Black Rose II

.

.

.

Udah coba di edit tapi mian jika masih banyak typo :)

makasih banyak buat reviewnya, folow dan fav cerita ini *bow

mian lama karena udah mulai kerja lagi, karena semua kembali kefitri termasuk dompetku, jadi perlu berusaha keras hehehe *plaaakkk curcol

silahkan menikmati lanjutannya ^^

.

.

Douzo ~

.

.

.

"BERHENTI MENCARINYA JUNG YUNHO!" serunya lantang. Yunho tertegun. Pertama kalinya ahra berteriak dengan sangat keras dihadapannya. Aku cukup terkejut. Dengan yeoja yang terobsesi dengannya itu. Yunho segera menguasai dirinya. Ia mendecih dan menatap ahra dengan pandangan remeh.

"Kau lelah? Pargilah. Aku tak pernah me ..."

"dia…" yunho menatap ahra yang memotong ucapannya, ia menunggu yaeoja itu melanjutkan kalimatnya. Nafas ahra memburu. Meski begitu tatapan tajamnya tak melemah sedikit pun.

"Dia sudah ... mati." Ahra menatap wajah terkejut yunho dan kembali melanjutkan kata-katanya. "Jadi berhentilah mencarinya, dia sudah mati."

.

.

Chap 2

.

.

Ahra memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan seoul yang nampak lenggang. Tentu saja waktu sudah menunjukan lewat tengah malam kini.

Wajahnya memerah akibat menangis sedari tadi. Mata berairnya mencoba tetap focus pada jalanan kota seoul. Ia masih cukup sadar, tak ingin meninggalkan namja jung yang dianggapnya bodoh itu. Dan sialnya ia sangat mencintai namja yang menjadi duri dalam setiap langkahnya. Namja yang salalu membuatnya merasakan luka tak kasat mata. Namja yang selalu membuatnya tak mampu berpaling.

Salahkah ia jika mencintai sosok jung yunho? Ia tak pernah menginginkan perasaan itu. Semua terjadi begitu saja. Salahkan sosok yunho yang terlalu mempesona untuknya.

Namun kenapa namja jung itu tak bisa melihat ketulusan dan kesabarannya? Kenapa yang ada dihati dan pikirannya hanya ada sosok kim jaejoong? Sosok yang bahkan pergi sekian lama darinya? Kenapa?

Cahaya menyilaukan membuat ahra membanting stir ke kanan hingga mobilnya menghantam pembatas jalan.

Bayangan pertengkaran dengan yunho beberapa saat lalu melintas dalam benaknya bagai sebuah film yang sedang diputar. Bagaimana ekspresi tak percaya penuh luka itu tergambar dari wajah yang selalu dikaguminya saat mendapatkan fakta dari bibirnya. Bagaimana yunho marah padanya dan melontarkan kata-kata kejam penuh tuduhan padanya. Ia hanya tak ingin yunho bertingkah seperti orang gila. Ia terlalu mengkhawatirkan sosok jung muda itu.

Kala itu pesta perayaan jung group, saat pertama kali ahra melihat sosok menawan yunho. Saat ia mengaguminya dan berubah menjadi cinta mana kala ia beranjak dewasa. Potongan-potongan kenangan itu masih segar dalam ingatannya.

.

.

.

[Flashback]

.

.

.

Ahra yeoja kecil itu tak terlalu menyukai pesta, disana terlalu banyak orang. Hingga ia memutuskan untuk keluar dari aula besar itu, menghirup udara segar diberanda. Disini sangat sepi dan ia menyukainya. "Sangat tidak sopan jika tak datang keacara itu, padahal kita sudah dibantu oleh keluarga jung, sayang." Ujar ayahnya manakala ia mengutarakan keberatan untuk menghadiri acara seperti ini.

Yang ia tahu 2 tahun lalu ayahnya pulang dengan wajah menyedihkan dan mengatakan mereka tak dapat tinggal lagi dirumah besar tempat kelahirannya. Perusahan ayahnya dinyatakan bangkrut. Ahra yang selalu dihormati karena kekayaan orang tuanya mendadak dikucilkan. Mereka pindah kerumah yang lebih kecil setelah itu. Dan sejak itu ia tak menyukai apa pun yang berhubungan dengan orang kaya. Kehidupan sulit dijalaninya hingga keluarga jung datang kerumahnya. Dan sejak itu keadaan keuangannya membaik. Ia kembali menempati rumah besar.

"ah lihat siapa yang ku lihat ini." Seru seorang yeoja seusianya. Tatapannya terlihat meremehkan. Inilah yang membuatnya enggan. Meski telah kembali kaya namun beberapa orang masih memandangnya dengan sinis dan ia tak suka itu apa lagi jika….

"kemana ibumu ahra-ssi?" Tanya yeoja lainnya dengan kedua tangan terlipat didepan dada. Kedua yeoja itu pasti akan mengejek keadaan ibunya yang menyedihkan. Mereka berdua mulai mengolok-olok ahra yang hanya diam dengan wajah tertunduk.

"apa yang kalian lakukan disini?" suara bass membuat cemoohan yang ditujukan pada ahra terhenti kedua sosok itu memandang sosok namja itu penuh kagum.

"sepertinya tidak pantas seorang gadis dari kalangan atas seperti kalian berbicara seburuk itu." Lanjut namja itu penuh ketegasan. Wajahnya terlihat tenang. Ia memandang datar kearah kedua yeoja yang kini menunduk.

"maafkan kami." Kedua yeoja itu berlalu dengan sedikit tergesa-gesa. Ia tak ingin mencari gara-gara dengan sosok namja dihadapan mereka ini. Tuan muda yang satu ini sangat berbahaya bila diusik itulah yang mereka tahu dari orang tuanya.

"Kau tak apa?" ahra mendongak dan menatap sosok namja dihadapannya. Orang yang telah menolongnya itu begitu mengagumkan. Wajah rupawannya sebanding dengan hatinya. Itulah yang ada dipikiran ahra. Sosok namja yang seusianya itu begitu mempesona.

Ahra menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan namja bermata musang itu. "orang-orang seperti itu memang sedikit menjengkelkan. Lain kali jangan tundukkan kepalamu lagi. Mereka akan semakin menjadi jika begitu."

Puk

Namja musang itu menepuk puncak kepala ahra dan berlalu begitu saja. Ahra terdiam dengan mata yang masih memandang kepergian 'sang penolong' dengan begitu lekat.

.

.

.

Sejak saat itu ahra berubah. Dia menjadi sosok yang lebih percaya diri dan tak diam saja saat ada yang mengejeknya. Ia menjadi sosok baru, menuruti kata-kata namja bermata musang yang menolongknya kala itu.

Ahra mengagumi sosoknya penolongnya secara diam-diam. Sampai perlahan rasa kagum itu berubah menjadi sebuah rasa yang sering orang sebut dengan kata 'cinta'. Ya, ia jatuh cinta pada namja bermata musang itu. Ia jatuh cinta pada sosok rupawannya, ia jatuh cinta pada sifat penolongnya, ia jatuh cinta pada pribadi tegas nan lembutnya.

Bertahun-tahun memendam rasa padanya tak pernah muncul sedikitpun keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Bahkan ketika ada sosok lain yang sering kali terlihat ditatap dengan pandangan berbeda oleh manik musang itu. Ia hanya bisa terdiam dengan perasaan sakit yang menggerogoti hatinya.

.

.

.

Ia menatap sedih sosok yang tengah berdiri tak jauh darinya dengan pakaian bernuansa hitam itu. Orang yang dicintainya itu terlihat begitu terpukul oleh kematian kakek jung. Ia tahu bahwa yunho –penolongnya- begitu dekat dengan sosok kakek jung. Rasanya ia ingin berjalan mendekat kearahnya. Mendekapnya dan memberikannya kekuatan. Mengatakan bahwa ia tak sendiri dan tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Ia ingin menenangkannya, menjadi kekuatan bagi sosok itu namun sayang itu hanya dalam angannya.

"Yunh .."

Suara itu. Lagi-lagi sosok namja itu. Yunho memeluk sosok namja cantik bermata doe dihadapannya dengan erat. Seolah meminta untuk dilindungi dari rasa sedih yang tengah dirasakannya. Dadanya terasa sesak menyaksikan adegan itu. Ia mengutuk sosok namja yang diakuinya cantik itu. Ia saja yang selalu berada disekitar yunho tak mampu berada sedekat itu dengan yunho. Lalu namja yang baru masuk sekolahnya itu telah berhasil merebut seluruh perhatian yunho dengan mudahnya? Tsk. Ia membencinya. Padahal ia yang selalu setia memendam perasaan pada namja jung itu. Harusnya ia yang berada diposisi itu.

Berada diruangan ini membuat dadanya terasa terbakar. Ahra memutuskan keluar dari tempat penghormatan itu. Ia membutuhkan udara segar agar tak terasa sesak.

.

.

.

Sebulan dari hari kematian kakek jung menjadi sebuah kajutan yang membahagiakan bagi ahra. Ia sedikit merasa bersalah karena berbahagia atas kematian seseorang namun, sungguh ia berterima kasih karenanya. Kakek jung memberikan wasiat yang menyebutkan bahwa ia berharap cucunya dapat bersanding dengan keturunan Go yang merupakan sahabatnya dulu. Hutang budi entah apa pun yang melatar belakangi semua itu. ia tak peduli. Sekarang dalam pikirannnya adalah ia satu-satunya keturunan Go. Jadi, dialah yang akan bersanding dengan jung yunho, ania?

Pertunangan akan dilakukan 3 bulan lagi. Ahra menjadi lebih sering berkunjung ke kediaman jung. Kedua orang tua yunho menyambut hangat kedatangannya. Namun sayangnya tidak begitu dengan yunho sendiri. Jung muda itu memang tak menolak kehadirannya namun tak terlihat juga menerimanya.

"yunho-ya, kau mau kemana? Ahra datang berkunjung sayang." Mrs Jung menegur yunho yang bersiap akan pergi dihari minggu seperti sekarang. Padahal ahra sudah menyempatkan waktunya agar bisa lebih mengenal lagi sosok calon tunangannya. Lebih tepatnya agar calon tunangannya itu dapat lebih mengenalnya.

"Mian, aku sudah berjanji pada yoochun akan bermain basket dengan yang lain juga, umma."

"Tapi..."

"Tidak apa-apa ahjuma. Lagi pula aku datang tanpa memberitahu terlebih dahulu." Ahra tersenyum pada mrs jung yang merasa semakin tak enak hati pada calon menantunya itu.

Sebagai ibu iya sangat mengerti hati putranya namun apa yang bisa diperbuatnya? Ayah mertuanya sudah menuliskan wasiat dan tak ada penolakan dari yunho sendiri. Ia hanya bisa mendukung semua keputusan yunho saja.

"Bagaimana kalau kau ikut ahra-ya?"

"Ne?"

"Ahjuma dengar kau tak terlalu mengenal teman-teman yunho ne? Ini kesempatanmu agar lebih mengenal lingkungan disekitar yunho. Bagaimana menurutmu yun?" mrs jung menatap penuh harap pada putranya. Meski tak sepenuh hati, namun mrs jung berharap putranya dapat memperlakukan ahra dengan baik. Ia harap yunho dapat mencintai ahra suatu hari nanti.

"hah~ umma. Disana hanya akan ada namja. apa ahra akan nyaman?"

ahra yang mendengar perkataan yunho merasa senang. yunho memikirkan kenyamanannya itulah pikir ahra. tak ingin membuat yunho tak nyaman ahra pun segera berkata "aku akan baik-baik saja, yun."

Ahra tersenyum hangat pada yunho. Tak ada alasan lagi untuk menolaknya sekarang, jadi disinilah sekarang mereka. Dilapang basket sekolah. Yunho tengah bermandikan keringat ditengah lapang basket memainkan sikulit orange dengan lihai dan ahra berada disamping lapangan. Menontonnya dengan penuh minat.

"Yun, calonmu cantik juga ya?" bisik seunghyun begitu mendekati yunho yang baru saja memasukan bolanya kedalam ring. Teman-teman terdekat yunho memang mengetahui perihal rencana pertunangan antara yunho dan ahra.

"Hey, berarti jaejoong boleh untukku ya?" lanjutnya mendatangkan delikan tajam dari yunho.

"Kau tak boleh serakah jung. Sebentar lagi kau akan bertunangan. ingat itu."

Seunghyun kembali berlari bersiap memulai permainannya lagi. Sedang yunho terhenti ditengah lapang dan menatap ahra yang sedang melambai kearahnya dengan senyum yang mengembang menghiasi wajah cantiknya. Ia berdecih.

"semuanya! waktunya istirahat!" namja cantik bermata doe itu berjalan kearah lapangan dengan sekantung besar cemilan. Disampingnya ada changmin dengan sekantung penuh berisi minuman dan jangan lupakan kripik kentang dalam dekapannya.

Semuanya segera berlari kearah jaejoong dan changmin lalu mengambil minuman dan cemilan untuk menemani istirahatnya.

"wah, jae harusnya kau ikut kami bermain. Bukan menemani food monster itu membeli makan." Ujar yoochun memandang changmin yang tak terganggu dengan sekitarnya karena terlalu asyik dengan kekasihnya -makanan-.

"Tak apa, chun." Jaejoong tersenyum kearah yoochun lalu menghampiri yunho. Mengeluarkan handuk kecil dari dalam tasnya dan menyodorkan sebotol minuman isotonic pada yunho. "Gomawo"

Yang lain melihatnya biasa saja. Itu bukanlah hal baru bagi mereka. Entah bagaimana caranya jaejoong yang sedang melakukan pertukaran siswa selama beberapa bulan itu terlihat cepat akrab dengan sang tuan muda jung.

Mungkin karena sifat keduanya, sama-sama orang yang menyenangkan. Teman-teman yunho yang lain pun cepat sekali akrab dengan sosok hangat jaejoong.

Ahra meremas ujung kemeja yang dikenakannya. Rasanya sesak sekali melihat kedekatan yunho dan jaejoong. Ia lah yang akan memiliki namja jung itu tapi kenapa? Lingkungan yunho, teman-teman bahkan yunho sendiri pun terasa asing?

"ahra-ssi kamarilah. Apa kau mau camilan ini?" ajak jaejoong yang menyadari keberadaan ahra yang seperti telupakan. Ia tersenyum hangat pada yeoja yang selalu mengikuti yunho belakangan ini.

"Ne" ahra berjalan kearah kerumunan teman-teman yunho. Namun semakin dekat seperti ini kenapa terasa begitu menyesakkan baginya? Semuanya selalu memperhatikan jaejoong.

Jaejoong dan jaejoong.

Hey, dia adalah yeoja satu-satunya disini. Ck.

.

.

.

Waktu pertunangan semakin dekat namun perkembangan hubungannya dengan yunho belum ada kemajuan yang berarti. Bahkan untuk keluar bersama seperti sekarang saja ia harus sedikit menggunakan kebaikan hati .

"yunho, gomawo. Rasanya begitu menyenangkan sekali." Ahra tersenyum kepada yunho yang hanya mengangguk menanggapinya. Ahra merasa senang karena seharian ini ia sudah menghabiskan waktu dengan yunho layaknya sepasang kekasih. Meski sikap yunho sedikit acuh padanya. Tapi ia yakin akan memenangkan hati namja jung itu suatu hari nanti. Sementara yunho, ia sebenarnya agak kesal dengan calon tunangannya ini. Karena ahra ia harus rela kehilangan kesempatan untuk menemani jaejoong berbelanja.

"ahra?" seorang yeoja yang cukup ahra kenal menegurnya. "apa yang kau lakukan disini?"

"Aku baru selesai menonton dengan yunho, sunny." Jawab ahra bangga. Ia masih ingat yeoja bertubuh mungil itu dulu pernah mengejeknya. Dan menertawakannya karena ia pernah tertangkap basah sedang memperhatikan yunho dari jauh. Dan kini ia berhasil membuat sunny terkejut dengan keberadaannya dengan yunho. Ahra tersenyum puas.

Drrrttt ... dddrrttt. ...

"maaf" yunho menjauh saat mendapatkan sebuah panggilan. Meninggalkan ahra dan sunny.

"kau dan yunho ..."

"Kami berpacaran dan akan bertunangan. Akan ku kirim undangannya ke rumahmu." Ujar ahra angkuh penuh kemenangan.

"Kau? Tunangan? Hahahahahaha" sunny tertawa keras menbuat kerutan didahi ahra.

"kau pikir aku bodoh? Hei jangan bermimpi nona go. Tuan muda jung itu jatuh cinta pada kim jaejoong. Bahkan seluruh sekolah juga tau itu. tsk."

Ahra bersiap akan membalas kata sunny yang dirasanya sangat menyebalkan itu namun yunho yang datang padanya dengan wajah panik berpamitan untuk pergi.

Tanpa mempedulikan sunny ahra berlari mengejar yunho yang berlari kearah parkiran. "Yunho!" panggil ahra saat yunho akan membuka pintu mobilnya.

"maafkan aku. Kau bisa pulang sendirikan? Jaejoong terluka dan masuk rumah sakit aku harus kesana" tutur yunho.

Grep

"Jangan pergi" pinta ahra yang memeluk yunho dari belakang. Ia tak peduli lagi dengan apa pun sekarang, mendengar alasan yunho yang akan meninggalkannya untuk jaejoong membuatnya kesal. Ini calon tunangannya. Kenapa yunho malah memilih meninggalkannya? Ini tak adil baginya.

"kau ini ke ..."

"Aku mohon jangan pergi." Suara ahra terdengar sangat lirih. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku ... aku ... cemburu yunho. Aku calon tunanganmu."

"Ahra ..."

"aku mencintaimu. Aku mohon jangan seperti ini. Jangan pergi. Aku mohon."

Yunho melepaskan pelukan ahra yang semakin erat. Ia harus segera kesana. Jaejoong membutuhkannya saat ini. Ia cukup terkejut dengan pengakuan ahra. Meski ia sudah mengetahui perihal rasa suka yang ahra miliki untuknya namun ia tak pernah menyangka yeoja dibelakangnya ini akan sanggup mengatakan permohonan seperti itu.

Sret

"Maaf ..."

Ahra terdiam saat yunho melepaskan pelukannya dan bergegas memasuki mobil untuk menuju rumah sakit. Ia sudah tahu jelas arti semua ini. Hatinya sakit. Ia begitu marah dengan kejaidan ini.

Ahra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan air mata yang mengalir dari kedua mata indahnya. Jika jaejoong adalah alasan utama ia tak bisa memiliki yunho, maka jika jaejoong menghilang apa yunho akan berbalik padanya? Menerima cintanya?

Haruskah ia melakukannya? Ia ingin memiliki yunho. Bukan hanya raganya tapi hatinya juga.

.

.

.

[End flashback]

.

.

.

Yunho menatap potret jaejoong dalam genggamannya. Air mata dipelupuk mata membuatnya tak terlalu jelas dalam melihat. Nafasnya memburu. Wajahnya nampak lelah dan terluka. Keadaannya terlihat sangat berantakan.

Seberantakan apartemennya yang terlihat luluh lantah seperti terkena badai besar. Perkataan ahra beberapa saat lalu tak bisa diterimanya. Ia begitu marah. Ia sungguh tak terima.

Bagaimana mungkin yeoja itu tega mengatakan jika jaejoongnya telah meninggal? bagaimana mungkin ia dapat mengatakan hal sekejam itu.

"Boojae ..." lirihnya. Senyum itu. ia masih mengingat dengan jelas senyum jaejoong yang sehangat matahari itu. Ia masih mengingat pertemuan pertamanya dengan jaejoong. Sosok cilik berhodie merah yang menangis karena menemukan kucing kesayangannya berada diatas pohon dan tak bisa turun. Saat itu, ia pikir sosok cilik itu adalah yeoja. Sudut bibir yunho terangkat saat mengingat pertemuan manis antara dirinya dengan jaejoong dulu.

Drrrtttt. ... Dddrrrrttt. ...

"...".

.

.

.

TBC / End?

Gimana? lanjut gak? ini udah lebih panjang kan dari yang pertama? hehehehe

saatnya menjawab review :D

gothiclolita89 : gimana udah kejawab belum? ^^

boobearSarang: cinta ^^. hm tidak memanggilnya Thor? plissss. Yunyun mencuci piring? Um, aku benar lama? hehehe Aku rindu? mian adalah sedikit di luar ...

DahsyatNyaff: udah dilanjut nih ... yapz aku juga gak tau kenapa ahra ahjuma selalu begitu -_- * lol

zahra32: udah dilanjut chingu ^^ gimana? masih menarikkah?

sexYJae: uhm ,,, gimana ya?

nur lazuardy: alasan dari sisi jaenya nanti ya seiring berjalannya waktu *eh? hehehe (mian tanda titiknya aku hilangin habis kalo ada nama chingunya jadi hilang sendiri pas di save :( )

nabratz: yunho appanya terkesan lembek ya? hm ,, appa punya alasan sendiri qo kenapa gitu :)

zuzydelya: udah paham belum? mian cara penyampaiannya agak aneh ya? aku baru belajar nulis cerita-cerita gini hehehe

MPREG Lovers :udah lanjut ^^ liat nanti aja ya...

Ai Rin Lee : udah lanjut nih ^^ masih penasaran? semoga masih ya, biar baca lagi hehehe *ngarep

lyvjj1: udah lanjut nih ^^ gimana udah kejawabkah semua pertanyaannya?

birin rin: sabar ne,,, biarkan waktu yang menjawabnya *pletaakkk hehehe ^^\/ (mian tanda titiknya aku hilangin habis kalo ada nama chingunya jadi hilang sendiri pas di save :( )

my yunjaechun: semoga masih penasaran ne? uhm ,, udah dilanjut nih ^^

Zimalaca-ELF : udah dilanjut nih ^^

Oktavian : udah ^^

minozan: Gomawo buat semangatnya ne ^^ udah dilanjut nih ... hm, panggil yunyun aja ne :)

huawww ternyata banyak yang respon sama cerita ini. jeongmal gomawo ^^

yunyun harap gak ngecewain semua ne ...

kalo ada kesalahan penulisan nama mian ya. yunyun hanya manusia biasa yang sering salah dan mudah-mudahan banyak benernya *eh? hehehehe ^^\/

so, gimana nih? lanjut jangan ceritanya? masih penasaran apa udah enggak? semua terserah chingudeul...

ah, buat yang udah nyempatin baca meski gak review gomawo :)

gomawo yang udah ngingetin banyaknya typo dichap 2 ini bikin bingung ne? mian aku udah berusaha gak ada typo tapi rupanya masih ada :(

udah aku edit lagi, masih ada kah typo? *aku harap uadah enggak ne?

9 Agst 2014