Naruto © Masashi Kishomoto
All Day I Think of You
[Love within three seconds]
A Narto FanFiction by UchiHaruno Misaki
.
Warn : AU, Rush, OOC, Gejeness, Typo, Bad feel, etc.
Adult content!
[Sasuke x Sakura]
.
Chapter 2
Seorang pria yang tengah serius menekuni tumpukan dokumen di mejanya itu menghentikan gerakan tangannya sejenak ketika mendengar pintu ruangannya diketuk. "Hn, masuk." Ujarnya datar, lalu pria itu kembali menekuni tumpukan dokumen yang berada di atas meja kerjanya.
Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria berhelaian perak melawan gravitasi dengan masker di wajahnya. Pria itu melangkahkan kakinya mendekati meja Direktur tersebut lalu menunduk hormat. "Maaf mengganggu, Presdir. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa perusahaan OAS Corp di Korea telah menerima permintaan kerjasama yang perusahaan kita ajukan," kata pria bermanik onyx sayu itu pada atasannya.
Pria bermanik onyx tajam di hadapannya itu kembali menghentikan kegiatannya dan kini pandangannya terfokus pada sekertaris sekaligus orang kepercayaannya itu. "Hn, aku sudah tahu CEO OAS Corp akan menerimanya karena bagaimanapun juga apa yang kita tawarkan akan membuatnya merasa tergiur." katanya dingin.
Hatake Kakashi hanya dapat tersenyum tipis di balik maskernya ketika mendengar jawaban biasa dari atasannya itu. "Ya, anda memang tidak pernah salah dalam hal berspekulasi Presdir, dan saya rasa beliau tidak mungkin menolak permintaan kerjasama yang sahabat semasa sekolah menengahnya ajukan, bukan?" imbuh Kakashi. Memuji kecerdasan atasannya itu seraya sedikit menyinggung status hubungan antar presdir dan kliennya, tentu membuat Sasuke tersenyum tipis. "Aa, saya lupa satu hal. Tuan Oh ingin bertemu dengan anda sore ini, Presdir. Di sana beliau tengah merayakan keberhasilannya mencetak keuntungan tinggi dalam satu tahun terakhir."
Uchiha Sasuke menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku kebesarannya dan menatap Kakashi datar. "Hn, tentu. Cancel semua jadwalku sore ini hingga besok, aku akan ke Korea sore ini."
Kakashi mengangguk pelan. "Baik Presdir."
Sasuke menggenggam bolpoint-nya dan mulai kembali berkutat dengan tumpukan dokumennya. "Kau boleh keluar, Kakashi." Ujar Sasuke tanpa menatap Kakashi. Kakashi menunduk sopan, lalu membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu setelah kembali menutup pintu itu rapat.
.
.
⇨SasuSaku⇦
.
.
Seorang pria berambut hitam kelam itu berjalan tergesa menghampiri pria berhelaian raven dengan kaca mata tipis ber-frame putih yang bertengger di hidung mancungnya tengah berjalan santai di tengah-tengah hiruk pikuknya bandara itu.
"Selamat datang di Korea, Tuan Uchiha." Sambut seorang pria berkulit putih itu pada Sasuke ketika pria itu baru saja menginjakan kakinya di Incheon Airport.
Sasuke mengangkat tangan kanannya dan melihat jam yang melingkar di sana telah menunjukan pukul enam petang. "Hn." Sahut Sasuke datar setelah melirik pria cantik di depannya itu.
Pria bermata rusa itu tersenyum tipis seraya menunduk sopan pada Sasuke. "Nama saya Xi Luhan. Saya adalah utusan Presdir Oh untuk menjemput anda, Tuan." Ujar pria bersetelan kemeja biru santai itu ramah, "nah, silahkan ikut Saya." Luhan melangkahkan kakinya diikuti Sasuke di belakangnya.
.
.
.
.
.
"Bagaimana perjalanan anda, Tuan Uchiha?" tanya seorang pria tinggi berkulit seputih susu itu seraya sedikit menyunggingkan seringaian tipis di bibirnya.
Sasuke meminum wine di tangannya pelan lalu menatap kliennya itu datar. "Hn, tidak ada yang istimewa." Sahut Sasuke seraya tersenyum datar.
Oh Sehun terkekeh geli melihat tingkah klien asal Jepangnya itu yang terlihat sangat kaku. "Oh, sepertinya dunia bisnis membuatmu lupa daratan, bukan begitu Tuan Uchiha?"
Sasuke meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa yang tengah didudukinya itu. "Hn, seperti inilah diriku." Jawab Sasuke seraya menatap bosan kumpulan manusia yang tengah menggerakan tubuhnya liar di lantai dance di bawah sana.
Sehun menepuk bahu Sasuke akrab. "Santailah sedikit, Sobat. Kita memang seorang direktur dengan nasib puluhan cabang perusahaan yang berada di tangan kita, tapi kau harus sadar. Kita masih sangat muda dan kau ... nikmatilah pesta ini." Ujar Sehun santai, lalu pria yang tak kalah tampan dari Sasuke itu kembali meminum wine-nya.
Sasuke membuka jas formalnya dan menyampirkannya pada sofa, lalu pria bermanik onyx itu menggulung lengan kemeja hitamnya hingga siku. Sasuke kembali menyandarkan tubuhnya seraya melepas kaca mata tipisnya dan mulai memijat pangkal hidungnya pelan. "Sialan kau, Oh Sehun." Umpat Sasuke pelan. Sehun hanya terkekeh geli seraya mengedikkan bahunya tak peduli. Ya, Oh Sehun tak memedulikan Sasuke yang tengah marah padanya.
Marah?
Bagaimana tidak marah? Orang kepercayaan Sehun yang bernama Xi Luhan itu berkata pada Sasuke bahwa acara yang digelar oleh Oh Sehun adalah acara formal, tapi apa ini? Sasuke bahkan ingin sekali rasanya memukul wajah sahabat semasa SMA-nya di Amerika dulu itu karena telah berani memerdaya seorang Uchiha Sasuke.
Sehun tahu betul jika sejak dulu hingga saat ini Sasuke adalah seorang pria yang sangat awam di kalangan sosialita dengan kaum hawa, karena yang berada di otak sahabatnya itu hanya; bekerja, bekerja, dan bekerja. Tak berubah sejak dulu.
Pesta formal untuk merayakan keberhasilannya mencetak keuntungan tinggi dalam satu tahun terakhir? Sehun berbohong, tentu saja. Pesta itu akan diadakan bulan depan, hanya saja pria berkulit seputih susu itu ingin mengenalkan Sasuke pada dunia pria dewasa dengan kaum hawa sebagai pelengkapnya. Tentu saja.
Sasuke merutuki dirinya yang lupa bahwa seorang Oh Sehun tak pernah berubah. Ya, dari dulu pria bermarga Oh itu memang sering memerdaya Sasuke dalam segala hal. Karena kebodohannya kini Sasuke harus menanggung akibatnya. Duduk di dalam ruangan yang paling ia benci ... —club night.
"Sekali-sekali refresh-lah otakmu itu, Sasuke. Aku tahu otakmu sangat cerdas, tapi bukan berarti kau boleh menyiksa kinerja otakmu itu dengan ribuan dokumen pekerjaan, 'kan?" ujar Sehun tanpa dosa seraya kembali meminum wine-nya.
Sasuke menatap pria berhelaian coklat itu datar. "Hn."
"Sehun oppa?" ujar seorang wanita bermata kucing yang berdiri di depan sofa yang kedua pria tampan itu duduki.
Sasuke dan Sehun mengalihkan tatapannya pada seorang wanita berhelaian hitam sebahu dengan dress hitam seksi yang melekat di tubuh sempurnanya. Sehun tersenyum tipis lalu menarik wanita itu pada pangkuannya. "Sedang apa kau di sini, Park Jiyeon?" bisik Sehun di telinga wanita itu.
Wanita bernama Park Jiyeon itu memaksa lepas dari pelukan Sehun dan menatap pria itu dingin. "Harusnya aku bertanya, apa yang kaulakukan di sini, Tuan Oh? Kaubilang kau ada perlu dengan klienmu, tapi apa ini? Kau bermain di belakangku, eoh?"
Sehun tertawa renyah. "Kau marah, Chagiya?" tanya Sehun seraya menggenggam tangan Jiyeon, tapi Jiyeon langsung menepisnya. "Ah, astaga. Betapa lucunya dirimu, neomu yeoppoda."
"Ya! Aku marah padamu!" setelah itu Jiyeon pergi meninggalkan Sehun yang terkekeh geli.
Sasuke menatap Sehun datar. "Siapa dia?"
Sehun menyeringai tipis. "Dia Park Jiyeon, tunanganku. Hm, sepertinya aku harus mengejarnya dan menancapkan kejantananku di lubang kenikmatannya. Kau tahu 'lah, wanita selalu tunduk dengan sentuhan panas," kata Sehun seraya menyeringai penuh arti. "Nah, Uchiha Sasuke ... nikmatilah pestanya." Sehun menepuk bahu Sasuke seraya tersenyum jahil, lalu pria itu meninggalkan Sasuke sendiri di sana.
Sepeninggalan Oh Sehun, Sasuke hanya duduk dengan ditemani satu buah gelas dan tiga botol wine di meja. Sepertinya apa yang dikatakan Sehun ada benarnya, otaknya memang butuh refresing seperti ini. Ya, setidaknya untuk saat ini.
Sasuke bukannya tak pernah minum atau pun tidur dengan wanita. Ia pernah melakukannya, setidaknya setahun sekali dalam 4 tahun terakhir ini dan jika dihitung Sasuke telah meniduri wanita empat kali. Itu pun dipaksa oleh teman semasa kuliahnya ... ya siapa lagi jika bukan Uzumaki Naruto? Sasuke tak pernah merasakan sesuatu yang istimewa ketika meniduri para wanita itu, maka dari itu Sasuke sangat malas untuk melakukan seks jika ia tak terlalu menginginkannya.
Selama dua puluh delapan tahun ia hidup, tak ada satu pun wanita yang menarik perhatiannya dan Sasuke tak terlalu ambil pusing akan masalah itu karena ia pikir itu tidak terlalu penting untuknya. Jika sudah waktunya, ia pasti akan bertemu wanita yang Tuhan pasangkan dengannya. Ingat, semua manusia Tuhan ciptakan berpasangan, dan dari itu Sasuke tak terlalu pusing akan masalah pendamping hidup.
"Annyeonghaseyo,"
Sasuke tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara jernih menyapu indra pendengarnya. Sasuke melirik seorang gadis berhelaian soft pink sebahu dengan gaun malam berwarna putih yang tengah duduk di sampingnya itu sekilas, lalu Sasuke kembali fokus dengan wine-nya.
Gadis itu tersenyum tipis melihat sikap dingin pria di sampingnya itu. "Sepertinya anda bukan warga sipil Korea Selatan, Tuan." Ujar gadis itu ramah.
"Hn."
Gadis itu kembali tersenyum. "Apa boleh aku duduk di sini sebentar?"
"Terserah."
Gadis itu memainkan jari-jemarinya di meja itu seraya melirik pintu masuk dengan tatapan gusar. "Myungsoo oppa kenapa lama sekali? Huh, menyebalkan." Gerutu gadis itu pelan berharap tak ada yang mendengarnya, namun Sasuke cukup jelas mendengar gerutuan gadis itu dan pria itu hanya mendengus pelan.
Dua puluh menit berlalu. Sasuke mulai bosan dan kini tatapannya beralih pada gadis yang tengah menatapnya. "Bisakah kau berhenti menatapku Nona?" ujar Sasuke sedikit risih, namun ketika melihat manik emerald di depannya itu entah mengapa tubuhnya terasa kaku dan dadanya berdesir.
1 ... Onyx — emerald
2 ... Onyx — emerald
3 ... Onyx — emerald
Deg!
Mereka saling menatap selama tiga detik, dan Sasuke sedikit tersentak ketika gadis di depannya itu menyeringai tipis padanya. "Jika kau terganggu ... biarkan aku pergi, Tuan. Terima kasih sudah mengijinkanku duduk di sini." Setelah itu, gadis itu tersenyum datar pada Sasuke dan gadis itu pun mulai menuruni anak tangga menuju lantai dance meninggalkan Sasuke yang terdiam mematung. Entah mengapa Sasuke menyesal telah mengabaikan eksistensi gadis itu dua puluh menit yang lalu.
.
Setelah sampai di lantai dance, Sasuke lihat gadis itu mulai menari mengikuti musik, meliuk-liukan tubuhnya seduktif. Pria raven itu sedikit mendengus ketika melihat beberapa pria di lantai dance mengitari gadis itu, tapi gadis itu hanya menjauh dari mereka dan kembali menari erotis.
Sasuke menyeringai remeh melihat pemandangan itu. Gadis nakal, jika kau tidak ingin dijamah ... untuk apa kau memasuki area singa lapar itu, hn?
Gadis itu terus menari erotis dengan pandangan manik emerald-nya jatuh pada dirinya. Sasuke melihat gadis itu tengah menatapnya dengan kilatan mata yang sulit diartikan. Entahlah ... Sasuke merasakan desiran panas pada tubuhnya ketika ditatap oleh kilatan misterius di kedua manik gadis itu. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Sasuke merasa aneh.
She's so hot, Man!
Sasuke mulai membuka dua kancing teratas kemejanya ketika rasa panas mulai menjalari area tubuhnya, dan ia kembali meminum wine-nya dengan tatapan onyx-nya menatap tajam gadis yang telah berani menggodanya itu. Mereka terus berpandangan.
Sasuke memutar gelasnya, memainkan gelas berisi wine di tangannya seraya mengalihkan tatapan matanya yang sedari tadi terpaku pada manik giok emerald gadis itu. Kini tatapan onyx tajam miliknya tanpa ia sadari telah menggerayangi setiap lekuk tubuh gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, bagai sang singa yang tengah mengintai calon mangsanya. Lalu, kembali tatapannya terpaku pada sepasang iris meneduhkan gadis itu. Tanpa Sasuke sadari kini dirinya tengah menampilkan seringaian tipis di bibirnya dan membuat gadis itu sedikit berjengit melihatnya.
Sasuke dapat melihat gadis itu menghentikan gerakan erotisnya dan memberikan seulas senyum menggoda padanya, lalu gadis itu berjalan pergi dari lantai dance. Sasuke terpaku sejenak, namun sejurus kemudian Sasuke tertawa kecil dan beranjak dari tempatnya. Mulai menuruni anak tangga berjalan mengikuti gadis itu dengan tangan kanan yang ia masukan ke dalam saku celana dan tangan kirinya ia gunakan untuk menyampirkan jas di bahunya.
Ya, ternyata gadis itu telah berhasil menggodanya. Tentunya kini Sasuke tak lagi memedulikan motto hidupnya yang mengutamakan pekerjaan dan harga dirinya yang rela mengejar seorang perempuan. Yang terpenting untuk sekarang ini bagi Sasuke adalah ... mendapatkan gadis itu—gadis yang membuat hatinya berkecamuk hanya karena tenggelam pada tatapan mata emerald-nya dalam waktu tiga detik saja.
—Love at first sight? Tidak, itu kurang tepat, tapi —Love within three seconds lebih cocok untuk sikap Sasuke saat ini. Jangan membuat Uchiha Sasuke tertawa dengan hal itu, tapi jujur Sasuke bingung dengan perasaannya sendiri.
.
Sasuke melihat gadis itu terus berjalan tiga meter di depannya seraya menari asal dan Sasuke terus mengikutinya dengan tenang serta ekspresi wajahnya yang tetap datar. Sasuke terus melewati dan menyusup kerumunan orang yang tengah berpesta dan bercumbu satu sama lain untuk tetap mengikuti langkah gadis itu, tubuh Sasuke semakin mendekat dengan punggung gadis itu. Sasuke mulai mengulurkan tangannya, dan—got it!
Sasuke dapat merasakan tubuh gadis itu sedikit menegang ketika sepasang tangannya dengan berani melingkari pinggang ramping gadis itu dan menariknya pada tubuhnya hingga punggung gadis itu menempel sempurna pada dada bidangnya.
Gadis itu dapat merasakan napas hangat Sasuke menerpa lehernya, Sasuke menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher gadis itu. Menghirup wangi cherry pada sang gadis yang membuatnya mabuk akan aroma itu. Aroma yang membuat darah Sasuke berdesir.
"Hn, siapa namamu?" Tanyanya dengan nada suara yang berat serat akan gairah di dalamnya. Tubuhnya yang menempel pada sang gadis mulai bergerak mengajak sang gadis untuk menari bersamanya.
Gadis itu memutar tubuhnya dan langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher tegas Sasuke dan kembali menari bersama. Tubuh mereka meliuk menari mengikuti dentuman musik, gadis itu semakin memajukan tubuhnya hingga dadanya bersentuhan dengan dada Sasuke.
"Namaku? Bahkan tadi kau tak menanyakannya, Tuan. Apa yang mengubah sikap dinginmu padaku berubah seperti ini. Mm?" sahut gadis itu dengan seringaian penuh kemenangannya.
Sasuke menarik pinggang gadis itu semakin merapat padanya, lalu ia menyatukan keningnya dengan kening lebar gadis itu. Hembusan napas mereka saling bersahutan, Sasuke menutup matanya sejenak dan kembali membukanya.
"Hn, dengar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku dan apa yang sedang aku lakukan ini. Yang pasti," Sasuke sengaja menggantungkan kalimatnya, lalu pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Aku mengiginkanmu, aku ingin kau telanjang di tempat tidurku Nona. Membuka kedua tungkai kakimu untukku! Katakan siapa namamu?" bisik Sasuke dengan nada suara yang semakin memberat karena gairah yang semakin menggebu.
Gadis itu menyeringai tipis di balik bahu Sasuke. "Panggil aku Cherry, Tuan." Bisiknya di telinga Sasuke. "Well, apakah aku harus mengabulkan keinginanmu? Telanjang di ranjangmu? Membuka kakiku untukmu? Kau ingin memasukiku, Tuan? Heh, bahkan aku tak tahu siapa namamu. Aku tidak ingin menerima tamu yang bahkan tidak kuketahui namanya." Sahut gadis bernama Cherry itu seduktif tanpa memedulikan Sasuke yang tengah asik melahap daun telinganya rakus.
Sasuke menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap iris klorofil gadis di depannya itu tajam. "Sasuke, panggil aku Sasuke. Asal kau tahu Cherry, aku tidak menerima penolakan dalam hal apa pun. Aku menginginkanmu dan kau harus mengabulkannya. Telanjang dan membuka kedua belah pahamu untukku." Ujar Sasuke dengan nada memerintah dan tentu membuat Cherry terkekeh geli.
"Sasuke ...," gumam Cherry dengan lirih. Entah mengapa tubuh Sasuke semakin memanas dan berdesir mendengar suara menggoda gadis mungil di dekapannya itu menyebutkan namanya. Hanya seperti ini saja sudah membuat sang bungsu Uchiha bergairah, bagaimana jika pria itu mendengar Cherry meneriakan namanya ketika ia menghujamkan kejantanannya pada lorong kewanitaan gadis itu? Membayangkannya saja telah membuat Sasuke mengeras di bawah sana.
Sasuke mencengkeram pinggang gadis berhelaian soft pink sebahu itu erat ketika jari-jari nakal tangan Cherry menyentuh dada bidangnya yang tertutup kemeja hitam itu seduktif. Pelan tapi pasti napas pria berumur dua puluh delapan tahun itu semakin memberat karena gairahnya yang semakin tak tertahankan, apalagi kini jari-jari lentik nan mungil Cherry dengan berani mengusap seduktif kedua nipple kecoklatan Sasuke yang telah menegang di balik kemeja hitamnya dengan gerakan menggoda.
Sasuke mulai mendekatkan bibirnya pada leher Cherry. Pria itu mengecupnya lembut, menjilatnya seduktif dan menghisapnya kuat sehingga membuat Cherry mendesah pelan. "Ohh—aku tak ingin melakukannya di sini, Sasuke." Bisik Cherry ketika merasakan sebelah tangan Sasuke telah berani meremas salah satu dadanya.
Sasuke melepaskan segala aktivitasnya lalu menatap Cherry datar namun penuh gairah. Tanpa pikir panjang, Sasuke segera menggenggam tangan Cherry dan menariknya keluar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
.
.
.
.
.
Setelah sampai di resort-nya, tanpa aba-aba lagi Sasuke langsung menendang pintu kamar resort dengan kakinya hingga menutup dan terkunci otomatis. Ia mendorong Cherry ke dinding dan tangan kekarnya diletakkan di sisi tubuh gadis itu seolah mengunci tubuh sang gadis untuk pergi ke mana-mana. Bibir tegasnya langsung melahap bibir Cherry rakus, melumat penuh nafsu bibir atas dan bawah gadis itu bergantian.
Jantung Sasuke berdentum keras ketika melakukannya, perasaan asing membuatnya semakin bersemangat mencumbu bibir mungil gadis itu. Sasuke menggigit pelan bibir bawah Cherry seolah meminta ijin untuk masuk. Gadis itu dengan senang hati membuka mulutnya dan lidah Sasuke langsung masuk mengeksplor mulutnya. Lidah mereka berbelit satu sama lain.
"Mmmhhh—!" tubuh Sasuke merinding ketika mendengar suara lenguhan itu dan tak telak membuat libidonya semakin naik dan membuatnya semakin beringas ingin segera menggagahi gadis musim semi itu di ranjangnya.
Sasuke semakin menekan tubuhnya ke arah Cherry sehingga tak ada lagi jarak tak berarti di antara kedua tubuh manusia itu. Sasuke merasa kejantanannya semakin sesak dan menyembul di balik celananya. Maka dengan pasti tanpa melepaskan ciumannya dengan Cherry, Sasuke mengangkat sebelah betis Cherry dan dilingkarkannya pada pinggangnya. Memposisikan letaknya sejenak, setelah pas pria itu langsung mendorong pinggulnya dan menggesek kejantanannya yang masih terbungkus celana itu pada permukaan kewanitaan Cherry yang tehalang sebuah celana dalam hitam menggoda.
"Ohh—!" Sasuke menyeringai di sela ciumannya ketika mendengar gadis itu melenguh.
Selama Sasuke sibuk dengan kegiatannya, tangan kiri Cherry bergerak ke arah lehernya, lalu tangan kanannya ia gunakan untuk membuka kancing demi kancing kemeja hitam Sasuke. Setelah terbuka semua, gadis itu menyusuri dada berbentuk Sasuke terus turun ke abs pria itu. Sasuke kembali merasakan darahnya berdesir ketika merasakan sentuhan itu.
Pinggul pria itu masih setia bergesekkan dengan pangkal paha Sang gadis dan lenguhan nikmat terus mengalun di antara mereka.
"Ahh, Sasuke ...,"
Nah, sejak kapan Sasuke begitu menyukai namanya disebut dengan suara menggairahkan itu? Sasuke melepas segala aktivitasnya dan menatap gadis di rengkuhanya itu tajam. "Hn, kau adalah gadis nakal yang telah berhasil menggodaku, biarkan aku menghukumu ... Cherry." Sasuke menggendong Cherry dan menurunkannya di ranjang king size-nya.
Dengan beringas, ia merobek gaun Cherry dan melepas semua pakaian Cherry dengan paksa hingga gadis itu benar-benar naked sekarang. Sasuke melepas dasi yang masih bertengger di kemejanya yang terbuka lalu ia mengikat tangan Cherry di tiang ranjang itu dengan dasinya. Sasuke mulai membuka ikat pinggangnya dan kemeja hitamnya. Pria itu mengangkangkan kedua kaki Cherry lalu mengikatnya dengan kemeja dan ikat pinggangnya.
Sasuke melepas celananya dan kini hanya boxer saja yang menutupi tubuh indahnya. Sasuke menatap tajam tubuh naked Cherry dan sukses membuat Cherry merona merah. "Hn, ternyata kau bisa merona juga Cherry."
Dan setelah mengatakan itu, bibir tegas Sasuke langsung menyerang leher Cherry kuat, melukis kissmark sebanyak yang ia bisa. Sasuke mengecupi bahu gadis itu hingga ke tulang selangka Cherry. Kedua tangannya sibuk meremas dada Cherry dan memainkan nipple pink itu dengan jari-jari panjangnya yang kekar.
"Aaahh ... Sasuke—!"
Sasuke sudah mulai beralih mengganti tangannya dengan mulutnya. Lidahnya bermain dengan nipple Cherry hingga mengeras. Tangannya yang menganggur kini tengah menggoda kewanitaan Cherry di bawah sana. Dan kembali Sang gadis hanya bisa pasrah serta mendesah, mendesah dan mendesah mengiringi kegiatan pasangan bercintanya.
"Sasuke!"
Jari tengahnya masuk dengan tiba-tiba ke lorong kewanitaan Cherry yang menganga dan mengocoknya lambat, lambat hingga cepat. Sasuke tersenyum puas tanpa menghentikan kegiatannya ketika melihat tubuh Cherry miliknya itu menggeliat gelisah di bawahnya. Sasuke menambah jarinya pada lorong kewanitaan itu dan ibu jarinya ia gunakan untuk memainkan klitoris sang gadis. Mulutnya bergantian menghisap nipple Cherry dan tangannya yang lain masih setia memijat buah dada Cherry.
"Ngghh ... Sasuke!"
Orgasme pertama Cherry sukses keluar dan meluber membasahi jarinya. Sasuke mengeluarkan jarinya dan dengan lidahnya, ia menjilat semua cairan Cherry hingga habis.
Bagai candu, lidahnya tak berhenti sampai di sana. Kini lidah runcing pria itu masuk mengeksplor lorong kewanitaan Cherry rakus. Lidah itu terus keluar masuk hingga lidah panjangnya sukses menemukan sweet spot gadisnya. Kembali Sasuke merasa darahnya berdesir cepat ketika mendengar Cherry mendesah keras karena ulahnya, Sasuke bangga akan hal itu.
"Sasuke! Di sana ... oh, Tuhan!"
Lidah Sasuke terus menghujam spot itu dan meliuk-liukkan lidahnya hingga Cherry kembali orgasme. Napas Cherry terengah-engah, keringat sudah membasahi dahi lebar gadis itu dan tak telak membuat Cherry terlihat sangat sempurna di mata Sasuke. Merasa cukup, akhirnya Sasuke melepaskan semua ikatan pada kedua tangan dan kaki Cherry.
Cherry langsung mendorong tubuh Sasuke berbaring di kasur dan duduk di perutnya. Bibir Cherry mencium lagi bibirnya dan berjalan turun menghisap leher, bahu dan dadanya. Sasuke memejamkan matanya dan menikmati semua perlakuan gadis itu, akal sehatnya sudah hilang entah ke mana. Hanya nafsu dan keinginan tinggi untuk memiliki Cherry yang mengambil alih tubuhnya sekarang.
"Eh?" Cherry sedikit memekik ketika Sasuke kembali mengubah posisi mereka.
"Sudah cukup bermain-mainnya, Kucing nakal. Kita langsung ke inti saja." Sasuke dengan tergesa membuka boxernya dan langsung membuka lebar paha Cherry dan—
Slep!
Tiba-tiba ia memasukkan kejantanannya sekali hentakan ke dalam lorong kewanitaan gadis itu. Cherry berteriak kesakitan, seraya mencengkeram bahu tegap Sasuke erat dan mencakarnya. "Arggh—s-sakit ... Sasuke!"
Darah segar mengalir dari kedua paha Cherry hingga menetes ke bed cover tempat tidur itu. Sasuke sedikit membelalakkan matanya dan tenggorokannya tercekat seketika ia melihat darah itu. "Cherry kau—?" Cherry hanya mengangguk lemah. "Demi Tuhan Cherry! Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?" ujar Sasuke nanar seraya memandang kedua manik emerald itu sayu.
Cherry menggeleng lemah. "Sudah terlanjur ... lanjutkan saja Sasuke." Lirihnya pelan.
Sasuke memejamkan matanya sejenak untuk menetapkan hatinya, lalu setelah itu membukanya kembali. Dengan pelan Sasuke menghapus setitik air mata yang jatuh dari ujung mata Cherry lembut dan mengecup kelopak mata Cherry penuh kasih.
"Aku mulai." Sasuke mulai bergerak. Diawali dengan gerakan pelan, dan rasa sakit di kewanitaan Cherry berangsur-angsur berkurang berganti dengan rasa nikmat tak terkira.
Sasuke semakin beringas dan menggila ketika mendengar Cherry mendesahkan namanya nyaring membuatnya semakin mempercepat gerakannya. Ranjang tempat mereka melakukannya pun ikut bergerak searah dengan gerakannya hingga ranjang itu mendecit-decit nyaring.
"Sasuke, ohhhn—!"
"Hn, kau suka Cherry? Teruslah mendesah Cherry, aku suka suara desahanmu." Bisik Sasuke di telinga Cherry.
"Sasuke ... Sasuke ... Sasuke—!"
Dengan sekali hentakan mereka memcapai titik puncak itu secara bersamaan. Cairan Sasuke memenuhi rahim Cherry. Sasuke memindahkan posisinya sehingga kini ia dalam posisi berbaring di samping Cherry, lalu ia menarik selimut dan memeluk tubuh Cherry miliknya itu erat.
"Selamat tidur ... Cherry."
Karenamu, aku tidak bisa melakukan apa-apa sepanjang hari. Seolah kau telah mengambil hatiku pergi, seolah kau berada di sini di sisiku.
Kenangan malam lalu yang meliuk liar di kepalaku, membuatku tak bisa membebaskan diri, semua karenamu.
Aku akan gila, tidak! Aku sudah gila dan semakin gila karenamu.
Aku mau kau! Aku ingin memilikimu, aku ingin menyentuhmu dalam setiap detik napasku.
Karenamu aku tenggelam dalam dan semakin dalam. Tubuhku dan pikiranku tak berhenti menginginkanmu.
.
.
.
.
.
—oOo—
Sasuke menyandarkan tubuhnya dan menatap jalanan kota Tokyo dengan sendu. "Hn, Cherry menghilang ketika aku bangun keesokan harinya," kata Sasuke miris, "padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa Cherry akan kujadikan milikku seorang dan aku berniat menikahinya, walaupun aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau ... entahlah. Yang pasti aku tak ingin kehilangannya." Sasuke menyisir helaian rambutnya ke belakang dengan jarinya. "Sejak saat itulah hidupku sedikit melenceng dari kehidupanku sebelumnya karena memikirkan wanita itu." Lanjut Sasuke seraya memunum jus tomatnya dengan tenang.
GLEK!
Ketiga pria yang mendengarkan cerita sahabatnya itu kontan saja menelan salivanya susah payah. 'Hanya butuh waktu 3 detik untuk membuat seorang Uchiha Sasuke takhluk padanya? Siapa pun dia ... wanita itu sungguh luar biasa.' Batin ketiga pria itu.
"Mm … hmm, jadi begitu?" Neji berdehem pelan untuk mengisi kerongkongannya yang telah kering dengan salivanya sendiri. Sungguh pria itu tak menyangka jika pria gila kerja seperti Uchiha Sasuke dapat ditakhlukan oleh seorang perempuan yang bahkan tak dikenalnya.
Sai mengambil jus milik Sasuke dan meminumnya tanpa menghiraukan tatapan tajam yang Sasuke berikan padanya. "Oh, jadi kau yang mengambil keperawanan Cherry, Sasuke? Lalu apa yang akan kaulakukan?"
Sasuke menghela napasnya berat. "Entahlah."
Naruto?
Pria tampan yang satu ini tengah melongo sengan darah yang sedikit keluar dari hidungnya. "OI TEME! Itu tidak mungkin, 'kan? Haha kau pasti bercanda!" ujar Naruto seraya tertawa lebar, namun seketika itu pula Naruto menjatuhkan kepalanya di meja caffe dan tentu saja membuat ketiga sahabatnya itu menatapnya heran.
"Mendengar ceritamu membuatku turn-on Teme ... apa yang harus kulakukan-ttebayo?" lirih Naruto putus asa.
Neji menepuk bahu Naruto. "Pergilah. Tuntaskan itu dengan para wanitamu, Naruto." Ujar Neji pengertian, Sai mengangguk setuju dan Sasuke hanya menatapnya datar.
Naruto mengangkat kepalanya kembali dan menatap Sasuke sayu. "Teme ...," lirihnya sendu.
Sasuke menatap Naruto tak suka. "Hn, berhentilah memandangku dengan tatapan menjijikan itu, Dobe." Kata Sasuke sadis.
Neji dan Sai menatap Sasuke dan Naruto curiga. "Apa kalian—"
"Teme ... mengapa nasib kita sama? Mengapa ada wanita yang jahat seperti mereka, Teme? Apa yang harus kulakukan-ttebayo?!" rengek Naruto memotong ucapan Neji.
Sasuke menatap Naruto heran. "Apa maksudmu?" Sai dan Neji hanya mengangguk dan menatap Naruto bingung.
"Aku tidak bisa bercinta dengan para wanitaku gara-gara wanita yang aku perkosa minggu lalu." Ujar Naruto lirih.
"Hn?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Mm?" Neji sedikit membelalakan matanya.
"Apa? Bagaimana bisa?!" tanya Sai dengan wajah penuh senyum seperti biasa.
Dan pada akhirnya Sasuke, Neji dan Sai menatap Naruto tak percaya. Naruto mengangguk kaku dan menatap ketiga sahabatnya itu ragu. "Kejadiannya terjadi seminggu yang lalu—"
.
.
.
.
.
.
/To be continue/
—Pojok review's—
41 : Maaf udah bikin kamu penasaran. Ini udah update, maaf kalo chapter ini mengecewakan.
SHL7810 : Haha. Iya Kak, Sasa bosen ah liat cewe mulu yang galau. Kali-kali cowo tuh yang galau biar setimpal. #Woi. Yup. Makasih ya Kak.
Henilusiana39 : Fanfic ini cuma selingan di tengah-tengah mentoknya feel di fic-fic Sasa. Fic Sasa yang lain ditunggu aja ya.
nay : iya ini udah lanjut.
Guest : Sweet? Padahal chapter kemarin, 'kan belum ada romancenya -,-
chan rei chan : Keren? Jangan terlalu berharap sama fic Sasa ini ya? Sasa paling susah bikin fic kayak gini T.T Semoga tak mengecewakan.
cherryl sasa: Iya ini udah dilanjut. Fic Sasa yang lain ditunggu aja ya? Feelnya lagi mentok(?)
lactobacilu : Keren? Jangan terlalu berharap sama fic ini ya? Jujur fic ini Sasa bikin cuma iseng doang. Alurnya juga Sasa bikin serampangan. Jadi maaf kalo chapter ini mengecewakan atau garing.
guest : Yup. Kali-kali kita tindas tuh para cowo biar ngegalau terus. #Smirk.
Yuum : Terima kasih atas sarannya, Kak. Ya, itu Sasa salah tulis. Harusnya Sasa tulisnya Ego dan Harga diriku. Ya, ini udah dilanjut.
mii-chanchan2 : Haha. Tanggung ya? Maaf deh, ini udah dilanjut dan semoga ga mengecewakan ya.
Namuchi : Ya emang mainstream, tapi Sasa usahain semoga isi ceritanya ngga mainstream.
mitsuki uchiha : Ini udah lanjut. Fic yang lain bukan ditelantarkan, hanya saja feel Sasa buat update next chapternya lagi mentok(?) yang sabar aja ya.
hanazonorin444 : Haha. Ikuti terus ceritanya ya.
assa : Makasih. Buat yang nunggu scene Naruto tunggu chapter 3 ya? Chapter ini Sasuke dulu.
Nagisa : Ini udah lanjut. Makasih.
haruchan : Namanya juga Naruto, pasti ngomongnya aneh-aneh. #Woi. Iya ... buat yang nunggu scene Neji tunggu chapter 4 ya?
mmeow : Smut? Semoga ini sudah cukup buat kamu ya. Sasa ngga tau ini Lemon/Lime/Smut. xD
Guest : Udah dilanjut.
[Log in? Cek PM.]
