Elfjoy137 Present

KYUMIN FANFICTION

Bared To You

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : M

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

DLDR

Please enjoy ^^

Remake Novel by SYLVIA DAY 'Bared To You'.

Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia

P.M : All is Sungmin's POV

Ok. Let's check this out !

.

.

.

~JOYER~

.

.

.


Aku mendongak dan mengamati gedung itu menjulang sampai ke langit. Crossfire benar-benar menakjubkan, puncaknya ramping, biru berkilau dan seolah-olang menghujam awan. Aku tahu dari wawancara-wawancara terdahuluku bahwa bagian interior gedung di sisi lain pintu putar itu juga sama menakjubkannya.

Aku mengeluarkan kartu identitas baruku dari saku celana panjang yang aku kenakan dan mengacungkannya kepada dua orang petugas keamanan bersetelan hitam di belakang meja. Kemudian mereka mengizinkanku masuk. Setelah aku naik lift ke lantai dua puluh, aku akan mendapatkan gambaran berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk menempuh perjalanan dari rumah ke kantor. Bagus !

Saat aku sedang berjalan ke arah deretan lift, tiba-tiba tas seorang yeoja tersangkut di pagar putar. Uang-uang logam pun jatuh berhamburan di lantai marmer itu, dan orang-orang menghindari kekacauan itu dan terus berjalan pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Aku mengernyit bersimpati dan berjongkok membantu yeoja mengumpulkan uangnya, begitu pula salah seorang petugas keamanan.

"Terima kasih," kata wanita itu sambil melemparkan seulas senyum singkat dan cemas kepadaku.

Aku pun balas tersenyum. "Tidak masalah. Aku pernah mengalaminya."

Aku baru saja berjongkok untuk mengambil sekeping uang logam senilai sepuluh won ketika aku berhadapan dengan sepasang sepatu hitam mewah dan sepasang celana panjang hitam berpotongan bagus.

Aku menunggu agar namja itu segera menyingkir dari hadapanku, dan pada saat namja itu bergeming, aku menengadah. Setelan tiga potong yang dibuat khusus sesuai tubuhnya itu menyerang saraf-sarafku., tetapi tubuh jangkung, kuat dan ramping yang ada di balik setelan itulah yang membuat segalanya terasa sensasional.

Tetapi, walaupun seluruh aura jantan itu sangat luar biasa, ketika aku menatap wajah namja itu, aku pun terperangah.

Wow. Hanya … wow.

Namja itu berjongkok di depanku, aku hanya bisa tercengang menatapnya. Ketika pria itu balas menatapku, daya tarik yang dipancarkan namja itu semakin kuat.

Aku bereaksi secara naluriah, sehingga bergerak mundur. Dan aku terjengkang.

Namja itu mengulurkan satu tangannya kearah ku, hal itu secara tidak langsung memperlihatkan jam tangan nya yang terlihat sangat mahal.

Sambil menghembuskan napas dengan gemetar, aku menempatkan tanganku di tangannya. Nadiku melonjak ketika pegangan namja itu mengencang. Namja itu tidak bergerak sejenak, kening diantara alisnya berkerut.

"Apakah kau baik-baik saja?"

Suaranya yang sopan dan halus, suara bass itu membuat isi perutku jungkir-balik. Membuatku berpikir tentang seks. Seks yang luar biasa. Sejenak aku berpikir, dia mungkin bisa membuatku mencapai kenikmatan hanya dengan berbicara selama beberapa saat.

Bibirku terasa kering, jadi aku menjilat bibir ku sebelum menjawab. "Aku baik-baik saja."

Ia berdiri, menarikku berdiri bersamanya. Kami masih bertatapan karena aku tidak mampu mengalihkan pandangan. Namja itu lebih muda daripada yang kuduga pada awalnya. Aku tebak umurnya kurang dari tiga puluh tahun, tetapi matanya lebih berpengalaman dari usia nya. Keras, tajam dan cerdas.

Aku mengerjapkan mata, membuyarkan lamunan, dan melepaskannya. Ia tidak hanya tampan, ia … menakjubkan.

Namja ini merupakan jenis namja yang membuat yeoja ingin merobek pakaiannya dan melihat kancing-kancingberhamburan. Aku menatapnya dalam setelannya yang sopan, modern, dan sangat mahal itu dan berpikir tentang seks yang liar dan penuh gairah.

Namja itu membungkut dan mengambil kartu identitasku yang terjatuh tanpa kusadari, membebaskanku dari tatapannya yang mengundang. Otakku kembali berfungsi.

Aku kesal pada diriku sendiri karena merasa begitu canggung sementara namja itu begitu tenang.

Namja itu mendongak menatapku, dan posisinya –yang nyaris berlutut dihadapanku –kembali mengguncang keseimbangan diriku. Ia menatap mataku sementara ia berdiri. "Apakah kau yakin kau baik-baik saja ? Seharusnya kau duduk sebentar."

Wajahku memanas. Menyenangkan sekali terlihat canggung dan kikuk di depan namja paling percaya diri dan paling anggun yang pernah kutemui. "Aku hanya kehilangan keseimbangan. Aku baik-baik saja."

Yeoja yang menjatuhkan isi tas nya tadi, menghampiriku, meminta maaf dengan berlebihan. Aku menghadapnya dan mengulurkan setangkup uang logam yang kukumpulkan, tetapi tatapannya terpaku pada si dewa bersetelan jas dan ia langsung melupakan keberadaanku.

Aku mengulurkan tanganku dan memasukkan uang-uang logam itu ke dalam tas yeoja itu. Lalu aku melirik namja itu kembali, mendapati dirinya mengamatiku walaupun si yeoja sibuk berterima kasih pada namja itu. Bukan kepadaku.

Aku menyela ocehan yeoja itu. "Boleh kuambil kartu ku?"

Namja itu mengulurkannya padaku. Walaupun aku berusaha keras menerima kartu itu tanpa menyentuh namja itu, jemarinya menyapu jemariku, lagi-lagi mengirimkan getaran kesadaran yang menjalari diriku.

"Terima kasih." Gumamku sebelum berjalan melewatinya dan berjalan ke jalan raya melalui pintu putar.

Aku berhenti sejenak di trotoar. Ada Bentley SUV hitam mengkilap di depan gedung, dan aku melihat bayanganku sendiri di jendela-jendela hitam limusin yang bersih tanpa noda itu. Wajahku memerah dan mataku yang hitam terlihat cerah.

Aku pernah melihat ekspresiku seperti ini –dicermin kamar mandi tepat sebelum aku naik ranjang bersama seorang namja. Itu adalah ekspresi aku-siap-bercinta dan ekspresi ini seharusnya tidak ada di wajahku sekarang.

Ya ampun. Kendalikan dirimu, Lee Sungmin.

Lima menit bersama Dark and Dangerous , dan aku langsung merasa resah dan gelisah.

"Sudah cukup," aku mengomeli diri sendiri dengan suara lirih. "Teruslah berjalan."

Kemudian aku bergabung dalam arus pejalan kaki dan berjalan ke gym , seulas senyum tersungging di bibirku. Ah, Seoul, pikirku, merasa tenang kembali.

.

.

.

.

.

Aku berencana melakukan pemanasan di atas treadmill, lalu menghabiskan waktu dengan beberapa peralatan lain, tetapi ketika aku menyadari bahwa kelas kickboxing pemula akan dimulai, aku mengikuti kerumunan murid-murid yang menunggu ke dalam kelas itu.

Pada saat kelas itu berakhir, aku merasa lebih seperti diriku sendiri. Otot-ototku gemetar karena lelah, dan aku tahu aku akan tidur nyenyak ketika aku pulang nanti.

"Kau melakukannya dengan sangat baik."

Aku mengelap keringat di wajah dengan handuk dan menatap pria muda yang berbicara padaku. Ia bertubuh kekar, berotot, dan kulit cokelat yang eksotis.

"Terima kasih." Mulutku berkerut menyesal. "Sangat jelas bahwa ini adalah pengalaman pertamaku,bukan?"

Namja itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangan. "Choi Siwon."

"Lee Sungmin." Jawabku.

"Kau memiliki keanggunan alami, Sungmin. Dengan sedikit latihan, kau pasti akan hebat. Di kota seperti Seoul, mempelajari ilmu bela diri sangat penting." Ia menunjuk papan gabus yang tergantung didinding. Papan itu dipenuhi kartu-kartu bisnis dan brosur. Ia merobek sepotong kertas dari bagian bawah sehelai kertas warna-warni dan mengulurkannya padaku.

"Pernah mendengar tentang Krav Maga?" Tanyanya.

"Dalam film yang dibintangi Jennifer Lopez." Jawabku.

"Aku mengajar Krav Maga, dan aku ingin melatihmu. Itu situsku dan nomor telpon studio nya."

Aku mengagumi pendekatannya. Pendekatannya langsung, seperti tatapannya, dan senyumnya tulus.

Siwon bersedekap, menunjukkan otot lengannya yang keras. Ia mengenakan kaus hitam tanpa lengan."Di situsku tertulis jadwal-jadwal kelasnya. Kau boleh mampir dan menonton sebentar, untuk memastikan apakah kelas itu sesuai untukmu."

"Akan kupertimbangkan."

"Lakukanlah." Namja itu mengulurkan tangannya lagi dan menjabat tanganku. "Kuharap aku bisa bertemu denganmu lagi."

.

.

.

.

.

Aroma harum tercium di apartemen ketika aku pulang, dan suara music pun memenuhi seluruh ruangan. Aku menatap keseberang ruangan ke arah dapur dan melihat Donghae menari mengikuti irama music sambil mengaduk-aduk sesuatu di atas kompor.

Ada sebotol anggur yang sudah dibuka diatas meja dan dua gelas, salah satunya berisi anggur merah.

"Hei," seruku ketika aku berjalan mendekat. "Sedang masak apa? Dan apakah aku punya waktu untuk mandi dulu?"

Donghae menuangkan anggur ke gelas yang satunya lagi dan mendorongnya melintasi meja sarapan kearahku, gerakannya terlatih dan anggun. "Pasta dengan saus daging. Tunda dulu acara mandinya, makan malam sudah siap. Apakah kau bersenang-senang?"

"Begitu aku tiba di gym , ya." Aku menarik salah satu bangku bar lalu duduk. Kuceritakan tentang kelas kickboxing dan Choi Siwon. "Mau ikut denganku?" Tanyaku kepada Donghae.

"Krav Maga?" Donghae menggeleng. "Olah raga itu sangat keras. Tubuhku pasti memar-memar dan aku akan kehilangan pekerjaan. Tapi aku akan ikut denganmu, memeriksa keadaan, kalau-kalau namja itu ternyata orang yang jahat."

Aku mengamati Donghae menuang pasta ke dalam saringan yang sudah menunggu. "Orang jahat, huh?"

"Baby girl," kata Donghae sambil mengeluarkan mangkuk-mangkuk dari lemari, "kau adalah wanita yang seksi dan menakjubkan. Aku mencurigai semua pria yang tidak berani mengajakmu berkencan secara langsung."

Aku mengerutkan kening menatap Donghae.

Donghae meletakkan mangkuk di hadapanku, mangkuk itu berisi pasta dengan saus daging yang tadi dibuat namja itu. "Ada yang mengganggu pikiranmu. Apa?"

"Kurasa aku berpapasan dengan namja paling seksi di planet ini, hari ini. Mungkin namja paling seksi dalam sejarah dunia."

"Oh? Kupikir orang itu adalah aku. Ceritakan lebih banyak." Donghae pun lebih memilih makan sambil berdiri.

Aku mengamatinya melahap hasil masakannya sendiri sebelum aku merasa cukup berani untuk mencobanya sendiri. "Tidak banyak yang bisa diceritakan, sungguh. Aku jatuh terduduk di lobi Crossfire dan dia membantuku berdiri."

"Tinggi atau pendek? Pirang atau gelap? Kekar atau ramping? Warna mata?"

Aku meneguk anggur setelah suapan kedua."Tinggi. Gelap. Ramping dan kekar. Mata onyx. Kaya raya, menilai dari pakaian dan aksesorisnya. Dan dia teramat sangat seksi. Kau tahu seperti apa –ada beberapa jenis namja yang tidak bisa membuat hormon-hormon mu menggila, tetapi ada beberapa jenis namja tidak menarik yang memiliki daya tarik seks yang teramat besar. Namja ini memiki semuanya."

Donghae bertopang siku diatas meja dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jadi apa yang terjadi setelah dia membantumu berdiri?"

Aku mengangkat bahu. "Tidak ada."

"Tidak ada?" Tanyanya kaget.

"Aku pergi." Jawabku kemudaian.

"Apa? Kau tidak menggodanya?"

Aku menelan sesuap lagi. "Dia bukan jenis namja yang bisa digoda, Donghae."

"Aku tidak bisa membayangkan namja ini menyenangkan," kataku. "Dia terlalu tajam. Tetapi, aku yakin dia luar biasa diranjang dengan seluruh ketajamannya itu."

"Nah, itu dia. Lupakan dirinya yang nyata. Gunakan saja wajahnya dalam khayalanmu dan jadikan dia sosok yang sempurna disana." Ucap Donghae. Aku pun hanya mengangguk, dan menghentikan obrolan tentang namja itu.

Setelah makan malam, aku baru menyadari ada dua kotak hadiah berukuran besar yang diletakkan di sisi salah satu sofa.

"Apa itu?" Tanyaku.

"Itu," Donghae pun ikut bergabung denganku di ruang duduk, "adalah hadiah utamanya."

Aku baru tahu bahwa hadiah-hadiah itu berasal dari Kangin dan ibuku. "Apa lagi sekarang?"

Donghae merangkul bahuku, dengan cukup mudah karena ia sepeluh sentimeter lebih tinggi dariku. "Jangan bersikap tidak tahu terima kasih begitu. Dia mencintai ibumu. Dia suka memanjakan ibumu, dan ibumu suka memanjakanmu. Walaupun kau tidak suka, dia tidak melakukannya untukmu. Dia melakukannya untuk ibumu."

Aku mendesah dan mengakui kebenaran kata-kata Donghae. "Apa itu?"

"pakaian indah untuk jamuan makan malam penggalangan dana untuk pusat advokat hari Sabtu nanti. Gaun yang luar biasa untukmu dan tuxedo Brioni untukku.

Donghae menggenggam tanganku lalu menarikku. "Ayo, lihatlah!"

.

.

.

.

.

"Hai, Megumi," aku menyapa sang resepsionis wanita yang berada dibalik meja berbentuk bulan sabit sambil melangkah masuk. Kini aku sudah berada di ruangan Waters Field & Leaman, kantorku.

"Sungmin, hai. Hangeng belum datang, tapi kau tahu harus ke mana, bukan?"

"Tentu saja." Aku melambai dan membelok ke koridor di sebelah kiri meja resepsionis, berjalan sampai ke ujung, lalu berbelok ke kiri lagi dan berakhir di ruangan yang dulunya terbuka dan kini di partisi menjadi bilik-bilik. Salah satu bilik itu adalah milikku dan aku langsung berjalan kesana.

"Selamat pagi, Sungmin."

Aku berdiri dan menghadap bosku. "Selamat pagi Tuan Tan."

"Panggil saja aku Hangeng. Ikutlah aku ke kantor ku."

Aku mengikutinya melintasi koridor. Ia menunjuk salah satu dari dua kursi di depan meja kerjanya yang terbuat dari kaca, dan menunggu aku duduk lebih dulu sebelum ia sendiri duduk dikursinya. Sebenarnya ia hanyalah manajer junior, dan kantornya hanya menyerupai lemari dibandingkan dengan kantor-kantor yang ditempati para direktur dan eksekutif, tetapi tidak seorangpun bisa menemukan kekurangan dari pemandangan di kantor ini.

Hangeng bersandar dan tersenyum. "Apakah kau sudah selesai beres-beres di apartemen barumu?"

Aku terkejut ia mengingatnya, tetapi aku menghargainya. Aku bertemu dengannya pada wawancara keduaku dan langsung menyukainya.

"Sebagian besar sudah," sahutku. "Masih ada beberapa kardus disana-sini."

"Kau pindah ke sini dari Ilsan, bukan? Tempat yang indah tapi sangat berbeda dengan Seoul."

Aku pun hanya mengangguk menanggapi ucapannya.

"Jadi… ini hari pertamamu dan kau adalah asisten pertamaku, jadi kita harus memikirkan bagaimana melakukan semua ini. Aku tidak biasa mendelegasikan pekerjaan, tapi aku yakin aku bisa membiasakan diri dengan cepat."

Aku langsung merasa santai. "Aku ingin kau mendelegasikannya kepadaku."

"Memilikimu disini adalah langkah besar untukku, Sungmin. Aku ingin kau merasa senang bekerja disini. Apakah kau minum kopi?"

"Kopi adalah salah stau kelompok makanan utamaku." Ucapku.

"Ah, asisten yang sesuai untukku." Senyum Hangeng melebar.

"Aku tidak akan memintamu mengambilkan kopi untukku, tapi aku tidak keberatan apabila kau membantuku mencari tahu bagaimana menggunakan mesin pembuat kopi yang baru saja mereka pasang diruang istirahat."

Aku tersenyum lebar. "Tidak masalah."

"Menyedihkan sekali bukan, karena aku tidak punya hal lain untukmu?" ia mengusap bagian belakang lehernya dengan malu-malu. "Bagaimana kalau kutunjukkan pekerjaan-pekerjaan yang sedang ku kerjakan dan kita akan melanjutkannya dari sana?"

Aku pun hanya mengangguk setuju.

.

.

.

.

.

Sisa hari itu berlalu tanpa terasa. Hangeng bertemu dengan sua orang klien dan mengadakan rapat panjang dengan tim kreatif yang mengerjakan gagasan-gagasan konsep untuk sekolah perdagangan. Menakjubkan sekali melihat secara langsung bagaimana berbagai departemen saling bekerja sama menyukseskan sebuah iklan dari tahan penawaran sampai akhir.

Aku mungkin akan tetap tinggal di kantor setelah jam kerja untuk menyesuaikan diri dengan tata letak kantor, tetapi telpon ku berdering pada jam lima kurang sepuluh menit.

"Kantor Tan Hangeng. Ini Lee Sungmin, ada yang bisa saya bantu?"

"Pulang ke rumah sekarang juga supaya kita bisa melanjutkan acara minum-minum yang kau tunda kemarin."

Suara Donghae yang pura-pura tegas membuatku tersenyum."Baiklah, baiklah. Aku akan segera pulang."

Aku mematikan komputer dan keluar dari kantor. Ketika aku tiba di deretan lift, aku mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan 'PULANG SEKARANG' kepada Donghae.

Bunyi berdenting menyadarkanku pada lift yang berhenti di lantaiku dan aku bergeser dan berdiri dihadapan lift, sekilas mengembalikan perhatianku untuk menekan tombol kirim pada ponselku.

Ketika pintu terbuka, aku melangkah maju. Aku mendongak untuk melihat jalan dan sepasang mana onyx menatap mataku. Napasku tersekat.

Si dewa seks adalah satu-satunya orang di dalam lift.


.

.

To Be Continued

.

.


Annyeong ^^

Aku bawa FF baru. Tapi jangan khawatir, aku gak akan lari dari tanggung jawab terhadap FF 'Mr and Mrs Cho' nya.

Aku baru saja membaca buku novel ini. Dan yang pertama kali ada dalam benakku adalah, "aku harus me-remake nya ke dalam FF KyuMin".

Setelah aku cari di google apakah Novel ini sudah ada yang me-remake dengan tokoh KyuMIn, ternyata sudah ada di asianfanfiction. Tetapi dalam bahasa Inggris, karena novel aslinya dalam bentuk bahasa Inggris.

Dan aku berinisiatif untu membuat versi bahasa Indonesia, ya, walaupun bukan aku yang translate :p

Oke deh, aku ingin melihat respon kalian dulu. Kalau reviewnya bagus, aku akan melanjutkannya ^^

So, REVIEW YA ! ^^