang.
"Apakah itu pacarnya?" tanya temannya, terdengar kecewa.
"Mungkin saja, mereka kelihatannya sangat cocok," jawab si pirang.
"Bukan," kataku tegas, memandang mereka.
Mereka memandangku dengan ingin tahu.
"Aku, pacarnya," kataku percaya diri, menunjuk diriku sendiri.
Kedua gadis itu memandangku dari atas ke bawah, kemudian tertawa keras.
"Apa yang lucu?" tuntutku, lama-lama mulai jengkel.
"Kau pacar Lorcan Scamander?" tanya si pirang mencibir.
"Benar... Lorcan dan aku saling mencintai," kataku.
"Aku tidak tahu dia suka gadis sepertimu," kata si rambut gelap.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Kau itu sama sekali tidak menarik," kata si pirang, memandang wajahku sesaat, lalu pakaian musim gugurku; rok span di atas lutut, sweater biru tebal dan boot hitam yang menurutku sangat cantik. "Aku heran bagaimana dia bisa menyukaimu."
"Dia terpesona pada kecantikanku tentunya," gertakku. "Dan kami adalah pasangan serasi karena kami sama-sama menyukai Quidditch."
"Kau... cantik?" ulang si pirang. "Aye, kau bisa dikatakan cantik kalau kau tinggal di planet monyet..."
Kedua cewek itu tertawa lebih keras dari sebelumnya.
Darah mengalir deras ke wajah.
"Terserah kalian mau bilang apa," kataku keras, mengatasi derai tawa dua cewek menyebalkan itu. "Yang pasti Lorcan dan aku saling mencintai... dia mencintaiku, dan tetap akan mencintaiku..."
Kedua cewek itu saling pandang, kemudian cekikikan, sementara aku kembali memandang lapangan Qudditch, tepat saat Rose menunduk, menghindari Bludger yang dikirim Scorpius dan memasukkan Queffle untuk kesekian kalinya.
Setelah selesai latihan, para pemain Quiddich segera ke ruang ganti dan aku turun untuk menjumpai Koch di lapangan.
"Bagaimana menurut anda, Mr Koch?" tanyaku dengan sikap seorang manager yang baik.
"Semuanya benar-benar berbakat," kata pelatih Koch tersenyum padaku. "Mereka hanya perlu digembleng dengan lebih baik untuk menjadi pemain profesional."
"Terima kasih, Mr Koch," kataku bangga untuk para pemain, dan menekan perasaan iri yang tiba-tiba muncul di dadaku.
"Dan mereka harus mempertahankan stamina untuk tanggal enam nanti, melawan Tornados, kan?"
"Ya..." jawabku.
"Hai, Mr Koch!"
Dua cewek aneh, yang duduk di dekatku tadi, sudah ada di depanku.
"Oh, Cyrill, Abigail," kata koch, tersenyum pada dua gadis tadi. "Roxanne, perkenalkan ini adalah dua dari tiga Chaser utama kami, Cyrill Meakin dan Abigail Pugh... Cyrill, Abigail, ini Roxanne Weasley!"
"Hai," kataku tersenyum setengah hati.
Cyrill Meakin dan Abigail Pugh mengangguk tak peduli.
"Dia adalah pacar Lorcan Scamnader," kata Cyrill, memberitahu Koch seakan penyataan itu layak didengar oleh seorang pelatih Quidditch.
"Benarkah?" Koch memandangku. "Oh, aku tidak tahu, kupikir kau hanya manager tim."
"Er, ya, sebenarnya kami memang sedang menjalin hubungan..." kataku berbohong lagi, karena sudah terlanjur berbohong.
"Yah, kuharap hubungan kalian langgeng!" kata Koch tersenyum padaku, dan kedua cewek cerewet itu mendengus.
"Er, terima kasih, aku—"
"Roxanne," panggil suara Lorcan dan jantungku berdebar dengan kencang karena takut, cemas dan berharap semoga dia tidak mendengar percakapan Koch dan aku.
Aku berbalik, memandangnya dan menyadari bahwa dia sedang memberiku tatapan sedingin es di kutub utara. Yeah, jelas sekali bahwa dia mungkin sudah mendengar apa yang kukatakan pada Koch. Dari pandangannya ini, aku menyimpulkan bahwa dia sama sekali tidak jatuh cinta padaku.
Hebat, Roxy!
"Hai Lorcan," kataku, berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Ayo, aku ingin bicara denganmu," katanya, menyambar lenganku. "Maaf, Mr Koch..." dia tersenyum pada Koch, lalu pada dua cewek cerewet itu, dan menyeretku menuju ruang ganti pemain Qudditch pria. Setelah mendorongku masuk, dia menutup pintu di belakangnya.
Di ruang ganti, Scorpius dan Al sedang bertengkar hebat, keduanya berhadap-hadapan dengan wajah memerah. Sementara itu, Rose, Ariella dan Norma yang sudah berganti pakaian sedang berdiri bersandar di locker-locker yang terkunci.
"—mengaku saja Potter, kau memang sengaja untuk mencelakakannya, bukan?" kata Scorpius. "Kau tahu dia sedang sakit, tapi kau malah menyerangnya."
"Aku tidak bermaksud menyerangnya secara khusus, aku memberikan Bludger pada semua pemain dan aku tidak tahu bahwa dia sedang sakit," kata Al.
"Bohong, Potter, kau memang bermaksud untuk menyerangnya," kata Scorpius keras.
"Tidak ada niat buruk seperti itu dipikiranku, Malfoy, dan aku tidak sama denganmu yang—"
"Hentikan!" kataku, berdiri di antara Al dan Scorpius. "Ada apa ini?"
"Sebagai manager kau harus tahu, kan?" kata Lorcan dingin.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Ariella sakit," jawab Lorcan. "Kau managernya, kau teman sekamarnya dan kau tidak tahu bahwa dia sakit. Sungguh menyedihkan!"
Ternyata dia ingin berbicara tentang Ariella, bukan tentang aku yang mengaku sebagai pacarnya pada Koch, Cyrill dan Abigail.
Oh syukurlah!
Tetapi rasanya aku terlalu cepat bersyukur karena sekarang tampaknya aku sedang dalam masalah. Di sini jelas sekali bahwa calon suami potensial-ku tidak mencintaiku, dia membenciku. Apa yang terjadi kalau dia tahu aku mengaku sebagai pacarnya? Dia pasti akan membunuhku.
"Benar-benar menyedihkan punya manager yang tidak bertanggungjawab!" lanjutnya.
"Kata-katamu terlalu berlebihan," kata Al, berdiri di depanku menatap Lorcan dengan tajam. "Dia telah berusaha keras untuk kita, kurasa dia adalah manager paling baik untuk tim ini."
"Terima kasih, Al," kataku, menarik lengannya agar dia mundur.
Aku tidak ingin dia meninju Lorcan, aku tidak ingin menjadi orang yang melaporkan kejadian itu pada Aunt Ginny. 'Al meninju salah satu kembar Scamander', Aunt Ginny pasti akan murka.
"Baiklah, aku minta maaf kalau aku melakukan kesalahan... Aku memang bukan manager yang baik—"
"Roxy, apa yang kau lakukan," gertak Rose.
"Weasley akan mengakui kesalahannya kalau dia memang bersalah," kataku, tersenyum pada Rose.
"Tetapi kau sama sekali tidak salah. Kau hanya manager, bukan peramal, pelihat atau penyembuh, yang tidak akan tahu kalau seseorang sedang sakit hanya dengan sekali lihat," kata Rose lagi, dia memandang Ariella dengan dingin. "Dan kau, seharusnya kau mengatakan pada kami kalau kau sedang tidak enak badan!"
Ariella membuang muka, namun tidak bicara.
"Jangan bicara dengan nada seperti itu pada sepupuku, Weasley!" gertak Scorpius.
"Aku akan berbicara seperti itu padanya karena aku orang bebas, aku bukan peri-rumahnya!" kata Rose. "Dan aku ingin bilang bahwa sepupumu itu adalah cewek yang tidak pernah menyadari kebaikkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Seharusnya dia tinggal saja di Zabini Mansion dan tidak usah keluar dari sana sampai ajal menjemput!"
Rose sepertinya sedang menikmati mengeluarkan kata-kata dramatis, dan senang melihat wajah Scorpius yang berubah merah jambu.
"Kalau sepupuku harus tinggal di Mansion, kau harus dikuburkan di dasar tanah yang paling dalam dan jangan pernah lagi muncul di dunia ini," kata Scorpius kejam.
Rose ingin menjawab dengan tajam, tapi aku menyela.
"Sudah," kataku, mendorong Rose agar mundur, karena kalau Rose dan Scorpius sudah bertengkar pasti akan menghabiskan waktu berjam-jam. Dan aku harus mengakhiri ini sekarang karena kekompakan tim lebih penting dari apa pun.
Aku melirik Lorcan yang masih memandangku dengan dingin.
"Aku minta maaf karena tidak menyadari bahwa kau sakit," kataku, memandang Ariella. "Aku akan segera menulis pada pihak panitia untuk mengirimkan penyembuh..."
Ariella membuang muka, tapi aku tidak peduli.
"Sekali lagi aku minta maaf pada semuanya," aku memandang berkeliling dan berlama-lama pada Lorcan. "Aku akan berusaha lagi untuk memperhatikan kalian... Dan, aku ingin meminta satu hal pada kalian semua, aku ingin agar kita kembali kompak seperti saat bermain di depan Mr Koch. Tim kita tidak boleh terpecah-belah seperti ini, karena kita akan gagal."
Tidak ada yang mendengarkanku, Lorcan memberiku pandangan dingin membalikkan tubuh hendak berjalan keluar.
"Tunggu!" kataku segera, melangkah untuk berdiri di depannya.
"Apa?"
"Kau tidak bisa seperti ini," kataku. "Kau kapten tim ini, kau harus berbicara pada mereka."
"Aku tidak ingin bicara sekarang," katanya, lalu berjalan keluar melewatiku.
Scorpius memberikan pandangan dingin pada Al dan Rose, lalu bersama Ariella mereka berjalan mengikuti Lorcan.
"Lupakan mereka!" kata Trevor tersenyum padaku. "Kau masih manager hebat yang kami miliki."
"Terima kasih, Trevor," kataku balas tersenyum, lalu cemas lagi. "Aku khawatir perselisihan ini akan terus berlanjut."
"Tenang," kata Al. "Kami semua menginginkan yang terbaik untuk Hogwarts, tak lama lagi kami semua akan kembali kompak."
"Yeah," kata Norma.
"Sebenarnya si tuan putri sakit apa?" tanya Rose jengkel, memandang Norma.
"Kurasa hanya flu biasa, mungkin karena pengaruh perubahan cuaca dan keletihan," kata Norma.
Rose mendengus.
"Aku tetap akan menulis pada pihak panitia, aku juga akan meminta mereka mengirim penyembuh untuk memeriksa kalian semua, dan aku sangat bersyukur kalau mereka memberiku beberapa botol ramuan Merica Mujarab."
"Ide bagus," kata Norma tersenyum.
"Kurasa perhatian Lorcan dan Scorpius pada Ariella sangat berlebihan," kata Rose. "Dia kelihatan baik-baik saja tadi."
"Kurasa Lorcan memang jatuh cinta pada Ariella," kata Norma, memandangku. "Aku kan sudah bilang padamu semalam untuk—"
"Terima kasih, Norma," kataku cepat, sebelum dia membocorkan rahasiaku di depan Al dan Trevor.
"Lorcan jatuh cinta pada Ariella?" ulang Al.
"Itu hanya perkiraan..." kata Rose. "Siapa yang tahu apa yang ada dipikiran seseorang..."
Beberapa saat tidak ada yang bicara.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rose tiba-tiba, dan cepat-cepat mengucapkan 'Lorcan' tanpa suara.
Aku mengangguk.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa," jawabku. "Aku akan tetap melaksanakan pekerjaanku dengan baik. McGonagall memilihku karena aku mampu dan aku tidak akan membiarkan orang lain meruntuhkan semangatku."
Rose tersenyum.
"Nah, begitu, itu namanya Weasley sejati," kata Al juga tersenyum, sementara Norma dan Trevor mengangkat alis.
Aku tersenyum.
Benar, aku tidak akan membiarkan Lorcan membuat semangatku hilang. Aku akan tetap bersemangat meskipun sekarang aku sadar bahwa calon suami potensial-ku ternyata tidak jatuh cinta padaku.
Semangat!
Sincerely,
Roxy Weasley
Cewek yang sudah menyadari bahwa mungkin calon suami potensialnya tidak jatuh cinta padanya.
PS: Aku sangat kuatir pada tim Quidditch ini.
Tanggal: Senin, 03 November 2022
Lokasi: Cranberries House, Dublin.
Waktu: 09. 05 am
Dear Diary,
Lorcan tidak berbicara padaku lagi, tapi itu tidak membuatku sedih atau cemas, karena aku sudah tahu bahwa dia memang tidak jatuh cinta padaku, dan ciuman itu bukan apa-apa. Seperti yang pernah dikatakan Florence bahwa ciuman ketidaksengajaan biasanya tidak berarti apa-apa. Mulai sekarang aku tidak akan menganggapnya sebagai calon suami potensial lagi, tetapi sebagai kapten Quidditch yang memimpin tim Hogwarts. Dia sendiri yang rugi karena gadis cantik sepertiku biasanya banyak yang suka.
Setelah pemeriksaan kesehatan secara intensif semalam oleh seorang penyembuh Irlandia berambut merah dan berbintik-bintik. Para anggota tim tampak sangat bersemangat pagi ini, Ariella juga tampak lebih bersemangat. Dia dan Scorpius berbicara perlahan sambil tertawa-tawa di atas sarapan mereka. Kami semua—Al, Rose, Norma, Trevor dan aku—tercengang memandang Ariella di atas sarapan kami masing-masing. Baru sekali ini kami melihatnya tersenyum dan tertawa, benar-benar tertawa, bukan tawa sinis yang biasa, dan itu mengubah seluruh wajahnya menjadi sangat cantik. Sekarang aku menyadari bahwa cowok-cowok Durmstrang dan Beauxbatons, juga Lorcan tidak salah pilih, Ariella memang benar-benar sempurna untuk sebuah kecantikan sejati.
Aku juga cantik, tapi Ariella jauh lebih cantik, pantas saja Lorcan menyukainya.
Aku mengangkat wajah mengalihkan pandangan dari Ariella pada Lorcan dan melihatnya sedang memandangku. Aku tersenyum, sebagai manager yang baik aku memang harus selalu bersikap ramah.
"Apa jadwal kita hari ini?" dia bertanya agak tak peduli.
Aku mengeluarkan perkamen yang kubawa ke mana-mana di tasku, dan membacanya sekilas.
"Kita akan berlatih bersama Beauxbatons pagi ini setelah sarapan," jawabku.
Lorcan mengangguk singkat dan memandang Ariella.
"Kau bisa ikut latihan bersama ini?" dia bertanya, mengawasi Ariella dengan cemas.
"Aku baik-baik saja," kata Ariella, tersenyum pada Lorcan, lalu memandang Scorpius lagi dan berbicara pelan.
Keduanya melirik Rose, lalu tertawa, dan aku, juga Rose, sadar bahwa sejak tadi topik pembicaraan mereka adalah Rose.
Rose mendelik pada mereka berdua, tapi mereka tidak peduli bahkan terus cekikikan.
Satu jam kemudian, kami sudah berlatih bersama tim Quidditch Beauxbatons yang sebagiannya besar adalah cewek, kecuali kedua Beater. Managernya adalah seorang cewek pirang cantik, bernama Marielle yang selalu mengatakan bien sûr. Dia dan aku duduk di bangku penonton sambil memandang para pemain yang melayang di atas kami.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan ini padamu," kataku. "Mengapa sekolah kalian diundang padahal kalian, maksudku negara kalian, tidak termasuk dalam Liga Inggris/Irlandia?"
"Mademoiselle Blanche juga, bien sûr, sudah menanyakan hal itu di Kementrian Sihir Prancis. Pihak Kementrian mengatakan bahwa ini, bien sûr, adalah sebuah undangan kehormatan dari League Quidditch England/Ireland Federation. Mereka merasa bahwa sangat tidak adil bahwa mereka mengundang Hogwarts, tapi tidak mengundang sekolah sihir lain yang ada di Eropa."
"Kurasa aku setuju dengan mereka," kataku. "Aku senang kalian ikut, jadi tim kami tidak perlu malu kalau kami kalah melawan klub-klub profesional karena ada teman yang juga mengalami kekalahan."
Dia tertawa dan aku tersenyum.
"Bien sûr... bien sûr!" katanya.
Aku mengalihkan pandanganku, memandang seorang cowok Beauxbatons yang terkena Bludger Al di lengannya karena terlalu asyik memandang Ariella.
"Bien sûr!" kata Marielle tiba-tiba, tersenyum padaku. "Kami juga senang melihat para cowok-cowok Hogwarts, mereka benar-benar tampan. Apa lagi sang kapten, Lorcan, kami baru saja tahu bahwa dia adalah pemilik The S'amrock."
Dia memandang Lorcan dengan penuh perhatian.
"Dia sudah punya pacar," kataku cepat. "Dan aku adalah pacarnya."
Ya, ampun, mengapa aku masih saja berbohong? Padahal aku sudah tahu bahwa dia tidak jatuh cinta padaku.
"Vraiment?" Marielle tampak kaget. "Bien sûr, aku tidak menduga kalau kau adalah pacar Lorcan, kau tampak terlalu biasa..."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kau tampak seperti gadis-gadis biasa tidak seperti pacar seorang pemilik klub Quidditch. Aku akan percaya kalau kau mengatakan bahwa pacarnya adalah gadis berambut merah gelap itu," dia mengangguk ke arah Ariella. "Dia lebih cocok menjadi pacar seorang pemilik klub Quidditch."
"Aku tidak kalah cantik darinya," kataku keras.
"Bien sûr... bien sûr, kecantikan itu subjektif," katanya. "Kau bisa mengatakan bahwa kursi ini cantik," dia menunjuk kursi di depannya. "Tetapi aku bisa mengatakan kursi ini tidak cantik. Jadi, semua orang punya pendapat sendiri-sendiri tentang kecantikan..."
"Jadi maksudmu, aku tidak cantik?" tanyaku terpana, memandangnya.
Ini sesuatu yang baru untukku, karena selama ini aku selalu merasa bahwa aku cantik.
"Bukan... bukan seperti itu, aku hanya mengatakan kecantikan itu—"
"Aku tahu, kecantikan itu subjektif..." aku menyelanya. "Lalu bagaimana menurutmu tentang aku, apakah aku cantik?"
"Er—" dia tampak ragu.
"Ayolah, kumohon, aku harus tahu pendapat orang lain tentang aku..."
"Er, kurasa kau biasa-biasa saja, cewek yang kecantikkannya rata-rata; tidak cantik, juga tidak jelek... Itu menurutku, jangan dimasukkan ke hati, bisa saja Lorcan menganggapmu sangat cantik... Yah, bien sûr, semua orang punya pilihan masing-masing," katanya, mengangkat bahu.
Aku memandang ke lapangan Quidditch, tapi tidak benar-benar memandangnya. Aku merasa ditipu. Mom dan Dad selalu mengatakan bahwa aku cantik, tapi kenyataannya aku tidak cantik, aku biasa-biasa saja. Tetapi aku tidak perlu membenci orangtuaku karena itu. Seperti yang dikatakan Marielle kecantikan itu subjektif, Mom dan Dad tentu saja menganggap aku sangat cantik, tapi orang lain mungkin menganggap aku bisa-biasa saja.
Sekarang aku bisa memahami diriku: aku adalah cewek yang berkelebihan percaya diri, suka salah menyimpulkan sesuatu dan suka berbohong. Kelebihan percaya diri karena menganggap diri cantik padahal biasa-biasa saja; suka salah menyimpulkan sesuatu, aku salah menduga bahwa Lorcan jatuh cinta padaku; suka berbohong, aku mengatakan pada semua orang bahwa Lorcan adalah pacarku.
Sungguh memalukan! Bagaimana kalau Lorcan tahu tentang hal ini?
Aku berharap hal ini terkubur selamanya, atau dia tahunya nanti setelah aku meninggalkan Hogwarts, lebih bagus lagi nanti setelah aku mati.
"Roxanne, aku pergi ke ruang ganti dulu!" kata Marielle, mengagetkanku dari lamunan panjang.
"Er,baiklah!" kataku, tersenyum padanya, sementara di lapangan para pemain sudah mulai mendarat dan menuju ruang ganti.
Beberapa waktu kemudian, aku belum beranjak dari sana. Aku masih merenungi diri dan melihat ulang semua yang terjadi dari sudut pandang yang berbeda. Kesimpulannya tetap sama, aku dalam masalah besar kalau Lorcan tahu aku dengan penuh percaya diri telah menyimpulkan bahwa dia mencintaiku, dan aku juga telah menyebarkan pada semua orang bahwa aku adalah pacarnya.
"Roxanne," kata suara Lorcan.
Aku mengangkat muka dan melihatnya sedang berjalan ke arahku. Jantungku berdebar kencang dan seluruh tubuhku bergetar ketakutan. Sekarang saatnya, mungkin dia sudah tahu bahwa aku telah menyebarkan berita bohong. Dia pasti ingin memarahiku dan menyuruhku segera kembali ke Inggris.
"Hai, Lorcan," kataku berusaha tersenyum, setelah menenangkan kepanikan.
Dia duduk di sampingku, tampak salah tingkah.
"Er—" sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus memulainya darimana.
Aku memandangnya keheranan, bertanya-tanya mengapa dia jadi salah tingkah, seharusnya aku, kan?
"Er, sebenarnya aku ingin minta maaf padamu," katanya, tersenyum penuh penyesalan.
"Minta maaf?" tanyaku agak bingung.
"Kemarin aku mengatakan bahwa kau adalah manager yang tidak berguna dan tidak bertanggungjawab," katanya. "Aku minta maaf..."
"Oh, tak perlu minta maaf, aku memang merasa seperti itu. Maksudku seharusnya aku lebih memperhatikan Ariella dan—"
"Tidak," dia menyelaku. "Aku seharusnya tidak mengatakan hal itu padamu karena kau telah bekerja dengan baik mengatur segala sesuatu untuk tim ini... dan tentang Ariella, ibunya menitipkan dia padaku, jadi aku harus menjaganya..."
"Oh," kataku, tak tahu harus berkata apa.
"Dan, sepanjang malam kemarin aku memikirkan kata-kata yang kuucapkan padamu. Kau pasti sangat sakit hati, karena itu aku merasa perlu untuk meminta maaf."
"Tidak apa-apa..." kataku.
"Baiklah, kalau kau mengerti—er, aku juga ingin agar kau memperhatikan Ariella, dia tidak terbiasa tinggal di penginapan seperti ini, karena itu aku ingin kau memperhatikan kenyamanannya."
Memperhatikan kenyamanannya?
Aku tercengang dan bertanya-tanya apakah dia mengharapkan aku untuk menjadi peri-rumah bagi Ariella Zabini.
"Apa maksudmu dengan 'memperhatikan kenyamanannya secara khusus'?" aku bertanya, ingin mendapat kepastian.
"Tidak.. tidak," katanya segera. "Aku tidak menyuruhmu melayaninya atau apa, aku hanya ingin kau tidak bertindak terlalu keras padanya... dia sangat rapuh dan sangat mudah terluka. Dia seperti porselin yang mudah pecah."
Porselin yang mudah pecah?
Aku tidak tahu harus berkata apa terhadap komentar ini, aku hanya bisa bilang, "Baiklah," dan dalam hati mengutuk cowok-cowok yang tertarik pada tipe rapuh seperti Ariella ini.
"Terima kasih," katanya, tersenyum.
"Kau menyukainya?" tanyaku.
"Er—" wajahnya memerah.
"Aku mengerti," jawabku.
Akhirnya aku mendapat kepastian, Lorcan memang menyukai Ariella. Dan itu bukan urusanku, satu hal yang harus kulakukan adalah memastikan bahwa dia tidak pernah tahu bahwa aku telah mengatakan pada semua orang bahwa dia adalah pacarku.
"Er, ya, kalau begitu aku pergi dulu," katanya, lalu berjalan meninggalkanku.
Diary, aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku hanya ingin bulan November cepat berlalu dan aku bisa kembali ke Hogwarts dan menjauh dari Lorcan.
Aku ada dalam masalah besar!
Sincerely,
Roxanne Weasley.
Cewek sinting jelek yang sebentar lagi dibunuh oleh cowok yang dikiranya adalah calon suami potensial.
REVIEW, PLEASE! See you ini KNG 6 chapter 3
