Previous
"Aku benci papa."
.
.
.
.
.
Rain and Tears
Hun-Han
Boys Love!
Angst, Romance/hurt, Family
Mature content
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Serius Lu? Kalian bertengkar lagi di depan Haowen?"
Terlihat dari nadanya hanya menunjukkan dokter spesialis kejiwaan dan psikolog pada anak itu sangat marah, bukan hanya karena kenyataan bahwa anak delapan tahun menyaksikan sendiri betapa kejam ibu serta ayahnya saat bertengkar tapi karena keadaan psikis Haowen tidak diperbolehkan merasa tertekan terlebih marah hingga mempengaruhi kondisinya.
"Kami tidak sengaja melakukannya."
"Tapi tetap saja itu berbahaya, anakmu sedang berjuang sendiri dengan penyakitnya, tidak bisakah kalian bekerjasama untuk setidaknya berpura-pura harmonis didepan Haowen?"
"Entahlah Baek, aku semakin tidak mengenal suamiku sendiri."
Kedua dokter yang berasal dari universitas serta lulus di tahun yang sama itu merupakan sahabat dekat, masing-masing dari mereka jatuh cinta kepada senior mereka sewaktu kuliah, namun sayang hanya cinta Luhan yang berbalas sementara Baekhyun hingga saat ini harus memendam perasaannya pada lelaki yang juga mencintai sahabatnya sendiri.
Klik….
"Luhan."
Dan lelaki yang sedang dipikirkan Baekhyun tiba-tiba datang, namun bukan dirinya yang dicari karena seperti biasa lelaki tampan berlesung pipi itu akan selalu mencari Luhan dan mengabaikannya seolah dirinya tidak tampak dan tidak layak untuk dilihat.
"Yeol?"
"astaga! Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"
"huh?"
Luhan terkejut saat tiba-tiba Chanyeol memeluknya, terasa sangat erat bahkan nyaris membuat Luhan tidak bernafas karena memang Chanyeol mendekapnya sangat erat "yeol…" katanya berusaha melepas pelukan temannya menyadari Baekhyun kini memalingkan wajah tanda hatinya mulai terluka setiap kali Chanyeol menyentuhnya.
"Kau bertengkar lagi dengan Sehun? Apa yang dilakukannya kali ini? Apa dia memukulmu lagi?"
"aniya….Jangan karena Sehun pernah memukulku satu kali kau berbicara seperti dia selalu melakukannya Yeol, itu tidak adil."
"Tapi tetap saja aku mencemaskanmu."
"Aku baik-baik saja, oke? Lagipula darimana kau tahu kami bertengkar?"
"Haowen, dia bercerita padaku pagi ini."
"huh?"
"Apa kau belum dengar? Anakmu menolak untuk diambil darah oleh ayahnya pagi ini, dia hanya ingin aku yang melakukannya tapi Sehun melarangnya, keadaan disana benar-benar rumit."
"oh tidak…."
Ini salahnya karena mengambil jadwal operasi pagi, dia benar-benar baru selesai dan beristirahat sejenak hanya untuk mendengar kabar bahwa putranya menolak untuk melakukan pengambilan darah, hal ini tentu membuatnya cemas, dia pun bergegas untuk segera datang menghampiri kamar Haowen dan menemukan Park Jihoon yang tak lain merupakan perawat sekaligus penanggung jawab ruangan Haowen sedang berdiri didepan ruangan putranya.
"Jihoon."
"Dokter Oh."
Lelaki yang memiliki tinggi sama dengan Luhan itu menoleh, raut wajahnya terlihat antara lega namun cemas dan itu membuat Luhan segera bertanya "Ada apa? Dimana anakku?"
"Suami anda sedang ada didalam dokter Oh, kami tidak diizinkan masuk sampai diberi perintah."
"wae?"
"Maafkan aku dokter Oh, ini semua salahku, harusnya aku memberitahumu lebih awal, tapi Haowen menolak sarapan dan meminum obat karena ayahnya yang datang, dia mengizinkan siapapun menyuapi dan memberinya obat kecuali ayahnya, tapi Professor Oh, dia tetap bersikeras melakukannya untuk Haowen."
Luhan marah mendengarnya, dia juga tidak habis pikir kenapa sulit untuk Sehun menghilangkan sedikit saja sikap arogannya, bahkan pada darah dagingnya sendiri dia tidak bisa mengalah.
Itu membuat Luhan kesal sebagai seorang ibu, tapi sebagai dokter dia mencoba berfikir dengan kepala dingin seraya bertanya pada perawat putranya "Kapan terakhir kau memeriksa kondisi vital Haowen?"
"Pagi, pukul delapan."
"Biar aku lihat."
Buru-buru Jihoon memberi catatan medis Haowen hari ini pada Luhan, membuatnya segera membaca untuk menyadari tekanan darah dan denyut nadi putranya begitu lemah dan jauh dari angka normal seharusnya.
"Apa yang sudah kau berikan?"
"Kami hanya mengganti cairan infus elektrolitnya, selebihnya suami anda yang memberi terapi pengobatan."
"Hasil darah hari ini?" Luhan memintanya, membuat Jihoon tertunduk takut untuk mengatakan "Haowen hanya ingin Professor Park yang mengambil pemeriksaan hari ini , tapi Profesor Oh melarangnya."
"Jadi anakku belum melakukan pemeriksaan darah rutinnya pagi ini?"
"Maafkan aku dokter Oh."
Luhan memijat kasar kepalanya ini sudah hampir jam makan siang tapi Haowen belum melakukan pemeriksaan rutinnya, hal itu selalu dilakukan untuk melihat perbandingan bakteri yang menyerang otak Haowen sudah berkurang atau justru bertambah hingga menghambat pertumbuhan sel sumsung tulang belakang yang baru.
"Apa hanya suamiku di dalam?"
"Ya dokter Oh."
"Baiklah."
Perlahan Luhan membuka pintu kamar Haowen, menyadari suasana hening dikamar putranya terlalu mencekam hingga dia mendengar suara Sehun bersahutan dengan suara lemah putranya.
"Kenapa harus Samchoon jika papa bisa melakukannya?"
"Karena jika bukan samchoon aku tidak mau dimasukkan jarum, itu sakit dan aku benci jika papa yang melakukannya!"
"Oh Haowen!"
Baru satu langkah Luhan ingin menghampiri, seseorang memegang lengannya, itu Chanyeol yang sedang menatapnya lembut, meminta Luhan untuk tidak terpancing emosi hanya karena Sehun meninggikan suara pada putranya.
"Lepas."
"Kau hanya akan membuat Haowen sedih jika dia tahu kau mendengar percakapan mereka Lu!"
"Apa aku harus diam saja?"
"Dengarkan aku, bawa Sehun keluar dan aku akan mengurus Haowen."
"Yeol…"
"Percaya padaku, ya?"
Dan Luhan pun memutuskan untuk percaya, dibenarkan ekpresi tegang di wajahnya menjadi tenang sampai Chanyeol menepuk pundaknya lebih dulu dan sengaja berteriak "HAOWENAAA SAMCHOON DATANG~" teriaknya membuka pintu dan seketika suasana tegang antar ayah-anak itu digantikan dengan hening mencekam.
Menyadari Chanyeol sudah membuat Sehun berhenti berteriak, kini giliran Luhan yang masuk dan sengaja tersengal seolah dia berlari dari tempat yang jauh padahal nyatanya dia sudah berdiri disana dan mendengar suaminya membentak putra mereka.
"Nak!"
Sehun menoleh saat Chanyeol datang, ekspresi wajahnya marah, lalu tak lama Luhan terlihat dan itu hanya membuatnya menyeringai menyadari bahwa dua lelaki yang berselingkuh dibelakangnya sudah membuat scenario seolah dirinya adalah ayah yang jahat.
"Mama kenapa berlari?" Haowen bertanya dengan wajah pucatnya, Luhan tak kalah pucatnya untuk berlari melewati Chanyeol dan mendekap erat putra kecilnya "Mama dengar kau menolak untuk melakukan pemeriksaan darah rutin, kenapa sayang?" tanyanya, dan Haowen tergagap untuk menjawab "Haowen ingin, tapi bukan dengan papa." Lirihnya menatap dingin sang ayah lalu menunjuk Chanyeol "Dengan Samchoon."
Luhan melirik Chanyeol sekilas lalu bertanya lagi pada Haowen "Baiklah, Haowen bisa melakukan pemeriksaan dengan samchoon."
"Aku yang akan melakukannya." Tegas Sehun dan itu membuat wajah Haowen meringis antara ingin menangis dan terlalu marah pada ayahnya "pa-pa…."
Kedua orang tuanya menoleh dan Luhan terlihat cemas, jadilah dia mencengkram lengan Sehun, mengabaikan suara geram dan tatapan dingin itu untuk menenangkan putra mereka "Mama akan membawa papa pergi sayang, turuti apa kata samchoon, mama akan kembali lagi."
"apa yang kau lakukan."
"IKUTAKU!"
Tegasnya Luhan membuat Haowen menyadari kalau kedua orang tuanya kembali bertengkar, hal itu membuatnya tertawa pedih dan bepura pura tidak melihat dengan merangkul lengan Chanyeol, bersembunyi disana berharap tak mendengar pertengkaran apapun lagi dari kedua orang tuanya, dia pun setengah menggigit lengan Chanyeol untuk bergumam lirih penuh ketakutan
"Samchoon."
.
.
.
"LUHAN LEPASKAN AKU!"
Mengabaikan bahwa mereka tengah diperhatikan oleh seluruh perawat, dokter dan keluarga pasien di tengah koridor ruang intensive anak, Sehun terus berteriak marah sementara Luhan tetap menyeret suaminya keluar dari ruangan putra mereka.
Dilihat dari wajah keduanya yang tegang menyiratkan kemarahan terpedam di hati masing-masing, Luhan terutama, dia bahkan tidak segan membentak putra dari calon penerus rumah sakit tempatnya bekerja untuk berteriak
"APA KAU SUDAH GILA? KENAPA KAU MEMBUAT HAOWEN TERTEKAN?"
Antara terkejut dan tak menyangka Luhan memiliki keberanian semacam ini untuk membentaknya, Sehun hanya tertawa menyeringai seraya mengusap kasar wajahnya dan membalas "wae? WAE? APA AKU TIDAK BOLEH MERAWAT PUTRAKU SENDIRI?"
"cih! Apa katamu? Merawat putramu sendiri? KAU SUDAH MENINGGALKANNYA SELAMA SATU BULAN DAN KAU KATAKAN INGIN MERAWAT PUTRAMU? PIKIRMU AKU AKAN MEMPERCAYAINYA?"
"mwo?"
"Dia bahkan lebih dekat dengan anjing kecilnya daripada dengan ayahnya!"
"diam-…"
"Jadi kau tidak berhak membuat Haowen tertekan, anakku harus mendapatkan kenyamanan dan jika rumah sakit ini tidak bisa memberikan rasa aman dan nyaman, aku akan membawanya keluar dan pergi ke rumah sakit yang lebih layak, CAMKAN ITU!"
Satu langkah Luhan menjauh, Sehun mencegahnya, tangannya yang terkepal erat kini beralih mencengkram lengan yang lebih mungil darinya hingga tak sadar Sehun bisa mendengar suara rintih kesakitan namun diabaikan akal sehatnya.
"Lepaskan aku-…."
Tak banyak berkata Sehun sedikit menyeret Luhan ke ruang istirahatnya yang terletak tak jauh dari kamar Haowen, dia mengabaikan seluruh tatapan yang melihat mereka, teriakan Luhan yang kini memberontak hingga satu hentakan kasar dia berhasil membawa Luhan masuk kedalam ruang kamarnya dan menguncinya segera.
"Kenapa aku harus melepaskan istriku? Apakah istriku akan berlari ke pelukan sialan Park Chanyeol?"
"Bahkan Chanyeol seribu kali lebih baik darimu!"
"SIAL!"
Satu hal pertama yang dilakukan Sehun adalah mendesak lelaki yang sudah tidak sentuhnya selama satu bulan ke tempat dimana dia tidak bisa mengelak lagi, dan setelah dipikirkan satu bulan adalah waktu yang menyiksa karena sesungguhnya Sehun sangat tergila-gila pada rupa cantik istrinya.
Dia merindukan mata sayu Luhan setiap kali mereka saling menatap, merindukan bibir mungil yang hangat setiap kali dikecupnya sampai suara desahan yang membuatnya menggila karena rindu selama satu bulan berlalu.
Semua tentang istrinya, tentang lelaki cantik yang dihamilinya sebelum mereka lulus di bangku kuliah, Sehun memujanya, dan sebagai kakak kelas yang sangat beruntung mendapatkan cinta Luhan seutuhnya, dia sangat bahagia, kelahiran Haowen melengkapi bahagia mereka selama delapan tahun sampai ibunya membawa bukti yang tak diduga Sehun sebelumnya.
"Kenapa kau berselingkuh dengan Chanyeol? KENAPA KAU TIDUR DENGAN SEPUPUKU!"
"HARUS BERAPA KALI AKU KATAKAN? AKU TIDAK TIDUR DENGAN CHANYEOL!"
Yang diketahui Sehun, Chanyeol sudah menyukai Luhan sejak mereka saling berkenalan sebagai adik dan kakak senior saat kuliah dulu, dan rasa suka Chanyeol adalah salah satu alasan Sehun sengaja membuat Luhan mengandung anaknya, itu berhasil, Luhan mengandung anaknya kala itu, membuat sepupunya menyerah dan menikmati tatapan pedih Chanyeol saat mereka berdua mengikat janji di hadapan Tuhan dengan Haowen yang masih berada di perut Luhan.
"Kau milikku."
Dan terjadi lagi hal kasar yang dilakukan Sehun tepat sebelum dirinya angkat kaki dari rumah, dia menyentuh Luhan dengan cara yang kasar, melumat bibirnya hanya dipenuhi nafsu tanpa rasa cinta seperti dulu yang selalu mereka lakukan.
Bibirnya dihisap kasar, tubuhnya disentuh paksa hingga terakhir yang bisa Luhan rasakan seluruh tubuhnya mati rasa entah karena dia rindu disentuh suaminya atau karena dia terlalu marah hingga tak bisa melakukan apapun.
Pakaian kerjanya dibuka secara kasar, Luhan bisa mendengar bunyi salah satu kancing jas putihnya terjatuh dilantai, tak lama Sehun melepas paksa seluruh pakaiannya hingga sentuhan didaerah sensitive bagian tubuh Luhan dijamah kasar oleh suaminya.
"Sehun—aahh~"
Dan seolah tahu bagaimana cara melumpuhkan pertahanannya, Sehun sengaja menghisap kuat lehernya, memberi banyak kecupan disana hingga tak ada lagi kekuatan tersisa Luhan mengingat kedua tangannya dicengkram kuat di belakang sementara dia menggunakan tumitnya untuk menggesek kemaluan Luhan "kau bajingan!" umpat Luhan disela kecupan kasar Sehun yang menyisakan bekas gigitan disana, rasanya sakit, sangat memalukan, terlebih saat Sehun membalikan tubuhnya, menurunkan celana biru ruang operasi yang sedang digunakan Luhan untuk menekannya semakin ke dinding.
Sungguh, Luhan tak memiliki kuasa untuk melawan, ketika dia melawan Sehun akan memukul atau mencekiknya, menyisakan bekas di tubuhnya hingga orang-orang terdekatnya menyadari dan menyalahkan lagi ayah dari putranya, dia membenci Sehun saat ini, sungguh, tapi melihatnya disalahkan banyak orang belum menjadi satu kesanggupan Luhan sebagai seorang istri melihatnya.
"Sehun…Jangan."
Luhan memberikan peringatan saat merasakan kejantan n suaminya mulai menerobos masuk mencari sesuatu dibawahnya, dan semakin Luhan bergerak, Sehun akan semakin mencengkramnya kasar hingga satu dorongan kasar, Sehun memaksakan masuk miliknya dan membuat Luhan mengerang, menahan sakit saat tubuh mereka menyatu seolah tak sudi mengeluarkan desahan untuk suaminya.
"bagaimana? Kau menyukainya?"
Luhan mengunci rapat bibirnya, hanya ada bulir air mata terlihat dan itu membuat Sehun semakin geram dan marah, tak ayal hal itu membuatnya bersikap semakin kasar dan memaksa Luhan untuk mendesahkan namanya, hanya namanya.
"Nikmati ini, aku tahu kau merindukan aku, haha!"
"Sehun-….."
Terakhir Sehun tak hanya menghentak kasar penyatuan mereka, dirinya juga menjambak Luhan, mencium kasar bibirnya hingga hanya air mata perih yang terasa, tangan kasarnya bermain di seluruh daerah sensitive Luhan tanpa perlawanan.
Tanpa sengaja Luhan sendiri yang membiarkan Sehun melakukan hal kasar ini berulang, dia membiarkan suaminya terus mengambilnya seperti jalang lagi dan lagi, ya, ini kesalahannya karena tanpa sadar melindungi Sehun agar suaminya tidak disalahkan hingga kesalahannya pula saat gerakan kasar menyakitkan itu tanpa sadar membawanya sampai pada ujung kenikmatan menjijkan di susul suara mengerang Sehun saat yang kini memenuhi bagian bawah miliknya.
Luhan merasa jijik namun pasrah, pada kenyataannya dia selalu memberikan apa yang diinginkan Sehun, sejak pertama mereka saling mengenal hingga kini mereka menikah dan memiliki Haowen, semua yang dilakukan Luhan semata-mata karena dia mencintai Sehun, tapi kini rasa cintanya berbaur samar dengan kebencian tak terucapkan, dia ingin menyerah pada Sehun, tapi di satu sisi dia tahu dirinya masih membutuhkan Sehun, sangat membutuhkannya.
"Kau terdengar seperti jalang saat menyebut nama Chanyeol, jangan lakukan itu lagi."
Setelah puas melampiaskan hasratnya, Sehun mendorong Luhan jatuh ke lantai, kembali merapikan seluruh pakaiannya sementara Luhan hanya bisa mengepalkan tangan menahan rasa sakit tak hanya di bagian intimnya tapi juga dihatinya, tubuhnya kram tak bisa digerakkan dan Sehun sama sekali tidak memiliki rasa penyesalan dan justru berjongkok, menarik dagu Luhan untuk mengatakan "Rapikan dirimu, kakek ada disini dan dia ingin bertemu kita." Ucapnya dingin dan memaksa mengecup lagi bibir Luhan sebelum berjalan meninggalkan Luhan seolah dirinya sampah yang tak lagi diperlukan.
BLAM!
"haargh—HAARGHHH!"
Dan saat Sehun meninggalkannya seorang diri, barulah Luhan mengeluarkan suara, sebuah tangisan benci disertai luka namun ada cinta yang tak bisa dipaksa pergi, dirinya merasa begitu terhina, begitu terluka hingga kepalan tangannya digunakan untuk memukuli lantai berkali-kali mencetak warna biru di jemari tangannya.
.
.
.
.
.
Tok….Tok
.
Suara ketukan pintu terdengar diiringi jawaban dari dalam yang terdengar "Masuklah." Kemudian jemari tangan yang terlihat lebam karena memukul lantai itu memutar knop pintu Presdir utama Seoul hospital, Oh Suhwon, yang tak lain adalah kakek dari Chanyeol dan Sehun serta kakek buyut Haowen yang kini hampir berusia Sembilan puluh tahun namun masih memiliki daya ingat yang kuat dan sangat menyukai cucu menantunya, Luhan
Klik
"Selamat siang Presdir Oh."
"cucuku Luhan, masuklah nak."
Sejujurnya Luhan merasa canggung setiap kali diperlakukan sangat hangat oleh kakek suaminya, saat ini Chanyeol dan Sehun ada bersama kakek mereka, menambah kesulitan baru untuk Luhan karena saat ini dia sulit tersenyum, dia sedang menahan sakit hati dan tubuhnya namun terpaksa tersenyum terlebih saat Sehun menatapnya tegas sementara Chanyeol mulai memperhatikan dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.
"Luhan?"
"y-Ya kakek?"
"Duduklah."
Luhan pun mengangguk, dia kini duduk diantara Chanyeol dan Sehun sementara kakek mereka duduk didepan seraya memperhatikan ketiga cucunya "Rasanya senang kembali ke rumah, maksud kakek, Beijing juga indah tetapi Seoul tetap terbaik."
Baik Sehun, Luhan maupun Chanyeol hanya diam mendengarkan, ketiganya tulus menyanyangi sang kakek dan akan melakukan apapun hanya untuk membuat lelaki berambut putih didepan mereka bahagia dan hidup lebih lama lagi.
"haah~" Terlihat sang kakek menarik dalam nafasnya, wajahnya yang berawal tersenyum kini menjadi sendu tatkala melihat dan menyadari bahwa cucu menantunya banyak kehilangan berat badan dan itu pasti karena merawat cucu buyutnya yang sedang berjuang melawan penyakit "Luhan."
"hmh?"
Luhan mendongak, menatap bingung pada sang kakek hingga generasi pertama pemilik rahang tegas seperti suami dan putra kecilnya itu menanyakan "Apa kau baik-baik saja?"
Jujur rasanya sudah sama sekali tak ada yang menanyakan kabar tentangnya, selama ini yang didengar Luhan hanya mereka yang terus menanyakan kondisi putranya, bukan dia tidak suka, tapi setiap kondisi Haowen ditanyakan hanya akan membuatnya kembali teringat bahwa malaikat kecilnya sedang dalam kondisi kritis dan bisa kehilangan nyawanya kapan saja.
"y-Ya, aku baik-baik saja kakek."
Dia mengatakan baik-baik saja tapi kepalanya tertunduk, tangannya terkepal diatas kedua pahanya dan baik Sehun maupun Chanyeol bisa melihat bahu mungil Luhan bergetar menahan semua kesulitannya seorang diri.
Tapi berbeda dengan Sehun yang memalingkan wajah seolah tak peduli, Chanyeol tergoda untuk menggenggam tangan Luhan yang terkepal dan ya, dia melakukannya tanpa ragu, membuat Luhan terkejut terutama Kakek Oh yang kini harus mendengar permintaan gila dari cucunya yang lain "Kakek, kumohon restui aku dan Luhan."
"PARK CHANYEOL!"
Sehun luar biasa terkejut mendengar permintaan Chanyeol pada kakek mereka, Demi Tuhan, dia baru memalingkan sesaat wajahnya tapi Chanyeol sudah berani menggenggam tangan istrinya di depan kakek mereka, hal itu nyaris menelan semua kesadaran Sehun untuk membunuh Chanyeol jika suara kakeknya tidak menyela dan bertanya "Kenapa aku harus memberikan restu padamu dan Luhan?" tanyanya pada Chanyeol lalu beralih pada Sehun "Apa kau masih berniat menceraikan istrimu?"
Mengabaikan teriakan Sehun, Chanyeol justru dengan tegas mengatakan "Ya, dia tetap akan menceraikan Luhan, dia bahkan memaksa Luhan untuk menandatangani surat perceraiannya lebih dulu, semua dilakukan semata-semata hanya agar kakek menyalahkan Luhan dan memberikan rumah sakit ini pada Sehun dan bibi Oh, mereka-….MEREKA BAHKAN TIDAK MEMPEDULIKAN HAOWEN YANG SEDANG BERJUANG!"
"DIAAAAM!"
Dan saat kedua cucunya berteriak saling membenci dan memaki, Kakek Oh bisa melihat Luhan yang tak berdaya berada di tengah keduanya, cucu menantunya itu terlihat ketakutan dan hanya bisa tertunduk pasrah tak berani menatapnya.
Hal itu membuat Kakek Oh merasa malu karena menyeret Luhan di tengah keluarga yang memiliki banyak cacat dan keserakahan seperti keluarganya, dan karena hal itu pula dia menggebrak meja menggunakan tongkat bantu berjalan miliknya dan menatap marah pada kedua cucunya "Hentikan! KALIAN SUNGGUH MEMALUKAN!" teriaknya marah, nafasnya pendek tersengal.
Dan melihat kakeknya memegang jantung membuat Luhan terburu-buru Luhan berlari menghampiri sang kakek, memeluknya erat seraya berbisik "Kakek tenanglah." Katanya berusaha tenang seraya menyerahkan air, kakek Oh meminumnya sejenak dan memegang tangan Luhan untuk tegas mengatakan pada kedua cucunya "Aku tidak memaafkan salah satu dari kalian jika kalian terus menyakiti Luhan, hentikan—HENTIKAN HAL GILA YANG KALIAN INGINKAN!"
"Kakek…."
Kakek Oh mengabaikan teriakan Luhan, kini yang dilakukan memperingatkan kedua cucunya seraya menunjuk marah pada mereka "Sebaiknya kau tidak mencintai istri sepupumu Park Chanyeol!" katanya memperingatkan Chanyeol dibalas erangan murka cucu kedua yang hanya berbeda enam bulan setelah kelahiran Sehun yang kini berteriak "YANG DIA LAKUKAN HANYA MENYAKITI LUHAN!" katanya menentang, membuat Sehun semakin murka sementara sang kakek berteriak "DIAM PARK CHANYEOL!" marahnya, dan kini beralih pada Sehun "Dan untukmu Oh Sehun, jika kau tetap bersikeras menceraikan Luhan, jangankan rumah sakit ini, aku tidak akan memberikan sepeser pun harta untukmu, CAMKAN ITU!"
Setelahnya kakek Oh beranjak dari kursi, dia mengisyaratkan pada Paman Kim yang dikenal Luhan sebagai orang kepercayaan sang kakek dan tak sengaja mendengar "Panggil Oh Jihoo dan Oh Jihyoo, aku ingin bicara dengan mereka."
Oh Jihoo sendiri adalah ayah kandung Sehun yang tak lain adalah Direktur rumah sakit di tempatnya bekerja, sementara Oh Jihyoo adalah ibu kandung Chanyeol yang menikah dengan Park Hansung yang tak lain adalah pemilik salah satu Industri hiburan ternama di Korea.
"Baik Presdir Oh."
"Sebelumnya aku ingin bertemu dengan cucu buyutku."
"Aku bisa menemani kakek."
Sang kakek melihat iba pada Luhan, dia kemudian mengusap sayang wajah cucu menantunya untuk berkata "Jangan menangis Luhan, anakmu akan marah melihatnya."
"huh?"
Merasa berat mengakui kesalahan ini, kakek Oh tetap mengatakan "Maafkan kedua cucuku, istirahatlah untuk sekarang." Katanya mencium kening Luhan lalu berjalan meninggalkan mejanya dibantu paman Kim, langkahnya berat meninggalkan Luhan terlebih saat harus melewati kedua cucunya penuh rasa kecewa "Kalian sungguh memalukan." Sarkasnya dan sengaja menutup pintu dengan kencang, meninggalkan Luhan bersama dua lelaki yang kerap membuat kepala dan hatinya sakit untuk terkejut saat tiba-tiba Sehun menahan lengan Chanyeol yang hendak menghampirinya dan
BUGH~
Chanyeol terhuyung jatuh ke lantai, membuat Luhan berteriak namun tak terdengar karena teriakan Sehun jauh lebih mengerikan "BERANI SEKALI KAU MENCINTAI ISTRIKU! APA KAU SUDAH GILA?"
BUGH~
Sehun memukul lagi saat Chanyeol berusaha bangkit, hal itu membuat lelaki berlesung pipi yang masih setia menunggu Luhan murka dan tak kalah berteriak "YA AKU MENCINTAI LUHAN! AKU SANGAT MENCINTAI LELAKI YANG SELALU KAU SAKITI! AKU JUGA AKAN MENJADI AYAH DARI ANAKMU, KAU DENGAR?"
"BAJINGAN!"
Saat Sehun hendak memukul, Chanyeol menahannya, kini pukulannya berbalik mengenai telak wajah Sehun, lebih keras, dan lebih menyakitkan hingga sepupunya meringis kesakitan seperti sampah saat terjatuh di lantai.
"KAU MENJIJIKAN OH SEHUN! SANGAT MENJIJIKAN!"
Satu kepalan tangan Chanyeol kembali memukul Sehun, Luhan melihat suaminya nyaris tak bisa lagi membalas karena beberapa kali membentur meja, mereka terus membuat keributan, hingga satu kepalan tangan Chanyeol terlihat, barulah Luhan berlari melerai keduanya, dia menahan lengan Chanyeol dan mengatakan "Hentikan Yeol, kumohon hentikan."
"rrhh~"
Chanyeol menggeram marah, dia berniat terus memukul Sehun tapi mata Luhan memohon padanya, jadilan dia berteriak marah sebelum menggenggam tangan Luhan, berniat membawanya pergi tapi Luhan menolaknya "Aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini."
"Dia sampah dan pantas mendapatkannya."
"yeol…."
"Ikut aku!" Chanyeol tetap menarik pergi tangan Luhan tapi Luhan mengelak dengan alasan
"DIA MASIH SUAMIKU!"
Kekalahan terbesar Chanyeol ada pada status Sehun yang masih merupakan suami sah dari lelaki yang dicintainya sejak lama, jadi wajar jika dia terlihat marah dan kalah disaat bersamaan, ingin rasanya dia mengabaikan fakta bahwa Luhan adalah istri dari sepupu sialannya namun urung dilakukan dan hanya berakhir menghempas tak rela tangan Luhan "Lakukan apapun yang kau suka, jadilah bodoh lebih lama karena aku tidak akan pernah menyerah padamu!"
BLAM!
Setelahnya pintu tertutup lagi, meninggalkan Luhan dengan suaminya yang masih tersungkur di lantai, sesaat dia ingin membiarkan saja suaminya terluka walau berakhir menarik nafas dan mendekat ke arah Sehun yang masih menatapnya dingin "Bangunlah, jangan membuat keributan lagi." pintanya memohon namun dibalas sikap kasar Sehun yang justru menolak tangan Luhan dan lebih memilih bangun tanpa bantuan istrinya "Kau benar terlihat seperti jalang saat bersama sepupuku!" hinanya kasar dan sengaja menabrak bahu Luhan hingga membuat dokter bedah itu sedikit terhuyung karena benturan dengan bahu kekar suaminya.
"SEHUN!"
Dan seolah habis rasa sabarnya, Luhan berteriak memanggil Sehun, membuat lelaki yang mengalami memar di wajah itu menoleh untuk menatapnya tegas tepat di kedua mata yang dulu tulus mencintainya, yang selalu memperhatikan langkahnya, yang selalu membuatnya merasa terlindungi untuk mengatakan "Jangan membuatku berhenti mencintaimu." Pintanya lirih dibalas kepalan tangan Sehun untuk memohon lebih banyak pada ayah dari putranya "kumohon."
Setelahnya Luhan berlari mendului Sehun, membanting kasar pintu kerja ruangan Presiden direktur dan meninggalkan suaminya didalam sana dengan isak tangis, Sehun sendiri hanya diam mematung seolah tak percaya Luhan mengatakan hal itu padanya, jadilah dia tertawa mengerikan, sangat mengerikan, tanpa sadar kini air mata jatuh membasahi wajahnya dengan tangan terkepal sangat erat
"haha—HAHAHAHAHA!"
.
.
Sementara itu
.
"Apa kau melihat dokter Park?"
"Sepertinya sedang bersama Presdir Oh, ah-…Itu pujaan hati anda dokter Byun."
Bukan hal baru jika seluruh rumah sakit tahu perasaan seorang Byun Baekhyun terhadap cucu kedua pemilik rumah sakit ini, mereka bahkan sudah mengetahuinya selama bertahun-tahun dan cukup takjub dengan kenyataan bahwa Baekhyun masih bertahan pada Chanyeol walau perasaannya tidak pernah terbalas sekalipn.
Ah, mungkin bagi mereka itu hal yang sangat sulit, tapi untuk Baekhyun, bernafas satu tempat dengan Chanyeol sudah cukup membuatnya bahagia, jadi ketika dia melihat pujaan hatinya berjalan mendekat dia juga ikut menghampiri dengan senyum tercantik yang dimiliki
"SUNBAE!" panggilnya riang, Baekhyun berniat memberikan bekal makan siang yang dia buat sebelum menyadari ada yang salah dengan pujaan hatinya, wajahnya memar, ada darah di sudut bibirnya hingga membuat Baekhyun berlari menghampiri "Sunbae, ada apa dengan-…."
"MINGGIR!"
Belum sempat Baekhyun selesai bertanya, Chanyeol sudah mendorongnya kasar, membuat sahabat terdekat Luhan itu sedikit terhuyung dan ditinggalkan begitu saja seolah kehadirannya tak pernah terlihat oleh lelaki yang sangat dicintainya.
"CHANYEOL!"
Lalu tak lama terdengar suara sahabatnya, Baekhyun menoleh dan keadaan Luhan tak kalah kacau dari Chanyeol, dia ingin bertanya tapi sama seperti Chanyeol, Luhan melewatinya begitu saja dan itu membuat air mata Baekhyun menetes tanpa diinginkan karena dirinya sedang kesulitan bernafas saat ini.
Entah harus berapa lama lagi dia bertahan, mencintai Chanyeol yang mengharapkan sahabatnya, dia ingin melupakan, tapi kuasanya tak sanggup dilakukan, karena semakin Chanyeol menyakitinya, semakin besar pula cinta ini bertumbuh setiap detiknya.
"Oh ayolah Byun, kau kuat, jangan salahkan keadaan, salahkan hatimu yang mencintai disaat tidak tepat, hanya itu….bodoh."
.
.
.
"CHANYEOL!"
Susah payah Luhan mengejar teman suaminya yang diperlakukan tak pantas didalam sana, dia miris mengetahui wajah Chanyeol lebih memar dari Sehun, lelaki itu juga terlihat marah bahkan melebihi dirinya, jadi dengan cara apapun dia akan meminta maaf termasuk dengan berdiri didepan kakak kelas sewaktu dirinya kuliah dan merentangkan tangan, mencegahnya pergi lebih jauh "Bicaralah denganku."
"Minggir."
"Sehun tidak bermaksud memukulmu, dia hanya cemburu padamu."
"Cemburu kau bilang? tsk, lelaki itu bahkan sudah tidak mencintaimu lagi, untuk apa dia cemburu?"
"Sehun mencintaiku." Tegasnya tersinggung, sebanyak apapun Sehun menyakitinya Luhan meyakini masih ada cinta di hatinya, dia hanya tidak tahu mengapa Sehun tiba-tiba merubah sikapnya, semua ada alasan dan Luhan sedang mencarinya, bagaimanapun caranya.
"Jika dia mencintaimu dia tidak akan berhubungan dengan banyak wanita diluar sana, sadarlah—SADARLAH LU!"
Barulah saat Chanyeol membentaknya, Luhan menyerah, dia tak lagi merentangkan tangan mencegah kepergiannya, sebaliknya, Luhan menyingkir dari hadapan Chanyeol karena jujur dia merasa benar-benar tersinggung dengan penuturan Chanyeol tentang suaminya.
"baiklah, Baiklah kau boleh pergi, tapi jangan berkata buruk tentang suamiku."
"Luhan-…."
"Sudahlah, sebenarnya aku hanya ingin mengatakan jangan meminta restu pada kakek lagi, perasaanmu terlarang untukku."
"Luhan!"
"Aku sudah memperingatkan."
Setelahnya Luhan beranjak pergi, meninggalkan Chanyeol yang terlihat cemas hingga saat Luhan melewatinya dia menarik lengan Luhan, membawa lelaki itu ke pelukannya dan mendekapnya erat, sangat erat hingga Luhan meronta karena banyak mata melihat mereka saat ini
"Chanyeol, lepaskan-…"
"Aku mencintaimu."
"Chanyeol-…"
"Aku tidak akan menyerah padamu."
"yeol…."
"Aku benar-benar mencintaimu."
Rasanya percuma jika Luhan terus meronta, karena semakin meronta Chanyeol akan semakin mendekapnya erat, suaranya akan semakin kencang terdengar hingga membuat Luhan pasrah, membiarkan Chanyeol memeluknya tanpa membalas pelukan hangat lelaki yang selalu menjaganya setelah Sehun berubah mengerikan.
Dan sepertinya keputusan Luhan membiarkan Chanyeol memeluknya di rumah sakit adalah sebuah kesalahan, karena tak hanya beberapa perawat dan dokter jaga yang melihat mereka, tapi Baekhyun dan Sehun, keduanya melihat adegan yang berhasil mengoyak hati serta perasaan mereka.
"Sial!"
Sehun ingin membuat keributan lebih besar lagi, tapi urung dilakukan ketika melihat ayah dan kakeknya berjalan di koridor bersebrangan, dia pun segera memalingkan wajah, bergegas pergi sementara Baekhyun memilih untuk melihat kepedihan itu lebih lama, tangannya mencengkram bekal yang dibuat untuk Chanyeol lalu membuangnya ke tempat sampah untuk pasrah mengatakan
"sepertinya aku tidak akan pernah berhasil dengan perasaan ini."
.
.
.
.
Malam hari
.
.
"Apa Haowen senang dijenguk kakek buyutmu nak?"
"eoh, Kakek Presdir memberikan banyak hadiah yang bisa Haowen buka nantinya."
"Kakek Presdir?"
"Ya, untuk membedakan dengan kakek Haowen."
"ah-…."
Luhan hanya memaklumi celoteh riang putranya sampai suara putranya berubah sendu dan memanggilnya "Ma…."
"Ya sayang?"
"Dimana papa? Apa papa marah pada Haowen?"
Saat ini Luhan kembali pada rutinitasnya menemani Haowen di malam hari, rutinitas menyedihkan dengan fakta bau rumah sakit sudah menjadi aroma terapy yang menemani tidur malamnya bersama sang putra, dia selalu memakaikan selimut untuk mereka berdua, mendekapnya erat seraya menyanyikan lullaby untuk membuat tenang malaikat kecilnya yang sudah mengalami hal sulit selama dua bulan terakhir ini.
"Kenapa papa marah pada Haowen?" tanyanya mengecup kening Haowen dibalas suara lelah putranya yang seharian ini berteriak menjalani serangkaian terapy rutinnya di rumah sakit "Haowen menolak perawatan dari papa."
"ah, kenapa Haowen menolak papa kalau begitu?"
Anak lelakinya kesulitan memeluknya karena slang infus yang terpasang, jadilah Luhan berinisiatif melingkarkan lengannya di tubuh Haowen yang banyak mengalami penurunan berat badan "Haowen marah pada papa."
"huh?"
Luhan sedikit terkejut mendengar ucapan putranya, namun Haowen tegas mengatakan "Haowen benci saat papa berteriak pada mama."
"Kalau begitu kenapa tidak marah pada mama? Mama juga bersalah karena membentak papa, nak.."
Haowen diam, memeluk ibunya adalah hal yang diinginkannya saat ini, jadilah dia tidak menjawab apapun hingga Luhan merasa pakaian tidurnya basah dan itu membuatnya sangat cemas "Kenapa menangis sayang? Ada yang sakit?"
Haowen menggeleng lemah, matanya sembab dan ini kali pertama Luhan melihat Haowen menangis terisak seperti ini "Haowen takut-…." Katanya menyentuh wajah cantik sang ibu namun terhalang slang yang membuat tangan kirinya sulit menggapai sementara tangan kanannya tak bisa digerakkan karena mengalami bengkak akibat jarum suntik.
"Apa yang membuat Haowen takut? Ceritakan pada mama." Luhan bertanya lagi, menggapai tangan Haowen dan membantunya mengusap pipi dengan bantuan tangannya, keduanya merasa bisa melakukan apapun bersama, melewati kesulitan apapun saat mereka menjaga satu sama lain.
Namun yang membuat hati Luhan hancur berkeping adalah kenyataan bahwa anak delapan tahunnya mengatakan hal yang tak dibayangkan Luhan sebelumnya, suara lirih bercampur isakan saat Haowen bertanya
"Nanti jika Haowen pergi siapa yang akan menjaga mama?"
Pertanyaan Haowen, kecemasan putranya bersahutan dengan suara hujan yang begitu deras yang terlihat dibalik jendela kamar, hati Luhan bergemuruh sebanding dengan suara gemuruh hujan di luar sana.
Kini dia mendongak, hanya meletakkan dagunya di kepala Haowen sementara air mata kepedihan mulai berlomba meminta dikeluarkan karena terlalu lama ditahan, dan yang membuat hati Luhan semakin hancur adalah fakta bahwa malam ini adalah kali pertama Haowen terisak di pelukannya, namun bukan karena sakit.
Putranya tidak memikirkan rasa sakit jarum suntik esok hari, tidak memikirkan pahitnya obat yang akan dikonsumsi esok hari, ya, semua itu mungkin tidak mengerikan untuk Haowen, sebaliknya, kenyataan tidak akan ada lagi yang menjaga Luhan adalah hal yang membuat anak delapan tahun itu menangis ketakutan.
Tangisannya tidak bersuara, begitupula Luhan, kedua ibu dan anak itu larut dalam kesedihan bersama hujan yang turun deras di luar sana, mereka seolah membagi ketakutan mereka dalam dekapan, menangis bersama hingga Haowen menyerah pada rasa lelahnya, tak lama dia tertidur dengan nafas sesak karena menangis.
Dia mendekat erat Luhan dalam tidurnya, hal yang sulit dilakukan Luhan saat ini adalah memeluk Haowen, jadilah perlahan dia melepas pelukan putranya, turun dari tempat tidur seraya menaikkan selimut Haowen dengan hati menangis terisak, tak lama dia mengecup sayang kening putranya dan memutuskan untuk berjalan ke arah jendela.
"Siapa yang akan menjaga mama jika Haowen pergi?"
Pertanyaan terlampau polos menggores dalam hati Luhan, dia kini melipat tangannya di atas dada, merasakan dingin dan memperhatikan deras hujan yang turun, dia bahkan tidak berkedip saat gemuruh kencang terdengar, sebaliknya, Luhan berkedip saat melihat hal yang tak pernah terlintas sebelumnya.
Tangannya refleks membekap mulutnya agar tak bersuara, langkah kakinya mundur karena terkejut sementara air matanya tak terelakan lagi, malam ini semuanya hancur untuknya, hatinya, jiwanya, raganya bahkan harga dirinya, dia kesulitan bernafas saat melihat sosok yang diyakini suaminya tengah berciuman mesra dengan seorang wanita dibawah sana, ya, sepertinya Luhan sudah memiliki jawaban atas pertanyaan putranya saat ini
"Siapa yang akan menjaga mama jika Haowen pergi?"
Jadilah dia menutup tirai jendela, tak kuasa melihat lebih banyak lagi untuk tertunduk, memikirkan baik-baik jawaban yang akan diberikannya pada Haowen, Luhan kini kembali berjalan ke arah putranya, menarik kursi disamping Haowen dan menyandarkan kepalanya di samping malaikat kecilnya.
"Siapa yang akan menjaga mama jika Haowen pergi?"
"Jika Haowen pergi—" Luhan menggenggam jemari tangan Haowen yang terasa dingin, memejamkan erat matanya seraya tegas mengatakan "Mama juga akan pergi." katanya tersenyum dengan air mata melewati hidung dan membasahi tangan Haowen yang digenggamnya.
Nyatanya air mata Luhan kini bersahutan dengan hujan diluar sana, tiba-tiba dia kedinginan, merindukan kehangatan bersama suami dan putranya, kehangatan yang dia sadari tidak akan pernah lagi dimilikinya.
Semua samar pergi meninggalkannya, dia masih sanggup menahannya karena Haowen, masih mempertahankan Sehun karena hatinya enggan untuk membenci, ya, dia masih sanggup melewati pahit hidupnya hingga nanti semua benar-benar pergi barulah dia menghilang, melepas semua rasa sakit ini hanya untuk pergi ke tempat menyenangkan bersama putranya, bersama Haowen, hanya mereka berdua.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
WARNING!
.
NO KATA2 KASAR BUAT BAPAK OHSEH! REMEMBER INI CUMA CERITA SURAM YANG MUNGKIN AKAN ADA KECERAHAN DI AKHIR
.
Sunnguh, tahan diri dengan kata-kata kasar, TAHAAN PEMIrSAH
.
Sekian
.
Dan sampai jumpa segera
,
Lovekiss:*
