Heiwajima Shizuo mengerang di dalam tidurnya. Badannya masih mengajaknya untuk terus larut di dunia mimpi tetapi suara tangisan bayi milik tetangganya sungguh menganggu tidurnya. Suara tangisan terdengar semakin keras dan Shizuo sudah dibatas kesabarannya. Sambil menggerutu kesal, ia bangun dan berjalan keluar kamar. Mungkin ia perlu memberi sebuah 'peringatan' kepada tetangga itu agar mereka bisa mengurus bayinya dengan benar.

"Holyf*ck!" Shizuo terkejut saat membuka pintu depan apartemennya dan mendapati sebuah keranjang piknik berisi bayi diletakkan di depan apartemennya. Bayi yang ternyata adalah sumber suara tangisan yang mengganggu tidurnya. Di dekat keranjang terdapat kardus yang berukuran cukup besar. Di kardus itu tertempel sebuah amplop yang tanpa pikir panjang langsung Shizuo buka dan membaca isi suratnya.

Shizu-chan,

Ingat malam panas kita beberapa bulan yang lalu? Bayi inilah hasilnya~

Omedeto! Kamu sekarang jadi papa, Shizu-chan~

Kamu sekarang pasti berpikir bagaimana aku yang laki-laki ini bisa mengandung, bukan? Oke, aku akan memberi tahumu sebuah rahasia yang aku dan Shinra sembunyikan selama lebih dari satu setengah tahun. Sebenarnya, Shinra sedang melakukan sebuah percobaan. Percobaan tentang pembuatan bayi tanpa menggunakan rahim dan sel telur perempuan. Dia memintaku untuk menggunakan spermamu dan spermaku sebagai bahan percobaan dan mencampurkannya di sebuah tempat yang dia ciptakan seperti rahim perempuan. Jadi, aku memang tidak mengandungnya tetapi secara DNA, dia adalah anak kita.

Nah, sudah 8 bulan aku mengurusnya sejak dia lahir. Sekarang giliranmu, Shizu-chan. Aku sudah menyiapkan pakaian, susu, dan segala perlengkapannya di dalam kardus ini. Jaga dan urus anak kita baik-baik ya, Shizu-chan~

Izaya

Selesai membaca surat itu, amarah Shizuo memuncak. Tanpa sepengetahuannya, Izaya dan Shinra telah menggunakan bagian dari tubuhnya untuk sebuah percobaan. Terlebih lagi, percobaan pembuatan bayi. Kenapa Shinra tidak memberitahunya sejak awal? Dia kan ingin melihat juga saat anaknya lahir. Izaya. Pasti Izaya yang menyuruh Shinra untuk merahasiakan masalah ini darinya. Iya, pasti Izaya. Nomimushi sialan itu selalu saja membuatnya marah dan kesal.

"III-ZAAA-YAAAAAA!" raung Shizuo murka sambil meremat surat di tangannya. Raungan itu membuat bayi yang ada di dalam keranjang berhenti menangis sejenak. Sedetik kemudian dia menangis lagi lebih kencang. Membuat Shizuo sadar bahwa dia harus menenangkannya. Shizuo mengeluarkannya dari keranjang dan menggendongnya dengan sangat hati-hati agar kekuatannya yang diatas manusia normal tidak menyakiti bayi itu. Sebuah kalung emas berbandul lingkaran kecil yang diukir membentuk sebuah lambang keluarga* terjatuh dari tubuh bayi yang diangkat oleh Shizuo. Shizuo mengerutkan alisnya, mengambil kalung yang jatuh itu dengan tangannya yang sedang bebas. Mungkin kalung itu milik Izaya, pikirnya. Ia meletakkan kalung itu di atas meja lalu fokus kembali ke bayi di tangannya yang terus-terusan menangis.

"Oh shit! Maafkan aku oke? Aku tidak bermaksud berteriak di depanmu…" Shizuo mencoba menenangkannya tetapi tangisan bayi itu tidak kunjung berhenti. Shizuo merasa kepalanya pusing seketika. Ia yang selama ini selalu tinggal sendirian, mendadak harus mengurus seorang bayi. Tentu saja ia tidak tahu bagaimana caranya mengurus bayi. Dengan sepengetahuan seadanya, ia mencoba menggendong bayi itu sambil mengayun-ayunkannya dan menepuk-nepuk paha bayi itu dengan pelan.

"Kumohon berhentilah menangis… Apa jangan-jangan kau lapar ya?" Shizuo berpikir, sejak kapan Izaya meletakkan bayi ini di depan pintu apartemennya? Kenapa dia tidak membangunkannya? Cih, pasti untuk memberinya kejutan dan membuatnya kesal. Kemudian Shizuo teringat susu yang ada di dalam kardus yang masih berada di depan pintu apartemennya. Ia meletakkan bayi itu di atas tempat tidurnya dan keluar untuk mengambil kardus. Kardus yang lumayan besar itu berisi sekaleng susu, 2 buah kardus kecil berisi makanan bayi, pakaian, popok, peralatan makan, peralatan mandi, dan sebuah tas untuk menggendong bayi. Shizuo mengambil kaleng susu dan botol susu lalu beranjak ke dapur. Sedetik kemudian dia sadar, dia tidak tahu bagaimana caranya membuat susu untuk bayi. Memang dia sangat menyukai susu tetapi itu adalah susu yang sudah siap saji yang selalu diminumnya. Dia teringat bahwa ada tetangganya yang satu lantai dengan dirinya yang mempunyai seorang anak yang masih kecil. Mungkin dia bisa membantunya untuk mengurus bayi ini. Sambil menggendong anaknya yang masih terisak dan membawa susu serta botolnya, ia beranjak keluar dari apartemennya.

Shizuo mengetuk pelan pintu masuk apartemen bernomor 305. Pintu terbuka dan seorang wanita sekitar 40 tahunan sedikit terkejut mendapati tamunya adalah Heiwajima Shizuo. Sedikit gemetaran, ia membuka lebar pintu depannya.

"A-ada yang bisa kubantu, H-heiwajima-kun?" tanya wanita itu dengan hati-hati. Terdengar jelas dari suaranya, ia sangat gugup berhadapan dengan orang yang terkenal dengan sebutan monster Ikebukuro itu. Dia tahu, kalau dia salah omong sedikit saja dan membuat laki-laki di depannya itu marah, apartemennya sudah pasti akan hancur berantakan.

"Ah, bisakah Anda membantu saya membuatkan susu bayi untuk dia?" pinta Shizuo dengan sopan sambil menyerahkan susu dan botol kepada wanita di depannya. Dia terlihat tersentak kaget saat melihat ada seorang bayi yang masih terisak di tangan Shizuo yang lain. Shizuo menatapnya tajam agar dia tidak bertanya apa-apa.

"A-ah! Tentu saja. Tunggu sebentar ya," Wanita itu menerima susu dan botol dari Shizuo kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.

Shizuo menunggu di luar, masih berusaha menenangkan anaknya. Ia menatap bayi di tangannya. Kalau dilihat-lihat, bayi ini memang mirip dengan dirinya. Rambutnya hitam kecoklatan, mirip dengan warna rambut asli miliknya. Warna iris matanya pun mirip dengannya, coklat muda. Garis wajahnya pun mirip sekali dengan dirinya saat kecil. Mungkin anak ini terlalu banyak mengambil gen miliknya, pikir Shizuo.

Lima menit berlangsung. Wanita itu kembali di depan Shizuo dengan buru-buru dan menyerahkan botol susu yang sudah terisi penuh beserta kaleng susu kepada Shizuo. "Ini, silahkan."

"Terima kasih banyak. Permisi," ucap Shizuo sambil membungkukkan badannya.

"Ya, sama-sama."

Belum ada selangkah Shizuo beranjak dari depan pintu apartemen nomor 305, ia berhenti dan menatap wanita yang masih berdiri di depan pintu. "Ah, Satou-san, bisakah saya minta tolong sekali lagi."

"Ya?"

"Tolong mandikan dia."

###

Tanaka Tarou: Aku dengar Heiwajima Shizuo ternyata memiliki seorang anak. Apa kalian tahu?

Setton: anak?

Tanaka Tarou: Ya. Ada rumor mengatakan kalau hari ini Heiwajima-san pergi bekerja sambil menggendong seorang bayi.

Kanra: Pasti hasil dari hubungan gelap, ne~

Tanaka Tarou: eh?

Kanra: Maa, kalau dipikir-pikir Heiwajima-san bekerja sebagai bodyguard seorang debt collector, pasti diantara orang-orang yang mereka datangi, ada satu dua orang wanita yang menggunakan tubuhnya untuk menghasut Heiwajima-san. Di samping kekuatannya yang abnormal, tampang Heiwajima-san bisa dibilang tampan, kan?

Setton: benar juga sih…

Kanra: Kudoakan semoga bayi itu baik-baik saja di tangan Heiwajima-san deh~

Tanaka Tarou: Kudengar Heiwajima-san menyukai anak-anak. Jadi, mungkin tidak akan apa-apa.

Kanra: Hahaha semoga~ Well, aku ada urusan jadi harus pergi sekarang. Mata ne~

Tanaka Tarou: Jya mata.

-Kanra is logged out

###

Yokohama, Kanagawa.

Asap rokok mengepul dari mulut laki-laki berhakama hitam yang duduk di tengah-tengah ruangan bernuansa Jepang. Terlihat tattoo naga menghiasi tangan kanannya yang tidak tertutupi oleh kain hakama. Ia kembali mengangkat kiseru**nya dan menghisapnya. Anak-anak buahnya duduk bersimpuh di samping kanan-kiri laki-laki itu. Tiga orang berpakaian hitam-hitam, duduk bersujud di hadapannya. Suaranya yang berat memecahkan suasana yang cukup tegang di ruangan itu.

"Temukan bayi keparat itu. Temukan dan bunuh dia. Bagaimanapun caranya, bunuh semua anggota keluarga Tsugaru. Kalian mengerti?"

"Ya, kami mengerti, Okubo-sama"

###

Hari itu, Heiwajima Shizuo datang ke kantornya sambil menggendong seorang bayi –yang sekarang sudah tidak menangis lagi— menggunakan tas gendong pemberian Izaya. Tangan kirinya membawa tas tangan berisi makanan dan popok ganti untuk anaknya. Peristiwa ini tentunya menjadi berita mengejutkan di segala penjuru Ikebukuro. Shizuo tidak menghiraukan bisikan dan tatapan orang-orang yang dilewati saat dia berjalan menuju kantornya. Kalaupun ada satu dari mereka yang berani bertanya, maka dia akan senang hati menerbangkan orang tersebut beberapa meter ke udara. Sesampainya di kantor, senpainya Tanaka Tom, terkejut melihat Shizuo datang sambil menggendong bayi.

"Shizuo, bayi siapa itu yang kau gendong?" tanya Tom, mendekati Shizuo dan menatap bayi yang ikut menatapnya balik.

"Oh, anakku," jawab Shizuo singkat.

Tom terkejut lagi. "A-anakmu? Dengan?"

"Izaya."

"O-Orihara-kun?! Bagaimana bisa?!"

"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi dia bilang anak ini adalah hasil percobaan Shinra."

"Ah ya, bisa dimengerti," ucap Tom, agak sedikit mengerti dengan penjelasan singkat dari Shizuo. Ia menatap kembali bayi di depan Shizuo dan bermain dengan tangannya. Bayi itu tersenyum dan berusaha memegang wajah Tom. "Omong-omong, siapa namanya? Dia lucu sekali dan wajahnya mirip seperti dirimu."

"Nama?" Shizuo mengerutkan alisnya. Dia baru ingat kalau dia belum tahu siapa nama anaknya ini. Izaya kutu keparat itu juga tidak memberitahunya siapa nama anak mereka di surat yang dia tinggalkan. "Oh, aku lupa menanyakan namanya pada Izaya. Mungkin nanti sore setelah bekerja aku akan menghubunginya."

"Lebih baik kau tidak usah bekerja hari ini, Shizuo. Dia sepertinya akan merepotkanmu."

"Kurasa kau benar. Aku cukup kebingungan mengurusnya sendirian. Tapi... Ah, Vorona!" Shizuo memanggil seorang perempuan berambut pirang yang baru saja memasuki kantor mereka. Vorona, perempuan yang dipanggil Shizuo menoleh dan mendekati tempat Shizuo dan Tom berbincang-bincang.

"Ya, Shizuo-senpai?"

"Bisakah kau hari ini di kantor saja dan menjaganya?" pinta Shizuo sambil menunjuk ke arah anaknya.

Vorona membungkukkan badannya dan menatap bayi yang mengulurkan tangannya berusaha untuk menyentuh muka Vorona. Ia mendekatkan wajahnya, kemudian sebuah tepukan halus mendarat di pipinya dan suara tawa keluar dari bayi itu. Vorona tersenyum.

"Oke."


*Di Jepang, setiap keluarga (terlebih lagi yang terpandang) memiliki sebuah lambang (family crests). Masing-masing lambang berbeda-beda dan memiliki sebuah arti. Lambang keluarga-nya Tsugaru, bisa dilihat disini: http*:*/*/*commons*.*wikimedia*.*org*/*wiki*/*File *% *3AJapanese*_*crest*_*Tugaru*_*Botann*.*svg (hilangin tanda *nya) . Tsugaru sendiri sebenarnya adalah salah satu nama daerah di Aomori. Tapi ada juga keluarga dengan marga "Tsugaru". Menurut sejarah sih, Tsugaru itu keluarga samurai. Silahkan gugling kalau mau tau lebih lanjut~ XD

**kiseru: pipa rokok khas Jepang, yang biasa dipakai Tsugaru itu lho~

A/N: Selamat Idul Fitri bagi yg merayakan!

Fyuh, akhirnya tradisi muter-muter ke rumah sodara pas lebaran plus nemenin sodara piknik kelar juga~ jadinya bisa nyelesein ini~ Sebenernya aku kurang tahu sifat Vorona itu seperti apa, jadi kalau OOC, maafkanlah~ m(_ _)m

Makasih buat yg kemaren udah review~ Makasih juga buat yg udah baca~

Nantikan chapter selanjutnya~ (^_^)/