...
Tittle:
It's OVERDOSE
(Baekyeol)
Author: Sayaka Dini
Disclaimer: This story belong to me, but the character not be my mind.
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other Exo
Pairing: Chanbaek / Baekyeol
Setting: AU
Genre: Romance—Fantasy
Rated: T.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
.
...
Notice:: Paragraf garis miring untuk Flashback
.
.
.
.
"Baekhyun..."
Nama itu terus terucap, bagaikan sebuah mantra dari bibir Chanyeol yang memucat.
Namja tinggi yang berpakaian serba hitam itu, masih berada di dalam lorong remang di antara dinding-dinding yang menjulang tinggi ke atas. Sejauh ia berjalan, tak satu pun kehidupan yang ia temui kecuali dirinya sendiri. Bahkan seekor semut kecil pun tak ada. Yang ada hanya dirinya, kabut abu-abu, dan dinding-dinding tinggi tanpa warna cet apapun.
Dia tersesat, terjebak, sekarat, dan tampak begitu putus asa. Namun dari segala sesuatu yang ia butuhkan, hanya satu yang jadi prioritas utamanya. Hanya satu yang terus berputar dalam pikirannya. Hanya satu yang harus ia temukan.
"Baekhyun..."
.
.
.
.
.
...
"Oi, hyung."
"Wae?" Chanyeol memandang aneh gelagat Kai yang sedang menghampirinya. Dari raut wajahnya yang tak tenang, Chanyeol tahu namja berkulit gelap yang sudah ia kenal sejak SMA itu sedang bingung. Seperti sedang ragu ingin menyampaikan sesuatu atau tidak. "Waeee?" Chanyeol sampai harus mendesaknya ulang agar Kai mengatakan apa yang dalam pikirannya.
"Emm... menurutmu, apa mungkin laki-laki bisa hamil?"
Chanyeol memasang wajah aneh. Benar-benar aneh, dengan mulut yang terbuka miring, sebelah alis tertekuk, mata melebar seperti mau keluar, dan dagu yang diangkat. Terlalu berlebihan —istilah lainnya lebay. Jadi jangan salah kalau Kai merasa tersinggung.
Kai mempout bibirnya. "Aish, Lupakan. Tahu begini aku seharusnya tidak bicara." Ia berbalik dan berjalan dengan kesal sambil menggerutu.
Chanyeol terkekeh, niatnya tadi memang sedikit jahil untuk menggoda Kai. "Oi Kkamjong. Tunggu, aku hanya bercanda." Ia melangkah lebih cepat untuk menyusulnya. Chanyeol merangkul bahu Kai dari samping dengan gerakan friendly. "Lagian, pertanyaanmu tadi itu benar-benar aneh. Sangat aneh. Mana ada di dunia ini laki-laki bisa hamil?"
Kai mendengus. "Bukan aku yang pertama kali berpikir seperti itu. Ini karena rumor sialan yang beredar di kampus kita. Dan bodohnya aku juga ikut terpengaruh." Kai merutuk.
"Rumor? Rumor tentang apa? Kenapa aku tidak tahu?"
"Tentu saja kau tidak tahu. Sebulan ini 'kan kau lebih sering ke perpustakaan dan sibuk sendiri dengan pacarmu yang—" Kai terhenti. Ia tersentak sendiri. Seperti baru menyadari sesuatu. "Astaga. Bodohnya aku. Aku baru ingat kalau kau satu-satunya orang yang dekat dengan namja berhodie itu."
Chanyeol heran mendengar nada bicara Kai. "Wae? Kenapa dengan uri Baekhyunie?"
Kai jadi bingung sendiri ingin lanjut bicara atau tidak.
"Waegurae?" Chanyeol mendesak. "Apa rumor yang kau bilang tadi itu mengenai Baekhyunie?"
Kai terlihat ragu di awal. Tapi ia akhirnya mengangguk dan menceritakan apa yang ia tahu.
Perlahan, raut wajah Chanyeol berubah mengeras. Matanya melebar terkejut.
...
Kaki-kaki panjang Chanyeol itu bergerak cepat. Berlari dengan langkah besar menelusuri gedung kampus mereka. Ia tampak panik, buru-buru dengan raut wajah yang juga terlihat sangat khawatir. Ucapan Kai berapa detik lalu itu tak bisa membuatnya tenang sama sekali.
"Setiap sore, sekitar jam lima. Orang-orang yang melewati toilet di sudut gedung sebelah barat sana, selalu mendengar suara seseorang yang sedang muntah dari dalam toilet itu. Kalau suaranya berasal dari toilet wanita sih wajar, tapi suara itu selalu terdengar dari toilet pria. Mahasiswa lain bilang, itu Baekhyun, si anak berhodie putih itu. Awalnya ku pikir rumor itu hanya omong kosong, karena sosok misterius Baekhyun itu memang cocok jadi sasaran empuk penggosip di kampus. Tapi, kemarin aku melihatnya sendiri. Jam lima sore, sebelum aku pulang aku singgah dulu di toilet sana. Dan aku benar-benar melihat Byun Baekhyun sedang mual dan muntah di depan wastafel. Rumor itu memang sedikit berlebihan dengan mengatakan laki-laki bisa hamil. Itu tidak mungkin, tidak selamanya orang mual dan muntah itu hamil. Bisa jadi dia..."
Kai tidak melanjutkan ucapannya saat itu. Dia terlihat enggan karena wajah Chanyeol di hadapannya sudah terlihat sangat panik. Tapi meski Kai tidak melanjutkannya, Chanyeol sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran Kai.
"Bisa jadi dia..."
...sedang sakit.
Kecepatan kaki Chanyeol memelan saat pintu toilet itu sudah terlihat di depan matanya. Koridor dan wilayah gedung kampus di sekitarnya sudah tampak lenggang. Chanyeol melirik arlojinya, kebetulan sudah jam lima sore lewat tiga menit. Chanyeol tidak pernah selama ini berada di kampus sebelumnya. Karena biasanya ia sudah berada di tempat kerja part time jika sudah jam segini.
Langkahnya semakin pelan. Suara yang sebenarnya tidak ingin dia dengar, mulai terdengar. Ada bunyi muntahan seseorang di dalam toilet pria tersebut. Terdengar agak tersiksa, dan rasanya semakin miris saat Chanyeol membayangkan bahwa itu adalah Baekhyun. Langkah Chanyeol sempat tersendat, ragu apa harus melewati pintu toilet itu atau tidak. Tapi akhirnya ia harus memastikannya sendiri, menyiapkan segenap mentalnya untuk melihat apapun yang ada di dalam toilet tersebut. Suka atau tidak.
Chanyeol tidak tahu bagaimana perasaannya teraduk kasar dan jatuh menyakitnya di bawah lambungnya. Dari belakang Chanyeol bisa melihat punggung Baekhyun yang melengkung di depan wastafel, dengan suara muntahan menyakitkan seperti sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya. Chanyeol bahkan tak sadar menyeret kakinya dengan paksa untuk lebih mendekat, membuat suara gesekan bawah sepatu dan keramik toilet itu terdengar, menyadarkan Baekhyun.
Kepala Baekhyun terangkat pelan, wajahnya yang pucat menghadap cermin, mulutnya yang sedikit terbuka itu tampak basah dengan air liur di sudut bibirnya, dan bahunya bergerak naik turun karena terengah. Mata Baekhyun melebar begitu melihat sosok Chanyeol dari cermin besar wastafel yang memandangnya miris. Dengan cepat ia memutar keran air, membasuh bibir dan isi mulutnya, sekaligus menghanyutkan bekas muntahannya ke lubang wastafel. Tapi Chanyeol yang sudah berdiri menjulang tak jauh di belakanganya sempat melihat apa yang baru saja dimuntahkan Baekhyun.
"Apa itu?" suara berat Chanyeol terdengar dengan nada sedih. "Apa kau baru saja memuntahkan roti isi yang kau makan tadi siang?"
Baekhyun semakin menunduk di depan wastafel, tak berani mengangkat kepalanya, maupun berbalik menghadap Chanyeol. Ia masih bungkam.
"Wae?" suara baritone Chanyeol sedikit bergetar, tersirat akan penuh luka. "Apa tiap hari selalu begini? Selama sebulan ini? Kau menerima roti isi dariku, memakan di hadapanku, lalu memuntahkannya di belakangku? Kau pikir—" tangan Chanyeol terkepal, emosinya teraduk kacau. "Kau menyakitiku, Baek..."
Tubuh Baekhyun bergetar. Ia membengkap mulutnya masih dengan posisi menunduk di depan wastafel. "M-maafkan aku..." suaranya serak. Dia menangis. "Sebenarnya aku tidak bisa memakan makanan sembarangan. Lambungku menolaknya, rasanya sakit kalau aku tidak memuntahkannya..." Baekhyun tersendat dengan tangis kecilnya. "Maafkan aku..." suaranya penuh penyesalan.
"Lalu mengapa kau selalu menerimanya? Mengapa kau memaksa memakannya?" Mata Chanyeol mulai terasa panas.
"Aku tidak ingin kau kecewa karena menolak pemberianmu."
"Lalu kau lebih ingin melihatku terluka setelah mengetahui kau tersiksa karena roti sialan itu? SEBENARNYA KAU ITU NAIF ATAU APA SIH?!" Suara baritone Chanyeol yang penuh dengan emosi itu membahana di lantai toilet terrsebut.
Tubuh Baekhyun makin gemetar tak menjawab. Ia tersentak saat lengannya tertarik ke belakang, memutar tubuhnya menghadap ke arah Chanyeol. Tangan besar Chanyeol menangkup kedua pipinya dan mengarahkannya untuk mendongak ke arah pemuda lebih tinggi. Dua pasang mata yang sama berairnya itu saling bertatapan. Bedanya mata Baekhyun sudah mengalirkan sungai kecil di pipinya, sementara air mata di mata Chanyeol masih menumpuk di atas kantung matanya.
"Aku tahu ada yang tidak beres," lirih Chanyeol. "Kumohon Baek, kita sudah berjalan hampir sebulan. Berhenti menyembunyikan sesuatu dariku." Ibu jari Chanyeol mengusap pelan aliran basah di pipi Baekhyun, meski aliran itu tak berhenti mengalir dari mata indah Baekhyun. "Sebenarnya kau sakit apa? Apa itu sangat parah?" Chanyeol bertanya dengan suara terlampau serak, sebenarnya tak ingin menerima jawaban yang menyakitkan.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menahan suara tangisnya agar tidak meledak. Tangannya bergerak meremas baju Chanyeol erat, matanya yang berkaca-kaca penuh akan rasa putus asa yang mendalam. Baekhyun mengangguk pelan. Chanyeol merasa hatinya makin teriris.
"Jangan menangis," bibir Chanyeol sendiri gemetar, ia bergerak pelan mencium kening Baekhyun. Mata Chanyeol terpejam, setetes air akhirnya mengalir di pipi kanannya. "Kau pasti akan sembuh..." ia berdoa.
Baekhyun menggeleng. "Tidak..." Ia cecegukan karena tangisnya. "Aku tidak bisa."
"Apa maksudmu tidak bisa?" Chanyeol terlihat sama frustasinya melihat Baekhyun begitu putus asa seperti ini. "Semua penyakit ada obatnya! Kau pasti sembuh, Baekhyunie!"
"Kau tidak mengerti!" Baekhyun menggeleng keras.
"Kalau begitu buat aku mengerti! Damn! Berhenti membuatku terlihat bodoh karena tak tahu apa-apa tentangmu!" Chanyeol membentak, terbawa emosi.
"Aaakh!" Baekhyun menjerit sambil mendorong Chanyeol. Membuat pemuda itu mundur dua langkah. "Sudah kubilang kau tidak akan mengerti!" Ia berlari keluar.
"Baekhyun!" Chanyeol menyusul keluar toilet. Ia ikut berlari, tapi lalu berhenti. Chanyeol menoleh ke kanan dan kiri. Bingung, melihat dua arah lorong koridor kampus yang tampak sepi tanpa seorang pun kecuali dirinya sendiri.
Kemana perginya Baekhyun?
...
Baekhyun sedang mengidap penyakit, entah apa, mungkin sangat parah. Dan bodohnya, Chanyeol sebagai kekasih Baekhyun sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Chanyeol merasa makin miris, karena sampai detik ini Baekhyun bersikeras untuk tak memberitahukan apapun padanya. Chanyeol pun tak bisa memaksa.
"Jangan bahas itu lagi," Baekhyun akan kembali ke mode dinginnya seperti saat mereka pertama kali bertemu jika Chanyeol mendesaknya. Chanyeol tidak suka dengan sikap dingin Baekhyun, jadi dia lebih memilih untuk mengalah.
"Baiklah," Chanyeol menghela nafas. Menatap sendu pada Baekhyun yang duduk di sampingnya —mereka berdua berada di perpustakaan kampus seperti biasa. Tangan Chanyeol terulur, menggapai sebelah tangan Baekhyun yang menganggur di atas meja. Jemari lentik Baekhyun yang tampak kurus dan lebih putih itu terlihat semakin rapuh dalam genggaman tangan Chanyeol yang besar. Hati Chanyeol makin miris saat ia merasakan hawa kulit Baekhyun tak pernah berubah sejak dulu, selalu dingin.
"Apa kau selalu kedinginan, Beb?" Chanyeol bertanya dengan pandangan menerawang menatap tangan Baekhyun dalam genggamannya. Kalau dipikir lagi rasanya masuk akal mengapa Baekhyun selalu menggunakan hoodie kebesarannya tiap kali ia keluar dari rumahnya. "Apa segitu parahnya penyakitmu?"
"Yeol—"
"Aku mengerti," Chanyeol memotong sebelum Baekhyun melayangkan kalimat protes. "Aku tidak akan memaksa lagi. Akan kutunggu sampai kau sendiri mau memberitahukan aku apa yang sebenarnya terjadi denganmu." Jemari tangan Chanyeol menggenggam lembut telapak tangan Baekhyun dengan hati-hati, menyentuh dan mengusap punggung tangan Baekhyun seperti berlian yang begitu berharga. "Sampai hari itu tiba, sampai kau mau menceritakan semuanya padaku. Aku akan menunggu, dan menjagamu. Memastikan kau baik-baik saja berada di dekatku." Chanyeol mengangkat punggung tangan Baekhyun dan mengecupnya. "Aku janji..."
"Chanyeol..." Baekhyun tertegun, merasa dadanya menghangat. Ia menunduk malu, diam-diam membalas genggaman tangan Chanyeol. "Hati-hati dengan janjimu, yeol. Aku bisa saja tidak ingin melepaskanmu sepanjang hidupku karena janji yang kau buat."
"Kalau gitu jangan dilepaskan." Chanyeol membalas dengan nada meyakinkan. "Jangan pernah lepaskan aku. Karena aku sendiri tak ingin melepaskanmu."
Baekhyun tersenyum. "Terkadang kalau kau tidak bertindak bodoh, dan bersikap manis seperti ini, aku jadi gemas sendiri."
"Benarkah?" Chanyeol ikut tersenyum melihat senyuman manis Baekhyun.
"Hm," Baekhyun menggangguk dengan gerakan malu. "Aku jadi ingin menciummu..." tambahnya lagi dengan suara memelan.
Senyuman Chanyeol berubah jadi cengiran bodoh. "Ouh, come here beb," ia memajukan wajahnya ke arah Baekhyun. Tapi Baekhyun dengan kejamnya malah memukul kepala Chanyeol dengan buku. "Auw! Wae?" Chanyeol memprotes. "Kau sendiri yang bilang ingin menciumku."
"B-bukan sekarang juga, idiot. Kita masih di perpustakaan." Wajah Baekhyun merengut lucu, antara kesal dan malu sendiri.
"Kau berbicara seolah kita tidak pernah melakukannya di sini." Chanyeol cemberut. Mencoba mengingatkan Baekhyun seberapa sering mereka saling curi ciuman di sudut perpustakaan yang sepi seperti ini.
"Lihat dulu sekelilingmu," pinta Baekhyun sambil kembali membuka bukunya di atas meja. "Arah jam delapan, di belakang kita."
Chanyeol menoleh, mengikuti arah yang dimaksud. Ada dua mahasiswi yang tampak mencari buku di deretan rak sebelah sana, sesekali mereka saling berbisik.
"Mereka membicarakan kita," Baekhyun menambahkan dengan nada pelan. Ia bergerak makin menundukan kepalanya di atas meja.
"Ah," Chanyeol mengangguk paham. Tak perlu penjelasan lebih lanjut mengapa Baekhyun bisa mendengar bisikan dua mahasiswi di sana, sementara Chanyeol tidak bisa mendengarnya. Ia seolah terbiasa dengan 'kelebihan' Baekhyun satu itu, dan sudah lelah untuk berpikir darimana Baekhyun bisa mendapatkan pendengaran setajam itu.
"Kalau kau malu karena mereka bisa melihat kita, aku bisa menanganinya kok," Chanyeol nyengir. Tak peduli dengan raut bingung Baekhyun yang tampak lucu, Chanyeol merebut buku Baekhyun dari atas meja. Membukanya dan meletakkannya di samping mereka, menutupi wajah keduanya, Chanyeol mendekat sampai keningnya menempel dengan poni hitam Baekhyun yang berbingkai tundung hoodie putihnya.
"Bagaimana?" Chanyeol berbisik tepat di depan bibir Baekhyun, sebelah tangannya yang tidak memegang buku melayang untuk menangkup pipi Baekhyun. "Mereka tidak bisa melihat kita kan?"
Baekhyun tersenyum. "Hm," ia bergumam pelan, lalu bergerak duluan untuk mempertemukan bibir mereka. Chanyeol sempat terkejut sebentar dengan gerakan Baekhyun —yang memang selalu membuatnya terkejut. Tapi detik kemudian Chanyeol turut tersenyum bahagia di antara permukaan bibir mereka yang bersentuhan. Tangannya bergerak, masuk melalui tundung hoodie Baekhyun dan menekan tengkuknya, memperdalam ciuman mereka, yang bersembunyi di balik buku dalam pegangan sebelah tangannya.
Ciuman mereka terlepas semenit kemudian. Bibir mereka berpisah beberapa inci. Kening mereka masih menempel. Kelopak mata masing-masing terbuka perlahan, saling menatap dalam diam. Chanyeol tersenyum. Baekhyun tersenyum. Chanyeol jadi tak tahan untuk kembali mendekat dan memiringkan kepalanya, mengulum lembut bibir manis itu lagi. Baekhyun mengerang pelan.
Detak jantung Chanyeol terus berdebar menyenangkan di dadanya. Kebersamaannya dengan Baekhyun membuat ia merasa menjadi orang paling bahagia di dunia.
Asal ada Baekhyun. Dia bahagia.
.
.
.
.
.
...
Tanpa Baekhyun. Dia sekarat.
Mata Chanyeol berair. Merenung. Merasa tersiksa luar batin.
Chanyeol bahkan berpikir, ia tak keberatan menerima semua rasa sakit yang menyerang tubuhnya saat ini. Persetan dengan rasa panas yang seolah membakar kulitnya. Persetan dengan kepalanya yang terasa pening seperti habis dipukul dengan palu besi seribu ton. Persetan dengan perut yang terus melilit dan leher yang terasa dicekik. Dan PERSETAN dengan segala labirin sialan yang sejak tadi menyesatkannya dan seolah mencoba mempermainkannya.
Chanyeol hanya ingin melihat Baekhyun, ingin melihat senyuman manisnya, ingin melihat Baekhyun tertawa karena leluconnya. Ingin menyentuhnya, membelai pipinya, mengecup keningnya, wajahnya, bibirnya...
Dan memastikan Baekhyun baik-baik saja di dekatnya, dipelukannya. Seperti janjinya.
Chanyeol benar-benar hanya menginginkan Baekhyun. Dia butuh Baekhyun.
Hanya Baekhyun.
Hanya ingin Baekhyun seorang.
Tapi ia tak bisa menemukan Baekhyun sama sekali di sekelilingnya. Hatinya berdenyut sakit. Sangat sakit.
"Aaarghhh!" Chanyeol menjerit frustasi. Suaranya menggema di antara dinding labirin tinggi yang sejak tadi sudah menjebaknya tanpa rasa belas kasihan.
.
.
.
.
.
...
"Terima kasih banyak." Chanyeol sekali lagi membungkuk sopan pada bossnya. Ia terus saja nyengir seperti orang bodoh sambil memeriksa isi amplop gaji part time yang baru saja ia terima. Jumlah uangnya bertambah dari gajinya yang bulan lalu. Tentu saja, karena dua minggu terakhir ini ia sudah menambah jam kerjanya, mengganti shif karyawan lain yang sedang cuti karena urusan keluarga. Chanyeol bahkan terpaksa mengurangi kunjungannya ke perpustakaan untuk menemui Baekhyun, demi tambahan jam kerja yang ia terima.
Ah... dia jadi rindu berat dengan kekasihnya yang manis dan pendek itu. Chanyeol terkekeh sendiri di jalan. Merasa geli dengan pemikirannya sendiri yang mengatai Baekhyun pendek. Chanyeol bisa membayangkan bagaimana wajah kesal Baekhyun —yang selalu tampak lucu di matanya—, merengut tak suka dan memberikan pukulan cinta di kepala Chanyeol karena telah mengatainya pendek. Chanyeol pasti akan pura-pura merintih sakit setelah itu, dan di saat Baekhyun lengah dan merasa bersalah, Chanyeol akan mengambil kesempatan untuk mencuri ciuman di bibir Baekhyun.
Oh, betapa menyenangkan bisa menggoda uri Baekhyunnie, pikir Chanyeol tanpa menghilangkan senyuman anehnya. Tak peduli dengan beberapa pejalan kaki lain yang berpapasan dengan Chanyeol dan menatapnya skeptis.
Chanyeol merogoh saku bajunya, mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah dering ketiga, telepon rumah yang dihubunginya pun terangkat.
"Cari siapa?"
Lagi-lagi Chanyeol dibuat heran dengan nada datar Sehun yang terkesan tanpa semangat atau bersahabat sama sekali. Pemuda itu bahkan tak mau repot untuk sekedar mengatakan 'Yopseyo' atau 'halo' di awal percakapannya mengangkat telepon.
"Yopseyo, Sehunnie~" Chanyeol menyapa dengan sok akrab. Berharap setidaknya ia bisa mulai pendekatan dengan calon adik iparnya, dan berujung dengan keakraban yang bisa mendukung hubungannya dengan Baekhyun. Intinya, Chanyeol ingin hubungannya dengan Baekhyun terus langgeng tanpa hambatan yang lain. "Ini aku, Chanyeol. Bagaimana kabarmu, Sehunie? Apa kau baru pulang sekolah? Ah aku lupa, ini kan hari minggu, hehehe..."
"Baekhyunie hyung," panggil Sehun dengan suara datar dan volume biasa. "Pacarmu yang tolol ini mencarimu. Cepat kemari atau aku terpaksa menutup telepon ini."
"Jangan mengatainya tolol."
Ada suara jitakan di ujung sana setelah suara Baekhyun terdengar. Chanyeol ikut meringis merasakan bagaimana sakitnya kepala Sehun yang mungkin saja baru kena pukul oleh Baekhyun.
"Apa?" suara Baekhyun terdengar berteriak dengan nada menantang. "Cepat pergi sana, dan berhenti menatapku seperti itu, Sehun! Atau aku terpaksa menendang bokongmu sampai terbang."
"Sejak kapan kau ingin menendang bokongku sampai terbang?"
"Sejak detik ini jika kau tidak cepat pergi dari sini."
"Cih, kau banyak berubah!" Sehun terdengar kesal. "Memang apa bagusnya si bodoh bertelinga besar itu?"
"Sehun!"
"Arra! Aku pergi!" dan suara bantingan pintu itu terdengar.
Chanyeol tak tahu pasti apa perkelahian antara saudara yang terdengar sengit itu sudah biasa terjadi atau ini malah pertama kalinya. Chanyeol jadi merasa bersalah.
"Yopseyo, Baekhyunie?" Chanyeol memanggil dengan nada hati-hati.
"Ah," suara Baekhyun terdengar tersentak kecil. Seperti baru menyadari telepon yang menempel di telinga. "Chanyeolie..." nada Baekhyun berubah merajuk. "Kau kemana saja?"
Chanyeol tersenyum. "Ouh, uri Baekhyunie, aku merindukanmu..." balas Chanyeol tak nyambung, tapi mampu membuat Baekhyun tersenyum malu sambil memegang erat ganggang telepon rumah di ujung sana. Tapi detik kemudian Baekhyun merengut.
"Yach. Kau belum menjawab pertanyaanku, yeol! Kau di mana?"
"Hei-hei. Seharusnya kau membalasku dengan mengatakan kau juga merindukanku. Bukannya malah membentakku." Chanyeol cemberut kesal.
"Salahmu sendiri akhir-akhir ini tidak lagi menemaniku di perpustakaan," tudingnya.
"Jadi kau sungguh tidak rindu padaku?" tanya Chanyeol ngotot.
"Lebih dari itu..." suara Baekhyun mengecil. "Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku juga sangat takut..." Tangan Baekhyun memegang erat ganggang teleponnya. "Kupikir... kau mulai menjauhiku pelan-pelan. Lalu meninggalkanku..."
"Bicara apa kau?" Chanyeol menghentikan langkahnya di antara pejalan masih berlalu lalang di sekitarnya. Ia beralih menatap langit cerah di atasnya. "Jangan berpikir yang aneh-aneh Baek. Aku tidak akan meninggalkanmu. Bukankah aku sudah janji?" Chanyeol tersenyum pada awan tak terbentuk di atas langit. "Haruskah aku mengulang janjiku lagi? Kalau aku tidak akan meninggalkanmu, Baekhyunie. Tidak akan pernah." Ia berujar tanpa memutuskan pandangannya pada langit biru di atas, seolah ia juga berjanji pada mereka.
"Chanyeol..."
Chanyeol tersenyum mendengar suara Baekhyun yang memelan dan terkesan tersentuh. "Wae? Kau gemas denganku lagi? Aish, sayangnya aku tidak ada di dekatmu. Jadi kau tidak bisa menciumku kalau kau mau." Chanyeol terkekeh mesum.
"Idiot." Baekhyun menggerutu di ujung sana, tapi dari suaranya Chanyeol tahu kekasih sedang malu. "Kau masih belum menjawab pertanyaanku, yeol. Kau di mana sekarang?"
"Wah-wah. Kau sampai ingin tahu aku di mana supaya kau bisa menyusulku dan menciumku, iya kan?"
"Chanyeolie! Aku serius!"
"Aku juga sedang serius, Baekhyunie~"
"Ku tutup teleponnya!"
"Eeh! Jangan! Aku masih ingin dengar suaramu." Chanyeol panik, ia lalu menunggu. Tak ada suara dari Baekhyun, tapi juga tak ada bunyi tit panjang pertanda telepon ditutup. Chanyeol menghela nafas lega. "Aku sedang jalan di daerah pertokoan pembelajaan. Aku ingin membelikanmu sesuatu dengan gaji tambahanku," suara Chanyeol melembut.
"Membelikanku sesuatu?" Baekhyun tersentak. "Chanyeolie, kau tidak perlu—"
"Tidak ada penolakan." Chanyeol bersikeras. "Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Kau tidak boleh menolaknya atau kau benar-benar akan menghancurkan hatiku."
"Memangnya kau ingin membelikanku apa?"
"Ponsel couple." Chanyeol tersenyum. "Kita harus memilikinya, Baek. Aku juga akan menjual ponsel lamaku dan menggantinya dengan ponsel couple buat kita berdua."
"Untuk apa membeli ponsel kalau kau bisa menghubungiku lewat telepon rumah keluargaku?"
"Tapi kau selalu melarangku menghubungimu saat malam," protes Chanyeol. Masih ingat betul bagaimana Baekhyun melarangnya dengan alasan orang tuanya yang akan terus mengawasinya jika sudah berada di rumah saat malam. Sampai sekarang hubungan mereka memang belum diketahui orang tua Baekhyun. Chanyeol masih tak tahu mengapa Baekhyun masih ingin menyembunyikan hubungan mereka. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa, karena Chanyeol tak ingin kehilangan Baekhyun.
"Aku hanya ingin mendengar suaramu Baek..." Chanyeol mengaku dengan nada tulus. "Aku ingin selalu bisa mendengar suaramu sebelum aku tidur, aku juga selalu ingin tahu apa yang kau lakukan, bagaimana keadaanmu, apa kau sudah makan, apa sudah minum obat, apa kau sudah merasa baikan. Bertemu denganmu di kampus tiap hari senin sampai jumat tidaklah cukup bagiku, Baek. Aku masih ingin terus berada di dekatmu. Dan dengan mendengar suaramu di telingaku melalui ponsel bisa membuatku merasakan itu. Merasa kau terus berada di dekatku..."
Tanpa sadar, Chanyeol mengakui ia sudah ketagihan berat dengan sosok Baekhyun dalam hidupnya.
"Aku mengerti..." Baekhyun akhirnya bersuara setelah jedah sebentar. "Sebenarnya aku juga menginginkan hal yang sama. Aku selalu ingin berada di dekatmu..." ia mengaku dengan nada pelan, setengah berbisik —malu.
"Aku tahu itu! Kita memang sehati sejak dulu, Baekhyunie~" Chanyeol tersenyum bahagia. Mood-nya benar-benar di atas awan saat ini. Ia merogoh saku bajunya. Mengeluarkan amplop coklat isi uang gajinya dan mengintip isinya. "Kau ingin ponsel warna apa nanti, Baek? Ah, kurasa nanti akan ada sisanya. Apa kau ingin aku membelikanmu sesuatu yang lain?" Chanyeol sudah keasikan sendiri. Mengobrol melalui ponselnya sambil berjalan di trotoar pejalan kaki, sementara sebelah tangannya memegang amplop gaji yang ia intip isinya.
Kai yang kebetulan berjalan di seberang jalan, menangkap sosok sahabat sekaligus tetangganya itu dari jauh. Ia memutar bola matanya bosan melihat bagaimana Chanyeol tampak aneh dengan cengiran lebarnya yang tak pudar sambil menelpon seseorang —yang Kai bisa menebaknya dengan benar siapa yang Chanyeol telepon.
Kai berdiri di pinggir jalan itu, menunggu tiang lampu penyebrang menjadi hijau dan membiarkan pejalan kaki untuk menyebrangi jalan besar itu. Jika nanti ia akan berpapasan dengan Chanyeol yang berada di sebrang sana, Kai sudah mewanti dirinya sendiri untuk bertindak pura-pura tidak kenal saja. Tak ingin ia tertular dipandang aneh karena mengenal Chanyeol yang benar-benar tampak aneh dengan senyuman kelewat besar itu.
"YACH!"
Teriakan dari suara baritone itu cukup menarik perhatian orang sekitar, termasuk Kai yang kembali menoleh ke arah Chanyeol karena pemuda tinggi itu baru saja berteriak. Kai masih tidak mengerti situasi saat melihat seorang laki-laki lain nekat berlari menyebrangi jalan tanpa menunggu tiang lampu berubah hijau. Serentetan bunyi klanson dari berbagai kendaraan pun terdengar seiring larinya lelaki berjaket itu yang nekat menyebrang jalan.
"PENCURI!"
Teriakan panik Chanyeol selanjutnya itu menyadarkan Kai. "Pencuri?" matanya kembali melirik lelaki berjaket yang menyembunyikan amplop coklat dalam genggamannya di balik jaketnya itu. Kai dengan refleks segera menghadang lelaki itu yang kebetulan hendak lari melewatinya. Ia menjagal kakinya, lalu menindih punggung lelaki itu dengan mendudukinya. Kai tersenyum bangga.
Ia menoleh ke belakang. "Aku mendapatkannya, hyung—" ucapan Kai terhenti. Matanya melebar melihat kejadian mengerikan yang tiba-tiba terjadi di tengah jaln itu. Tubuh tinggi Chanyeol itu terlempar, ke atas, lalu berguling di atap sebuah mobil yang baru saja menabraknya dan mendarat beberapa meter di atas aspal jalanan. Chanyeol masih bisa bergerak saat itu. Kai sempat melihat tangan Chanyeol yang bergerak, berusaha bangkit ketika sebuah mobil lain melaju cepat dan kembali menabrak tubuhnya telak dari arah berlawanan.
"HYUNG!"
Bebagai teriakan histeris dan jeritan itu membisingkan tempat kejadian perkara. Kai tidak peduli lagi dengan pencuri yang sudah melarikan diri setelah ia melepaskannya. Ia berlari cepat menghampiri tubuh bersimpah darah di atas aspal tersebut. Wajah cerah yang berapa detik lalu ia lihat sedang tersenyum seperti orang bodoh, kini tampak mengenaskan dengan darah yang membasahi pelipis dan sebelah pipinya. Chanyeol yang berbaring terlentang, beralaskan cairan darahnya sendiri itu, masih memegang erat ponselnya. Pandangannya yang buram berusaha fokus pada layar ponsel yang masih menyala dalam genggamannya. Di ambang kesadarannya itu, Chanyeol sempat berbisik dengan suara serak.
"Baekhyun..."
Ironisnya, janji yang baru berapa menit lalu ia lontarkan, seolah sedang mengejeknya saat itu.
'Haruskah aku mengulang janjiku lagi? Kalau aku tidak akan meninggalkanmu, Baekhyunie... Tidak akan pernah...'
Mata Chanyeol terpejam...
.
.
.
.
.
.
...
Tubuh Chanyeol gemetar. Memori terakhirnya seolah memukul batinnya dengan telak. Ia berlutut, duduk bersimpuh di antara lorong panjang labirin itu. Chanyeol melihat kedua tangannya yang terus gemetar. Matanya berair.
"Tidak..."
Ia menggeleng.
"Tidak..."
Satu frasa berbagai arti itu kembali terulang dalam bibirnya. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia tidak seharusnya mengalami kecelakaan sialan itu.
Tunggu... Apakah dia sudah mati? Apa sekarang dia sudah berada di dunia lain? Pantas saja tempat ini begitu aneh?
"Tidak..."
Chanyeol menggeleng. Menyangkal pemikirannya tersebut.
Dia tidak seharusnya berada di sini. Dia harus kembali. Memastikan apa Baekhyun baik-baik saja. Memastikan bahwa Baekhyun tidak akan merasa sendirian, karena Chanyeol akan menemaninya, mendampinginya, menjaganya. Seperti janjinya.
Dia harus segera keluar dari sini.
Chanyeol bangkit, sedikit mengerang kesakitan saat berjuta rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya. Ia tidak mau peduli lagi dengan rasa sakit sialan itu. Chanyeol memaksakan dirinya untuk melangkah lebih cepat, berlari terengah menelusuri dinding labirin untuk segera mencari jalan keluar.
Seberkas cahaya putih yang akhirnya ia temukan, terlihat berasal dari ujung tikungan labirin di sana. Harapan Chanyeol yang sempat pupus mulai timbul. Chanyeol buru-buru mendekati tikungan di ujung sana. Saat ia sudah berbelok, Chanyeol bisa melihat jalanan di ujung lorong itu memancarkan sebuah cahaya putih. Satu-satunya sumber cahaya terang diantara kabut abu-abu yang ia temui dalam labirin tersebut sejak tadi.
Mata Chanyeol sempat menyipit dengan bias cahaya putih yang tampak begitu silau. Ia mengangkat sebelah tangannya di atas kening, melindungi penglihatannya. Setelah terbiasa dengan silau cahayanya, Chanyeol berusaha mengintip dari sela-sela jemarinya. Ada sosok lain yang tengah berdiri membelakanginya di ujung sana.
Seseorang laki-laki, yang dilihat dari belakangnya figur badan laki-laki itu mirip Baekhyun. Ia menggunakan pakaian serba putih yang begitu kontras dengan rambut berwarna hitam legamnya.
"Baek... Baekhyun..." Chanyeol berusaha memanggil dengan suara yang mulai serak, efek dari tenggorokan yang panas dan teriakan yang sudah ia keluarkan sejak tadi.
Orang yang menyerupai Baekhyun dari belakang itu tidak menoleh, mungkin ia tidak mendengar. Pemuda berpakaian putih itu malah berjalan lurus, menuju sumber cahaya putih yang menyilaukan di ujung labirin tersebut.
"Baekhyun!" Chanyeol meninggikan suaranya. Tangannya terulur ke depan dan mulai berlari untuk menyusulnya. Tiba-tiba tanah yang dipijaknya berguncang. Tubuh Chanyeol sempat oleng dan terhenti. Sebuah dinding labirin di sisi lain terlihat bergerak, bergeser ke samping seolah ingin menutup akses jalan di antara Chanyeol dan tempat sumber cahaya itu berasal.
"Tidak..." Chanyeol panik. Tak ingin dinding itu menghalangi jalannya dan menutup aksesnya menuju jalan keluar dari labirin menyesatkan itu. "Tidak! Baekhyun!" Ia berlari, berusaha tepat waktu melewati dinding tersebut sebelum benar-benar tertutup.
Tanah dipijaknya semakin berguncang. "Akh!" Chanyeol tersandung, terperanjap jatuh di atas tanah. Ia menangis. "Tidak! Jangan!" Chanyeol berusaha bangkit lagi. Dinding itu sudah bergeser setengahnya, cahaya putih dari ujung sana mulai meredup seiring dinding yang terus bergerak untuk menutupinya.
"BAEKHYUN!"
Chanyeol memakai seluruh tenaganya yang tersisa, melompat ke dalam cahaya putih melalui sela sempit dinding labirin yang nyaris tertutup itu. Guncangan di tanah itu akhirnya berhenti, tepat setelah dinding itu tertutup. Menutup akses jalan keluar tersebut.
Dinding-dinding labirin yang menjulang itu terlihat tenang. Kabut-kabut itu kembali mengisi sudut-sudut labirin. Langit abu-abu dalam dimensi itu pun masih terlihat sama, tenang, tanpa matahari, bulan, bintang, ataupun awan. Semuanya kembali tenang seperti semula.
Di bagian lain dalam labirin tersebut, ada sosok namja lain berpakaian hitam yang sedang berbaring di atas tanah. Kelopak matanya bergerak, terbuka secara perlahan. Ia mengerjap, menatap bingung sekelilingnya yang tampak begitu asing di matanya.
"Dimana ini?" —Tao berbisik...
Dan satu jiwa anak manusia lain kembali terjebak di antara labirin dalam dimensi tersebut.
.
.
.
.
.
"Chanyeol..."
Mata Chanyeol langsung terbuka. Baekhyun yang sejak tadi menunggunya segera menghambur memeluk tubuh Chanyeol yang berbaring di atas ranjangnya. Merangkul leher Chanyeol erat sambil terus cegukan dalam tangisnya.
"Aku tahu kau bisa melewatinya. Aku tahu itu," racaunya di samping kepala Chanyeol.
Chanyeol tidak mengerti. Dia bingung. Dengan segala kejadian aneh yang menimpanya. Ia bahkan tak tahu pasti yang mana mimpi dan yang mana kenyataan.
"Akh!" Chanyeol merintih sakit. Kepalanya kembali berdenyut, kulitnya kembali terasa terbakar. dan tenggorokannya terasa begitu menyakitkan seperti tercekik sesuatu yang kasat mata. Rasa sakit yang ia terima dalam labirin tadi masih terasa menyerang seluruh tubuhnya. "Baek..." ia merintih.
Baekhyun melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Chanyeol. "Lakukanlah..." bisiknya, memandang lurus ke dalam mata Chanyeol. "Lakukan saja, turuti apa keinginanmu..." Ia menarik kepala Chanyeol, dan mengarahkannya ke dalam lekukan antara leher dan bahu Baekhyun yang terekspos.
Chanyeol masih tak mengerti. Tapi aroma tubuh Baekhyun yang langsung tercium olehnya membuat Chanyeol terbuai, denyutan di kepalanya mulai berkurang. Mengikuti insting barunya, Chanyeol perlahan membuka mulutnya di atas permukaan kulit leher Baekhyun yang begitu dingin.
Gusinya terasa berdenyut gatal. Perlahan sepasang gigi taring Chanyeol memanjang dengan sendirinya, menggores kulit leher Baekhyun, lalu menusuknya dalam.
"Akh!" Baekhyun merintih sesaat. Jemari lentiknya meremas helaian rambut Chanyeol. Mata Baekhyun berkilat, berubah warna menjadi merah, sepasang gigi taring mulai muncul di sela bibir ranum tipisnya.
Leher putih Baekhyun ternodai dengan aliran kecil darah yang sempat merembes diantara bibir tebal Chanyeol yang menempel di sana. Jangkun Chanyeol bergerak naik-turun, menghisap darah memabukkan yang membuat denyutan kepalanya menghilang dan kulitnya yang sejak tadi panas berubah dingin. Perlahan mata Chanyeol terbuka, memperlihatkan pupil berwarna merah darah yang sama persis dengan milik Baekhyun.
.
.
.
.
.
...
Kai menatap nanar tubuh Chanyeol yang terbaring mengenaskan, bersimpah darah di atas jalan beraspal tersebut. Matanya mulai berair. Pikirannya kacau, bingung, dan panik menjadi satu. "Dokter," ia mulai berbicara dengan pikiran kacau. "Mana dokter! Seseorang panggil dokter!" Kai melihat sekeliling dengan panik, ke arah orang-orang biasa yang mulai mengitari dirinya dan tubuh Chanyeol yang tergeletak di atas aspal.
"Aku sedang menelpon ambulan!" Salah satu dari mereka —yang cepat tanggap dan sadar situasi— mengangkat sebelah tangannya, sementara tangan lain memegang ponsel yang menempel di telinganya. "Halo, rumah sakit Jundang! Ada korban kecelakaan tabrakan di jalan—"
Lelaki itu tak sempat melanjutkan kalimatnya saat hembusan angin kencang tiba-tiba datang entah dari mana. Semua orang di sana refleks menutup mata mereka, melindungi diri dari debu angin yang bisa saja melukai mata mereka. Sekitar lima detik kemudian hembusan angin kencang itu akhirnya menghilang. Satu per satu dari mereka membuka mata. Kebingungan dengan kejanggalan alam yang baru saja tadi. Apalagi saat mereka menyadari sosok tubuh korban yang tadinya berbaring di atas aspal, kini menghilang. Dan hanya menyisakan genagan darah yang mulai mengering.
Kai masih berdiri di tempatnya. Kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.
Kemana hilangnya tubuh Chanyeol?
...
"Kau sudah gila!" Sehun membentak dengan nada marah. Memandang layang pada Baekhyun yang baru saja kembali. "Untuk apa kau membawanya kemari?"
Baekhyun tidak menjawab. Ia berlalu, berjalan cepat bagaikan angin menuju kamarnya di lantai dua hanya dalam kurung waktu kedipan mata. Bahkan dengan membawa tubuh Chanyeol yang lebih besar darinya di atas bahunya.
Sehun bergerak menyusul Baekhyun dengan kecepatan yang sama. Sesampainya di ambang pintu kamar Baekhyun, Sehun melihat namja manis itu membaringkan tubuh Chanyeol di atas ranjangnya. Lalu membelai wajah yang sudah ternodai darahnya sendiri.
"Maafkan aku Yeol," bisikan Baekhyun terdengar lirih dan bergetar. "Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Tidak bisa," ia menggeleng miris. "Kau sudah janji. Dan aku tidak bisa merelakanmu pergi begitu saja." Tangan Baekhyun merambat di atas dada kiri Chanyeol, merasakan detak jantung Chanyeol yang mulai melambat.
"Yach! Byun Baekhyun!" Sehun meneriakinya begitu mengerti apa maksud Baekhyun setelah melihat gelagatnya. "Jangan bertindak bodoh," ia mendekat dan meraih lengan Baekhyun. "Kau tidak boleh melakukannya!"
"Diam!" Baekhyun menghentakkan lengannya dengan kekuatan penuh, membuat Sehun terhempas dan terlempar ke dinding kamar. Sehun mengeram, matanya berubah warna menjadi merah darah. Ia bangkit berdiri.
"Diam di sana Oh Sehun!" Baekhyun memperingatinya. Sama mengeram dengan mata yang juga berubah jadi merah.
Telapak tangan Sehun terkepal menahan emosi. Tapi ia tak bisa membantah dan terpaksa berdiri di tempatnya.
Baekhyun kembali beralih menatap Chanyeol yang berbaring di atas ranjangnya. "Maafkan aku..." bisiknya. Ia mulai mendekati perpotongan leher Chanyeol. Taring Baekhyun muncul dan memanjang. Baekhyun memejamkan mata, meloloskan sebening air yang lolos dari kelopak matanya. Ia membenamkan gigi taringnya pada leher Chanyeol.
Tubuh Chanyeol tersentak. Matanya refleks terbuka dengan pandangan kosong. "AAAAAKHHH!" dan jeritan menyakitkan keluar dari tenggorokannya. Detak jantung Chanyeol berdetak terlampau cepat. Aliran darah panas membara mulai merambat dari racun taring Vampire yang Baekhyun salurkan melalui lehernya.
Dada Chanyeol membusung ke atas bersama dengan teriakan memilukannya. Sampai beberapa detik kemudian, tubuh Chanyeol yang menegang akhirnya terkulai. Teriakannya terhenti, bersamaan dengan kelopak mata yang terpejam, dan detak jantung Chanyeol yang tak lagi berdetak.
Baekhyun menarik kembali taringnya yang sudah ternodai darah Chanyeol. Kedua tangannya bergerak memeluk leher Chanyeol. Baekhyun tak tahan lagi. Ia akhirnya menumpahkan tangisnya di sisi wajah Chanyeol yang tak lagi menghangat.
"Maafkan aku..."
Sehun terdiam di sana. Memandang miris kejadian yang kembali terulang di hadapannya. Bedanya, saat empat puluh tahun yang lalu itu, Baekhyun yang berbaring di atas ranjang itu, dan Sehun sendiri yang pertama kali menancapkan taringnya di sisi leher Baekhyun...
Sejak awal, mereka memang bukan saudara kandung.
Melihat bagaimana Baekhyun menangis dan memeluk erat tubuh Chanyeol seolah pemuda tinggi itu benar-benar sangat berarti untuknya, membuat Sehun mengepalkan tangannya semakin keras.
.
.
.
.
.
.
...
Suasana dalam kamar itu tampak remang dan sepi. Tak ada penerangan kecuali sinar bulan yang masuk melalui jendela. Tirai gorden di sisi pintu geser balkon itu sedikit melambai, terbawa oleh hembusan angin malam yang melewati pintu terbuka itu.
Chanyeol masih duduk dengan kaki panjang yang berbaring lurus di atas ranjang king size itu. Kedua tangannya bergerak memeluk pinggang ramping Baekhyun yang duduk di atas pahanya. Wajah Chanyeol terbenam di perpotongan leher putih Baekhyun. Mencium kulit dingin itu, sekaligus menghirup aroma tubuh Baekhyun yang membuatnya mabuk. Sangat mabuk.
Mata Chanyeol terpejam. Pendengarannya terasa makin peka berkali lipat. Ia bahkan bisa mendengar suara benturan kaleng kosong yang dilempar seseorang ke tempat sampah di jalanan di bawah sana yang berjarak sekitar sepuluh meter dari rumah besar Baekhyun sendiri.
Sementara kedua tangan Baekhyun balas memeluk leher Chanyeol. Jemari lentiknya bergerak menyisir helaian rambut Chanyeol dalam pelukannya. Mata Baekhyun terpejam, menikmati kebersamaan mereka yang seperti ini.
"Baekhyunie..." Chanyeol berbisik dengan suara baritone-nya, memecahkan keheningan di antara mereka. Baekhyun sedikit menggeliat, merasa geli di sekitar telinganya karena bisikan Chanyeol. Tangan Baekhyun bergerak menarik mundur kepala Chanyeol dari lehernya. Lalu menatap lurus matanya.
"Ada apa?"
"Masih ada yang membuatku bingung."
"Apa itu?"
"Penyakit parah yang pernah kau maksud itu..."
Baekhyun meraih tangan Chanyeol, mengarahkannya untuk menempel pada dada kiri Baekhyun. "Ini. Di sini." Baekhyun menatap Chanyeol sendu. "Tak ada obat yang bisa membuat jantung ini berdetak lagi..." lirihnya.
Sebelah tangan Baekhyun juga terulur, menyentuh dada kiri Chanyeol. Tidak lagi terdengar bunyi detak jantung di dalam sana. "Maaf..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Sekarang kau juga sama. Aku sudah menularimu..." ia terdengar sangat menyesal. "Aku sangat panik tadi. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu. Satu-satunya dalam pikiranku hanya membuat kau tetap berada di sisiku, berada bersamaku. Aku sungguh tak bisa membayangkan apa jadinya aku tanpamu, Yeol..."
Baekhyun meremas kain baju Chanyeol dengan erat. "Maaf, aku tidak bisa merelakannu pergi. Dan malah membuatmu berubah menjadi sama mengerikannya seperti aku."
"Baekhyunie..." tangan Chanyeol terangkat meraih pipi Baekhyun dan mengelusnya lembut. "Gwencana..." Chanyeol tersenyum. "Mungkin jika aku berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama." Sebelah tangan Chanyeol bergerak untuk kembali merangkul pinggang ramping Baekhyun. "Aku sendiri juga ingin selalu berada di dekatmu. Lagipula rasanya tidak begitu buruk kok. Indra penglihatan, pendengaran dan penciumanku yang berkali lipat lebih tajam malah membuatku merasa keren."
Baekhyun menghela nafas. "Tapi kau tak bisa lagi keluar sepanjang hari. Kulitmu akan terasa terbakar kalau kau berlama-lama di bawah sinar matahari."
"Gwencana. Aku bisa memakai hoodie besar sepertimu, Iya kan? Wah, kita juga bisa memakai hoodie couple ke kampus. Pasti akan terlihat sangat serasi."
"Tapi Chanyeolie, kau tidak akan bisa memakan makanan kekusakaanmu lagi. Lambungmu akan terasa sakit kalau kau memakan sembarang."
"Gwencana." Chanyeol mulai nyengir mesum. "Yang penting aku bisa 'memakanmu' sebagai gantinya."
Baekhyun merengut, melayangkan pukulan di kepala Chanyeol.
"Akh!" Chanyeol merintih sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Jangan di kepalaku, Baek. Ini masih terasa sakit."
Baekhyun khawatir. "Benarkah? Ku kira sakitnya sudah hilang setelah kau menghisap darahku."
"Tapi sakitnya kembali gara-gara kau memukulnya."
"Ah," Baekhyun tampak menyesal. "Apa yang harus aku lakukan?"
Chanyeol nyengir. "Cium aku."
Paham sudah dikerjain, Baekhyun langsung melotot. "Yach!"
Chanyeol tertawa. Ia kembali merangkul pinggang Baekhyun. "Berhenti terlau khawatir dan menyalahkan dirimu sendiri. Aku baik-baik saja dengan keadaanku yang sekarang. Asal kau selalu bersamaku, aku tak apa." Chanyeol mendekat, menempelkan kening mereka, menatap lurus mata hitam Baekhyun dan tersenyum tulus.
"Aku malah sangat bahagia, Baekhyunie... Karena aku sangat mencintaimu..."
Baekhyun tersenyum. "Aku tahu."
Ada jeda panjang sampai Chanyeol berubah cemberut. "Aku tahu? Hanya itu? Baekhyunie, setidaknya kau juga bilang—"
Baekhyun menangkup kedua pipi Chanyeol lalu mencium bibirnya dengan gerakan lembut. Mata Chanyeol melebar, selalu saja dibuat terkejut dengan gerakan Baekhyun yang kadang berani bertindak lebih dulu. Chanyeol memejamkan matanya, baru saja ingin membalas lumatan bibir Baekhyun saat namja cantik itu malah menarik diri.
Baekhyun terkekeh kecil melihat wajah merengut Chanyeol. Tangan Baekhyun yang masih menangkup wajah Chanyeol itu, mengelus pipi Chanyeol dengan gerakan sayang.
"Aku juga sangat-sangat-sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Dan aku sangat bahagia bersamamu."
Chanyeol tersenyum lebar. "Ouh uri Baekhyunie~ Terkadang kalau kau tidak lagi bersikap dingin dan bertingkah manis begini aku jadi sangat gemas padamu. Sangat-sangat gemas."
Baekhyun tersenyum semakin lebar sambil memiringkan kepala, menampilkan sederet gigi dan matanya yang makin menyipit imut. Mengeluarkan sisi aegyo yang selama ini ia tutupi. "Jadi apa kau juga ingin menciumku, Yeollie?"
"Ani," Chanyeol menggeleng main-main. Dengan gerakan tiba-tiba ia memutar tubuh Baekhyun ke samping, membantingnya di atas ranjang lalu menindihnya. Chanyeol mendekatkan wajahnya kembali. Menyeringai tepat di atas hidung Baekhyun.
"Lebih dari itu..." Chanyeol berbisik, matanya berkilat berubah warna menjadi merah. "Aku jadi ingin memakanmu... uri Baekhyunie..."
...
Heechul —sebagai kepala keluarga dalam rumah itu, menghentikan sejenak kegiatan menulisnya. Pendengaran yang tajam menangkap keributan yang terjadi di salah satu kamar di lantai atas.
"Akh! Yach!" itu suara Baekhyun yang mengamuk. "Idiot! Jangan gunakan taringmu untuk membuat kissmark di bahuku!"
Heechul terkekeh geli. "Sepertinya rumah kita akan semakin ramai dengan adanya anggota baru," ia menopang dagunya, menatap sosok wanita anggun yang duduk manis di dekat jendela. "Iya kan, sayang?"
Taeyeon menoleh, tersenyum manis pada Heechul. "Hm," gumamnya, lalu meminum secangkir gelas kaca yang terisi oleh cairan warna merah pekat.
"Aku hanya berharap uri Sehunie tidak terlalu lama mengurung diri di kamarnya," tambah Taeyeon kemudian.
...
Sehun duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjangnya. Sepasang headset kecil terpasang rapat di kedua telinganya. Memutar sebuah lagu dengan volume keras untuk menghalau segala pendengarannya. Tapi tetap saja, kemampuan yang biasanya ia andalkan itu malah mendengarkan apa yang tidak ingin ia dengarkan.
"Aku juga sangat-sangat-sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Dan aku sangat bahagia bersamamu," suara riang Baekhyun di kamar atas itu terdengar sampai ke telinganya.
Sehun menengadah, memejamkan matanya. Ia tersenyum miring.
.
.
.
.
.
End.
.
.
.
.
...
A/N::
Hahahaha... (tertawa puas) Saya puas! Moga reader yang baca juga pada puas dengan endingnya, (tersenyum manis)
Saya udah banyak nemu ff Baekyeol yg tema Vampire -—terutama yg english-—, tapi semuanya selalu diawali dengan Chanyeol (dengan postur tinggi tampan dan kharisma) sebagai vampire, sementara Baekhyun (yang pendek* mungil dan naif) sebagai manusia biasa yang terjerat dengan kharisma si Vampire tampan.
Jadi, di sinilah fanfic saya muncul, pengen bawa sesuatu yang baru dengan posisi mereka yang saya balik. Baekhyun yang muncul sebagai vampire cantik yang mencoba menutup diri, dan Chanyeol sebagai manusia biasa yang malah terjerat karena rasa penasarannya sendiri.
Hehehe... moga aja fanfic yang cuma Twoshoot ini banyak yang suka. XD
#Balasan Review::
Rei Fujoshi Official Couple :: iya. Ini udah upate ^^
Minny Kpopers Fujoshi :: udah pada tahu kan kenapa Baekhyun gitu? Moga aja gak kepo lagi XD
2727 :: Makasih banyak~~^^
inggit :: Baekhyun bukan alien, tapi vampire! XD
Nay :: hehe... makasih^^
amus :: moga virus keponya udah hilang setelah baca ini :)
Khaplatinum :: Baekhyun vampire! XD
dbrlShadowD :: annyeong~ ah, padahal yg kemarin itu ada typo, baguslah kalau gk kelihatan (nyengir).
stykiees :: hehehe... makasih :D
shyxian :: Baekhyun vampire~ :D
regianamiranda :: moga feel-nya gk cepat lupa, kalau terlanjur lupa baca ulang aja dari chap awal *nyengir
choi rovin :: Salam kenal juga~ ah, reviewmu ini blum panjang, masih banyak yg lebih panjang lagi. Nanti review-nya kasi lebih panjang lagi yah, soalnya saya suka review panjang~ kkaebsong #nyengir
kimsangraa :: wah ketebak. Baekhyun Vampire~ :D
indaaaaaahhh :: semangat! Makasih~^^
bubblechanbaek :: moga virus keponya hilang setelah baa chap ini :D
yeyechacha :: gua kepo banget pas lihat foto Chanbaek yg punya kissmark d leher masing2, Kyaaaa! Perlu dibuatin fic itu! Perlu banget! Tapi bukan saya~ kkaebsong~ #plaak
gfdrjbdgkbfjkb :: Udah update~
asterellaByunChan :: yeah, mari berharap Chanbaek juga comeback dlm waktu dekat~
Phy :: Hai dini juga~ (kayak sapa cermin #plaak) hehehe... makasih :D saya gk tahu apa ni masih bisa dibilang happy ending, tapi yg jelas sy gak pernah tega kok misahin Baekyeol di ff saya XD
Shifaxo :: Hehehe... Makasih~~
12Wolf :: Terima kasih~~
baguettes :: semuanya sdh terjawab di chap atas! XD
baeksuchan :: Iya, ini udah di lanjutin~ makasih~^^
90Rahmayani :: Yup. Moga puas dengan endingnya!
arvita kim :: ouh, gampang banget ketebaknya, Baekhyun memang vampire. Aduh, gimana yah, saya sendiri memang lemah dengan kalimat baku dan non baku, kadang bingung sendiri dengan dua golongan(?) Itu. Coba ada beta reader yg mau nolong.
i-BAEK :: bukan dengar pikiran orang, dia bisa dengar bisikan orang dari jarak tertentu, pendengarannya tajam. Baek memang vampire XD
Arumighty :: Yah, udah bisa ketebak, Baekhyun si vampire cantik(?) XD
naranari :: Ayo review-review~ (nagih kayak rintenir #plaak) Baekhyun memang pantas dicintai! (Fangirl Baekhyun nomor satu)
eun soo cha :: hehehe... senang kalau ff sy disukai~~ :D
rezztu yutha :: Moga aja makin pengen nangis waktu liat tulisan 'end' di atas, hehehe... kkaepsong~ #plaak
Kim JaeRin :: uri Baekhyunie di sini Vampire`~ XD
nadya d andini :: semua jawabannya sdh ada di atas, iya kan? XD
ohrere :: pesona rambut hitam Baekhyun tidak bisa diabaikan begitu saja, cocok banget jd iklan shampo, kkaebsong~ XD
piyopoyo :: Makasih~~^^
VS-125.313 :: syukurlah kalau suka dg sikap dingin Baek, sy sempat takut nanti karakter Baek terlihat aneh...
Luhaan Gege :: iya nih, masih ada typo, makasih koreksinya~ XD
Meriska-Lim :: Iya, makasih~~
SyJessi22 :: semuanya udh terjawab diatas kan? XD
FNA :: iya ini udh update~ makasih~^^
aprilbambi :: Baekhyun vampire! Udh ketebak kan? XD
parklili :: bukan baca pikiran, tapi pendengarannya yg tajam. XD
exindira :: Makasih~~
wolfie ::hahaha... aku senyam-senyum baca tebakan chingu, masuk akal juga. Anak indigo yah? XD tapi benar kata chingu, genre fanfic ini fantasy! ^^
Lee Ah Ra :: Baekhyun jd vampire d sini! :D
CB11270506 :: Makasih~ senangnya fanfic dg nama pen Sayaka Dini mulai diminati :D sesama Chanbaek shipper memang saling membahagiakan (apaan sih, gak nyambung, kkaebsong~)
N Yera48:: Jawabannya udh ada di chap atas~ :D
Yurako Koizumi :: gampang banget ketebak yah, Baekhyun vampire d sini... XD Chanyeol-Baekhyun memang pasangan paling cocok lah! ^^
pintukamarchanbaek :: Baekhyun-nya vampire~ XD
Milky Andromeda :: hehehehe... makasih udah tungguin~ ^^
Chanbaek :: yup. Dilanjut~ reviewnya juga lanjut yah (nyengir)
kim Lyeon Chiken Chubu :: hehehe... sy malah ngakak baca tulisan 'mbah yehet', poor baby maknae, malah dipanggil 'mbah'(tua amat) ada tambahan yehet-nya lagi (ngakak sendiri) eh, sy kok malah OOT, kkaebsong~ Tenang, sy orgnya gk tegaan nyiksa bias sendiri :D
chanB :: terserah mau manggilnya apa, author juga boleh, panggil 'istrinya Baekhyun' jg boleh #plaak. Ehm, tapi biasanya yang lain panggil saya Aya, atau Dini, atau terserah mau manggil yg mana, cukup author jg tdk masalah. Makasih banyak~~
.
.
.
.
MAKASIH BANYAK YANG UDAH REVIEW! SAYA JADI SENYUM-SENYUM SENDIRI KALAU BACA REVIEW PANJANG DAN ISINYA LUCU-LUCU!
SAYA MALAH JADI KETAGIHAN PENGEN NULIS FF BAEKYEOL TERUS! KYAAA! EOTTOKE?
WAH! CHAPSLOCK JEBOL! YAHAAAY! (terlalu girang)
Sampai jumpa~ #wink
Jangan lupa Review akhir di fanfic ni, Ne? #senyummanis
~Sayaka Dini~
[21 April 2014]
