Gomennasai

Presented by Naurovhy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, alur berantakan, dll.

If you don't like? So don't read! Happy reading all

please RnR.

Ia mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba mengenali ruangan tempatnya berbaring ruangan ini di dominasi warna putih dan biru, bau obat tercium sangat dekat.

Jangan-jangan ini ...

"A-ano, kau sudah sadar niisan?"

Mendengar sebuah suara mengintrupsinya ia pun menoleh dan ... semua hal menjadi tidak penting, rasa sakit di lengan kanannya pun menjadi tidak penting. Gadis itu baik-baik saja

"Niisan baik-baik saja?"

-naurovhy-

Hinata merasa luar biasa terkejut saat mengetahui bahwa orang yang menolongnya adalah Sasuke. Bagaimana tidak? Pria ini seharusnya masih berada di denmark, menyelesaikan study s2nya, tapi ia malah muncul di konoha, terlebih kemunculnnya yang sangat heroik. Dia adalah Uchiha Sasuke, bungsu dari keluarga uchiha ini sudah ia anggap seperti kakanya sendiri lelaki dengan paras tampan, kulit putih dan mata hitamnya membuatnya terlihat sangat mengaggumkan terlebih ia di anugrahi dengan otak yang cemerlang serta kekayaan keluarga Uchiha yang melimpah ruah, sempurnalah sudah kehidupan si bungsu populer ini, aa hanya satu kekurangannya ekspresi.

"Sasuke nii kau bisa mendengarku?" Hinata mengulang pertanyaannya kali ini dengan lambaian tangan

Dan pemuda itu seakan tersadar, ia mengerjapkan matanya berkali-kali, ia menjentikan jari tangan kirinya.

"Kemari" ucapnya

Mau tidak mau Hinata mendekati pemuda raven itu, dan *pluukk* Sasuke menyentil dahi Hinata, sontak ia memekik, "ittai" ucapnya

"Kenapa kau menyentilku?"

"Kau kau tidak mendengarku, aku sudah memanggilmu berkali-kali di jalan tadi, tapi kau malah mengacuhkanku dan terus berjalan seperti orang mati" cibir Sasuke

"Be-benerkah? Aku sama sekali tidak mendengarnya"

"Hn" Sasuke mendengus

"Tapi, sejak kapan niisan ada di konoha? Kenapa kembali tidak mengabariku"

"Karna aku ingin mengejutkanmu, dan yah ... memang sangat mengejutkan"

"Go-gomen" Hinata menundukkan kepalanya

"Sudahlah, aku tidak menyalahkanmu, justru kalau kau tertabrak tadi justru aku akan menyalahkan diriku sendiri"

Lavender Hinata kembali memburam, selalu saja seperti ini, ia akan selalu merepotkan pria ini, sejak Neji meninggal Sasuke yang selalu menjaga Hinata

"Lalu dimana Naru-nee? Niisan kembali bersamanya kan?"

(Disini Naruto jadi perempuan ya)

"Tidak, dia masih ada pemotretan kemarin, mungkin besok si dobe itu baru sampai"

"Benarkah? Aku sangat merindukan Naru neesan"

"Kau tidak merindukanku?"

"Ya, aku juga rindu Sasu niisan"

-naurovhy-

Tok tok

"Masuk"

"Permisi pa"

"Ada apa?"

"Saya ingi mengantarkan ini, tadi nona Hinata mengantarnya"

Gaara menatap office boy itu, 'Hinata?' Pikirnya

"Baiklah taruh saja di sana, dan kau boleh pergi"

"Ha'i"

Gaara meruntuki dirinya, ia benar-benar melupakan gadis itu, padahal ia sendiri yang menyuruh untuk bertemu. Jika si Hyuuga kemari jangan-jangan ia melihat ku saat sedang bersama Sakura? Tapi biar sajalah, toh Hinata sudah mengetahui siapa Sakura.

Gaara mengambil map tersebut sedikit basah, apa dia tadi kehujanan?

Tak lama kemudian Gaara sudah asik kembali dengan pekerjaannya, tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 9:15 sudah sangat larut pikirnya, kemudian ia membereskan pekerjaannya dan bergegas pulang.

Berulang kali sudah memencet bel rumah, pintuya terkunci sungguh aneh, biasanya tak pernah sekalipun Hinata mengunci pintu. apa jangan-jangan Hinata belum pulang? Tapi kemana dirinya? Tidak mungkin ia masih menunggu di taman, lagi pula map itu sudah berada di tangan Gaara, jadi tidak ada alasan Hinata harus menunggunya di taman.

Lalu kemana gadis itu? Gaara semakin gemas memencet bel rumahnya. 10 menit kemudian ia memutuskan untuk duduk di kap mobilnya, berniat untuk menanyakan keberadaan gadis itu, tapi ... nanti ia merasa Gaara perduli padanya, maka Gaara pun mengurungkan niatnya.

20 menit sudah berlalu ...

Lalu pintu pagar rumahnya kembali terbuka, menampilkan sosok yang sedari tadi ia tunggu

"Dari mana saja kau?" Sapanya pedas

"Ga-gaara kun?"

"Ya, siapa lagi kau kira? Hantu?"

"..."

"Kau dari mana? Ini sudah sangat larut"

"Aku menjenguk teman"

"Dan menelantarkan suamimu di luar rumah seperti ini?"

"A-aku kira Gaara-kun tak pulang lagi seperti kemarin-kemarin"

"Jadi seperti ini kelakuanmu jika aku tak berada di rumah?"

"Aku ..."

"Sudahlah cepat buka pintunya" Gaara memotong perkataan Hinata

Mereka berjalan beriringan dan kemudian masuk ke dalam rumah itu .

Ponsel Hinata berbunyi ...

"Moshi-moshi"

"..."

"Ya aku sudah sampai di rumah"

"..."

"Baiklah niisan, kau juga selamat tidur ya" Gaara memicingkan jadenya mendengar panggilan niisan yang di gunakan Hinata, kepada siapa ia berbicara?

"..."

"Jaa~" tidak mau ambil pusing Gaara masuk kedalam kamarnya dan mandi.

Keesokan harinya ...

Aroma ini yang selalu menuntun Gaara beranjak dari kasur empuknya, aroma masakan Hinata. Walaupun enggan mengakui, masakan Hinata tercium sangat lezat.

Gaara berjalan menuruni tangga, melihat si gadis indigo berkutat dengan piring-piringnya.

"Kau sudah bangun Gaara-kun? Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, tapi maaf aku tak bisa menemanimu sarapan" Gaara hanya diam mendengarkan penjelasan Hinata

Gaara hanya mengangkat bahu untuk menjawab semua perkataan Hinata, walau diam gadis itu memperhatikan, semua sikap acuh Gaara walaupun terkesan sudah biasa namun tetap menyisakan luka bagi gadis manis ini.

-naurovhy-

"Kau datang juga Hina-chan, aku sangat merindukanmu" Naruto menerjang Hinata dengan pelukan hangatnya

"Ah, ya apakah aku mengganggu acara kalian?" Hinata masih membalas pelukan Naruto

"Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja aku takut merepotkanmu"

Hinata hanya tersenyum menanggapinya

"Apakah suamimu mengijinkanmu datang kesini Hinata?" Naruto memastikan

" ... ya" Sasuke menangkap adanya keganjilan dari jawaban Hinata, namun ia memilih diam seolah tak tahu.

"Apa yang kau bawa Hinata?" Ia kembali bertanya

"Aku membuatkanmu sarapan niisan"

"Benarkah? Kau menyelamatkanku dari masakan planet buatan si dobe ini" ia memasang wajah ngeri

"Ehhh"

"Teme sialan! Jangan dengarkan dia Hina-chan, masakanku kan tidak seburuk itu" Naruto membela diri.

"Aku bicara kenyataan dobe"

"Urusai teme!"

Uzumaki Naruto, siapa yan tidak mengenalnya? Hampir setiap hari wajah cantiknya menghiasi layar kaca. Dengan kulit tan eksotis, campuran coklat dan krim yang sangat sempurna, serta irish blue sapphire yang menawan di tambah surai pirang lembut yang menjuntai indah tak ada seorang pun yang meragukan kecantikannya.

Hinata tertawa mendengarkan celotehan pasangan muda ini, sifat mereka sangat bertolak belakang, namun kekuatan cinta memang aneh. Sasuke dengan sikap stoicnya dan Naruto yang cemerlang bagai matahari. Bagaikan shinigami dan malaikatnya, mereka saling melengkapi saling mengisi kekurangan masing-masing.

Kegiatan Hinata menjenguk Sasuke, tanpa terasa sudah berjalan 3 bulan lamanya, namun kini ia menjengguk Sasuke di apartemen mini milik si bungsu Uchiha itu. Sejak 2 bulan lalu Sasuke sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Suatu ketika tanpa disadari Hinata membeberkan semua rahasia pernikahannya, kenapa ia menikah cepat, bagaimana sikap Gaara padanya, hingga tentang gadis berambut merah muda kekasih suaminya tersebut. Hinata menceritakannya dengan berlinang air mata, sementara Naruto sudah mengumpat dengan berbagai macam sumpah serapah, dan Sasuke sendiri menahan kuat-kuat hasratnya untuk membunuh si Sabaku bungsu itu.

"Kita akan membalasnya Hina-chan, akan kita buat panda merah itu menangis bahkan dalam tidurnya" Naruto menampakan senyum yang akan membuat semua agency membatalkan kontaknya

"Kau menyeramkan dobe" ujar Sasuke

"Tentu saja, dan kau teme -ia menunjuk kekasihnya- akan menjadi iblis yang melancarkan rencanaku"

Sementara Naruto tertawa dengan skenario di dalam otaknya Hinata berbisik pada Sasuke

"Naru nee menyeramkan ya Sasu nii?"

"Kau belum tau tabiat aslinya Hinata, dia hanya berbeda tipis dari Kushina oba-san"

-naurovhy-

Hari ini kembali Gaara pulang larut, dan sekali lagi pula ia harus terdiam di teras rumahnya karna Hinata belum pulang. Sebenarnya apa saja yang dilakukan gadis itu selama ia pergi?

Dan sepasang lampu mobil menyinarinya. Gaara beranjak dari duduknya melihat sebuah discovery hitam memasuki halamannya, siapa? Pikirnya. Well kejutan besar menghampir Gaara karna sang istrilah yang muncul dari mobil mewah itu bersama seorang pria pula, Gaara meremas kaleng soda yang sedari tadi di pegangnya.

"Oyasumi hime" sapa pemuda itu

"O-oyasumi" Hinata menjawab terbata

"Besok aku akan menjemputmu lagi ya" kata pria itu mengusap lembut pipi Hinata

"Y-ya baiklah"

*prok prok prok* Gaara bertepuk tangan

"Sudah selesai bermain dramanya?" Ia bertanya sinis

Hinata semakin gugup mendapati Gaara mulai masuk dalam perangkapnya, atau lebih tepat perangkap Naruto

Sasuke melirik Gaara penuh minat "baiklah sekali lagi oyasumi hime" Sasuke berujar lalu mengecup pipi Hinata, membuat Gaara menggeram dalam posisinya dan Hinata memerah sempurna

"Hey, nyonya Sabaku, bisa tolong bukakan pintu untukku?" Gaara kembali menyindir pedas

Hinata tersadar dan berlari ke arah pintu rumahnya, sementara Sasuke tetap pada posisinya.

"Dan kau, sebaiknya pergi meninggalkan tempat ini"

"Hn, -Sasuke menyeringai- tenanglah Sabaku, aku tidak akan mengambil istrimu. Tidak sekarang"

"Kau tau dia sudah bersuami? Dan kau masih mendekatinya? Murahan"

"Yeah, dan apa bedanya dengan mu?" Ia kembali menampakan evil smriknya "Sudah memiliki istri, tapi masih berkencan dengan wanita lain, kalau kau bisa berselingkuh kenapa Hinata tidak bisa?"

"It's not your bussiness"

"Well, sama denganku Sabaku, apa yang aku lakukan dengan Hinata sama sekali bukan urusanmu"

"Dia istriku, urusannya menjadi urusanku"

"Itu tidak akan lama lagi tuan Sabaku, sebentar lagi aku akan merubah namanya menjadi Uchiha. Camkan itu"

-nauorovhy-

Gaara memasuki rumahnya dengan menggebrak pintu utama, ia murka, amarahnya meluap-luap bagaimana mungkin ia di khianati seperti ini? Ia berjalan ke dapur mencari istrinya, namun nihil akhirnya ia berjalan memasuki kamar sang istri.

"Buka pintunya!" Ia berteriak nyalang

Perlahan tapi pasti pintu mulai terbuka menampakan wajah cantik yang tersembunyi di sana

"Kau, ikut aku, kita harus bicara" tanpa suara Hinata mengikutinya dari belakang berjalan menelusuri bekas langkah Gaara

"Apa maksudnya semua ini? Kau berselingkuh dengan seorang uchiha?"

"..." ia tetap menunduk

"Kenapa tidak menjawab? Dasar pelacur!" Mendapat hinaan seperti itu Hinata sontak mengangkat wajahnya

"Apa hakmu mengatakan kata seperti itu padaku?"

"Hak ku?" Gaara menyeringai "kau itu istriku bodoh"

"Kau masih menggapku istri? Setelah apa yang kau lakukan dengan gadis Haruno itu? Menggelikan Sabaku"

Gaara menggeram tak suka "jaga ucapmu kau juga seorang Sabaku"

"Apa yang harus ku jaga? Jika kepercayaanku saja kau abaikan?" Air mata Hinata mulai menggenang

"..." Gaara diam, ia tak mampu menjawab, bagaimana Hinata bisa melawannya seperti ini? Bagaimana mungkin? Sejauh yang ia ingat gadis ini adalah gadis yang selalu mengalah, tak pernah mendebat sedikitpun perkataannya seperti sekarang.

"Jika aku adalah seorang pelacur, maka gadis Haruno itu adalah sama denganku. Seorang pe-la-cur" Hinata menekankan kata terakhirnya

"Kau ..." *pllakk* Gaara melayangkan tamparannya sekali lagi

"Kenapa tidak terima jika pagilan itu tersematkan untuk selingkuhanmu itu? Manis sekali, menjaga selingkuhanmu layaknya permata dan mengabaikan istrimu layaknya sampah" Hinata memegangi wajahnya yang memerah panas air matanya berderai

Gaara masih terdiam, kata-kata Hinata sungguh mengena di hatinya, benarkah? Benarkah selama ini ia telah menjadi pria seperti itu?

"Aku ini istrimu kan Gaara-kun? -air matanya berlinang, bahunya bergetar menahan tangis- wanita yang kau pinang untuk menjadi pendamping hidupmu kan?" Suara Hinata bergetar

"... " Gaara masih bungkam, lidahnya seakan kelu, semua penuturan Hinata membekas dalam di hatinya

"Istri yang harusnya kau lindungi bukan kau sakiti, yang harusnya kau cintai bukan kau selingkuhi" Hinata tenggelam dalam tangisannya.

Entah sadar atau tidak Gaara beranjak untuk memeluk Hinata, namun belum sampai tangannya merengkuh tubuh mungil itu, Hinata ambruk di depannya, Gaara seakan terhipnotis ikut menjatuhkan dirinya berusaha menangkap sang Hyuuga sulung

"Hinata" suara beratnya menyapa "bangun ini tidak lucu" Gaara mengguncang tubuh itu namun Hinata tetap tidak merespon

"Hinata!" Gaara memangil lebih keras namun sang gadis tetap bergeming.

Tbc

Finnaly mind to review ...