Present "Vampire Academy" by Richelle Mead

Cerita ini milik "Richelle Mead" Saya haya me-remake nya saja.

Awalnya memang banyak pertimbangan mau remake versi Fanfictionnya atau ngga, karena alur yang panjang juga ini buku berseries. But …

Enjoy it!

Warning Typo(s) , GS ,

Main Cast : Xi Luhan (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kim Jongin

Oh Sehun

Cast yang lain akan muncul sejalan dengan berjalannya cerita.

No Bash! If you not like, just don't read it


BAB II

TERLEPAS DARI KEBENCIAN YANG KURASAKAN, aku harus mengakui bahwa Kim Jong-apa-pun-nama-panjangnya lumayan cerdik.

Setelah menggiring kami ke bandara dan menaiki jet milik Akademi, Jongin menatap kami berdua yang sedang berbisik-bisik dan memerintahkan agar kami

dipisahkan. "Jangan biarkan mereka mengobrol," Jongin memperingatkan pengawal yang mendampingiku ke bagian belakang pesawat. "Jika dibiarkan bersama-sama selama lima menit saja, mereka pasti akan langsung menemukan cara untuk melarikan diri."

Aku menatap Jongin dengan angkuh dan bergegas menyusuri lorong pesawat.

Lupakan saja fakta bahwa kami memang sudah merencanakan pelarian diri. Seperti kelihatannya, keadaan tidak terlalu menguntungkan bagi para jagoan kita―atau mungkin lebih tepatnya, para jagowati kita. Begitu kami mengudara, kemungkinan untuk melarikan diri akan semakin tipis. Bahkan, dengan anggapan bahwa keajaiban akan terjadi dan aku sanggup mengalahkan sepuluh pengawal itu, kami akan kesulitan untuk turun dari pesawat.

Tebersit dalam benakku bahwa mereka pasti memiliki parasut yang disimpan di suatu tempat dalam pesawat ini.

Namun, seandainya entah bagaimana aku sanggup menggunakannya, masih ada masalah mengenai keselamatan, mengingat kami mungkin saja mendarat di suatu tempat di Pegunungan Rocky.

Tidak, kami takkan keluar dari pesawat ini sampai mendarat di tengah hutan rimba Montana nanti. Aku harus memikirkan sesuatu pada saat itu, sesuatu termasuk menghindari penangkal-penangkal berdaya sihir di Akademi dan pengawal yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari sekarang. Yeah. Bukan masalah.

Meskipun Luhan duduk di depan bersama si laki-laki Rusia, rasa takutnya seakanakan mengalun ke dalam diriku, berdentam-dentam di dalam kepalaku bagaikan palu. Kekhawatiran yang kurasakan untuknya memicu amarahku. Mereka tak boleh membawa Luhan kembali ke sana, tidak ke tempat itu. Aku penasaran mungkinkah Jongin akan merasa ragu seandainya dia bisa merasakan apa yang kurasakan dan mengetahui semua hal yang kuketahui. Mungkin tidak. Jongin tidak akan peduli. Bagaimanapun, selama sesaat emosi Luhan terasa semakin kuat hingga aku kehilangan orientasi dan seakan-akan sedang duduk di kursinya―bahkan di dalam kulitnya. Terkadang hal seperti ini memang terjadi, dan tanpa peringatan lebih lanjut, Luhan menarikku ke dalam pikirannya. Tubuh tinggi Jongin duduk di sampingku, dan tanganku―tangan Luhan ―menggenggam sebuah botol air minum. Jongin membungkukkan tubuh untuk mengambil sesuatu, sehingga memperlihatkan enam buah simbol kecil yang tertato pada bagian belakang lehernya: tanda molnija. Tanda tersebut terlihat seperti dua buah kilat bergerigi yang menyilang membentuk huruf X. Masing-masing tanda menyimbolkan setiap Strigoi yang berhasil dibunuhnya. Di atas tanda-tanda tersebut ada sebuah garis berliku, menyerupai seekor ular, yang menandainya sebagai seorang pengawal. Tanda sumpah.

Aku mengedipkan mata, berusaha melawan Luhan dan kembali ke dalam kepalaku sendiri sambil meringis. Aku tak suka saat hal itu terjadi. Mampu merasakan emosi Luhan adalah suatu hal tersendiri, tapi menyelinap masuk ke dalam tubuhnya adalah sesuatu yang kami berdua benci. Luhan memandangnya sebagai pelanggaran hak pribadi, jadi biasanya aku tidak memberitahunya saat hal itu terjadi. Tak satu pun dari kami yang bisa mengendalikannya. Ini adalah efek lain dari ikatan yang terjalin di antara kami, ikatan yang tidak kami pahami sepenuhnya. Ada banyak legenda mengenai ikatan batin yang terjalin antara para pengawal dan Moroi yang mereka jaga, tapi tidak pernah ada kisah yang menceritakan tentang sesuatu seperti ini. Kami berusaha meraba-raba melaluinya sebaik mungkin.

Mendekati akhir penerbangan, Jongin menghampiri tempatku duduk dan bertukar tempat dengan pengawal yang duduk di sampingku. Aku terang-terangan berpaling darinya, dan memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Setelah beberapa saat yang sunyi.

Jongin akhirnya berkata, "Apa kau benar-benar bermaksud menyerang kami semua?" Aku tidak menjawab.

"Melakukannya … melindunginya seperti itu―adalah tindakan yang sangat berani." Jongin berhenti sejenak. "Tindakan bodoh, tapi tetap saja berani.

Mengapa kau bahkan berusaha melakukannya?" Aku melirik Jongin, menyingkirkan rambut dari wajah supaya bisa menatap langsung ke dalam matanya. "Karena aku adalah pengawal Luhan." Kemudian aku kembali berbalik menghadap jendela. Setelah beberapa saat yang dipenuhi kesunyian lagi, Jongin berdiri dan kembali ke bagian depan pesawat.

Saat kami mendarat, aku dan Luhan tak punya pilihan selain membiarkan komando itu mengantar kami ke Akademi. Mobil yang membawa kami berhenti di depan gerbang, dan sopirnya berbicara dengan penjaga yang memastikan bahwa kami bukan Strigoi yang berniat untuk melakukan pesta pembantaian. Satu menit kemudian mereka membiarkan kami masuk melewati penangkal-penangkal dan terus ke dalam Akademi. Saat itu kira-kira matahari sedang terbenam―permulaan hari para vampir―dan kampus terselubung oleh bayangan.

Bangunan itu mungkin masih terlihat sama, membentang luas dan bergaya gotik.

Kaum Moroi sangat mementingkan tradisi, tidak ada yang berubah pada diri mereka. Sekolah ini tidak setua yang ada di Eropa, tapi dibangun dengan gaya yang sama. Gedung-gedungnya memiliki arsitektur yang rumit dan menyerupai gereja, dengan puncak-puncak tinggi dan ukiran batu. Gerbang yang terbuat dari besi tempa mengelilingi taman-taman kecil dan pintu-pintu yang tersebar di seluruh penjuru. Setelah tinggal di kampus sebuah college, aku memiliki penghargaan baru terhadap tempat ini, yang lebih menyerupai sebuah universitas daripada sebuah sekolah menengah pada umumnya.

Kami berada di kampus sekunder yang dibagi menjadi sekolah atas dan dasar.

Masing-masing dibangun sekitar alun-alun terbuka berbentuk segi empat yang didekorasi dengan jalan setapak batu serta pepohonan berumur ratusan tahun. Kami langsung menuju alun-alun sekolah atas yang pada salah satu sisinya dipenuhi gedung-gedung akademis, sedangkan asrama dhampir dan ruang olahraga terletak di sisi seberangnya. Asrama Moroi terletak di sisi lain, dan di seberangnya terdapat gedung-gedung administrasi yang juga dijadikan sekolah dasar. Para siswa yang lebih muda tinggal di kampus utama yang terletak lebih ke barat. Di sekitar kampus ada tanah kosong, tanah kosong lain, dan lebih banyak lagi tanah kosong. Lagi pula, kami berada di Montana, berkilo-kilometer jauh nyadari kota lain. Udaranya terasa dingin serta berbau pohon pinus dan dedaunan basah yang membusuk. Hutan yang dibiarkan tumbuh lebat mengelilingi perimeter Akademi, dan pada siang hari kau bisa melihat pegunungan yang menjulang di kejauhan. Saat kami berjalan menuju bagian utama sekolah atas, aku melepaskan diri dari pengawalku dan berlari menghampiri Jongin.

"Hei, Kim! "

Jongin terus berjalan tanpa melihat ke arahku. "Apa kau mau bicara sekarang?"

"Apa kau akan membawa kami ke Jisun?"

"Kepala Sekolah Lee Ji Sun," ralatnya. Di sisi lain Jongin, Luhan menatapku dengan pandangan yang berkata, Jangan macam-macam.

Kata-kataku menghilang saat para pengawal menggiring kami melalui beberapabuah pintu―langsung menuju aula bersama. Aku menghela napas. Kenapa sihorang-orang ini begitu kejam? Setidaknya kan ada sekitar selusin jalan lain untuk mencapai kantor Ji Sun dan mereka malahan membawa kami tepat melewati pusat aula bersama.

Dan tepat saat waktu sarapan pula.

Para pengawal novis―para dhampir seperti aku―dan Moroi duduk bersama sama, makan dan bersosialisasi, wajah-wajah mereka terlihat berbinar karena gosip yang sedang menjadi pusat perhatian di Akademi. Ketika kami melangkah masuk, dengungan bising yang berasal dari pembicaraan mereka langsung terhenti saat itu juga, seakan-akan ada seseorang yang mematikan tombolnya. Ratusan pasang mata berbalik pada kami.

Aku membalas tatapan mantan teman sekelasku dengan cengiran malas, berusaha untuk mengetahui apakah keadaan sudah banyak berubah. Tidak. Sepertinya sama sekali tidak berubah. Lee Eun Soo masih terlihat seperti primadona, cewek jalang terawat sempurna seperti yang kuingat dulu, cewek yang menganggap dirinya pemimpin geng bangsawan Moroi. Jauh ke samping, nyaris-sepupu Luhan yang culun, Yixing, sedang memperhatikan dengan mata yang membulat, masih polos dan lugu seperti dulu.

Dan di sisi lain ruangan … well, ini menarik. Chanwoo . Chanwoo yang malang, yang tidak diragukan lagi patah hati saat Luhan pergi. Chanwoo masih terlihat setampan dulu―mungkin sekarang lebih tampan lagi―dengan penampilan keemasan yang sama dan melengkapi sosok Luhan dengan sangat sempurna.

Kedua mata Chanwoo mengikuti setiap gerak-gerik Luhan. Ya. Dia sudah pasti belum berhasil melupakan Luhan. Sebenarnya, ini menyedihkan, karena Luhan tidak pernah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Sepertinya Luhan berkencan dengan Chanwoo hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan.

Namun, yang kudapati paling menarik adalah Chanwoo sepertinya sudah menemukan jalan untuk melewatkan waktu tanpa kehadiran Luhan.

Di samping Chanwoo, sedang memegangi tangannya, ada seorang cewek Moroi yang terlihat seperti berusia sebelas tahun (tapi harusnya lebih tua dari itu, kecuali Chanwoo memang berubah menjadi seorang pedofilia selama kami tidak ada di sini). Dengan pipi kecil yang ranum dan rambut ikal berwarna pirang, cewek itu terlihat bak boneka porselen. Sebuah boneka porselen yang sangat marah dan kejam. Dia menggenggam tangan Chanwoo dengan erat, menatap Luhan dengan kebencian yang begitu membara hingga mengejutkanku. Apa maksudnya? Aku tidak mengenal cewek itu. Kurasa dia hanya seorang pacar yang cemburu. Aku juga pasti akan marah kalau pacarku menatap seseorang dengan cara seperti itu.

Parade untuk mempermalukan kami ini untungnya berakhir, meskipun tempat yang kami datangi―kantor Kepala Sekolah Ji Sun―tidak bisa dibilang lebihbaik. Nenek sihir itu persis seperti yang kuingat dulu, berhidung lancip danberambut kelabu. Ji Sun bertubuh tinggi dan langsing, sama seperti sebagian besar kaum Moroi, dan dia selalu mengingatkanku pada seekor burung pemakan bangkai. Aku mengenalnya dengan sangat baik karena sering menghabiskan banyak waktu di kantornya.

Sebagian besar pengawal kami langsung pergi setelah Luhan dan aku duduk, sehingga aku tidak terlalu merasa seperti tawanan. Hanya kapten pengawal sekolah, dan Jongin yang tetap tinggal bersama kami.

Mereka mengambil posisi merapat ke dinding, terlihat tenang dan menakutkan, persis seperti yang diwajibkan oleh pekerjaan mereka. Ji Sun melayangkan tatapan marahnya pada kami berdua, lalu membuka mulut untuk memulai serangkaian omelan yang tak diragukan lagi akan sangat

menjengkelkan. Namun suara lembut dan dalam menghentikan perempuan itu.

"Xiluhan"

Aku terkejut dan baru menyadari bahwa ada orang lain di ruangan ini. Sebelumnya aku tidak memperhatikan. Sikap ceroboh untuk seorang pengawal,bahkan untuk seorang novis. Dengan susah payah, Kim Junmyeon bangkit dari sebuah kursi sudut. Pangeran Jumyeon. Luhan langsung berdiri dan berlari menghampirinya, melingkarkan lengan pada tubuh lemah laki-laki itu.

"Paman," bisik Luhan. Suaranya terdengar nyaris menangis saat mempererat pelukannya.

Seraya tersenyum tipis, Junmyeon menepuk punggung Luhan dengan lembut. "Kau tidak tahu betapa leganya aku karena melihatmu selamat, Xiluhan." Junmyeon menatap ke arahku. "Kau juga, Kyungsoo."

Aku mengangguk balik padanya, berusaha untuk menyembunyikan keterkejutanku. Sang pangeran sedang sakit saat kami pergi, tapi ini … ini buruk sekali. Junmyeon adalah ayah Natalie, usianya baru sekitar empat puluh tahun, tapi dia terlihat lebih tua dua kali lipat. Pucat. Lemah. Tangannya gemetar. Hatiku hancur saat melihatnya. Dengan begitu banyak orang jahat di dunia ini, rasanya tidak adil kalau laki-laki inilah yang harus menderita penyakit mematikan, yang mencegahnya menjadi raja.

Secara teknis, Junmyeon bukan paman Luhan―kaum Moroi menggunakan istilah keluarga dengan sangat bebas, terutama untuk kalangan bangsawan―tapi merupakan teman dekat keluarga gadis itu, dan sudah melakukan semua yang mampu dilakukannya untuk membantu Luhan sejak kematian orangtuanya. Aku menyukai Junmyeon, dialah orang pertama yang kehadirannya senang kulihat di tempat ini.

Kepala sekolah Lee membiarkan mereka berdua selama beberapa saat, lalu menarik Luhan kembali ke tempat duduknya dengan sikap tegas.Waktunya untuk ceramah.

Ceramahnya bermutu―salah satu keahlian Ji Sun yang paling hebat, yang seakan-akan menegaskan sesuatu mengenai dirinya. Ji Sun sangat pintar berceramah. Aku bersumpah itulah satu-satunya alasan perempuan itu masuk ke dalam administrasi sekolah, karena aku belum pernah melihat bukti lain yang menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh menyukai anak-anak. Ocehannya mencakup topik yang standar: tanggung jawab, kelakuan gegabah, keegoisan … Blah. Aku langsung mendapati pikiranku melayang jauh, memikirkan segala persiapan dan tindakan yang diperlukan untuk melarikan diri melalui jendela kantornya.

Namun, saat omelannya berpindah padaku―well, pada saat itulah perhatianku kembali.

"Kau, Nona Do, melanggar sumpah paling suci di antara kaum kita; sumpah seorang pengawal untuk melindungi seorang Moroi. Itu adalah kepercayaan besar. Sebuah kepercayaan yang kaulanggar dengan membawa pergi sang putri dari sini. Kaum Strigoi akan membantai keluarga Dragomir dengan senang hati, kau nyaris membantu mereka mewujudkannya."

"Kyungsoo tidak menculikku." Luhan bicara sebelum aku sempat membuka dan suaranya tenang, meskipun sebenarnya dia gelisah. "Aku memang ingin pergi dari sini. Jangan salahkan Kyungsoo."

Nyonya Ji Sun berdecak pada kami berdua dan berjalan mondar-mandir, dengan kedua tangan terlipat di punggungnya yang kurus.

"Nona Xiluhan, sepanjang pengetahuanku mungkin saja kaulah yang merencanakan semua ini, tapi tetap Kyungsoo yang bertanggung jawab dengan memastikan kau tidak melakukannya.. Jika Kyungsoo melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka dia akan memastikan keselamatanmu."Amarahku meledak.

"Aku sudah melaksanakan kewajibanku!" Aku berteriak sambil melompat bangkit dari kursi. Jongin dan Penjaga Sekolah tersentak, tapi mereka membiarkanku karena aku tidak berusaha menyerang siapa pun. Belum.

"Aku memang memastikan keselamatannya! Aku memastikan keselamatannya saat tak seorang pun dari kalian"―aku menggerakkan tangan ke seluruh ruangan―"sanggup melakukannya. Aku membawa Luhan pergi untuk melindunginya. Aku melakukan apa yang terpaksa kulakukan. Sudah jelas kau takkan melakukannya."

Melalui ikatan di antara kami, aku merasa Luhan berusaha mengirimkan pesan pesan yang menenangkan, lagi-lagi mendesakku agar tidak membiarkan amarahmenguasai. Terlambat.

Ji Sun menatapku, ekspresi wajahnya terlihat kosong. "Nona Do, maafkan aku jika tak bisa memahami logika dalam pernyataanmu barusan. Bagaimana mungkin membawa Nona Xiluhan keluar dari lingkungan yang dijaga ketat dan dilindungi sihir bisa dikatakan sebagai melindunginya? Kecuali ada sesuatu yang tidak kauceritakan pada kami?" Aku menggigit bibir.

"Aku mengerti. Well, baiklah kalau begitu. Berdasarkan perkiraanku, satu-satunya alasan kalian pergi dari sini―selain hal-hal baru yang terjadi sesudahnya, tidak diragukan lagi―adalah untuk menghindari konsekuensi dari aksi mengerikan dan merusak yang kalian lakukan tepat sebelum menghilang."

"Tidak, itu bukan―"

"Dan itu hanya membuatku lebih mudah dalam membuat keputusan. Sebagai seorang Moroi, sang putri harus tetap berada di dalam Akademi demi keselamatannya sendiri, tapi kami tak punya kewajiban seperti itu padamu. Kau akan diusir dari sini secepat mungkin."

Kesombonganku langsung menguap.

"Aku … apa?"

Luhan berdiri di sampingku. "Kau tak bisa melakukannya! Dia pengawalku." "Dia sama sekali bukan pengawalmu, terutama karena dia bahkan bukan seorang pengawal. Dia masih novis."

"Tapi orangtuaku―"

"Aku tahu apa yang diinginkan orangtuamu, semoga Tuhan mengistirahatkan jiwa mereka dengan tenang, tapi keadaannya sudah berubah. Nona Do tidak penting. Dia tak pantas menjadi seorang pengawal, dan dia akan pergi dari sini."

Aku menatap Ji Sun, tak bisa memercayai apa yang baru saja kudengar.

"Kau akan mengirimku ke mana? Pada ibuku di Nepal? Apa dia bahkan menyadari kalau aku pergi? Atau mungkin kau akan mengirimku pada ayahku?" Kedua mata Ji Sun menyipit saat mendengar kata terakhir yang terdengar tajam itu. Saat bicara lagi, suaraku terdengar sangat dingin hingga diriku sendiri pun nyaris tak bisa mengenalinya.

"Atau mungkin kau akan berusaha mengirimku untuk menjadi pelacur darah. Coba saja lakukan itu dan kami akan menghilang dari sini malam nanti."

"Nona Do" desis Ji Sun pelan, "kau sudah keterlaluan."

"Mereka berdua memiliki ikatan batin." Suara Jongin yang berat dan beraksen memecah suasana yang sangat tegang itu, dan kami semua berbalik

menghadapnya. Kurasa Ji Sun sudah melupakan kehadiran Jongin di sana, tapi aku tidak. Kehadiran laki-laki itu terlalu kuat untuk diabaikan. Jongin masih berdiri sambil bersandar pada dinding, terlihat bagaikan seorang pengawal koboi dalam mantel panjangnya yang konyol itu. Jongin memandangku, bukan Luhan, kedua mata gelapnya menatap lurus ke arahku. "Kyungsoo tahu apa yang dirasakan Xiluhan. Ya kan?"

Setidaknya aku mendapatkan kepuasan melihat Ji Sun tampak lengah saat melirik aku dan Jongin . "Tidak … itu mustahil. Hal itu belum pernah terjadi lagi selama berabad-abad."

"Ikatan itu terlihat dengan sangat jelas," kata Jongin.

"Aku langsung menduganya saat pertama kali memperhatikan mereka."

Baik Luhan maupun diriku tidak menanggapi ucapan Jongin, dan aku mengalihkan tatapan darinya.

"Itu adalah anugerah," gumam Junmyeon dari sudut ruangan. "Hal langka dan mengagumkan."

"Para pengawal terbaik selalu memiliki ikatan itu," tambah Jongin. "Di dalam kisah-kisah."

Kemarahan Jinsu bangkit lagi. "Kisah-kisah yang berumur ratusan tahun," serunya.

"Tentunya kau tidak menyarankan agar dia tetap tinggal di Akademi setelah semua hal yang sudah dilakukannya, kan?" Jongin mengedikkan bahu.

"Dia mungkin saja liar dan tak tahu sopan santun, tapi jika dia punya potensi―"

"Liar dan tak tahu sopan santun?" selaku. "Memangnya kau ini siapa? Bantuan cabutan?"

"Garda Kim adalah Pengawal sang putri sekarang," kata Jinsu. "Pengawal yang sah."

"Kau menyewa tenaga kerja asing murah untuk melindungi Luhan?" Ucapanku itu memang kasar―terutama karena sebagian besar kaum Moroi dan pengawal mereka merupakan keturunan Rusia dan Rumania―namun pada saat itu komentar tersebut terdengar cukup cerdas dari yang sebenarnya. Dan bukan berarti aku adalah orang yang berhak bicara seperti itu. Aku mungkin saja dibesarkan di Amerika Serikat, tapi orangtuaku orang asing. Ibuku yang seorang dhampir adalah orang Skotlandia―berambut merah, dengan aksen yang menggelikan―dan aku diberitahu bahwa ayahku yang seorang Moroi berasal dari Turki. Gabungan genetis keduanya memberiku kulit sewarna kacang almond, juga penampilan yang lebih suka kusebut sebagai wajah semieksotis putri padang pasir: mata besar berwarna gelap dan rambut berwarna cokelat sangat gelap hingga biasanya terlihat hitam. Sebenarnya aku tidak keberatan jika mewarisi rambut merah, tapi kita harus menerima apa yang kita dapatkan.

Jinsu mengangkat kedua tangannya dalam keputusasaan dan berpaling pada Jongin "Kau lihat? Sama sekali tidak disiplin! Semua ikatan batin dan potensi sangat mentah yang ada di dunia ini takkan pernah bisa menutupi kekurangan tersebut. Seorang pengawal tanpa disiplin lebih buruk daripada orang yang sama sekali bukan pengawal."

"Kalau begitu ajari dia disiplin. Kelas baru saja dimulai. Masukkan dia kembali ke kelas agar dia mendapatkan pelatihan lagi."

"Mustahil. Dia pasti tetap tertinggal jauh dari teman-temannya yang lain."

"Tidak, aku takkan tertinggal," protesku. Tak seorang pun mendengarkan.

"Kalau begitu beri dia sesi latihan tambahan," kata Jongin.

Mereka terus berdebat sementara yang lain memperhatikan adu argumen tersebut seperti sedang menonton permainan ping-pong. Harga diriku masih terluka akibat betapa mudahnya Jongin mengelabui kami, namun terpikir olehku bahwa laki - laki ini mungkin bisa membuatku tetap di sini bersama Luhan. Lebih baik tinggal di lubang neraka daripada berpisah dengan sahabatku. Melalui ikatan di antara kami berdua, aku bisa merasakan percikan harapan yang tumbuh pada diri gadis itu.

"Siapa yang mau mengorbankan waktu tambahan?" tuntut Jinsu "Kau?"

Argumen Jongin tiba-tiba saja berhenti. "Well, itu bukan yang ku―"

Jinsu menyilangkan lengan dengan ekspresi puas. "Ya. Sudah kuduga."

Jelas-jelas sudah kalah, Jongin merengut. Ia melirik ke arah Luhan dan aku, dan aku penasaran apa yang sedang dilihatnya. Dua gadis menyedihkan yang menatapnya dengan bola mata membesar dan memohon? Atau dua orang buronan yang melarikan diri dari sebuah sekolah berkeamanan tinggi dan menggasak setengah warisan Luhan?

"Ya," akhirnya Jongin berkata. "Aku bisa mengajari Kyungsoo. Aku akan memberikan latihan tambahan di samping sesi normalnya."

"Setelah itu apa?" jawab Jinsu marah. "Dia terbebas dari hukuman?"

"Cari cara lain untuk menghukumnya," jawab Jongin. "Jumlah pengawal sudah sangat menurun, jadi kita tak boleh mengambil risiko kehilangan seorang lagi. Terutama seorang perempuan."

Makna yang tak terucap dari perkataan Jongin membuat tubuhku bergidik, dan

mengingatkanku pada ucapanku sendiri mengenai 'pelacur darah' tadi. Hanya ada sedikit dhampir perempuan yang masih menjadi pengawal.

Tiba-tiba Junmyeon bersuara dari sudut tempatnya duduk. "Aku cenderung setuju dengan Garda Kim. Mengirim Kyungsoo pergi dari sini akan sangat disayangkan, menyia-nyiakan sebuah bakat."

Ms. Jinsu memandang ke luar jendela. Di luar sangat gelap. Dengan jadwal nokturnal Akademi, pagi dan sore merupakan istilah yang relatif. Itu artinya jadwal pelajaran pagi dimulai saat matahari terbenam. Selain itu, mereka mewarnai jendelanya agar cahaya tidak menerobos ke dalam.

Ketika dia berbalik lagi, Luhan menatap tepat ke dalam matanya. "Kumohon, Ms. Jinsu. Biarkan Kyungsoo tetap tinggal di sini." Oh, Luhan, batinku. Berhati-hatilah. Menggunakan kompulsi pada seorang Moroi merupakan hal yang berbahaya―terutama di hadapan banyak saksi. Namun Luhan hanya mengerahkan sedikit kemampuannya, dan kami membutuhkan semua bantuan yang bisa kami dapatkan. Untungnya, tak seorang pun tampak menyadari apa yang sedang terjadi.

Aku bahkan tidak tahu apakah kompulsi tersebut memberi pengaruh atau tidak, tapi akhirnya Jinsu menghela napas.

"Jika Nona Do tetap tinggal di sini, ini syaratnya." Jinsu berbalik menghadapku. "Statusmu di St. Vladimir adalah sebagai murid percobaan. Jika

melanggar batas sekali saja, maka kau akan dikeluarkan. Kau harus menghadiri semua kelas dan pelatihan yang diwajibkan untuk para novis seumurmu. Kau juga akan berlatih bersama Garda Kim setiap ada waktu luang―sebelum dan sesudah masuk kelas. Di luar semua itu, kau dilarang melakukan setiap kegiatan sosial, kecuali waktu makan, dan kau akan menghabiskan waktumu di asrama. Jika kau gagal melaksanakan semua itu, maka kau akan … diusir."

Aku tertawa gusar. "Dilarang melakukan semua kegiatan sosial? Apa kau berusaha memisahkan kami berdua?" Aku menganggukkan kepala ke arah Luhan.

"Apa kau takut kami akan melarikan diri lagi?"

"Aku hanya mengambil tindakan pencegahan. Aku yakin kau pasti ingat, dirimu tidak pernah mendapat hukuman yang pantas atas tindakan menghancurkan properti sekolah. Kau harus menebus banyak hal." Bibir tipis Jinsu membentuk garis lurus. "Kau telah mendapatkan tawaran yang sangat murah hati. Kusarankan agar kau tidak membiarkan perilakumu menyia-nyiakan kesempatan itu."

Aku baru saja hendak mengatakan bahwa tawarannya sama sekali tidak murah hati, tapi langsung berhenti ketika menangkap tatapan Jongin. Tatapannya sulit dibaca, mungkin saja dia sedang mengatakan bahwa dirinya percaya padaku.

Mungkin saja dia berusaha mengatakan bahwa aku idiot karena bersikukuh melawan Jinsu. Aku tidak tahu

Aku mengalihkan pandangan dari laki-laki itu untuk kedua kalinya dalam pertemuan ini, memandangi lantai, dan menyadari bahwa Luhan ada di sampingku, memberikan dukungan melalui ikatan kami. Akhirnya, aku menarik napas lalu mendongak menatap sang kepala sekolah.

"Baiklah, kuterima tawarannya."

copyright©2007


Ini Cerita bukan fokus Hunhan atau Kaisoo. Main character di sini Kyungsoo sebagai Pengawal Luhan. Aslinya saya juga bingung antara siapa yang jadi pengawal waktu awal remake cerita ini. tapi asli serius, Character kyungsoo di sini beda dari Kyungsoo yang biasanya. jadi maaf kalo memang ngga sesuai dengan harapan reader semua T.T

Tapi cerita ini tetep ada romance Kaisoo dan Hunhan , so just please wait.

Kayaknya masih ada yang bingung, sama cerita ini. Di tunggu aja chapter selanjutnya, penjelasnnya berjalan sesuai jalannya cerita kok.

Semua tokoh di sini vampire, tapi dengan jenis yang berbeda reader^^.

Ada yang bingung siapa yang jadi Dhampir dan siapa yang jadi Moroi ya? Dalam cerita sudah dijelaskan kok. baca dengan teliti yaa.

Ras Dhampir adalah setengah manusia, setengah vampir

Ras Moroi adalah ras vampire yang masih 'hidup', bisa mati, bisa memakai sihir

Strigoi adalah kaum vampir jahat yang mampu hidup abadi, dan mereka bisa bertambah kuat dengan meminum darah Moroi

Love!