Hollaaaa~*tereak dari atas Tokyo Tower(?) pake toa*disambit*

.

.

.

Ehm! Ehm! Lupakan pembukaan gejhe di atas ==a

Okke! Ketemu lagi dengan author sableng ini, masih dengan fic yang sama kayak kemarin~

Saiia bener-bener nggak nyangka, ternyata ada juga yang berkenan untuk membaca dan me-review fic saiia yang satu ini~ bahkan ada juga yang nge-fave~ hiks...*terharu* TT^TT

Doumo arigatou gozaimasu~*bungkuk-bungkuk*

Maaf atas keterlambatan update untuk chapter ini, ya~ Gomennasai~*nyembah-nyembah minta maaf*

Maklum saja, kehidupan SMA saiia makin lama makin bikin saiia stress~ apalagi minggu depan udah mulai UTS~*pundung dikelilingi aura suram*

Baiklah daripada fic ini malah berkembang jadi tempat curcol, mending kita langsung saja~

Lanjut~! Balesan review, seperti biasa, ada di bawah~!

.

.

Happy Reading~


Senandung Lagu Cinta

Song & Lyrics by Ada Band

Story by d-She ryuusei Hakuryuu


Pairing(s):

Main: SenShira (one-sided)

Slight: HyouShira


Genre(s):

Romance/Hurt/Comfort/Friendship


Warning(s): Over OOC (Out of Character), Miss typo bertebaran di mana-mana, GaJe, Aneh, Abal, Alur kecepetan dan terlalu maksa,dan masih banyak lagi.

Don't Like? Don't Eat(?)!

No Flame, please! Thanks before ^^


Disclaimer(s):

BLEACH © Tite Kubo

Senandung Lagu Cinta (Song and Lyrics) © Ada Band/PT. EMI Indonesia

Senandung Lagu Cinta (Story) © d-She ryuusei Hakuryuu


Enjoy, please~!


Cerita sebelumnya di Chapter #1:

.

.

.

"Ohayou, Byakuya-sama," ujar sosok gadis cantik berambut panjang yang berjalan menyusul langkah kaki Rukia dari belakang. "Sen-chan."

'Degg.'

Gadis itu... Gadis itulah yang telah menarik perhatiannya selama ini. Gadis yang diam-diam mulai mengisi relung hatinya yang kosong.

"Sh-Shirayuki." Sebuah nama meluncur mulus dari mulut seorang Senbonzakura.

Ya, dialah Sode no Shirayuki.

.

.

.

"Ada perlu apa kau mengumpulkan kami semua di ruangan ini, Shirayuki?" tanya Byakuya, penasaran dengan apa yang akan dilakukan zanpakuto milik adik iparnya itu.

.

.

.

"Saya... hamil," kata Shirayuki yang langsung membuat ketiga orang didepannya memperlihatkan ekspresi kaget. Byakuya tersedak saat meminum green tea-nya, Rukia melongo, dan mata Senbonzakura melebar sempurna di balik topengnya.

.

.

.

"S-siapa?" ucap Senbonzakura tanpa sadar, kedua tangannya terkepal keras di atas pahanya, akal sehatnya benar-benar sudah macet total.

"Hyourinmaru...," ujar Shirayuki lagi, isakannya semakin kuat.

.

.

.

"Lalu kita harus bagaimana, Nii-sama? Shirayuki sudah terlanjur hamil," kata Rukia sambil terus berusaha menenangkan zanpakuto-nya itu.

"Apa boleh buat..." Byakuya menarik napas panjang, terlihat sangat berat untuk melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung. "Kita harus segera menikahkan Shirayuki dengan Hyourinmaru."

.

.

.


d-She ryuusei Hakuryuu

.

presents

.

.

.

Chapter #2

The Wedding


Tatap matamu 'tuk yang terakhir

Siksa batinku yang mencintaimu

Kupasrahkan pada Illahi

Relakanmu untuknya


"Kau bisa membeku kalau terus 'bertengger' di atas sana, Sen-chan," sindir Byakuya pada Senbonzakura yang sedang duduk di dahan pohon besar sambil menatap hampa langit malam musim dingin di atasnya. Byakuya sendiri sedang berdiri di bawah pohon besar itu sambil menutup kedua matanya, punggung lebarnya ia sandarkan pada batang pohon di belakangnya, di samping kakinya tergeletak topeng yang biasanya selalu terlihat menutup wajah tampan Senbonzakura.

"Kau juga pasti kedinginan di bawah situ, kan, Byakuu?" balas Senbonzakura tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari langit luas yang menghampar. Wajah tampannya yang tak tertutup topeng tersapu oleh dinginnya angin malam musim dingin. "Lebih baik kau masuk saja ke dalam sana. Jangan pedulikan aku."

"Kau sendiri tak masuk ke dalam?" Byakuya balas bertanya. "Shirayuki pasti menunggu-nunggu kehadiranmu di dalam sana. Kau tidak mau menghadiri pesta pernikahan sahabatmu yang tercinta, eh?"

Senbonzakura hanya bisa menanggapi ucapan tajam Byakuya dengan senyuman pahit.

Ya, hari ini—atau lebih tepatnya malam ini—sedang dilangsungkan pesta akbar pernikahan dua sejoli yang memang sudah memiliki hubungan spesial sejak beberapa tahun yang lalu. Semua penghuni Gotei 13 dan bahkan beberapa orang dari real world, seperti Kurosaki Ichigo beserta keluarga dan kawan-kawannya, menghadiri perhelatan besar itu. Semua orang larut dalam kebahagiaan sepasang kekasih yang kini telah terhubung dalam ikatan suci tali pernikahan.

Pesta resepsi pernikahan Hyourinmaru dan Sode no Shirayuki memang diadakan besar-besaran, dilaksanakan tepat saat musim dingin mulai menyelimuti Soul Society, ketika usia kandungan Shirayuki mencapai satu bulan. Tamu undangan mencapai seribu orang. Tentu saja semua biaya yang dikeluarkan mulai dari persiapan sampai acara puncaknya pada malam ini ditanggung oleh sang kepala klan Kuchiki yang terhormat.

Hitsugaya dan Rukia yang kini berstatus sebagai besan pun terlihat sedang mengobrol dengan akrab dengan diiringi teriakan 'ciiee... ciiee...' dari Matsumoto Rangiku—sang juuban-tai fukutaichou, deathglare dari Kurosaki Ichigo yang merasa gadis incarannya a.k.a Rukia didekati pemuda lain, dan siulan jail dari beberapa rekan kerja mereka di Gotei 13. Bahkan ada beberapa orang yang berpikir bahwa 'duo cebol' Gotei 13 itu akan menyusul pernikahan zanpakutou mereka—tentunya bila Kuchiki Byakuya sang kakak mengijinkannya.

Semua orang larut dalam hingar-bingar suasana pesta. Ya, memang benar. Semua orang. Semua orang, kecuali seorang pemuda yang tengah duduk di atas dahan pohon yang cukup besar dengan perasaan hancur.

"Kau yakin tidak mau masuk ke dalam, Sen-chan?" tanya Byakuya sekali lagi.

Senbonzakura kembali tersenyum getir. "Entahlah, Byakuu," katanya miris. "Aku tidak yakin kalau aku akan mampu melihatnya bersanding dengan laki-laki lain di pelaminan sana."

Byakuya mengangguk mengerti. "Baiklah, jangan terlalu memaksakan dirimu," ujarnya sambil sedikit mendongakkan kepalanya, menatap zanpakutou-nya. "Kalau kau ada perlu apa-apa, aku ada di dalam sana."

Setelah kepergian Byakuya, Senbonzakura kembali terdiam merenungi nasibnya, memikirkan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.

'Pergilah, Senbonzakura. Lihatlah gadis yang kau cintai sepenuh hati itu bahagia. Walaupun bukan kau yang berada di sandingnya, tetaplah berada di dekatnya dan menjaganya. Tataplah senyum bahagia yang terpancar dari wajah cantiknya meskipun bukan kau yang telah membuatnya bahagia.' Suara hatinya berteriak. 'Kau pasti bisa, Senbonzakura!'

Senbonzakura kaget dengan apa yang baru saja diserukan oleh hati kecilnya. Tapi, masih ada sebersit perasaan ragu yang merasuk dalam dirinya. Entah kenapa, dia masih belum bisa memercayai dirinya sendiri, bahwa dia bisa kuat menahan perasaan sakit hatinya sambil tetap melempar senyum pada wanita yang ia cintai secara sepihak—yang kini sedang duduk di pelaminan bersama pria lain. Tersenyum pada wanita itu seolah ia turut berbahagia atas pernikahannya bersama pria lain.

Lagi-lagi, hanya senyuman pahit yang nampak menghiasi wajah tampan Senbonzakura. Mata hazel indahnya ia pejamkan erat, berusaha menikmati hembusan angin malam yang menyapu wajahnya lembut. Perasaannya jadi sedikit lebih rileks. Bayangan wajah cantik Shirayuki tiba-tiba berkelebat dalam benaknya. Bersamaan dengan itu pula, Senbonzakura membuka kelopak matanya perlahan.

"Shirayuki," ujarnya lirih.

Lalu dengan memantapkan hati, dia beranjak turun dari atas pohon. Tanpa merasa perlu mengenakan topengnya, ia melangkah dengan perasaan campur aduk menuju tempat resepsi diadakan, meninggalkan topengnya yang tergeletak tak berdaya di bawah pohon tempatnya bernaung tadi. Semakin dekat dengan tempat pestanya, semakin tegang pula perasaan Senbonzakura. Langkahnya yang tadinya mantap, makin lama makin terlihat kaku dan kikuk.

Byakuya yang melihat Senbonzakura melangkah memasuki ruangan langsung menghampirinya, lalu menepuk bahu pemuda itu lembut. "Akhirnya kau mau masuk juga, Sen-chan."

Tepukan Byakuya tadi membuat Senbonzakura menjadi lebih nyaman. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu mulai berjalan perlahan. Byakuya yang berjalan di sampingnya kini pun menghela napas lega melihat keadaan hati zanpakutou-nya yang mulai sedikit membaik.

Mereka berdua melangkah mantap ke ruang resepsi, lalu segera membaur di antara kerumunan para tamu undangan. Semua mata tertuju pada wajah tampan Senbonzakura, mungkin mereka heran saat melihat zanpakuto Kuchiki Byakuya itu tak menggunakan topengnya seperti biasa.

Di tengah keramaian, Senbonzakura langsung menoleh ke kanan juga ke kiri, seolah sedang mencari seseorang.

Byakuya yang mengerti dengan apa yang sedang dicari Senbonzakura langsung berkata dengan tenang, "Iring-iringan pengantin masih belum memasuki ruangan. Jadi, percuma saja kau mencari Shirayuki di ruangan ini."

Senbonzakura yang merasa kesal karena lagi-lagi isi pikirannya diketahui oleh Byakuya hanya menggerutu sebal, "Berhentilah membaca pikiranku, Byakuu."

"Kau lupa mengenai fakta bahwa kau adalah bagian dari 'diri'-ku, Sen-chan?" Seperti biasa, Byakuya menjawab pertanyaan Senbonzakura masih dengan memasang wajah stoic-nya.

Tentu saja, Senbonzakura tahu bahwa apa yang baru saja dikatakannya adalah hal bodoh. Bukan hal aneh jika Byakuya mengetahui apa yang dipikirkan Senbonzakura, zanpakutou-nya—yang notabene-nya tercipta dari jiwa sang master, seperti halnya Senbonzakura yang bisa memahami perasaan Masternya. Tapi, tetap saja Senbonzakura merasa kesal.

Byakuya hanya mengacuhkan kekesalan Senbonzakura, kini dia sedang menjalani pembicaraan yang serius dengan Yamamoto Genryuusai Shigekuni—sang soutaichou. Entah apa yang tengah mereka perbincangkan, Senbonzakura sama sekali tidak tertarik untuk memikirkannya.

Dan di tengah kerumunan tamu undangan itu, Senbonzakura tanpa sengaja mendengar celotehan beberapa orang wanita yang tengah asyik membicarakan sesuatu.

"Kau pasti patah hati sekali melihat 'Hyou-kun tercinta'-mu itu menikah dengan Shirayuki. Iya, kan, Haineko?" sindir seorang gadis bertubuh mungil, rambut hitam panjangnya menjuntai dengan indahnya.

"Heh?" Gadis yang dipanggil Haineko itu pun mengernyit risih pada gadis kecil yang menyindirnya tadi. "Bukankah kau juga be-gi-tu, Tobi-chan?"

Gadis yang baru saja dipanggil 'Tobi-chan'—dengan penekanan pada kata -chan—itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan Haineko.

"Wah-wah-wah... Rupanya ada dua gadis yang tengah patah hati di sini?" Gadis ketiga menyahut dengan santainya.

"Sudahlah Rangiku-san. Jangan mengganggu mereka berdua lagi," lerai si gadis keempat.

Rangiku hanya bisa tertawa melihat Haineko dan Tobiume yang kembali terlibat adu mulut yang panas. Gadis keempat tadi masih berusaha melerai percekcokan antar-zanpakutou itu.

"Biarkan saja, Momo-chan," sergah Rangiku di tengah tawanya yang masih terdengar. "Mereka, kan, memang selalu bertengkar seperti itu."

Gadis keempat yang ternyata bernama Hinamori Momo itu hanya bisa menghela napas lelah, nampaknya sudah mulai menyerah dan merutuki kebodohannya sendiri karena telah berada di tengah-tengah orang-orang 'bermasalah' seperti mereka bertiga. "Cinta benar-benar membuat orang yang mengalaminya jadi gila."

"H-hei! Jangan pesimis begitu, dong, tentang cinta," ujar Rangiku. "Cinta itu tidak selalu membuat orang menderita, kok."

"Memangnya menurut Rangiku-san, cinta itu seperti apa?" tanya Hinamori ingin tahu.

Rangiku ber'ehem' pelan. "Cinta itu tak punya devinisi, tapi penuh dengan arti. Cinta tak punya warna, tapi bisa membuat hidup penuh warna," ujarnya dengan berapi-api. "Cinta tak bersifat egois, tapi mampu membuat orang yang mengalaminya menangis..."

"Cinta tak punya bentuk, tapi sering membuat hati remuk," potong Haineko seenaknya.

"Cinta memang unik, tapi bisa membuat pemerannya panik," lanjut Tobiume tak kalah semangat.

Hinamori yang melihat ketiga temannya menjelaskan pendapat mereka tentang cinta dengan semangat penuh, hanya bisa geleng-geleng kepala heran.

"Dan, satu hal yang terindah di dunia ini adalah dicintai oleh orang yang kita cintai." Rangiku menatap tak suka pada Haineko dan Tobiume yang sudah memotong kalimatnya sesuka hati mereka, lalu tiba-tiba menyeringai jail. "Tapi, hal yang paling menyakitkan hingga membuatmu serasa ingin mati adalah... jika cintamu bertepuk sebelah tangan."

Jlebb.

Serasa ada sebilah belati tajam menikam jantung Senbonzakura—yang memang sedari tadi menguping pembicaraan keempat gadis itu—saat mendengar Rangiku mengucapkan kalimat kejam tadi dengan santainya. Ingin rasanya Senbonzakura hilang ditelan bumi saat itu juga.

Sedangkan Haineko dan Tobiume yang merasa sedang disindir oleh Rangiku hanya bisa berdecak sebal sambil memberi deathglare pada wanita penggila sake itu.

Hinamori yang mulai melihat ada kilatan-kilatan pertikaian di antara mereka bertiga, hanya bisa pasrah menyaksikan adu deathglare antara gadis-gadis cantik itu. Namun tiba-tiba, dia mulai angkat bicara, "Memang, sih, hal yang paling membahagiakan di dunia ini adalah jika orang yang kita cintai membalas cinta kita. Tapi, Rangiku-san, kalau menurutku, ada hal yang jauh lebih penting daripada kebahagiaan itu," ujarnya kalem. "Jika kita melihat orang yang kita cintai bahagia, walaupun mungkin dengan orang lain, pasti akan hadir rasa bahagia tersendiri di dalam hati kita. Yaaa, meski cinta kita bertepuk sebelah tangan. Karena melihat tawa bahagia orang yang kita cintai akan jauh lebih berharga bila dibandingkan dengan cinta yang terbalas namun penuh dengan paksaan, bukan? Aku percaya akan hal itu, kok, Rangiku-san."

Haineko dan Tobiume mengangguk setuju.

Begitu pula dengan Rangiku yang mengangguk pelan. "Yah, iya juga, sih."

Senbonzakura seolah mendapatkan semangat baru melalui kata-kata Hinamori. Ya, dia harus bisa merelakan Shirayuki untuk Hyourinmaru, demi kebahagiaan Shirayuki—gadis yang akan selalu tetap ada di relung hatinya.


Jurang yang dalam pisahkan kita

Yang tak mungkin untuk dilalui

Biarlah lagu cinta ini terkenang dalam kalbu


Beberapa menit kemudian, iring-iringan pengantin datang dengan meriah. Di awali oleh beberapa pasang penari—yang entah didapat panitia resepsi dari mana, lalu penabur bunga dan di belakangnya ada Yachiru yang sibuk menabur-naburkan permen(?) favoritnya, disusul dengan Hyourinmaru dan Shirayuki sang pengantin, dan master kedua zanpakutou itu.

Dengan sedikit perasaan ragu, Senbonzakura bergerak mendekati iring-iringan pengantin supaya pemuda itu bisa melihat Shirayuki dengan lebih jelas, Byakuya yang sudah selesai urusannya dengan Yamamoto-soutaichou mengikuti langkahnya dari belakang.

Wajah Shirayuki terlihat sangat bahagia. Ia tampak semakin cantik dengan balutan kimono putih panjang dengan aksen ornamen-ornamen salju yang sangat indah, membuat gadis itu terlihat bagaikan dewi yang turun dari khayangan. Sang mempelai pria, Hyourinmaru, terlihat sangat gagah. Jelas-jelas wajah yang sedang jatuh cinta. Tanpa disadari, air mata Senbonzakura menetes. Memang dia sedih karena pada akhirnya Shirayuki tidak akan pernah bisa menjadi miliknya, tapi saat melihat Shirayuki tersenyum bahagia seperti itu, ada sebersit perasaan aneh yang menjalari hatinya. Perasaan hangat. Inikah perasaan yang Hinamori maksudkan tadi? Perasaan nyaman saat melihat orang yang kita cintai bahagia...

Byakuya yang berdiri di samping Senbonzakura hanya terdiam memandangnya. Wajah Senbonzakura yang tidak tertutup topeng membuat semua ekspresi pemuda itu terekspos dengan sangat jelas. Mulai dari air mata yang menggenang di sudut matanya, hingga ke senyuman samar yang tersungging di bibirnya.

Tapi, tunggu dulu! 'Dia... tersenyum?' Byakuya kaget melihat ekspresi wajah zanpakutou-nya itu. Air mata yang menetes dari mata Senbonzakura menandakan dengan jelas bahwa pemuda itu merasa sangat terpukul melihat pujaan hatinya menikah dengan orang lain. Tapi, senyuman itu?

Senbonzakura meneteskan air mata jelas karena dia merasa sedih. Juga karena bahagia...

Byakuya tersenyum melihat Senbonzakura yang sudah mulai bisa bersikap tegar, lalu Byakuya kembali menepuk bahu pemuda yang tengah rapuh itu, berusaha memberikan dukungan moril kepadanya. Karena Byakuya sendiri tahu bahwa yang Senbonzakura butuhkan sekarang adalah dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Lagi-lagi, tepukan tangan Byakuya di bahu kanannya bagaikan siraman air dingin bagi Senbonzakura. Dia langsung tersadar dari lamunannya. Canggung, ia menatap dengan sorot mata penuh rasa terima kasih.

Mereka kemudian berbaris untuk menyalami pengantin. Perlu menunggu agak lama karena hadirin yang berbaris begitu banyaknya. Dan, akhirnya, giliran Byakuya dan Senbonzakura pun tiba.

"Selamat, Shirayuki, Hyourinmaru," ucap Byakuya datar sambil menyalami mereka berdua satu per satu. Senbonzakura yang berjalan di belakang Byakuya masih belum mengeluarkan suaranya.

Shirayuki tersenyum tulus. "Terima kasih, Byakuya-sama."

Hyourinmaru pun tak kalah ambil suara. "Terima kasih juga atas semua bantuan Anda, Kuchiki-taichou."

"Hn." Byakuya mengangguk pelan lalu melangkah meninggalkan barisan panjang itu, sesekali ekor matanya melirik Senbonzakura dengan cemas, takut kalau-kalau emosi Senbonzakura tiba-tiba meledak.

Senbonzakura masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, kakinya seolah terpaku di lantai. Ichigo yang berdiri di belakangnya menyuruhnya untuk segera maju. Dan, dengan langkah agak sedikit terhuyung, Senbonzakura berjalan mendekati sepasang pengantin baru itu.

"Sen-chan." Entah kenapa, suara lembut Shirayuki membuatnya ingin menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Namun, apa boleh buat. Dia tak mungkin melakukannya.

"Shirayuki," kata Senbonzakura sedikit tercekat, tapi berusaha untuk tersenyum dengan tulus. "Selamat, ya."

"Terima kasih, Sen-chan," balas Shirayuki senang. Ia melirik mata Senbonzakura yang terlihat merah akibat menangis tadi. "Ke mana topengmu? Dan, matamu kenapa? Kau habis menangis, ya?"

Senbonzakura kaget dengan pertanyaan Shirayuki, tak menyangka kalau gadis itu akan memerhatikan wajahnya sampai sedetil itu. "Ah, ini..."

"Kau pasti sangat bahagia melihatku menikah. Atau aku terlalu cantik sampai-sampai membuatmu menitikkan air mata?" canda Shirayuki riang.

Senbonzakura melongo mendengar candaan Shirayuki, lagipula baru kali dia melihat Shirayuki seriang itu.

Shirayuki tertawa dan menatapnya penuh arti. "Oh, ya. Cepatlah kau cari pacar. Mau sampai kapan kau melajang? Atau jangan-jangan kau lebih memilih menjadi bujang lapuk daripada harus terikat tali pernikahan?"

Senbonzakura hanya bisa tersenyum pahit. Dia benar-benar bingung harus menjawab apa. Awalnya, dia berpikir bahwa dia akan menangis saat melihat Shirayuki bersanding dengan Hyourinmaru di sini. Tetapi, tawa Shirayuki sedikit banyak telah menghibur hati Senbonzakura dan memulihkan sedikit rasa percaya dirinya. Ia jadi kembali teringat pada tujuan awalnya. Dia berada di sini karena ingin menyampaikan sesuatu.

Senbonzakura mencoba menarik napas untuk mengumpulkan kekuatan. "Shirayuki," katanya dengan pandangan serius membuat tawa Shirayuki terhenti dan kemudian menatap dirinya bingung. "Berjanjilah padaku satu hal."

"Sen-chan?"

"Aku mohon... berbahagialah," ujar Senbonzakura dengan disertai senyuman tulus. Dia benar lega karena akhirnya bisa mengatakan hal yang selama ini ingin dikatakannya.

Shirayuki hanya bisa menjawab Senbonzakura dengan anggukan pelan, lalu kembali tersenyum dengan manis.

"Terima kasih," kata Senbonzakura. "Dan, kau, Hyourinmaru...," lanjutnya sambil melirik sang mempelai pria yang sedari tadi hanya sibuk memerhatikan mereka berdua.

Hyourinmaru yang merasa namanya disebut, menolehkan wajah stoic-nya. "Hn?"

"Jagalah dia baik-baik." Senbonzakura melanjutkan kalimatnya sambil melirik Shirayuki dengan ekor matanya.

"Tanpa kau minta pun, aku pasti akan tetap melakukannya," ujar Hyourinmaru, masih tetap dengan gaya bicaranya yang dingin.

"Baguslah kalau begitu." Senbonzakura melangkahkan kakinya meninggalkan sepasang pengantin baru itu, lalu melambaikan tangan kanannya tanpa menolehkan wajahnya lagi.

Tanpa disadari seorang pun, setetes air mata kembali meluncur mulus menuruni pipi Senbonzakura. "Berbahagialah, kalian berdua," ucap Senbonzakura lirih sambil berusaha menghapus air matanya.

'Aku tidak akan pernah melupakanmu, Shirayuki. Akan kupastikan bahwa cintaku akan selalu menyertaimu, tanpa kau perlu tahu isi hatiku.'


~*Masih Nyambung*~


(A/N):

.

.

Nah, itu tadi Chapter #2-nya~ terlalu pendek, nggak, sih?

Byakkun OOC banget, yak? ==a Di fic ini Byakku banyak banget ngomong, padahal aslinya, kan, irit banget sama kata-kata...*disambit kanseikan*

Sen-chan juga T^T padahal di anime-nya, kan, dia nggak pernah ngebuka topengnya di depan orang lain selain Byakkun~ tapi di sini dia malah ngebiarin gitu aja wajahnya diekspose ==a

Haduuuuh~ maafkan daku Oom Tite~ saiia nggak maksud untuk mengacaukan karakter yang sudah susah-susah Anda ciptakan, kok, Oom~*nyembah-nyembah*

.

.

Ya sudahlah ^^

Sekarang saatnya bales review kalian~

.

:: Kokoro Yumeko ::

Iyaa~ Sen-chan kasihan sekali~*peluk-peluk Sen-chan* Ini udah update~ Makasih udah review~ ^^ RnR lagi, yaaa~

.

:: Yurisa-Shirany Kurosaki ::

Hhahaha~ yaaa anggap saja kalau di fic ini, para zanpakuto bisa hidup layaknya manusia biasa~*ditendang* Eeeeh~ nggak boleeeh~ Sen-chan ama aku aja~*digatak* Makasih udah review~ RnR lagi, dong~ hhehe…

.

:: Shiina Yuki ::

Hhaha~ emang hebat~! Cuma ada di fic saiia, lhooo~!*bangga(?)* Maaf telat update~ Makasih review-nya~ RnR lagi, yaaa~

.

:: Aletha-rizu09 ::

Nee-san~ Maafkan daku yang lupa memberitahumu, ya~ T^T Hhhaha~ emang one-sided~ Tuh, udah diganti~ XP

Oke~ oke~

Tapi, ngomong-ngomong, nee~ centric fic itu apaan, yak? ==a Maaf, saiia udah lama di FFn tapi kagak tau yang begituan~ *pundung*

Makasih udah review, nee~ RnR lagi, yaaa~ hhehe XP

.

:: Shabrina Liem ::

Iyaaa~ Ini udah update~ makasih review-nya ^^ RnR lagi, ya? XDD

.

.

Sekian balasan review-nya~ ^^

Ngomong-ngomong, apakah ada di antara kalian yang merasa kecewa dengan fic ini? Kalau memang ada, maafkan diri saiia yang gejhe dan gak becus jadi author ini, ya~? T^T *pundung+maen tanah*

Maklum saja, saiia juga masih perlu banyak belajar... masih amatir, sih ==a

Jadi, buat Senpai-tachi, saiia mohon bimbingannya~

.

.

.

Review, please?

.