Kilauan keemasan menjatuhi wajah tampan Naruto yang terbentang di bawah shower. Ribuan butiran air sedingin embun itu berhamburan menuruni lekuk tubuhnya. Mulai dari linangan tak terbendung di atas kelopak bulu matanya yang lentik kemudian tergelincir ke bahunya yang bidang, merembes ke atas otot-otot kecilnya yang padat, meliuk indah ke arah pinggul yang terpahat amat sensual miliknya, menggerayangi bokongnya yang sintal hingga jatuh tak berdaya ke atas marmer putih. Sementara sebagian lainnya menguap, menciptakan kabut yang memburamkan kaca tempat ia mengurung wilayah ritual mandinya. Sebuah pintu kaca geser melengkung seperempat lingkaran di sudut.

Beberapa kali ia nyaris diajak ke ruang loker yang sepi oleh para pengunjung di gym langganannya akibat postur itu. Naruto mengamuk, siapa bilang pria gym sudah pasti gay? Dan orang gila mana yang bisa- bisanya mau menggoda pria paruh baya usia tiga puluh tujuh sepertinya? Ia tak habis pikir.

Digosoknya gemas helaian pirang yang berbusa itu. Aroma jeruk menguar seketika. Nampaknya Boruto berhasil menyelundupkan Alberto Balsam itu lagi ke dalam kamar mandinya. Putra sulungnya bersikeras bahwa Himawari-lah yang paling berambisi untuk bisa mencium aroma jeruk tiap ayahnya itu berbaring bersama mereka.

Naruto hanya bisa mendengus pasrah. Jika biasanya ia akan menjerit frustasi dan membuat kedua 'penjahat' muda di luar sana terkikik geli, kali ini dia hanya bisa nelangsa. Ia lelah. Alasan apa lagi yang harus ia berikan jika Sai一asistennya bertanya mengapa ia menggunakan shampoo wanita pagi ini.

Oh, tadi pagi aku terpeleset dan Himawari dengan lucunya malah menumpahkan jus jeruknya tepat ke atas kepalaku.

Atau

Ah, Boruto tadi pagi iseng menyemprotkan spray perasan jeruk saladnya ke kepalaku.

Sai dengan wajah datar bak mayat itu pasti akan menjawab, Naruto-san, Boruto-kun delapan belas tahun dan Himawari-chan terlalu cerdas untuk melakukan hal sekanak-kanakan itu ketika tau ayahnya sudah berkemas untuk ke kantor.

Lalu Naruto pun akan berakhir dengan jawaban, Aku cuman berusaha mencoba untuk tidak terlalu maskulin sebagai senjata tumpul terakhir. Sambil memutar bola mata.

Sai tidak tau saja kedua bocah itu bisa seaneh apa. Saat keduanya berkunjung ke kantor Naruto, Boruto nampak seperti anak remaja pada umumnya, cuek, masa bodo, berjiwa pemberontak, tidak ingin disamakan dengan ayahnya dalam bentuk apapun apalagi disebut penerus jabatan sang ayah, ia nampak membenci ayahnya lebih karena Naruto nyaris tak punya waktu luang merawat si sulung. Sementara si adik bungsu sangat disenangi karena sifatnya yang manis, pemalu dan lemah lembut seperti mendiang ibunya.

Dengan kesan pertama yang melekat di benak pegawai-pegawai Naruto di Konoha Gaiden Inc. yang seperti itu, Naruto yakin mereka akan terkejut bila ia berkata bahwa Himawari seorang ahli beladiri profesional dan Boruto sangat cinta kebersihan sampai menyaingi Hinata.

"AYAH...! Mandinya masih lama? Hima minta dipasangkan pitaaaa...!"

Terdengar geraman tertahan dari tenggorokan Naruto menyambut teriakan barusan. Ia akan pura-pura tidak mendengar. Bisakah ia sedikit tenang menikmati me time miliknya yang tidak seberapa lama ini? Lagi pula sejak kapan Himawari suka pakai pita? Ini pasti akal-akalan Boruto agar ia segera keluar dan menerima gelak tawa keduanya karena berhasil membuat rambutnya beraroma jeruk lagi.

"Ayah...!"

Naruto nyaris melompat ketika Himawari dengan suara lucunya menyaut tinggi tepat ketika ia menggeser pintu kamar mandi dan bertelanjang dada keluar dari ruangan yang mengepul itu.

"Tidak baik mandi air hangat saat pagi, ayah!"

"Dia takut diare." Boruto nyeletuk sambil meletakkan mangkuk kuah bertofu terakhir ke atas meja makan di seberang ruangan.

"Ayah?"

"Ayah mandi air dingin, tau. Kalian sudah siapkan tas kalian? Hanabi mana?"

Naruto menyusuri tiap sudut ruangan dengan mata menyipit mencari sosok sepupu mendiang istrinya yang selalu membantu ia membereskan apartemen itu. Sembari kuliah, Hanabi menawarkan diri untuk merawat Boruto dan Himawari atas ijin Hiashi Hyūga 一mertua Naruto sepeninggal Hinata.

Rasanya benar-benar sepi.

Naruto tidak bisa berbohong jika ia kesepian. Bahkan setelah tiga tahun penuh Hinata pergi dari rumah ini ia sama sekali belum bisa membunuh keberadaan istrinya yang jelita seutuhnya. Setiap potrait yang terpasang selalu bisa membuat ia terhanyut nostalgia ketika ia pulang larut dan tak sengaja menatapnya di pintu masuk. Wajah Himawari yang serupa dengan istrinya pun selalu mampu membuat Naruto berpikir Hinata masih ada di balik meja dapur tengah mengaduk sup untuk sarapan mereka. Dan tingkah Boruto yang tidak berubah membuat Naruto seolah benar-benar merasa belum kehilangan Hinata sama sekali, dan satu-satunya kenyataan yang bisa menamparnya hingga sadar adalah ketika ia duduk di meja makan dan hanya ada mereka bertiga di sana.

Ia dan kedua anak kesayangannya. Tanpa sang istri yang berjuang keras melawan kanker rahim kronis mengerikan yang kini sudah tertidur damai di balik tanah.

"Tante Hanabi hari ini tidak datang. Katanya ada kuis dadakan di kampusnya." Ujar Himawari menjelaskan. Ditiupnya kuah sup favoritnya itu lalu menyeruputnya pelan. Kedua pipi putih itu segera bersemu merah seketika paduan bumbu melumer ke seluruh permukaan lidahnya, pertanda ia begitu menyukai rasa masakan sang kakak.

"Kau akan datang ke upacara kelulusanku 'kan?" Boruto menyela.

"Itu masih tahun depan 'kan?"

"Musim semi ini, baka oyaji!"

Naruto merunggut. Boruto merunggut lebih kesal. "Aku akan panggil paman Sasuke kalau kau tidak bisa. Sarada dan aku bisa bisa berbagi satu ayah kok, jangan khawatir."

Terlihat Naruto tersendak sebelum menjawab, "Sasuke sudah kembali dari Jerman?" Ia heran kenapa ia tidak memperhatikan itu. Seharusnya ia akan mendapat laporan jika vice president controllernya itu sudah kembali kunjungan kerja dari salah satu anak perusahaannya di Jerman. Ada yang perlu ia tanyakan mengenai rumor yang menyeret nama kepala cabang di sana padanya.

"Kau yang seharusnya lebih tau."

"Huh?"

"Paman-Sasuke-sudah-datang-atau-belum, Ayah?" Boruto mengeja tiap kata tanyanya dengan bosan, nampak jengah dengan lagat bodoh lelaki pirang dewasa di depannya.

"Belum."

"Nah."

"Tapi tadi kau bilang...ah, sudahlah!" Naruto segera berdiri, mengetatkan dasinya dan merapikan jas biru laut itu dengan telaten. Berdebat dengan Boruto tidak akan pernah menemui titik akhir. Anak itu sudah 'cinta mati' pada Sasuke dan segala karisma yang dimiliki si Uchiha, jadi mau Naruto sehebat apapun 一bahkan meski kenyataanya Narutolah yang memiliki jabatan lebih tinggi一 Boruto tetap akan menatap Sasuke jauh lebih keren dari ayahnya sendiri. Naruto bahkan tidak akan terkejut jika bocah itu tau-tau bikin petisi untuk diangkat jadi anak Sasuke dan membawa lari Himawari pindah ke rumah Sakura dan Sasuke. Agh sial! Kenapa ia malah membuat dirinya kesal sendiri? "Pak Teuchi akan mengantar kalian. Ayah tidak bisa menunggu hingga kalian selesai makan. Pagi ini ada yang harus ayah temui."

"Bla bla bla..." Ledek Boruto.

"Yahh...ayaah, padahal kami sudah bangun lebih awal biar bisa diantar." Keluh si bungsu kecewa.

Naruto segera menggamit pucuk kepala putri cantiknya itu lalu menciumnya penuh sayang, "Maaf ya, Hima-chan." Ia kemudian berpindah untuk memberi kecupan yang sama untuk si pirang Boruto namun sulungnya itu sudah buru-buru beranjak merapikan piring tepat sebelum telapak tangan Naruto memasuki jarak lima inchi dari helaian putranya.

Naruto cuman bisa mendesah sebelum akhirnya ia berangkat.

Ada yang tidak akan bisa dimengerti anak seusia Boruto meskipun Naruto membuat slide presentasi panjang semalaman suntuk untuk menjelaskannya.

Mungkin Boruto sering mendengar bisik-bisik kawannya di sekolah atau bagaimana presenter tv swasta bercerita dan bergosip akan dirinya dan segala kemewahan yang berhasil ia dapat setelah memenangkan saham terbesar Konoha Gaiden Inc. yang seketika membuatnya menjadi CEO perusahaan multinasional itu. Bahwa dia sangat beruntung, punya begitu banyak fasilitas mewah, akses tanpa batas, jejeran wanita cantik dan pria tampan yang siap melakukan apapun asal bisa bekerja dengannya. Bahwa ia pasti bisa berleha-leha di dalam tub penuh berlian dan permata sembari melahap bolognese.

Tai musang!

Boro-boro menikmati semua fasilitas dan kekayaan yang ia punya. Kenyataannya justru ia menjadi mesin tak bercela di atas gemilangnya prestasi yang ia gapai. Tiap hari ia harus menandatangani berbagai kontrak dari berbagai negara. Menerima segala komplain yang mengalir dari tiap-tiap anak perusahaannya. Pusing memikirkan demo pekerja di perusahaan yang bercabang di negara berkembang seperti India. Harus lebih telaten memilih strategi super berbeda yang ditawarkan VP (vice presindent) developer untuk setiap negara. Dan tak luput dari update harian fluktuasi saham yang dijejalkan ke hidungnya dengan cara yang semanis mungkin oleh SPV finansialnya.

Apa kau lihat dimana letak ruang bernafas Uzumaki Naruto di sana?

Tidak ada!

Jadi jangan harap ia akan memuaskan hasrat para majalah gosip akan keinginan mereka melihatnya menikah lagi.

Ia berhasil meminang Hinata saja sudah sebuah keajaiban! Keajaiban karena saat itu ia belum ketiban durian runtuh memenangkan saham perusahaan besar gila dan masih punya waktu untuk memanjakan kehidupan pribadinya. Namun sekarang? Boro-boro dia akan melangkah keluar dengan puluhan lampu kilat kamera paparazzi agar bisa sekedar memulai relasi romantis dengan seorang wanita. Buat ngurus waktu kosong untuk datang ke upacara kelulusan putra sulungnya saja dia sudah hampir jungkir balik.

"Terimakasih." Ujar Naruto ketika petugas di depan kantornya membukakan pintu mobil untuknya. Sesaat setelah ia menepikan diri di selasar kantor. Melamun membuatnya tak sadar bahwa ia sudah sampai begitu saja di kantornya.

Dengan telaten pemuda berseragam putih dengan kaos tangan bersih menunduk hormat sebelum ia bergerak masuk ke dalam Aston Martin Vanquish bewarna perak dengan interior semerah darah milik Naruto untuk diparkirkan ke dalam gedung. Rasa kagum dan bangga yang selalu mengerubuni benaknya tiap kali ia duduk di dalam sana nampaknya sudah berhasil ia latih untuk bersembunyi di balik ekspresi stoic. Dalam hati ia sangat senang jika Naruto datang ketika ia bertugas. Kapan lagi ia bisa duduk di dalam mobil seharga sembilan tahun gajinya. Ia sangat berharap bisa memegang handphone saat kerja sekarang, sekedar memamerkan bukti bahwa kaum marjinal bisa terlihat hebat juga meski sebentar.

Tidak banyak huru hara menjerit dari para pegawai wanita bahkan pria yang selalu digambarkan manga-manga shoujo tiap kali seorang CEO tampan memasuki kantor. Naruto berjalan seperti biasa ke dalam gedung kantornya, dengan Sai dan Juugo 一bodyguard kiriman Sasuke dari Rusia一 yang langsung mengapit tubuhnya, menghujaninya dengan segala daftar agenda yang diutarakan secara lisan sembari ia menuju lift.

Naruto hanya tidak tau jika segala jeritan yang digambarkan di manga wanita itu sebenarnya terjadi di dalam kepala masing-masing pegawainya, yang segera mencelos lemah tak berdaya ketika sosoknya menghilang di balik pintu lift.

Sai terdengar mengendus-ngendus, "Naruto-san kau一" Naruto sontak menghadapkan telapak tangannya ke wajah Sai sebagai tombol pause.

"Aku tidak punya alasan yang bagus untuk menjelaskannya."

"Boruto?" Timpal Sai.

"Mungkin Himawari. Aku tidak tau."

Juugo tidak memberi gubrisan. Ia suka dengan aroma manis yang menguar dari rambut pirang di belakangnya itu. Tapi rasanya tidak pantas jika ia memberi pendapat. Ia pun memilih diam, sejenak memejamkan mata menghirup jejak-jejak jeruk yang memenuhi ruang lift membawanya sekilas ke dalam fantasi dimana ia menenggelamkan batang hidungnya diantara helaian halus rambut Naruto yang mulai memanjang.

Insting Sai bergidik sangat sensitif ketika ia sadar bahwa Juugo tidak berada di raganya saat itu. Ia pun berdehem sedikit tegas tepat sebelum lift berdenting di lantai yang mereka tuju.

Sai dan Naruto melangkah keluar dari tabung setelah Juugo mempersilahkan dan memberi jalan.

Di lantai itu seluruh karyawan berdiri tegap dan membungkuk nyaris bersamaan menyambut Naruto. Naruto hanya tersenyum simpul dan memberi sedikit tundukan kepala sembari berjalan ke depan. Segera melenyapkan tubuh ke dalam ruangannya setelah ia bertemu pandang dengan Shikamaru di salah satu bilik transparan yang cukup besar di sisi kanan lantai tujuh. Si VP. HR berwajah selalu bosan itu cuman menggaruk kepala dan menguap ketika bertemu tatap dengan sang bos. Ia sudah mengenal Naruto jauh lebih lama dari siapapun di perusahaan itu setelah Sasuke. Ia dan Naruto sama-sama pejuang untuk memenangkan saham di masa-masa sulit. Kalau saja Shikamaru tidak begitu malas dan sangat benci keribetan hidup yang kini mengerubuni Naruto, ia pasti akan duduk di ruangan super esklusif berdinding kaca dengan pemandangan kota asli dan berisi sofa beludru milik Naruto. Semua orang tau, otak jeniusnyalah yang mampu mengendalikan Naruto dari tindakan gila. Jika saja Shikamaru adalah setan yang haus kekuasaan maka hanya butuh hitungan bulan baginya membuat Naruto jatuh bangkrut dan mengalirkan kuasa si pirang ke tangannya. Ia benar-benar beruntung Shikamaru punya moral sehebat ayahnya, kalau tidak ia pasti akan tamat.

Naruto baru saja merebahkan diri ke atas sofa, mengelus kelembutan beludru itu dengan lengannya sembari melepas satu kancing jasnya ketika Sai menyerahkan map merah yang hanya berisi beberapa lembar kertas yang dipenuhi angka. Fluktuasi saham, angka saham beberapa hari yang lalu dan yang terbaru setelah penutupan jam empat sore kemarin.

"Hoooammm...," Suara menguap lebar yang tidak membuat Naruto sama sekali penasaran akan siapa pemiliknya terdengar dari pintu masuk, "Kau tidak membalas bbm Sasuke. Dia bilang semalam sudah mendarat dan sekarang lagi di rumah." Ujar Shikamaru masih dengan wajah bosannya, menunjukkan layar iPhone berisi penggalan pesannya dengan Sasuke kemarin.

"Jadwal pulangnya bukan hari ini kan?"

"Sepertinya urusan disana selesai lebih cepat. Karin, si kepala cabang di Jerman benar-benar dalam masalah besar. Video mesum itu positif berasal dari alamat ip kantornya. Merepotkan sekali, padahal di India para demostran belum juga mereda. Mereka punya stok nyawa banyak sepertinya. Suhu disana sangat panas hingga melelehkan aspal, bisa-bisanya mereka masih punya semangat untuk mendemo." Celoteh Shikamaru, beranjak dari pintu dan bergabung bersama Naruto yang sepertinya tenggelam ke lembaran kertas di pangkuannya.

"Aku perlu bicara dengan Tsunade," perintah Naruto, menyerahkan file itu kembali kepada Sai.

"Jam dua siang hingga jam empat adalah satu-satunya jam kosong hari ini." Pemuda berkulit pucat itu menoleh ke arah jam tangannya, "Dan Sasuke sudah membooking jam itu untuk makan siang di cafe Suna dari minggu lalu 一sebelum ia take off dari Narita."

Naruto hanya menatap bingung dengan satu alis terangkat, "Kok aku baru tau? Kenapa pula dia harus bertanya padamu? Ia bisa datang ke apartemenku langsung."

"Bukannya aku sudah bilang akan makan siang dengan Naruto?" Tambah Shikamaru, sontak terlepas dari kantuknya, merasa tak terima waktu kosongnya yang sudah ia atur tidak digubris Sai.

"Pertama, jadwalmu bulan ini cukup memusingkan dengan segala masalah yang baru-baru terjadi. Jerman, India, wawancara hingga upacara kelulusan Boruto. Jadi aku meminta Sasuke-san untuk membuat janji terlebih dahulu untuk menemuimu." Jawab Sai kepada Naruto, "Dan kedua, kau baru meminta makan siang bersama Naruto-san tadi malam, Shikamaru-san, sudah pasti tidak akan kukabulkan." Lanjutnya kemudian pada Shikamaru.

Sai mengeratkan genggamannya pada pinggiran map yang ia sampirkan ke sisi tubuhnya. Menahan diri. Ia harap jawabannya barusan tidak terdengar memonopoli waktu Naruto dari Sasuke ataupun Shikamaru. Ia tau betul kedekatan ketiga orang itu. Dan ia iri.

Bukan jenis iri karena Naruto begitu beruntung dikelilingi pria-pria tampan berotak encer 一dimana Sai pun boleh disebut sama-sama dikelilingi orang-orang hebat setiap harinya selama menjabat sebagai asisten pribadi sang CEO, tapi jenis iri yang setiap ia melihat Naruto menumpahkan perhatian istimewa kepada kedua laki-laki itu sesuatu di diantara kedua rusuknya serasa ada yang mengaduk-aduk. Ia tidak begitu suka melihat Naruto tertawa lepas ketika Sasuke dan Shikamaru mengobrol santai bersamanya, sementara terhadapnya wajah dengan tanda lahir bergaris di kedua pipinya itu selalu nampak serius. Atau ketika Naruto berduaan dengan Shikamaru di ruang kerja ini tanpa kehadirannya dan Naruto selalu tampak lega dimata Sai setelah Shikamaru selesai. Yang paling menyebalkan saat si Uchiha berhasil 'menculik' Naruto dan membuat jadwal agenda yang disusunnya kacau, lalu ketika ia hendak menegur keras si pengacau Naruto dengan gelak tawa bahagia malah memintanya menyusun kembali seluruh jadwal yang kacau itu, menambah beban kerjanya sementara si pantat ayam menikmati hasil curiannya.

"Aku ikut makan siang bersama kalian bisa 'kan?" Shikamaru nampak membujuk Naruto.

Si pirang kembali mengangkat telapak tangannya ke udara, meminta Shikamaru segera berhenti menawar, "Sepertinya ada yang perlu Sasuke bicarakan sampai ia harus membuat janji di waktu mepet begini."

(*+*)

"Jadi kau tidak yakin paman Sasuke bisa datang ke upacara kelulusan? ARGH! Kenapa sih mereka berdua itu? Niat mengurus anak engga sih?" Boruto meraung-raung kesal. Mengacak rambut pirangnya penuh amarah lalu menjatuhkan dagu dan kedua sikutnya ke atas bangku. Ditatapnya Sarada yang sejak tadi hanya menatap handphone miliknya, membolak balik benda itu seolah tengah mencari detail kecil yang tak kasat mata di sana.

"Oy, ada apa?"

"Sepertinya rusak." Jawab gadis berkacamata merah itu, nampak kesal tapi tak berdaya, "Mama tadi menelpon dan aku tidak bisa mendengar apapun, ah, tunggu, dia menelpon lagi, halo? Mama?"

Boruto menegapkan punggung, menarik kedua kakinya ke atas bangku yang sengaja ia balik ke belakang menghadap Sarada.

Gadis berambut hitam itu mengerutkan dahi, nampak tidak banyak mendengar apa yang dikatakan ibunya diseberang sana. Hanya ada suara berisik statis, suara melengking sang ibu dan beberapa kali samar suara sang ayah.

"Ma, aku tidak jelas mendengarnya, hapeku rusak, bisa lewat e-mail saja? Ma? Dengar aku tidak ma?"

"...pulang! Sa...rnsek, apa...bangs...at!"

Kini wajah gadis itu sontak terlihat horor. Entah karena suara gemerisik statis yang benar-benar mengganggu telinganya itu membuat ia berhalusinasi ataukah diseberang sana ibunya benar sedang mengamuk pada ayahnya.

Dengan gerakan lambat setengah melamun, Sarada menurunkan ponsel yang masih terhubung itu ke depan, berusaha menerka-nerka apa yang terjadi di rumahnya, mengapa mamanya berteriak dan apa yang mereka pertengkarkan?

Boruto sama sekali tidak pandai menebak air wajah seseorang sebelum orang tersebut mengatakannya secara gamblang, melihat wajah Sarada yang syok ia hanya mampu menarik kesimpulan bodoh bahwa gadis itu sangat terpukul ponsel kesayangannya rusak atau semacamnya, dengan serampangan dia pun menarik tangan yang masih menggenggam ponsel itu kemudian memencet icon pengeras suara secara sembarang, "Mungkin kau harus menyalakan speakernya." Ujarnya dan seketika itu juga suara jerit Sakura yang berteriak memaki memenuhi kelas yang kosong.

"AKU MENOLONGMU DENGAN PERNIKAHAN INI DAN KAU MASIH BERFANTASI MENIDURI NARUTO?! KAU MENJIJIKKAN!"

Sontak Sarada memutuskan panggilan dan menatap nanar pada Boruto.

Sahabat sejak kecilnya itu balas memandangnya tak kalah horor. Kedua matanya membulat sempurna. Kengerian terlukis amat jelas di atas goresan wajahnya yang tampan. Ia menatap Sarada seolah penuh tuduhan dan rasa tak percaya.

"Ayahku...?"

"Aku tidak tau sama sekali soal ini, Boruto!"

"Lalu kenapa ibumu menelponmu saat mereka membahas ini?" Suara Boruto terdengar sangat parau dan dalam, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak membentak.

"Aku...aku tidak tau. Mama menyuruhku pulang pastinya. Dia pasti tidak sengaja menelponku saat sedang bertengkar. Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak tau!" Panik Sarada.

Boruto sontak berdiri, menendang penuh benci pada bangku tak berdosa yang berada di dekatnya. Ia melangkah keluar dan membanting pintu. Menelusuri lorong dengan tatapan kesetanan dan mengacuhkan Sarada yang memanggil-manggilnya di belakang.

Hatinya berkecamuk. Ia benci ayahnya. Ia benci karena sekarang Sasuke pun tidak bisa ia andalkan. Apa-apaan itu? Mereka dekat karena mereka berdua gay?Siapa yang gay? Ayahnya? Ataukah Sasuke? Ayahnya lebih dulu berkeluarga, apa itu tanda bahwa ayahnya normal? Dan Sasuke yang mengejarnya? Tapi bagaimana jika ternyata pernikahan ayahnya pun hanya kedok juga seperti yang dikatakan ibu Sarada?!

"BRENGSEEEKKKK...!"

Teriakan melengking Boruto mengundang seluruh tatapan denki siswa sekolahnya. Merasa sangat terganggu dengan ulah seenaknya si anak orang kaya itu. Selalu saja tiap hari membuat ulah, keluar masuk ruang konseling, berkelahi, memaki guru, bolos. Dan sekarang apa? Bocah itu malah berteriak-teriak dan belari ke luar gerbang sekolah seperti orang gila di jam sekolah. Membolos entah hari ini bersembunyi dimana. Menyisakan bisik-bisik mendumel dari seluruh warga sekolah.

Sarada menatap pilu dari lantai dua kelas, ia ingin menjerit sama seperti Boruto tapi ia tidak bisa.

Sakit hatinya lebih dalam dari putra sulung Naruto itu. Ayahnya selalu hampir tidak pernah di rumah. Selalu di luar negeri, selalu lembur, selalu bersama Naruto.

Ia meringsut. Menggenggam ponselnya dalam-dalam ke dadanya yang sakit. Menangis pelan-pelan namun terdengar begitu kesakitan.

"Maaf Boruto...," Ia terisak. "Aku sudah tau ini dari dulu...,"

.

.

.

.
TBC~

HALO HALO, ini fic baru AKS. Mohon maaf AKS lagi ada di titik jenuh bikin non-human, kurasa pasti ada yang sadar betapa membosankannya chapter fic itu akhir-akhir ini haha sorry. So AKS hadiahkan ini sebagai refreshing. Semoga kalian menikmati.

Akan sangat menyenangkan jika kalian memberi komentar-komentar, apapun itu, buat jadi bahan pertimbangan di chap selanjutnya.

Have a nice day~
Xoxo