Disclaimer © Furudate Haruichi

For Kurodaiweekends

Mafia AU


Marry me, Deal or Not?

"Jadi, apa kau setuju dengan perjanjian ini?" Kuroo menyengir dihadapan Daichi yang sudah duduk dengan tidak nyaman. Dihadapan mereka berdua, terdapat satu buah koper berisikan cairan bening dalam ampuler berjumlah 11 buah. Kuroo menaikkan alisnya sambil terus mengetukkan kakinya ke lantai, tidak sabar menunggu jawaban Daichi.

"Kau mau menjual 11 'senjata' ini dengan aku harus menikahimu?" tanya Daichi balik.

"Aku yakin kau tidak budek, Sawamura-kun. Ehem, apa aku harus memanggilmu Daichi sekarang? Dan aku tahu kau sudah mencerna seluruh kalimatku dengan benar," jawab Kuroo dengan suara yang dibuat rendah. Daichi memang medengar semuanya dengan jelas. Ketika Kuroo mengatakan bahwa ia akan menjual kesebelas 'senjata' terbaru ini dengan cara ia harus menikah dengannya. "Jangakan senjata ini, Daichi. Pikirkan apabila kita bersatu menjadi satu family. Kita memiliki wilayah yang besar, bawahan yang kuat, dan kupikir kita bisa mengakhiri persaingan kita ini. Kau tahu godfather kita sebenarnya hanya bermain-main 'kan?"

"Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menikahimu!? Kau selalu saja seperti ini! Pantas saja kau meminta temanku dan aku yakini temanmu juga untuk keluar dari ruangan," kata Daichi merasa letih dengan permainan Kuroo.

"Kau tak mau menikah denganku?"

"Aku– A–" Dachi menghela napas panjang lalu berdiri dari sofa yang berjalan menuju balik sofa dan membelakangi Kuroo. Kedua lengannya dilipat di depan dada menandakan bahwa ia berpikir keras. Kuroo yang melihatnya menyandarkan diri di sofa dan juga membuang napas berat serta mengusap rambutnya.

"Maaf." Daichi menoleh untuk melihat Kuroo. "Aku hanya menggodamu saja. Kita kembali ke perjanjian semula. 5 juta yen 1 ampuler. Jadi totalnya 55 juta yen. Aku beri diskon karena kelakuanku yang–"

"Aku berpikir bahwa kita tidak bisa menikah."

"Kenapa tidak?" tanya Kuroo sedikit tergerak dengan pernyataan Daichi.

"Ini seperti tradisi. Kau tahu. Karasuno dan Nekoma. Persaingan kita. Yah, meski persaingan ini aku akui hanya main-main saja tapi–"

"Tapi Kenma bisa berpacaran dengan si chibi itu!" Kuroo berdiri tiba-tiba tanpa sadar. Bahkan ia menaikan suaranya dan mulai berteriak.

"Kenma… apa!?"

Tok tok tok

"Aku mendengar namaku disebut. Ada apa?" tanya Kenma dari balik pintu setelah mengetuknya. Kedua orang yang ada di dalamnya langsung terdiam. Daichi kemudian duduk kembali di sofa. Ia menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya. Lelah rasanya seperti ini terus. Kuroo ikut terdiam dan beberapa saat kemudian ia duduk di samping Daichi. Ia mengusap pundak Daichi untuk membuatnya berpaling padanya. Jarak antara mereka diperdekatkan. Tangan Kuroo yang gemetar diletakan di samping wajah Daichi lalu menarik dagunya pelan hingga wajah mereka bisa mendekat.

"Menikahlah denganku," ucap Kuroo lembut. "Aku tahu, family lebih penting tapi, jika itu dirimu. Ki-kita masih memiliki tradisi persaingan ini. Hanya saja mungkin kita diberi sedikit pengecualian."

"Mereka akan terkejut."

"Kakek tua itu akan terkejut."

Ngiiingggg

"Kuroo! Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan tapi aku merasa terhina di sini," ucap Nekomata dari interphone. Kedua orang yang ada dalam ruangan tersebut langsung terpaku mendadak dan diam. "Kau tidak lupa bahwa ruanganmu ada cctv-nya 'kan?" lanjut Nekomata. Daichi langsung refleks mendorong Kuroo menjauh dan berdiri dengan wajah memerah.

"KAU TIDAK BILANG DI SINI ADA CCTV!?"

"Yaa… semua ruangan pertemuan ada cctvnya untuk keamanan. Jangan bilang ditempatmu tidak ada?"

"Tetsurou... apa kau tahu arti kata privacy…!" geram Daichi murka.

"Aku tidak begitu tahu apa yang kalian bicarakan tadi tapi, kami di sini bersama Keishin sudah menandatangani persetujuan untuk racun jenis baru itu. Dan lagi, aku ingin dengar percakapan kalian yang barusan," kata Nekomata kemudian interphone itu mati. Keheningan sesaat menyelimuti keduanya sebelum Kuroo mendekati Daichi dan memeluk pinggangnya.

"Jadi? Bagaimana dengan perjanjian kita?"

"Tetsurou…"

"Kalau kau bilang tidak akan kubatalkan penjualan ini."

"Tetsurou!"

"Aku mencintaimu juga Daichi."

"Oh, ya Tuhan! Jika aku bisa aku ingin mengeksekusimu sekarang juga!"

"Apakah itu artinya 'ya'?" Daichi diam dan menatap Kuroo dengan ekspresi bodohnya itu. Daichi ingin menciumnya saat itu juga tapi ia ingat bahwa ruangan tersebut terdapat cctv dan suara batuk dari interphone menandakan bahwa mereka harus menyudahi acara mereka untuk bertemu godfather dari family masing-masing. Oh, Kuroo juga tidak lupa untuk menyatakan bahwa ia ingin memindahkan Daichi ke dalam familynya. Atau sebaliknya. Atau mereka bisa menjadi bagain dari kedua family tersebut.

The End