Love Just Is

.

Chapter 1: Love Is Sweet

"Sebastian!"

Pria bertubuh jangkung itu menoleh dan melihat Ciel berlari ke arahnya, matanya sembab. Raut mukanya berubah khawatir melihatnya. Ia berjongkok agar mereka bisa bertemu pandang dan menyeka basah di rupa Ciel.

"Ada apa Ciel?" tanyanya lembut, jemarinya mengelus punggung tangan Ciel untuk menenangkannya.

"Apa aku aneh, Sebastian?"

Sebastian mengerjapkan mata atas pertanyaan aneh itu. "Huh, kenapa kau bertanya begitu?"

"Karena… Kau tahu kalau kita beranjak dewasa, kadang kita akan bertemu perempuan yang sangat kita cintai dan akhirnya menikah dengannya? Tapi bagaimana kalau…kalau yang kita cintai… kalau yang aku cintai bukan perempuan!?" Matanya kembali berkaca-kaca.

Sebastian tertegun. Dari semua masalah yang mungkin dialami Ciel ini adalah hal terakhir yang ia bayangkan. Diam-diam harapan tumbuh di hatinya, terutama karena perasaan yang ia sendiri baru temukan. Mungkinkah Sebastian punya kesempatan? Kemungkinannya tipis, tapi bisa jadi kan?

Suara sesenggukan menyadarkan Sebastian dari monolognya. Sebastian mengutuk dalam hati, saat ini bukan saatnya untuk memikirkan diri sendiri! Ciel sedang sedih dan bergantung pada Sebastian untuk menenangkannya.

Sebastian memeluk Ciel dan memandunya perlahan ke salah satu kursi di depan rumah. Setelah duduk, ditariknya Ciel ke pangkuannya sehingga Ciel bisa menyembunyikan wajahnya ke bahu Sebastian. Hal ini membuat kausnya jadi basah, tapi Sebastian diam-diam menikmati saat-saat mereka bisa sedekat ini.

Tangannya bergerak ke rambut Ciel dan mulai mengelus surai lembut keabuannya. "Ciel," mulainya, "Kau mencintai ayahmu kan?" Ditunggunya gerakan mengangguk yang bisa ia rasakan di bahunya. "Kau juga mencintai ibumu kan? Elizabeth juga? Bagaimana dengan para pelayan di rumahmu?"

Ciel mengangguk lagi, tapi kemudian datang jawaban teredam menyusul, "Tapi bukannya itu beda Sebastian? Mama bilang itu tak sama. Katanya aku nanti akan menikah dengan seorang perempuan yang aku cintai dan lalu mempunyai anak dan berkeluarga. Lalu siklusnya akan berulang. Karena begitulah seharusnya."

Wajah Ciel memerah, entah karena malu atau alasan lain, tetapi ia kemudian melanjutkan, dengan nada yang membuat Sebastian merasa hatinya remuk dipukul palu.

"Tapi bagaimana kalau aku tidak suka perempuan? Kalau aku lebih suka laki-laki, aku tidak bisa punya anak kan, dan itu tidak mengikuti siklus yang ada, tidak seperti yang dilakukan orang pada umumnya... Jadi bukannya itu salah? Apa ada sesuatu yang salah denganku?"

"Ciel," Sebastian memerangkap kedua sisi kepala Ciel agar ia memandang langsung Sebastian. "Menyukai, menyayangi, mencintai orang lain itu adalah hal yang baik kan? Kenapa hal yang baik harus dibilang salah? Menurutku cinta ya cinta, siapapun yang kau cintai tak masalah. Ya kan?"

Anak berambut abu itu merenung sejenak. Sebastian memperhatikan ekspresinya berganti dari serius tanda ia berpikir ke ekspresi gembira dalam hitungan detik. "Kau benar Sebastian! Terima kasih! Kau selalu tahu apa yang harus dilakukan!" Senyuman lebar Ciel mengalahkan terangnya sinar surya sore itu.

Sebastian mengangkat alis geli. "Tentu saja. Yang harus dipertanyakan adalah," tangannya merayap dari sisi kepala Ciel ke pipinya dan mulai menarik wajah yang masih tersenyum lebar itu, "memangnya kau mengerti apa itu cinta? Heeeh?"

Ciel menepis tangan Sebastian, pipinya merah bekas cubitan tangan Sebastian. Ia cemberut, tak berbeda dengan saat Sebastian tidak mau membagi es krimnya (dimana setelah itu Sebastian akan merasa bersalah dan akhirnya mau memberikan semuanya, bukan cuma setengah). "Tahu lah, cinta itu saat kau sangat sangat sangat sangat sangaaaaat suka dengan seseorang, kau ingin terus bersama dia dan membuat dia bahagia, ya kan?"

"Kurasa begitu," timpal Sebastian, ia berpose seolah berpikir. "Kau mencintai seseorang dan ingin membuatnya bahagia sehingga ia akan mencintaimu juga, dan kalau ia mencintaimu dia juga akan berusaha membuatmu bahagia dan kau akan makin jatuh cinta padanya, dan begitu seterusnya. Kalian berdua sama-sama bahagia, dan kau akan terus tersenyum seperti orang bodoh, mirip seperti kalau kau terlalu banyak manisan dan permen dalam sehari."

Ciel makin menekuk wajahnya, tapi raut sebal yang ditampakkan Ciel hanya dapat bertahan beberapa detik. Senyum menggantikannya, dan ketika Ciel spontan memeluknya erat di tengkuk, Sebastian ikut tersenyum, balik memeluk tubuh Ciel yang lebih kecil, hingga pertanyaan berikutnya yang membuatnya membeku.

"Jadi bagaimana caranya aku harus mengungkapkan perasaanku pada Alois?"

XXX

A/N. [REVISED]