Ini bukanlah kehidupan yang aku inginkan
Story: Naruto
Skill Konsep: Kekuatan tujuh pahlawan Narsuvers, Infinity Durability, Teleport, Super regeneration
Genre: Adventure, Action, Matrial Arts, Gender Bender.
Char: Female Uzumaki Naruto.
Episode 2.

'Aku merasa ingin mati, tapi jika aku mati, siapa yang akang menghentikan Zetsu Hitam, jika aku mati, siapa yang akan menyelamatkan dunia shinobi, aku ingin dunia jadi lebih baik, bukan lebih buruk... aku, hik~ entah mengapa tidak sanggup menahan derita ini, siapa yang bisa aku ajak berbagi rasa sakit saat ini, tak ada satu orang pun yang mau mendengarkanku,' batin Naruto terus bergetar mengucapkan kata-kata pahit dari kenyataan yang ia hadapi atas pilihannya yang ingin kembali ke masa lalu.

'Apakah ini perasaan yang disebut penyesalan? Jika benar aku ingin melupakannya, aku tidak mau menyesal, aku harus bangkit dan mendapatkan banyak teman, agar aku bisa membagi kesedihan ini,' batin Naruto sembari meringkuk kedinginan dan menahan sakit serta nyeri di sekujur badan.

Sementara para penduduk desa Konoha sedang sibuk mencari Naruto, para klan Uchiha yang tingga di Konoha sedang sibuk mempertahankan diri dari serangan seseorang dan menewaskan banyak Uchiha yang ada hingga hanya menyisakan satu orang yaitu Uchiha Sasuke.

Naruto yang melihat hal itu melalui sihirnya hanya bisa terdiam, karena ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia cegah, yaitu kebencian Sasuke kepada Itachi, awal dari kehancuran dunia.

Naruto pun melawan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, ia berusaha untuk bergerak ke kompleks klan Uchiha dengan tujuan untuk menyelamatkan setidaknya dua atau tiga orang yang bisa ia selamatkan.

Naruto mulai mengalirkan mana yang ada di dalam tubuhnya ke kaki membuat kecepatan larinya meningkat hingga 10 kali kecepatan maksimal yang bisa Naruto tempuh tanpa chakra, yaitu 1000 km/jam.

"Sasuke, kupastikan kau bukan lagi Uchiha terakhir di Konoha," gumam pelan Naruto sembari berlari dengan cepat melewati hutan belantara dengan kecepatan di atas rata-rata manusia normal.

Wusssh!

Whuuussh!

Naruto berlari dengan kecepatan luar biasa, tak jarang ia juga melompat dengan ketinggian dan kecepatan yang sangat tinggi, Naruto mulai melompati dahan-dahan phon dan ia selalu memijakan kakinya dengan sempurna dan mendorong tubuhnya ke udara dengan sangat cepat.

Tap tap tap tap.

Wush tek tek.

Naruto berhasil mendarat di halaman kompleks perumahan klan Uchiha, disana terlihat gelap dan sepi, tidak ada satu rumah pun yang menampakan cahaya, Naruto yang sudah cukup lama memata-matai desa Konoha dengan kemampuannya yang sama dengan kemampuan Hokage ketiga yang menerawang desa Konoha dengan bola Kristal, membuat Naruto bisa mengetahui dengan mudah letak rumah Sasuke.

Dengan cepat Naruto berlari memasuki rumah Sasuke dan secara perahan memasuki rumah salah satu keluarga Uchiha di sana, lalu memasuki sebuah pintu yang cukup misterius, saat dibuka isinya terlihat sepasang suami istri sedang terbaring bersama dengan luka tusukan pada bagian perut mereka, Naruto yakin mereka berdua adalah orang tuanya Sasuke.

Sekarang pertanyaannya di mana Sasuke dan Itachi, jawabannya sedang main kejar-kejaran, yang lebih tepatnya Itachi mengejar Sasuke yang kabur.

Naruto mendekati dua mayat Uchiha yang ada di depan matanya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah keluarga dari Sasuke, yaitu Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto.

Dengan cepat Naruto menyentuh kedua tubuh jasad Uchiha yang ada di hadapannya dan secara cepat lingkaran sihir dengan sinar yang sangat terang muncul, dan dengan sekejap luka yang ada di kedua jasad itu tertutup, jantung yang berhenti berdetak kembali berdetak, dan kerusakan-kerusakan lainnya serta masih banyak lagi yang Naruto lakukan, hingga akhirnya kedua Uchiha itu kembali bernapas dan membuka mata.

"Siapa kau dan apa yang kau lakukan?" tanya Fugaku dan Mikoto pada Naruto yang sedang Fokus pada Healing magic miliknya, yang berasal dari Heroic spirit Caster Medea, yang merupakan murid dari dewa sihir Yunani tentu kekuatan sihirnya tidak bisa di anggap remeh, apa lagi jumlah pasukan mana yang Naruto miliki itu jumlahnya sangatlah tidak terbatas.

Naruto, gadis kecil cantik berkulit tan dengan warna rambut white rose berusia 5 tahun mengenakan pakaian yang sudah tak layak pakai itu kaget dengan suara, ternyata kedua orang tua Sasuke sudah bangun, Naruto pun menghentikan proses sihirnya, lalu tersenyum ke arah mereka hingga akhirnya otot tubuh Naruto menjadi tegang dan roboh di depan mereka bedua.

Grep.

Dengan cepat Mikoto menangkap tubuh mungil Naruto, "tubuhnya panas sekali, bagaimana ini sayang?" ungkap tanya Mikoto tentang kondisi Naruto pada Fugaku.

"Hn, kita rawat dia sampai demamnya sembuh, kurasa itu adalah hal yang harus kita lakukan untuk membalas budi padanya," jawab Fugaku dengan santai, Mikoto pun tersenyum lalu membawa Naruto ke kamarnya Itachi lalu mulai merawatnya.

"Kau jaga anak ini, aku akan mencari Sasuke," perintah Fugaku pada saat itu pada Istrinya, lalu ia pergi keluar rumah, untuk mencari anaknya yaitu Sasuke. Sementara Mikoto yang mendengar perintah atau sebernarnya itu adalah permintaan dari suaminya hanya mengangguk lalu pergi ke dapur untuk mengganti air kompresan untuk menurunkan suhu badan dari Naruto.

Ke esokan harinya

Sinar mentari pagi yang cukup terang mengenai wajah seorang gadis berambut white rose pajang terikat, berkulit tan, mengenakan pakaian gadis desa yang cukup sederhana dan juga rusak akibat banyaknya serangan, terbangun sembari memegang kepalanya yang terasa sakit.

"Engh~" gadis itu duduk dari tempat tidurnya lalu merentangkan kedua tangannya, dengan tampang malas ia merasakan kalau saat ini ia masih ingin tidur "Sampai saat ini rasa sakit akibat serangan mereka masih bisa ku rasakan," gumam pelan Naruto.

"Aku harus segera pulang, aku tidak mau berurusan dengan masalah yang lebih besar," gumam pelan Naruto sembari berjalan santai menjauh dari tempat itu dan membuka pintu kamar dan segera berlari keluar rumah melalui pintu dapur, namun sialnya saat ia membuka pintu dapur, Mikoto, Fugaku dan Sasuke ada disana.

Kreeeet.

"!" Naruto dan Sasuke Uchiha saling pandang, 3 Uchiha yang ada di dapur menatap ke arah satu orang, yang tidak lain tidak bukan, gadis kecil cantik dengan warna rambut yang sangat jarang di temui, berkulit tan dan usianya satu tahun di bawah Sasuke mengenakan baju yang sobek-sobek, ya kalian taulah penyebabnya, ia adalah Uzumaki Naruto, mereka berempat saling menatap dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Naruto membuka suara.

"Eh heheehehehe, kelihatannya aku salah kamar, sebaiknya aku pergi," tawa hambar Naruto membuat, suasana ruangan tambah kurang mengenakan, hal itu membuat Naruto cepat-cepat pergi dari saja, namun sayang tangannya di hentikan seseorang.

Tap

"?" kali ini Naruto kebingungan dengan sesuatu yang menahan tangan kananya, memang sih dengan kekuatan fisiknya yang mencapai tenaga 1 ton lebih, hal kecil semacam ini tidak akan menjadi masalah, namun ia penasaran siapa yang menahan tangannya, dan kenapa begitu lembut tidak sekasar para penduduk desa jika sedang menangkapnya.

Naruto memandang ke arah belakang dengan pandangan penuh tanya, terlihat seorang lelaki berambut Raven gaya emo berdiri kebelakang seperti ekor ayam, mengenakan baju biru dongker dilengkapi lambang Uchiha pada punggung nya.

"Ayah dan ibuku ingin membicarakan beberapa hal denganmu, jadi, bisakah kau tidak pergi sementara waktu sampai urusan ayah dan ibuku denganmu selesai?"pinta dan tanya Sasuke kepada gadis cantik yang ada di hadapannya.

Naruto hanya mengangguk dan mengikuti Sasuke lalu duduk di kursi tempat keluarga Uchiha duduk untuk menikmati makanan, Naruto merasa kurang nyaman dengan pandangan keluarga Uchiha kepadanya, apalagi, bajunya sudah tidak menutup tubuhnya dengan baik.

Naruto yang merasa kurang nyaman dengan hawa sekitar langsung memeluk tubuhnya sendiri menutupi bagian tubuhnya yang tidak bisa di tutup oleh pakaiannya.

"Tolong katakan urusan kalian secepatnya, aku merasa kurang nyaman dengan suasana di rumah kalian," ungkap Naruto yang tidak tahan ditatap oleh keluarga Uchiha yang ada di hadapannya.

Mikoto dan Fugaku saling pandang satu sama lain, mereka pun menatap kembali Naruto dan mulai mengutarakan pikiran mereka.

"Ehem eeeem~~, pertama-tama, kami mengucapkan terima kasih, karena telah menyelamatkan kami dari kematian, eeee~~ anu, siapa yah?" ungkap Mikoto dibarengi dengan pertanyaan di akhir kalimatnya.

"Naruto, Uzumaki Naruto," jawab Naruto dengan

"Uzumaki Naruto, j-jangan bilang kau anaknya Kushina?" tanya Mikoto pada Naruto, namun ia agak ragu karena wajahnya dan juga warna rambutnya juga tidak ada mirip-miripnya dengan Kushina

"Kushina, siapa itu?" tanya Naruto, ia pura-pura tidak mengetahui siapa ibunya, karena aneh rasanya, jika seseorang lahir disaat bersamaan adalah hari di mana orang tuanya mati bisa mengenal orang tuanya.

"Eh? Kamu tidak tau, Kushina itu juga Uzumaki loh, rambutnya merah, ia adalah sahabat bibi,"

"Mungkin memang benar, tapi aku tidak bisa mengiyakan, karena saat aku lahir mereka sudah tiada, jadi aku tidak tau, apakah Kushina memang ibuku atau bukan," ungkap Naruto.

Mikoto nampak mewajarkan jawaban dari Naruto karena memang benar, Kushina dan Minato sudah tewas setelah penyerangan Kyuubi hari yang bertepatan dengan hari kelahiran anak dari Kushina.

"Kalau begitu, siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau mencegah kematian kami berdua di saat kami sedang sekarat?" kali ini Fugaku yang bertanya dengan wajah tegasnya, Sasuke anak dari Fugaku dan Mikoto menatap tak percaya ke arah Naruto, karena ia tidak yakin anak kecil seperti Naruto bisa melakukan hal semacam itu.

"Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang yatim piatu yang menggantungkan hidupnya pada uang bulanan berian kakek hokage ketiga," jawab Naruto dengan santai.

Fugaku tidak mempercayai ucapan Naruto, begitu juga Mikoto, mereka berdua nampak mencurigai Naruto dari kemampuannya yang sangat tidak normal.

"Benarkah begitu? Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang ninjutsu medis yang kau gunakan untuk menyembuhkan luka kami?" tanya Fugaku dengan sedikit intimidasi.

Naruto terdiam, ia menatap Fugaku dengan wajah santai, karena intimidasi yang dikeluarkan Fugaku sama sekali tidak membuatnya takut, sehingga ia masih bisa santai dimana orang lain akan tegang oleh suasana tersebut.

"Bisakah kalian tidak mengurusiku seperti ini?" tanya Naruto pada saat itu, ia mulai merasa jegah saat ditanya macam-macam.

"Kalau begitu apa alasanmu menyelamatkan kami?" kali ini Mikoto yang bertanya, Sasuke masih mendengarkan dengan cermat isi diskusi yang di adakan oleh kedua orang tuanya dan Naruto, gadis kecil berambut white-rose yang katanya telah menyelamatkan kedua orang tuanya dari kematian.

Naruto yang mendengar pertanyaan dari Mikoto jadi kebingungan, ia bingung mau menjawab apa saat ditanya seperti itu oleh Mikoto.

"Aku juga tidak bisa menjawab pertanyaanmu, maaf, aku harus pulang," kali ini Naruto berdiri dari tempat duduknya dan mencoba pergi, namun tangan Sasuke langsung menahannya kembali.

"Mau pergi kemana? Kau belum menjawab pertanyaan ibuku!" ucap Sasuke dengan nada dingin, Naruto menghentikan langkahnya.

"Apa sebegitu pentingnya alasanku bagi kalian?" tanya Naruto pada mereka semua.

"Tentu saja, karena jika tujuanmu tidak jelas, kau bisa dicurigai banyak orang,"

Naruto kembali terdiam, ia menatap ke arah Mikoto dan Fugaku dan juga Sasuke yang masih setia menahan tangan kanannya secara bergantian.

"Aku yakin para warga Konoha akan lebih suka jika aku mati atau di hukum penjara seumur hidup, dari pada mendengar alasanku menyelamatkan kalian" Naruto menarik lengannya dari genggaman Sasuke lalu pergi meninggalkan mereka.

"Bu, apa ibu tau maksud dari perkataannya?" Sasuke bertanya dengan Mikoto, Mikoto pun menggeleng, Sasuke menatap sang ayah, namun hasilnya sama, yaitu gelengan kepala yang artinya tidak tau.

Sasuke jadi penasaran akan maksud dari ucapan Naruto barusan dan memutuskan untuk pergi mengikuti Naruto dari jauh.

"Mau kemana Sasuke?" tanya Mikoto pada anaknya.

"Aku penasaran dengan perkataannya, makannya aku pergi untuk mencari tau maksud dari ucapannya," jawab Sasuke lalu pergi meninggalkan rumah, Mikoto hanya tersenyum melihat anaknya, begitu juga dengan Fugaku.

"Sayang, apa kita juga harus ikut?" tanya Mikoto pada suaminya.

"Kurasa tidak perlu, biarkan Sasuke menjalankan keputusannya," jawab Fugaku sembari menatap ke arah depan.

"Oh iya, kita lupa untuk mengajaknya makan bareng," ucap Mikoto sembari melihat jumlah masakan yang ia masak.

"Kau membuat satu porsi lagi untuknya, baik sekali,"

"Yah, walau bagaimanapun dia telah menyelamatkan hidup kita," ungkap Mikoto pada saat itu.

Kembali ke arah Naruto.

Terlihat Naruto berjalan menuju ke keramaian, sementara Sasuke mengawasi Naruto dari jauh.

"Sebenarnya apa yang dipikirkannya, kenapa ia mengatakan kalau warga desa Konoha akan lebih senang ia mati atau menderita, ketimbang mengetahui siapa dirinya?" gumam Sasuke dengan nada penuh tanya, ia tidak mengerti dengan pemikiran Naruto, gadis usia lima tahun dengan rambut berwarna white rose terikat, mengenakan pakaian sederhana yang sudah tidak layak pakai.

Namun pertanyaan-pertanyaan itu, langsung terjawab ketika Naruto sudah berada di keramaian desa Konoha, di sana terlihat jelas kalau setiap warga desa yang melihat Naruto, mereka langsung menatap Naruto dengan pandangan jiji marah dan lain sebagainya, tidak ada yang memasang tampang marah dan senyum indah, seperti yang orang-orang lakukan saat berpapasan dengannya.

'Apa-apaan itu, kenapa dia dipandang seperti itu oleh masyarakat?' tanya batin Sasuke dengan pandangan tak percaya, ia tak menyangka kalau seorang gadis kecil anak perempuan yang masih dalam masa pertumbuhan dipandangi dengan tatapan yang sangat tidak mengenakan.

Keterkejutan dan ketidak percayaan Sasuke semakin besar ketika wajah Naruto dilempari telur hingga pecah.

Plak plak plak!

Karena hal itu, wajah dan pakaian Naruto menjadi kotor.

'Apa yang mereka lakukan, ini tindakan yang tidak bisa dibenarkan, aku harus menghentikan ini,' batin Sasuke yang melihat hal demikian.

Terlihat Naruto tidak memperdulikan hal itu, ia tetap berjalan melewati para warga yang melemparinya dengan berbagai macam benda, mulai dari telur, batu dan lain sebagainya, bahkan benda-benda itu dilempar dengan tenaga penuh.

Sakin kuatnya lemparan itu, Naruto sempat oleng dalam berjalan, terseret tenaga batu yang dilemparkan ke arahnya, apalagi sekarang ia sedang dalam keadaan lapar, Sasuke semakin terperangah melihat mata Naruto mengeluarkan cairan bening, yang bercucuran.

"Pergi sana mahluk terkutuk!"

"Gara-gara kau banyak keluarga kami yang meninggal!"

"Dasar anak Kyuubi!"

"Bocah Rubah!"

Mereka terus meneriakan hal itu saat menyerang Naruto

"Cih ini tidak bisa dibiarkan," gumam Sasuke, Sasuke dengan cepat berlari ke arah Naruto yang mendapatkan hujanan serangan warga.

Deeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnng!

Suara dengungan logam padat yang sangat keras terdengar, ketika seorang lelaki berlari kencang ke arah Naruto dan menghantamkan pemukul baja ke arah kepala Naruto, Sasuke kaget ia terpaku melihat hal itu.

Naruto terlihat terlempar ke arah belakang dan saat jatuh ketanah tubuhnya terguling-guling ditanah.

Ngiiiiiiiiiiiing!

Kepala Naruto terasa berdengung, Sasuke juga sempat kagum akan tubuh Naruto yang sama sekali tidak terluka meski dihantam dengan baja keras pada bagian kepala.

"Dia jatuh, Ayo serang!"

"Aaaaaa! Bunuh Kyuubi!"

Bugbag dug bag deng tank Deg!

Naruto pun langsung digebuki masa saat ia terkapar ditanah, Sasuke lagi-lagi hanya bisa diam melihat Naruto diserang dengan sangat brutal, dengan menggunakan palu pedang, dan benda keras lainnya dipukulkan ke arah gadis berusia 5 tahun itu tanpa kompromi.

"Aaaarrrrrrrrrrrrrggghh! Hentikaaan!" teriak Naruto yang kesakitan.

"Tolong! Siapapun tolong aku! Tolong lepaskan aku dari siksaan ini!" teriak lirih Naruto, namun karena para warga mukulinya dengan suara-suara hujatan mereka, suara Naruto pun tidak terdengar.

Sasuke hanya bisa diam melihat penyiksaan itu, sebenarnya jika Naruto mau, ia bisa saja lepas dengan cara melawan, namun, apa daya, ia tidak ingin kalau dirinya semakin di salahkan, itu sebabnya ia menyembunyikan kekuatannya dan berpura-pura lemah.

Sasuke juga melihat ada darah keluar, Sasuke mengira kalau Naruto sudah tidak bisa diselamatkan lagi, wajahnya mengeras, yah Naruto berdarah, karena meski tubuhnya sangat keras, dan tidak akan hancur, namun seperti dalam perjanjian dalam episode pertama, dikatakan masih ada bagian tubuhnya yang bisa terluka, walaupun akan sembuh dengan cepat, yaitu, ujung jari tangan dan jari kaki, atau kuku-kukunya lah yang bisa terluka. lalu matanya, dan yang terakhir adalah alat kelaminnya, hanya bagian itu saja yang bisa dilukai.

Jadi darah yang mengucur keluar jelas berasal dari kuku tangannya yang terlepas. Sasuke tercengang, namun ada sebagian dari dalam dirinya yang tak menerima hal itu, matanya tiba-tiba berubah menjadi merah dengan dua tomoe mengitarinya.

"Kalian, hentikan... hentikan tindakan kalian! Kanton Goukakyo no jutsu!"

Whusss

Bola api melesat ke arah mereka.

"Awas serangan!" seru salah seorang warga mereka pun menghindar, bola api yang Sasuke keluarkan seketika lewat dengan cepat, Sasuke langsung melesat menangkap Naruto yang terbaring pingsan di tanah dalam keadaan kotor dan pakaian yang sudah sangat rusak dan sudah tidak bisa menutupi tubuhnya lagi.

Sasuke membawa Naruto yang tengah pingsan ke rumahnya, dan saat sampai di rumah, Sasuke berlari dengan panik sembari memanggil orang tuanya.

tek tek tek brak!

Sasuke berlari sembari membuka pintu dengan kasar dan berteriak memanggil orang tuanya untuk meminta bantuan

"Ayah-ibu di mana kalian!"

"Ya Sasuke ada apa?!" tanya sang ibu sembari berlari keluar dari dapur, Mikoto nampak kaget melihat, Sasuke menggendong Naruto dengan memampah punggung dan kaki Naruto dengan kedua tangannya, atau seperti seorang suami yang menggendong istrinya ke kamar, namun bukan itu yang membuat MIkoto kaget, melainkan, jari-jari tangan dan kaki Naruto berserta bagian matanya mengeluarkan darah dan bagian ehem v****a miliknya berdarah seperti di injak dengan keras, lalu pakaian yang hancur dan hanya tersisa sehelai dan menutupi bagian setengah badannya saja.

"Astaga Sasuke apa yang terjadi padanya?!" tanya kaget Mikoto pada anaknya.

"Sudah tak usah pikirkan itu, sebaiknya, ibu cepat-cepat merawatnya karena ia bisa mati!" seru Sasuke sembari menyerahkan Naruto yang sedang pingsan, Mokoto mengangguk dan langsung mengambil Naruto dari gendongan Sasuke lalu membawanya ke kamar, Fugaku juga ikut melihat kondisi Naruto yang sekarang sedang dipasangkan selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Sasuke, bisa kau katakan apa yang terjadi padanya?" tanya Fugaku, tangannya terkepal erat, ia tidak terima kalau orang yang telah menyelamatkan hidup keluarganya mengalami sesuatu yang seperti itu.

''Mungkin ayah dan ibu tidak akan percaya apa yang terjadi padanya, kalau tidak melihatnya secara langsung, tapi aku akan mengatakan semuanya secara jujur, soal ayah dan ibu mau percaya atau tidak itu masalah belakangan." Sasuke langsung menatap kedua orang tuanya dan menceritakan semua kejadian yang ia lihat dan semua yang ia rasakan, orang tua Sasuke merasa ada yang janggal dalam cerita Sasuke, karena jika memang benar Naruto di serang dengan sangat brutal dan menggunakan berbagai macam alat, sudah pasti tubuh gadis ini akan banyak darah, tapi yang memiliki darah hanya bagian mata, ujung jari, lalu alat kelaminnya saja itu pun saat darah itu dihilangkan terlihat baik-baik saja.

"Sasuke, apa kau yakin dengan apa yang kau katakan, maksudku, jika memang benar ia diserang sebrutal itu, kenapa darahnya hanya sedikit?"

"Aku juga tidak tau ayah, tapi itulah yang terjadi," jawab Sasuke.

"Engh, dimana aku?" tanya Naruto, ketika ia membuka mata.

"Naruto-chan, kau diam saja disini yah, kau masih belum pulih," ungkap Mikoto sembari mengelus kepala Naruto dengan pelan. Naruto tersenyum kecil ketika kepalanya di elus oleh Mikoto, ia pun kembali memejamkan matanya.

"Terima kasih," gumam pelan Naruto.

"Yah sama-sama," jawab pelan Mikoto dengan air mata yang bercucuran, ia mengelus kepala Naruto.

Rambut Naruto yang berwarna White Rose dan kulit yang berwarna tan, di padui dengan mata yang berwarna putih yang dicampur dengan warna merah kaca, membuat Naruto nampak cantik meski hanya mengenakan selimut sebagai penutup tubuhnya.

Mikoto pun mengajak Sasuke dan suaminya keluar kamar, diluar Mikoto bertanya pada Sasuke.

"Sasuke," panggil Mikoto

"Ya bu?" jawab Sasuke pada panggilan sang ibu dengan nada penuh tanya.

"Tadi ibu lihat bagian itunya berdarah, jangan bilang ia?"

"Tadi aku melihat ibu-ibu yang mengenakan sepatu hak tinggi menendangnya," jawab Sasuke secara spontan.

"Akan aku hajar orang itu jika aku sampai menemukannya!" seru Mikoto sembari mengepalkan kedua tangannya, hingga terdengar bunyi tulang yang bergemelutuk di jari-jari tangannya.

"Kaa-san," gumam Sasuke sembari berjalan mundur ketakutan, sementara Fugaku hanya bisa bersiul-siul lalu mencoba menjauh dari istrinya yang sedang naik darah.

"Se-selain itu, mereka juga meneriakan Naruto dengan mengatai kalau Naruto a-adalah jelmaan kyuubi," tambah Sasuke.

"Sasuke, tadi kau bilang mereka bilang Naruto adalah jelmaan Kyuubi." Mikoto mengarahkan pandangan tajamnya ke arah Sasuke.

"Aku memang tidak mengerti, tapi itulah yang aku dengar, mereka mengatakan Naruto adalah bocah iblis, pembawa sial dan lain sebagainya, mereka ingin Naruto bertanggung jawab atas kejadi 10 oktober yang dimana siluman rubah berekor sembilan muncul dan memporak porandakan desa," jawab Sasuke sembari berjalan mundur menjauhi ibunya.

"Opini bodoh dari mana itu?!" seru Mikoto dan yang jadi sasaran kemarahannya adalah Sasuke, Sasuke tak bisa berbuat apa apa, selain duduk seija, menundukan kepala dan mendengarkan ceramah panjang sang ibu yang mencapai satu jam lebih.

Di dalam kamar.

"Ribu sekali, aku tidak bisa tidur," gumam Naruto lalu bangun dari tidurnya, ia nampak kaget melihat tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benangpun kecuali selimut.

"Sial bajuku pasti sudah hancur, huf, sebaiknya aku menggunakan kemampuan Emiya untuk sementara," batin Naruto sembari memejamkan mataya dan membayangkan sebuah model baju yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya "Trace on"

Treeeet sriiiiing.

Sebuah sinar energy muncul dari tubuh Naruto menyelimuti seluruh tubuhnya dan mulai membentuk sebuah kain, berwarna hitam untuk menutupi bagian dada, lalu di ikuti dengan baju kemeja tanpa kima berwarna merah menututupi bagian lengan nya membentuk seperti rompi jubah, di bagian bawah, terlihat mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan kain merah yang menjuntai sebagai penghias (Untuk lebih jelas lihat gambarnya, karena kadang Author tidak pandai menggambarkan model baju).

Selain itu ia juga mengenakan sepatu yang panjang hinggan menutupi bahanya, kain merah itu menempel di ikat pinggangnya mengitari pinggulnya dan akhirnya hampir menyerupai rok hanya saja, bagian depan tidak tertutup dengan tujuan agar bisa berlari cepat, Naruto pun keluar dari kamar.

"Bisakah kalian tidak ribut, kepala dan tubuhku terasa sakit, aku juga sedang lapar," keluh Naruto dengan nada lemah, Mikoto, Fugaku dan juga Sasuke kaget melihat model pakaian Naruto, yang entah dapat dari mana anak itu.

Mikoto mengesampingkan masalah sepele itu dan tersenyum ke arah Naruto lalu berkata.

"Kau lapar?"

"Iya aku sangat lapar," jawab Naruto dengan tampang lemahnya dan...

Kruuuk...

Perutnya tiba-tiba berbunyi, hal itu membuat, seluruh keluarga Sasuke langsung menahan tawa, termasuk Sasuke sendiri.

"Pifff..."

"Mooo.. sudahlah aku tidak bisa tidur gara-gara kalian, aku ingin pulang!" seru Naruto lalu pergi meninggalkan mereka, namun.

Tap...

Tangan Sasuke menggenggam lembut tangan Naruto.

"Sudah, ayo ikut kami, kita makan bareng, setelah sudah makan kau boleh pergi," ungkap Sasuke sembari menahan tawa karena mendengar suara perut perempuan itu sangat jarang sekali baginya, mua Naruto nampak sedikit memerah karena malu, ia tau Sasuke menertawakan suara perutnya.

"Em," dengan wajah tertunduk Naruto berjalan menuju dapur bersama Sasuke.

"Oh iya, dari mana kamu dapat baju itu?" tanya Sasuke, Fugaku dan Mikoto yang juga penasaran ikut menatap Naruto dan mencoba mendengarkan jawabannya.

"Aku membuatnya dengan sihir," jawab santai Naruto.

"Sihir?"

"Em,"

"Ah ya sudahlah, ayo." Akhirnya, Naruto pun makan bersama keluarga Sasuke, dalam hati ia hanya bisa tersenyum dan membayangkan kalau ayah dan ibunya masih hidup, mungkin beban deritanya bisa berkurang dengan menatap wajah bahagia mereka dan makan bersama mereka, seperti yang terjadi saat ini.

Bersambung