Sasuke menarikku masuk tempat itu. Hal pertama yg kudapatkan adalah suara yg mengerikan dan kegelapan. Untuk sementara ini mungkin aku belum takut, tapi,

"AAA.." sebuah kepala -dgn cairan merah yg mengalir dari ubun ubunnya- yg terputus dari tubuhnya bergelantung tepat mengenai wajahku. Refleks, kupukul kepala itu dan aku memeluk lengan Sasuke.

Sepertinya aku sudah mulai takut. Dan Sasuke? Ia hanya berseringai. Ingat Ino! Ini hanyalah buatan manusia, buatan manusia, tapi kenapa begitu mengerikan?

Sepanjang perjalanan pun lebih didominasi dgn suara teriakanku. Setiap kali bertemu dgn yg mengerikan, tanganku refleks mempererat lengan Sasuke. Kadang aku merasa tanganku terlalu erat memeluk Sasuke, mungkin ia kesakitan. Ah~ biarlah, toh ia yg memaksaku masuk sini. Dan awas saja kalau sudah keluar dari tempat ini, akan kubunuh ia.

Asal kalian tahu, rumah hantu ini di desain dgn bermacam macam ruangan. Setiap ruangan mempunyai karakteristik hantu tersendiri.

Dan tak lama kemudian, kami tiba di suatu ruangan yg bertuliskan 'Oshanzu no zugaikotsu', apa? Lautan tengkorak? Pasti bakalan ada banyak tengkorak menjadi karpet kami. Hiii~

Perlahan, Sasuke membuka tirai hitam memasuki ruangan itu. Berbagai dugaan memasuki pikiranku, semoga kali ini tidak lebih parah dari yg sebelumnya.

SIIING~

Tentu saja dugaanku salah. Mana ada rumah hantu yg mengerikan di awal dan melegakan di akhir, itu hanya harapanku saja. Haha, aku tertawa miris mengingat nasibku yg sedang dikerubungi tengkorak hidup.

Mereka berjalan perlahan ke arah kami. Sebagian dari mereka merangkak karena tak berkaki. Darah mengalir dari sendi sendi tulang mereka. Ada yg membawa tangan mereka yg patah, ada juga yg membawa..apa itu? Mata? Daging?
Menjijikkan sekali, serasa aku ingin muntah saat ini.

GLEK

Seluruh kepala mereka dipenuhi darah yg mengalir. Dan anehnya, darah merah kental itu berbau, bau darah asli. Bulu kudukku berdiri semua, dan entah mengapa hawanya pun terasa menusuk sekali?

Peganganku pada Sasuke semakin erat. Kututup mataku. Aku berusaha berjalan mengikuti Sasuke.
Namun, semakin kami melangkah, semakin bau darah itu menyengat. 'Apa tengkorak itu semakin dekat? Atau kami yg mendekati tengkorak itu?'

"Kalau kau menutup mata, kau tidak akan pernah keluar dari sini," kata Sasuke yg membuatku sengaja membuka mata. Sasuke, jangan membuatku semakin takut, aku ingin segera keluar dari sini.
"Apa maksudmu?" tanyaku.

"Kalau kau tutup mata, aku akan mengarahkanmu kemanapun aku mau," katanya. Oh ya, benar saja, dia membawaku menjauh dari pintu keluar dan mendekatkanku pada tulang tulang putih menjijikkan itu. APA?! Segera saja kudorong Sasuke menjauh dari tengkorak bermata satu itu. Yg paling mengerikan adalah mata itu seperti asli. Seakan semua organ tubuh yg mereka bawa, asli.

Wueg..

Kudengar Sasuke terkikik geli melihat raut mukaku.

"Tunggu hukumanmu nanti Sasuke." gumamku.

Dan layaknya burung yang terbidik panah, kami tidak dibiarkan keluar oleh para terkorak hidup itu. Mereka berjajar menghalangi pintu keluar. Salah satu tengkorak yang terdekat dariku, jatuh di belakangku dan menangkap tepat kaki kiriku. Matanya melototiku seakan akan keluar dari lubangnya. Aku takut. Kucoba menarik kakiku dari cengkeramannya, tapi ia begitu ulet. Ia tak mau melepas kakiku begitu saja. Jantungku hampir saja copot kala tangannya meraba-raba kulit kakiku.

Ketakutanku menguasaiku. Dengan kaki yang masih terbebas, kutendang tangan tengkorak itu sekuat tenaga. Aku ingin segera pergi darinya.

"Sasuke, ayo cepat!" Kudorong Sasuke menuju pintu keluar. Ia kujadikan tebeng.

Kami berusaha menerjang tengkorak tengkorak itu. Bau serta rabaan tangan tengkorak-tengkorak itu membuatku bertambah ngeri saja. Kutahan ketakutanku selama mencari jalan keluar.

SREK

Akhirnya, tirai terbuka. Legaaaanya.. aku mengelus dadaku. Tanpa sadar tanganku tidak lagi memeluk lengan Sasuke.

"Masih ada satu ruang lagi," kata Sasuke yang mulai beranjak menuju ruang terakhir dari rumah hantu ini. Suatu ruangan bertuliskan 'Eien no Yami', kegelapan abadi.

"Tunggu, Sasuke!"

Kupercepat langkahku mendekati Sasuke yang siap membuka tirai ruangan itu.

SREK

"Gelap sekali." Gumamku.

Tak ada sebersit cahayapun di ruangan ini. Tak ada bau darah sama sekali, hanya kegelapan abadi.

"Sasuke?" panggilku. Tak ada jawaban.

"Sasuke?" kupanggil ia sekali lagi. Masih tak ada jawaban. Apa ia sengaja?

Aku berjalan perlahan sambil meraba area sekitarku. Tak lupa kupanggil nama Sasuke di setiap langkahku. Namun, tetap saja ia tak menjawab. Apa ia sengaja meninggalkanku dan mencari jalan keluar sendiri? Jahat sekali ia. Aku takuuutt..

Aku berjalan menyamping. Kudapati sebuah tembok yang terasa lembab. Aku terus melangkah maju dengan tembok ini sebagai penunjuk arahku. Mataku mulai terbiasa dengan kegelapan.

Selang beberapa langkah, tembok yang tadinya terasa lembab kini terasa berair. Berair? Bukan, bukan air, tapi...darah.

"Nona..kembalikan darah saya," sebuah suara lembut dan sedikit suram masuk gendang telingaku. Kutengokkan kepalaku ke belakang perlahan-lahan, ke arah suara tadi.

GLEK

Entah cahaya darimana, sebuah siluet putih tinggi, berambut pirang panjang, tengah tersenyum ke arahku. Bukan senyum ramah, tapi senyum yang menusuk. Cairan merah mengalir tepat dari kedua matanya. Darah?

"AAAA..." aku berbalik dan berlari. Tanganku terus menyentuh dinding sebagai penunjuk arahku. Aku berusaha lari dari makhluk jadi-jadian itu.

"Nona! Jangan pergi, kembalikan darahku," teriak makhluk itu. Ternyata ia mengejarku. Aku menoleh ke belakang, memastikan ia jauh dariku.

"Nona. Jangan lari," ia tepat di belakangku. Mataku melebar. Jantungku melaju tak karuan, dan nafasku sulit sekali kuatur.

"AAA.., aku tidak mengambil darahmu, sudah kukembalikan. Sana! PERGIIII!" teriakku sambil mendorongnya, mataku kututup. Aku takut memandang sosok menakutkan itu.

Aku berbalik dan berlari lagi. Kali ini aku tak berani menengok ke belakang. Hiiiii...

Beberapa saat kemudian, kutemukan sebuah tirai putih, namun terlihat sebersit cahaya di balik tirai itu. Semoga tu jalan keluar.

"Nona, jangan pergi!" suara itu lagi. Tolong jangan tangkap aku.

Segera saja aku berlari ke tirai itu.

SREK

SRIING

Cahaya matahari yang dari tadi kutunggu-tunggu menyilaukan mataku. Akhirnya... kujatuhkan tubuhku saking leganya.

"Hh..hh..hh Akhirnya keluar juga," seruku. Makhluk itu tak lagi mengejarku. Mungkin ia takut cahaya.

"HAHAHAHA!" oh! Suara itu! Suara seseorang yang meninggalkannku bersama makhluk tadi. Amarah itu kembali muncul. Kini aku ingat misiku. Memberi pelajaran kepadanya.

Kuedarkan pandanganku. Ia tepat di samping kiriku, tertawa senang di atas penderitaan orang lain. Tangannya sampai memegangi perutnya saking kocaknya. Harus kuhukum dia.

Aku berdiri mendekat ke arahnya. Kupukul dadanya berkali-kali.

DUG DUG DUG

"Ini karena kau mamaksaku masuk ke tempat itu. Ini untuk mengerjaiku di lautan tengkorak. Dan ini karena kau meninggalkanku bersama makhluk aneh itu."

"HAHA!"

"Kau masih sempat tertawa?" pekikku tak percaya.

"Ini! Kutambah!" kuinjak kakinya sekuat tenaga. Apalagi ujung heels sepatuku –yg kugunakan untuk menginjaknya- lumayan kecil. Ia pasti kesakitan.

"AAWW!"

"Hei! Kalian berdua! Kemarilah!" teriak salah seorang pemandu wahana ini, seorang bapak berseragam dengan senyum menghiasi wajahnya.

Kami yang merasa dipanggil, berjalan ke arahnya.

"Kalian pasangan yang lucu. Kuberi kalian dua tiket gratis untuk mengunjungi tempat ini lagi," katanya sambil menyodorkan dua tiket yang sama yang dibeli Sasuke tadi. Tapi, tentu saja aku menolak, kami kan bukan pasangan.

"Tapi, Pak! Kami bukan-,"

"Sudahlah...ambil saja. Lain kali kalau kesini, yang lebih kompak ya?"

"Aku terima," potong Sasuke. Ia mengambil lembaran yang disodorkan. Apa ia berniat mengerjaiku lagi?

"Terima kasih, Pak."

Kami pun pergi meninggalkan wahana itu. Kami berjalan tak menentu. Sunyi menyelimuti suasana kami. Kalau diingat ingat baru pertama kali ini aku melihat Sasuke tertawa lepas seperti tadi. Ia kelihatan begitu senang. Entah kenapa, rasanya aku ikut senang. Ekspresinya begitu bebas, tidak seperti Sasuke yg tanpa ekspresi.

"Sasuke! Beli es krim yuk!" ajakku padanya. Jujur, kedua wahana tadi melelahkan juga. Aku ingin istirahat sambil makan es krim.

"Hn,"

Beberapa saat kemudian, kami duduk di sebuah kursi kosong -masih di area wahana bermain- sambil memakan eskrim kami masing masing.

"Sasuke, apa pukulanku masih terasa sakit?" tanyaku setengah khawatir. Aku menoleh kepada Sasuke yg duduk di sebelah kananku melihat ekspresi yg mungkin muncul dari si pemilik pantat ayam. Kalau dipikir, kenapa sejak tadi aku terus saja mencari ekspresi baru dari pria ini ya? Apa benar, aku mulai tertarik padanya?

"Tidak. Tidak sakit," jawabnya, masih dgn wajah stoicnya.

"Ne..benarkah? Padahal aku sudah latihan memukul bersama Sai. Katanya pukulanku termasuk keras dan sakit. Aaa..aku tahu, kau pasti pura pura tidak sakit. Makanya, sejak tadi kau terus diam saja. Hmm..?" aku pura pura berpikir. Mungkin aku bisa mengorek kebohongannya perlahan lahan. Karena memang benar, aku sudah latihan memukul bersama Sai, yah..jaga jaga untuk keadaan darurat.

"Ck..itu berarti aku lebih kuat daripada Sai," sanggahnya. Huft, memang dasarnya ia orang sombong, mana mau mengaku. Percuma deh aku bertanya.

"Hai, Ino! Sasuke!"

"Ah, Sai! Kau sudah kembali?" akhirnya penolong harianku datang. Kalau Sai dibandingkan dgn Sasuke, bagai malaikat banding iblis.

"Kalian beli eskrim? Aku juga mau beli-,"

"Tidak perlu, Sai. Aku sudah kenyang. Makan saja punyaku," tawarku. Yah..aku memang sedang diet. Aku membelinya hanya ingin mencicipinya sambil istirahat.

"Terimakasih, Ino," kata Sai. Aku menyodorkan eskrimku pada Sai. Sai mengambil tempat duduk di samping kiriku.

Aku mulai bersenandung sembari menunggu kedua pria di sampingku untuk menyelesaikan makannya.

Aaahh..senangnya menjadi remaja normal. Belajar dan bermain. Tak memikirkan pekerjaan. Enaknyaaa.. Jadi kesenangan semacam ini yg dirasakan teman temanku di keseharian mereka? Aku jadi iri.

"Ino!" panggil Sasuke. Aku menoleh ke arahnya. Tangannya perlahan lahan menyentuh pipiku.

"A-apa?" aku jadi salah tingkah sendiri. Kenapa hawanya jadi panas begini? Apa hanya perasaanku saja.

"Ada eskrim tersisa di pipimu," katanya. Huft..kukira apa. Ia kembali menarik tangannya yg sempat menyentuh pipiku. Dan benar saja, di ujung jari jempolnya terdapat sedikit eskrim coklat punyaku. Tiba-tiba saja ia memakannya. Melihatnya saja kenapa membuat wajahku memanas?

"Kalian mau naik apa lagi?" pertanyaan Sai membuyarkan lamunanku. Mereka telah selesai dgn eskrim eskrim mereka.

Kuedarkan pandanganku untuk mencari wahana yg menarik. Haahh..tak ada yg menarik, tapi..

"Kita ke sana saja."

Aku menunjuk kotak boneka yg tak jauh di depan kami. Aku ingin membawa pulang satu boneka dari taman bermain ini.

Kami memulai langkah kami. Ah! Aku punya ide. Khufufu..mengerjai Sasuke sepertinya seru.

"Sai, tadi Sasuke sempat mengejekmu lho.. Ia bilang kau lebih lemah darinya karena pukulanku yg mengenainya sama sekali tak membuatnya sakit," kulirik Sasuke. Wajahnya mulai berubah kesal.

"Benarkah? Kau memukulnya?" tanya Sai masih dgn senyumnya. Kurasa Sai mengerti maksud yg tersembunyi dari raut wajahku.

"Iya. Sekarang buktikan padanya kalau kau lebih hebat. Ambilkan aku boneka yg paling besar ya Sai?!"

"Tentu saja," ucapnya kemudian memasukkan koin ke lubang koin yg tersedia.
Dan Sasuke hanya diam memperhatikan.

Sai mulai menggerakkan cubit besi ke arah boneka panda yg terbesar dari boneka boneka lain. Yak~ sedikit lagi Sai, sedikit lagi.

GREB

"YAY! Kau mendapatkannya Sai," teriakku. Kusiapkan tanganku, menunggu boneka keluar dari lubang keluar.

"Bonekanya lucu," kupeluk boneka yg hanya berukuran setengah badan -tapi termasuk yg terbesar- itu. Dan kulirik Sasuke yg mulai geram.

"Minggir, Sai!" perintah Sasuke. Sai hanya menurut.
Sasuke mulai melakukan apa yg mesti dilakukannya. Dan ia mengambil..koala?

Sama seperti Sai, Sasuke mengambil koala yg terbesar. Dengan sekali main, ia berhasil mengambil boneka itu.

Aku dan Sai hanya terdiam mengamati apa yg dilakukan Sasuke.

"Ini! Dan jangan mencoba mengerjaiku lagi!" ancamnya. Dengan ekspresi kesal, Sasuke menyodorkan boneka yg didapatnya tadi kepadaku. Dan beranjak pergi.

"Kasar sekali..," aku bersungut kesal karenanya.

*skip time:sesampainya di rumah*

"Tadaimaaa..," seruku.

"Okaeri.. Darimana saja kau, Ino?"

"Aku bermain bersama Sasuke dan Sai, Nek. Kami pergi ke taman bermain. Lihat! Aku bawa boneka. Nenek suka yg mana?" tanyaku dgn antusias. Nenek Chiyo hanya tersenyum padaku.

"Kau senang, Ino?" tanya Nenek. Aku hanya bersungut.

"Nenek tak menjawab pertanyaanku. Tentu saja aku senang, Nek. Baru kali ini aku ke taman bermain," jawabku.

"Syukurlah kalau kau senang. Nenek juga ikut senang," kata Nenek sebelum kembali melanjutkan,

"Kalau disuruh memilih, nenek suka dgn koalanya. Lucu sekali,"

"Benarkah?"

"Iya. Kau membelinya? Ino..nenek kan sudah bilang, kau harus berhemat untuk keperluan sekolahmu,"

"Iya, nek. Aku tau. Dua boneka ini pemberian mereka berdua kok,"

"Ya sudah, sana segera mandi. Lalu, siapkan makan malam untuk keluarga Uchiha!" Nenek Chiyo mengingatkanku.

"Iya, Nek. Aku mengerti."

*skip time: makan malam*

Aku membawa makanan menuju ruang makan keluarga Uchiha. Kulihat, semua anggota keluarga Uchiha -minus Itachi-, Sai, dan Nenek Chiyo telah bersiap di ruang makan.

Nenek Chiyo beranjak untuk membantuku.

Sunyi menjadi background tugasku sebelum Tuan Fugaku angkat bicara,
"Sasuke, besok kau akan ayah perkenalkan dgn salah satu kolega ayah beserta keluarganya,"
Kulihat Sasuke menghela nafasnya. Kemudian membuka matanya yg sempat tertutup.

"Aku sudah mengenal semua kolega ayah,"

"Tapi kali ini berbeda. Kau akan ayah perkenalkan juga dgn anggota keluarga Haruno,"

Haruno? Sakura..ia mulai bergerak. Perjodohan mereka. Nafasku kembali sesak. Kenapa? Aku takut. Tapi..kenapa?