Young and Old

SEQUEL!

#1: Too Young?

.

.

.

ChanBaek fanfiction by Alicia J.W.

.

.

Mind to read and review?


Baekhyun's point of view

Aku sedang makan siang di kantin bersama Luhan saat melihat Tao dan Jimin berlarian sambil membawa nunchuck dan tongkat kayu. Mereka teman sekelasku dan juga anggota klub beladiri. Beruntung kantin sedang tidak terlalu ramai, jadi mengurangi resiko mereka akan menabrak siswa siswi yang membawa senampan makanan.

"Tao itu anak klub beladiri, tapi postur tubuhnya benar-benar seperti model. Ahh, aku iri sekali padanya." Ucap Luhan penuh kekaguman saat menyoroti tubuh tinggi Tao yang menghilang di pintu kantin. Aku mendengus lalu menggigit sandwich dagingku.

"Ayolah, kau juga cantik. Jangan bertingkah seolah kau ini tidak punya apa-apa." Ujarku. Luhan merengut.

Hei! Tentu saja yang kukatakan benar. Luhan itu ciri wanita dengan penampilan high-class. Tinggi, langsing, berkulit putih, mata besar, bibir berlekuk mungil yang basah dan merah, dan juga segala kesempurnaan yang semua perempuan inginkan. Dan aku bersumpah ingin menyumpal mulutnya dengan sepatu menari Sehun jika dia lagi-lagi iri pada perempuan lain.

"Manusia itu wajar memiliki rasa ketidakpuasan. Sama seperti kau yang selalu ingin diet, padahal badanmu kecil begitu."

"Ibuku bilang tubuhku montok!"

"Tapi kau pendek, Demi Tuhan."

Perempatan mungil muncul di dahiku. Kemudian hilang seraya aku menarik lalu menghembuskan napas panjang.

"Baiklah, Nona Lu Han yang tidak pernah puas."

Luhan tersenyum lebar. Kami melanjutkan makan siang kami.

Selang waktu berlalu, meja kami hanya tersisa nampan kotor dan tumbler milikku serta Luhan yang isinya tinggal separuh. Kini aku sibuk bercengkrama dengan ponselku sementara Luhan mengembalikan nampan makan kami ke tempat pencucian.

Aku tersenyum saat melihat layar ponselku. Disana, ada foto Chanyeol sedang memakai bando telinga kucing milikku dan dia sedang berekspresi derp. Astaga, foto ini selalu membuatku tergelak. Dia merelakan sisi kerennya musnah supaya aku bisa tersenyum saat sedih. Dan foto ini diambil saat Chanyeol mengunjungi rumahku beberapa hari lalu.

"Byun Baekhyun? Hello, wake up please!"

Aku memutar mata malas. Aku tidak terlalu larut dengan ponselku sampai-sampai mengabaikan Luhan yang baru saja kembali dari tempat pencucian.

"Oh! Tadi kau harus tahu, Mingyu songsaenim sedang melancarkan modus ke Chanyeol songsaenim!"

"Mwo!?"

Aku refleks menjerit. Astaga, Byun Baekhyun, ini masih di kantin!

Fyi, Luhan dan Kyungsoo kini sudah tahu kalau aku dan Chanyeol songsaenim berpacaran. Salahkan kakak kelas idiot yang menyerbu mejaku dengan foto-foto hasil tangkapan mereka beberapa waktu lalu. Dan aku pun berakhir dengan Kyungsoo dan Luhan menginterogasiku di rumahku. Dan~ kurasa satu sekolah sudah mengetahui fakta ini.

Luhan menepuk pundakku ringan, kemudian berbisik di telingaku.

"Aku yakin Chanyeol songsaenim sangat setia padamu."

Aku menggembungkan pipiku kesal, lalu bangkit meninggalkan Luhan.


Bel pulang sekolah sudah berdering sejak tadi dan kini aku sedang menunggu Luhan dan Kyungsoo yang sedang ada urusan dengan klub tata boga.

Aku memilih menunggu di café di seberang sekolah. Berhubung aku cukup haus, mungkin segelas moccachino bisa meredakan hausku.

Hari ini aku tidak bertemu Chanyeol. Sepertinya ia langsung pulang setelah selesai mengajar di kelas 12 saat jam istirahat siang berakhir.

Ahh, aku merindukannya. Menjelang ujian akhir, kami hanya berkirim pesan dan jarang bertemu. Kalaupun bertemu, itu pasti di kelas dan sangat teramat mustahil aku melampiaskan rasa rinduku dengan memeluknya di kelas. Dan kata anak-anak di sekolah, Chanyeol adalah penanggung jawab untuk soal-soal Geografi kelas 11, jadi mungkin ia akan sangat sibuk. Huh, menjadi pacar seorang guru memang menyebalkan. Meskipun Chanyeol hanya guru honorer, tapi tetap saja menyita waktu kami sebagai pasangan kekasih.

Intinya, AKU MERINDUKAN CHANYEOLLIE!

Aku menyesap moccachinoku dengan malas sambil menatap ke luar café. Dua manusia itu, kalau sudah menyangkut klub tata boga kesayangan mereka, pasti lama sekali! Bokongku bisa kesemutan kalau duduk disini terus.

Tapi aku sudah bilang mereka kalau aku menunggu disini. Berhubung besok adalah akhir pekan, maka kami bertiga akan menginap di rumah Luhan, karena rumah Luhan yang besar itu hanya diisi oleh beberapa maid, Luhan, Zin dan Rong –adik kembar Luhan, serta kedua orang tuanya.

Kutopang daguku dengan siku menumpu di meja. Café sedang cukup ramai sekarang. Ah, coba saja aku dan Chanyeol bisa datang ke café berdua. Kesibukan bodoh, bodoh sekali~

Mataku kembali menoleh keluar café dan mendapati Luhan dan Kyungsoo hendak menyebrang.

Akhirnya, selesai juga.

Tapi aku melihat ada seorang pemuda yang Kyungsoo gandeng.

Tak pernah lihat, jangan-jangan anak kelas 10?

Luhan, Kyungsoo serta pemuda asing tadi memasuki café lalu mengedarkan pandangan. Aku sengaja tidak melambaikan tangan supaya mereka tidak menyadari keberadaanku disini.

"Oh, disana!"

Ah, mungkin aku cukup menonjol diantara pengunjung café lainnya.

Ketiga manusia itu berjalan kearahku sementara aku hanya mendengus. Bisa-bisanya membiarkan Byun Baekhyun yang cantik ini menunggu.

"Menunggu lama, Baek?"

"Menurutmu?"

Kyungsoo tersenyum. "Tadi Sojin sedikit mengomel, tapi terselesaikan dengan baik." Luhan ikut tersenyum mendengar ucapan Kyungsoo.

Aku melambaikan tanganku. "Baiklah. Tapi kita jadi ke rumahmu, Lu?"

"Tentu saja!" seru Luhan antusias. Lalu aku melirik pemuda dibelakang Kyungsoo.

Kyungsoo yang menyadari tatapanku tersenyum canggung. "Baekhyun, kenalkan. Ini Jongin, pacarku. Dia anak kelas 10, dan kurasa aku akan kencan sebentar dengannya. Nanti aku menyusulmu ke rumah Luhan."

Aku mengangguk, lalu tersenyum pada pemuda itu –Jongin. Kami keluar café, lalu berjalan kearah berlawanan.

Meskipun Luhan anak orang kaya, tapi ia lebih suka berjalan kaki. Dan untungnya kedua orang tua Luhan cukup mengerti dengan keputusan Luhan yang ingin mandiri, namun dengan syarat harus tersedia semprotan cabai di saku seragamnya. Tapi dia lebih sering menggunakannya saat berhadapan dengan kakak kelas jahil yang menyebalkan.

"Baek, seperti apa sih Chanyeol songsaenim itu?" tanya Luhan, membuka pembicaraan. Aku tersenyum.

"Dia sedikit gila, kau tahu. Kami lebih sering menghabiskan waktu di apartemennya yang menyenangkan daripada pergi ke taman hiburan. Entahlah, tapi pengalaman kencanku jarang berjauhan dengan apartemen Chanyeol."

Luhan manggut-manggut. "Mungkin kalian termasuk pasangan rumahan, ya."

"Hei, itu terdengar seperti murahan."

"Telingamu itu murahan."

"YA!"

"Okay, okay, relaks, Byun."

"Sialan, kau menguji kesabaranku."

Luhan terkikik pelan. Sudah menjadi kebiasaan kami saling menggertak satu sama lain. Tapi itu lebih baik daripada hubungan persahabatan saling memuji namun memiliki maksud buruk dibelakang.

"Orang tuamu ada di rumah?"

Luhan menggeleng. "Papa dan Mama sedang berkunjung ke rumah saudara, hari Senin nanti mereka kembali. Baek, kau menginap sampai Minggu sore saja!"

Aku mengangguk malas. "Arraseo, Tuan Putri Lu. Perlukah aku menghubungi Sehun untuk ikut menginap?"

Wajah Luhan merona. "Ja-jangan! Kalau nanti kita bertiga terus, Sehun sama siapa?"

Aku memutar mata. "Tentu saja denganmu!"

"Tapi kau kakaknya."

"Lalu?"

"Kau harusnya bertanggung jawab kalau Sehun benar-benar menginap di rumahku."

"Kau ingin Sehun menginap?"

"T-TIDAK!"

Aku tertawa. Lucu sekali mengerjai pasangan ini. Sehun dan Luhan. Mereka berdua itu pemalu dan lebih suka kencan diam-diam. Karena itu aku sering melihat Sehun menghilang di Minggu sore.

"Sehun sedang fokus dengan perlombaannya. Harusnya kau semangati dia, Lu."

"Aku sudah menyemangatinya! Aku menelponnya jam 6 pagi dan berseru 'Sehunnie, kau yang terbaik! Aku mencintaimu!'. Aku tidak peduli dia benar-benar mendengarnya atau tidak."

"Kau pasti langsung mematikan ponselmu."

"Nah."

Jarak rumah Luhan dengan sekolah kami berjarak dua blok. Kemudian memasuki lingkungan perumahan elit. Beruntung ini sudah sore , jadi matahari tidak terlalu serius menyiramkan sinar UV-B-nya ke manusia di bumi.

Kami pun terjebak dalam pembicaraan ringan mengenai sekolah, sebelum akhirnya getaran ponsel di sakuku menginterupsi.

Kuangkat panggilan di ponselku.

"Halo?"

"Baekhyun-ah."

Aku terkesiap. Suara berat Chanyeol menyapa indera pendengaranku.

"O-oh, Chanyeol. Ada apa?"

"Kau sedang apa?"

Aku melirik Luhan yang tersenyum maklum kemudian berucap, "Menuju rumah Luhan. Aku akan menginap bersama Kyungsoo."

"Ini artinya tidak ada kencan menyenangkan untuk kita."

"A-apa? Tapi kau selalu sibuk, dan kupikir lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu."

"Aku tahu kau kesal karena aku mulai jarang ada untukmu. Ini berarti aku bisa mengiyakan ajakan Mingyu noona untuk makan malam."

Aku terdiam. Aku meremas ponselku pelan kemudian bicara lagi. "Kau senang diajak oleh guru kelebihan make-up itu?"

"Tidak juga, tapi–"

"Aku akan membunuhmu kalau kau bersikap lebih dari yang seharusnya, Park Chanyeol."

Pip.

Luhan menatapku penasaran. "Kau berkelahi dengan Chanyeol songsaenim?"

Aku menghela napas, lalu mengangkat bahu. "Kami sama-sama sibuk dan mulai jarang berhubungan. Dan seperti katamu tadi, Mingyu songsaenim melancarkan modus ke Chanyeol dengan mengajaknya makan malam."

"Wow."

Ah, ngomong-ngomong, kami sudah sampai rumah Luhan. Halamannya yang penuh dengan tanaman hias beraneka ragam menyapa mataku.

"Rumahmu sepi sekali."

Luhan mengangguk. Ia membuka gerbang rumahnya yang tinggi dan berhias relief mawar dan lekukan mewah lainnya. "Tapi nanti akan sedikit ramai karena teman-teman Zin dan Rong akan menginap juga. Kau tidak keberatan, 'kan?"

"Kau 'kan pemilik rumahnya, bukan aku."

Luhan mengulum senyum. Kemudian ia membuka pintu rumah besarnya.


"Ah, Kyungsoo lama sekali." Gerutuku sambil memeluk boneka rusa kutub milik Luhan. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan Kyungsoo belum juga tiba di rumah Luhan.

"Biarkan dia menikmati waktu menyenangkan dengan kekasihnya." Luhan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut panjangnya. Aku mendengus.

"Kau menyindirku?"

Luhan tersenyum penuh makna. Ia mengambil sesuatu dari dalam lemari kecil dibawah meja riasnya.

"Mau mengemil dulu?"

Aku mengernyit. "Jika itu coklat, aku menolak dengan sangat tegas."

"Hanya kue kering, kok."

Luhan meletakkan setoples cookies didekat meja nakas kemudian pergi keluar kamar. Dan kini, aku sendirian.

Sendirian…

Sendirian…

Hah, menyebalkan sekali.

Aku jadi teringat percakapan dengan Chanyeol tadi. Si telinga lebar itu… kenapa tidak bisa peka sedikit, sih!

Ouh, tapi tadi dia cukup peka dengan menyadari jarangnya kami bertemu. Ah, peduli amat!

Apa Chanyeol lebih menyukai seorang yang perempuan seumuran dengannya, yang jago make-up dan memakai heels tinggi? Lalu memakai rok pendek dan baju seksi?

Hell. Aku bahkan lebih sering menggunakan bedak tipis lalu eyeliner dan lip-gloss. Heels tinggi? Aku terbiasa pakai sneakers kalau pergi keluar dengannya. Dan baju-baju seksi jelas tidak akan ada di lemariku karena orang tuaku melarang keras. Paling hanya hotpants dan kaos besar milik Sehun yang sering kupinjam untuk menutupi tubuhku yang kelewat mungil ini. Itu pun hanya boleh di rumah.

Meskipun Chanyeol tidak pernah mengomentari penampilanku, tapi aku merasa dia lebih tertarik dengan beberapa gadis yang berpakaian seksi dan make-up tebal.

Atau bisa disingkat, perempuan dewasa.

Oke, oke! Aku tahu aku masih 16 tahun dan bahkan tubuhku terlihat lebih muda dari umurku. Chanyeol bahkan sudah berusia 28 tahun dan aku merutuki nasibku yang bertemu seorang pria lajang di penghujung usia 20-an dan jatuh cinta padanya.

Yah, sebenarnya aku bertemu Chanyeol adalah karena suatu kebetulan. Ibuku memintaku menemaninya kumpul bersama teman-teman arisannya atau apalah namanya itu. Beberapa teman Ibu juga membawa anaknya. Dan saat itulah aku melihat Chanyeol yang mengantar Ibunya. Kami sempat mengobrol sebelum akhirnya bertukar nomor karena Chanyeol harus pergi.

Dan dari situlah, kami cocok dan Ibu kami mengetahui hal tersebut. Kami berpacaran dan hubungan kami direstui. Aku cukup beruntung karena Chanyeol orang yang easygoing dan tidak mempermasalahkan aku yang agak manja padanya. Dan aku pun tidak pernah keberatan kencan di apartemennya karena ia memiliki banyak fasilitas yang menyenangkan.

Cklek.

Pintu terbuka. Dan sosok Kyungsoo muncul dari balik pintu dengan senyuman.

"Halo, Baek. Maaf aku terlambat."

Aku mengangguk. "Pasti menyenangkan berkencan dengan pacar hoobaemu itu. Dan mana Luhan?"

"Mengurus makan malam."

"Oh."

Kyungsoo meletakkan tasnya di ranjang lalu mengeluarkan baju ganti dari dalamnya.

"Eh, kau tadi pergi kencan kemana?" aku menyela kegiatan Kyungsoo yang hendak menuju kamar mandi Luhan untuk membersihkan diri.

Kyungsoo mengangkat bahu. "hanya makan es krim dan jalan-jalan di taman." Aku manggut-manggut mendengar jawabannya. Kyungsoo pun segera masuk ke kamar mandi.

Suara deburan air shower mulai terdengar dari sana. Setidaknya sekarang aku tidak benar-benar sendiri walaupun Kyungsoo sedang mandi. Samar-samar aku juga mendengar suara ramai dari lantai bawah rumah Luhan. Mungkin teman-teman Zin dan Rong sudah datang.

Aku memainkan ponselku sekedar untuk membunuh waktu. Mengambil beberapa selfie dan mengirimnya ke akun sosial mediaku. Kemudian bermain beberapa game.

Sampai kemudian, Kyungsoo dan Luhan sama-sama memunculkan diri di pintu yang berbeda.

"Oh, Kyungsoo, kau sudah mandi?" Luhan bertanya sambil mendekatiku. Kyungsoo membuka gelungan rambutnya.

"Makan malam sudah siap. Turunlah. Dan kuharap kalian maklum dengan teman-teman Zin dan Rong." Luhan tersenyum meringis dengan posisi masih menyembulkan kepalanya di pintu.

Kyungsoo menyisir rambut hitamnya perlahan sementara aku mengamatinya. Dan Luhan sudah kembali turun kebawah.

Kyungsoo mengikat rambutnya menjadi cepol tinggi ketat dan merapikan poninya. Aku masih mengamatinya dalam diam.

"Baek, jangan melihatku seperti itu. Ayo, turun."

Kami pun turun menuju ruang makan. Bahkan ketika hendak turun pun, suara ramai mulai terdengar. Zin dan Rong itu kembar perempuan, dan sepertinya mereka akan menonton film di ruang tengah.

"Zin, Rong, ajak teman-teman kalian makan!" Luhan setengah menjerit dari ruang makan yang berjarak agak jauh dengan ruang tengah. Kami menghampiri Luhan yang sedang mengecek makan malam untuk banyak orang itu.

"Astaga, Luhan seperti kepala chef yang sedang menghakimi makanan." Kyungsoo tertawa mendengar ucapanku. Luhan tersenyum tipis. Beberapa maid yang menyiapkan makanan pun mulai menjauh dari ruang makan.

Kami pun mulai makan bersama.


Author's point of view

Baekhyun memperhatikan baju-baju yang ada di lemari Luhan. Well, tadi dia undur diri dari ruang makan terlebih dahulu dengan alasan sudah kenyang.

Luhan adalah seorang princess; lemarinya didominasi oleh rok selutut dan gaun, meskipun ada beberapa skinny jeans dan hotpans yang tergantung rapi disana. Tidak seperti Baekhyun yang hanya memiliki beberapa gaun yang biasa ia pakai kalau ada acara penting.

Meja rias Luhan juga penuh dengan alat-alat kecantikan. Make-up, facial tube, toner, dan beberapa tube lainnya yang tidak dimengerti Baekhyun.

Baekhyun mendesah frustasi. Sebelumnya ia sudah mengecek ponselnya dan tidak ada pesan atau panggilan dari Chanyeol. Mungkin pria itu sedang menikmati kencan makan malamnya dengan Mingyu songsaenim.

Bodoh! Bodoh sekali, Byun!

Gadis mungil itu merutuki dirinya sendiri. Ia sudah berandai-andai Chanyeol akan memutuskannya besok. Kemudian mendapati dirinya bersedih karena kehilangan kekasih hati.

Oh, ayolah! Fyi, Chanyeol itu pacar pertama Baekhyun selama 16 tahun gadis mungil itu hidup. Sudah yang pertama kali, dapatnya yang berondong nyaris tua lagi. Takdir seolah tengah mempermainkannya.

Baekhyun mendudukkan dirinya di ranjang Luhan. Diusapnya ujung matanya yang tergenangi air mata.

Ponsel Baekhyun berdering cukup nyaring hingga membuat gadis itu terkesiap. Diraihnya ponsel layar datar itu, kemudian ia usap layarnya.

From: Dobi Yeollie

Kapan kau pulang dari rumah Luhan? Aku akan menjemputmu.

Baekhyun tersenyum kecil. Ia segera mendial nomor Chanyeol.

"Ne, Baekhyun-ah."

"Ba-bagaimana kencan makan malammu, huh?"

Baekhyun merutuki suaranya yang bergetar akibat perasaannya yang bergejolak.

"Tidak semenarik saat makan es krim bersama pacarku."

Sudut bibir Baekhyun berkedut.

"Kau habis menangis?"

"K-kenapa pula aku harus menangis?"

"Karena pacarmu bersama guru kelebihan make-up?"

Baekhyun tak bisa menahan ujung bibirnya melengkung perlahan.

"Oke, oke. Sedang apa kau?"

"Duduk di kasur. Menelpon. Kau?"

"Menunggu Luhan dan Kyungsoo selesai dengan urusannya."

"Oh, apa kau tidak membantu mereka cuci piring?"

Baekhyun memekik gemas. "Luhan punya banyak maid di rumahnya, astaga."

Ia bisa mendengar Chanyeol tertawa ringan dari seberang sana.

"Aah, sebelum aku ketiduran, aku akan mengatakan ini."

"Ini?"

"Besok aku akan menjemputmu dari rumah Luhan. Bisakah kita menghabiskan waktu berdua di apartemenku, Cinta?"

Cinta...

Manis sekali, Park Chanyeol.

Baekhyun tersenyum semakin lebar. Ia hendak menjawab ajakan Chanyeol sebelum sesuatu terbersit di pikirannya. Sesuatu yang tadinya cukup mengganjal.

"Ehm, Chanyeollie..."

"Ya, sayang?"

"Ah! Nanti aku akan mengejutkanmu!"

"Mengejutkanku? Bagaimana caranya, sayang?"

"Bukan kejutan lagi kalau kuberitahu."

"Aku membayangkan kau pasti akan meminjam baju dan sepatu tinggi Luhan, kan? Aah, atau jangan-jangan kau mau pakai gaun malam milik Mamanya Luhan?"

Astaga! Park Chanyeol kau sukses membuat Baekhyun terdiam dan merona parah.

"B-buat apa gaun malam itu? Pikirmu kita mau bercin –ups!"

"Oh! Darimana kau tahu kosakata dewasa itu, sayang?"

Baekhyun menepuk jidatnya dan merutuki pikirannya yang lumayan dewasa itu. Baekhyun itu fangirl dari SNSD dan dia sering membaca fanfiction tentang idolanya. Dan tentunya tidak semua fanfiction bacaannya itu termasuk aman.

"Baiklah. Kau tidak perlu pakai gaun malam kalau kau mulai berpikir tentang percintaan diatas ranjang. Nah, Byun Baekhyun, jam berapa aku harus menjemputmu?"

Baekhyun menggigit bibirnya gemas lalu berteriak tanpa suara.

"Sayang? Cinta?"

"A-ah! Jam 9 saja!"

"Kau akan tetap pakai jeans kesayanganmu itu, kan?"

"Ye, Sir! Jangan terlambat, Pak!"

"Oke. Sampai jumpa Baekhyun. Oh, dan jangan bergosip sampai larut. Aku tidak mau pacarku kelihatan jelek karena kantung mata bodoh."

Dan Chanyeol memutuskan panggilan sebelum Baekhyun sempat meneriakinya dengan bahagia.

.

.

.

END