"NARUTO MILIK MASASHI KISHIMOTO. TIDAK ADA KEUNTUNGAN MATERIAL YANG SAYA DAPATKAN DARI PEMBUATAN FANFIC INI"

.

.

.

"Chapter 2"

.

.

"Naruto, tidurlah denganku, menyatulah denganku," ucap Sakura mantap.

Mata Naruto melebar mendengar ucapan Sakura. Dia segera menurunkan tangannya dari wajah Sakura. Kedua tangannya kali ini berpindah ke atas pundak Sakura, "Apa yang sedang kau bicarakan, hah?!" bentak Naruto sambil menggoyang-goyangkan kedua pundak tersebut.

"Aku ingin melupakan Sasuke. Karena itu, aku ingin kau mengikat dirimu denganku. Aku yakin dengan itu aku akan bisa melupakan Sasuke," sahut Sakura dengan suara yang sama kerasnya dengan suara Naruto barusan. "Aku mohon, Naruto," pinta Sakura memelas.

Naruto mengerutkan dahinya, "Tetap saja, itu tidak benar, Sakura."

Melihat Naruto yang tidak mau mengabulkan permintaannya, Sakura mengambil langkah lebih dulu. Dengan cepat, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto dan mencium bibir laki-laki tersebut.

Dengan cepat pula, Naruto mendorong Sakura sehingga ciuman mereka terlepas. "Sadar, Sakura. Kau sudah gila!"

Sakura menepis tangan Naruto, "Aku tidak gila, Naruto," sahut Sakura dengan suara parau. "Kalau ... kalau kau mau melakukannya, aku akan menerima pernyataan cintamu, Naruto. Jadi, kumohon."

Lagi Sakura mendekatkan wajahnya ke Naruto dan menciumnya kembali. Kali ini, gadis itu bahkan berani melumat pelan bibir Naruto. Sedangkan Naruto hanya terdiam begitu mendengar kata-kata Sakura barusan. Tubuhnya tiba-tiba saja kaku. Bukankah dulu dia pernah berkata bahkan rela menjadi pelampiasan Sakura asalkan dia bisa bersama Sakura? Lalu?

Dari pandangannya, Naruto dapat melihat Sakura yang sedang berusaha merangsangnya. Dengan pelan, Naruto menjauhkan wajah Sakura darinya. Ditatapnya mata hijau gadis itu lekat-lekat dengan lembut. "Baik, kau menang, Sakura," ucap Naruto.

Dengan perlahan Naruto mencium dahi Sakura kemudian hidungnya, pipinya dan berakhir di bibir Sakura. Ciuman itu begitu lembut bahkan Sakura tidak sadar kalau dia sudah terlentang di atas kasurnya dengan tubuh Naruto yang berada di atasnya.

Naruto sudah tidak menciumnya, mereka hanya saling menatap. Baik Sakura maupun Naruto dapat merasakan degup jantung mereka yang semakin keras. Kedua mata berbeda warna tersebut berusaha saling menyelami emosi satu sama lain.

"Tumpahkan semua perasaanmu padaku, Naruto," ucap Sakura dan ia segera menerima ciuman dari Naruto lagi. Kali ini ciuman Naruto sudah menjadi lumatan lembut hingga membuat Sakura melenguh.

"Mnn... Hhnnn..."

Kali ini, lidah Naruto berhasil masuk ke dalam bibir Sakura. Entah mengapa, tiba-tiba saja suasana di sekitar mereka terasa begitu panas. Ciuman Naruto pun semakin menggebu-gebu, laki-laki itu berusaha semakin menekan kepalanya agar bisa lebih jauh menjelajahi bibir Sakura. Tak jarang, kedua lidah itu saling membelit.

Karena kebutuhan pernapasan, Naruto mengangkat wajahnya. Lagi mereka saling memandang. Kali ini dengan senyuman yang terbingkai di kedua wajah mereka. Senyuman yang memberikan pengertian dan kehangatan. Masing-masing dari diri mereka sudah yakin bahwa mereka tidak akan menyesali perbuatan ini.

Kembali Naruto mencium Sakura dengan penuh sayang. Ciuman yang lembut, hangat dan menyenangkan. Perlahan-lahan, hati Sakura mulai meleleh dengan sikap Naruto yang begitu lembut padanya. Selagi mencium Sakura, kedua tangan Naruto melepas satu per satu kancing kemeja Sakura.

Naruto mengangkat wajahnya saat kulit putih Sakura terlihat. Wajah Naruto memerah, "Kulitmu indah sekali, Sakura," ucapnya.

Wajah Sakura juga bersemu, "Jangan terus melihatku seperti itu, Naruto," balasnya dengan malu.

Naruto terlihat menelan ludah, "Sekarang aku hanya perlu melepas pengait bramu, kan?" tanyanya dengan satu tangannya yang menyelinap di balik punggung Sakura lalu melepas pengait bra berwarna merah muda yang dikenakan Sakura.

Begitu pengait bra Sakura terlepas, Naruto mengangkat bra Sakura ke atas sehingga dua payudara Sakura terlihat jelas dalam mata biru Naruto. Wajah Naruto semakin memerah saat melihat payudara Sakura yang montok dan kenyal itu.

"Sakura, a-aku... kau cantik, Sakura," ucap Naruto gugup sambil tangan kanannya meremas pelan payudara kiri Sakura.

Sedangkan Sakura hanya bisa mendesah dengan perlakuan Naruto. "Hmm... Uhh..." lenguh Sakura ketika bibir Naruto mengulum puting payudara kanan Sakura.

"Sakura, kau tampak manis, aku akan terus membuatmu nyaman, Sakura," ucap Naruto di sela-sela kulumannya.

"Hmm... terus, Naruto..."

Setelah puas mengulum, Naruto mengangkat wajahnya dan mencium Sakura kembali. Ciumannya itu semakin ganas. Kedua tangan Sakura berada di belakang kepala Naruto dan menekannya agar ciuman mereka lebih memuaskan. Sedangkan kedua tangan Naruto tak tinggal diam, kedua tangan itu terus meremas kedua payudara Sakura.

"Hm, hm, ahh..." Sakura sedikit menjerit saat Naruto memelintir puting Sakura.

"Putingmu sudah mengeras, Sakura," ucap Naruto kemudian bangun dari posisinya.

"Jangan berkata seperti itu, aku malu," balas Sakura sambil memperhatikan Naruto yang sedang melepas baju dan celananya. Mata hijau Sakura sedikit membesar saat melihat penis Naruto yang tegak berdiri.

Gadis berambut merah muda itu segera memalingkan wajahnya ke samping. Sedangkan Naruto sudah naik ke atas kasur kembali dan melepaskan celana panjang serta celana dalam Sakura. Kulit wajah Naruto yang berwana cokelat itu menjadi sedikit merah saat melihat tubuh Sakura yang telanjang bulat.

"Jangan tatap aku terus, Naruto. Aku malu," ucap Sakura.

Naruto kembali memosisikan dirinya di atas Sakura. Tangan kanannya menyentuh dagu Sakura dan memaksa gadis itu untuk menatapnya. Naruto kembali melumat bibir Sakura.

"Mhhnn..."

Ciuman Naruto kemudian turun ke dagu dan leher Sakura. Walaupun bibir Naruto sibuk menandai leher Sakura dengan kissmarknya, kedua tangan Naruto tidak diam. Tangan kanan pemuda itu terus meremas payudara Sakura sedangkan tangan kirinya meraba-raba perut Sakura hingga turun ke bagian kemaluannya.

Baru saja jari-jari Naruto menyentuh bibir vagina Sakura, gadis itu dengan cepat mengapitkan kedua pahanya hingga tangan Naruto terjepit.

"Na-Naruto, jangan sentuh aku di situ, aku malu," suara Sakura sedikit bergetar. Naruto hanya tertawa kecil kemudian menjauhkan tangan kirinya dari kemaluan Sakura. "Engg... Ahh..." Suara lenguhan Sakura kembali tersengar saat kedua tangan Naruto menyerang kedua payudaranya sedangkan mulutnya masih asyik menjilat dan menghisap leher Sakura.

Pemuda berambut pirang itu memosisikan dirinya di antara kedua kaki Sakura sehingga penisnya yang berdiri itu bisa bergosokkan dengan bibir vagina Sakura. "Sa-Sakura..." panggilnya tiba-tiba sambil menahan sesuatu.

"Mmnn?" sahut Sakura di antara desahannya.

"Apa aku sudah boleh memasukannya? Aku-"

"Tentu, Naruto," sahut Sakura sambil mengalungkan tangannya di leher Naruto.

Kedua sejoli itu saling bertatapan. "Aku mulai memasukkannya." Dan Naruto pun mulai memajukkan tubuhnya sedikit demi sedikit. "Grr..." geramnya.

"Engg... Akh!" erang Sakura saat kepala penis Naruto memasuki lubang peranakannya. Rasanya sakit dan terasa begitu aneh. Inilah ikatan yang mulai Sakura dan Naruto bangun. Ikatan yang Sakura percayai dapat membuatnya melupakan Sasuke.

"Ahh..." Naruto sendiri juga ikut mendesah. Pemuda itu kemudian meneruskan penyatuan tubuhnya dengan Sakura. Penis Naruto yang panjang itu baru berhasil masuk setengah saja ke dalam lubang vagina Sakura.

"Shhh... Sa-Sakura, aku akan masukkan seluruhnya," geram Naruto. Sakura hanya bisa mengangguk sambil menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya.

JLEB!

"AKKHHHH! Sa-sakit..." erang Sakura.

Dalam sekali hentakkan, penis Naruto berhasil masuk seluruhnya. Darah selaput dara Sakura terlihat membasahi penis Naruto. "Apa aku sudah bisa bergerak?" tanya Naruto.

"A-aku tidak tahu, Naruto." Sakura terus berusaha menstabilkan detak jantungnya. Bagian bawahnya terasa berdenyut-denyut menyakitkan. Penis Naruto yang memasuki tubuhnya terasa begitu aneh dan memenuhinya. Begitu panas dan berurat-urat.

Akhirnya Naruto memilih untuk menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan. Keluar kemudian masuk, begitu seterusnya. "Mhhh... Arrgg..." Naruto menggeram saat vagina Sakura terasa menjepit penisnya. Rasanya begitu nikmat.

Sakura yang awalnya merasakan sakit, sekarang sudah bisa mendesah sesuai dengan tempo gerakkan Naruto. "Ah! Ah! Ahhh... Akh!" Sakura sedikit terkejut saat Naruto mempercepat gerakannya. Begitu cepat sampai Sakura merasa berada di udara. Rasanya ia seperti melayang.

"Sakura, Sakura, Sakura..."

"Na-Naruto... Ahhhkk..."

Begitu seterusnya, tubuh mereka terguncang-guncang sesuai dengan hentakan Naruto. "Shhh... Ah, Sakura... Aku..." Naruto semakin mempercepat genjotannya saat ia merasakan sesuatu akan keluar dari tubuhnya.

"Naruto, ahhh... a-ada sesuatuhhh... Ahk... yangg ahhh..." ucap Sakura tidak karuan, sebentar lagi ia akan merasakan orgasme.

"Oh! Sakuraa..."

"Naruto..."

Teriak mereka berdua bersamaan dengan klimaks mereka masing-masing. Sperma hangat Naruto terasa menyembur beberapa kali ke dalam tubuh Sakura. Sakura bahkan merasa kalau rahimnya sudah dipenuh oleh sperma Naruto.

Setelah klimaks yang mereka rasakan, kedua remaja itu hanya bisa terengah-engah. Kedua mata mereka saling menatap dengan wajah yang sama-sama memerah.

"Sakura, aku mencintaimu," ucap Naruto sembari mengulum bibir Sakura.

Sesudah menyelesaikan lumatan lembut itu, Naruto melepaskan penyatuan mereka hingga ada cairan sperma yang keluar dari vagina Sakura.

"Terima kasih, Naruto. Aku bahagia," balas Sakura dan kemudian mereka pun tertidur dengan Sakura yang berada dalam pelukan Naruto.

Hari itu, akhirnya ikatan antara Sakura dan Naruto pun tercipta. Andai saja ini benar-benar bisa membuat Sakura melupakan Sasuke.

.

.

.

Hari ini hujan terus mengguyur sejak siang hingga sore hari. Sasuke yang sudah menyelesaikan kuliahnya setengah jam yang lalu hanya berdiam diri di dalam mobilnya yang kebetulan menghadap bagian lobi gedung universitasnya.

Mesin mobilnya sendiri sudah menyala sekitar lima belas menit yang lalu tapi dia tidak berniat menjalankannya. Seperti ada sesuatu yang ia tunggu tapi ia tidak tahu apa. Dengan menumpu pada stir mobilnya, Sasuke terus menatap gedung kampusnya.

Di saat mata hitamnya menangkap seseorang berambut merah muda, barulah ia tersadar dari lamunannya. "Sakura..." gumamnya dengan wajah sendu.

Wanita yang bernama Haruno Sakura itu terlihat berdiam diri di depan lobi, sepertinya dia tidak membawa payung. Tangan Sasuke refleks membuka pintu mobilnya dan pemuda itu turun begitu saja hingga dirinya sampai di hadapan Sakura.

Padahal ia sudah berjanji pada ayahnya untuk tidak berhubungan lagi dengan Sakura, tapi dirinya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia begitu merindukan gadis yang sangat dicintainya itu.

"Sakura..."

Sakura melebarkan matanya melihat Sasuke menghampirinya. Dia begitu terkejut dan merasa sangat senang. Ada perasaan bahagia di hatinya bersamaan dengan rasa sakit yang ia rasakan mengingat perlakuan Sasuke terhadapnya belakangan ini.

"Sa-Sakuke... apa yang-"

Sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah menarik Sakura bersamanya dan memaksa gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Sakura sendiri hanya bisa pasrah karena dia masih terlalu kaget karena Sasuke berbicara dan bahkan membawanya ke dalam mobilnya.

Begitu Sasuke sudah berada di kursi pengemudi, barulah Sakura berbicara. "Sasuke, kenapa tiba-tiba saja kau seperti ini?" tanya Sakura geram bahkan matanya sampai berkaca-kaca.

Hati Sasuke merasa mencelos melihat mata Sakura yang terluka. "Maaf, Sakura. Maafkan aku," balas Sasuke sambil menggenggam kedua tangan Sakura. "Aku tidak punya pilihan lain."

Air mata Sakura terjatuh, "Ma-maksudmu apa?"

Sasuke menggigit bibir bawahnya sambil terus menatap mata Sakura. Hatinya benar-benar sakit saat melihat Sakura dalam keadaan seperti ini. Sikapnya beberapa waktu belakangan ini pasti sudah membuat gadis di hadapannya merasa sakit hati.

"Aku terpaksa melakukan semua ini, Sakura. Demi keselamatanmu."

Sakura mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Sasuke. "Keselamatanku?"

"Ayahku mengancamku, Sakura. Karena itu aku terpaksa menjauhimu belakangan ini. Tapi aku sudah tidak bisa menahan diri lagi, Sakura," ucap Sasuke penuh emosi. Genggamannya semakin mengerat, "Aku sangat merindukanmu, Sakura."

Detik juga, Sasuke membawa Sakura ke dalam pelukannya. Pelukan yang penuh akan emosi. Sakura sendiri hanya bisa menangis dalam kungkungan Sasuke. Dia bahkan tidak pernah berpikir kalau Sasuke ternyata juga menderita selama ini sama sepertinya dirinya. "Aku juga merindukanmu, Sasuke."

"Sakura, kumohon untuk hari ini saja. Aku mau kau bersamaku sampai hari ini berakhir. Setelah itu, aku mungkin bisa melepasmu, Sakura," ucap Sasuke sambil mengendurkan pelukannya.

Mereka akhirnya saling menatap kembali. Tangisan Sakura semakin keras. Dia tahu kalau dirinya akan berpisah dengan Sasuke, bahkan sebenarnya dia sudah mengikat dirinya dengan Naruto. Tapi saat melihat Sasuke sekarang, hatinya sudah meleleh kembali. Dia akan melakukan apa saja demi Sasuke untuk yang terakhir. "Baiklah," sahut Sakura mengangguk.

Pemuda Uchiha itu tersenyum kecil, "Terima kasih, Sakura." Sasuke kemudian mencium bibir Sakura dan melumatnya pelan. Ciuman yang menggambarkan seorang Uchiha Sasuke yang sudah lama tidak bertemu dengan gadis pujaannya.

Sakura menerima ciuman Sasuke. Tanpa sadar, ternyata dia begitu merindukan Sasuke. Dia merindukan segalanya dari seorang Sasuke. Untuk hari ini saja, biarkan dirinya menjadi egois. Naruto, maafkan aku untuk hari ini.

"Sakura, aku ingin pasta saus tomatmu," ucap Sasuke selanjutnya.

Sakura tersenyum, "Antar aku pulang dan aku pasti akan membuatkannya untukmu, Sasuke."

.

.

.

Hinata menutup ponselnya setelah menerima telepon dari Naruto. Montir yang memperbaiki mobilnya itu akan mengantar mobilnya setengah jam lagi. Hinata menghembuskan napasnya keras berharap bisa mengurangi kegugupannya.

Hari ini adalah hari dimana dia akan memulai rencananya. Rencana yang dimulai dengan obat yang telah dibelinya dari Tayuya seminggu lalu. Setelah mengambil botol obat itu, Hinata kemudian mengganti bajunya dengan baju yang akan mempermudah rencananya.

"Ini bagus," ucapnya ketika mata kelabunya menangkap pantulan dirinya di depan cermin. Sebuah mini dress berwarna ungu muda membungkus tubuhnya. Bagian atasnya berisi karet sehingga baju tersebut mudah diturunkan.

Wajah Hinata kontan memerah saat membayangkan semua rencana yang telah ia buat. Rencana ini pasti bisa membebaskan dirinya dari rencana pernikahannya itu.

Rencana untuk membuat dirinya mengandung anak Naruto. Dengan rencana ini, dia percaya bahwa dirinya bisa menentang ayahnya dan sekaligus bisa mendapatkan pria yang ia cintai. Inilah yang dinamakan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Ponselnya berbunyi lagi dan berhasil mengusir lamunannya. Ternyata dari Naruto, sepertinya pemuda itu sudah sampai di parkiran gedung apartemen yang ia tempati.

Begitu sambungan teleponnya terputus, Hinata segera turun ke lantai dasar. "Wah, ternyata masih hujan," gumamnya kemudian masuk ke dalam lift.

Tidak perlu waktu lama bagi Hinata untuk menemukan pemuda itu di tempat parkir apartemennya. Pemuda itu menunggunya di samping mobil putih Hinata. "Sore, Na-Naruto."

Naruto tersenyum untuk menanggapi sapaan Hinata. "Lihat. Sudah mulus seperti semula."

Hinata menengok sekilas untuk melihat bagian belakang mobilnya. "Iya, kau memang he-hebat, Naruto. Oiya, sekarang kan masih hujan, bagaimana kalau kau menunggu di apartemenku dulu? Lagipula, aku tadi lupa membawa uang," ucap Hinata kemudian menghembuskan napas. Dia sangat gugup saat ini.

Naruto menaikkan alisnya sambil memikirkan tawaran Hinata. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia menyetujuinya. "Baiklah."

Hinata kemudian mengajak Naruto masuk ke dalam apartemennya yang sangat mewah itu. Naruto sangat terkesima saat memasuki kamar apartemen Hinata. Benar-benar seorang anak Hyuga. Keluarga Hyuga itu sangatlah kaya.

Gadis itu sedikit malu saat melihat Naruto yang agak sungkan karena apartemennya itu. "Sebenarnya aku juga tidak mau tinggal di tempat semewah ini, ta-tapi ayahku memaksa," ucap Hinata tiba-tiba sambil mempersilahkan Naruto duduk di atas sofa ruang tengah.

"Tapi aku rasa rumahmu pasti lebih mewah, Hinata," balas Naruto.

Hinata hanya tersenyum menanggapinya kemudian masuk ke dalam dapurnya. Gadis manis itu segera membuat dua cangkir teh hangat yang cocok dengan cuaca dingin sekarang ini.

Saat itulah rencana Hinata dimulai. Gadis itu dengan sengaja memberikan suatu obat ke dalam teh milik Naruto. Obat yang katanya Tayuya berkhasiat sangat lama.

"Ini, aku buatkan teh," ucap Hinata sambil meletakkan dua cangkir teh di atas meja. Gadis itu kemudian duduk di sebelah Naruto. "Maaf, mengajakmu kemari tiba-tiba. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih."

Naruto sedikit tertawa sambil mengambil tehnya. Pemuda itu meminum tehnya sedikit sebelum menoleh ke arah Hinata. "Terima kasih? Itu tidak perlu. Kau cukup membayar saja, Hinata," Naruto meminum tehnya lagi.

Diam-diam Hinata terus melirik teh Naruto yang sisanya tinggal setengah. "Aku berterima kasih bukan karena kau memperbaiki mobilku, tapi ka-karena kau dulu pernah menolongku mengganti ban mobilku yang kempes."

"Hm? Ban kempes?" Naruto seakan mengingat-ngingat. Sesaat kemudian wajahnya berubah cerah, "Oh, jadi perempuan yang aku tolong dulu itu kau, Hinata? Wah, kebetulan sekali ya..."

"Se-sebenarnya bukan kebetulan," wajah Hinata semakin memerah tatkala memikirkan kalimat apa yang akan diucapkannya lagi. "Aku sengaja mencarimu dan terus membuatmu memperbaiki mobilku."

"Eh? Kenapa?"

"I-itu karena aku..." Hinata menatap mata biru Naruto. Wajah Hinata sudah semerah kepiting rebus, "Aku menyukaimu, Naruto," ucap Hinata mantap.

Naruto terkejut dengan ucapan Hinata bahkan dia sampai tersedak oleh teh yang ia minum. "A-apa, Hinata? Kau tidak salah? Aku ini cuma montir, berbeda denganmu yang-"

"Aku tidak pernah peduli dengan status, Naruto. Aku menyukaimu, jadi aku ingin kau membalas pe-perasaanku, Naruto."

Naruto menghembuskan napas sebelum menatap mata Hinata. Pemuda itu memegang kedua bahu Hinata. "Kau masih muda, Hinata. Di luar sana, pasti ada laki-laki yang pantas untukmu. Maaf, tapi aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai," ucap Naruto dengan penuh nada pengertian.

Hinata sedikit terkejut dengan jawaban Naruto. Dia sebenarnya sudah bersiap dengan jawaban penolakan Naruto tapi dia tidak pernah berpikir kalau rasanya sesesak ini. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. "Begitu..."

Naruto melepas pegangannya pada bahu Hinata, "Di luar memang masih hujan. Tapi sebaiknya aku pulang saja, Hinata."

Hinata tersenyum sendu, "Oh baiklah. Aku kekamar dulu mengambil uang untuk membayar perbaikan mobilnya."

Begitu Hinata menghilang, Naruto menghembuskan napas. Dia berusaha menstabilkan degupan jantungnya. Padahal ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Hinata tapi kenapa jantungnya berdenyut aneh seperti ini? Belum lagi tiba-tiba saja ia merasa begitu panas.

Tubuhnya terasa sedikit berat dan kepalanya sedikit pusing. "Akh..." erang Naruto sambil memegang kepalanya. Penglihatannya sedikit kabur.

"Naruto?"

Naruto mendongakkan kepalanya menatap Hinata yang kemudian duduk di sebelahnya lagi. "Hina... ta..." ucapnya pelan. Begitu melihat Hinata, tiba-tiba saja tubuhnya semakin memanas, terutama bagian bawah tubuhnya. Ada sesuatu yang menggebu-gebu ingin keluar di bawah sana.

Hembusan napas Naruto mulai menderu. Di lain pihak, Hinata takjub dengan pengaruh obat dari Tayuya. "Naruto, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir sambil menempelkan tangannya ke dahi Naruto.

"Hinata... aku..." mata Naruto terlihat sedikit sayu. Begitu dahinya disentuh Hinata, tubuhnya merespon aneh. Naruto mengambil tangan Hinata yang sebelumnya berada di dahinya. Diciumnya pelan tangan itu, "Kau harum... membuatku ingin..."

BRUK!

Tiba-tiba saja tubuh Hinata terdorong dengan cukup keras di atas sofa. Sekarang posisinya berada persis di bawah Naruto. Naruto terlihat sangat ganas di mata Hinata tapi Hinata menyukainya karena rencananya sudah berhasil. Dengan berani, Hinata mengalungkan tangannya ke leher Naruto. "Lakukanlah, Naruto."

Mata Naruto semakin sayu. Dengan cepat lelaki itu menarik dress Hinata ke bawah sehingga Hinata hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Naruto kemudian dengan cepat menenggelamkan wajahnya di antara dada Hinata. Melepas branya dan memulai aksinya untuk menjajah kedua payudara Hinata. Dari mulai meremas, melumat hingga mengigit.

"Ahhh... Uahhh!" Hinata hanya bisa mendesah dengan wajahnya yang kemerahan. Tentu saja rencananya berhasil. Karena dia sudah memberi Naruto obat perangsang.

.

.

.

Sakura meletakkan pasta saus tomat yang baru dibuatnya di atas meja. Dua piring pasta saus tomat dengan dua gelas jus tomat. Ini semua merupakan makanan dan minuman kesukaan Sasuke. Karena hari ini mungkin menjadi hari terakhir mereka dapat bersama, Sakura rela melakukan apa saja demi Sasuke.

"Bagaimana?" tanya Sakura.

Setelah menelan pastanya, Sasuke menatap Sakura sambil tersenyum kecil, "Tetap enak seperti biasa. Kau sepertinya memang hanya bisa memasak ini saja, Sakura."

Sakura tertawa kecil saat mendengar fakta itu dari mulut Sasuke. Sakura juga ikut menyuap pastanya sendiri. Betapa dia sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dulu, mereka sering sekali menghabiskan waktu berdua seperti sekarang. "Ah, aku senang sekali."

"Aku juga. Aku benar-benar merindukanmu, Sakura," balas Sasuke. Hati pemuda itu benar-benar hangat saat melihat Sakura, bahkan ia bisa memakan masakan Sakura.

Wajah Sakura kembali sendu, "Tapi sebentar lagi kita akan menempuh jalan yang berbeda."

"Maaf, aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan ayahku, Sakura."

Sakura menggeleng kecil, "Kau masih punya ayah, Sasuke. Sebaiknya kau memang menuruti permintaannya. Mungkin Hinata memang gadis yang cocok untukmu."

"Sudah, berhenti membicarakan ini, aku tidak mau melihat wajahmu yang murung itu."

Sakura mengerucutkan bibirnya, "Seperti wajahmu terlihat ceria saja!" balasnya.

Keduanya kemudian saling memandang. Mereka berada dalam posisi yang sama, posisi yang tersakiti karena satu sama lain. Setelah menghela napas, akhirnya mereka melanjutkan acara makan malam mereka.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul enam sore ketika Sakura mencuci piring, gelas dan garpu yang mereka berdua gunakan. Selesai mencuci, Sakura segera menghampiri Sasuke dan berdiri di sampingnya.

Pemuda Uchiha itu bangun dari posisinya dan memeluk Sakura pelan. "Sudah sore, mungkin sebaiknya kau pulang, Sasuke," ucap Sakura sambil membalas pelukan mantan kekasihnya itu.

"Ini berarti mulai sekarang kita benar-benar berpisah, Sakura. Kau yakin kau bisa?" tanya Sasuke sambil melepas pelukannya.

Sakura menatap Sasuke dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, "Sejujurnya aku tidak bisa, Sasuke. Tapi kau sudah memiliki Hinata dan aku juga sudah memiliki... Naruto."

Sasuke mengerutkan dahinya, "Naruto? Kau berpacaran dengannya?" tanya Sasuke seolah tak percaya dengan ucapan Sakura barusan.

Sakura mengangguk pelan, "Itu karena aku sangat marah padamu, Sasuke. Aku bermaksud untuk segera dapat melupakanmu jadi aku memutuskan untuk berpacaran dengan Naruto. Aku..."

"Sudah, Sakura. Bukannya ini hari terakhir kita berdua, jadi jangan bicarakan soal Naruto ataupun Hinata," pinta Sasuke.

Rasanya air mata Sakura sudah benar-benar akan jatuh saat mendengar ucapan Sasuke. Ini hari terakhir mereka dapat bersama. Dada Sakura benar-benar sesak saat memikirkannya.

Sasuke yang begitu sangat mencintai Sakura sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia tidak suka melihat Sakura dalam keadaan seperti ini. Setidaknya hari ini dia harus bisa membuat Sakura bahagia bersama dirinya. "Sakura..." gumam Sasuke sambil mencium pelan bibir Sakura.

Ciuman kali ini begitu penuh akan emosi. Keduanya meluapkan semua emosi mereka yang tertahan belakangan ini. Emosi yang timbul karena ketidakadilan dunia kepada mereka. Keduanya saling menekan kepala satu sama lain demi memperdalam ciuman mereka.

Ciuman mereka akhirnya merubah menjadi lumatan dan perang lidah. Tanpa sadar, Sasuke mendorong tubuh Sakura hingga membentur dinding. Begitu tidak bisa menahan desakan akan oksigen, mereka melepas pagutan mereka.

Napas mereka terengah-engah dengan dahi mereka yang masih menempel. "Sakura, bolehkah? Aku... menginginkanmu," ucap Sasuke di sela napasnya.

Sakura menatap mata kelam Sasuke. Rasanya dia tidak akan bisa menolak permintaan Sasuke untuk malam ini. Ini untuk hari terakhir mereka jadi biarkan mereka bersenang-senang. "Tentu, Sasuke," sahut Sakura.

Dan mereka kembali berciuman sebelum Sasuke menurunkan ciumannya ke leher Sakura. Sebuah jilatan dan gigitan diberikan oleh Sasuke bersamaan dengan kedua tangannya yang menggerayangi tubuh Sakura.

"Engg... Ahhh..." erang Sakura saat tubuhnya mulai merespon semua perlakuan Sasuke.

Untuk hari ini saja, lupakan ikatan antara Sasuke dengan Hinata, lupakan ikatan antara Sakura dengan Naruto. Karena hari ini hanya ada ikatan antara Sasuke dan Sakura.

.

.

.

~To Be Continued~

A/N : Akhirnya chapter 2 update. Terima kasih buat semua yang sudah memberikan review di chapter yang lalu. Semua review akan dibalas via PM. Sekian untuk chapter ini. Bagi yang ingin menumpahkan unek-uneknya, silahkan gunakan kotak review di bawah. Semua review akan diterima dengan senang hati :D