Secret Relationship
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by CMA
Ino tidak terlalu menyukai membaca buku. Memang benar ia pintar, tapi jika ia harus belajar, ia memastikan dirinya mendapat banyak waktu pembalasan dendam. Seperti berakhir pekan di pemandian air panas atau sekedar berjalan-jalan di pusat kota. Karena itu, saat Sai mengajaknya pergi hari Minggu ini, Ino tidak membayangkan kalau mereka akan berakhir duduk di salah satu sudut perpustakaan kota yang sepi dengan buku tebal sebagai sumber referensi tugas sekolah.
"Kanapa? Wajahmu tidak terlihat senang," kata Sai pelan. Kakak angkat sekaligus pacarnya itu bahkan tidak menatapnya dan terus menulis di atas buku catatannya, memindahkan sebaris kalimat dari buku tebal yang terbuka di atas meja.
"Tentu saja! Apa yang menyenangkan dari melihat tumpukan buku?!" balas Ino sewot sambil mendelik tajam. Ino bahkan tidak bisa mengalihkan perhatian dengan mengamati orang lain karena hanya ada mereka saja di sudut itu.
"Kita sudah kelas tiga. Akan ada banyak ujian di semester ini. Kau juga harus banyak belajar."
"Aku sudah pintar!" jawab Ino sok separuh jengkel. "Apa hanya ini tempat yang ada di pikiranmu? Sekali-kali datang ke sini tidak masalah. Tapi aku bukannya mau diajak ke sini tiap akhir pekan!"
"Kau bilang sedang menabung untuk membeli laptop baru? Main ke perpustakaan 'kan tidak membuang-buang uang." Sai masih terus menulis tanpa menatap Ino.
"Setidaknya aku suka diajak ke taman kota. Di sana ada banyak bunga. Kenapa kita tidak pergi ke sana saja?" Ino mulai merengek. Benar-benar benci harus terkepung rak buku sementara pasangan lain mungkin sedang asyik bermain di luar ruangan. Pun sejak tadi yang Sai lakukan hanya belajar dan bolak-balik mengambil buku.
Sai menegakkan punggungnya dan meletakkan pulpen di tangannya. "Di sana terlalu ramai. Lagipula, ada sesuatu yang ingin aku katakan."
Mendengar nada suara Sai yang misterius, Ino merapatkan duduknya dan menunggu. Tapi Sai malah mengeluarkan ponselnya dan memasangkan sebelah earphone di telinga Ino sementara ia sendiri memakai yang sebelahnya. Perlahan, musik nan lembut mengalun dari lagu yang Sai putar.
Sai ikut merubah posisi duduknya. Ia menopang dagunya dengan satu tangan dan duduk miring menghadap Ino. Sebuah senyum tersungging, namun Ino bisa melihat kalau senyumannya tidak sampai ke mata.
"Ayah ...,"—tangan Sai menyibak poni Ino yang jatuh di depan mata—"memintamu untuk melanjutkan kuliah dan menjadi dokter. Kau tidak boleh mengecewakannya."
Ekspresi wajah Ino berubah dengan cepat. Teringat dengan pembicaraan semalam sebelum ia pergi tidur. Ia tidak mengira Sai akan menguping pembicaraan di ruang keluarga itu.
"Aku tidak harus menurutinya," jawab Ino kaku. "Aku tidak ingin jadi dokter."
Sai tersenyum. "Jadi dokter saja. Semua pasienmu pasti akan cepat sembuh karena dokternya sangat cantik."
Ino hampir saja tersenyum mendengar gombalan Sai. "Aku rasa ini bukan hal yang ingin kau bicarakan, 'kan?"
Senyum di wajah Sai masih tersungging tapi ia sudah menarik tangannya yang tadi memainkan rambut pirang Ino.
"Aku ... mungkin akan mencobanya," bisik Sai. "Kuliah."
Mata Ino langsung berbinar. Ia meraih tangan Sai dan mendekapnya di dada. Gerakannya itu membuat earphone-nya terlepas. "Sungguh?"
"Hm." Sai memasangkan lagi earphone itu.
"Yatta!" Ino bersorak pelan sambil menekankan punggung tangan Sai di pipinya yang merona karena senang. Satu senyum manis ia tujukan pada sang kekasih.
"Tapi, karena aku memutuskan untuk kuliah, aku juga butuh uang. Mulai Senin besok, aku akan mengajar privat untuk mengumpulkan uang. Jadi kita akan jarang pulang bersama atau pergi berkencan. Hari ini aku membawamu ke sini karena ingin kau terbiasa kalau akhir minggumu jadi membosankan."
Ekspresi senang Ino barusan tiba-tiba saja lenyap akibat perkataan Sai. Sudah cukup buruk dengan bersandiwara di depan orangtuanya sejak bertahun-tahun lalu. Di sekolah pun sulit bertemu. Pulang sekolah dan akhir pekan sudah seperti tiket emas bagi Ino. Tapi sekarang ia akan kehilangan itu juga?
"Jangan sedih." Sai membalikkan tangannya dan menangkup pipi Ino. "Tolong bersabar lagi."
Pacar-pacar yang lain mungkin akan merengek, menolak, marah, atau mungkin menangis. Ino pun sama. Ia bisa saja melakukannya. Tapi Ino memilih menekankan wajahnya di telapak tangan Sai yang hangat dan bergumam pelan, "Ha'i."
Sai tersenyum. Sekilas, matanya melirik ke jendela besar di belakang Ino. "Di luar mulai hujan, mungkin kita bisa istirahat?" tangannya beralih ke dagu lancip Ino. Mengusapnya dengan lembut dan membawanya mendekat. "Bagaimanapun juga, ini kencan."
Ino menutup matanya dan membiarkan Sai menciumnya. Alunan musik yang lembut beriringan dengan gerak bibir Sai yang menyapu permukaan bibirnya. Pada akhirnya, ini bukan akhir pekan yang buruk. Di sudut perpustakaan itu, mereka berciuman di antara rak buku dan kurungan hujan.
[SaIno Story—End]
.
.
.
.
Temari asik memilih daging ayam yang ada di rak pendingin. Ia sama sekali tidak menyadari hujan yang mulai menderas di luar super market. Pikirannya terpenuhi dengan deretan bahan dan bumbu yang akan ia beli untuk makan siang spesial nanti. Rencananya, ia akan makan siang dengan Gaara, adik kecilnya yang manis. Sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan keduanya. Sangat disayangkan Kankurou tidak bisa ikut serta karena ia bekerja di luar kota.
"Moshi moshi ... Gaara-chan?" Temari menahan ponselnya dengan bahu sementara kedua tangannya bergantian memilah dan memasukkan sayuran hijau.
"Ya?"
Ah. Temari rindu sekali suara adiknya. Tanpa sadar, ia tersenyum lebar. "Kau sedang di apartemenmu, 'kan?"
"Ya."
"Bagus! Jangan pergi ke mana-mana! Nee-chan akan datang. Kita buat makan siang yang spesial!" Temari tidak bisa terdengar lebih senang lagi. Setelah mendapat persetujuan sang adik, mereka memutuskan sambungan telepon.
Sambil bersenandung riang, Temari menghampiri meja kasir dengan antrean yang mengular. Ketika tiba gilirannya, pegal karena berdiri terlalu lama pun tidak terasa. Temari yang sedang bahagia memang bisa lupa segalanya. Senyumnya hanya sedikit berkurang saat didapatinya ia terjebak hujan tanpa payung di tangan.
Temari melirik jam di pergelangan tangan. Kalau ia berlari sekarang ke halte bus terdekat, ia bisa naik bus yang akan mengantarnya ke halte tujuan. Mungkin ia akan cukup kebasahan jika memaksa menerobos hujan. Tapi, toh, ia sudah pernah mengalami yang lebih buruk saat di akademi polisi.
Dengan langkah ringan dan cepat, Temari berlari sambil memeluk kantung belanjaannya. Blazer yang ia kenakan basah kuyup ketika ia menjejakkan kaki di halte yang sepi tanpa seorang pun di sana. Tidak mau membuat basah kemejanya juga, Temari melepas blazernya dan duduk di kursi besi yang terasa dingin. Seharusnya bis yang ia tunggu datang tak lama lagi.
Sambil menunggu, Temari menggosokkan kedua telapak tangannya dan mengusapnya ke pipi. Ia tidak terlalu suka dingin karena berasal dari tempat yang setandus Suna. Tapi, tiba-tiba saja sebuah mantel tebal tersampir di bahunya.
"A—"
"Pakailah." Shikamaru menahan tangan Temari yang hendak menarik lepas mantel yang ia sampirkan. Komandan wanita itu meliriknya dari atas bahu dengan sengit tapi tak mau bicara apa-apa.
"Ah ... Gaara beruntung sekali punya kakak yang perhatian." Shikamaru memulai. Deras suara hujan yang mengepung mereka membuatnya harus sedikit mengeraskan suaranya. "Sedangkan aku selalu makan siang sendirian. Ah, tidak. Sarapan dan makan malam pun sendirian."
Temari diam saja. Ia bahkan tak peduli bagaimana Shikamaru bisa tahu rencananya dengan Gaara.
"Enaknya ... tapi tidak apa-apa sih. Setelah menikah nanti, kau 'kan akan selalu memasak dan makan bersamaku." Shikamaru memasukkan kedua tangannya yang mulai kedinginan ke dalam saku celana. "Ya, 'kan?" ia menoleh pada lawan bicara yang sejak tadi mengabaikannya.
Temari masih tidak menjawabnya. Mata cantiknya lurus menatap jalanan yang basah tersiram hujan. Shikamaru bohong kalau bilang ia baik-baik saja dengan kediaman Temari ini. Apalagi ia tak melihat kalung pemberiannya menghiasi leher jenjang sang 'pacar'.
Shikamaru menegakkan duduknya dan ikut menatap ke depan. Matanya berubah gelap dan memantulkan genangan air hujan yang beriak tak beraturan.
"Itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Tidak bisakah kau melupakannya?" tanya Shikamaru, kali ini dengan suara lirih. Tapi, telinga tajam Temari tidak melewatkan satu kata pun.
"Tidak," jawabnya tegas. "Tidak ada satu hari pun aku melupakan apa yang sudah ayahmu lakukan pada ayahku."
Ada yang terasa perih, baik dari ucapan Temari ataupun sesuatu di dalam dada Shikamaru. Bayangan gadis kecil yang suka iseng mengepangi rambutnya saat ia masih kecil dulu, menari-nari di antara hujan dan menghilang dalam satu kedipan mata.
Samar-samar, mereka mendengar suara deru mesin yang mendekat. Dari kejauhan, sebuah bus melaju perlahan ke halte tempat mereka berada.
"Setidaknya kau bisa memakai kalungnya. Itu bisa membuatmu aman," ujar Shikamaru lagi di tengah waktu yang semakin sedikit. Berbicara berdua saja dengan Temari tidak pernah mudah dan ia selalu kekurangan waktu ketika mereka bersama.
"Aku aman jika kau menjauh dariku." Temari menjawab dengan dingin dan berdiri. Mantel Shikamaru dibiarkannya jatuh ke atas kursi sementara ia memeluk blazer dan kantung belanjaannya bersamaan. "Jadi, jangan munculkan wajahmu lagi di hadapanku dan menjauhlah dari adikku."
Dengan kalimat barusan, Temari meninggalkan Shikamaru sendirian. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan halte. Seorang pria dengan sebatang rokok terselip di bibirnya, keluar dan membuka sebuah payung hitam.
"Tuan Muda, ayo kita pulang."
Shikamaru mengabaikan pria itu. Matanya menatap satu titik di kejauhan, tempat bus yang dinaiki Temari berbelok dan menghilang. Pria tersebut akhirnya mengalah dan mengambil mantel tuannya lantas membujuknya sekali lagi. "Sudahlah Tuan Muda. Sebaiknya Anda pulang."
"Asuma ...," panggil Shikamaru dengan nada seperti orang melamun dan tanpa menatap bawahannya.
"Ya?"
"Kenapa ..." Perlahan, Shikamaru meraba bagian depan kemejanya. "Kenapa ... dia ... begitu jauh?"
Asuma terserang nyeri mendadak seolah tertular tuannya. Dengan ketenangan orang dewasa yang coba ia jaga, dibimbingnya sang penerus utama ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka.
"Dia akan kembali, Tuan. Percayalah," kata Asuma menenangkan.
"Aku tahu, aku tahu ..." Shikamaru berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam mobil. "Hanya saja, aku merindukannya."
"Ya. Saya tahu."
[ShikaTema Story—End]
.
.
.
.
Bing!
Bing!
Bing!
Bing!
Bing!
Matsuri berguling di atas ranjangnya dan menggapai ponsel pintarnya yang tak henti berbunyi. Belum sempat ia membuka pesan yang masuk, ponselnya kembali berbunyi. Dengan mata yang masih lengket dan hanya terbuka sedikit, Matsuri mengintip isi pesan-pesan itu.
Kau sudah bangun?
Hei! Bangun!
Sial. Kalau kau tidak balas pesanku, aku ke apartemenmu sekarang juga!
Hei! Kau tidak sedang kencan dengan laki-laki lain 'kan?!
Matsuri!
Awas saja kau nanti. Berani sekali mengabaikanku.
Semua pesan itu dikirim dalam jangka waktu yang berdekatan. Matsuri tak bisa lebih merasa terganggu lagi saat sebuah panggilan masuk membuat ponselnya bergetar.
"Moshi moshi?" dengan suara serak khas bangun tidur, Matsuri menyapa orang di seberang sana—
"Kau benar-benar baru bangun tidur?"
—yang dibalas dengan pertanyaan penuh selidik dari sang pacar.
Gaara bertingkah seolah ia tidak tahu betapa padat aktivitas Matsuri meski ia bukan model sepertinya. Ditambah dengan tingkah manjanya di tempat kerja, Matsuri hampir tidak punya waktu istirahat. Setiap break, Gaara pasti memonopoli perhatiannya. Sekarang saat libur pun, Gaara terus saja menghubunginya.
"Aku benar-benar baru bangun." Matsuri mengerang kecil sambil memijat lehernya yang terasa kaku. "Ini baru jam sembilan pagi, Gaara-kun! Biarkan aku tidur lagi!" katanya galak.
"..."
"..."
"Kau marah, huh?"
Ini dia! Gaara mengeluarkan jurus merajuknya yang—sialnya—selalu membuat Matsuri kalah. Nada suaranya itu loh ... digabung dengan bayangan wajah imut plus puppy eye—ya, Gaara bisa bergaya seperti itu kalau dia mau—membuat Matsuri lumer di kaki ranjang.
Tapi, fungsi otaknya yang belum sejalan membuat sinyal merajuk Gaara tenggelam di kejauhan.
"Aku akan marah kalau Gaara-kun terus mengirimiku pesan tiap satu menit!" Matsuri bergelung lagi bersama selimutnya. "Jadi biarkan aku tidur sekarang!" Dari pada keputusannya goyah, Matsuri segera memutuskan sambungan teleponnya dan bersiap tidur. Namun, tentu saja Gaara tidak akan menyerah. Ponselnya kembali bergetar begitu menyentuh permukaan meja.
"Apa lagi?" Matsuri tak bisa menahannya lagi setelah ponselnya terus bergetar dengan rusuhnya di atas meja.
"Onee-san mau datang ke apartemenku," jawab Gaara dengan nada yang sedikit lunak.
"Lalu? Hubungannya denganku?" tanya Matsuri keheranan.
"Apartemenku berantakan."
Matsuri semakin tidak paham maksud pacarnya. "Lalu? Aku harus datang ke sana dan merapikannya, huh?"
"Kalau bisa sih ..."
"Gaara-kun!"
"Oke! Oke! Aku akan rapikan sendiri!"
Tuuutt—
Matsuri menatap layar ponselnya dengan wajah pongo sebelum kembali merebahkan diri. Gaara ngambek? Sudah biasa.
Tapi, Gaara yang mendiaminya dan membiarkannya sendiri?
Mustahil.
Bing!
Bing!
Bing!
Bing!
See?
Matsuri baru memejamkan mata beberapa menit dan Gaara kembali menghujani ponselnya dengan pesan singkat.
Alat pengedot debunya rusak.
Kemoceng juga hilang.
Aku melewatkan jadwal buang sampahku.
Ada burung yang buang air di balkon apartemenku.
Matsuri membaca satu-persatu pesan itu dengan tangan yang gatal ingin meremukkan layar. Dengan rahang mengatup erat, ia menelepon Gaara.
"Moshi moshi?" sahut Gaara dengan polosnya dari seberang sana.
"Kenapa tidak mencuci baju saja? Mesin cucinya tidak rusak, 'kan?" tanya Matsuri tanpa tedeng aling. Sekilas ia melirik ke luar jendela dan mendapati hujan di luar semakin deras.
"Sebentar ..." Terdengar suara-suara samar yang berduet dengan hujan deras dari tempat Gaara sebelum cowok itu kembali bersuara. "Terlalu banyak tombol. Aku tidak paham."
Duh!
"Lalu, kenapa kau membelinya?!" tanya Matsuri gemas.
"Disuruh Onee-san."
Matsuri memukul dahinya sendiri. "Ya sudah! Beri tahu aku merek dan tipe mesin cucinya!"
Jadi begitulah. Minggu pagi Matsuri dihabiskan dengan browsing cara penggunaan mesin cuci laknat itu lantas mendiktekannya pada Gaara. Setelah satu kloter pakaian berputar-putar selama lima belas menit di mesin cuci, dengan heran Gaara bertanya.
"Kok, airnya jadi berubah merah?"
Barulah Matsuri sadar ia lupa berpesan untuk memisahkan baju berdasarkan warnanya.
Pupus harapan dengan cuci-mencuci, Matsuri menyuruh Gaara untuk mencuci piring-piring kotor yang—kata sang pacar—sudah terdampar di bak cuci sejak seminggu lalu. Karena tidak menggunakan mesin, Matsuri yakin Gaara tidak akan menemukan alasan untuk menelepon dan bertanya ini-itu padanya. Jadi, Matsuri pun memutuskan sambungan dengan niat ingin tenggelam lagi di dunia mimpi.
Namun, niatnya itu harus dibuang jauh-jauh saat, untuk ke sekian kalinya, ponselnya kembali bergetar.
"Piringnya pecah, tanganku berdarah."
Cukup sudah. Tanpa berpikir dua kali, Matsuri bergegas gosok gigi, mencuci muka, berganti baju, dan menerobos hujan di luar demi mencapai apartemen sang pacar. Tapi, kenyataan tidak selalu sesuai pemikiran. Saat ia mengira apartemen sang pacar akan serupa kapal pecah dengan banyak barang bertebaran di lantai, yang ia dapati malah kebalikannya. Bersih. Sangat bersih, malah.
"Gotcha!" Gaara muncul dari balik pintu dan memeluk pinggang Matsuri. Aroma menyegarkan dari cologne yang dipakai Gaara membuat dada Matsuri penuh. "Akhirnya kau datang juga," bisiknya tepat di telinga Matsuri.
Matsuri masih sedikit loading. Ia menarik kedua tangan Gaara yang sama sekali tidak terluka dan kembali mengedarkan pandangannya.
"Aku punya pembantu, jadi, untuk apa bersih-bersih?" Dengan santainya Gaara mengecup pipi Matsuri yang memerah sebelum berlari ke dapur untuk berlindung dari amukan sang pacar.
"GAARAAA-KUUNN!"
[GaaMatsu Story—End]
.
.
.
.
Neji punya banyak alasan untuk tidak menyukai hujan. Satu, membuat rambut panjangnya lepek. Dua, membuat udara menjadi dingin. Tiga, membuat suasana jadi muram. Empat, membuatnya terjebak di dalam ruangan tanpa hal menarik untuk dilakukan. Untungnya kali ini ia tidak sendirian.
"Okaa-chan, sudah selesai?"
Tapi juga tidak berduaan.
Harusnya, hari Minggu ini Neji bisa berduaan saja dengan kekasihnya. Alamat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah hujan tak bisa kemana-mana, eh malah dititipi anak tetangga. Belum lagi anaknya menyebalkan bin hiperaktif yang suka bergaya bak pahlawan dengan topeng obat nyamuk aneh miliknya. Berkali-kali Neji harus rela dijambak-jambak saat memerankan 'monster' atas kehendak sepihak sang anak dan entah sudah berapa helai rambut kesayangannya yang rontok akibat tingkah aniaya super dari seorang anak yang sesungguhnya masih usia TK.
Sudah terdengar buruk?
Ternyata masih bisa lebih buruk lagi karena tidak hanya satu anak yang dititipkan, tapi dua. Yang satunya lagi sih terlihat manis bak boneka dengan rambut pirang panjangnya. Neji bahkan sempat mengiranya sebagai gadis kecil sebelum dia mulai teriak-teriak heboh 'seni adalah ledakan!' sambil meletuskan balon-balon plastik yang ditiupnya—membuat Neji tuli mendadak.
Mereka sekolah di TK mana sih? Neji serius ingin melaporkannya ke dinas pendidikan. Dan apa pula itu? Sejak kapan Tenten-nya menikah dengan ayah mereka?!
"Sebentar lagi! Kalian mainlah dulu!" Tenten berseru dari arah dapur.
Karena jam makan siang sudah tiba, Tenten permisi untuk menyiapkan makanan dan tinggalah Neji menjadi bulan-bulanan dua berandalan cilik itu.
"Om! Om!" si pirang berisik—Deidara—menarik lengan kardigan hitam yang dipakai Neji hingga regang maksimal. "Om buta ya?"
Jika saja ia tidak ingat siapa dirinya, bibir tipis tak tahu tata krama itu mau dibuatnya jontor dengan sentilan pedas.
"Bukan buta tau! Tapi katarak! Ya, 'kan, Om?" si obat nyamuk—Tobi, ikut memperkeruh suasana.
"Buta, un!"
"Katarak!"
"Buta, un!"
"Katarak!"
"DIAM."
Neji membentak dengan byakugan aktif. Petir menyambar. Geledek menggelegar. Lampu di atas mereka berkedip sekali.
Horror.
"HUWAAAANGGGGGG!"
Tangisan keduanya membuat Tenten pontang-panting berlari keluar, sendok kayu ada di satu tangan. Dengan isakan keras, keduanya menghambur memeluk dan menenggelamkan wajah mereka di dada Tenten.
"Neji-kun! Matanya biasa saja!" serunya pada sang pak wakil kepala yang masih melotot.
Sial. Keistimewaan bawaan lahir miliknya malah dijadikan bahan omelan.
"Mereka berisik!" Neji ngambek karena iri pada Deidara dan Tobi yang masih memeluk Tenten. Cih. Tangisan keduanya terdengar mengejek.
"Mereka 'kan masih kecil! Bersabarlah!"
"Mata Om itu serem! Seperti orang buta!" Deidara menunjuk wajah Neji dengan telunjuknya. "Aku takut, un!"
Ini lagi!
"Itu bukan buta, Dei-chan ... Matanya memang begitu." Tenten sempat menahan tawa mendengar ucapan polos Deidara. Ah. Anak kecil mana tahu mata seperti milik Neji itu ada.
"Katarak?" Tobi bertanya lagi, memastikan.
"Bukan. Nih, lihat ya." Tenten membimbing keduanya untuk duduk bersila berhadapan dengan Neji yang pasang wajah dingin. "Coba dilihat baik-baik, matanya seperti mutiara, 'kan?"
Wajah dua bocah polos di depan Neji begitu seriusnya—ralat, minus Tobi, entah bagaimana ekspresinya sekarang—hingga membuat Neji agak risih.
"Memang seperti mutiara!" Tobi berseru dan menyenggol-nyenggol Deidara dengan sikunya.
"Iya, 'kan?" Tenten tersenyum senang. "Okaa-chan suka sekali loh dengan matanya."
"Sungguh?" Deidara menatap penuh selidik sementara Neji nyaris blushing. Ia tidak tahu hal itu.
"Iya." Tenten tersenyum makin lebar.
"Jangan bilang Paman ini pacar Okaa-chan?" Deidara menatap Neji jutek.
"Yaaay! Kita punya Papa!" Tobi tiba-tiba saja berdiri dan melakukan gerakan banzai dengan hebohnya.
Sekarang gantian Tenten yang jadi gagu. "Sudah-sudah! Sebentar lagi masakannya matang. Baik-baik dengan Paman Neji, ya." Tenten melepas pelukannya dan kembali ke dapur dengan wajah merona hebat.
"Oke!" Tobi bertepuk sekali sebelum meloncat ke atas pangkuan Neji, membuat pria itu kelabakan. "Nee, apa Tobi boleh memanggil Paman dengan Otou-chan? 'Kan , Paman pacarnya Okaa-chan."
"O-Otou-chan?" Panggilan itu terasa asing dan cara Tobi mengucapkannya membuat perut Neji geli. Namun, akhirnya ia mengangguk. "Aa."
Seketika itu juga Tobi meloncat dan menggelayut di leher Neji. Tapi, berbeda dengan Tobi, Deidara malah berubah pendiam dan memilih bermain sendiri dengan bola-bola plastiknya.
Makanan terhidang tak lama kemudian dan perhatian keduanya kembali teralih pada Tenten yang terlihat seperti ibu muda dengan dua anak. Bayangan itu membuat Neji sedikit tertegun.
"Neji-kun?"
"Hm?"
"Ayo makan!" Tenten melambaikan tangan, memintanya mendekat.
"Ayo kita makan, Otou-chan!" Tobi menarik-narik tangannya.
"Otou-chan?" Tenten menatap heran. Neji hanya memberikan gedikan samar dan mengikuti tarikan Tobi untuk duduk melingkari meja.
"Enak?" tanya Tenten. Deidara dan Tobi mengangguk penuh semangat dan kembali makan dengan lahap. Tenten tersenyum dan beralih menatap Neji.
"Yatim piatu, mereka itu," bisik Tenten pelan. "Mereka tinggal dengan seorang kerabat yang masih kuliah. Jadi aku suka menawarkan diri menjaganya saat akhir pekan sebab walinya harus pergi bekerja. Sebenarnya mereka anak-anak yang manis dan lucu. Sayang, nasib mereka jelek."
"Karena itu kau juga mengizinkan mereka memanggilmu Okaa-chan?"
"A-ahaha. Yah. Mereka senang sekali sih saat kuizinkan." Tenten berubah gugup. "Neji-kun tidak marah 'kan, mereka memanggilmu begitu?"
"Tidak." Mata Neji menatap Deidara yang sekilas meliriknya dari balik poni yang menghalangi satu matanya. "Tapi Deidara sepertinya tidak terlalu suka."
"Ah, Deidara? Dia memang anak yang sulit. Tolong baik-baiklah padanya."
Neji mengangguk paham dan sekali lagi mendapati dirinya dilirik oleh Deidara.
Hujan berganti menjadi gerimis saat mereka menyelesaikan makan siang. Namun, perut yang kenyang membuat mereka semua jadi malas bergerak. Akhirnya menonton TV menjadi pilihan. Kebetulan ada film anak-anak yang sedang diputar.
Sambil duduk berselonjoran di sofa besar yang dibelikan Neji, Tenten memeluk Tobi yang bersandar padanya. Neji duduk di sebelahnya sambil bertopang tangan pada punggung sofa.
Deidara duduk di antara mereka dengan kaki bersila. Anak itu tampak serius menonton TV, akan tetapi, Neji mendapatinya sesekali menoleh, menatap Tobi yang sekarang setengah berbaring dalam pelukan Tenten. Tanpa bicara apa-apa, Neji menarik tubuh kurus Deidara ke atas pangkuannya dan memeluknya, juga menjadikan kepala anak itu menjadi tumpuan dagunya.
Tenten menoleh dan tampak bingung sebelum Neji memberikannya satu tatapan.
Tubuh Deidara terasa kaku di atas pangkuan Neji, anak itu diam dan tidak bergerak. Tapi perlahan, tubuhnya menjadi rileks dan sepenuhnya bersandar di dada Neji. Tak lama kemudian, Deidara sudah kembali berisik dan sibuk mengomentari film yang sedang mereka tonton.
Ketika film berakhir, keduanya sudah jatuh tertidur dalam pelukan Neji dan Tenten. Tobi bergelung seperti kepompong dan Deidara berbaring di sebelahnya.
Tenten merapikan poni panjang Deidara yang menutupi wajahnya. "Terima kasih," katanya pada Neji.
Neji menggeleng. Matanya fokus menatap Deidara juga Tobi yang masih juga memakai topengnya. Sesuatu, entah apa, membuat dada Neji berdesir.
Dan tiba-tiba saja satu ide terbersit di otaknya.
"Menurutmu, apa mereka akan suka diajak ke taman bermain minggu depan?"
"Taman bermain?"
"Ya."
Tenten tertegun dalam keheranan untuk sesaat sebelum matanya melihat sebuah senyum tipis timbul dan tenggelam dengan cepat di wajah sang kekasih. "Ya. Tentu saja mereka akan senang."
[NejiTen Story—End]
.
.
.
.
Sekali dalam tiga bulan, Sasuke memiliki jadwal khusus dengan sang nona. Sasuke biasanya tidak keberatan meski harus dilakukan di hari libur. Namun, tidak dengan hari ini.
Kemarin, setelah nonanya tenang, Sasuke memulangkannya ke rumah. Mobil-mobil yang tadinya ada di car port sudah hilang entah ke mana. Sasuke tidak terlalu peduli, satu-satunya kekhawatiran adalah kondisi Sakura yang tak kunjung bangun sepanjang jalan menuju kamarnya. Pun saat ia dibaringkan di atas ranjang besarnya.
Sakura tertidur dengan jejak air mata yang begitu kentara di dalam kamarnya yang luas dan lengkap dengan segala fasilitas canggih. Ironisnya, Sasuke tahu yang Sakura inginkan hanyalah kasih sayang orangtuanya. Dengan timbunan kemewahan ini, Sakura semakin terlihat menyedihkan. Itulah yang membuat Sasuke tetap tinggal di sisinya hingga pagi menjelang.
Lalu, sekarang Sasuke sedang duduk terkantuk-kantuk di ruang tunggu rumah sakit. Nonanya sedang diperiksa sejak—entahlah, beberapa jam yang lalu semenjak hujan masih begitu deras di luar. Sasuke berusaha memejamkan matanya di antara bisik-bisik dan cekikikan perawat yang entah mengapa terus berlalu-lalang di sekitarnya. Namun, makin lama itu menjadi sulit untuk dilakukan.
Saat Sasuke memutuskan untuk pindah tempat karena tak tahan lagi, ia bertatap muka dengan dokter yang biasa memeriksa nonanya.
"Loh? Masih di sini?" tanya dokter itu keheranan. Sasuke balas menatapnya dengan heran. "Pemeriksaannya sudah selesai dari empat puluh lima menit yang lalu."
Sasuke membelalakkan mata dan tanpa bicara sepatah kata pun, bergegas mencari sang nona yang sepertinya menyelinap pergi saat ia tertidur.
Kakinya bergerak cepat menyusuri tiap lorong rumah sakit, setiap sudut, setiap tempat yang mungkin didatangi nonanya. Taman ataupun toilet—yang diganjar dengan jeritan histeris para perempuan. Namun, ia tak menemukan nonanya.
Bajunya semakin kuyup akibat keringat yang membanjir saat ia kembali mengitar rumah sakit untuk yang ketiga kalinya. Rumah sakit itu sangat luas, Sasuke merasa lututnya akan copot dan paru-parunya terbakar. Akan tetapi, itu tak menghentikan larinya, meski kepayahan, meski tak bisa bernapas sekalipun.
Sebab, ia begitu takut.
Ada banyak hal yang ia takutkan akan terjadi di hari hujan. Nonanya suka dan membenci hujan di saat bersamaan. Kelabilan emosinya membuat Sasuke harus siaga kala titik-titik air itu menderas, berjatuhan dari langit sambil membawa hawa dingin yang menusuk.
Perasaannya semakin tak tertahankan, kepalanya pun ikut berputar. Rasanya ia ingin berteriak saat sekali lagi menyusuri parkiran dan tak menemukan Sakura ataupun sekelebat saja gaun putih yang dikenakannya. Dengan frustasi, Sasuke menengadahkan wajah, membiarkan rintik gerimis membasahinya.
Lalu, ia melihatnya.
Nonanya berdiri di tepi atap rumah sakit dengan gaun putih berkibar.
Sasuke tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Tiba-tiba saja semua hal menghilang dari sekitarnya ketika ia berlari menuju atap. Yang ada hanyalah warna merah, merah, merah darah di atas gaun putih yang koyak. Darah ... di mana-mana. Di baju, sepatu, juga rambut merah muda Sakura.
"Nona!" Sasuke berteriak dengan sisa tenaga yang ada pada punggung nonanya. Di kejauhan, awan hitam menipis dan menampakkan seberkas sinar matahari yang kemilau.
Perlahan, dengan hati-hati, Sasuke mendekat. Ia bahkan takut untuk bersuara, untuk sekedar berdoa, semoga ini tidak jadi yang ketiga.
"Nona, kemarilah. Menjauhlah dari sana," bujuknya dengan suara lemah. Adrenalin yang tinggi tidak membantunya sama sekali. Ingatan buruk mengalahkan ketenangan dirinya.
Nonanya tidak menjawab, bergerak pun tidak.
Sasuke luruh, bersandar pada pintu atap dengan gagangnya yang dingin. Napasnya terengah. Padahal nonanya ada di hadapannya, tapi Sasuke terlalu takut untuk mendekat. Ia takut memperburuk keadaan jika sampai mengucapkan yang tak seharusnya.
Ketika Sasuke benar-benar pasrah dan tak tau lagi harus bagaimana, sang nona muda berbalik menghadapnya. Sinar matahari dari balik awan membingkai figurnya yang lembut.
Ia tidak tampak seperti manusia hidup.
Tapi, ia juga tidak tampak seperti orang yang sudah mati.
Ia tampak seperti malaikat. Malaikat cantik dengan senyum secerah matahari meski di balik punggungnya ia berdarah-darah, bekas sayap-sayapnya dicerabut secara paksa.
"Aku tidak akan mencobanya lagi. Cukup dua kali. Aku sudah melihat gerbang itu berkali-kali, Paman." Bahkan suara Sakura juga tidak terdengar nyata, seolah berasal dari tempat yang jauh sekali.
Sasuke melangkah mendekat.
"Setiap kali aku menggapai gerbang itu, selalu, selalu saja suaramu memanggilku untuk kembali."
Sasuke menggigit bibirnya.
"Padahal tidak ada yang tersisa. Tidak ada ayah atau ibu. Tidak juga diriku."
Sasuke membuang pandang, tak sanggup menatap ke depan.
"Tapi tetap saja Paman memanggilku untuk kembali. Kenapa, ya?"
Sasuke tersentak oleh tarikan kecil di lengan bajunya. Ketika ia mendongak, hijau zamrud itu memakunya di jiwa.
"..."
"..."
"Karena aku tidak ingin kau mati."
Sakura tersenyum. "Baiklah. Itu cukup." Sebuah tawa samar terdengar saat lengan kurus nonanya memeluk lengannya, menariknya mendekat ke tepi.
Dengan mata yang disipitkan, Sasuke melihat matahari yang bersinar dari balik awan. Lantas, dengan santainya, Sakura menyandarkan kepala di bahu Sasuke.
"Bahkan, jika besok berubah seburuk kemarin atau lebih, aku tidak akan meloncat dari atap manapun. Karena itu, kamu harus ada di sisiku." Tangan Sakura turun, menggandeng telapak tangannya. "Karena kau harus ada untukku." Dan mengangkat genggaman tangan mereka, membuat lengan putih gaunnya melorot hingga siku. Menampakkan garis-garis merah yang mulai memudar di atas nadi. "Selama-lamanya."
Ucapan Sakura terdengar seperti kontrak hidup yang seharusnya tidak diterima begitu saja, yang dibuat untuk mengikat mereka selama-lamanya. Namun, entah mengapa, saat Sakura memanggil namanya—
"Sasuke."
—Sasuke menjawab, "Ya."
[SasuSaku Story—End]
.
.
.
.
Seorang wanita menarik tepi topi lebarnya untuk menutupi wajah. Rambut biru gelapnya disanggul dan di sembunyikan di balik topi. Tas tangan yang cukup besar tersampir di punggung kursi di tepi jalan, tempat ia duduk menunggu.
Hujan sudah menyebabkan jadwal tanding sepak bola diundur hingga jauh sore. Bahkan dinginnya masih terasa hingga sekarang, membuat wanita itu nyaris tak tahan dan hampir saja berlari pulang. Tapi, ada satu hal yang ingin dilihatnya sebelum gelap turun.
Satu senyuman.
Orang-orang berhamburan dari dalam stadion yang belum lama ini juga baru ia tinggalkan. Sorak-sorai pendukung tim yang menang, menimbulkan rasa senang tersendiri di dalam dadanya. Maka dengan perasaan senang, ia merapikan blazer yang dipakainya, juga rok satin berwarna putih yang membungkus bagian bawah tubuhnya.
Tempatnya duduk sendiri cukup jauh dari lampu jalan, sedikit remang jadinya. Namun, entah mengapa, ada beberapa orang yang melihatnya di sana dan datang menghampiri.
"Hei, Cantik. Sendirian, nih?" tanya salah satu dari mereka. Di belakang sana, sorak-sorai suporter makin menjauh, membuat wanita itu takut tak bisa mendapat bantuan.
"Dingin-dingin begini, enaknya pergi minum. Mau menemani kami?"
Wanita itu mulai merutuki sendiri rencana bodohnya. Duduk di tempat remang untuk mengejutkan seseorang entah mengapa berubah menjadi ide paling bodoh yang harusnya tidak dilakukan.
"Pe-pergilah!" Dengan keberanian seekor tikus di hadapan tiga kucing jalanan, sang wanita memeluk tas tangannya di depan dada.
"Ah. Malu-malu."
Ketiga pria itu maju bersamaan, mengitari sang wanita yang terpojok di sudut kursi. Sempat berpikir untuk melemparkan tasnya sebagai pertahanan terakhir, tapi tangannya begitu gemetaran. Ini pertama kalinya wanita itu diganggu sedemikian rupa.
"Sudahlah! Jangan sok jual mahal!" Tangannya disambar dengan kasar dan ditarik menabrak dada bidang yang beraroma tembakau. Jeritannya tertahan di tenggorokkan saking takut dan terkejutnya.
Namun, pegangan itu tiba-tiba terlepas diiringi suara tubrukan yang keras. Detik berikutnya ia membuka mata, penyergapnya sudah terkulai tak berdaya di dekat kaki kursi. Dua yang lainnya sedang beradu otot dengan seseorang berbaju putih. Gerakan cepat orang itu membuat wajahnya sulit terlihat dan hanya menyisakan sekelebat warna kuning di bawah sinar redup lampu jalan. Akan tetapi, ia bisa mengenalinya.
"Pergi dari sini sebelum kupanggil polisi!" Dengan suara marah yang menggelegar, sang penyelamat menyarangkan jab terakhir pada salah satu gerombolan itu, membuat mereka lari tunggang-langgang.
Beberapa saat setelah ketiganya pergi, wanita itu masih berdiri gemetar di tempatnya, mengamati bahu lebar yang naik-turun di hadapannya juga mendengarkan tiap helaan napas kasar yang diembuskan.
"Apa ... yang ... kau pikirkan?" Tubuh di hadapannya berbalik perlahan dengan aura pekat yang menyesakkan. "Untuk apa menunggu di sini?!"
Wanita itu terlonjak dan memeluk dirinya sendiri, terlalu takut untuk melihat wajah sang penyelamat yang tak lain adalah orang yang ia tunggu.
"Hinata-chan!" Naruto menarik satu tangan Hinata dan mendongakkan dagunya dengan satu tangan yang lain. Saat manik matanya beradu dengan milik sang pacar, kemarahannya tiba-tiba saja pudar.
Hinata, dengan menggigit bibirnya, menahan tangis dengan mata merah berkaca-kaca. Gemetar tubuhnya masih sedikit terasa, membuat jantung Naruto mencelos dan tanpa bicara langsung memeluk tubuh mungil pacarnya.
"Astaga! Astaga! Maafkan aku! Aku hanya kaget ... kau tidak seharusnya menunggu di tempat remang-remang begini, apalagi sendirian!" Naruto mengusap-usap punggung Hinata.
"Hiks ..." Akhirnya tangis Hinata pun pecah juga. Dengan erat, ia menarik bagian dada jersey yang dipakai Naruto dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Gomennasai ..."
Naruto terus mengusap punggung Hinata dan menghiburnya dengan kata-kata lembut saat sebuah suara nyaring menyentakkan mereka berdua.
"KAPTEN LAGI MELUK CEWEKKKK!"
"MANA MANA MANA MANAAAAA!"
"CIEEE ..."
"BUKAN CEWEK KALI TUH! SETAN KALI!"
Naruto nyaris melempar tas Hinata akibat komentar yang terakhir. Tapi, ia sadar, melindungi identitas Hinata jauh lebih penting sekarang. Makanya, saat rombongan klub sepak bolanya mendekat dengan wajah mencurigakan, Naruto langsung memberikan ultimatum.
"Mendekat selangkah lagi, kugandakan latihan kalian!"
"Apanya! Kau 'kan bukan pelatih!" Tidak mempan rupanya.
"Berani melawan perintahku?" Naruto mengangkat bola sepak yang entah muncul dari mana seraya memasang posisi siap menendang.
Yap.
Bubar barisan.
"KAPTEN PELIT!"
"KUSUMPAHI CEPAT PU—ADAW!"
"PULANG SANA!"
Akhirnya bola itu ditendang juga dan mengenai sasaran. Tidak sia-sia dia dinobatkan menjadi MVP di laga barusan. Setelah yakin mereka pergi, Naruto berbalik menghadap Hinata yang sejak tadi berlindung di balik punggungnya dengan kepala menunduk.
"Benar-benar deh ..." Naruto menghembuskan napas lega.
"Ma-maaf sudah membuat banyak kesulitan," cicit Hinata, satu tangannya memegangi ujung jersey Naruto.
Naruto terdiam sesaat sebelum tersenyum dengan lebarnya. "Ah. Sudahlah. Dan lagi, kenapa kau pakai baju setipis ini? Apa tidak dingin?" Dengan gesit, ia membuka jersey-nya dan memakaikannya pada Hinata. "Yah, maklumi saja kalau sedikit bau, setidaknya kau tidak terlalu kedinginan."
"Ti-tidak kok ... Terima kasih." Hinata menarik jersey itu lebih rapat ke tubuhnya.
"Lalu, kenapa kau datang menonton? Ini pertama kalinya kau datang."
Naruto jelas heran. Padahal kemarin saja, Hinata menolak datang saat ia minta. Tapi sekarang, ia berdiri di hadapannya.
"A-aku pikir, tidak masalah sekali-kali datang. Aku ingin melihatmu bermain."
"Oh ..."
"Dan, satu lagi ..."
Naruto menaikkan satu alisnya. "Ap—"
Hinata berjingkat dan mengecup bibir Naruto cepat.
"Selamat atas kemenangannya."
.
.
.
.
A/N : Ini. Capek. Banget. Nulisnya. Sampe. Jam. 3. Pagi. Begini. #tepar Harusnya ini diposting dari sabtu karena temanya akhir minggu.
Apa ya, entah kenapa ini jadi punya chapter dua. Plislah. Saya uring-uringan gak dapet feel buat ngetik ff QPGWMH jadinya lari ke ff lain. Huhuhu. Saya udah usaha! Udah usaha! Tapi belum berhasil. Saya gak mau ff yang itu jadinya ancur kalau saya paksain. Jadi, yang sudah nagih di PM maupun kotak review, saya mengharapkan doa aja deh ya. Semoga saya bisa mendapat wangsit untuk final chapter-nya.
Okelah. Sekarang bahas fic ini aja.
Word count : 5k.
Yep. Lebih pendek dibanding chapter kemarin.
SaIno : ngg. Saya suka main ke pusda, jadinya mau bikin cerita pacaran di perpus (jangan ditiru ya). Tapi, sifat Ino yang legowo bolehlah ditiru.
ShikaTema : baca fic yang ini pasti gak berasa banget banget banget. Tapi saya suka banget banget banget. Sedikit info, ayah Temari juga seorang polisi yang ikut tewas akibat bentrokan antar geng waktu dia masih kecil. Makanya dia benci sama Shikamaru padahal dulunya deket. Penjelasan selengkapnya OTW ya.
GaaMatsu : kalian pasti sadar, cuma mereka yang ceritanya ringan. Jadi ya ... karena semua ceritanya mellow, saya menyisakan mereka sebagai couple yang bahagia.
NejiTen : Idenya sumpah bingungin awalnya. Tapi saya pengen banget liat mereka nikah trus punya anak. Gegara Neji gugur di manga aslinya, saya harus ngubur impian itu dalam-dalam. Hiks. Yaudah dilampiasin aja di sini.
SasuSaku : dibanding semuanya, saya paling suka yang ini. Kenapa? Karena ini cerita yang saya ambil dari background OC milik saya. Sakura yang di sini ada kemiripan sama di ff No Exit karena saya sengaja memasukkan unsur OC saya itu. Ngomong-ngomong, OC saya namanya Zaira Hisa. Dia dari keluarga broken home yang berkali-kali nyoba bunuh diri karena keluarganya hancur. Saya mau cerita lebih banyak lagi, tapi nanti jadi kebanyakan. Intinya, Sakura udah pernah nyoba bunuh diri 2 kali makanya Sasuke panik banget.
NaruHina : maaf NHL lovers, saya akui, ini cerita yang paling cepat penggarapannya, makanya kurang dapet feel (menurut saya). Tadinya bukan mau dibuat begini, tapi ya ... Lain kali saya pasti buat yang lebih baik lagi!
Oke deh. Segitu dulu cuap-cuapnya. Jangan lupa review dan pilih couple fav kalian ya~~
Jaa naaa~~~
