Analisis Kogoro berakhir dengan adanya bukti-bukti yang bisa membuat pelaku menyerah. Pelaku pembunuhan kali ini pun tertangkap, kemudian Inspektur Megure dan Opsir Takagi pun membawa pelaku pembunuhan itu dengan mobil Patroli.
"Huaahh ... , Ngantuknya ... ." ucap Kogoro sembari meregangkan tubuh.
"Dasar Otousan ... ." gerutu Ran pada Ayahnya.
"Wahh, Kogoro-san ... . Analisis anda sangat luar biasa!" puji Ayah Sonoko.
"Ah ... . Biasa saja ... ." ucap Kogoro yang terlihat senang.
"Iya, tadi analisis Ojisan itu hebat lho ... ." puji Sonoko.
"Iya, sampai-sampai Heiji-kun dan Conan-kun tidak bisa berkata-kata apapun tadi", ucap Kazuha sembari melirik ke arah Heiji.
"Hohoho ... . Bocah SMA seperti dia sih bukanlah tandinganku ... ." ucap Kogoro bangga sembari melirik kearah Conan, entah mengapa bukan Heiji yang diliriknya.
"Hahaha ... ." Heiji tertawa singkat, ia tampak sedikit kesal.
"Bagaimana ini? Sepertinya benar Kotak Pandora-ku telah terbuka... Ayolah Shinichi, ayo tenang... ." batin Conan.
Main Chara: Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa dan Kogoro Mouri
Genre: ? boleh minta pendapat?
So, Don't Like Don't Read
If you like review please, and If you don't like I don't need a flame, I just need a suggestion to make my fic better than before. But if you keep want to flame my fic, it's okay... I'll ignore it :P (hahaha saya memang BakAuthor yang keras kepala, bukan tipe orang yang ambil pusing, yeah... I'm Ice Heartless Girl (gomen, bahasa Inggrisku rancu _)
Detective Conan/Meitantei Conan/Case Closed
Disclamer: Aoyama Gosho-sensei
Opened Pandora Box
© ICE HEARTLESS
…3…..2…..1…LET'S BEGIN…..
Kasus telah terpecahkan, Kogoro dan yang lainnya pun memutuskan untuk pulang karena sang bola api raksasa yang tadinya berada di angkasa nan biru kini telah bersembunyi di tempat persembunyiannya. Sonoko dan keluarga Suzuki berterimakasih kepada Kogoro dan yang lainnya karena telah membantu memecahkan kasus yang telah terjadi pada pameran hari ini, tampak tuan dan nyonya Suzuki beserta Sonoko, putri bungsu mereka, mengantarkan Kogoro dan yang lainnya sampai ke area parkir yang luas milik keluarga Suzuki. Kogoro, dan yang lainnya membungkukkan badan sebagai tanda permohonan pamit. Kemudian mereka melangkah menghampiri mobil yang sengaja di sewa oleh Kogoro untuk hari ini. Bunyi suara mobil pun terdengar, Kogoro menyetir mobil sewaannya menuju Kantor Detective Mouri. Bunyi itu kemudian menghilang sama sekali.
Di Kantor Detective Mouri
"Hahh... Bukannya bersenang-senang, malah menemui kasus.. ." gerutu Kazuha sembari menaiki anak-anak tangga ke lantai dua.
"Iya, kau benar Kazuha-chan." ucap Ran setuju.
"Dan kita belum makan malam sampai jam segini.. ." keluh Kogoro menambahkan sembari melihat arloji di tangan kanannya yang menunjukan pukul 8.15 p.m.
"Kalau begitu aku akan langsung memasak makan malam." ucap Ran sembari melangkah menuju dapur.
"Aku bantu ya, Ran-chan." tawar Kazuha.
"Boleh.. ." ucap Ran sembari mengangguk. Ran dan Kazuha pun melangkah beriringan menuju dapur.
"Aku ingin mandi dulu, ya!" ucap Heiji pada Conan dan Kogoro.
"Ya sudah, sana!" ucap Kogoro acuh tak acuh.
Heiji melirik ke arah Conan lalu berkata, "Conan-kun, kau tidak-" Heiji memutuskan untuk tidak melanjutkan ucapannya seketika Conan, bocah berkacamata itu langsung menolaknya dengan gelengan kepala.
Seolah-olah mengerti dengan apa yang dirasakan bocah itu atau mungkin memang ia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan si bocah kacamata saat ini, tanpa basa-basi lagi Heiji pun meninggalkan Conan dengan Kogoro di ruang tengah lalu melangkah menuju kamar mandi. Kini, suasana yang menyelimuti Conan dan Kogoro terasa begitu sunyi.
"Kau," ucap Kogoro kepada Conan memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka.
"Ha-i... . Nan de, Ojisan?" ucap Conan cukup tenang dengan nada bicara anak-anak. Conan yang tadinya tengah berpura-pura membaca manga, kini menoleh menatap Kogoro.
"Kau yang ... , Kupikir kau mengerti maksudku!" ucap Kogoro sembari menatap tajam sepasang iris saphire yang berada di hadapannya.
'DEG'
"Sudah kuduga, bagaimana ini? Apa aku mengaku saja? Tidak, nanti Ran dan Ojisan akan terlibat dalam bahaya... ."
"Jangan mencoba mengelak dan mencari-cari alasan jika kau memang benar-benar Detektif! Kalau kau mau-"ucap Kogoro terhenti berusaha memojokkan Conan.
'DEG'
"Jangan-jangan Ojisan tahu, aku adalah Shinichi... . Tapi, bagaimana mungkin?"
"Kenapa diam? Kau tidak memiliki alibi, bukan?" ucap Kogoro ketus.
"Ya, mungkin... ." ucap Conan berusaha setenang mungkin, tetapi rasanya bocah berkacamata itu mulai terpancing.
"Jadi, sekarang kau mengaku atau aku yang akan mengungkap semuanya!" ucap Kogoro tampak unggul.
"Hhm... . Bagaimana ya? Ojisan pilih yang mana?" ucap Conan dengan raut serius, namun masih dengan nada bicara anak-anak.
"Hentikan penyamaranmu... . Atau aku yang akan membuka semuanya!" ucap Kogoro yang mulai merasa jengkel.
"Apa maksud Ojisan? Aku tidak mengerti." ucap Conan dengan wajah polosnya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran bocah ini?
"Kau masih ingin berbohong, bocah Detektif?!" tanya Kogoro dengan tatapan tajam.
"Haruskah aku mengatakannya? Apa tidak ada pilihan lain?" tanya Conan di dalam pikirannya.
"Shinichi, kau tidak boleh terbawa oleh perasaanmu!" bisik suara yang entah darimana asalnya.
"Shinichi, kau harus mengikuti kata hatimu!" bisik suara lain yang entah darimana asalnya.
"Ya, aku tahu kau memang mewarisi otak cemerlang dari ayahmu dan kemampuan hebat dalam ber-acting dari ibumu. Baiklah... . Jika kau ingin aku yang mengungkapkan identitasmu, Shi-n ... ," desak Kogoro terhenti.
"Hai, sou desu!" ucap Conan memotong perkataan Kogoro dengan raut serius dan dengan intonasi yang terkesan dewasa.
"Ya ... , benar! Aku Shinichi Kudo, Detektif SMA!" ucap Conan lagi dengan senyum terlukis sempurna di wajahnya yang tenang.
"BHUHAHAHAHHAA ... ." tawa Kogoro menggelegar.
"E-hh ... . Kenapa Ojisan malah tertawa?" tanya bocah berkacamata yang sebenarnya bernama Shinichi heran.
"Hahaha ... . Tidak, aku hanya puas karena akulah yang menang, aku berhasil mengalahkanmu, dan kau kalah, bocah!" ucap Kogoro dengan nada puas. Well, kalimat itu benar-benar membuat seorang Shinichi Kudo merasakan kejengkelan yang luar biasa.
"Haha ... . Aku? Kalah? Jangan bercanda, Ojisan ... ." ucap Shinichi dengan nada kesal.
"Akuilah itu, bocah!" ucap Kogoro penuh penekanan di kata 'bocah'.
"Enak saja, dan tolong jangan memanggilku bocah!" protes Conan dengan nada kesal.
"Lihat saja tubuhmu ... . Dan kau masih terlalu kecil untuk bisa mengalahkanku!" ucap Kogoro dengan intonasi mengejek.
"Ya, terserah sajalah ... , tapi jika aku sudah kembali ke tubuh asliku, aku takkan pernah kalah darimu! Bukan kah memang selalu begitu, nee?" ucap bocah berkacamata itu sembari menyeringai iblis dan dikelilingi aura hitam nan mengerikan.
"Lebih baik kau buktikan terlebih dahulu, apakah kau akan kembali ke tubuh aslimu atau tidak? Hahaha ... . O-ya bagaimana kronologisnya sampai tubuhmu bisa mengecil seperti ini?" tanya Kogoro pada akhirnya dengan volume rendah, setengah berbisik agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Ran dan Kazuha yang masih berada di dapur.
Opened-Pandora-Box
"Jadi begitulah kejadiannya kenapa tubuhku bisa sampai seperti ini." ucap Conan mengakhiri ceritanya.
"Mengerikan, bagaimana mungkin ada manusia yang bisa membuat racun seperti itu di dunia ini?" ucap Kogoro tidak habis pikir betapa jenius dan betapa gilanya ilmuan yang mampu membuat racun yang di luar akal pikiran manusia normal pada umumnya.
"Hhn ..., yang membuat formulanya telah meninggal dan mewariskan penelitian itu kepada anak bungsunya, anggota organisasi yang telah berkhianat karena tahu kakak satu-satunya telah dibunuh oleh seorang dari mereka." terang bocah berkacamata itu.
"Lalu di mana anak itu sekarang?" tanya Kogoro semakin penasaran.
"Sekarang ia tinggal di rumah profesor Agasa. Anak perempuan berambut coklat terang yang terkesan dingin itu." jawab Shinichi.
"E-H? Anak yang bernama Ai Haibara itu? Pantas saja sikapnya tidak mencerminkan bahwa ia adalah seorang anak kecil, dia juga tidak bisa bersikap seperti anak-anak pada umumnya." ucap Kogoro panjang lebar, betapa shock-nya ia begitu mengetahui bahwa Ai Haibara ternyata juga adalah seorang yang bernasib sama seperti Shinichi Kudo. Ia tak pernah menyangka bahwa anak perempuan yang selalu memasang wajah datar setiap saat itu ternyata adalah seorang mantan anggota organisasi yang sangat mengerikan dan memiliki masa lalu yang terasa pahit.
"Tapi mengapa ia belum berhasil menemukan penangkalnya? Dia kan anak dari ilmuan yang menemukan dan membuat formulanya." tanya Kogoro lagi.
"Pe-penangkal? Prototype maksudnya. Tidak semudah itu, lagi pula terlalu banyak unsur di dalam formula itu sehingga tidak mudah untuk mengingat unsur-unsur dan kadar yang diperlukan untuk mengembangkan formulanya. Setidaknya itu yang dikatakannya padaku ketika pertama kali aku bertemu dengannya dan memprotes racun hasil penelitiannya yang berhasil membuatku seperti ini. Yah, mungkin aku juga harus sedikit bersyukur karena racun itu tidak sampai membunuhku."
"Ck ... , ck ... . Lalu bagaimana?" tanya Kogoro.
"Ya, jalan satu-satunya aku harus mencari data lebih banyak tentang mereka dengan cara melibatkan diri dengan lebih banyak kasus lagi, kemudian mendekat, lalu menghancurkan gagak-gagak hitam itu, setelahnya mengambil sample dari racun yang bernama APTX-4869, dan akhirnya kembali ke tubuh asliku,." ucap Shinichi dengan raut serius.
"Hehh? Dengan tubuhmu yang seperti ini apa kau bisa?" tanya Kogoro memastikan atau lebih tepatnya khawatir.
"Ojisan meragukan kemampuanku?"
"Bukan begitu, tapi bukan kah itu berbahaya!"
"Karena berbahaya makanya aku merahasiakannya dari Ran, Ojisan, dan yang lainnya. Aku tidak mau kalian terbawa dan terlibat dalam bahaya karenaku." terang Conan.
"Maksudku, kenapa kau tidak mendapatkan sample racun itu dulu, lalu kembali ke tubuh aslimu, setelahnya baru kau menghancurkan mereka. Setidaknya mungkin itu akan sedikit menguntungkan ketimbang kau berusaha mengalahkan mereka dalam rupa bocah kelas 1 SD." ucap Kogoro mengungkapkan argumennya yang memang terdengar lebih masuk akal.
"Hhm ... , kurasa aku bisa mengalahkan mereka meskipun dalam rupa Conan sekali pun. Lagipula ini sedikit menguntungkanku dalam memata-matai dan menyelidiki mereka. Selama mereka belum mengetehui identitasku yang sebenarnya aku bisa lebih leluasa menyusup dengan menyamar sebagai seorang anak kelas 1 SD." ucap Shinichi sembari menyeringai, seringainya tampak membuat Kogoro bungkam.
"Hhm ... .Aku mengerti. Terserah kau saja lah. Tapi, ingat ... , jangan sampai kau mati sebelum kau berhasil kembali ke tubuh aslimu! Kau sudah terlalu lama membohongi dan menyakiti Ran. Jika sampai kau mati sebelum berhasil kembali ke tubuh aslimu dan mengatakan bahwa kau dan Conan adalah orang yang sama maka kunyatakan secara sepihak bahwa kau kalah dan aku lah pemenangnya. Bagaimana?" ucap Kogoro dengan raut yang teramat serius, entah mengapa kalimat yang ia tujukan pada Shinichi terdengar seperti sebuah tantangan besar.
"Haha ... .Secara tidak langsung Ojisan ingin menantangku, kan. Tentu saja, aku tidak akan mati dengan mudah. Dan aku berjanji, setelahnya aku akan segera menceritakan semuanya kepada Ran." ucap Shinichi mantap. Kogoro mengunggingkan sebuah senyuman yang rasanya belum pernah ia tunjukkan kepada siapapun.
"Oya, lalu bagaimana dengan kedua orangtuamu?" tanya Kogoro lagi, air mukanya kembali berubah menjadi acuh tak acuh seperti biasanya.
"Mereka sudah kuberi penjelasan sedetail mungkin sehingga mengerti." ucap Shinichi sembari mengunggingkan cengiran khasnya.
"Hahh ... , memang susah mempunyai anak yang yang keras kepala!" gerutu Kogoro sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Etto- kenapa Ojisan bisa tahu kalau aku adalah-?" Shinichi tidak melanjutkan kalimatnya, ia berpikir pasti si Detektif tidur itu mengerti maksudnya.
"Ohh itu sih ... .Tentu saja. Aku kan seorang Detektif! Hohoho... ." ucap Kogoro bangga sembari tertawa penuh kemenangan.
"Haahh ... . Aku tidak sedang bercanda! Eh-h, jangan-jangan ... ." ucap Shinichi terhenti sembari mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Ya, " ucap Kogoro penuh penekanan.
T.Z.U.Z.U.K.U
Yatta, akhirnya chapter 2 selesai. Hehehe... Arigatou untuk para silent readers yang sudah mau membacanya. Dan untuk yang review via FFn atau FB aku sangat berterimakasih lho. Terutama Benedicta-senpai, dan Hi-chan, yang sudah memberikan koreksi terhadap kekurangan fanfic-ku ini. Dan untuk Raven-chan, mungkin chapter 3 nanti akan lebih panjang dibanding kedua chapter sebelumnya, sebenarnya aku merasa takut kalian merasa bosan jika satu chapter words-nya terlalu panjang. Hehehe
Ah, aku tidak tahu apakah chapter 2 ini sedikit ada kemajuan atau tidak, tapi aku akan berusaha agar tidak mengecewakan kalian yang telah membacanya, well... aku tidak ingin kalau kalian berhenti membaca fanfic-ku di tengah jalan karena merasa kecewa... Jadi, aku sangat senang jika kalian memberikan kritikan/saran/koreksi yang bisa membuatku lebih baik lagi dalam menulis daripada kalian hanya diam saja dan berhenti membaca tulisanku.
Okay, apa yang sebenarnya terjadi di chapter 3? Apa kalian mau tahu kelanjutannya seperti apa?
Oya aku masih belum tahu ini cocoknya genrenya apa _ apa ada yang punya saran?
Etto, sebenarnya fic ini awalnya hanya bermula dari drabble dari sudut pandang Conan dan Ran saja, aku tidak mebuat sepenjang ini. Tapi entah kenapa aku malah buat jadi beralur aneh begini, dan masih tidak tahu akan berakhir sampai di mana dan seperti apa ending-nya nanti? kalau menurut kalian gimana?
I want to say, "Hontou ni arigatou karena telah membaca dari chapter awal dan juga telah membaca fic-ku yang berjudul 'Spring of Love'" *bow
Last, aku minta maaf kalau ada yang terasa ganjil, daripada di pendam dalam hati lebih baik beritahu aku apa yang membuat kalian merasa ganjil atau kurang puas? Selama itu bukan flame aku welcome-welcome aja kok~
Jaa nee ... .
Signed,
ICE HEARTLESS a.k.a Reichi Kudo
(Friday, June 28th 2013-13.27 WIB)
