Feminim: Dad's Decission

Chapter 1

EXO

Kim Jongin x Oh Sehun

(with another cast)

Warning! Perubahan nama, genderswitch pula. AAAHH

MIANHAE! Typos, alur membosankan, humor krispi.

I own nothing but plot is mine

Happy Reading! RnR~!

ㅡo00oㅡ

Ting nong!

Bel rumah kediaman Kim berbunyi. Nyonya Kim, aka Luna segera menuju pintu depan dan membukakan pintu untuk suaminya. Ketika dibuka, muncullah sosok suaminya, Jonghyun dengan wajah penat dan sedikit pucat. Itu cukup membuat Luna panik.

"Kau tidak apa-apa? Aku buatkan teh?"

Jonghyun tersenyum dan mengangguk tipis sesaat setelah ia mendudukkan dirinya disofa. Sembari menunggu minumannya, sesekali ia memijat kepalanya lalu kembali membuka laptopnya.

Luna menghela nafas sambil membawa secangkir teh untuk Jonghyun.

"Akan lebih baik jika kau beristirahat dulu, Jonghyun-ah." nasihat Luna yang membuat sang suami menyandarkan dirinya disenderan sofa.

"Ya kau benar. Aku benar-benar lelah."

"Ceritakan masalahmu."

Jonghyun menyesap tehnya dan meneguknya pelan, merasakan hangatnya cairan itu masuk ke kerongkongan dan menghangatkan perutnya.

"Ah aku pusing sekali memikirkannya. Yang jelas ini investasi yang besar. Gajiku akan ditambah dua kali lipat jika investasi ini berhasil."

"Oh ya? Aku cukup senang mendengar kabar tersebut. Tapi jangan kau abaikan kesehatanmu, Jonghyun.. aku khawatir."

Jonghyun mengangguk pasti. "Omong-omong, Ada yang ingin kau sampaikan, bukan?"

Luna mengangguk. "Ya. Anak kita sudah berpacaran, omong-omong."

"Oh, benarkah? Jongin punya pacar?"

Luna mencubit perut Jonghyun mendengar nada bicara suaminya sarkastik, semacam mengejek dan tidak percaya.

"Siapa wanita beruntung itu?"

"Park Sehun. Kau tahu, Jongin merubah Sehun yang berandal menjadi putri cantik keluarga Park."

"Maksudmu? Sehun itu anak bengal yang Jongin ubah menjadi anak baik, begitu?"

"Ya kurang lebih sih. Ibunda Sehun tadi datang menanyakan tentang bagaimana pertunangan dilaksanakan secepatnya ya bgitu. Itung-itung kado untuk Jongin yang sudah berhasil mengubah gadis tersebut." terang Luna. Jonghyun mengangguk-angguk paham.

"Akan kupikirkan sambil aku mengumpulkan uang untuk biaya mereka."

"Jadi, kau setuju?"

Jonghyun mengangguk dan tersenyum pada Luna. "Untuk kebahagiaan anak kita."

"Aku mencintaimu, Jonghyun-ah."

"Ne, nado sarang."

-o00o-

Disisi lain, Jimin masih ditemani snapback kesayangannya menjahili Sehun yang berusaha tenang sambil menyedot pelan bubble tea ditangannya.

"Cie ciee mau tunangan ntar lagi nikah!"

"Ntar Sehun gendut jelek."

"Oh Sehun ayolaah berbicara."

Sehun menghela nafasnya kesal. Setelah mengunyah bubble manis itu, Sehun memukul keras kepala berbalut snapback itu dengan remote.

"AW! NUNA SAKIT TAHU!"

"Kau menganggu pendengaranku."

"Dasar sombong. Mentang-mentang punya pacar mau dikawinin gitu tuh."

Detik berikutnya, sendal rumah Sehun sudah melayang kearah kemana Jimin berlari.

Kejarannya berhenti saat Chanyeol memanggilnya, memberi tahu kalau ponselnya berdering. Telepon dari Jongin.

Sehun sebelum mengangkat panggilan itu, ia melirik jam. Hampir tengah malam, bagaimana bisa Jongin belum tidur?

"Sehun-ah,"

"Ah, ye, ada apa, Jongin? Kenapa belum tidur?"

"Hanya tidak bisa. Aku merindukanmu." jawab sebrang sana, dan ntah mengapa dapat membuat pipi Sehun memerah. "Kau sendiri?" lanjut Jongin.

"Nonton bola." jawab Sehun terkesan jutek. Kekehan terdengar dari sebrang sana.

"Sikap boyishmu masih mendarah daging, ya?"

"Apa maksudmu, Kim?"

"Ahahaa tidak," tawa Jongin. "Bagaimana kalau sekarang kita bertemu? Aku akan sampai dirumahmu lima menit lagi. Bye."

Tut tut tut

"J-jong?! Ish sial!"

Sehun dengan tergesa berlari kekamarnya dilantai dua, mengambil kunciran dan jaket serta mengganti celana tidur pendeknya menjadi celana jeans selutut.

Kim Jongin masih suka mengambil keputusan tanpa persetujuan orang lain.

"Sehun noonaa ada pangeranmu dibawah!"

"Ya ya." jawab Sehun setelah ia berhasil mengikat rambutnya kebelakang.

Ia turun menuju pintu utama yang rupanya Jimin dan Jongin sudah bercakap-cakap.

"Eh, noona cantik sudah datang," kata Jimin, mulai menggoda lagi. "Selamat bersenang-senang dengan pangeranmu yah!" kata Jimin sambil menepuk-nepuk bahu Sehun, sok care.

Sehun melotot. Kemudian bisikan Jimin setelahnya sukses membuat Sehun memerah. "Hati-hati. Jangan sampai kelewatan, noona-ya!"

"Dasar Park mesum!"

Jongin terkekeh akan kelakuan dua bersaudara tersebut. "Apa yang ia bisikan tadi?"

"Bukan urusanmu. Cepatlah, apa yang membuatmu tiba-tiba datang kesini?"

Jongin membalik tubuh Sehun sehingga membelakanginya dan mendekap tubuh ramping dengan tinggi diatas rata-rata itu. Tangan Jongin melepas ikatan rambut Sehun dan menghirup wangi khas yang menguar dari rambut Sehun, lalu menenggelamkan wajahnya diantara helaian rambut Sehun.

Sehun yang diperlakukan seperti itu reflek memerah. Ia membiarkan Jongin memeluknya dari belakang dan sibuk menetralisir detakan jantungnya yang berdebar.

"Sehun, kau tahu?"

"Ya?"

"Semakin hari, sejalan dengan jarum jam yang terus berputar, aku semakin mencintaimu."

"Berhenti menggombal atau kau akan kutendang!"

Jongin terkekeh dan melepas pelukannya dari Sehun.

"Bagaimana kalau kita ke pasar malam sekarang? Kurang lebih 25 menit lagi, kembang api akan dinyalakan."

"Hmmm,." Sehun bergumam sembari berfikir. Namun fikirannya langsung pecah ketika Jongin menggendongnya paksa dan mendudukkannya di jok motor besarnya.

"Hey! Aku belum men-," dan lagi, ucapan Sehun terpotong karena Jongin menyampirkan snapbacknya di kepala Sehun. Dan Jongin langsung menyalakan motornya setelah memberikan Sehun jaket hitamnya.

"Kau ini bodoh atau apa!?" omel Sehun ketika Jongin menjalankan motornya. Tangan Sehun bergerak melepas snapback dari kepalanya dan memakaikannya kembali di kepala Jongin. "Dasar diktator bodoh! Seharusnya kau memberikanku jeda untuk menjawab! Dan kau yang harusnya pakai jaket! Aku kan sudah pakai jaket, idiot!"

Jongin tertawa. "Diktator? Aku bukan diktator, sayang. Aku hanya tidak menerima penolakan. Dan masalah jaket tersebut, aku hanya mengurangi kemungkinan ada pria yang melihatmu dengan nafsu."

"Apa maksudmu?!"

"Memangnya kau memakai bra?"

Dan Sehun kembali memerah ketika sadar dengan kebenaran omongan Jongin. Malam-malam begini, ia malas pakai bra. Cuma buat tidur doang ini.

"Hehe kau benar. Maafkan aku." ucap Sehun sambil memakai jaket tebal pemberian Jongin. Setelahnya, Sehun memeluk erat tubuh tegap Jongin yg hanya dibalut kaus tipis berwarna merah marun.

Jongin diam-diam tersenyum akan perlakuan manis kekasihnya ini. Ia memakirkan motornya ketika sampai di pasar malam. Dengan tergesa, Jongin menarik tangan Sehun dan membawanya ke bukit dekat pasar malam yang pasti sudah ramai. Karena disitu adalah spot terbaik untuk melihat indahnya kembang api.

"Tiga, dua, sa...tu!"

Cwiit jdaarR!

Sehun reflek menoleh keatas dan ia dapat melihat bunga api yang berwarna-warni berkejar-kejaran untuk mengindahkan langit malam. Sehun tersenyum dan menyenderkan kepalanya dibahu Jongin.

"Tepat waktu, ya?"

Jongin mengangguk kecil sebagai jawaban dan merengkuh pinggang Sehun. Kemudian, bibir tebal Jongin mendarat sempurna dikening Sehun.

"Aku mencintaimu, Sehunna."

"Akupun begitu." jawab Sehun sambil menyamankan posisinya didalam dekapan Jongin.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata menatap mereka tidak suka. Seorang gadis dengan rambut ombre merah mengepalkan tangannya geram.

"Akan kurebut Jongin darimu, Park Sehun!"

-o00o-

Jongin mengantar Sehun kembali kerumah setelah mereka kenyang menyemil disana. Sehun tersenyum manis pada Jongin.

"Terimakasih. Aku sangat menikmati malam ini."

"Sama-sama. Aku juga sangat menyukainya."

"Oh!" Sehun melepas jaket hitam Jongin dan memakaikannya kembali pada si pemilik. Kemudian ia kembali tersenyum.

"Aku seperti benar sudah memiliki istri." gumam Jongin yang membuat Sehun membelalak.

"Uh!? Banyak omong! Cepat pulang sana!"

"Ck! Kau memang selalu seperti ini," Jongin berdecak kesal. "Tapi tak apa. Selama kau masih mencintaiku." lanjutnya lebih seperti bergumam. Dan detik selanjutnya, kepala Jongin dihadiahi jitakan Sehun.

"Cepat pulang atau kau aku tendang!"

"Uuh baiklah. Sampai jumpa~"

"Ya. Hati-hati dijalan, Kim Jonginnie~"

"Ne. Sleep well naeui princess!"

Sehun hanya memerah dan melambaikan tangannya kearah Jongin sebelum benar menutup pintu rumahnya.

Sedangkan Jongin mengulum senyumnya. "Aku tak sabar menimangmu dialtar, Sehun-a~" gumamnya lalu pulang kerumahnya.

-o00o-

"Kau gila atau bagaimana? Mana bisa seperti itu!"

"Ayah! Aku tidak mau tahu, pokoknya aku harus menikah dengan Jongin!"

"Soojung-ah!"

"Aku tidak mau tahu! Mengapa ayah sangat jahat?! Apa ayah tidak ingin membahagiakan aku?!" perempuan bernama Soojung ini mulai menitikan air matanya, dan selang berapa detik, ia telah menangis. Sedangkan sang ayah menatap panik anaknya.

"Bukan tidak ingin, sayang... Ayah hanya bingung bagaimana cara untuk mengabulkan permintaanmu itu.. Sedangkan ayah tahu kalau Jongin punya kekasih dan dalam waktu dekat ini akan ditunangkan. Sungguh permintaanmu ini sungguh tabu." jelas sang ayah sambil memijat kepalanya pusing.

Soojung menyeringai tipis namun masih dalam tangisnya.

Dasar gadis munafik.

to be continued

Whoaa!

dari sekian banyaknya fanfic yang belum selesai, Aku menyelesaikan ini duluan wkwkwk padahal banyak yg belum diupdate (bahkan sejak tahun lalu)(huhu maafkan saya).

yasudahlah. demikian, dimohon dengan sangat reviewnya demi menghargai saya yang tanggal empat un tapi tanggal satu malah ngerjain ginian :( ekwk

sampai jumpa ditanggal delapan (itu jg kalo update WKWKWK)

with a lot of love,

suyanq

p.s: btw makasih yg udh review di chpter sebelumnya. bagi yg belum baca Feminim, dibaca dulu yak Dan jangan lupa review nya :-) (suyanq haus akan review)

p.s.s: sumpah apapun Aku lagi dilanda penyakit typo (apalagi ngetiknya pake android begini) Jd kalo ada typo mohon maklumi ya

p.s.s.s: kalo setelah ff ini selesai terus Aku bikin love life anaknya KaiHun, gimana? tapi castnya Red Velvet x SMR Boys. ada yang berminat baca? wkwk