Sehun mengangkat tangan, tersenyum. Ia menyapa sahabat yang dirasanya sudah jarang ia jumpai itu. Kini, mereka berada di café yang berada di pinggiran kota. Sahabatnya itu pun ikut tersenyum lalu mengambil tempat disamping Sehun.
"Kau bertambah hitam,"
"Wajahmu bahkan lebih datar dari dinding,"
Kalimat pertama setelah sekian lama tidak berjumpa. Miris.
Keduanya tertawa bersama. Kemudian yang berkulit lebih gelap mengangkat tangannya, memanggil pelayan café tersebut.
"Berikan aku satu hot moccacino."
Pelayan itu pun mengangguk mengerti lalu pergi, meninggalkan mereka yang kini berdiam diri—sejujurnya Sehun tidak karena dirinya sedang meminum minumannya.
"Seperti biasa kau sendirian,"
Pria yang baru datang itu membuka percakapan, memecah suasana canggung yang tadinya menyelimuti kedua manusia itu.
"Kau juga. Setidaknya kita sama dalam hal ini, Jongin."
Sehun tertawa, miris.
"Tidak. Sebentar lagi aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan."
Perkataan Jongin sukses membuat Sehun menyatukan kedua alisnya. Bingung dengan apa yang dimaksud sahabat lamanya itu. Mengerti dengan perubahan wajah Sehun, Jongin mulai menjelaskan.
"Aku mempunyai kekasih. Ah, bukan. Calon kekasih lebih tepatnya. Ia mencintai seseorang yang kubenci. Dan aku tidak akan segan merebutnya dari orang kurang ajar itu."
Sehun mulai mengerti kemana arah pembicaraan itu. Tentunya, ke kekasih idaman Jongin yang dari dulu diidam-idamkan pria berkulit tan itu. Sejujurnya, Sehun juga belum diberitahu siapa wanita yang dimaksud, ehm maksudku manusia—Sehun bahkan tidak tahu berjenis kelamin apa kekasih idaman Jongin.
"Kau kira aku tidak sakit melihatnya bersama kekasih sialannya itu? Aku bersyukur aku tidak sepertimu, Jong. Melihatnya bahagia lebih membuatku bahagia daripada harus mengorbankan perasaannya."
Jongin berdecih, "Jangan berdrama. Tidak lucu,"
"Siapa yang berdrama, hitam?"
Lagi-lagi Jongin berdecih. Ia bingung harus meledek Sehun dengan ledekan apa. Kalau boleh jujur, tak ada yang perlu dipermasalahkan dari semua yang Sehun miliki. Jongin sukses besar dibuatnya iri.
"One hot moccacino."
Seorang pelayan dengan seragamnya meletakkan minuman yang dimaksud di meja, lalu membungkuk dan berjalan menjauhi mereka.
Hening.
Setidaknya biarkan mereka larut dalam pikiran masing-masing dengan pesanan mereka.
Tanpa menyadari bahwa orang yang mereka maksud sedaritadi adalah sama.
.
.
.
.
.
.
Title:
Our Struggle (Chanbaek)
Main Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Support Cast:
Oh Sehun
Kim Jongin
Do Kyungsoo
(cast bisa bertambah sewaktu-waktu)
Rating:
M
Genre:
Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst
Disclaimer:
Fanfict ini dibuat berdasarkan keisengan semata. Kalo misalnya ada kesamaan, aku minta maaf karna aku sama sekali gapunya niat buat mirip-miripin sama punya orang hehe. Semoga suka dan Happy Reading~~!
Summary:
Rumah adalah kerinduan masing-masing orang yang jauh dari keluarga. Namun, pengusiran Baekhyun dari rumahnya sendiri sudah berhasil membuat Baekhyun benci dengan rumah. Dan ketika ia kembali untuk Chanyeol, masihkah kekasihnya itu memiliki perasaan yang sama dengannya? Tapi kenapa rasanya sesakit ini? (CHANBAEK/BAEKYEOL)
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Tak ada yang bisa mengelak, jatuh cinta itu indah. Terutama ketika tokoh-tokoh didalamnya saling mencintai dan percaya satu sama lain. Terbangun dipagi hari dengan harum masakan yang menggugah selera, dan menemukan sang pujaan hati sedang bergelut dengan masakannya didapur. Belum lagi kencan romantis disetiap malam minggunya. Dimanapun itu, berapapun biaya yang dikeluarkan, pasti akan terasa indah bila bersama orang yang kau cintai.
Ya, itulah ekspektasi tiap orang ketika sedang jatuh cinta. Ekspektasi tentunya memang selalu terlihat indah. Tak ada yang menyukai ekspektasi yang buruk, bukan? Tapi, bagaimana jika ekspektasi buruk yang terus datang menghantui tanpa kita inginkan? Ugh, lebih baik mati saja daripada dihantui bayangan kelam terus menerus tanpa akhir.
Sayangnya, pria jangkung yang sedang menatap langit ini belum ingin mengakhiri hidupnya. Bukan, ia duduk dibalkon bukan untuk meloncat dan ditemukan terkapar tak berdaya dilantai dasar. Bunuh diri dengan cara elit saja dia tak mau. Jika Kai mengetahuinya, mau taruh dimana wajah tampannya? Mati hanya karena berpisah dengan cintanya. Cih, spesies pria tampan mana itu?
"Chan"
Oh, itu dia. Pria yang selalu hadir dimimpi basahnya sejak pertama kali mengalaminya. Sedang apa dia memanggil namanya? Ingin memancing Chanyeol untuk menerkamnya?
"Channie~~"
Nada manjanya yang tak dapat dibantah kemerduannya. Membuat setiap pria akan mengalami penyimpangan seksual dalam sekejap jika mendengarnya. Oh, jangan sampai. Biarkan hanya Chanyeol yang mendengar suara manis-yang-seolah-meminta-untuk-diterkam itu.
Park Chanyeol, hentikan pikiran mesummu itu!
"Chanyeol kau mengabaikanku"
Chanyeol menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum kecil. Ia tak bisa tenang jika memikirkan tentang taruhan yang dengan bodohnya ia terima begitu saja. Tidak bisakah mesin waktu milik doraemon dengan sekejap datang dan membiarkannya mengulang waktu? Ia ingin sekali menolak taruhan Kai dan dengan begitu ia dapat ber-lovey dovey-ria bersama pria mungil yang baru saja ia abaikan ini.
"Chan, aku memiliki sesuatu untukmu"
"Apa itu? Mesin waktu?"
Baekhyun mengernyit heran saat dengan tiba-tiba Chanyeol mengucapkan hal yang tak pernah diucapkannya sebelumnya. Apa ini? Chanyeol butuh mesin waktu? Apa ini yang membuat Chanyeol berubah? Tapi… untuk apa mesin waktu itu?
"Kau mengucapkan hal aneh. Apa yang sedang kau pikirkan?"
Pria jangkung itu menyadari bahwa ia mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya diucapkannya. Yak, Park Chan—babo-Yeol, kau berhasil membuat pria dihadapanmu menatap penuh tanya padamu.
"A-apa? Maksudku, mesin waktu. E-eh, ya.. yang dapat menunjukkan waktu. Ah, jam! Jam tangan, maksudku"
Baekhyun menghela nafasnya, Chanyeol lagi-lagi terlihat aneh. Dan Baekhyun sadar bahwa keanehan Chanyeol pasti disebabkan oleh dirinya. Tentu saja, Chanyeol yang selama ini terbuka pada Baekhyun—terbuka dalam segala hal terutama pakaian- kini mendadak menjadi seseorang yang tertutup dan tampak sangat berbeda dimatanya. Tak ingin memperpanjang masalah, Baekhyun pun mengeluarkan sesuatu dari jaketnya.
"Kau ingat janji kita beberapa tahun lalu? Saat dimana kau memberikan ini padaku"
Baekhyun tersenyum kecil saat mengeluarkan dua buah cincin yang tampak tak asing dimata Chanyeol. Dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya, pria mungil bersurai coklat itu mengambil salah satu dari cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah Chanyeol.
"Kau mengatakan padaku jika aku harus memasangkan ini pada jarimu. Tapi dengan bodohnya aku meragukanmu. Dan saat itu kita—"
Chanyeol tersenyum saat menyadari rona merah dipipi Baekhyun.
"—melakukan hal itu untuk pertama kalinya."
Baekhyun mengangguk lucu sambil menyembunyikan rona yang semakin terlihat lucu saat ia menunduk menyembunyikan wajahnya.
"A-aku tak sengaja menghilangkannya dan menemukannya dibawah kasurku. Saat itu kau sudah pergi dan pulang ke rumahmu"
Pria yang lebih tinggi mengernyit heran saat melihat raut wajah Baekhyun yang mendadak berubah. Nada bicaranya yang sedikit bergetar diakhir, dan mata berair Baekhyun, seakan memberi isyarat bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Baek?"
Tes
Setetes kristal bening mulai keluar dari pelupuk matanya. Dengan sigap, pria bersurai hitam itu pun menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, mengelus punggung pria mungil itu, lalu membisikkan kata-kata penenang.
"Hsst. Tak apa jika kau tak sanggup menceritakannya padaku. Aku akan menunggu sampai kau siap menceritakannya,"
Chanyeol melepaskan pelukannya, lalu menghapus kristal bening itu dari mata indah Baekhyun. Ia tersenyum tulus.
"Aku takkan membiarkanmu terjatuh. Menangislah jika itu membuatmu lebih tenang"
Pria jangkung itu kembali menarik Baekhyun kedalam pelukannya, berusaha menahan cairan bodoh itu untuk lolos dari kedua pelupuk matanya.
"Aku akan terus melindungimu, Baek. Jika esok hari kau tidak melihatku, anggap saja sosok Park Chanyeol sudah mati. Tapi tenang saja, sekalipun Park Chanyeol sudah mati, tapi keinginannya untuk melindungi Byun Baekhyun tak akan pernah mati. Karena bagaimanapun, Chanyeol ditakdirkan untuk Baekhyun. Dan begitupun sebaliknya."
Baekhyun mengernyit mendengar perkataan Chanyeol. Aneh, kenapa Chanyeol berkata hal seperti… ia akan meninggalkan Baekhyun?
"Sekalipun mereka tak bisa bersama?"
"Sekalipun mereka tak bisa bersama."
Baekhyun dengan sengaja bertanya dengan harapan Chanyeol akan menjawab seperti, "Tidak, Baekhyun dan Chanyeol pasti akan tetap bersama" atau dengan senyuman tulusnya sambil mengecup bibir Baekhyun, lalu berkata "Kau tak sedang berkhayal kan? Kita akan selalu bersama,"
Tapi ekspektasi hanyalah tetap ekspektasi.
Tangisan Baekhyun semakin kuat. Bukan, bukan karena teringat akan masa lalunya. Namun, ia menangis karena ia merasa… sosok Chanyeol seakan-akan semakin jauh dan sulit untuk diraihnya.
'Chanyeol.. jika aku memang tak dapat lagi meraihmu, tolong jangan muncul dihadapanku. Jangan membuatku terjatuh.'
.
.
.
.
Baekhyun terbangun dengan perasaan ganjil yang mendadak menghantuinya. Hei, ini kamarnya! Bagaimana bisa ia yang semalam jelas-jelas berada dikamar Chanyeol sedang menangis sambil memeluk Chanyeol, kini sedang menatap aneh kesekeliling kamarnya sambil memikirkan hal apa yang kira-kira terjadi semalam. Tapi tak ada yang Baekhyun ingat selain… ia tertidur dipangkuan Chanyeol.
Jangan lupakan mata memerah milik Chanyeol, tampaknya sehabis menangis. Baekhyun pernah membaca disuatu situs, apabila seorang lelaki menangisi seorang wanita—ugh, ganti saja kata ini dengan 'uke', maka pria itu benar-benar mencintainya dengan tulus.
Pria mungil itu tersenyum kecil. Namun tiba-tiba ia teringat…
Oh, yang benar saja Chanyeol yang membawanya kesini?
Tapi… bagaimana bisa? Apa Chanyeol tak menerima tatapan ilfeel dari kedua orangtua Baekhyun? Kalau tidak… lantas siapa yang mengantar Baekhyun kesini?
Kepala Baekhyun serasa berputar, pusing sekali. Ia terlalu memaksakan memori yang jelas tak diingatnya, untuk datang dan menjelaskan sesuatu padanya. Setidaknya ia butuh penjelasan kenapa dan siapa yang membuat Baekhyun ada di sini.
Klek
Baekhyun menoleh ke arah sumber suara. Sementara pria yang baru saja membuka pintunya hanya membulatkan matanya lalu berdeham pelan, ia pun memasang ekspresi wajahnya seperti biasa.
"Maaf tapi aku hanya berniat mengambil flashdisk yang tertinggal kemarin"
Baekhyun mengangguk pelan. Dengan pandangan heran, pria itu pun mengambil barang yang dimaksud lalu bergegas keluar.
"Makanlah. Cuci dulu wajahmu, itu terlihat menyeramkan"
Pria itu pun bergegas menutup pintunya dengan cepat, meninggalkan Baekhyun dalam kebingungan yang amat sangat. Baekhyun pun beranjak berdiri lalu memandang wajahnya dicermin. Oh, sangat can—
"ASTAGA. SIAPA YANG MENARUH BOM DIMATAKU?!"
.
.
.
.
"Jadi kau yang membukakan pintu untuknya?"
Baekhyun mengangguk mengerti. Syukurlah bukan kedua orangtuanya yang menyambut kedatangan Chanyeol. Bisa-bisa pria malang itu disambut dengan tatapan mengerikan kedua orangtuanya.
"Kau harus bersyukur karena bukan ahjussi dan ahjumma yang menyambutnya"
Ya, dia memang hebat dalam membaca pikiran orang lain sepertinya.
"Terimakasih, Kyung. Kau memang sepupuku yang terbaik"
"Tentu, dan juga tertampan,"
Baekhyun tertawa mendengar bualan –menurutnya- Kyungsoo itu.
"Well, terserah kau saja. Kau bahkan lebih cocok dibilang cantik dengan sifat keibuanmu itu"
Pria bermata doe itu menatap Baekhyun tajam, seolah tak menerima sebutan yang baru saja diungkapkan Baekhyun. Oh, ayolah. Dia tampan layaknya pria –normal- lain!
"Apa?" tanya Baekhyun polos saat tersadar akan pandangan Kyungsoo yang tak bersahabat.
"Aku belum menyimpang, asal kau tau saja"
"Ya, kau 'belum', bukan 'bukan',"
Kyungsoo menepuk keningnya. Apa ia salah bicara lagi?
.
.
.
.
Kyungsoo merasa gila sekarang. Oh, ayolah, kenapa ia jadi sosok yang mudah jatuh cinta begini?
Untuk pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, dan ini cukup mengganggu kegiatannya. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada sosok itu dan siapa yang tahu kalau Kyungsoo… juga melakukan kesalahan yang sama dengan Baekhyun.
Tak bisa ia pungkiri bahwa ia terjebak dalam pesona pria yang menggendong Baekhyun semalam.
"Apakah dia Chanyeol, kekasih Baekhyun?"
"Apa aku menyukai kekasih sepupuku sendiri?!"
Kyungsoo merasa dirinya sudah tak waras, mengingat bahwa pun sudah bertekad pada diri sendiri untuk tak mencintai seorang lelaki. Tapi percayalah, ini diluar dugaannya.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok pria yang dengan gagah—menurutnya- menggendong Baekhyun ala bridal style, dan itu cukup membuat Kyungsoo terpana. Tolong katakan jika Kyungsoo gila!
"Kau gila, Kyung?"
Oh, terimakasih.
Tunggu, siapa yang bilang itu tadi?
"Melamun sambil meremas tangan kirimu dengan kuku kananmu. Dasar gila"
Kyungsoo terkejut saat menyadari kuku-kuku yang menempel pada tangannya, lalu memisahkannya, menampilkan kulitnya yang terkelupas.
"Dasar psikopat"
Kyungsoo tersenyum canggung saat menyadari pria yang menyebutnya gila itu adalah salah satu tokoh dalam lamunannya. Pria bermata doe itu pun memberi isyarat pria dihadapannya untuk mengambil duduk disampingnya.
"Kau kenapa melakukan hal itu lagi? Sedang bingung eoh?"
"Entahlah, Baek"
"Ceritakan saja padaku,"
Baekhyun menepuk pundak Kyungsoo yang dibalas dengan senyuman-tak-mengenakkan milik Kyungsoo. Baekhyun yakin, Kyungsoo tidak dapat menceritakan hal itu padanya. Ditandai dengan keraguan pada wajah Kyungsoo.
"Suatu saat aku akan bercerita padamu. Jika aku sudah benar-benar siap."
Benar saja. Lebih baik Baekhyun hanya mengiyakan perkataan Kyungsoo daripada harus menerima 'serangan' Kyungsoo untuk yang kedua kalinya.
Ya, Kyungsoo pernah mengalami gangguan kejiwaan.
Hal itu juga yang membuat Baekhyun sedikit takut memaksa Kyungsoo untuk menceritakan masalahnya. Tak apa dia tak mau bercerita, toh nyawanya tak akan melayang.
"Baek. Kalian saling mencintai, ya?"
Baekhyun menoleh saat Kyungsoo tiba-tiba bertanya tentang hal itu. Ah, paling hanya mengalihkan pembicaraan, pikir Baekhyun.
"Aku… dengan Chanyeol?"
"Iya"
"Ya, begitulah. Tapi keadaan tak memungkinkan jadi aku tak mungkin memaksakan keadaan dan meninggalkan kalian semua, bukan?"
Kyungsoo mengangguk mengerti. "Sudah berapa lama?"
"Hm?"
"Sudah berapa lama kalian saling mencintai?"
Sejujurnya, Baekhyun heran mengapa Kyungsoo tiba-tiba menjadi ingin tahu begini. Namun, lagi-lagi Baekhyun meyakinkan pada dirinya untuk tetap berfikir positif dan berfikir bahwa semua akan baik-baik saja.
"Sekitar 5 tahun lebih."
Baekhyun memilih untuk menjawab seadanya. Sungguh, jika ia bertanya akan sangat serba salah. Ia takut Kyungsoo akan meninjunya dan berkata, "Aku hanya bertanya, tidak boleh?" Jadi ia memutuskan untuk tetap diam dan menunggu kira-kira apa kata yang akan diucapkan pria bermata doe itu selanjutnya.
"Oh"
Pria bersurai coklat itu mengernyit heran saat hanya mendengar jawaban "Oh" dari lawan bicaranya. Ia pikir, Kyungsoo akan melayangkan pertanyaan selanjutnya. Seperti, bagaimana ia hidup di Amerika, atau bagaimana rasanya berjauhan dengan orang yang kau cintai. Ini sungguh aneh.
Tapi tetap saja, Baekhyun hanya dapat meyakinkan pada dirinya sendiri untuk tetap berfikir positif.
.
.
.
.
"Kau, jangan pernah muncul dihadapannya."
"Sampai kapan?"
"Sampai ia benar-benar mencintaiku,"
"Apa maksudmu? Hei, ini benar-benar tak a—"
Klik!
Sambungan terputus, sementara pria yang memutuskan sambungannya itu hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Sebentar lagi ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dan benar saja. Setelah Kai berjalan ke dalam café, ia menemukan sosok yang terus memenuhi pikirannya hingga saat ini. Kai pun berjalan ke arah Baekhyun. Pria mungil itu sedang melamun hingga tak menyadari kedatangan Kai. Pria berkulit tan itu pun menggoyangkan tangannya didepan wajah Baekhyun, memberinya isyarat untuk menatap Kai.
"Kai?"
"Kau baik-baik saja di rumahmu?"
Baekhyun mengangguk menjawab pertanyaan Kai, "Terimakasih telah mengkhawatirkanku. Tunggu, darimana kau tahu bahwa aku—"
Kai memberi isyarat pada Baekhyun untuk menghentikan ucapannya yang kemudian dituruti oleh Baekhyun.
"Aku tahu semua tentangmu, Baek. Jadi, jangan segan meminta pertolongan padaku, mengerti?"
"Tapi… bagaimana bisa?"
"Tentu bisa"
Baekhyun masih belum puas dengan jawaban Kai. Ia rasa ini masih belum masuk akal. Kai hanyalah teman sekelasnya selama masa-masa sekolah dulu, dan Baekhyun sama sekali tidak pernah menceritakan apapun pada Kai.
"Kalau kau bertanya mengapa, jawabannya ada di sini"
Kai mengangkat tangan kanan Baekhyun dan menuntunnya ke dada kiri Kai. Baekhyun yang masih belum paham hanya mengernyit saat tangannya dibawa Kai untuk menyatu dengan tangan Kai.
"Aku… menyukaimu, Baekhyun. Tinggalkan Chanyeol, karena dia hanya bisa menyakitimu,"
Baekhyun membulatkan matanya. Ia baru saja mengingat satu fakta jika ia tidak salah ingat, Chanyeol adalah sahabat Kai. Tapi bagaimana bisa Kai mengatakan hal semacam ini? Bukankah itu sama saja dengan… menjatuhkan sahabatnya sendiri?
Pria mungil itu menarik tangannya dari pegangan Kai, ekspresi wajahnya masih sama. Raut bingung masih tetap terpampang diwajahnya, namun kali ini bercampur rasa terkejut. Dengan gugup, pria bersurai coklat itu pun mulai memberanikan membuka mulutnya.
"Coba saja kalau kau bisa, aku akan tetap mencintai Chanyeol."
"Benarkah? Sekalipun ia menyakiti dan meninggalkanmu?"
Baekhyun terdiam sejenak, sepintas terbayang akan perkataan terakhir Chanyeol sebelum dirinya terbangun dikamarnya.
"Aku akan terus melindungimu, Baek. Jika esok hari kau tidak melihatku, anggap saja sosok Park Chanyeol sudah mati."
"D-dimana Chanyeol sekarang? Dimana dia, Kai?"
"Tentu saja dia sudah meninggalkanmu"
Kai tersenyum miring sambil berjalan mendekati Baekhyun, sementara Baekhyun hanya mundur menjauhi sosok tan yang tampaknya berniat buruk kepadanya.
"Tapi tenang saja, sekalipun Park Chanyeol sudah mati, tapi keinginannya untuk melindungi Byun Baekhyun tak akan pernah mati."
"K-Kai… t-tunjukkan padaku… dimana C-Chanyeol"
Kai tetap berjalan mendekati Baekhyun sambil tersenyum dengan senyuman evil-nya, membuat Baekhyun semakin terpojokkan. Tolong, siapapun tolong Baekhyun!
"Kai-ssi! Hmmph—"
Belum sempat Baekhyun menghindar dan berteriak meminta pertolongan, bibirnya sudah ditahan oleh bibir Kai yang melumatnya penuh nafsu. Tak dapat dipungkiri, tenaga Kai sangat kuat. Membuat Baekhyun sama sekali tak mampu mengelak. Meskipun hatinya sungguh ingin menolak semua perlakuan Kai.
Terutama ketika pria berkulit tan itu mulai menggerayangi tubuh Baekhyun, mencubit nipple milik Baekhyun dari luar, dan mulai membuka perlahan kancing baju Baekhyun. Tak lupa Kai meninggalkan beberapa jejak dileher Baekhyun.
"Kaihh hentikanhh"
"Oh, kau bahkan menikmatinya, baby,"
"Karena bagaimanapun, Chanyeol ditakdirkan untuk Baekhyun. Dan begitupun sebaliknya."
"Chanhh. Chanyeolh,"
"Bodoh, ia sudah meninggalkanmu, Baek."
"Sekalipun mereka tak bisa bersama?"
"Sekalipun mereka tak bisa bersama."
Brukkk
Entah kekuatan darimana, Baekhyun berhasil membuat Kai tersungkur dilantai. Bodohnya ia karena terlalu frustasi, ia bahkan melupakan kemampuan hapkido-nya.
"Ck, kau cukup kuat ya,"
Baekhyun yang masih mengatur nafasnya hanya terdiam sambil mencari kemana sekiranya ia dapat kabur. Dengan cepat, Baekhyun berlari ke arah yang dirasanya aman, menghindar dari Kai sebelum ia terbangun kembali.
Grep
"Mau kemana, manis?"
Baekhyun hanya membulatkan matanya saat melihat senyuman evil milik Kai lagi. Baekhyun baru ingat jika kemampuan karate Kai juga diatas rata-rata, mengingat bahwa ia mengikuti ekstrakulikuler karate di sekolah dulu dan menjadi salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba karate.
Tapi tak ada waktu untuk itu, tak ada waktu untuk memikirkan masa lalu bodoh itu.
"Lepaskan aku!"
"Kau fikir akan semudah ini, hm?"
Bugh
Brukk
Baekhyun terdiam mematung saat menyadari bahwa tak ada tangan yang menahannya lagi. Kai sudah tersungkur dilantai, dan Baekhyun yakin bukan dialah pelakunya. Pria mungil itu pun menoleh dan menemukan—
"Hyung! Lari, cepat!"
Baekhyun berlari dengan cepat, menjauhi Kai yang mulai memaksakan dirinya untuk berdiri. Namun pergerakan Kai tampaknya sudah ditahan oleh sang pelaku-penghalang-rencananya.
"Aku baru tahu sahabatku sebodoh ini"
"S-sehun?"
"Ya, aku Oh Sehun. Dan jangan harap kau dapat menyebutku temanmu setelah ini. Bodoh"
Kai tertawa, miris. Ia tahu apa yang dilakukannya itu salah. Tentu, siapa manusia waras yang merasa itu perbuatan yang benar? Asal kalian tahu saja, Kai masih waras, namun kewarasannya seakan terbakar oleh… obsesi.
Dan Kai tentunya tidak akan membiarkan rencananya gagal secepat ini.
.
.
.
.
Siapapun yang melihat Baekhyun, pasti akan mengira bahwa pria mungil itu baru saja mengalami pemerkosaan.
Walaupun kenyataannya begitu.
Baekhyun sungguh terlihat malang. Dengan rambutnya yang berantakan, bibir yang memerah dan membengkak, tanda berwarna merah keunguan yang terpampang jelas dari leher hingga bahu mulusnya, dan kemeja yang ia gunakan pun hampir terlihat sebagai kemeja tak layak pakai.
Terimakasih untuk pria albino yang berada dihadapannya kini.
"Hyung, lain kali jangan bertemu pria lain tanpa sepengetahuanku"
"Tapi ini berbeda, Sehun. Kami bertemu di dalam sebuah café dan ia menyapaku sebagai teman lama. Tentu aku balas menyapanya dan ia melakukan hal itu. Semua terjadi begitu saja,"
Sehun mengangguk mengerti. Sungguh, ini terjadi diluar dugaannya. Sehun pikir, Kai hanya sekedar merebut kekasih dari pria—yang diceritakan Kai di café beberapa hari lalu- tersebut. Tapi siapa sangka jika pria tan itu juga melakukan hal semacam itu dan yang lebih parahnya… ini terjadi pada Baekhyun, hyung sekaligus dimana hatinya berlabuh.
Tentu saja Sehun merasa sangat amat marah.
"Kau ada masalah dengan Chanyeol hyung?"
Baekhyun menggeleng. Sejauh ini tak ada masalah, kecuali pernyataan bodoh Chanyeol yang membuat Baekhyun merasa tak tenang begini.
"Kenapa bukan Chanyeol hyung yang menyelamatkanmu?"
"Apa?"
"Entahlah, Chanyeol hyung melihatmu hampir diperkosa begitu dan ia malah menghubungiku. Itu sebabnya aku datang"
Baekhyun mengernyit heran. Bagaimana tidak, ia dan Chanyeol sedang tidak terjebak dalam sebuah masalah sekalipun itu masalah kecil layaknya pasangan pada umumnya.
"Sebenarnya.. Chanyeol mengatakan hal aneh malam itu, lalu aku terbangun dipagi hari dan berada dikamarku. Setelah itu aku tak pernah melihat Chanyeol hingga saat ini,"
Sehun terlihat sedikit berfikir, kemudian tersenyum menenangkan pada Baekhyun. Ia pun mengelus pundak Baekhyun.
"Mungkin Chanyeol hyung sedang berada dalam masalah. Jangan takut, hyung. Masih ada aku,"
Pria albino itu membusungkan dadanya bangga, kemudian tertawa kecil. Baekhyun pun ikut tertawa dibuatnya.
"Hyung, kau terlihat sangat mengenaskan. Rapikan penampilanmu, ganti pakaianmu. Aku akan mengambilkan hyung pakaianku yang kecil"
Baekhyun pun mengangguk sambil tersenyum, ia beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
'Sekalipun kau benar-benar tak terjangkau oleh pandanganku, aku akan terus mencintaimu, Chan. Sekalipun itu membunuhku, aku akan terus mencintaimu. Seperti yang kau katakan, Chanyeol ditakdirkan untuk Baekhyun, dan begitupun sebaliknya.'
.
.
.
.
Kyungsoo membaringkan tubuh diranjang miliknya. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar, namun pikirannya melayang entah kemana.
Kyungsoo yakin jika pria yang saat itu dilihatnya sungguh tak asing.
Entah dimana ia bertemu dengan Chanyeol—kekasih sepupunya, tapi Kyungsoo yakin seyakin-yakinnya kalau ia pernah bertemu dengan Chanyeol sebelumnya. Pandangan Chanyeol, raut wajah paniknya, kesedihan yang disembunyikan. Entah Kyungsoo yang terlalu melebih-lebihkan, atau memang itu ekspresi yang benar-benar ditampilkan olehnya. Pria bermata doe itu benar-benar yakin kalau ia pernah mengenal Chanyeol dengan sangat dekat sebelumnya.
Tentunya keyakinan itu pun bukan tanpa sebab. Ia tak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama sebelum Chanyeol datang hanya dengan menggendong Baekhyun ala bridal style dan berhasil membuat Kyungsoo terpesona.
Jadi, ia yakin bila pernah mengenal Chanyeol sebelumnya, dan tentunya pernah menyukai pria jangkung yang entah kenapa mengisi hatinya akhir-akhir ini. Tak mungkin ia memikirkan sosok itu sedalam ini jika ia baru saja melihatnya.
Lelah berperang dengan batinnya sendiri, Kyungsoo pun bangkit dari tempatnya saat ini, lalu berniat untuk mencari kegiatan yang sekiranya dapat ia lakukan diwaktu luang ini.
Tok tok tok
Kyungsoo menoleh saat mendengar suara ketukan pintu, pertanda seseorang akan bertamu. Tentu saja bertamu, Baekhyun sedang sibuk dengan aktivitasnya dan akan pulang jika hari sudah mulai gelap, dan kedua orangtua Baekhyun sedang sibuk bekerja. Kyungsoo pun berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
Cklek
"C-Chanyeol?"
"Bagaimana kau tahu namaku?"
Pria bermata doe itu hanya menghela nafasnya, mungkin Chanyeol juga tak mengingat siapa dirinya. Jadi, ia memutuskan untuk berbohong.
"Baekhyun yang menceritakannya. Masuklah, tapi maaf Baekhyun belum pulang,"
"Tak apa, aku tak berniat untuk bertemu Baekhyun sekarang"
"Lalu?"
"Kau."
Entah kenapa jantung Kyungsoo mulai berdetak diatas rata-rata. Hei, Kyung, sadarlah. Mungkin ia berniat untuk memberitahu padamu tentang Baekhyun.
"Tolong jangan katakan pada Baekhyun jika aku datang ke sini, aku hanya ingin memberitahu padamu jika Baekhyun dalam keadaan bahaya. Tolong tetap jaga dia dan jangan biarkan dia pergi sendiri."
Benar saja, tentang Baekhyun.
Oh, bodohnya kau, Kyungsoo.
"Tapi kenapa bukan kau saja yang menjaganya?"
Chanyeol tersenyum memaksa. Oh, astaga. Kali ini Kyungsoo benar-benar yakin jika ia pernah bertemu dengan Chanyeol sebelumnya. Senyuman memaksa milik Chanyeol sudah menjelaskan semuanya.
"Kenapa tersenyum memaksa begitu?"
Pria jangkung yang berada dihadapan Kyungsoo mengernyit heran. Bagaimana bisa Kyungsoo tahu jika ia sedang tersenyum memaksa? Sebelumnya tak ada yang pernah bisa membedakan senyuman tulus dan memaksa miliknya… kecuali Baekhyun.
"Aku butuh beberapa penjelasan darimu"
Chanyeol mulai menghela nafasnya, menceritakan kejadian yang ia alami satu persatu. Anehnya, tak ada diantara mereka yang menyadari bahwa sedaritadi mereka hanya berdiri tanpa merasa lelah.
"Kau bodoh."
"Memang, karena itu aku meminta bantuan padamu untuk—"
"Kau bodoh dalam segala hal"
"Maksudmu?"
Kyungsoo menghela nafasnya. Ia pun mulai membuka mulutnya.
"Yang pertama, kau seharusnya tidak dengan mudah menerima taruhan bodoh itu. Yang kedua, kau memberi Baekhyun harapan lalu membuangnya begitu saja—"
"Aku tak pernah berkata bahwa—"
"DIAM! Aku belum selesai bicara, Yeol!"
Entah kenapa Chanyeol hanya terdiam. Biasanya, ia akan membantah lalu berkata, "Kau siapa? Berani-beraninya membentak seorang Park Chanyeol." Namun kali ini, entah kenapa reaksinya hanya terdiam saja. Entah ia yang benar-benar penasaran dengan perkataan Kyungsoo, atau penasaran dengan.. siapa sebenarnya sosok yang sedang berbicara dihadapannya kini.
"—yang ketiga, kau seharusnya mempertahankan Baekhyun sekalipun itu mengancam dirimu. Dan yang keempat… entahlah, tapi kurasa aku pernah melihatmu sebelumnya."
BINGO!
"Aku juga sedang berfikir siapa kau sebenarnya. Kau hafal denganku dan itu sudah membuatku curiga padamu"
"Hei, kenapa hanya menjawab pernyataanku yang itu?"
Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia pun tersenyum pada pria dihadapannya.
"Terimakasih. Tapi kumohon kau juga turut membantuku dalam hal ini."
Kyungsoo tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian menutup pintu saat memandang punggung Chanyeol yang perlahan menghilang dari pandangannya.
.
.
.
.
Chanyeol berbalik lalu menghela nafasnya. Satu masalah lagi, siapa itu pria bermata doe yang tadi menyambutnya? Baekhyun tak pernah bercerita tentangnya. Dan bodohnya, ia lupa menanyakan nama pria itu.
"Kau, jangan pernah muncul dihadapannya."
"Kau seharusnya mempertahankan Baekhyun sekalipun itu mengancam dirimu"
Pria jangkung itu mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ia dihadapkan dengan pilihan sesulit ini? Jika ia disuruh memilih, tentu ia akan memilih ibunya. Tapi yang benar saja, tak mungkin ia membiarkan Baekhyun sengsara hanya karena ia mementingkan kepentingannya? Melihat Baekhyun yang hampir diperkosa Kai saja sudah membuat Chanyeol panik setengah mati. Asal kalian tahu, itu baru langkah awal, garis bawahi itu. Bagaimana jika… Kai benar-benar memaksa Baekhyun dengan cara kasar untuk mendapatkan Baekhyun?
Chanyeol merasa bahwa Kai benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Ia merasa perjuangannya akan berakhir sia-sia. Bagaimana tidak, menunggu selama bertahun-tahun itu cukup melelahkan. Lelah hati, lelah mata, lelah berfikir. Tak dapat dipungkiri, Chanyeol cukup menyesali perbuatannya. Kenapa tidak dari dulu ia membawa kabur Baekhyun dan kemudian dapat hidup bahagia hanya berdua?
"Hyung.."
Chanyeol menoleh saat menyadari bahwa ia tak sendirian, lalu sedikit mengembangkan senyumnya saat menyadari siapa sosok yang berada dihadapannya. Syukurlah Chanyeol memang tak mengunci kamar apartemennya jadi ia tak perlu berfikir keras tentang bagaimana Sehun mendapatkan password kamarnya.
"Terimakasih telah menyelamatkan—"
"—aku tak membutuhkan terimakasihmu, hyung. Aku hanya butuh penjelasanmu"
"Tentang?"
"Baekhyun hyung. Ada apa dengan kalian berdua?"
Chanyeol hanya terdiam. Entahlah, sulit menjelaskan segalanya. Percuma saja dijelaskan, toh waktu tak akan kembali. Chanyeol hanya tertawa miris mengingatnya.
"Kau gila, hyung? Kau bahkan tertawa sendiri"
"Ya, aku gila"
Pria jangkung itu menatap Sehun dengan senyuman bodohnya, menampakkan bahwa ia memang sedang tidak baik-baik saja.
"Kalian butuh berbicara"
"Apa? Kalian?" Chanyeol mengernyitkan dahinya, kemudian berhasil dibuat terkejut saat menyadari bahwa Sehun tidaklah sendiri.
Ada pria mungil yang sedaritadi berada dibelakang Sehun.
Chanyeol hanya mampu terdiam sambil menatap pria mungil dihadapannya. Entah bagaimana ia menjelaskan pada Baekhyun. Yang jelas, ia tak memiliki waktu lagi untuk berfikir alibi yang cocok, jadi—
"Sedang apa kau disini?"
—ia harus mengkhianati dirinya sendiri.
"Tentunya bertemu denganmu"
Baekhyun tersenyum—terpaksa- saat Chanyeol menanyakan hal yang tak sepantasnya ditanyakan oleh sepasang kekasih. Oh, apakah status mereka masih menjadi sepasang kekasih sekarang? Entahlah, tak ada yang tahu.
Semua terlalu sulit untuk dijelaskan, terlalu sulit untuk dijalani.
Sehun hanya menggelengkan kepalanya saat menyadari bahwa Chanyeol sedang menahan rindu yang mendalam. Lihatlah betapa bodohnya Chanyeol yang hanya terdiam sambil mengatur nafas yang semakin sulit untuk diatur.
Sejujurnya, Sehun benci keadaan ini, jadi ia memutuskan untuk meninggalkan mereka untuk berbicara empat mata. Terimakasih untuk Sehun.
"A-apa… alasanmu berubah?"
"Aku.. berubah?"
Baekhyun menghela nafasnya, lelah. Apakah Chanyeol terlalu bodoh untuk tak menyadari perubahan dirinya sendiri? Ataukah dengan sengaja ia berbalik bertanya karena tak tahu harus menjawab apa?
"Kau berubah, Chan."
"Tidak, aku tak berubah"
Masih dengan jawaban yang sama. Baekhyun sukses besar dibuatnya sakit setengah mati. Dengan perlahan, ia menyingkap syal yang digunakannya, lalu setengah dari kemeja yang digunakannya. Menampakkan leher hingga bahu Baekhyun yang tadinya mulus, kini dipenuhi tanda, yang tentunya Chanyeol sendiri tahu dari siapa.
"Kau bahkan hanya terdiam saat aku ingin diperkosa begini"
Chanyeol berusaha menahan tangannya mati-matian. Sungguh, ia sama sekali tak berniat untuk mendiami Baekhyun begini. Tapi ini demi kebaikan Baekhyun, demi kebaikan mereka bersama.
"Kau bodoh, Chan. Aku hampir mati diperkosa dan kau hanya menatapnya dan menyuruh orang lain untuk menyelamatkanku"
Baekhyun mulai meneteskan air matanya. Kristal bening itu keluar tanpa diduganya, membuat Chanyeol semakin sulit mengontrol dirinya sendiri.
"Tak apa, tapi aku bahkan lebih memilih mati diperkosa daripada mengetahui satu fakta bahwa kau lebih memilih untuk menonton pemerkosaan didepanmu lalu menghubungi orang lain untuk menolongku. Aku lebih memilih kau tidak menghubungi Sehun saat itu, bahkan jika aku diperkosa, aku akan mencoba menerima semua itu. Toh kau saja tak mempedulikan a—"
Chanyeol menahan bibir Baekhyun, menutupnya dengan kedua bibirnya. Sementara Baekhyun hanya terdiam menerima perlakuan Chanyeol. Sungguh, ini diluar dugaannya. Chanyeol benar-benar tak dapat mengontrol dirinya dan ini sangat mengganggu rencananya.
Chanyeol melepaskan ciumannya saat menyadari bahwa Baekhyun hampir saja kehabisan nafasnya. Ia pun menopang wajah Baekhyun dengan kedua tangannya. Pria jangkung itu tersenyum kecil sambil mengelus pipi Baekhyun yang sialnya semakin bertambah menggemaskan setiap harinya.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu sebelumnya kalau aku akan terus melindungimu?"
Baekhyun hanya terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Kau tahu kunci sebuah hubungan?"
"Kepercayaan"
Chanyeol mengangguk, lalu mengelus surai coklat milik Baekhyun. Pria jangkung itu pun mendudukkan dirinya dan Baekhyun ke sebuah sofa yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Apa kau percaya padaku?"
Baekhyun mengangguk.
"Kalau begitu cukup jalani saja. Jika kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti akan dipertemukan dikehidupan yang selanjutnya. Jika tidak, cukup kenang masa-masa indah kita berdua. Cukup dikenang, jangan terlalu berharap, Baek"
Sejujurnya, Baekhyun masih belum puas dengan jawaban Chanyeol. Pertanyaan yang selama ini hinggap dikepalanya adalah… apa alasan Chanyeol menjauh darinya?
Baekhyun hanya menghela nafasnya sambil menahan dirinya untuk menanyakan hal itu. Chanyeol tak pernah mengungkitnya, jadi ia pikir ini adalah privasi Chanyeol. Mungkin saja ini masalah keluarga Chanyeol, jadi Baekhyun tak diperbolehkan untuk mengetahuinya.
Tapi tetap saja Baekhyun penasaran.
"Wah, ternyata masih berani juga. Mesra sekali ya"
Chanyeol membulatkan matanya saat menyadari siapa sosok yang dengan tiba-tiba masuk ke dalam apartemennya.
Bagaimana dia tahu jika Baekhyun ada di sini?
Habislah riwayat Chanyeol.
.
.
.
.
.
.
TBC~!
Finally, chapter 2 selesai juga hihi.
Uuu, maaf ya readers-deul lagi asik-asiknya bayangin chanbaek malah aku datengin si PHO kkk~
Tapi kan kalo gaada dia gaseru, thanks for Jongin deh wkwkw.
Disela-sela UTS, masih nyempetin diri buat nulis. Jadi maaf kalo rada aneh, efek UTS kali ya XD
Makasih banyak yang review dichapter kemarin, yang fav sama follow juga. Semoga suka ya sama chapter ini—walaupun ini chapter ga ada gregetnya deh kayanya.
Thanks a lot~ Don't forget to review, hargain aku hehe. Kalo banyak yang review jadi semangat nulis, beneran deh. Jadi biar cepet update direview ya~
Saranghae~~!
