The Helpers

2.

Pada Senin mendatang, satu minggu lebih setelah Sehun menghabiskan hari-harinya di rumah dengan masih kebingungan atas semua yang terjadi, Sehun akhirnya berada di lingkungan sekolah.

Sebenarnya Sehun tidak mau mengakui ini, tapi ia amat antusias untuk berada di lingkungan sekolah. Sehun tidak tahu apakah di kehidupan selanjutnya masa sekolahnya menyenangkan atau tidak, hanya saja ia ingin tahu bagaimana kehidupan sekolah Sehun. Mungkin lebih menyenangkan dari kehidupan sebelumnya, atau bahkan lebih buruk? Atau bahkan di kehidupan sebelumnya umurnya bahkan tidak sampai pada masa sekolah menengah atas?

Uh. Menyedihkan juga memikirkan dirinya yang mungkin memiliki umur pendek di kehidupan sebelumnya.

Jadi ternyata kabar mengenai dirinya yang mengalami suatu 'kecelakaan' telah menyebar ke seluruh anak manusia yang ada di sekolahnya. Dapat dilihat dari bagaimana murid-murid di sini sesekali melirik padanya kemudian membisikkan sesuatu untuk membicarakan. Mungkin membicarakan mengenai Sehun dan amnesianya. Ugh. Sehun menghembuskan napasnya berat. Kenapa manusia-manusia ini tidak bisa lebih sembunyi-sembunyi untuk membicarakannya? Saat ini ia tidak butuh perhatian dari orang banyak. Yang ia butuhkan saat ini adalah untuk menyelesaikan misinya, sepertinya hal ini akan sulit karena ternyata sang anak yang perlu dituntun ini amat membenci dirinya.

Ya ampun, sebagai malaikat saja ia diberi cobaan di bumi.

"Oh, Sehun!" seseorang berseru terkejut sehingga lagi-lagi banyak perhatian tertuju padanya. Kelas 2-5, di pagi ini baru ada beberapa orang yang hadir, mereka semua terlihat terkejut dihadapkan pada Sehun.

"H-hi?" Sehun tersenyum canggung, ia melambaikan tangannya pada teman-teman sekelasnya meski ia sama sekali tidak mengenal mereka. Sehun bertanya-tanya apakah dirinya di kehidupan sebelumnya seperti ini? Begitu canggung dan tidak pandai bersosialisasi. Ia kemudian memilih tempat duduk yang sekiranya nanti tidak akan terlalu membuat perhatian, di barisan paling ujung dekat lockers besar.

Sehun mengitari pandangannya ke sekitar, memperhatikan satu per satu wajah teman-teman sekelasnya. Jongin itu teman sekelasnya juga, kan? Sepertinya ia belum datang.

Dapat terasa tatapan demi tatapan mengarah padanya. Panik mulai menyerang Sehun ketika orang-orang di kelasnya mengerumuni dan membombardir dirinya dengan banyak pertanyaan hampir pada waktu yang sama.

"What happened to you?"

"Are you okay now?"

"Kenapa kau terlihat kebingungan?"

"Katanya Jongin yang melakukan ini, ya?"

"Apa yang Jongin lakukan padamu?"

"Ya!" dari caranya berteriak atau lebih kepada berteriak separuh memekik yang memekakan telinga seperti itu, Sehun tidak perlu diberitahu siapa pemilik suara tersebut. Soojung kini sedang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya bertolak pinggang, ia terlihat gusar. Ada dua anak lelaki di samping Soojung yang kini berdiri sembari memandangi kerumunan tersebut. Ketika pandangan dua anak lelaki tersebut bertemu dengan figur Sehun, mereka terlihat amat senang.

"Menjauh dari Sehun!" Soojung masih saja berteriak meski pagi ini amatlah tenang. Semua orang dapat mendengar suaranya tanpa ia berteriak, tapi Soojung adalah Soojung. Bahkan kehadirannya nampak mengintimidasi. Orang-orang yang mengerumuni Sehun pun kembali ke zona nyaman mereka masing-masing.

Meski Sehun sempat berpikir kalau Soojung itu amat kasar untuk seorang anak perempuan bergaya elegan, namun ia bersyukur memiliki kakak seperti Soojung.

"Oh Sehun!" kata salah satu anak lelaki itu. Soojung beserta dua anak lelaki yang datang bersamanya segera menghampiri Sehun. Satu anak lelaki itu tersenyum amat lebar, ia kemudian memeluk Sehun erat membuat Sehun untuk beberapa saat hanya menghirup aroma bedak bayi yang melekat di kain seragamnya.

"So ..., here are your friends." Kata Soojung pada Sehun yang masih ada dalam pelukan seorang anak lelaki.

.

.

.

Hari ini berjalan lancar-lancar saja menurut Sehun. Ia tentu tetap mendapatkan banyak perhatian setelah berita mengenai dirinya yang terkena musibah beredar, tak terkecuali guru-guru yang mengajar di hari ini. Namun setidaknya guru-guru itu tidak terlalu terdengar ingin tahu segala hal mengenai Sehun. Tidak seperti teman-teman sekelasnya yang di tiap kesempatan mencoba untuk menanyakan apa pun, mungkin untuk disebar.

Sehun mencoba beradaptasi dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya hari ini. Anehnya ia dapat mengikuti apa yang sedang dipelajari, ia tidak kebingungan sama sekali. Sehun hanya merasa bingung mengapa ia dapat mengikuti pelajaran untuk sekolah menengah. Mungkin Yang Mahakuasa memberikan sebagian ilmu-Nya sebagai bekal di bumi? Entahlah, Sehun sendiri sebenarnya tidak pernah menemui Yang Mahakuasa. Semuanya masih menjadi misteri bagi Sehun.

Oh. Sehun benar-benar merasa menyesal bila ternyata Sehun yang sebelumnya memiliki catatan prestasi yang baik. Mungkin Sehun yang baru ini akan menghancurkan catatan prestasinya. Untung saja belajar-mengajar hari ini tidak harus melakukan apa pun selain mencatat dan para guru yang memberikan tugas.

Dan selama kelas dimulai hingga kini jam istirahat tiba, Sehun belum melihat Jongin sama sekali. Ia bahkan sudah berulang kali mencoba memperhatikan wajah tiap teman-teman satu kelasnya, siapa tahu Jongin tidak sempat terlihat olehnya. Namun setelah berjam-jam berlalu, Sehun masih tidak dapat menemukannya. Mereka ini sekelas bukan?

"Sehun, kau tidak menjawab teleponku!"

"Tentu saja, dia 'kan tidak mengingatmu."

"Gosh, I know."

Sedari tadi yang dilakukan dua anak lelaki di hadapannya ini hanya mengoceh pada satu sama lain. Mereka memang nampak senang untuk menyambut kembali kehadiran Sehun, namun dua anak lelaki ini sepertinya lebih senang untuk berdebat.

"Jadi," kata Sehun tiba-tiba untuk memotong percekcokan yang sedang berlangsung, "kalian temanku?" ia memandangi dua anak lelaki di hadapannya yang sudah berhenti beradu mulut. Selama beberapa saat mereka masih saling bergumam pada satu sama lain untuk saling mencela sebelum kemudian memandangi Sehun balik dengan tatapan kagum.

"Woah, Sehun," ucap salah satu dari mereka, ia yang tadi memeluk Sehun amat erat, "jadi begini ya melihat orang yang amnesia. Soojung benar, this is so fascinating." Namanya Park Chanyeol, ia merupakan anak lelaki berperawakan tinggi nan kurus, memiliki gigi yang amat rapi—senyumnya terlihat sungguh cemerlang sehingga tiap orang yang melihatnya dibuat buta karena ternyata Chanyeol ini memang senang untuk tersenyum.

Ada sebuah kepercayaan yang mengatakan "Senyum itu ibadah", jadi mungkin Chanyeol ini orang yang religious. Baiklah, Sehun catat untuk informasi tambahan.

"Apa rasanya sakit? Kau baik-baik saja sekarang?" yang terdengar merasa cemas ini namanya Do Kyungsoo, ia memperkenalkan dirinya sebagai teman sekelas yang dekat dengan Sehun karena ternyata ia terlalu malu untuk berkenalan dengan orang lain.

Kalau Sehun saja disebut pendiam oleh keluarganya, bagaimana kalau mereka bertemu Kyungsoo? Atau kedua orang tuanya sudah bertemu?

"Uhm, ya, kepalaku masih agak sakit. "

"Jadi kau tidak mengingat kami sama sekali?" Chanyeol lagi-lagi bertanya.

"Hm."

"Woah, ini benar-benar keren." Chanyeol tidak henti-hentinya berkomentar mengenai kondisi Sehun, yang tiap saat dikomentari balik oleh Kyungsoo dengan betapa Chanyeol amatlah tidak sopan terus mengocehi teman yang baru saja terkena musibah. Mereka kemudian kembali lagi saling mengganggu satu sama lain.

Sehun dan 'teman-temannya' kini sedang menghabiskan waktu istirahatnya di dalam kelas. Orang-orang yang memberikan Sehun perhatian mulai berkurang, ia tidak mendapatkan tatapan yang begitu banyak seperti ketika ia baru memunculkan dirinya di sekolah.

Sebuah kotak makan dengan menu vegetarian telah disiapkan oleh sang ibu. Sehun tidak tahu kalau ia seorang vegetarian. Not that he's surprised, apalagi bila kau melihat berapa banyak sayuran dan buah-buahan yang memenuhi lemari es di rumahnya.

Mereka kemudian menyibukkan diri mereka dengan bekal masing-masing. Kyungsoo membawa bekal makan siangnya berupa roti lapis dengan sekotak jus jeruk, Chanyeol tidak membawa bekal yang biasanya orang-orang sebut dengan 'bekal makan siang'. Ia hanya membawa sekantung makanan ringan dan sebotol minuman bersoda.

Pandangan Sehun kemudian teralihkan pada lockers yang tersimpan berada di sudut kelas, terdapat nama pemilik tiap satu ruang untuk satu murid. Sehun menemukan namanya sendiri, tepat di samping locker milik Kyungsoo. Lockers tersebut sesungguhnya amatlah unik. Mereka menghiasnya sedemikian rupa, sepertinya sesuai selera sang pemilik bila dilihat dari bagaimana berbedanya hiasan di tiap locker.

Kemudian ada satu locker yang tidak terdapat hiasan sama sekali, isinya pun tidak ada apa-apanya selain debu. Locker-nya terlihat mencolok karena locker tersebut satu-satunya yang terlihat amatlah polos, stiker dengan nama pemilik yang seharusnya melekat di sana malah tidak ada. Sehun dapat melihat bagaimana stiker tersebut memiliki bekas sobekan tidak rapi seperti dilepas paksa. Di sana hanya tertulis 'Kim J'.

"Oh." Tanpa sadar Sehun menyuarakan tersebut, pandangannya masih pada locker tersebut hingga kemudian Chanyeol mengembalikan kesadaran Sehun pada teman-temannya dengan bertanya,

"What's wrong?"

"Huh?" Sehun menoleh pada Chanyeol. "Nothing." Kemudian kembali melanjutkan kegiatan makannya. Chanyeol pun ikut menelusuri ke mana pandangan Sehun tadi mengarah, ia kemudian tersenyum kecil.

"Ah. The lockers." Chanyeol masih tersenyum. "Kau pasti tidak mengingatnya. Decorating them was really fun."

"Ya, semuanya terlihat menarik." Sehun kemudian melanjutkan, "Kecuali yang satu itu ..., namanya saja bahkan tidak ada." Sehun sebenarnya sudah tahu bahwa pemilik locker pastilah Kim Jongin. Dari inisial nama yang tertinggal di stiker, lalu dari bagaimana nama Jongin tidak ada di sana, serta dari ingatan mengenai tugasnya untuk membimbing Jongin kembali ke jalan yang benar.

Hanya saja Sehun ingin memancing teman-temannya untuk membicarakan Jongin. Mungkin dari Chanyeol dan Kyungsoo, Sehun bisa mendapatkan sedikit informasi yang berguna mengenai Jongin tanpa harus terlihat penasaran. Sehun ingat bahwa ia harus menyembunyikan identitasnya sebagai malaikat pembimbing Jongin.

"Oh." Kyungsoo terlihat sedikit gugup, ia melirik Chanyeol sekilas yang setelahnya juga melirik Kyungsoo balik. Mereka berdua kini terlihat gugup. Raut wajah mereka sama seperti kedua orang tuanya ketika mereka pertama kali menghadapi Sehun yang kehilangan ingatannya. "Uhm, ya, yang satu itu milik anak di kelas kita."

"Siapa?" tanya Sehun terlalu cepat. Ia harap ia tidak terdengar amat penasaran dengan Jongin.

Chanyeol dan Kyungsoo melihat ke sekitar mereka, mungkin sedang mencari bila ternyata orang yang akan mereka bicarakan ini ada di dekat mereka. Chanyeol kemudian mendekatkan wajahnya pada Sehun, dan berbisik, "Namanya Kim Jongin, dia itu anak yang ..., uhm, ya begitulah."

"Kalian berdua tidak terpisahkan." Kyungsoo menambahkan. Dan pernyataan tersebut membuat Sehun jadi kebingungan. Raut wajah Kyungsoo sedikit berubah menjadi sesuatu yang ... tidak dapat Sehun artikan. Maksudnya? Aku dan Jongin dulu itu sepasang ...?

Bagai dapat membaca pikiran, Chanyeol kemudian menjawab pertanyaan yang terlintas di pikiran Sehun setelah sebelumnya tertawa geli, "Pfft. Jangan berkhayal, Oh Sehun!" Chanyeol berusaha untuk tidak tersedak makanan yang sedang ditelan di sela-sela tawanya. "Kalian tidak dapat dipisahkan karena kalian itu saling membenci."

"What?!" Sehun sepertinya bereaksi terlalu berlebihan mengingat Chanyeol dan Kyungsoo berpikir bahwa Sehun juga lupa mengenai Jongin, namun mereka tidak bertanya lebih lanjut. "Kami saling membenci?"

"Hmm." Kyungsoo menganggukkan kepala sebagai jawaban, sumpit di tangannya ia gigiti. Kyungsoo memandangi pemandangan di luar jendela, menerawang. "Terlalu banyak episode untuk diceritakan mengenai kalian berdua."

"Tapi ...," what the heck?! Kenapa kami saling membenci?

"Entahlah." Chanyeol menjawab Sehun. Sepertinya Sehun tanpa sadar menyuarakan isi pikirannya. Ia sepertinya begitu terkejut dengan fakta ini hingga tidak dapat menyaring antara kata hatinya dengan kata-kata yang seharusnya diucapkan. "Hanya Tuhan, Jongin, dan kau yang tahu."

"Yang kami tahu kalian itu saling membenci."

"No way."

"Yes way, Oh Sehun. Kau bahkan yang membuat locker Jongin terlihat seperti itu sekarang."

"What?!" Sehun terbelalak, okay, ia tidak tahu kalau Sehun ini memiliki hubungan seburuk itu dengan Jongin sebelumnya. Bila Sehun memang sebelumnya orang yang buruk, mengapa Yang Mahakuasa memindahkannya ke tubuh Sehun untuk dijadikan samaran seorang malaikat? Bagaimana Sehun dapat membimbing Jongin ke jalan yang benar bila Sehun sendiri memiliki imej yang buruk?

"So..., I'm a bad person ..." gumam Sehun dengan tatapan kosong. Ia merasa tugasnya di bumi ini mulai menjadi beban yang amat berat.

"Oh, bukan begitu, Sehun. Hanya saja kau mungkin pernah diperlakukan hal yang sama oleh Jongin sebelumnya." Tutur Chanyeol dengan makanan ringan yang memenuhi mulutnya. "Mungkin penghancuran locker itu wujud balas dendam atas apa yang Jongin lakukan padamu."

"You were so brutal though." Kemudian Kyungsoo membuat suara yang sepertinya sebagai peniruan bagaimana Sehun menghancurkan hiasan locker Jongin.

"Memangnya apa yang Jongin lakukan padaku?" Sehun menjaga nada bicaranya agar tidak terlalu terdengar frustasi.

Kyungsoo dan Chanyeol kemudian saling berpandangan mereka berdua mengangkat bahu bersamaan. "Kami tidak tahu."

"Bisa jadi karena Jongin membuang ponselmu ke sungai." Kyungsoo berucap.

"Atau karena—oh, Kyungsoo. Ingat saat Jongin mencuri tas Sehun lalu mengembalikannya ... dalam keadaan tanpa isi? That was a good one."

"Oh, right. Bila harus diceritakan satu-satu, kau dan Jongin memiliki cerita yang panjang." Kyungsoo memberikan tatapan cemas lagi, seperti mengatakan bahwa semuanya tidak harus dipikirkan.

"Lagipula kau 'kan tidak mengingat apa-apa, anggap saja kau tidak mengenal Jongin. Putuskan hubungan tidak sehatmu itu dengannya." Ucap Chanyeol dengan nada yang sedikit dinaikan.

"Hmm. Dari pada kau terus-terusan saling dendam."

"Huh. Kenapa aku harus balas dendam pada Jongin? I mean, siapa pun yang salah tidak penting." Sehun terus mengoceh. "Aku hanya harus meminta maaf, semuanya jadi lebih mudah."

Lagi-lagi Chanyeol dan Kyungsoo berpandangan, kali ini lebih lama, mereka berdua kemudian spontan tertawa terbahak-bahak bersama sehingga membuat anak-anak yang ada di satu kelas itu ikut berpaling pada mereka.

"Sejak kapan kau jadi baik begini, Oh Sehun?" Chanyeol terkekeh amat geli. Ia memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.

"Sehun, kau benar-benar berbeda setelah kecelakaan itu." Kyungsoo sudah berhenti tertawa, ia kemudian menyikut Chanyeol yang masih tertawa.

Chanyeol mulai menghentikan tawanya setelah merasa puas, ia menyeka buliran air di sudut matanya. "What are you? An angel?"

Holy God. Mendengar Chanyeol menyebutkan nama kaumnya, tubuh Sehun sedikit menegang. Namun ia tetap mencoba untuk tenang dan bereaksi seperti biasa. Lagipula Sehun meragukan para anak manusia ini akan percaya bila ia memberitahu jati dirinya.

"No! Tentu saja tidak, aku ini manusia. Ha-ha. Ya, manusia ..." Ya. Sehun malah menjawab histeris begitu. Meski ia mencoba untuk tidak histeris, tapi tetap saja ia sulit untuk menenangkan dirinya.

Menyadari bagaimana tatapan Kyungsoo dan Chanyeol berubah menjadi kebingungan, Sehun pun memalingkan wajahnya pada makanan di hadapannya, kembali pada makan siangnya.

What the heck did I just say?

Makan siang sudah selesai, namun tidak ada lagi obrolan. Sepertinya Sehun yang tiba-tiba berucap aneh membuat suasana menjadi canggung untuk Chanyeol dan Kyungsoo sehingga mereka tidak mencoba untuk mengajak Sehun berbincang lagi.

Sehun mengerang. Ia benar-benar kesal dengan situasi sekarang yang mempersulit segalanya. Ternyata tugas ini tidak sesederhana yang dibayangkannya. "God damn it," gumam Sehun kemudian berdecak kesal, namun tiba-tiba saja rasa sakit di kepala Sehun hadir, "—fuckouch! Ouch!"

Sehun mengaduh sakit sambil memegangi kepalanya spontan, pemandangan tersebut membuat Chanyeol dan Kyungsoo langsung panik. Mereka segera mendekati Sehun.

"What's wrong?!"

Rasa sakit itu ada untuk beberapa kali kemudian pergi begitu saja. Benar-benar tidak ada bekasnya. Sehun mengerjapkan matanya berkal-kali, terkejut pada sengatan rasa sakit di kepalanya. Ini sudah terjadi padanya sebelumnya. Mungkin ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialaminya?

Di sela-sela Chanyeol dan Kyungsoo mengkhawatirkan Sehun, mereka dikejutkan oleh bunyi bel sekolah. Murid-murid pun menyebar untuk membereskan kotak makan mereka dan kembali ke bangku masing-masing.

Baru saja para murid ini beberapa detik menarik napasnya untuk menenangkan diri setelah lelah habis berbicara banyak pada jam istirahat, seorang guru telah masuk ke kelas dan memberitahukan mereka bahwa akan ada sebuah pre-test kecil untuk menghadapi ujian akhir semester yang sesungguhnya.

Hah. Mengikuti pelajaran sih tidak apa-apa, Sehun nyatanya masih bisa. Namun mengerjakan sebuah pre-test? Entahlah. Sehun bisa saja gagal—ugh. Ia tidak seharusnya begini. Kalau pun ia gagal, memangnya akan berpengaruh pada kehidupannya nanti? Tidak usah mencemaskan hal-hal seperti ini, yang penting tugasnya di bumi ini selesai.

Tapi bagaimana mau selesai kalau Jongin saja bahkan membencinya begitu?!

Sang guru mulai menuliskan dua nomor soal di papan tulis, punggungnya menghadap pada para murid. Suasananya agak gaduh ketika mereka mencoba untuk membicarakan jawaban mengenai soal di papan tulis. Sehingga sang guru beserta murid yang lain tidak menyadari ketika seseorang masuk ke dalam kelas.

"Oh, God." Sehun berusaha untuk tidak mengeluh ketika teringatkan oleh tugasnya, tapi sulit untuk dirinya bertingkah seolah semuanya mudah untuk dilakukan. Sebagai seorang malaikat, ia benar-benar berpikiran negatif.

Sehun pun menjatuhkan kepalanya ke atas meja, pipinya melekat pada permukaan meja. Ia melenguh terkejut ketika dihadapkan pada sebuah pemandangan yang mencengangkan baginya itu.

Holy shit, that's—Kim Jongin.

Akhirnya Sehun dipertemukan dengan Jongin!

Kim Jongin, kini sedang duduk di bangku samping Sehun. Jongin mengubur wajahnya di kedua tangannya yang ia lipat di atas meja, namun sebagian wajahnya masih dapat Sehun lihat. Pemandangan ini tidak terduga sehingga Sehun hampir saja tersedak ludahnya sendiri ketika melenguh terkejut.

Oh. Jadi Jongin duduk di samping Sehun? Atau ini hanya sebuah kebetulan karena tidak ada bangku yang tersisa ...?

Rambut Jongin terlihat lepek, basah mungkin karena keringat. Ia juga sekaligus terlihat kelelahan. Dan diri Jongin yang memejamkan seperti sekarang ini tidak sama sekali mencerminkan anak lelaki nakal atau semacamnya. Berbeda dari hari kemarin ketika Jongin yang berperilaku amat tidak sopan pada Sehun. Jongin terlihat tenang begini. Untuk beberapa saat Sehun masih memperhatikan figur Jongin, suasana yang tenang membuat Sehun juga jadi lupa akan dunia di sekitarnya sesaat. Sang guru sepertinya tidak terlalu memperhatikan murid-muridnya karena jelas-jelas saat ini ada dua murid yang tidak mengerjalan pre-test. Salah satunya bahkan sedang terlelap. Hm, tipikal guru pemalas.

"Baiklah, kumpulkan lembar jawabannya selesai atau tidak." Suara tersebut mengejutkan Sehun, membuatnya berpaling dari wajah Jongin pada sang guru yang mulai mengambil kertas jawaban pre-test dari para muridnya yang duduk paling depan. Wait, what? Padahal rasanya baru juga beberapa detik Sehun mengalihkan perhatiannya pada hal lain, tesnya disudahi begitu saja. Sehun ingin mengeluh, namun ia tidak tahu seberapa lama yang disebut sebentar untuk 'pre-test kecil' di bumi ini.

Uh-oh. Sehun panik. Ia kemudian melihat bagaimana Chanyeol yang kini duduk depannya itu mengambil lembar jawaban milik Sehun, dan hendak memberikan kertas ujiannya pada teman yang duduk di depannya pula.

Oh. God. Sehun pikir ia akan acuh tak acuh dengan catatan prestasinya. Meski Sehun memang kembali ke bumi ini untuk sebuah tugas yang tidak ada hubungannya dengan kehidupannya sekarang, tetapi ia tidak ingin mempermalukan dirinya pula di bumi ini dengan menggagalkan sekolah menengahnya.

"C-chanyeol!" Sehun mencoba untuk menghentikan Chanyeol dari mengumpulkan lembar jawabannya. Mungkin Sehun dapat memperlambat pengumpulannya. "Tunggu sebentar, aku belum menyelesaikan milikku."

Chanyeol membalikkan tubuhnya dan berkata, "Eh? Punyamu belum selesai?"

Sehun menanggukkan kepalanya cepat, ia merasa amat panik. Ada beberapa anak yang panik seperti dirinya ketika lembar jawaban mulai dikumpulkan.

Chanyeol kemudian melihat lembar jawaban milik Sehun, ia mengernyitkan keningnya. "Hm? Kau sudah selesai mengerjakannya. Apanya yang kurang?"

"Apa?"

Chanyeol memperlihatkan lembar jawaban yang ada di tangannya pada Sehun, terlihat lembar jawaban tersebut terisi oleh tulisan yang entah apa, Sehun bahkan tidak ingat ia menulis sama sekali di atas kertas tersebut, namun di sana tertulis 'Oh Sehun | 2-5'.

What? Tulisan siapa itu? Keajaiban dari mana lagi ini?

"See?" Chanyeol kemudian perlahan membalikkan kembali tubuhnya untuk mengumpulkan lembar jawaban tersebut. Ia lagi-lagi menghadap pada Sehun, "Hey, kalau kau merasa ada sesuatu yang aneh, katakan saja."

"Uhm, maaf, aku hanya—entahlah. Sedang tidak fokus." Sehun beralasan, separuh masih terkejut dengan apa yang baru terjadi. Ia berusaha untuk tidak menoleh pada Jongin yang mengubah posisi tidurnya di sampingnya.

"Oh, by the way," Chanyeol kemudian melirikan matanya pada Jongin dan kembali menatap Sehun, ia membisikkan, "itu yang namanya 'Jongin'. Musuh terbesarmu." Lalu menggunakan matanya sebagai gestur menunjuk figur Jongin yang kini memunggungi Sehun.

"Ah ..., I see." Sehun bertingkah seolah ia tidak tahu, meski sebenarnya ia sudah tahu dan bahkan ingin lebih tahu lagi mengenai Jongin ini.

"Hati-hati, jangan dekat-dekat dengannya. Seperti yang dikatakan Soojung, jauhi Jongin."

"Is he really that bad?"

"Yeah."

"Kenapa aku harus percaya padamu?"

"Hm, tentu saja karena aku temanmu."

"Kau bisa saja berbohong."

"Oh Sehun," Chanyeol berdecak kesal, ia mendekat dan berkata, "kalau Soojung saja bilang Jongin itu orang yang harus dijauhi, kenapa kau meragukan itu?"

Satu sudut bibir Sehun naik, ia tersenyum jahil, "Aku hanya bercanda." Sehun merespon begitu. "He might be a bad person, but I don't think he's that bad."

Ya, Sehun pikir Jongin bisa saja orang yang berkepribadian buruk. Namun sepertinya ia tidak seburuk yang orang-orang pikirkan. I mean ..., hari ini keburukan Jongin hanya terlalu malas mengikuti pre-test. Lain kali bila Jongin masih melakukan hal yang sama, aku akan peringatkan. Kalau sekarang Jongin terlihat terlalu lelah, aku tidak tega untuk menceramahinya.

"Oh?" Chanyeol memiringkan kepalanya sedikit, ia terlihat memberikan Sehun tatapan menilai. "Hmm, kau benar-benar aneh setelah kejadian itu. Apa yang dilakukan Jongin padamu? Memukul kepalamu hingga kau jadi seperti ini?"

Sehun jadi ikut kebingungan. Sebenarnya Sehun sebelumnya seperti apa sih?

"Memangnya aku ini bagaimana?" Tanya Sehun, ia tidak menghiraukan sang guru yang sedang mengumumkan nilai pre-test langsung di hadapan para murid.

"Kau itu seperti ... Jongin dan Soojung. Kau dingin, sassy, dan cerewet." Ujar Chanyeol dengan nada yang membuatnya hampir seperti akan tertawa. "No offense though. "

"Hmm. Entahlah."

Kemudian pembicaraan mereka berakhir di situ.

Sehun menoleh pada Jongin yang masih memunggunginya sekilas, lalu kembali menghadap pada Chanyeol yang sudah duduk seperti semula menghadap sang guru yang masih mengumumkan nilai dan mengomentari murid-murid yang mendapatkan nilai buruk. Perhatiannya tersita spontan ketika melihat Soojung dari balik jendela kelasnya melompat-lompat sambil melambaikan tangan pada Sehun dengan sebuah senyum lebar mengembang di wajahnya. Untung saja murid yang lain sepertinya tidak terlalu memperhatikan apa pun selain sang guru yang sedang mengumumkan nilai.

Jam belajar-mengajar belum usai, tapi apa yang dilakukan Soojung di luar kelas?

.

.

.

Saat ini Sehun dan Soojung sedang berada di luar kelas Sehun setelah ia membuat alasan dengan mempersilakan dirinya untuk pergi ke toilet. Mereka kemudian berdiam diri koridor lain yang jauh dari kelas yang sedang melakukan kegiatan belajar.

"Okay, Sehun, aku sudah memperbaiki ponselmu. Jadi kau bisa membalas pesan teks, atau menghubungi kembali teman-temanmu."

Sehun mau tak mau menerima ponselnya tersebut, terdapat beberapa goresan di sana, tapi nampaknya masih dapat digunakan. "Thanks." Gumam Sehun masih merasa canggung dengan sang kakak yang memanjakannya. "Kau tidak perlu memberikannya sekarang, di rumah juga bisa."

"Hey, aku sedang baik padamu!" Soojung lagi-lagi berbicara separuh memekik. Namun sepertinya memang gaya bicaranya seperti ini, jadi Sehun tidak pernah berkomentar apa pun. "Jangan sia-siakan kebaikanku ini."

Sehun hanya tersenyum, menunggu Soojung untuk mengucap kata pisah. Ia tidak terbiasa untuk memulai percakapan di antara dirinya dengan kakaknya.

"Oh My God." Soojung menutup mulutnya yang terbuka lebar, tidak percaya pada apa yang dilihatnya sekarang meski ia sedang memandang Sehun. Adiknya tersebut menatap Soojung dengan kening mengernyit. Ada yang salah dengannya?

"Oh Sehun, kau butuh terapi dariku." Ia menarik sang adik ke sudut koridor ini. "Amnesia benar-benar merusakmu."

"Maksudnya?"

"Apa itu pertanyaan retoris?" Soojung menatapnya tidak percaya, tanpa aba-aba ia kemudian menyisiri helaian rambut Sehun untuk membuatnya terlihat tidak keruan. Lalu membuka dua kancing atasan seragam Sehun, melipat lengan kemejanya hingga sikut, dan mengeluarkan atasan seragamnya yang sebelumnya dimasukan ke dalam celana kainnya. "It's done, you're fine now."

"Uhm ...," Sehun melihat hasil perubahan yang dilakukan sang kakak padanya. Ia jadi terlihat seperti seorang siswa yang ... berbeda. Amat tidak mematuhi aturan. Whoa, gayanya terlihat seperti Jongin. "Was I like this before?"

"Yes."

"Was I a bad person?"

"No," Soojung namun raut wajahnya memberitahu bahwa ia tidak terlalu menyimak. Ia masih memperhatikan tampilan Sehun. Soojung memiringkan kepalanya sedikit, memikirkan hal apa lagi yang harus dilakukannya pada Sehun. "Yeah, you're fine. Kau bisa kembali ke kelas. Bye, lil' bro!"

Soojung kemudian berlalu, namun ia terlihat seperti tidak akan kembali ke kelas. Ia malah mengarah ke pintu utama untuk keluar.

"Wait!" Sehun berseru, membuat Soojung berhenti di tempat dan berbalik pada Sehun. "Kau akan pergi ke mana?"

Soojung terlihat mengernyitkan keningnya sesaat, kemudian ia berkata, "Ah, benar. Aku selalu lupa kau lupa." Soojung merapikan jaket kebesaran miliknya yang dikenakannya sekarang serta pada acara makan malam dengan keluarga Jongin. "Berjanji kau tidak akan bocorkan hal ini pada Mom."

Tanpa berpikir apa pun Sehun menganggukkan kepalanya.

"Aku ada pertandingan."

"Kau seorang atlet?"

"Uhm ..., no. Tapi, ya, kau bisa mengatakannya begitu. Okay, bye, Sehun."

Soojung terlihat semakin menjauh, kemudian ia menghilang dari balik pintu utama. Dengan itu Sehun pun bergegas kembali ke kelas. Ia berlari kecil menuju kelasnya ketika ia mendengar bising mesin motor melaju kencang meninggalkan gedung sekolahnya.

.

.

.

Ketika Sehun benar-benar sedang berjalan ke arah pintu kelasnya, ia melihat sang guru keluar dari sana. Sehun segera melangkah mundur untuk bersembunyi di balik dinding di dekatnya karena ia tidak datang dari arah toilet dan keluar terlalu lama.

Phew, that was close.

Namun Sehun lagi-lagi melangkah mundur ketika tak lama setelahnya ada orang lain yang ikut keluar dari kelas. Jalannya begitu santai, dari figurnya saja, Sehun sudah tahu itu siapa.

Oh, oh, oh! It's Jongin!

Sehun hendak berlari untuk mendekati Jongin, ingin mengajaknya berbincang lagi. Tapi ia teringatkan oleh Jongin yang selalu akan bereaksi negatif bila itu ada hubungannya dengan Sehun. Jadi tanpa membuat suara, Sehun pun membuntuti Jongin yang terlihat sudah akan belok ke koridor lain. Masih menjaga jarak, Sehun melihat bagaimana Jongin merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kunci, ia membuka sebuah pintu besar di hadapannya dan masuk ke dalam ruangan tersebut.

Wait!

Buru-buru Sehun mengikuti Jongin, namun untuk tetap menjaga jarak, ia tidak segera masuk ke dalam ruangan tersebut meski takut kalau ruangannya dikunci kembali oleh Jongin.

Sehun menarik napasnya dalam-dalam, menghitung dalam hati sampai tiga, dan perlahan membuka pintu tersebut. Yes! Tidak dikunci. Dari celah kecil itu ia mengintip ke dalam, di sana terdapat lockers dan beberapa bangku panjang. Kosong. Okay, tidak ada tanda-tanda dari Jongin atau siapa pun. Dengan masih tanpa suara, ia masuk ke ruangan tersebut. Sehun menutup kembali pintunya pelan-pelan, berharap semoga tidak membuat bising apa pun, setelah selesai, ia menghela napas lega.

Terdengar gemerisik dari arah kirinya, Sehun hanya mengikuti indra pendengarannya dan kata hatinya. Ia memeriksa keadaan di sekitarnya untuk berjaga-jaga. Di sana hanya ada lockers dan beberapa ruang yang Sehun asumsikan sebagai kamar mandi bila dilihat dari terdapat banyaknya showers di sana ...

... oh. Tunggu dulu.

Jangan katakan kalau ini ruangan ...

Meski Sehun memiliki kemungkinan mengenai ia sedang berada di mana, namun Sehun tetap melangkah mendekati sumber suara yang didengarnya, dan dari balik sebuah locker menemukan Jongin sedang memunggunginya ... bertelanjang dada,dan—uhm, sembari melepaskan celananya—Oh God, oh God, Oh My God.

Sehun spontan melangkah mundur, tidak ingin lanjut menyaksikan pemandangan mengejutkan tersebut. Namun setelah dirasa sepertinya Jongin telah selesai melakukan kegiatan yang apa pun itu sedang dilakukannya, ia kembali mengintip, dan mendapati Jongin yang masih memunggunginya pergi.

Jongin berlalu tanpa mengenakan atasan apa pun, namun ia mengenakan celana pendek yang mencetak kakinya.

Tanpa ragu, Sehun segera mengikuti Jongin, ketika berjalan ia sesekali melihat ke sampingnya di mana terdapat jendela yang memperlihatkan sebuah gelanggang renang.

Oh.

Dan ya, Jongin masuk ke area gelanggang renang tersebut, ia menghilang dari balik sebuah pintu di sana.

Baiklah, karena sekarang tidak ada jalan keluar lagi, jadi mungkin Sehun bisa bertemu dan mengajak Jongin berkenalan lagi tanpa harus khawatir Jongin akan pergi darinya. Jadi Sehun memberanikan diri untuk mengikuti Jongin tanpa jarak di antara mereka, ia juga memasuki gelanggang renang itu dan,

tidak menemukan siapa-siapa di sana.

"Huh?" Sehun melihat ke sekelilingnya dan masih tidak menemukan siapa pun. Okay ..., ini aneh. Apa ini ada hubungannya dengan keajaiban dari Yang Mahakuasa? Ke mana Jongin?

Ia mengitari pandangannya ke sekitar, mengalihkan pandangannya pada kolam renang di sana dan mendekatinya, airnya tenang, tidak ada tanda-tanda makhluk di dalamnya. Sinar matahari yang masuk dari kaca jendela di sana memperlihatkan bagaimana jernihnya air di kolam tersebut. Cuacanya amat cerah hari ini.

"What are you doing here?"

Oh! Suaranya mengejutkan Sehun, ia tersentak, untung saja tidak jatuh ke kolam renang. Sehun berbalik, dan menemukan Jongin berdiri tidak jauh darinya. Sepertinya Jongin baru keluar dari sebuah pintu kecil di dekatnya. Ia mendekatkan jarak di antara mereka dengan berjalan ke arah Sehun sembari menyisiri helaian rambutnya agar tidak menghalangi kening. Semua hal yang dilakuan Jongin sepertinya membuat Sehun merasa gugup.

Mereka kini menghadap satu sama lain terpisahkan jarak beberapa langkah.

"H-hai, Jongin."

"Apa yang kaucari?" Jongin melipat kedua tangannya di dada, pandangannya menelusuri Sehun dari kepala hingga kaki lalu kembali ke ke wajah, mendapati penampilan Sehun tidak berubah dari sebelumnya. Ia terseyum mencemooh. Kakinya dihentak-hentakan, menunggu Sehun mungkin untuk segera enyah dari pandangannya.

"Aku mencarimu."

Jongin berdecak kesal, ia mendelik malas, mengalihkan pandangannya pada air di kolam renang yang sedari tadi sudah menggodanya. "Apa lagi?" tanya Jongin dengan nada tinggi, belum apa-apa, ia sudah terdengar kesal.

"Uhm, let's ..." Sehun menunduk, namun tatapannya malah jadi dihadapkan pada sebagian tubuh Jongin yang telanjang, maka ia pun mendongak kembali untuk menatap wajah Jongin, "let's be friends."

Jongin diam terlebih dahulu, masih dengan kedua tangan yang terlipat di dada, tatapannya mengintimidasi. Sehun berusaha untuk tidak berjalan mundur karena ketakutan. Sehun dengar dari Chanyeol, Jongin ini kan anak yang brutal. Sedangkan Sehun sekarang bukanlah anak yang brutal juga seperti Jongin. Sehun ini malaikat! Ia harus menyebarkan kedamaian.

Jongin membungkuk sedikit untuk menyamakan tingginya dengan Sehun, ia mendekati wajah Sehun hanya untuk merespon, "Dream all you want." Kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi, mengabaikan Sehun. Sehun untuk beberapa saat masih diam di tempat, tidak terbiasa dengan pemandangan wajah Jongin yang terlalu dekat dengan pengelihatannya. Woah, he's looking so ... fineeh?! Kenapa aku sempat-sempatnya memikirkan hal ini?!

"Jongin, wait!" Sehun menggenggam lengan Jongin, menghentikannya paksa. "Aku serius, kita harus berteman."

Dan lagi-lagi Jongin jadi menghadap pada Sehun, ia kini terlihat lebih kesal dari sebelumnya. "Kau benar-benar membingungkan."

"Maaf kalau aku sebelumnya bersalah, aku benar-benar tidak bermaksud,"

Kening Jongin mengernyit, ia menatap Sehun malas. "Apa kau bahkan tahu siapa dirimu sebelumnya?" Jongin tidak memberikan Sehun untuk merespon pertanyaan karena ia melanjutkan, "Kau benar-benar bodoh."

"Jongin—"

"Aku jadi ragu, apa kau benar-benar lupa ingatan? Kenapa kau hanya ingin mengenalku? Ada motif lain?"

"Motif apa? Tentu saja tidak." Sesungguhnya, tidak juga. Sehun memang ada motif lain, tetapi tidak mungkin ia mengatakannya.

"Apa amnesia membuatmu juga bodoh? Dua minggu yang lalu, kau tidak akan ingin berdiri di sini, denganku. Ikuti apa yang kuberitahu padamu." Jongin menekankan tiap kata di kalimat terakhir yang dikatakannya, ia kemudian pergi.

Sehun kembali berlari mengejar Jongin, kali ini menarik bahunya. Semuanya terjadi begitu cepat. Tanpa dikira, Jongin menarik tangan Sehun yang ada di bahunya kemudian mendorong tubuh Sehun ke dalam korang renang. Dari cengkraman tangan Jongin pada lengannya, Sehun tahu bahwa seharusnya ia tidak mencoba untuk memaksa Jongin menjadi temannya seperti tadi. Jangan mencoba untuk membuat Jongin marah, akan Sehun tambahkan pada catatan informasinya. Ternyata Chanyeol benar, Jongin sepertinya memang terbiasa untuk bersikap kasar pada Sehun.

Suara deburan air menggema di gelanggang renang yang tadinya tenang itu. Tanpa melihat ke belakang, Jongin terus melangkah meninggalkan Sehun yang terlalu terkejut untuk berteriak ketika dirinya masuk ke dalam air secara tiba-tiba.

Sehun dapat merasakan dirinya secara cepat jatuh, kemudian ada air menampar punggungnya, mengelilingi tubuhnya, masuk ke dalam hidungnya, menahannya untuk bernapas. Jantungnya masih berdegup. Ia pun naik ke permukaan, kakinya ingin berpijak pada sesuatu, namun tidak ada apa pun. Sehun mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, ingin mendekati dinding, tetapi sulit.

Oh, shit. Aku tidak bisa berenang.

Dari seluruh keajaiban dan bekal yang diberikan oleh Yang Mahakuasa, Sehun tidak diberikan kemampuan untuk berenang. Great.

"Jongin—" padahal Sehun ingin berteriak karena ia dapat melihat Jongin terlalu jauh darinya. Tetapi air tanpa henti berusaha untuk masuk ke dalam mulut dan hidungnya, mencegahnya untuk bahkan berbicara dan bernapas. "Jong—in,"

Sehun terlalu banyak bergerak, gemericik airnya amat berisik. Ia dapat merasakan dirinya mulai kembali tertarik oleh air, pengelihatannya hanyalah air dan langit-langit gelanggang yang dilapisi air. Rasanya seperti tercekik, Sehun tidak ingat bagaimana ia mati di kehidupan sebelumnya namun ia pikir rasanya mungkin seperti ini. Benar-benar tidak nyaman, ia amat panik meski pun sebenarnya ia sudah mati.

Sehun masih tersadar, karena ia ingat ia melihat di dinding yang mengelilinginya bertuliskan 4m. Ia juga mendengar deburan air, pengelihatannya mulai menggelap, namun ia dapat merasakan seseorang merangkul tubuhnya. Somehow he feels safe.

Pada detik itu juga, Sehun yakin ia sudah tidak sadarkan diri karena ia diperlihatkan sebuah gambaran aneh. Sehun melihat Jongin sedang duduk di sampingnya mengenakan pakaian santai, terdapat sebuah senyum bahagia di wajahnya. Ia terlihat amat tampan. Langitnya amat cerah hingga Sehun dapat melihat Jongin menggerakkan bibirnya, terdengar samar-samar ia menyerukan sesuatu pada langit kemudian kembali menatap Sehun dengan senyum yang sama. Pemandangan terlalu indah ini meyakinkan Sehun bahwa semuanya tidaklah nyata.

"Oh Sehun, let's go to heaven!"

.

.

.