Apa ini?
Jangan tertawakan Thor ya.
Enjoy the story, leave a comment please.
.
.
.
Bab 1
Pertemuan
.
.
.
(Past)
"Yan-chan jangan lari!" Teriak seorang wanita yang mengejarnya. Tapi yang dipanggil tidak memperdulikan suara yang memanggilnya itu. Tubuh gadis kecil itupun menghilang diantara kerumunan banyak orang yang ada di daerah tersebut. "Yan-chan!" teriak wanita tersebut sambil terus memanggil-manggil namanya.
Sedangkan anak yang dicari oleh wanita tersebut terus berlari mengikuti langkah kaki kecilnya yang terus membawanya kedepan. Sesampainya dia di sebuah tempat yang jauh dari keramaian jalan dia berhenti. Terduduk seorang diri di taman. Tiba-tiba terdengar suara pentir menyambar. Dia tertegun sesaat dan menatap awan-awan yang bergelantung diatasnya. Beberapa orang yang ada di taman berlarian menghindari titik-titik air yang berjatuhan dari atas langit.
Tiba-tiba seseorang menyentuh pergelangan tangannya dan membawanya ke bawah sebuah mainan yang ada di taman. Yan-chan menatap seorang anak laki-laki yang menariknya.
"Kakak, bisa kebasahan. Nanti sakit dan kena flu, lho!" katanya sambil tersenyum. Yan-chan tertegun.
"…Te… terima kasih…" Kata Yan-chan sambil menangis. Anak itu tak mengerti mengapa Yan-chan menangis. Dia hanya tersenyum dan mengulurkan sapu tangan yang dia ambil dari saku celananya.
.
.
.
(Present)
Malam itu, Yan-chan mengibarkan sebuah sapu tangan dengan motif teddy bear yang baru saja dia temukan di dalam lemarinya. Dia tersenyum mengenang masa lalunya. Begitu banyak hal yang terlupakan antara dia dan dirinya. Begitu banyak kenangan yang dia peroleh bersama dengannnya. Sekarang satu per satu dia kumpulkan dan simpan ke dalam sebuah kaleng kue. Di dalamnya terdapat banyak benda-benda anah dimulai dari, biji rambutan yang bentuknya seperti hati, setangkai bunga mawar yang kering, sebuah jepit rambut bergambar Hello Kitty, karet gelang, kelereng berwarna biru dan benda-benda aneh lainnya dan sekarang dia memasukkan sapu tangan tersebut kedalam kaleng 'Harta Karunnya'
Setelah itu dia segera menyembunyikan kaleng tersebut ke lemari belajarnya di sana ada sebuah toples yang berisi kertas origami. Dia menatapnya. Dan mengeluarkan salah satu kertas lipat tersebut.
"Al, apakah kau akan pulang? Baru saja tadi siang kau berangkat aku sudah kangen ingin bertemu denganmu…" katanya sambil kembali memasukkan lipatan itu kedalam toples tersebut. Dia duduk di meja belajarnya dan mengambil buku catatan yang ada dihadapannya.
1st December
It's been a while…
I really miss him now, My Al.
Hope he misses me too
Dia berhenti sejenak dan kaget melihat seseorang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. "Ade!" katanya setengah berteriak. Segera dia menutup buku itu dengan tangan kirinya.
Ade hanya tersenyum melihat respon yang diberikan oleh Yan-chan. "Onee-chan, lagi ngapain makan malam udah siap." Katanya sambil tersenyum.
"Ya, segera menyusul…. Sana keluar cepat!" usirnya pada Ade. Ade semakin penasaran dia memaksa masuk ke dalam kamar itu dan melihat buku yang tadi tengah dibaca atau ditulis oleh Yan-chan.
"Jangan!" teriak Yan-chan hingga tanpa sengaja buku itupun terjatuh. Ade terkejut saat melihat selembar foto jatuh dari dalam buku tersebut. Dia tersenyum dan hendak memungutnya. "Ade!" wajah Yan-chan semakin memerah.
"Kok, ada foto Al sih?" Tanya Ade dengan tatapan mencurigakan.
"…." Yan-chan terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Aku lapar, ayo!" Ajaknya sembari merebut foto Al dari tangan Ade.
"Onee-chan…." Kata Ade.
"Iya! Segera keluar!" kata Yan-chan dia menyelipkan foto tersebut kembali ke dalam buku miliknya. Diapun segera keluar dan duduk manis di meja makan.
Usai membereskan semuanya bersama Ade,"Bu, Pa. aku ngantuk mau tidur." Kata Yan-chan. Tanpa menunggu jawaban dari keduanya dia segera masuk ke dalam kamarnya. Dia mengunci pintu kamarnya dan kembali terduduk di kursi yang mana tadi dia meletakkan buku miliknya yang tidak sempat dia simpan.
"I miss you…" dia tersenyum memandangi foto seorang yang tadi dia rebut dari Ade. "Ini…" dia tersenyum sejenak dan menyelipkan foto tersebut diantara lembaran kertas tersebut. Dia kembali menuliskan isi hatinya dalam bukunya. Dia menatap tulisan yang ada tadi dia tulis tersenyum sejenak dan melanjutkannnya. Mimpi indah yang akan membawanya tidur lelap malam ini.
Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh. Hal yang tidak terduga sebelumnya. Hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Hal yang hanya ada dalam sinetron yang mungkin akan orang katakan sebagai hasil imajinasi atau non-sense. Biarkanlah aku sejenak untuk tenggelam didalamnya. Menikmati apa yang namanya cinta. ^_^
.
.
.
(Past)
Di komplek perumahan yang baru saja di resmikan, tinggallah dua keluarga yang rumahnya saling berhadapan. Keduanya sama-sama memiliki bayi, keluarga yang tinggal di no. 4 memiliki bayi perempuan sedangkan tetangga mereka memiliki seorang bayi laki-laki. Bayi perempuan itu di panggil Ade sedangkan anak laki-laki di keluarga seberang bernama Al dan kakanya Hari. Sudah seminggu ini mereka melakukan aktifitas bersama-sama. Kedua keluarga itu menjadi begitu dekat.
Saat liburan sekolah datang keluarga Ade tampak begitu sibuk untuk bersiap-siap menyambut kedatangan anggota keluarga yang lain.
"Ibunya Ade, kenapa yak lo akhir-akhir ini saya perhatikan ibu tampak begitu sibuk?" Tanya Ibu Al.
"Oh, iya. Sebenarnya putrid pertama saya akan segera tinggal dirumah ini. Maklumlah dia sangat suka tinggal bersama dengan neneknya," kata Ibu Ade menjelaskan.
"Oh, jadi ibu punya dua orang putrid, ya. Duh menyenangkan sekali. Dirumah adanya lelaki semua." Katanya sedikit merasa iri.
"Tenanglah, itukan artinya ibu Al yang paling cantik di rumah," kata ibu Ade sambil tersenyum.
"Ah, ibu ini bisa aja," sahut ibu Al menimpali.
Keesokan harinya, putri pertama ibu Ade datang. Usianya kurang lebih empat tahun. Pantas saja ibu Ade menjauhkan putri pertamanya dari putrid kedua mereka soalnya usianya yang masih cukup kecil dan mungkin kerepotan yang akan dia hadapi saat mengurus dua anak sekaligus.
"Yan kemari saying. Ibu kangen banget ma Yan-chan," katanya sambil memeluk putrid pertamanya itu.
"Ibu, mana adik bayinya?' Tanya Yan-chan. Merasa anaknya akan rukun bersama dengan adik bayinya. Sang ibu segera menunjukkannya pada Yan-chan. Bukannnya mau mencium atau mengajaknya bermain, hal yang pertama Yan-chan lakukan adalah mencubit pipi Ade yang sedang tertidur lelap. Kontan hal tersebut membangunkan Ade. Dia menjerit dan menangis sekencang-kencangnya.
"Yan-chan!" teriak sang ibu pada putrinya itu. Dia segera meraih Ade dan berusaha untuk menenangkannya.
"Ga, mau. Yan-chan mau cowo! Ade bayinya harus cowo!" dia menangis sangat kencang. Ibu Al segera keluar dan berusaha untuk ikut menenangkan Yan-chan yang tengah menangis. Dia menangis ingin ade laki-laki. Ibu Al segera membawanya ke rumah dan menunjukkan Al pada Yan-chan. Al tidak menangis ataupun merasa terganggu dengan kedatangan Yan-chan. Sedangkan Yan-chan yang terus menangis meminta adik laki-laki tetap tidak perduli. Al hanya menatap lurus pada Yan-chan dan seolah-olah memperhatikannya. Dia mengulurkan tangannya. Sang ibu segera menggendongnya. Tangan Al jatuh diatas kepala Yan-chan yang sedang menangis. Yan-chan pun menghentikan isak tangisnya.
"Nah, liat. Ini juga adek bayi. Yan-chan boleh kok buat jadi kakaknya. Liat tuh adik bayinya ngeliatin Yan-chan terus," katanya sembari menghibur.
"Ibu aku pulang!" kata seseorang sambil berlari kedalam rumah.
"Oh, Hari sudah pulang ya?" katanya sambil melihat anak yang baru sja masuk ke dalam rumah. "Nah, Yan-chan ini Hari, anak tante yang pertama. Kalian main bareng dulu ya. Ibu mau menidurkan Al," katanya memperkenalkan keduanya dengan singkat.
"Ya, bu." Jawab Hari. Yan-chan menatapnya. "Yuk, kamu mau main apa?" ajaknya sambil menarik Yan-chan.
Sejak saat itulah hubungan kedua keluarga tersebut terjalin. Ke empat anak tersebut, Hari, Yan-chan, Al dan Ade. Jika diurutkan mereka seperti kakak beradik. Dan begitulah awal dari semuanya. Ke empat saudara yang tumbuh bersama.
Tujuh tahun kemudian, di pagi hari yang cerah itu dua orang anak tengah bermain di jalannan yang sepi tersebut. Al dan Ade yang tengah menunggu kakak-kakak mereka di pinggir jalan dengan sepeda yang sudah siap untuk membawa mereka ke tempat tujuan yang diharapkan.
"Al, Ka Hari lama banget panggil dia dong. Ayo, panggil Ka Hari buat keluar. Ka Hari!" teriak Ade. Al segera berlari kearah rumahnya.
"Ka, ayo cepat apa yang sedang kakak lakukan sich?" Tanya Al pada Hari.
"Ya, tunggulah sebentar lagi. Kakak lagi membereskan makan siang kita!" kata Hari sambil memasukkan kotak makanan ke dalam tas yang dia bawa.
Al segera keluar dari dalam rumahnya dia tampak begitu gembira. Dia berjalan tanpa melihat kea rah kira-kanan jalan. Ka Hari masih mengunci pintu rumah. Dari arah yang berlawanan terdengar suara jeritan. Ka Hari terkejut melihat ke jalan.
"Maaf, bu. Ini semua salahku. Seharusnya Hari memperhatikan semuanya," kata Hari dengan wajah yang tertunduk.
"Tak apa, mungkin ini memang sudah takdir. Tak apa, yang penting Al dan Yan-chan tak apa-apa. Mereka masih selamat itu adalah hal yang terpenting," kata ibu Ade sambil berusaha menenangkan Hari yang merasa bersalah atas semua hal yang telah terjadi.
"…" Mendengar hal tersebut Hari tidak dapat berkata apa-apa. Sedangkan Al dia ada dalam dekapan ibunya. Tertidur dengan kepala yang terdibalut yang menunjukkan kepalanya terluka.
.
.
.
(Present)
1st December
…..I taught I miss you so much Al. Your words like a spell.
'Jangan buat bangau keseribu'
I will wait for you…. Waiting for a while.
Yan-chan terdiam sambil memandangi ulang halaman tersebut dia kembali mengambil foto Al yang tadi dia selipkan. "Ini pertama kalinya kita berpisah, Al. Aku takkan menunggumu…" Kata Yan-chan sambil tersenyum dan menatap foto Al. sebelum akhirnya dia berbaring terlelap dalam mimpinya.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
Aneh ya? Gaje2 dikit napa?
Paste your document here...
