Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru

Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, OOC, Semi-Canon, typo(s), Author newbei, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.

Don't Like Don't Read! Happy reading!

.

.

.

"Teman-teman, kalian tidak..."

"Eh?"

"?"

"HEEEEEEE...?"

"Siapa kalian?!" dengan cepat jari telunjuk terbalut kulit tan terarah pada segerombolan bocah-bocah yang terlihat seperti anak berumur lima tahun. Di tubuh mereka terpasang pakaian yang beberapa kali lipat lebih besar dari tubuh mereka, membuat pakaian-pakaian itu longgar dan hampir jatuh dari tubuh mereka kalau saja kain itu tidak tersangkut di salah satu bahu mereka.

Berpasang-pasang mata bocah-bocah yang ditunjuk hanya menatap polos. Mata mereka berkedip-kedip bingung kepada sosok berambut pirang yang masih mengarahkan telunjuk. Membuat mereka terkesan manis di hadapan dua orang dewasa di sana. Namun sayangnya situasi sekarang sangat tidak pas untuk terkesan akan bocah-bocah itu. Keberadaan mereka yang entah kenapa bisa tiba-tiba muncul menjadi pertanyaan terbesar saat ini.

Setelah menunggu beberapa lama dan tidak mendapat tanggapan sama sekali dari sekumpulan bocah di depannya, Naruto akhirnya kembali berucap.

"Kubilang siapa kalian?! Kenapa kalian bisa tiba-tiba ada di sini? Dan kemana teman-temanku?!"

Masih tidak mendapat jawaban, darah Naruto mulai mendidih ke atas kepala karena kesal. Namun belum sempat mengeluarkan kekesalannya, Shizune sudah menyela terlebih dahulu.

"Naruto, coba kau lihat wajah mereka!"

Dahinya mengernyit, ia memandang bingung pada sosok Shizune. "Hm? Memangnya ada apa dengan wajah mereka?" sepasangan safir itupun mulai meneliti satu persatu wajah dari bocah-bocah itu. Dari mata, hidung, bibir, dan bentuk wajah tak terlewatkan sedikitpun.

"Bukankah wajah semua anak ini terlihat mirip dengan teman-temanmu?" ucap Shizune.

Dalam hati ia mengangguk, menyetujui perkataan Shizune. Pasalnya, bocah-bocah itu sangat mirip dengan teman-temannya, malah bisa dibilang copy-an dari mereka.

"Dan coba kau lihat pakaian longgar yang dipakai anak berambut pink itu, bukankah itu pakaian yang sama seperti milik Sakura?" kedua orang itu menatap satu sosok anak kecil berambut pink, membandingkan pakaian longgar anak itu dengan pakaian salah satu teman setim Naruto.

"Kau benar, Shizune-nee."

Setelahnya perlahan-lahan secara pasti wajah mereka berdua berubah jadi pucat dan saling menatap horor satu sama lain.

"Tunggu dulu, itu berarti..."

"MEREKA BERUBAH MENJADI ANAK KECIL!"

.

.

.

Suasana di kantor Hokage sunyi senyap bagai kuburan. Padahal di dalam ruangan itu terdapat banyak orang, namun tidak ada yang sama sekali mau membuka pembicaraan. Aura berat memenuhi ruangan itu, sampai-sampai leher terasa tercekat karena begitu seriusnya keadaan yang di hadapi saat ini.

Pemuda dengan rambut pirang memandang tajam bocah-bocah jejadian(?) di depannya, membuat beberapa anak-anak itu meringkuk takut karena terus dipandangi dengan begitu menyeramkan, sedangkan sisanya balik menatap tajam dan malas. Dahi pemuda itu mengerut, sepasang alisnya terlihat hampir menyatu pertanda ia sedang berpikir keras tentang suatu hal. Namun, semakin lama dia berpikir, semakin dia tidak menemukan jawaban dari apa yang dia pikirkan, yang ada malah ia mendapat pusing berat.

"ARGH... cukup sudah!" Naruto berteriak frustasi dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. "Baa-chan, kau harus jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?! Semua ini benar-benar membuatku sakit kepala!"

Semua yang berada di ruangan itu tersentak kaget mendengar suara Naruto yang tiba-tiba. Bahkan salah satu dari anak-anak itu ada yang hampir menangis karena suara Naruto yang menggelegar keras di dalam ruangan yang sekarang mereka tempati.

"Hiks... hiks... hiks... HUAAA...!"

Shizune yang mendengar anak kecil yang mirip dengan Hinata menangis dengan tanggap mendekati dan menenangkannya. Bocah-bocah jejadian(?) yang lainnya pun tak kalah tanggap dengan Shizune, mereka juga ikut mendekati Hinata kecil yang masih menangis dan menenangkannya. Setelah tangisan Hinata mereda bocah-bocah jejadian(?) itu memandang tajam kearah Naruto karena sudah berani membuat salah satu dari mereka menangis. Satu anak perempuan mendekat kearah Naruto, dia memandang lama sosok Naruto yang jauh lebih tinggi darinya.

Duk!

"Argh... it... ittai, ittai, kenapa kau menendangku, Sakura-chan. Ittai... rasanya kakiku seperti mau patah. Tubuhmu kan sudah berubah jadi kecil, tapi kenapa kekuatanmu masih besar, sih!" Naruto mengaduh kesakitan dan meloncat kesana-sini sambil memegang salah satu kakinya yang habis ditendang Sakura.

"Weekkk..." anak perempuan yang dipanggil dengan nama sakura itu menjulurkan lidahnya bermaksud mengejek Naruto.

Bocah jadi-jadian(?) satu ini benar-benar, kalau saja dia bukan orang yang ia kenal, sudah ia pastikan bocah ini bakal terlempar dari jendela ruang Hokage ini. Mungkin begitulah batin Naruto melihat tingkah anak berambut pink itu.

Tsunade yang dari tadi terus memperhatikan interaksi dari dua makhluk di depannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Naruto yang masih meloncat kesana-kemari. Ia berdehem sekali, bermaksud menarik perhatian semua makhluk yang berada di ruangan itu.

"Naruto, sekarang kau bisa diam, bukan? Dan ceritakan bagaimana bisa mereka menjadi seperti ini!" Tsunade memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Dokumen-dokumen yang belum ia selesaikan membuatnya harus begadang hampir semalaman dan sekarang malah ditambah dengan masalah ajaib ini. Rasanya dia mau undur diri saja jadi Hokage kalau begini terus.

"Bagaimana aku bisa tahu, aku saja bingung kenapa mereka bisa seperti ini." jawab Naruto.

Perempatan di dahinya berkedut-kedut. "Ck, maksudku kejadian kronologis sebelum mereka berubah menjadi kecil, Bocah. Kau ini kenapa bodohnya bisa sampai ke level parah dan nggak ketulungan, sih!" kepala Tsunade makin berdenyut-denyut sakit.

"Aku tidak bodoh, Baa-chan!" protesnya.

"Ya, ya, terserah kau saja. Sekarang cepat ceritakan!" Tsunade menggebrak meja, benda-benda yang berada di atas meja ikut bergetar pelan dan bergeser sedikit dari tempatnya. Untungnya dia tidak mengeluarkan tenaga lebih sehingga meja itu tidak hancur, bisa-bisa desa rugi kalau harus mengganti kerusakan yang diakibatkan oleh Hokage itu sendiri.

Dengan enggan akhirnya Naruto menceritakan kejadian sebelum teman-temannya menjadi kecil. Setiap kejadian ia ceritakan dengan sangat rinci tanpa terlewatkan sedikitpun, bahkan gerutuan Kiba dan Ino pun ia ceritakan persis seperti kejadian yang ada, yang hasilnya anak kecil mirip Kiba dan Ino mendapat tatapan tajam gratis dari sang Hokage. Dan tentu saja ia memberikan pengecualian untuk kejadian dimana Sasuke merobek dokumen penting itu, jujur ia masih mau pulang dengan selamat sentosa ke rumah, jadilah ia tidak menceritakannya pada Tsunade, daripada dia dan sekumpulan bocah-bocah itu berakhir tragis.

"Ya...begitulah ceritanya." Naruto mengakhiri kisahnya dengan tarikan napas panjang.

Entah ini perasaan Tsunade saja atau Naruto memang bercerita selama setengah jam, membuatnya bosan setengah mati dan ingin tidur kalau saja masalah yang mereka hadapi saat ini tidak begitu serius.

"Berdasarkan kejadian yang kau ceritakan tadi aku tidak menemukan sesuatu yang aneh selain kemunculan asap yang tiba-tiba itu." Tsunade termenung, ia memutar ulang kejadian yang diceritakan Naruto kalau-kalau ada yang ia lewatkan.

"Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Shizune yang dari tadi hanya mendengarkan berucap.

"Hm... Naruto, selain kita siapa saja yang tahu masalah ini?"

"Kurasa tidak ada lagi."

"Baguslah, kalau begitu aku dan Shizune akan mencari tahu penyebab mereka menjadi kecil, sementara itu aku menugaskanmu untuk merawat mereka selama kami mencari tahu."

"Hah! Tu... tung... tunggu, kau tadi bilang apa, aku... merawat... mereka? Mereka berdua belas?!" ia menunjuk segerombolan bocah-bocah di belakangnya. Tsunade mengangguk membenarkan.

"KAU PASTI BERCANDA!"

"JANGAN BERTERIAK DI KANTORKU, BOCAH!"

"KAU SENDIRI BERTERIAK. Aku tidak mau, lagipula kenapa harus aku yang merawat mereka?!"

Tsunade menarik napas dalam, ia mencoba untuk bersabar menghadapi tingkah menyebalkan pemuda pirang di depannya. "Dengar Naruto, memangnya kau ingin orang tua mereka jantungan melihat anak-anaknya berubah jadi kecil. Dan lagi diantara mereka ada yang hidup sendiri, kalau terjadi sesuatu bagaimana, kau mau tanggung jawab?!"

Naruto mati kutu mendengar ucapan Tsunade, ia sebenarnya juga tidak tega kalau hal seperti itu terjadi, dan lagi masa dia sih yang harus tanggung jawab, kan bukan dia yang menjadi penyebab kecilnya anak-anak itu. Akhirnya, dengan pasrah Naruto menerima tugas itu.

"Baiklah, akan ku lakukan. Tapi kalau aku yang merawat mereka, alasan apa yang akan Baa-chan berikan untuk orang tua mereka?"

"Kau tidak perlu khawatir tentang itu, akan aku katakan kalau aku mengirim mereka untuk menjalankan misi."

"Begitu. Oh ya, ngomong-ngomong dengan berubahnya tubuh mereka apa juga mempengaruhi pemikiran mereka?"

"Hm?"

"Masalahnya, saat dalam perjalanan kesini, kalau mereka melihat sesuatu yang menarik dalam pandangan anak kecil, mereka terlihat kesenangan. Bahkan..." Naruto memandang aneh kepada salah satu bocah yang memiliki gaya rambut emo. "Sasuke yang kata dia sendiri tidak ada hal yang dia sukai di dunia ini saja tadi sampai melompat-lompat kegirangan saat melihat kucing."

"Benarkah? Kurasa itu bisa saja terjadi, mungkin saja pemikiran mereka menyesuaikan dengan ukuran tubuh mereka yang seperti anak kecil itu. Baiklah, karena kita tidak tahu kapan ini akan selesai, maka akan aku siapkan pakaian dan kebutuhan lainnya selama kau merawat mereka. Dan untuk kalian bocah-bocah," Tsunade menatap sekumpulan bocah-bocah tersebut. "Kalian mendengarnya kan kalau kalian akan dirawat oleh Naruto, aku yakin kalian tidak mau melihat orang tua kalian mengalami sesuatu yang buruk karena melihat kondisi kalian yang sekarang. Jadi patuh-patuhlah!" mereka mengangguk-angguk serempak.

.

.

.

"Haah..."

Sudah puluhan kali Naruto menghela napas selama perjalanan menuju apartemennya bersama semua bocah-bocah jejadian(?) yang saat ini terlihat berjalan di depan Naruto. Kejadian hari ini merupakan suatu kesialan untuknya, berkat Tsunade Naruto harus menjadi relawan menjaga teman-temannya yang berubah menjadi kecil. Tsunade kira merawat anak itu mudah apa, memangnya dia pikir Naruto ini ibu-ibu yang bisa merawat anak kecil. Mendingan kalau anaknya cuma satu atau dua, lah ini dua belas, yang ada Naruto sudah tepar duluan bahkan sebelum ia seharian merawat mereka.

'Kaa-san... do'akan anakmu ini selamat menghadapi bocah-bocah jejadian(?) ini...' batin Naruto meratap pilu.

Naruto terus meratapi nasibnya yang sungguh sangat sial itu dan tanpa sadar dari tadi ada sesuatu yang terus menarik-narik celananya, tarikan itu makin lama makin kuat dan sebuah suara akhirnya keluar dari sesosok anak kecil yang mulai kesal karena tidak ditanggapi dari tadi.

"Naruto-nii!"

"Ah ya, ada apa?" Naruto terperanjat kaget mendengar namanya yang tiba-tiba dipanggil, ia pun menoleh kesana-kemari mencari sosok yang memanggilnya, tapi ia tidak mendapatkannya sama sekali. Perhatiannya pun teralihkan pada sebuah tarikan di celananya.

"Naruto-nii."

"Oh... ternyata kau yang memanggilku Sasuke, kupikir siapa. Ada apa?" tanya Naruto pada sosok anak kecil yang berjalan di sampingnya.

"Aku mau digendong!"

"Hah? Kau tidak lihat aku sedang bawa tas ini, aku tidak bisa menggendongmu. Lagi pula untuk apa aku mengendongmu?" Naruto menunjukkan tas besar yang berisi pakaian dan keperluan lain milik anak-anak ini.

"Pokoknya aku mau digendong!"

"Kau kan punya kaki, jalan sendiri juga bisakan?"

"Tidak mau. Aku capek, Naruto-nii. Aku mau digendong!"

"Tidak!"

"Huuh...!" Sasuke sudah mulai menunjukkan wajah ngambek dan kesalnya. Sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepalanya, ia pun bersiap mengambil ancang-ancang menjalankan idenya tersebut. Dan...

"AW! Aduh... kenapa kau menginjak kakiku, Teme!"

"Gendong!"

"Ck, kau ini, ku bilang tidak, ya tidak! Aw!"

"Gendooong!"

"Ck, kau ini benar-benar, pokoknya tidak! Aw! Argh... baiklah, akan ku gendong!" Naruto pun akhirnya memilih mengalah dalam perdebatan itu karena kakinya terus diinjak-injak dan membiarkan Sasuke digendong olehnya.

Sasuke mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya pada Naruto. Ia pun melompat-lompat tidak sabaran menunggu Naruto mengangkatnya.

Naruto hanya menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah tidak sabaran Sasuke. Ia pun mengangkat Sasuke dan menggendongnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membawa tas besar mereka. Tangan Sasuke melingkar di leher Naruto dan memeluknya dengan erat.

"Kau tidak perlu sampai memeluk leherku seperti itu, Sasuke. Aku jadi susah bernapas."

Sasuke menatap wajah Naruto yang sejajar dengan wajahnya. Ia kemudian memalingkan wajahnya menghadap kearah lain dan terlihat sedikit rona merah menghiasi pipinya. "Aku tidak mau nanti aku jatuh."

Naruto mengernyitkan alis melihat sedikit semburat merah di pipi Sasuke, namun ia tidak terlalu memperdulikannya. "Ya, baiklah terserah kau saja. Tapi bisakah kau longgarkan sedikit pelukanmu aku benar-benar sulit bernapas." Sasuke menuruti permintaan Naruto, ia pun melonggarkan sedikit pelukannya.

Naruto berniat kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemennya, namun langkahnya langsung terhenti melihat segerombolan bocah-bocah jejadian(?) itu menghalangi jalannya.

"Naruto-nii, aku juga mau digendong." ucap Kiba dengan wujud anak kecil, Akamaru yang juga ikut menjadi kecil di atas kepala Kiba menggonggong meng-iyakan ucapan tuannya.

"Aku juga! aku juga!" Tenten melompat-lompat sambil mengangkat tangan.

"Aku juga mau, Naruto-nii!" kalau yang ini Ino.

"Aku juga mau!" yang ini Sai.

"Aku juga, Naruto-nii!" ini Sakura.

"Aku juga!" ini Chouji.

"Aku mau juga!" yang terakhir ini Lee.

Ya ampun... kenapa cobaannya berat sekali. "Haah... kalian tidak lihat aku sudah membawa Sasuke dan tas ini. Aku mana bisa membawa kalian semua seorang diri."

"Kalau begitu suruh Sasuke turun saja!" ucap Sai.

"Hah, enak saja! Aku tidak mau, aku kan yang duluan meminta." Sasuke kembali mengeratkan pelukannya pada leher Naruto.

"Sa... Sa... Sasuke, ka... kau mencekikku!" pelukan di leherpun kembali lagi melonggar.

"Hah... kalian ini, aku hanya ada dua tangan, lagipula kaliankan bisa jalan."

"Kami juga capek, Naruto-nii!" Ino mewakili yang lain berbicara.

"Tetap saja aku tidak bisa."

"Pokoknya Naruto-nii harus mau. Kalau tidak..."

Mereka mendekat kearah Naruto dan mengelilinginya.

"Rasakan ini!"

"Aw! Aduh! Apa yang kalian lakukan! Ino, Sakura-chan, Tenten, jangan mencubitku! Aw!"

"Chouji, jangan menggigit-gigit pakaianku! Memangnya kau pikir ini makanan apa!"

"Sai! Jangan menarik-narik celanaku, nanti kalau melorot bagaimana!"

"Aw! Ittai! Ini anak satu juga kenapa, Aw! Kiba berhenti menginjak-injak kaki ku, kau tidak tahu apa itu juga habis diinjak-injak Sasuke."

"AAA... Lee! Darimana kau mendapat batu sebesar itu, cepat jatuhkan sekarang juga!" Naruto melotot horor melihat Lee yang mengarahkan batu lumayan besar kearahnya.

"TU... TU... TUNGGU! Aku memang menyuruhmu menjatuhkannya, TAPI JANGAN DI KAKI KU JUGA! CEPAT LETAKKAN ITU DAN JANGAN SAMPAI MENGENAI ORANG LAIN!"

"ARRRGH... SUDAH CUKUP KALIAN SEMUA! BAIKLAH, AKAN AKU LAKUKAN!"

Naruto memandang tajam mereka, yang hanya dibalas cuek. Desahan napas lelahpun terdengar darinya karena ulah sebagian anak-anak itu "Hah... hah... hah... sekarang bagaimana caraku bisa menggendong kalian?" ia pun terdiam sejenak, tak lama kemudian akhirnya ia mendapat sebuah ide. "Benar juga, kurasa aku bisa menggunakan itu! Sasuke, sekarang kau turun dulu sebentar!" Naruto pun menurunkan Sasuke, dan membuat sebuah segel tangan.

"Kagebunshin no jutsu!" empat bayangan pun tercipta dari segel tangan yang dibuat Naruto.

"Naruto-nii, kenapa kau membuat sedikit bayangan, aku kan juga mau digendong." ucap Shikamaru. Ia berdiri bersama tiga temannya yang dari tadi hanya melihat ulah jahil sebagian temannya kepada Naruto.

"Aku juga!" Neji ikut menimpali.

"A-aku juga, Naruto-nii." Hinata yang berada di belakang Neji berucap.

"Hm, aku juga." Shino memperbaiki letak kacamata yang bergeser.

'Ya ampun, empat bocah ini juga kenapa ikut-ikutan menyiksaku. Kaa-san... tolong aku...' batin Naruto.

Ia pun kembali membuat dua buah bayangan. Setiap bayangan ia perintahkan untuk menggendong dua orang anak, pengecuali untuk satu bayangannya yang menggendong Chouji, yang ada kalau dia menggendong Chouji bersama anak yang lain dia bakalan jalan oleng sana-sini kayak orang mabuk. Dan karena Chouji digendong sendiri otomatis ada satu anak yang juga tidak memiliki pasangan, dan satu anak itu adalah Sasuke. Tapi tenang, walaupun Sasuke tidak dengan anak lain, dia tidak digendong sendiri, ada Sang Tas Besar yang juga menemani kok. Jadi, Sasuke tidak sepenuhnya memonopoli Naruto.

.

.

.

BRUK!

Suara debaman terdengar di apartemen sederhana itu. Bunyi yang dihasilkan dari benturan tubuh Naruto dengan lantai tidak dihiraukan oleh bocah-bocah jejadian(?) yang kini sedang berlarian dan berkeliaran di apartemennya.

"Haah... rasanya aku tidak sanggup lagi bangun, tanganku juga terasa pegal sekali. Kuharap mereka tidak merusak sesuatu di sini." gumam Naruto.

Namun, baru saja berucap suara benda pecah terdengar.

Prang!

'Hiks... aku tidak sanggup lagi, AKU MENYERAAAH...!'

.

.

.

Jam makan malam hampir tiba, namun makanan belum ada tersedia di meja makan. Suara gaduh yang berasal dari kamarnya terdengar nyaring, namun Naruto sama sekali tidak menghiraukannya. Dia sejak dua belas menit lalu terus terbengong sambil menatap bahan makanan yang sudah disiapkan Tsunade di depannya.

"Apa yang harus aku lakukan dengan semua bahan masakan ini. Aku saja tidak bisa masak." akhirnya kalimat terucap dari mulutnya setelah lama diam membisu.

Naruto melirik kearah lemari persediaan ramennya yang terbuka, ia pun kemudian menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, yang ada kalau aku memberikan mereka itu Baa-chan akan memberiku ceramah secara gratisan." ia menghela napas lelah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa boleh buat, kurasa aku akan mencoba membuat masakan yang sederhana saja dulu."

Setelah beberapa lama berkutat di dapur akhirnya masakan pertamanya yang dia buat selain ramen sudah jadi. Naruto memandang ragu makanan yang tersaji di atas, kemudian ia menggendikkan bahunya. Naruto memanggil sekumpulan bocah yang sedang asyik bermain itu untuk makan malam.

"Makan malam sudah siap!" teriaknya.

Chouji yang sedang makan cemilan yang ia dapat dari kulkas Naruto berseru senang. "Yeay... makan!" ia segera berlari menuju dapur dengan cepat. Anak-anak yang lain pun juga ikut menyusul.

Dengan dibantu Naruto mereka duduk di kursi yang sudah Naruto tambah jumlahnya agar mereka semua bisa duduk. Mereka memandang bingung makanan yang tersaji di hadapan mereka.

"Naruto-nii, ini apa?" tanya Sakura.

"Mmm... telur dadar." Naruto menggigit kecil bibirnya.

"Tapi kenapa hitam-hitam begini." Sasuke menusuk-nusuk telur hitam itu dengan garpu.

"Itu telur dadar hitam." ia menjawab cepat.

Kiba mengendus-endus telur itu. "Aku tidak yakin. Baunya saja... aneh."

Kata terakhir Kiba sukses menancap dan menusuk hati Naruto.

"Jangan-jangan Naruto-nii mau meracuni kami, ya?" ucap Shino.

Lah ini malah makin nge-jleb. "Enak saja! Aku mana mungkin melakukannya! Lagipula untuk apa aku repot-repot meracuni kalian!"

"Ah sudahlah, aku tidak peduli kalian bicara apa. Aku ingin makan saja, dari tadi perutku sudah kelaparan." Chouji mulai memasukan sepotong telur kedalam mulutnya dan menguyahnya. Naruto dan teman-temannya memperhatikan dengan sangat serius. Saat makanan itu sudah masuk dalam perut Chouji, seketika itu juga ia jatuh tak sadarkan diri di tempat.

"Huaaa... ternyata Naruto-nii benar-benar ingin meracuni kita!" Lee berteriak histeris sambil menunjuk Chouji yang sudah menjadi kelinci percobaan masakan maut Naruto.

"HUAAA... Chouji, ada apa dengan denganmu?" Naruto berlari menuju Chouji dan menggoncang-goncang tubuh kecil itu dengan ganas.

"Naruto-nii, kau sudah membunuhnya." Sai berucap dengan santai.

"Aaaa... Sai, jangan berbicara seperti itu. Kau membuatku takut! Chouji, ayo bangun, bangun, BANGUUUNNN...!.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Balasan Review!

Thiyahrama : Ingatannya ada kok, cuma pemikiran mereka aja yang berubah jadi kayak anak kecil, dan pengetahuan mereka juga seperti anak kecil. Jadi kalo ada sesuatu hal dan benda yang anak kecil biasanya tidak tahu, mereka juga tidak tahu. Paham nggak sama kalimat itu, abisnya aku bingung sama kalimatku sendiri hehehe... Yah, intinya pengetahuan mereka itu sedikit layaknya anak seusia mereka.

Kuraublackpearl : Jadi balita, dong. Iya nih, Tonton nggak bertanggung jawab, main senggol sana senggol sini, jadi Naru-chan kan yang kena imbasnya. :D

Namikazesaphirepl : Cuma jadi balita aja, nggak jadi bayi, maaf ya. Masalahnya kalo semua jadi bayi nanti malah jadi lebih repot lagi Naru-chan nya. Kalo cuma sedikit orangnya sih nggak apa-apa, yang jadi masalah ini orangnya dua belas loh, DUA BELAS. Iya, ini udah lanjut!

Michhazz : Hahaha... sebenarnya nggak ada maksud menistakan Sasu-teme, tapi kalo kamu mikir gitu apa boleh buat. Aish... makasih do'anya, tapi aku masih benar-benar berharap cepat selesai prakerin, aku tidak sanggup lagi dan sepertinya tiga bulan masa prakerin yang tersisa itu masih cukup lama untuk selesai. :'( Iya ini udah lanjut.

Axsisyeolliefujo : Makasih, biasa-biasa aja kok, nggak sampai segitu. Ini udah lanjut.

Ai no Est : Iya, itu udah dilanjut. Makasih, tapi aku nggak yakin bisa bikin Sasu-teme yang imut-imut. Tapi kuharap masih tetap suka. Iya, silahkan!

Liaajahfujo : Jadi balita, dong. Iya nih, kasihan Naru-chan nya jadi repot. (Lah, kan Author yang bikin jadi gitu.) Hehehe... Iya, ya. Kelakuannya ikut berubah seperti anak kecil, tapi beberapa sifat mereka sebelumnya juga masih ada. Iya, itu udah lanjut!

Shafiraprakasa : haha... iya, iya aku juga nggak kebayang, pasti lucu deh jadi nantinya. Yap, ini udah lanjut.

Arum Junnie : Hehehe... mungkin sifat Sasu-teme agak tsundere-tsundere gitu. Walaupun Sasu-teme mau memonopoli Naru-chan, tapi nggak akan kubiarkan semudah itu hihihi... Iya ini dilanjut.

Snluv : Ah, masa sih, kupikir chap kemaren itu OOC, makanya aku kasih di warning. Untuk chap dua ini aku nggak tau apakah masih tetap nggak OOC, jadi masih aku kasih tanda OOC di warning. Ini udah dilanjut.

Guest : Sasu-teme nggak bakalan mesum-mesum amat. Errr... mungkin.

Deathglare : Aish... makasih. Mmm... sepertinya ada sedikit salah paham deh, Sai itu sebenarnya nggak suka sama Naruto, bisa dibilang Sai itu orangnya agak jahil, dia suka bikin Sasu-teme cemburu, yah begitulah. Jadi, disini nggak bakalan ada orang ketiga, kalo Sai deket-deketin Naru-chan, dia berarti lagi jahil dan pengen buat Sasu-teme kepanasan(?). Iya ini udah lanjut.

Avanrio11 : Ini udah lanjut, makasih udah mau nunggu.

Myungricho : Yah, bisa dibilang begitu. Ah, masa sih lucu, mungkin otakku saat ngetik fic itu lagi konslet. Kupikir aku cuma bisa bikin yang temanya serius dan nggak bisa ngelucu. Kalo teman sekelasku tahu, mereka percaya nggak ya kalo aku bikin fic lucu. Abisnya aku nggak pernah ngelucu, yang ada teman sekelasku yang sering ngelucu, dan kalau pun ditunjukin ama sesuatu yang lucu menurut teman ku, aku malah biasa-biasa aja. Kenapa banyak sekali kata 'lucu' ya? -_-a. Iya ini udah lanjut.

Uzumaki Megami : Iya, semua jadi anak-anak. Aku juga kasihan sama Naru-chan. (Woy, lo yang bikin kayak gini, kenapa lo juga jadi kasihan.)

Vlalalakook : Hehehe... nggak ada maksud menista Sasu-teme waktu itu, hanya saja aku tiba-tiba kepikiran sama adegan yang kayak gitu, jadi deh aku masukkan. Aw... ada lagi yang bilang lucu. Jadi balita aja, kalo jadi bayi nanti aku malah dirasengan Naru-chan. Bukan Sai aja yang bikin Sasu-teme cemburu, yang lainnya juga bakalan ikutan. Eh... jangan, nanti Naru-chan nya nggak suci lagi dong #plak XD

InmaGination : Iya, Naru-chan merawat semuanya, dua belas loh, DUA BELAS. Iya ini udah dilanjutin.

Gyumin4ever : Iya nih, dia cemburu. Yang sabar ya, Sasu-teme, cup cup cup.

Silvia380 : Aw... makasih. Ini udah lanjut.

Hairulchan : Iya ini udah dilanjut. Maaf, aku nggak bisa jamin update cepet, aku ini orangnya cuma bakal ngetik kalo mau aja, yah bisa dibilang pemalas gitulah hehehe..., tapi kadang-kadang juga maksain ngetik walau nggak ada kemau-an, kasian kan kalo ada reader yang nungguin fic aku kelamaan. (Itupun kalo ada yang nunggu.) Makasih udah bilang keren.

Kazekageashainuzukaasharoyani : Ini penname susah banget ya diketik. Yo! Sama-sama, ini udah dilanjutin.

Kuro SNL : Aish... makasih. Iya, ini udah dilanjutin.

Arashilovesn : Udah dilanjutin, nih. Ha'i, aku akan berusaha.

Snl frvr : Iya, udah dilanjutin.

Hamano Hiruka : Iya, itu udah lanjut. Iya nih, Sasu-teme cieee cieee.

Come N Love Me : Eh? Apanya yang kurang asem? Maaf lama, aku nggak bisa jamin update cepet.

URuRuBaek : Iya, ini udah ada chap duanya.

Fu7olov3SNY401 : Iya, ini udah lanjut, maaf lama. Sasu-teme ikut jadi kecil juga tuh.

Apa ada yang belum dibalas, kalau ada silahkan beritahu!

A/N : Yeah, chapter dua sudah jadi. Chap 1 kemarin aku benar-benar kaget, kupikir fic ini nggak ada yang suka karena cuma ada satu email notifikasi yang masuk dan setelah itu hp nggak bunyi-bunyi sampe satu jam. Pas hp bunyi satu jam kemudian baru aku cek email dan ternyata ada banyak notifikasi, ternyata emailnya lambat masuk, padahal aku sempet resah selama satu jam itu. Yosh, terima kasih buat semua yang udah review, fav, follow, dan semua reader yang udah baca fic ini. Do'a kan semoga chap berikutnya bisa cepet update, ya! Dan bagi yang mau review silahkan! Udah dulu ya, capek nih di depan laptop seharian, bye bye!