Disclamer : Haikyuu (c) Furudate Haruichi
Genre : Adventure, Mistery, Fantasy, etc.
Rating : T
SELENIC
by
tetewww
《《》》
"Kageyama-kun, apa yang kau lakukan disana?" Suara cempreng itu bergetar penuh penasaran kala melihat salah seorang sosok yang di kenalnya tengah duduk bersandar di bawah pohon dengan sebuah pakaian tipis, padahal butiran salju telah mengguyur kota sejak beberapa jam yang lalu.
Hinata Shoyo, sukses mendapatkan tanda tanya besar akibat dari perbuatan salah seorang temannya itu.
"Kau tau kan, salju sudah turun sejak beberapa jam yang lalu. Dan kenapa dengan santainya kau keluar hanya dengan sebuah kaos tipis dan celana jeans?" Hinata bertanya.
Yang ditanya hanya mengendikan bahunya acuh sembari membuka kedua kelopak matanya yang terpejam. Melirik sekilas kearah Hinata yang berdiri beberapa meter didepannya dengan jaket tebal dan sebuah celana jeans serta sepatu bot. Surai oranye Hinata pun nampak terlihat sebagian saja karena tertutup oleh sebuah beanie berwarna abu-abu.
Kageyama menaikan sebelah alisnya bingung ketika ia melihat adanya kejanggalan dari cara berpakaian Hinata, yang menurutnya tidak seperti biasanya. Mungkin sedikit lebih, fashionable? entahlah.
"Dari mana?" Tanya Kageyama penasaran.
"Ah, hanya mengantarkan Yachi-san ke toko buku sebentar. Aku juga ingin mencari komik sih." Jawab Hinata sembari menggaruk belakang bagian kepalanya, yang Kageyama yakin sebenarnya itu hanyalah bahasa tubuh Hinata agar dirinya tidak terlihat gugup.
Kageyama berdiri dari duduknya, membersihkan lembut bagian pantat celananya yang tertempel salju. Harus dia akui jika udaranya semakin dingin dari pada beberapa saat yang lalu ketika ia keluar rumah. Terbukti dengan tubuhnya yang mulai menggigil meskipun tidak terlalu ketara.
Kageyama berjalan pelan menuju pintu rumahnya yang terbuka lebar. Tanpa berniat mempedulikan Hinata yang berjalan membuntutinya dari belakang.
Sebenarnya, Kageyama dan Hinata tinggal satu rumah. Tentu saja tidak hanya berdua, ada beberapa orang lagi yang tinggal satu atap dengan mereka. Dan rumah yang mereka tempati bisa menampung sekitar 9 orang. Namun hanya ada 7 orang saja yang menempati, termasuk Kageyama dan Hinata.
Ceklek..
Kageyama membuka pintu depan dengan pelan, namun suara deritan yang ditimbulkan cukup keras hingga menarik atensi beberapa orang yang tengah bersantai di sofa ruang tamu.
"Oh Kageyama, akhirnya kau masuk juga. Kupikir kau akan mati membeku di luar, hihi." Ujar seorang laki-laki bersurai abu-abu yang tengah duduk santai sembari memangku sebuah majalah olah raga bergambar atlet bola voli.
"Suga-san kau jahat sekali. Tapi aku suka, hahaha.." balas salah seorang laki-laki botak yang tengah bermain video game di televisi dengan sosok lain yang bertubuh lebih kecil darinya, bersurai coklat dengan sedikit bagian depannya yang berwarna oranye.
Mereka berdua tampak senang mengusili Kageyama yang sebenarnya tidak mau ambil pusing sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh dua orang yang lebih tua darinya itu.
"Suga, Tanaka, hentikan. Dan Kageyama, sebaiknya kau cepat memakai pakaian hangat agar kau tidak terserang flu besok."
"Baik Daichi-san."
Menuruti perkataan Daichi, atau sosok yang mereka anggap sebagai kepala keluarga itu. Kageyama berjalan menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Hinata sendiri memilih untuk ikut bermain game bersama duo berisik lainnya di ruang tamu. Bahkan suara Tanaka dan Nishinoya yang tengah bermain game terdengar keras hingga ke kamar Kageyama, diikuti beberapa kali oleh suara tak kalah berisik dari Hinata dan peringatan dari Daichi yang mengatakan jika waktu telah menjelang malam.
Kageyama sudah terlalu biasa akan kebisingan yang di timbulkan oleh mereka. Bahkan terkadang dirinya pun akan ikut membuat bising ketika ia dan Hinata tengah beradu argumen, yang sebenarnya hanya karena suatu hal yang sepele.
Kageyama merebahkan tubuhnya ke single bed yang ada di kamarnya. Membiarkan kamarnya gelap tanpa cahaya karena dirinya terlalu malas barang untuk menekan saklar lampu yang berada di samping pintu kamarnya. Tetapi sebenarnya, Kageyama suka dengan kegelapan. Menurutnya, kegelapan itu membawa sisi ketenangan yang membuat dirinya merasa nyaman.
Kageyama memejamkan kedua kelopak matanya. Menyamankan diri di ranjangnya dan bersiap untuk terbang menuju alam mimpi.
XoX
"Hatchuu..."
"Hei Kageyama, kau pasti flu karena semalam tidak memakai baju hangat sebelum tidur yaa? Juga sepertinya, kau tidak menyalakan penghangat ruangan dikamarmu." Ujar Sugawara.
Sugawara menatap miris sekaligus gemas kearah Kageyama yang penampilannya luar biasa acak-acakan. Dengan kedua mata yang memerah, hidung dan pipi gembilnya juga memerah, bibirnya mengerucut jengkel, dan tubuhnya yang tenggelam di bawah selimut tebal yang digunakannya sebagai penghangat tambahan.
Demi apapun, Sugawara berani bersumpah jika si pemuda berwatak dingin dan cuek seperti Kageyama bisa sangat imut ketika sakit.
Jam yang menggantung menunjukan pukul 8 pagi. Ketika hanya ada Kageyama dan Sugawara di rumah karena yang lainnya telah pergi memulai aktifitas mereka. Salju memang sudah tidak mengguyur kota, tetapi butiran yang turun semalam cukup untuk menyulitkan aktifitas orang-orang. Bahkan hawa dingin masih terasa menusuk setiap persendian.
Sugawara cukup terkejut ketika Kageyama turun sembari membungkus rapat tubuhnya dengan selimut. Ketika akan bertanya, suara bersin Kageyama yang menggema ke penjuru ruang makan langsung menjawab pertanyaan Sugawara yang masih belum terucap.
Dan sakitnya Kageyama sukses memancing jiwa keibuan Sugawara. Dirinya dengan tegas melarang Kageyama beraktifitas dengan alasan apapun. Meminta Kageyama agar istirahat total saja dirumah dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak berguna.
"Akan kubuatkan bubur untukmu, tunggulah dikamarmu sembari beristirahat. Nanti akan kuantar keatas, oke?"
Kageyama menganggukan kepalanya sekali sebagai jawaban. Kepalanya serasa akan pecah, bahkan hal-hal disekitarnya pun terasa mengabur dan tidak jelas.
Sugawara tersenyum kecil sembari menatap punggung Kageyama yang menjauh melalui ekor matanya. Dan ketika Kageyama sudah naik ke lantai dua, Sugawara pun dengan lihai mulai mengolah bahan-bahan yang akan digunakannya untuk membuat bubur.
Tak butuh waktu lama bagi Sugawara untuk membuatkan Kageyama semangkuk bubur. Ia tarus bubur itu di nampan bersama segelas air putih dan sebuah obat yang akan diminum Kageyama setelah ia menghabiskan sarapannya.
Ia kemudian berlalu menuju kamar Kageyama, mengetuk pintu kayu itu dua kali kemudian membukanya. Dilihatnya Kageyama yang tengah duduk di atas ranjangnya sembari memainkan smartphone miliknya. Dan Sugawara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kageyama.
"Naa Kageyama, bukankah tadi kusuruh kau beristirahat?" Tanya Sugawara sembari meletakan nampan berisi sarapan Kageyama di meja nakas samping tempat tidur.
"Aku hanya sedang bosan Suga-san."
"Ya.. ya.. terserahlah. Setelah kau meminum obatmu, kau harus beristirahat total."
"Baiklah." Sugawara tersenyum tipis mendengar jawaban bernada datar dari Kageyama. Setelah memastikan bahwa Kageyama telah menghabiskan buburnya dan juga meminum obatnya, Sugawara lalu beranjak pergi.
Sepeninggalnya Sugawara, bukannya beristirahat Kageyama justru terlarut dalam lamunan tiada ujung miliknya. Membayangkan berbagai hal menyenangkan yang dulu pernah dialaminya, dimana semua masa dan kenangan itu telah tertimbun rapat oleh kenang-kenang baru yang menyesakan dan menyakitkan. Tak ada satu pun yang cukup indah untuk dapat mengikis kenangan-kenangan menyakitkan miliknya.
Kageyama mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mendecih dengan suara lirih, dirinya lalu menatap tajam kearah jendela kamarnya yang tertutup rapat. Bagian luarnya mengembun sehingga ia tak mampu melihat bagaimana diluar sana.
Kageyama ingin berdiri di balkon kamarnya dan menatap tumpukan-tumpukan salju di jalanan. Namun rasa pening di kepalanya membuat Kageyama menyerah dan mencoba menuruti keinginan Sugawara agar dirinya beristirahat total. Dengan perlahan ia baringkan tubuhnya kembali dan membelitkan tiga lembar selimut guna menghangatkan tubuhnya yang mengigil.
"Untuk hari ini." Gumamnya lirih dan dirinya pun pergi menuju alam mimpi.
XoX
Kota Sendai. Bagaimana ramainya keadaan jalan-jalan raya disana. Meskipun tidak sebanyak di kota Tokyo ataupun Kyoto, namun terlihat jajaran gedung-gedung tinggi yang membelah langit.
Disana, disalah satu gedung dengan jumlah lantai terbanyak. Di sebuah ruangan yang paling tertutup diantara ruangan-ruangan lainnya. Berkumpulah 10 orang dengan usia dan jenis kelamin yang berbeda, duduk mengelilingi sebuah meja persegi panjang. Dengan satu sosok gagah dan penuh wibawa yang duduk di kursi paling ujung. Dan mereka semua menyebut dirinya sebagai...,
Hunter.
Pemburu. Mereka bertugas untuk memburu siapapun yang berani melanggar perjanjian dimasa lalu. Mereka para manusia yang memiliki kekuatan istimewa yang tidak dimiliki banyak orang. Mereka harus memburu dan membunuh siapapun para penghuni dimensi lain yang berani menyebrangi gerbang dimensi dan mengacau di dunia manusia. Apapun mereka dan siapapun mereka.
Hunter harus terus menjaga kestabilan antara dunia manusia dan dunia mageville. Tempat dimana para makhluk supranatural hidup dan berkembang biak tanpa bisa di kendalikan. Karena bukan tidak mungkin, kelalaian pemantauan oleh para hunter dapat menciptakan sebuah kekacauan besar yang akan datang di kemudian hari.
"Bukankah kondisinya semakin mengkhawatirkan sekarang?"
"Ya. Laporan terbaru mengatakan jika ada sebuah pembunuhan misterius di daerah C. Kebanyakan korban meninggal dengan tanda-tanda yang sama yaitu luka melintang di perut mereka."
"Bagaimana ini? harus kah kita bertindak pimpinan?"
Akibat dari perkataan itu, 9 pasang mata yang ada di sana langsung menatap kearah satu sosok yang sama. Dimana terdapat seorang laki-laki berusia sekitar 20 tahunan tengah duduk di kursi paling ujung sembari dengan santai menopang dagunya dengan tangan kanan.
Yang menjadi pusatnya hanya menghela nafas pendek sembari menyandarkan punggung lebarnya di sandaran kursi kayu yang didudukinya.
"Untuk saat ini kita tidak harus bertindak dulu." Ujarnya tegas dengan suara yang terkesan santai.
Beberapa sosok yang lebih tua darinya nampak menunjukan raut wajah tak suka. Ingin mengutarakan protes, namun sang pimpinan dengan cepat mengangkat tangan kanannya sebagai tanda agar tidak ada yang memprotes keputusannya.
"Itu keputusan dari pertemuan ini untuk sementara. Sekarang bubar." Mau tidak mau jika sang pemimpin sudah berkata demikian, maka mereka yang ada di bawahnya mau tak mau harus menurut.
"Kecuali kau kapten karasu, ada suatu hal yang harus ku bicarakan denganmu."
To Be Continue
RnR Please..
See you next chap~
