[Bonus]
Bonus scene ini waktu dan tempatnya berbeda-beda. Tetapi jika sudah membaca JLIO pasti mengerti. Happy reading!
.
.
.
.
.
Daehwi yang sedang menatap Youngmin dan Donghyun membereskan kamar bertanya pada Woojin. "Apa kau juga merasakannya?"
Woojin menatap Daehwi malas.
"Merasakan apa sih, Lee Daehwi?"
"Kalau mereka saling suka. Akui saja, kita sudah mengenal mereka semenjak kita kecil. Tapi, cara Youngmin hyung melihat Donghyun hyung berbeda dengan caranya melihat kita berdua. Dan Donghyun hyung selalu tersenyum dan terlihat bahagia dengan Youngmin hyung. Aku sudah memikirkannya sejak dulu. Mungkin saja ia tidak menganggap Donghyun hyung sebagai adik atau sahabat, tapi lebih?" Papar Daehwi.
Woojin terdiam sejenak. "Nah, ku akui itu benar. Tapi kupikir Donghyun hyung tidak menyadari perasaannya. Selama ini ia selalu menganggap Youngmin hyung kakak dan sahabatnya, kan?" Balas Woojin.
"Benar juga." Daehwi menghela nafas. "Apa menurutmu Youngmin hyung akan mengatakan perasaannya?"
Woojin mengangkat bahunya. "Entah, kita lihat saja nanti."
/YD/
Youngmin membuka pintu kamar Donghyun dengan tangan kirinya. Donghyun di gendongannya terlihat lelap sekali, sama sekali tidak terganggu atas gerakan yang dibuat oleh Youngmin.
Youngmin membaringkan Donghyun di kasur queen size nya dengan hati-hati. Ketika kepalanya menyentuh bantal, Donghyun bergerak meletakkan tangannya di bawah bantal, lalu bernafas teratur.
Youngmin membuka lemari Donghyun, memilih satu stel piyama bermotif bintang. Donghyun memakai bajunya seharian untuk ospek, tidak bagus jika dia tidur semalaman dengan baju yang sama.
Youngmin mengganti baju Donghyun dengan telaten. Memasukkan baju kotor ke keranjang cucian. Ia menatap Donghyun yang tertidur pulas. Bergerak menyelimuti Donghyun sampai ke leher dengan selimut coklatnya.
Tangannya bergerak mengelus kepala Donghyun. Benar-benar, Donghyun itu manis sekali. Rasanya Youngmin selalu jatuh cinta setiap pagi ia melihat Donghyun setelah ia membuka mata. Rasanya ia memang tidak dapat lepas dari pemuda Kim itu.
Youngmin menundukkan wajahnya, memberi kecupan singkat di kening Donghyun. Ketika ia akan beranjak dari kasur, sebuah tangan menahan pergerakkannya.
"Hyung, tidur denganku?" Youngmin menatap Donghyun yang membuka matanya perlahan. Donghyun menggeser tubuhnya lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Youngmin tersenyum lalu berbaring di samping Donghyun.
"Dasar manja." Youngmin memeluk pinggang Donghyun.
Donghyun hanya tersenyum menenggelamkan kepalanya di dada Youngmin. Rasanya nyaman sekali, sesaat kemudian Donghyun sudah terlelap kembali.
Youngmin mengeratkan pelukannya sebelum memejamkan mata. Ikut menyusul Donghyun ke dunia mimpi.
/YD/
"Nay..."
"Hmm?" Nayoung yang sedang membuka-buka buku menjawab panggilan Youngmin.
"Donghyun suka padaku."
"Oh, siapa me- Apa?!" Nayoung membulatkan mata, menatap Youngmin yang terlihat lesu di depannya.
Mereka berdua sedang ada di sebuah kelas setelah jadwal kuliah terakhir mereka selesai.
Youngmin menempelkan kepala ke meja di depannya.
"Dia ingat kejadian malam itu."
"Lalu?"
"Dia bilang dia menyukaiku."
"Lalu kenapa kau malah lesu begini? Harusnya kau senang. Penantianmu tidak sia-sia."
Youngmin mengangkat kepalanya. "Dia salah paham."
"Haa?"
Youngmin pun menceritakannya pada Nayoung. Apa yang terjadi antara dirinya dan Donghyun.
Nayoung menatap lurus ke arah Youngmin dengan ekspresinya yang biasa, datar. "Kenapa kalian berdua bodoh begitu? Ternyata memang benar, kepintaran akademik akan berbanding terbalik dengan pengalaman dalam percintaan, ckckck." Ia menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana cara aku berbicara padanya?" Tanya Youngmin putus asa.
"Terobos kamarnya, tahan dia di kasur, bicaralah padanya. Atau tidak bicara juga tidak apa-apa. Love doesn't talk you know."
Telinga Youngmin memerah. Perkataan Nayoung ambigu sekali. "Apa-apaan itu? Itu sudah pasti adalah pilihan terakhir dalam daftar cara berbicaraku padanya." Youngmin bingung kenapa Nayoung bisa mengatakannya dengan wajah datar begitu? Sepertinya ia memang benar-benar reinkarnasi patung Buddha.
"Ya sudah, aku kan hanya memberikan saran. Itu sangat efektif, percaya padaku." Nayoung tersenyum tipis.
"Aku curiga kau sering mempraktekannya pada adik manismu itu."
"Memang."
Youngmin speechless, astaga temannya ini.
/YD/
"Hai." Nayoung tersenyum tipis. "Kalian tahu aku, kan?"
"Ah, nde sunbaenim." Sewoon menjawab sopan.
"Emm, untuk apa sunbae memanggil kami? Kami pikir kami tidak bisa membantu dalam menyelesaikan tugas sunbae." Ceplos Jinyoung.
Nayoung menghela nafas kesal, anak kedokteran satu ini kok rada buffering, ya.
"Aku bukan memanggil kalian untuk membantu mengerjakan tugasku, kok. Lagipula apa yang akan bisa calon dokter kerjakan untuk paperku." Nayoung mengangkat ujung bibirnya asimetris.
"Nah, aku kesini untuk meminta kalian bekerja sama denganku. Kalian tahu, kan apa yang urusan yang harus kita berdua selesaikan?"
Mereka semua terdiam. Jinyoung angkat bicara lagi. "Maafkan aku sunbae, tapi aku tidak mengerti apa yang akan kau coba katakan kepada kami."
Nayoung menghela nafas frustasi, apa anak kedokteran tidak ada yang peka? Untung pacarnya ambil jurusan seni tari, eh tapi apa hubungannya?
"Apakah ini tentang Donghyun dan Youngmin sunbae?" Celetuk Hyunbin.
Mata Nayoung berbinar cerah. "Ya, itu benar."
"Memangnya ada yang perlu diurus dari mereka?" Tanya Taedong. "Bukankah sudah jelas Donghyun bertepuk sebelah tangan?"
Nayoung menghela nafas. "Kalian tidak akan percaya apa yang kuceritakan. Mereka berdua sama-sama bodoh dan naif."
Nayoung pun menceritakan semuanya pada mereka. Jika mereka semua mendapat cerita dari sisi Donghyun, Nayoung menceritakan dari sisi Youngmin.
Setelah Nayoung selesai menjelaskan semuanya mereka terdiam. Ya ampun, Donghyun dan Youngmin itu rumit sekali.
"Nah jadi kalian tahu kan sekarang kenapa aku meminta kerja sama kalian dalam masalah ini?"
"Tentu saja sunbae, kami siap membantu." Sewoon berkata mantap.
"Nanti akan kuajak kedua adik mereka juga. Mereka harus membantu dalam masalah ini." Kata Taedong.
"Baiklah, karena kalian sudah mengerti mari tentukan tempat dan waktu kita diskusi nanti."
/YD/
Aliansi "Tim Sukses YoungDong" pun berkumpul di restoran tteok milik orangtua Nayoung.
Nayoung mengajak Kenta dalam diskusi pertama mereka. Woojin dan Daehwi yang diajak ikut serta juga sudah hadir.
"Nah, kita sudah lengkap. Mari kita bicarakan bagaimana gambaran rencana kita." Kata Nayoung.
"Daehwi-goon, dan Woojin-goon apa sudah mengerti apa yang akan kita bahas?" Tanya Nayoung beralih pada kedua anggota aliansi mereka yang paling muda.
"Iya, Noona. Kami sudah mengerti, Taedong hyung sudah menceritakannya pada kami." Jawab Woojin.
"Baguslah. Nah, ayo kita mulai." Nayoung menarik nafasnya perlahan. "Menurut kalian apa cara terbaik mempersatukan mereka berdua?"
"Mengunci mereka dalam satu kamar?" Saran Jinyoung.
"Yang ada Donghyun hyung sudah keluar kamar duluan sebelum Youngmin hyung sempat berbicara. Selain cerdas Donghyun hyung juga sedikit nekat dan berani mengambil resiko. Mungkin saja dia akan menemukan suatu benda yang bisa ia gunakan untuk keluar dari sana." Kata Daehwi.
"Itu benar, jika Donghyun hyung dikurung di lantai dua sekalipun dan tidak menemukan sesuatu untuk membuka pintu mungkin ia akan memecahkan kaca jendela dengan pukulannya dan loncat dari sana." Woojin mengambil nafas sejenak. "Walaupun terlihat teratur dan rapi, sebenarnya Donghyun hyung itu berpikiran pendek dan konyol."
Jinyoung, Hyunbin dan Sewoon menganga. Tidak menyangka Donghyun seperti itu. Kalau Taedong ia sudah tahu, ia kan sudah kenal Donghyun dari sekolah menengah. Nayoung dan Kenta tidak terkejut karena Youngmin selalu menceritakan hal-hal tentang Donghyun tanpa ada yang terlewat.
"Percaya tidak percaya, pada saat SMP, Donghyun pernah lolos dari usaha penculikan. Ia menghajar semua penculiknya dan memecahkan jendela ruangan tempat disekapnya, untuk kemudian loncat ke bawah. Aku sampai sekarang sering berpikir, mungkin sebenarnya selain mempelajari taekwondo dia juga belajar parkour, dia tidak patah tulang sama sekali tahu. Cerita tentangnya sangat terkenal di tempat tinggal kami. Jadi sebelum masuk SMA dia sudah terkenal duluan di sekolah kami." Cerita Taedong panjang lebar.
Semuanya menganga mendengar cerita Taedong. Sungguh tidak menyangka Donghyun pernah mengalami hal semenyeramkan itu di saat remajanya, dan berhasil lolos dengan usahanya sendiri.
"Dia tidak mendapat luka apapun begitu?" Tanya Hyunbin. "Aku yakin penculiknya punya senjata, kan?"
"Donghyun hyung mendapatkannya. Ia memiliki bekas luka di punggungnya. Waktu itu Hyung sempat menghindar jadi dia tidak mendapat luka yang dalam, hanya sabetan yang sedikit memanjang." Jawab Daehwi.
Mereka bertiga berdecak kagum, ternyata Donghyun yang polos begitu bisa melakukan hal-hal seperti itu.
"Aku memikirkan suatu cara." Sewoon angkat bicara.
"Apa rencanamu?" Tanya Kenta.
"Kita harus menemukan cara yang tepat agar mereka berdua bisa bicara bukan? Nah, Youngmin sunbae punya dorongan itu, tapi kupikir itu masih belum cukup. Kita harus mendorongnya lebih, jadi dia bisa menahan Donghyun dan berbicara padanya."
"Dengan cara apa?" Tanya Hyunbin.
"Apakah Youngmin sunbae tipe pencemburu?" Sewoon menumbukkan pandangan pada satu-satunya perempuan di meja itu.
"Dia mungkin terlihat lembut dan sebagainya, tapi dia ini posesif dan ambisius kurasa." Jawab Nayoung.
"Kau pernah memeluk Donghyun kan?" Tanya Kenta pada Hyunbin.
"Dia sih, sering peluk-peluk Donghyun." Yang menjawab malah Taedong.
"Nah, Youngmin pernah menatap Hyunbin yang sedang memeluk Donghyun dengan tatapan yang menyeramkan. Selama aku berteman dengannya baru sekali itu aku melihat wajahnya seseram itu. Bulu kudukku sampai merinding tahu." Beber Kenta mengebu-ngebu.
"Nah, bagus kalau begitu." Sewoon tersenyum cerah.
"Kita harus membuat Youngmin sunbae cemburu. Kita harus membuat scene yang tepat untuk memunculkan kemarahannya."
"Siapa yang akan melakukannya?" Tanya Taedong.
"Hyunbin hyung, lah." Timpal Daehwi cepat. "Kan, kebetulan Youngmin hyung pernah cemburu karena Hyunbin hyung. Lagipula di antara hyungdeul semua hanya Hyunbin hyung yang memenuhi kriteria third wheel yang tepat. Iya kan?"
"Maksudmu kami bertiga tidak tampan begitu?" Tanya Jinyoung sewot.
"Ya... Taedong hyung tampan sih, tapi kan dia teman dekatnya Donghyun hyung, sudah punya pacar lagi. Jinyoung hyung lewat, sudah pasti tidak cocok."
Jinyoung ingin rasanya menggetok kepala dongsaengnya Donghyun yang satu itu.
"Sewoon hyung... hmmm... aku ragu dia bisa menjalankannya dengan baik. Wajahnya tidak mendukung, sih."
Lalu semuanya tertawa, aneh juga kalau Sewoon yang jadi third wheel.
"Kalau Hyunbin hyung kan tampan, tinggi, boyfriend material sekali, deh. Dijamin Youngmin hyung merasa tersaingi." Tutup Daehwi.
"Nah, oke misi sudah dapat dan orang yang akan berperan sudah ada. By the way, kau setuju, kan?" Tanya Nayoung pada Hyunbin.
"Tidak masalah untukku." Kata Hyunbin sambil mengangguk.
"Bagus, kau harus menemukan cara yang tepat membuat Youngmin cemburu, Hyunbin-ssi."
"Itu mudah, tenang saja. Aku bisa melakukannya dengan baik."
Lalu mereka pun berdiskusi lagi.
Dan akhirnya mereka menemukan rencana yang sempurna. Mereka memutuskan untuk menggunakan satu orang di luar aliansi mereka untuk menjadi penunjuk jalan. Orang itu adalah Kang Kyungwoon, tetangga Nayoung, tingkat satu di fakultas kedokteran seperti mereka semua.
It's Showtime.
/YD/
Nayoung, Kenta, dan Taedong menunggu di lantai dua gedung fakultas kedokteran. Yang lain sedang berada di kelas dengan Donghyun juga.
Taedong mengambil kelas yang berbeda dengan mereka semua sehingga bisa stay duluan dengan Nayoung dan Kenta yang memang tidak ada kelas.
Ketika kelas sudah selesai Sewoon dan Jinyoung segera menghampiri mereka bertiga.
"Bagaimana? Hyunbin menahan Donghyun?" Tanya Taedong.
"Tentu saja, dia sangat bagus menjalankan rencana kita. Aktingnya natural sekali." Jawab Sewoon.
Nayoung menatap ponselnya. "Youngmin sudah sampai di gerbang."
"Oke aku akan memberi tahu Hyunbin untuk siap-siap." Jinyoung mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Bagus. Ayo kita segera ke balkon."
Mereka segera berjalan ke arah balkon dan berdiri di sisinya. Hyunbin yang sudah di bawah sana bersama Donghyun memberikan kode kepada mereka.
Kenta mengacungkan jempolnya pada Hyunbin.
Nayoung melihat handphonenya, sudah ada pesan dari Kyungwon. Nayoung mengira-ngira waktu dalam hati kapan waktu Youngmin muncul.
Terlihat di bawah sana Hyunbin berkata sesuatu yang membuat Donghyun terlihat kaget, lalu mendekatkan wajahnya pada Hyunbin sambil memejamkan matanya.Tangan Hyunbin dengan gerakan halus mengiring tangan kiri Donghyun memegang sisi pakaiannya sendiri. Tangan kanan Donghyun dengan reflek mengikuti memegang sisi pakaian Hyunbin yang lain.
"Woah, jinjja Hyunbin natural sekali." Kenta melihat mereka berdua dengan kagum.
Hyunbin lalu mengusap wajah Donghyun yang katanya terdapat kotoran. Setelah itu Hyunbin menangkup wajah Donghyun.
Saat itulah Youngmin datang dan mendorong bahu Hyunbin keras. Untung tidak sampai terjatuh.
Mereka berlima seperti sedang menonton drama saja.
Ketika Youngmin membawa Donghyun entah kemana mereka semua segera turun mengikuti mereka berdua.
Ketika sudah tahu dimana tujuan Youngmin mereka segera ke lantai dua gedung terdekat taman fakultas untuk melihat mereka berdua.
"Aku tidak suka kau menghindariku, dan aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Kwon Hyunbin." Youngmin berkata dengan nafas terburu, menahan emosi.
"Whoa-"
Nayoung menutup mulut Kenta. "Jangan berisik, bodoh."
Kenta menganggukan kepalanya, Nayoung melepaskan tangannya.
Mereka lalu melihat Youngmin dan Donghyun dengan khusyu lagi.
"Kau tahu apa alasanku melakukannya Hyung.. Setelah aku tidak punya perasaan itu lagi untukmu kita akan kembali seperti semula, kita anggap yang kemarin terjadi tidak pernah terjadi. Kau dan aku akan kembali menjadi Im Youngmin dan Kim Donghyun yang bersahabat sedari kecil." Donghyun mengatakannya dengan suara bergetar dan nafas yang tercekat.
"Ahhh, dia suka padamu juga Donghyuuunnn." Jinyoung memegang dadanya.
"Aku menyukaimu Donghyun-ah. Jauh sebelum kau menyukaiku kurasa. Ketika pertama kali bertemu denganmu aku sangat senang. Aku mendapatkan adik dan teman bermain yang manis dan banyak tersenyum, apalagi kau pintar. Lama kelamaan aku tidak melihatmu sebagai adik atau teman kecil, Donghyun-ah. Jadi, dengarkan aku baik-baik... Aku sudah jatuh padamu dengan sangat keras, jadi jangan mencoba untuk menghilangkan perasaanmu padaku. Itu akan menyakiti kita berdua.Tetaplah jatuh padaku sedalam yang kau bisa karena aku selalu ada untukmu, aku tidak akan meninggalkanmu. Mari kita jalani hubungan ini mulai sekarang, hmm?" Youngmin menyatakan perasaannya pada Donghyun di bawah sana.
"Aish aku tidak tahu Youngmin akan semanis ini ketika confess, jadi geli sendiri." Kata Nayoung sambil bergidik.
"Itu romantis tahu." Kenta menimpali Nayoung. Nayoung masih tetap bergidik.
Ketika Youngmin mengecup Donghyun mereka semua langsung membuat koor suara "Oouuu" untung saja Youngmin dan Donghyun tidak menyadarinya.
Ketika akhirnya Donghyun menerima pernyataan Youngmin mereka pun menghela nafas lega. Akhirnya rencana mereka tidak sia-sia. Hufftt.
/YD/
"Hyung."
"Hmm?" Woojin menjawab panggilan Daehwi seadanya. Ia masih fokus pada ice cream choco and cookies yang sedang ia makan.
"Kau tahu kan aku bersyukur Youngmin Hyung dan Donghyun Hyung akhirnya bersama?"
"Hmm, memang kenapa?" Tanya Woojin masih cuek.
"Kenapa sekarang aku menyesalinya? Lihat itu, lihaaaattt!!!" Daehwi menunjuk ke balkon dimana Youngmin dan Donghyun sedang bermesraan seperti pengantin baru. "Sebelum jadian saja sudah seperti orang menikah, kok. Sekarang malah seperti pasangan sedang honeymoon." Daehwi merana.
"Aku kan envy. Aku juga mau punya pacar..." Daehwi memeluk pinggang Woojin. "Hyung saja ya yang jadi pacarku?"
Woojin mendorong dahi Daehwi menjauh. "Tidak terima kasih, hyungmu yang tampan ini sudah punya gebetan."
"Hah? Siapa? Aku kenal kan, orangnya?"
"Kamu tahu kok, siapa."
"Hyungseob hyung?"
"Heih." Woojin memberikan tatapan yang mengatakan yang-benar-saja. "Si Ahn itu kan sudah jadian dengan anak smp sebelah."
"Hah? Yang benar?" Daehwi membulatkan mata. "Terus incaran hyung itu siapa?"
"Ada, deh."
"Ih, Hyuunggg."
.
.
.
.
.
Author's Note:
Terima kasih pada semua yang sudah membaca, mereview, apalagi memfavoritekan dan memfollow ff ini.
Untuk siders sekalian. I'm glad you're reading this fic. Hope you get chance to write better fic than mine.
Untuk Kim Donghyun tersayang, akhirnya sekarang kamu sudah 20 tahun, yeaayyy. Kamu sudah dewasa. Tapi tetep kiyeowo, kok. Semoga akur selalu dengan suami tersayang, dan sabar ya, tunggu anak-anak kembali. Happy Birthday, Donghyunie!
Ceritanya post bonus ini untuk merayakan Coming of Age nya Donghyun. Semoga saja minum pertamanya berkesan ya, ;).
