Chapter 1: Jinyoung the explorer
Clue(s) of Chapter: Keliling-liling boleh kok. Asal jangan masuk kamar orang ya!
Boleh dibaca boleh engga:
Chapter 1 akhirnya ku mulai! Gak begitu sulit untuk masa pengerjaannya. Chapter ini isinya deskripsi latar Wisma Jisung. Belum banyak pengenalan tokoh sih, tapi kalo secara tersirat banyak wkwkwk.
~Happy reading~
.
.
-khodio-
.
.
.
"Makasih pak!" kata seorang cowok dengan tas ransel besar yang bersetelan hoodie hitam plus jeans selutut ketika pak taksi yang baru saja mengantarkannya dari bandara membantu menurunkan kopernya dari bagasi taksi.
"Iya, dek." kemudian pak taksi itu menancap gasnya dan meninggalkan si cowok di depan pagar besi setinggi pinggang milik sebuah rumah tingkat dua di hadapannya. Cowok itu masih menyebarkan pandangannya, memerhatikan rumah itu dengan jeli. Takut-takut salah alamat.
Ini beneran kosan kan? Dari luar bentuknya lebih mirip kayak rumah gedong. Beberapa motor terparkir di halamannya dan pintu masuknya cukup besar. Lalu ketika dia mendengak melihat lantai dua, ada balkon di pertengahannya dan jendela kamar di sisi kanan dan kiri.
Cowok ini baru yakin bahwa inilah tempat yang ia tuju saat menyadari sebuah plang yang terbuat dari ukiran kayu bertuliskan "Wisma Jisung" tergantung manis diatas pintu rumah yang juga terbuat dari kayu. Dia memang sudah punya janji untuk pindahan ke kosan "Wisma Jisung" hari minggu pagi ini.
Gua harus apa ya, masa main masuk aja. -bjy
Dia pun merogoh kantung jeansnya dan mengetikan pesan di line kepada seorang cowok yang terlihat lebih tua dari usianya dengan avatar line foto candid lagi bicara di depan mic yang sepertinya ruang siaran radio,
Kak, gua udah di depan pager kosan nih.
3 detik kemudian,
Kak, gua udah di depan pager kosan nih. read
Gila cepet amat. -bjy
Gak lama kemudian, pintu rumah tersebut terbuka kecil. Menampilkan sosok cowok yang baru saja dihubungi, cuma mengeluarkan kepala dari pintu dan menatap gembira kepada cowok di depan pagar.
"Eh gimana sih lo! Kirain gua di depan pintu, taunya pager aja belum dibuka. Sini masuk, ini kan juga rumah lu. Ayo! Ayo!" kemudian dibukanya pintu lebar-lebar, "Buka aja pagernya! Gak keras kan? Aduh lu belum lama kan berdiri di situ? Panas gak? Panas ya?"
Gila bawel amat. -bjy
"Iya kak, makasih ya!" ucapnya sopan lalu menuruti apa yang dikatakan orang itu. Begitu sampai di depan pintu, koper yang dia bawa langsung beralih tangan ke cowok yang berniat membantunya.
"Gua Yoon Jisung, lu pasti udah tau nama gua kan? Gua anak psiko nih.. tapi nyambi jadi anak rampus juga. Lu di fikor ya? Wah banyak banget njir anak fikor di kosan gua. Ada si Daniel, Minhyun, Woojin, Guanlin, ah banyak deh! Cuma gua doang anak psiko. Kenapa ya selama dua tahun gua jadi penjaga kos ini kos isinya anak fikor mulu, fikor lagi, fikor aja terus, sampe bosen gua."
"Gua Bae Jinyoung, kak. Maba fikor jurusan olahraga prestasi. Salam kenal ya!" balas cowok bernamakan Jinyoung itu. Sebenernya Jinyoung masih capek gara-gara di jalan tadi, dia juga gak sepenuhnya paham barusan Jisung ngomong apa. Tapi karena kayaknya ngajakin kenalan, yaudah dia balas perkenalkan diri.
Belum sampe 2 meter menggeret koper milik Jinyoung, Jisung berhenti di pintu kamar pertama di rumah ini, "Nih, kamar lu. Nomer satu."
Yailah, gua kira sejauh apa sampe dia niat bantuin gua bawa koper. -bjy
Gak lupa, Jisung memberikan kunci kamar ke Jinyoung. Jinyoung cuma bales senyum simpul sambil memperhatikan plang kecil dari besi bertuliskan angka 1 tertempel di pintunya dengan jendela persegi di samping pintu.
"Lu istirahat aja dulu. Capek kan? Naik apa tadi? Dari Jogja kan lu? Wah kota idaman gua tuh."
Jinyoung menjawab sambil bingung mau menanggapi bagian mana dari ucapan Jisung, "Tadi naik pesawat kak biar cepet." akhirnya dia cuma bales sesimple ini.
"Btw, gua gak bisa nemenin lu lama-lama nih. Lagi ada kerjaan bikin naskah siaran. Kalo butuh gua, kamar gua yang itu tuh," Jisung nunjukin jari telunjuknya ke arah kamar paling ujung di lantai ini, "Nomer 4. Deket toilet, samping tangga sama pintu keluar halaman belakang."
"Oke kak, semangat ya kerjaannya!"
"HAHA!" Jisung malah ketawain ucapan sopan dari Jinyoung, si maba itu. Emang kebiasaan deh mahasiswa baru kalo pindahan ke kosan dia kayak begini, padahal nanti juga ketahuan brengseknya.
"Gak usah formal-formal amat lah sama anak-anak disini. Santai aja ya, maba!" kemudian dia melangkah pergi menuju kamarnya tapi pas sampe depan pintu dia tiba-tiba berhenti dan nengok ke belakang lagi, "Ohiya! Kalo lu pengen keliling-keliling kosan ini boleh kok! Diatas ada 5 kamar sama ruang hampa. Selama lu gak masuk-masuk kamar orang, ini rumah milik kita bersama. Oke?"
"SIP!" jawab Jinyoung semangat, "Gua keliling kosan saat ini juga boleh kak?"
"Ya boleh lah! Tapi cek dulu kamar lu tuh."
.
.
.
Setelah memastikan kalau barang-barang baik di koper maupun di ranselnya sudah tertata rapih di kamar, Jinyoung bernafas lega. Begitu lihat kondisi kamar, Jinyoung seneng banget. Harga sewa kosan Wisma Jisung gak mahal dan masih pas buat keadaan keuangannya padahal kamarnya oke banget. Ukurannya luas, mungkin 4×5 ada kali, sudah dilengkapi sama kasur single bed di pojok ruangan, meja nakas di sebelahnya, lemari dan meja belajar di sisi ruangan yang lain dengan jendela berteralis di sebelahnya, juga rak buku gantung yang terpasang di dinding-dinding, ada juga tong sampah sama keranjang buat numpuk baju kotor.
Malah ada air-conditioner dan akses wifi juga, sampe Jinyoung bingung apa Jisung gak rugi ya gak matok harga mahal buat kamar kayak gini. Sudah diisi sama furniture standar pun, ini kamar masih banyak space kosongnya. Jinyoung yakin nih penghuni kosan yang lain pasti kamarnya udah di modif-modif biar gak terkesan kosong.
Tapi yaudahlah, ngapain Jinyoung mikirin penghuni kos lain yang belum dia kenal. Mending saat ini dia mulai berpetualang menelusuri rumah ini.
.
.
.
Jinyoung antusias, dia menyebarkan pandangannya. Di lantai 1 ini ada 4 kamar yang berjajar linear alias samping-sampingan, di mulai dari kamarnya dan diakhiri kamar Jisung. Sementara sisi depan kamar linear itu, ada ruang TV dan dapur yang gak punya tembok pembatas, membuat kesan luas terasa disana.
Ruang TV tepat berada setelah pintu masuk. Isinya ya sama aja kayak ruang TV pada umumnya, ada TV lcd, sofa hitam berlater L, sama meja panjang yang seolah jadi pembatas antara ruang TV dan dapur. Diatasnya banyak hiasan kayak patung kucing, miniatur pisa, patung taxidermi tupai, sama action figure anime-anime cowok dan beberapa boneka kecil. Meja ini juga disertai rak-rak gitu buat meletakan buku, tugas revisi, dan hal-hal normal bagi mahasiswa.
Gak ada yang aneh dari ruang TV ini, cuma ada yang menangkap perhatian Jinyoung yaitu sebuah kertas berisikan kalimat yang membentuk point-point terlaminating rapih dan ditempel beberapa jarak diatas TV.
Jinyoung yang penasaran jalan mendekat dan membacanya,
PERATURAN WISMA JISUNG
created by Park Jihoon
1. Semua yang letaknya diluar kamar dan diluar teritori individu yang ditentukan adalah milik bersama
2. Pulang lewat dari jam 11 malem tanpa kasih kabar = tidur di teras
3. No berantem-berantem club. Kalo mau berantem di luar jangan di kosan!
4. Dilarang ngomong kasar kecuali kalo gak ada yang denger
5. Setel rampus tiap malam jumat pukul 6 sore WIB
6. Kalo lagi berdua-duaan di kamar, harap pintu dibuka lebar agar tidak menimbulkan fitnah
7. Penghuni kos diharap memiliki pengetahuan membedakan kaleng whiskas dengan kaleng makanan
8. Harap tidak merokok di kawasan yang dijamahi Park Jihoon
9. Taati butir-butir pancasila
Demikian peraturan ini dibuat untuk ditaati. Peraturan bisa direvisi bila ada perubahan situasi dan perijinan dari Park Jihoon.
Kemudian tepat dibawahnya, ada tulisan ceker ayam yang ditulis pake spidol hitam permanen:
BOLEH PACARAN -hyunbin ganteng
Jinyoung cuma nahan ketawa doang bacainnya. Abis itu dia beranjak ke dapur;
Dapurnya gak kalah unik sama ruang TV. Kalau diperhatiin sekilas sih normal normal aja, dapur selayaknya dapur dengan kitchen set selayaknya kitchen set terus persis di depannya ada meja makan persegi panjang besar dengan 8 kursi yang tersebar di tiap sisinya.
Tapi begitu ditelisik lagi, Jinyoung malah ketawa-tawa pas liat lemari kitchen set di dinding ternyata dinamain. Pasti isinya persediaan makanan mereka. Satu orang, satu jatah. Jadi total ada 8 lemari dengan nama-nama yang berbeda terus ada satu yang belum dinamain, Jinyoung yakin itu milik dia nanti.
Oh jadi ini yang dimaksud teritori individu ya. -bjy
Jinyoung jadi penasaran deh sama penghuni kos. Padahal dia dateng di hari minggu! Hari libur gini. Tapi satu-satunya penghuni yang baru dia temuin cuma Jisung, itupun bentaran banget.
Walau gitu, dia udah mencoba menghapal nama-nama penghuni kok lewat nama di lemari kitchen set yang dia baca tadi! Belum lagi waktu liat peraturan, dia jadi yakin yang namanya Jihoon pasti sok ngatur terus yang namanya Hyunbin pasti sok ganteng.
Terus sejujurnya, Jinyoung masih belum ngerasa kalau kosan ini rumahnya. Jadi agak awkward gitu berasa menelusuri rumah orang. Jinyoung jadi inget dongeng Goldy Locks yang masuk-masuk rumah orang tanpa ijin atau kisahnya Dora yang berpetualang ga jelas. Dia juga lagi ngerasa se-ga jelas dan segabut itu melakukan hal kayak gini. Emang dasar, Jinyoung the explorer.
Jinyoung ngelirik ke kiri, ada kamar mandi di samping dapur dan di depan tembok kamar mandi ada mesin cuci. Terus samping kamar mandi ada tangga yang menuju ke lantai dua. Tangganya lucu, melingkar gitu dan bisa dipakai buat main perosotan (kayak tangga dorm wanna one di wanna go).
Tapi yang bikin Jinyoung tertarik ya pintu tembusan ke halaman belakang yang ada persis di samping kamar Jisung. Dia membuka pintu itu dan ternyata halaman belakang isinya…..
….
….
….
jemuran.
Yailah dia kira apaan. Rumputnya bagus sih, hijau dan terawat gitu. Halaman belakang lagi dipenuh-penuhinya banget sama jemuran, mungkin karena pas timingnya kali ya hari ini kan minggu bisa jadi para penghuni kos abis cuci baju berjamaah pas hari sabtu. Biar hari senin waktu masuk kuliah udah pada kering.
Jinyoung lihatin jemuran satu-satu. Gak jelas emang. Biarin aja maba gak punya kerjaan.
Kebanyakan dijemur pake jemuran stainless steel yang mainstream banget itu. Selain kaos-kaos rumah sama baju-baju kasual, ada beberapa tipe jemuran yang mengidentifikasikan banget si yang punya jemuran itu gimana,
Misalnya,
Ada yang jemurannya jas laboraturium. Dokter? Atau anak mipa mungkin?
Ada yang kaos-kaos oversized, ketekan, sama kolor-kolor basket.
Ada yang kaos-kaos oversized juga tapi banyak celana-celana karet ketat yang kayaknya celana renang sama banyak banget handuk yang dia jemur
Ada yang baju-baju serba pink.
Ada yang jemurannya baju-baju casual semua. Teraktual alias terkini banget.
Ada yang kemeja-kemeja formal sama jeans-jeans non skinny.
Terus yang bikin ngakak, ada yang gak modal bikin jemuran sekedar seutas tali rafia yang disambungin dari ujung ke ujung halaman terus menjemur bajunya pake jepitan jemuran. Baju-bajunya rata-rata warna gelap, terus ada beberapa celana training yang bagian lututnya sobek-sobek gitu. Sering sleding kali ya nih anak.
Semoga mereka manusia-manusia normal, Ya Tuhan. -bjy
Doa mu tidak berguna Bae.
.
.
.
Pertualangan berlanjut. Kini Jinyoung lagi menapaki kakinya di tangga menuju lantai 2. Tadi sih kata Jisung diatas ada 5 kamar lain sama ruang hampa. Gak tau deh ruang hampa apaan.
Begitu baru banget sampe di ujung tangga, Jinyoung udah disambut sama hawa gak enak yang keluar dari kamar nomor 5. DINGIN BANGET! Pasti orang yang di dalemnya setel AC suhu minimum nih. Jinyoung yang sekadar ngerasain lewat lubang-lubang ventilasinya aja ngeri, jendelanya juga ditutupin tirai. Bukan apa-apa nih, sekarang emang udah menuju siang yang terik, okelah masang AC dingin-dingin tapi jangan sampe bikin orang yang lewat merinding juga kali!
Dia penasaran sih siapa yang di dalem tapi dia ingat pesannya Jisung buat jangan gangguin anak-anak yang di kamar.
Beralih dari suasana horror kamar nomor 5, Jinyoung memandangi suasana di lantai 2. Gak semua space full dijadiin ruangan. Lantai dua ini membentuk later L yang dibatasi balkon dengan dibawahnya menunjukan suasana dapur dan separuh ruang TV.
Sama kayak lantai satu, ada 4 kamar yang berjajar linear. Ada pintu dan jendela juga buat setiap kamar, kecuali kamar nomor 8 yang letaknya di ujung yang cuma punya pintu karena persis di depannya ada kamar mandi. Tapi menurut Jinyoung itu fair-fair aja sih karena kamar nomor 8 malah punya jendela yang menghadap ke luar.
Jinyoung menelusuri teras kamar-kamar linear tersebut,
Kamar nomor 6;
dari ventilasi kamar dan jendelanya, ruangan kelihatan gelap. Kayaknya orangnya gak lagi di kosan.
Kamar nomor 7;
jendelanya ditutup tirai motif kucing. Lucu banget. Tapi tiba-tiba terdengar hal aneh,
"AWWH.."
"Jangan main cakar ih aku gak suka!"
"Kalo kamu nakal aku kurung nih!"
Tiga kalimat itu datang dari suara cowok yang sama. Suaranya serak-serak basah gitu kayak kebanyakan minum air kolam renang berkaporit.
Tau ah, gak tau dia lagi ngapain. Intinya Jinyoung jadi makin merinding dan ngacir gitu aja dari kamar nomor 7.
Kamar nomor 8;
sama kayak kamar nomor 6, ventilasinya gelap.
Setelah sampai sudut ruangan, Jinyoung belok ke kiri. Ada ruangan yang gak berbentuk kamar dan terbuka gitu aja dengan pintu kaca yang terhubung sama balkon yang menghadap keluar. Mungkin ini ya yang dimaksud ruang hampa? Padahal gak hampa-hampa banget!
Ada karpet lebar sama berbagai macam barang di pojok-pojok ruangan, contoh barang normalnya: dispenser, kulkas. Contoh barang gak normalnya: papan karambol, bola basket sama bola sepak yang teronggok gitu aja, raket tennis dan raket bulutangkis, dan hal-hal aneh lainnya.
Nah tepat di samping ruang hampa, ada kamar yang paling terisolir. Kamar nomor 9. Jinyoung ilfeel gitu pas liat kamar ini, mentang-mentang paling pojok, eh penghuninya gak tau diri banget meletakan baju kotor di depan pintu seenak jidat.
Beda sama kamar nomor 6 dan nomor 8, Jinyoung yakin kamar nomor 9 penghuninya ada di dalem soalnya dengan samar-samar dia bisa denger suara orang jepang lagi ngomong. Kayaknya lagi nonton film…..
"Soko de miuchan."
"Kimochi ii desune"
"A..ah.. yamette kudasai. Ngh…"
…..nonton film gak bener. Heran deh, udah 2017 masih ada aja orang nonton bokep gak pake headset.
.
.
.
Berhubung sepertinya penghuni lantai 2 lagi sibuk semua, Jinyoung memutuskan buat nongkrong di ruang TV lantai 1 aja deh.
Gak pake lama, dia merosot di pegangan tangga dan sampe di lantai 1 lagi. Bersamaan dengan itu, pintu kamar nomor 3 kebuka engselnya, menunjukan seseorang bersweater pink dan sweatpants pink keluar dari kamar tersebut sambil membawa se-pack pembalut bercover hello kitty,
"Sialan banget. Dikata lucu apa. Awas aja, Ong entar pulang gua apain."
Jinyoung kaget. Masa kalimat pertama yang dia denger dari manusia pink itu kayak begitu sih? Galak banget. Tapi begitu sadar barang apa yang dibawanya, Jinyoung jadi maklum. Cewek emang suka gitu kalo lagi pms.
Eh tunggu. Bukannya ini kosan khusus putra ya?
Si manusia pink akhirnya sadar keberadaan Jinyoung dan mereka bertemu mata, "Eh elo."
"Ha..halo.. kak?" tadinya Jinyoung pengen manggil 'mbak' biar spesifik aja gitu.
"Elo siapa ya?" makhluk ini bertanya kayak gitu ke Jinyoung sambil menuju dapur.
"Bae Jinyoung, kak. Maba fikor, gua di kamar nomor 1."
"Oh." udah gitu doang.
Jinyoung mendekat ke si manusia pink. Biar sopan aja ngajakin ngobrolnya. Matanya menegaskan pandangan ke wajah orang itu, berusaha mengingat, tapi kok ujung-ujungnya Jinyoung jadi terpesona ya. Rambutnya cokelat muda berponi, poni sebelah kanan dijepit. Mukanya lemes banget, pipinya gembul dan rada pink gitu, sementara bibirnya kebetulan lagi pecah-pecah dan kemerahan. Duh, dosa gak sih kalo Jinyoung tiba-tiba jadi pengen basahin itu bibir?
"Kalo nama kakak siap-"
"Eh lu tutup kuping bentar dong."
Jinyoung nurut.
Sementara itu si pemberi perintah lagi membuka lemari kitchen set yang bertuliskan nama "Ong Seongwoo" kemudian melempar itu pembalut hello kitty dengan emosi ke dalamnya, "ONG BANGSAT! GUA SUMPAHIN ELO YANG MENSTRUASI BENERAN! MENTANG-MENTANG GUA LAGI EMOSIAN MALAH DIKASIH SOFTEX. DASAR CALON DOKTER MALPRAKTEK SIALAN!"
"KAK ELU GAPAPA?!"
"Gapapa kok."
"….."
"Jangan deket-deket sama Kak Ong, ya dek."
"…."
"Btw, gua Jihoon. FKM tahun kedua, salam kenal ya!"
"….."
"UDAH DONG ELU JANGAN SYOK GITU ANJIR."
.
.
.
-khodio-
tbc
.
hehehe aku ga nyangka petualangan Baejin nelusurin kosan aja bisa sampe satu chapter gini.
Leave some review~ review kalian bikin aku seneng dan semangat lanjutin ceritanya loh!
Balesan Review:
Bolu kukus:
wah siapa yang kamu anggep bias disini? Tapi siapapun itu pasti aku nistain sih haha
makmumMasJonghyun:
OI MAKASI MINATNYA! Big yeesss ini ongniel dengan Top!Ong. kayaknya mesti aku kasih tau di summary ya biar kesaannya bukan penipuan karna dominasi ff ongniel kan Daniel yang top, gak papa sih sebenernya. Tapi gua kayak..… ahelah Daniel terlalu cute buat hal itu.
Sky Onix:
Baejin gimana kerdusnya? Mari kita lihat kelanjutannya nanti! Btw di ff ini Ong yang top. Tapi sesuai sama intro kemarin, kisah mereka lebih ke perjuangan Ong ngejadiin Daniel yang bodynya manly banget biar bisa jadi ukenya dia. Hm!
Ong: body gua juga manly kali, thor!
Dih kocak, lu kan baru aja disumpahin menstruasi sama Jihoon.
Gimana? Masih berminat nemenin Ong memperjuangkan cinta? /geli sendiri/
Tiass99:
HAHA AYO SIAPA! Aku belum bisa menjawab pertanyaan kamu nih. Takut membeberkan rahasia.
Minhyun: Guanlin dimenelin sama anak gue.
IH KOK LU NGEBOCORIN SIH?! MUNCUL AJA BELUM LU!
Kiddongim:
Woy anjir Ong, ada yang penasaran sama kisah lu nih.
Ong: Thanks ya! Temenin gua terus ngejar-ngejar Daniel biar terlepas dari brotherzone
Baejin: Padahal yang jadi cover ff kan muka gua kok dari tadi ongniel mulu ya
Zeanoce:
Penasaran sama cinta segitiga?! Alhamdulillah akhirnya ada yang penasarin Baejin.
Baejin: nah yang kayak gini nih gua suka
Lu mau ngerdusin readers juga? -_-
Haha cara yang weird buat bales review. Udah kebiasaan, maaf ya
SEE YA NEXT CHAP! CIAO
