TAP
TAP
TAP
Langkah itu kian melambat, dan akhirnya terhenti.
Mata emeraldnya memandang penuh kebencian pada objek yang tak jauh didepannya itu. Namun, tak berarti bagi sosok untuk mundur satu langkah, bahkan laki-laki berambut perak itu tersenyum penuh arti dan kian mendekat kearahnya.
"Ulquiorra"
Nadanya begitu terkesan seperti teguran daripada sapaan. Tapi, pemuda emo itu hanya mengacuhkannya, ia mengambil langkah untuk pergi dari laki-laki itu, sebelum..
"Aizen-sama dan para petinggi Yamaguchi-gumi menunggumu dilantai atas, mereka mengadakan rapat tiba-tiba pagi ini-
Ulquiorra menunggu lanjutan dari kalimatnya itu seksama, "Perihal misimu kemarin dan masalah yang akan dihadapi Yamaguchi-gumi sekarang"
"Seharusnya bisa kau sampaikan tentang misiku yang kemarin gagal kepadanya, lagipula kau juga tahu akan hal itu bukan?" ujarnya sarkatis.
"Kalau kau memulai perdebatan di pagi ini aku akan melayanimu dengan senang hati. Tapi mereka yang diatas sana bukan orang sabar menunggumu"
"Hmm… Biar kutambahkan lagi, apa kau masih memegang janjiku kemarin?"
"Aku tak butuh janjimu itu. Aku akan mengatakannya dengan jelas kepada mereka yang sebenarnya, terlebih jika kau kusingkirkan dahulu dari sini," sergahnya yang sudah melewati sosok Gin Ichimaru itu.
Terlihat Ulquiorra menjauh darinya, membuat Gin hanya mendecih pelan. Ia memang tak pernah mengerti dengan sosok pemuda emo itu. Arogan, angkuh, jenius, perfeksionis dan masih banyak kata-kata yang tak mampu diutarakan untuk menggambarkan sosoknya, tapi yang jelas Ulquiorra yang sekarang ini tak jauh seperti Ayahnya. Ulquiorra Schiffer memang cukup handal dalam menjaga semua rahasianya dengan rapi dan berusaha hanya dirinya seorang yang bisa membukanya tanpa campur tangan orang lain.
.
.
.
.
Yami (The Darkness)
Bleach Tite Kubo
.
.
.
.
Rated : T
.
.
.
Warning : Typo, AU, OOC, DLDR
.
.
.
.
Chapter 2 : Clan
.
.
.
.
"Apa bisa dimulai rapat ini sekarang?"
"Belum, tunggulah sebentar Zoomari," ujar Aizen yang tengah menyesap ocha-nya.
Laki-laki yang sejak tadi tak minat terhadap rapat ini hanya terus menguap,"Kami sudah menunggu kurang lebih 20 menit, ternyata putramu yang hebat itu bisa tidak tepat waktu juga,"
"Cepat kita mulai rapat ini, kau tahu Aizen-san aku masih banyak 'pekerjaan' yang belum diselesaikan," ujar Tosen.
"Ngomong-ngomong kudengar dari kabar yang beredar beberapa saham kita diambil alih oleh klan Sayuki-kai. Sepertinya belakangan ini banyak sekali pengkhianat dalam klan kita," papar Zoomari.
"Kupikir kita bisa mengandalkan kekuatanmu Aizen-san, untuk masalah kecil seperti ini putramu bisa mengatasinya kan?"
"Dia hanya menjadi pionku saja, tentu saja ia bisa"
"Kau licik juga ya… Biar kutebak apa Istri- maksudku mendiang Istrimu juga dijadikan pion semata?," Ujar pemuda berkulit tan ini, Yylfordt Granz.
Aizen mengangguk pasti,"Tidak ada alasan lain untuk membunuhnya waktu itu. Aku hanya menginginkan putraku yang sempurna dari dirinya, sebagai nilai tambahan wanita itu memiliki jaringan kuat diberbagai perusahaan besar di Jepang. Hal itu sangat kumanfaatkan, ketika ia sudah tak dibutuhkan lagi, apa harus kubiarkan wanita itu berlama-lama di dunia ini?"
"J-jadi kau membunuh Istrimu sendiri" Granz memandang Aizen tak percaya, padahal kalau boleh dibilang mendiang istrinya adalah wanita baik dan setia, kenapa sampai hati Aizen melakukan itu.
"Pasti putramu sangat membenci ayahnya ini"
Mereka tidak tahu dibalik dinding itu ada seseorang yang bersembunyi di dalam bayangan cahaya lampu dilorong. Tangan pemuda itu mengepal kuat, seakan-akan amarahnya bisa meledak kapan saja, apalagi setelah mendengar Ibunya dibunuh oleh Ayahnya sendiri. Ini sudah keterlaluan ia tak bisa menahannya lagi. Ulquiorra memantapkan dirinya untuk memberi sedikit pelajaran pada Aizen, mungkin kini ia buta oleh status laki-laki itu sebagai Ayahnya. Singkat waktu ia sudah menapakkan kakinya didepan pintu tatami itu, lalu ia geser pintunya.
"Selamat datang putraku, kami sudah lama menunggumu"
Rasa sesak didadanya luntur begitu saja ketika melihat senyuman Ayahnya. Seolah membeku dalam sesaat, ia benar-benar tak bisa bergerak dan hanya mematung ditempatnya. Sebenarnya apa arti senyuman itu?
"Cepatlah duduk dan kita selesaikan rapat ini"
Ulquiorra sudah kembali dari dunianya, tanpa banyak bicara ia mengambil tempat bersebrangan dengan Ayahnya. Tidak ada perubahan dari raut wajah Aizen tetapi sesaat iris coklat bertemu dengan mata putranya. Tatapan itu seperti memberi peringatan keras padanya.
Jangan melakukan hal bodoh Ulquiorra, atau kau akan tahu akibatnya
Sekiranya itu yang bisa ditangkap oleh mata emerald, Ulquiorra. Ia memakki dirinya yang bisa-bisanya terjerat oleh senyum palsu ayahnya. Aizen seakan tahu aura kebenciannya ketika memasuki ruangan itu. Sekarang ia hanya terdiam dan mendengarkan para petinggi itu memulai rapatnya.
"Lalu masuk kepermasalahan misi kemarin. Kami mempercayaimu Aizen-san, khususnya putramu untuk menjalakan tugas ini. Jadi sekarang kami meminta pertanggung jawabannya," jelas Tosen.
"Bagaimana misimu kemarin, Ulquiorra Schiffer?," tanya Granz.
Pertanyaan yang tak pernah ia tunggu akhirnya datang juga, ia memang belum mendapatkan jawaban dari misi ini. Ulquiorra mulai berpikir keras untuk membuat keputusan, apa ia harus mengemukakan yang sebenarnya atau menyembunyikannya dengan jawaban lain. Ayolah seorang Ulquiorra tidak mungkin terjebak pada situasi yang bisa ia atasi dengan baik, bukan?.
"Misiku yang kemarin sesuai dengan yang direncanakan dan apa yang klan ini inginkan. Tapi waktu itu, kami sedikit menga-
"Iya, kami tahu maksudmu Ulquiorra. Sebenarnya pertanyaan itu tidak harus dilontarkan, Ulquiorra adalah orang yang hebat dalam menjalani tugasnya, mengapa kita harus meragukannya?," potong Starrk.
"Kita hanya mengevaluasi saja, lagipula tak ada salahnya mendengar jawaban itu langsung darinya," ucap Zoomari membenarkan kalimat rekannya yang terlampau santai dan menggampangkan semua hal.
"Baiklah kalau begitu. Masalah penyerangan kediaman mantan Yamaguchi-gumi itu terselesaikan. Selanjutnya ke inti permasalahan"
"Tugasmu sudah selesai Ulquiorra." Aizen mengisyaratkan Ulquiorra melalui matanya.
"Hai, aku mengerti"
Tanpa menunggu perintah lagi pemuda bersurai hitam itu pergi meninggalkan ruang rapat. Benar-benar membuang waktu pikirnya. Hanya untuk mendengar tentang hasil misinya kemarin, para petinggi itu repot-repot datang kesini. Tapi setidaknya Ulquiorra bisa memberi jawaban tentang misinya, walaupun ia tidak mengatakan 'gagal' atau 'berhasil', pastinya para petinggi itu akan tetap mempercayainya.
Akhirnya Ulquiorra memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Setelah memasuki ruangannya itu yang sudah lama tak ia tempati, ia edarkan kepalanya ke sekeliling. Sepertinya tak ada yang berubah. Kamar yang bercat putih dengan dekorasi minimalis itu, tampak menggambarkan sosoknya. Saraf-sarafnya yang sudah tegang, akhirnya rileks ketika sang empunya merebahkan diri di tempat tidur. Mata emeraldnya menutup perlahan, tubuhnya seperti remuk sehabis menjalankan misi 'gagalnya' itu. Masih terbayang postur tubuh anak buah mantan Yamaguchi-gumi itu yang besar, dan tentunya kita tak perlu tahu akan kekuatannya lagi. Baru saja ia menyelami dunia mimpinya, ponselnya itu berdering keras.
New Message
Ulquiorra tak perlu mengira-ngira lagi siapa yang memberi pesan itu. Ia baru menyadari kalau tadi pagi pemuda itu langsung pergi dari Apartemen gadisnya. Gadis senja itu tertidur begitu pulas didekapannya semalam. Lagipula ia tak berniat membangunkan malaikatnya itu bukan?
Malaikat?
Kata-kata itu seperti kian menghinanya, kalau gadis itu malaikat lantas ia seorang iblis. Iblis berbentuk manusia yang memaksa gadis itu masuk kedalam dunianya dan membuat sebagai miliknya mutlak. Ia belum seposesif ini terhadap sesuatu, tetapi Orihime adalah pengecualian. Gadis yang polos itu sekarang menjadi bagian penting dalam hidupnya, menurutnya. Ulquiorra tidak pernah berpikir untuk melepaskan gadis itu, seperti layaknya oksigen yang harus ada dalam hidupnya.
FROM : Orihime Inoue
Ohayou Ulquiorra-kun, maaf kalau aku mengganggumu.
Kau tahu aku sebal denganmu, kenapa tidak berpamitan denganku tadi pagi?
Nee, Ulquiorra-kun apa nanti malam kau ke Apartemenku lagi?
Sudut bibir pemuda itu terangkat, menampilkan senyuman yang tipis, tipis sekali. Tapi tak memungkiri perasaannya menghangat. Ia tidak pernah bisa mengendalikan tubunhya ketika berhadapan dengan gadis itu atau hanya kontak pesan seperti ini, selalu saja anggota tubuhnya melawan pikirannya. Ulquiorra hanya memandangi ponselnya itu, rasanya nanti malam ia harus pergi ke Apartemen gadis itu. Jari-jari pucatnya yang panjang menekan tuts-tuts ponsel, mengetikkan sebuah kalimat pada layar itu.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu itu berasal dari luar kamarnya, Ulquiorra kini memandang heran pada orang yang tiba-tiba memasukki kamarnya tanpa izin itu.
"Yo, Ulquiorra bagaimana kabarmu?" sapa laki-laki berambut biru itu.
"Cukup basa-basinya, ada apa kau kemari?"
"Santai saja sedikit, aku hanya jalan-jalan dan mampir ke rumahmu. Bukankah begitu Ggio?"
Ggio masuk ke kamarnya, dengan santainya pemuda pendek itu duduk di sofa kamar itu. Entah perasaan Ulqiorra atau bukan, Ggio tampak tersenyum penuh arti kearah ponselnya.
"Apa sebegitu senangnya kau, sampai-sampai tidak mendengar ketukan pintu kamarmu beberapa menit yang lalu"
"Bukan urusanmu, kalau tidak ada yang perlu dibicarakan sebaiknya kalian keluar"
"Kau jadi lebih sensitif sekarang, biasanya kau tidak peduli ketika kami berada di kamarmu seharianpun. Apa kau sedang PMS?"
Ggio menahan tawanya, kalimat yang diucapkan Grimmjow benar-benar membuat perutnya tergelitik. Mereka benar-benar tak menyadari aura hitam yang dikeluarkan pemilik kamar ini. Grimmjow orang yang selalu memecahkan rekor untuk menyulut amarahnya dengan cepat.
"Terserah"
"Coba kita lihat, apa yang dikirim Ulquiorra pada gadis itu," Ulquiorra membulatkan mata, saat kepala Ggio berada disampingnya. Buru-buru ia jauhkan ponsel itu dan menonaktifkannya.
"Tch, kenapa kau jadi pelit sekali, aku hanya ingin melihatnya"
"Mungkin itu rahasianya. Pasti ia mengirimkan kata-kata romantis, seperti 'sayang, apa kau sudah makan' atau 'rasanya hampir mati kalau tidak melihatmu seharian ini'. Hahh bocah sepertimu mana mungkin mengerti, Ggio," celetuk Grimmjow tanpa dosa.
"Sembarangan saja kau mengataiku 'bocah'!" secepat kilat Ggio mengambil ancang-ancang untuk meninju makhluk biru itu (?).
"Jangan seperti itu kepada, Aniki-mu"
"Aku tak sudi menganggapmu sebagai kakakku," ucap Ggio berusaha melepaskan cengkraman tangan Grimmjow dari kepalanya.
"Kalian keluarlah," seru Ulquiorra, ia tidak mau menanggapi 2 manusia itu yang terus-terusan menggodanya.
"Kau payah Ulquiorra, baru segitu saja sudah marah," Grimmjow mengerucutkan bibir yang dibuat-buat.
"Menjijikkan sekali ekspresimu, bikin aku muntah!," ejek Ggio, kepala kecilnya sekarang terlepas dari tangan besar itu. Sebagai balasannya ia mendapat satu jitakan di kepalanya.
"Ssshh…Aduh..Kau akan kuba-
"Apa kalian sudah tuli? Pintu keluar ada didepan," dengan nada sedingin es itu cukup membuat mereka terdiam.
"Baiklah kalau begitu…Kami tidak akan menganggumu yang dalam periode bulanannya, Ulquiorra mengenai misi itu, apa yang kau jawab?" disaat seperti ini Grimmjow masih juga meledeknya. Gila saja kalau Ulquiorra PMS, mana mungkin terjadi itu 'kan hanya istilah untuk khusus perempuan.
"Aku tidak mengatakkan 'gagal' ataupun 'berhasil'"
"Apa maksudumu?," jawaban Ulquiorra membuat keduanya bingung, terutama Grimmjow.
"Otak udangmu mana mungkin mengerti, cepat keluar"
"Mulutmu semakin pedas saja. Aku disini hanya ingin memberi tahumu, upacara penobatan anggota baru dimulai hari ini. Kau cukup senior untuk wajib hadir dalam prosesinya," sembari menyeret Ggio keluar dari kamar itu, Grimmjow menghentikan langkahnya sebentar.
"Anak buah mantan Yamaguchi-gumi itu sedang berkeliaran, sebaiknya kau berhati-hati"
"Aku tahu," ucap Ulquiorra memandang mereka yang keluar dari pintu itu, sebelum Ggio mengeluarkan kalimat yang benar-benar membuatnya naik darah.
"Aku membaca pesanmu, 'tunggu aku di Apartemenmu sayang ~Chuuuuu-
PRAKKK
Serangannya meleset, karena Grimmjow lebih cepat menutup pintu kamarnya. Jadilah gelas bening itu pecah berserakan di pintu kamarnya. Samar-samar terdengar suara gelak tawa dari luar kamarnya.
'Cih sampah'
.
.
.
o)(o
.
.
.
Beberapa orang-orang yang memenuhi kediaman itu tampak ketakutan. Jas hitam, pakaiannya rapih seperti kode etik dalam Yamaguchi-gumi. Tak kurang dari mereka seperti terbiasa dengan keadaan ini, yaitu melihat satu-satunya orang yang merintih sakit karena 'hukuman' itu.
"Lihatlah kalian semua jika ada yang perbuat kesalahan, maka kalian menyusul seperti orang ini"
"Jadi…Alasan apa kau tidak membunuh targetmu sendiri?"
"Khhkk…D-dia adalah t-temanku, dia satu-satunya yang keluargaku"
"Kami disini juga temanmu, saudaramu, Aniki-mu, keluargamu. Kau tidak sendirian di dunia ini. Kau memberikan contoh yang buruk pada juniormu. Kuberitahu lebih baik jika kau membunuh seseorang demi menyelamatkan ribuan jiwa itu akan lebih baik, kalau kau lebih memilih temanmu yang akan menghancurkan klan ini, kami tidak segan-segan memberikan pelajaran untukmu."
Kerumunan ini melihat dengan jelas saat jari tangan orang itu dipotong dengan katana, didepan mata kepala mereka sendiri. Laki-laki itu menjerit kesakitan setelahnya, teriakkan itu menggema keseluruh ruangan.
"Hei kau yang berambut orange kemarilah!"
Tanpa diduga laki-laki yang telah memotong jari orang itu memanggil pemuda yang tak jauh didepannya. Pemuda bersurai orange itu terlihat bingung, semua penjuru mata diruangan melihat kearahnya. Firasatnya mulai tak enak, akan tetapi ia tepis perasaan itu dan melangkah maju ke tengah lingkaran kerumunan.
"Pegang ini!" laki-laki itu menyerahkan pedang kepada pemuda yang ada disampingnya.
"A-apa!?" merasa tak mengerti, pemuda orange tadi tak percaya ia memegang katana yang berlumuran darah itu. Apa maksudnya ini, batinnya.
"Jangan banyak bicara, turuti saja!" titah laki-laki itu.
Kerutan didahinya mulai terlihat jelas, ketika laki-laki berbadan besar itu menyuruhnya melakukan apa yang sudah terjadi pada orang yang ada didepannya.
"Kenapa diam saja? Cepat lakukan!"
"Aku tidak bisa, Maksudku…Kenapa harus aku?" pemuda itu tampak berhati-hati dalam kalimatnya, salah sedikit saja bisa-bisa ia yang dipotong jarinya.
"Apa kau ingin sepertinya?" laki-laki bengis itu malah bertanya balik padanya dan tentu saja membuatnya keringat dingin. Ia memang ingin menjadi anggota Yakuza, tapi secepat inikah menerima salah satu tugasnya untuk melukai orang.
"Hmm…Sepertinya tidak. Siapa namamu?" tanya lelaki itu seraya menarik tangannya mendekat kearah target hukumannya.
"Ichigo Kurosaki," jawabnya mantap. Pemuda ini tak mau nyalinya menjadi ciut untuk membuktikan kalau ia benar-benar ingin menjadi anggota Yakuza.
"Kau dengar… pasti dia ingat namamu," laki-laki disampingnya menyeringai menatap korbannya dan beralih pada Ichigo.
"Sekarang lakukan!"
SRATTT
"Aargghhh…Hkkk!"
Jeritan dari orang itu terulang lagi. Potongan kedua jarinya tercecer beserta darahnya dilantai itu. Ichigo menatap pedangnya tak percaya, bahwa ia benar-benar memotong jari seseorang. Entah apa ia harus merasa bangga atau bersalah.
Pundaknya merasakan tepukan hangat dari laki-laki itu,"Tak kusangka kau benar-benar melakukannya. Sepertinya jarang sekali anggota baru yang memiliki keberanian sepertimu."
Syok sudah pasti, tangannya pun masih gemetar. Laki-laki itu menyeringai melihatnya.
"Kembali ke posisimu"
Dengan langkahnya yang lamat-lamat ia berhasil kembali ke kerumunan, posisi awalnya. Ichigo harus membiasakan dirinya setelah ini. Ia punya satu pertanyaan dihatinya, apakah orang itu akan balas dendam.
"Aku hanya mengetes bocah tadi, apakah ia benar-benar ingin menjadi seorang Yakuza. Kusarankan jika kalian tidak punya keberanian lebih untuk sekedar memotong jari seseorang, enyahlah dari sini"
Para junior itu terlihat mematung, kini naluri laki-laki mereka yang dipertaruhkan disini. Kalau sudah begitu, mereka tidak mau dianggap anggota pengecut.
"Zaraki, bocah itu bagianmu!" ucapnya pada laki-laki berwajah dibelakangnya.3 klan besar Yakuza berkumpul disini, melihat anggota baru yang mengikuti upacara perekrutan. Sebagian dari mereka adalah anak Broken Home, atau mengeluarkan diri dari keuarganya dan berbagai macam alasan lain. Tapi yang jelas Yakuza tak menerima orang yang tak waras jiwa atau pikirannya.
"Baiklah, ia akan kuajari agar tangannya tidak gemetar lagi" ujar Kenpachi Zaraki sambil menyeringai kepada Ichigo yang jauh didepannya.
Singkat cerita orang yang telah dihukum itu diseret paksa menjauh dari tengah lingkaran kerumunan. Menyisakan darah yang segar dilantai kayu itu.
"Sekarang bubar dari sini, ritual upacara penerimaan segera dimulai," seru laki-laki yang tak disebutkan namanya, karena hanya segelintir orang yang mengenalnya. Para calon anggota baru Yakuza kemudian meninggalkan ruangan itu.
.
.
.
o)(o
.
.
.
Disinilah Ulquiorra begitu menikmati kesendiriannya ditemani semilir angin di taman belakang kediaman ini. Bisa dibilang tempat ini markas Yakuza, upacara hari itu ternyata belum selesai juga padahal sudah menjelang malam. Ini upacara sakazukigoto terlama yang dialaminya, mau tidak mau ia harus hadir dalam ritual ini apalagi Ulquiorra anak dari tokoh penting dalam Yamaguchi-gumi. Kalau diingat-ingat pertama kalinya ia melakukan upacara itu 2 tahun lalu, oyabun-nya sendiri adalah ayahnya. Saat itulah pertama kalinya ia mencicipi rasa sake yang keras. Dulu dia hanya pemuda 17 tahun yang biasa-biasa saja yang berhadapan langsung dengan ayahnya, tak sampai disitu Ulquiorra harus menahan sakit saat melakukan irezumi sebagai tanda lengkap ia sebagai seorang Yakuza.
Suara jangkrik yang menggema itu mengiringi derap langkah seseorang dihadapannya. Sepertinya Ulquiorra sudah lama tak melihat sosok itu. Ia menatapnya tajam begitu sosok itu mendekat.
"Apa upacaranya sudah selesai?" tanya Ulquiorra yang bersender pada jendela taman.
"Sudah selesai, jadi kapan aku melakukan irezumi, nii-san?" panggilan itu terasa asing bagi Ulquiorra, dia tidak mengira akan menjadi kakak bagi juniornya, termasuk pemuda yang tadi pagi menjadi pusat perhatian para calon anggota baru Yakuza.
"Jangan panggil dengan julukan itu, aku tak sudi mendengarnya"
"Heh…Kau tak menjawab pertanyaanku?"
Pemuda itu memutar bola matanya sekilas dan menyeringai,"Jadi kita saudara bukan? Aku tak pernah berpikir seorang Ulquiorra bisa menjadi kakakku ataupun Kel-
"Aku tak menganggapmu apa-apa. Terserah kau mau bilang apa tapi jangan harap kau menjadi saudaraku atau kau yang menjadi adikku, karena aku tidak akan mau menerima kenyataan ini"
Pemuda berambut orange itu malah tertawa pelan membalasnya,"Ayolah aku sudah melupakan kejadian 2 tahun lalu, sekarang apa kau senang ,aku termakan omongan sendiri?"
"Itu adalah ucapanmu sendiri tidak ada hubungannya denganku. Meskipun kejadian itu sudah lama, aku tidak bisa menghilangkan rasa benciku terhadapmu. Ichigo Kurosaki," ujarnya dingin.
"Gaya bicaramu tetap dingin seperti dulu, aku tidak habis pikir kalau Orihime Inoue bisa betah berada didekatmu," dengan tampang mengejeknya Ichigo menelisik raut wajah pokeface Ulquiorra dan benar saja raut wajahnya mengeras ketika menyangkut gadis itu, apalagi kalau Ichigo yang mengatakannya.
"Itu bukan urusanmu, sampah," hilang sudah malam harinya yang tenang dan tentram itu. Berhadapan dengan Ichigo bukan suatu hal yang tepat baginya maka itu ia berlalu begitu saja dari tempatnya.
.
.
.
o)(o
.
.
.
"Grimmjow, apa yang kau lakukan?"
"Sstt…Diamlah Ggio" Grimmjow berbisik pelan, sedangkan Ggio terus melemparinya dengan tatapan tak mengerti. Setibanya di daerah yang mungkin ia kenal kemarin, Pemuda ini sempat celingak-celinguk.
Bingo, Ggio sudah menebak apa yang selanjutnya Grimmjow lakukan,"Jangan bilang kau mau membunuh Sousuke Amagai di dalam mansionnya sendirian"
"Tepat! Aku dengan senang hati jika kau ingin membantuku" Grimmjow menjetikkan jarinya, tangan satunya yang bebas itu kini memegang sebilah pedang.
"Benar apa yang dikatakan Ulquiorra, kau itu otak udang. Berpikirlah sebelum bertindak!"
"Yasudah, lagipula aku tidak memintamu untuk membantuku." Grimmjow membuka pintu mobilnya sebelum dicegah Ggio, dan meninggalkan pemuda bermata emas itu yang segera mengejarnya.
Dari kejauhan mereka berdua telah diawasi. Laki-laki ini hanya menganga, tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan Grimmjow dan Ggio yang terlanjur menyusup ke mansion itu. Kalaupun ada tembok dia tidak segan-segan membenturkan kepalanya sekeras mungkin, berharap ini adalah mimpi, Szayel sudah tidak bisa memperkirakan kebodohan teman-temannya yang diatas rata-rata. Langsung saja tanpa pikir panjang, ia menghubungi orang yang bisa diandalkannya.
"Ulquiorra…Duo bodoh ini, membuat masalah lagi. Aku tak yakin mereka tidak akan tertangkap"
Begitu si penerimanya menjawab, Szayel dengan sigap membuat strategi dadakan. Kalau sampai mereka tertangkap habislah riwayat hidupnya, temannya, bahkan Ulquiorra. Klannya dan Yamaguchi-gumi bisa marah besar, ia tak mau membayangkan hukuman untuk dirinya juga rekan-rekannya yang sudah pasti mengerikan.
.
.
.
o)(o
.
.
.
Suara musik khas Jazz terdengar jelas dalam toko kue di pusat kota Tokyo yang semakin ramai. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi namanya gemerlap dunia malam saat inilah puncaknya. Toko kue itu terlihat sepi tanpa pelanggan yang datang, berbanding terbalik dengan pusat hiburan di Tokyo yang ramai.
"Hirako-kun, bisa kecilkan suaranya"
Namun, suara musik Jazz itu kian membesar seolah tak mengindahkan ucapannya. Orihime yang sudah keluar dari kamar gantinya lalu menhampiri Hirako yang tengah asik bersender di bangku dalam pantry.
Klik
"Apa-apaan kau Orihime-chan!?" Hirako protes, melihat Orihime seenaknya mematikan Sound system itu.
"Berisik tahu, sudah malam kau malah membesarkan suaranya"
"Supaya tidak sepi, heh? Kau sudah ganti bajumu," ucap Hirako yang tengah mendapati gadis itu sudah memakai seragam sekolahnya lagi.
"Aku mau pulang cepat, lagipula sudah tidak ada pelanggan lagi." Orihime merasakan kantuk yang luar biasa sejak tadi, ia memikirkan lingkaran matanya sudah membesar. Sambil membereskan meja pantry itu dengan lesu, tanpa tahu ada mata yang menatapnya lekat.
"Ini masih jam 10. Kenapa mesti terburu-buru besok 'kan hari sabtu, kau libur sekolah" Hirako mengalihkan padangannya cepat begitu Orihime menatapnya. Gadis itu mengambil tempat disampingnya dan bersender pada bangku itu.
"Tapi kan aku..Hoamm ngantuk…" Orihime tak kuasa menahan kantuknya, dilihatnya Hirako yang masa bodoh itu tengah mendengarkan musik jazz dari earphonenya.
DRRRT DRRTT
Satu pesan masuk melalui ponselnya, ia merogohnya dari saku seragam itu. Matanya sudah tak berfungsi baik sekarang tapi ia cukup jelas melihat nama sang pengirim.
FROM : Ulquiorra-kun
Hari ini aku tidak bisa ke Apartemenmu.
Singkat dan jelas sangat mendominasi pengirimnya. Orihime lalu menghela nafas panjang, tak bisakah pemuda itu memberikan kalimat panjang yang lebih dari 7 kata. Yahh memang tidak bisa diharapkan jika tiba-tiba Ulquiorra begitu cerewet padanya, gadis itu tidak membayangkannya dan lebih baik seperti ini. Ulquiorra menyeimbangi dirinya yang cerewet, jika berada didekatnya paling tidak pemuda mengatakan beberapa kosakata seperti 'ya' , 'tidak' , 'aku tahu', dan tentunya diam saja. Menurutnya Ulquiorra sosok minim dalam berbicara, pemuda itu lebih mengungkapkannya dengan tindakan.
Iris abunya kini memandang Hirako yang sedang asik-asiknya. Seperti yang terlihat kehidupan Hirako tidak ada beban berbeda sekali dengannya yang harus hidup sebatang kara dan bekerja demi melanjutkan kehidupannya. Orihime tak pernah berpikir kalau ia harus melewati masa-masa remajanya dengan berat.
Rasa bosan yang melandanya membuat ia tidak betah berlama-lama di toko itu. Sedangkan jam masih menunjukkan pukul 10 malam, dan toko ini tutup jam 11 malam. Tangan gadis itu menopang dagu sesekali menguap.
"Umm…Hirako-kun, boleh pinjam ponselmu?"
Hirako tak menjawabnya, pemuda itu sedang menikmati alunan musik yang terngiang ditelinganya. Merasa diacuhkan Orihime menggembungkan kedua pipinya, dengan jahil menarik earphone itu yang masih bertengger di telinga Hirako.
"Kau ini kenapa sih!? Mengganggu saja tahu…" Pemuda pirang ini terlihat kesal, saat-saat yang dinikmatinya ini harus diganggu oleh Orihime.
"Pinjam ponselmuu…" rengek Orihime mengandalkan puppy eyes.
"Untuk apa?"
"Aku mau main game"
Hirako bersweat drop, daripada harus mendengar kicauan dari Orihime lebih baik ia meminjamkan ponselnya,"Huhh…Baiklah ini"
Bagai anak kecil yang diberi permen, akhirnya Orihime bisa tersenyum juga. Gadis itu tamapk antusias dengan permainannya, entah apa nama game itu tapi membuat pemiliknya tersenyum samar.
"Bos gendut itu belum kembali juga"
"Kau tidak boleh mengatainya seperti itu Hirako-kun, kalau ketahuan kau bisa dipecatnya…Hihihi" Orihime menyahutinya tanpa peduli dengan Hirako yang mendengar musik Jazz itu.
Waktu pun menunjukkan pukul 11.30 malam, dan Orihime sudah terlelap diatas meja pantry, tangannya yang mungil masih setia memegang ponsel Hirako. Begitu ia tertidur, Hirako yang mencuri-curi pandang padanya.
'Manis juga kalau tidur, pantas saja pemuda itu lengket sekali padanya'
Niatnya Hirako hanya merapikan anak rambut Orihime yang menutupi sebagian wajahnya. Tapi ia tanpa sengaja menelisik tubuh Orihime. Naluri Hirako mengendalikannya untuk mencondongkan tubuh dan merapat pada gadis yang terlelap itu.
CRINGG
Disaat seperti ini bisa menjadi hal yang tidak-tidak bagi siapa saja yang melihatnya, Termasuk bosnya sendiri yang baru masuk ke toko itu dan memergokinya.
"Pirang mesum! Apa yang kau lakukan!?"
.
.
.
TBC
.
.
.
