Yup kembali lagi bersama saya, dan di chapter 2 ini sudah saya rewrite semua... Mengingat, di chapter 2 sebelumnya amat sangat banyak kesalahan dan kata yang diulang. Tak perlu berpanjang-lebar lagi, oke langsung saja...
Warning : Memakai Pov's yang berkelanjutan, Misstypo, dan mungkin OOC kelas berat...
Status : Rewrite
Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo
.
.
.
~Chapter II : The Fear -Crimson-
Gelap... Semuanya gelap...
Dimana ini?
Apa aku sudah mati?
Hal terakhir yang kuingat hanyalah tenggelam. Tenggelam dikolam darah... Jadi, aku sudah mati?
Tiba-tiba aku melihat ada sebuah kupu-kupu putih yang terbang kearahku. Kupu-kupu itu bercahaya sehingga aku dapat melihatnya dalam kegelapan. Tidak tahu mengapa dan jenis apa itu tapi, aku bersyukur karena kehadirannya berhasil menenangkan hatiku. Dia tengah mengelilingiku kini. Serbuk-serbuk putih mulai berjatuhan setiap kali ia menggepakkan sayapnya. Aku mencoba mengadahkan tanganku keserbuk itu bermaksud untuk menampungnya tapi, serbuk tersebut lenyap begitu saja saat bersentuhan dengan tanganku. Kemudian kegelapan disekitarku mulai runtuh dan kembali... Irama itu kembali terdengar. Malah, sekarang semakin jelas dan aku mengenalinya. Lagu ini... Chou.
Aku tersentak dari tidurku begitu nama lagu itu kusebut. Aku segera bangkit dan menatap sekeliling. Memastikan bahwa sekarang ini bukanlah mimpi. Keringat dingin ditubuhku mengalir dengan derasnya dan nafasku memburu. Entah mengapa tubuhku seperti kekurangan udara dan sangat lemas. Kemudian aku mulai terbatuk-batuk dan mataku kembali membulat saat warna pada kuku yang kumiliki berubah menjadi merah. Padahal, aku tidak pernah mengecatnya sekalipun. Aku melihat ketangan satu lagi. Hasilnya sama. Semua kuku berwarna merah. Walaupun warnanya sangat indah, tapi darimana aku mendapatkan ini?
Pikiranku mulai tertuju pada mimpi itu. Sudah beberapa hari ini mimpi tersebut terus menghantuiku. Tidak jelas apa maknanya tapi aku merasa sesuatu akan terjadi. Beruntung rasa kantuk mulai menyerang sehingga aku dapat melupakannya sejenak. Aku segera melepas headset yang sedari berada ditelingaku dan meletakkannya dilaci bersamaan dengan Ipod. Rintik-rintik hujan mulai terdengar diluar. Aku menatap kejendela sejenak dan kembali berbaring. Aku pun tertidur kembali.
Aku merasakan guncangan pelan dan berlanjut semakin keras pada tubuhku. Namaku disebuti berulang-ulang layaknya sebuah rekaman yang diputar. Rasa khawatir tersirat disetiap nadanya. Perlahan aku mulai terbangun dan menatap kepemilik suara tersebut.
Orang itu ibu ku a.k.a Hisana Kuchiki. Dia tersenyum tipis begitu aku menatapnya. Aku pun segera bangkit. Dan ibu ku berkata "Mimpi buruk lagi?"
Aku menggelengkan kepala menandakan tidak. Ibu ku tersenyum dan segera bangkit menuju kepintu. Sebelum keluar, beliau berkata "Cepatlah siap-siap, Sode..."
Aku menatap pintu yang telah tertutup itu sejenak. Kemudian segera aku menuju kekamar mandi pribadiku.
Setelah mengenakan seragam SMU Soul Seireitei, aku segera beranjak menuju keruang makan. Kudapati seseorang telah berada disana. Orang tersebut menyadari kehadiranku. Kemudian ia menoleh dan berkata "Ohayou gozaimasu~ Sode-neesan" dengan nada ceria seperti biasanya.
"Ohayou gozaimasu mo, Rukia-chan..." Balasku pada orang yang tidak lain adikku, Rukia Kuchiki. Aku segera duduk disampingnya dan mengambil sarapan yang tersedia dimeja. Aku juga menuangkan teh herbal pada cangkirku dan mulai menghirupnya dengan perlahan.
Rukia yang sedari menatapku kemudian berkata "Sode-neesan bermimpi buruk lagi ya?"
Aku segera menatapnya sejenak. Kemudian aku tersenyum dan berkata "Jangan khawatir Rukia-chan... Tadi nggak kok,"
"Kalau mau, Sode-neesan boleh kok tidur bersamaku... Akan kubangunkan nanti kalau itu terjadi~" Ujar Rukia dengan menyakinkan. Aku tersenyum kemudian berkata "Arigato, Rukia... Tapi, neesan belum bisa sekarang,"
"Douita... Yah, tidak apa-apa, kamarku terbuka setiap saat untuk neesan~" Ucapnya kembali ceria yang tadi agak khawatir akan keadaanku ini.
Aku membalasnya dengan senyuman lembut dan mulai memakan sarapanku. Keheningan pun menyelimuti sampai ibu kami datang menghampiri.
"Cepatlah siap-siap nak... Ayah kalian sudah menunggu diluar..." Kata ibu kami dengan lembut seperti biasanya. Rukia yang tadinya telah siap menyelesaikan sarapannya segera beranjak keluar. Aku segera menyelesaikan sarapanku dengan terburu-buru. Setelah menghabiskannya, aku pun teringat bahwa buku yang kupinjam dari Tobiume masih terletak diatas meja. Aku segera kembali kekamar dengan tergesa-gesa. Dan setelah buku yang kucari dapat. Aku membukanya beberapa halaman. Memastikan bahwa itu benar buku milik Tobiume. Kemudian segera kumasukkan buku tersebut kedalam tas. Dan keluar menuju halaman.
Begitu aku sampai, mobil yang ditumpangi oleh Rukia serta ayahku sudah pergi. Pergi meninggalkanku seorang diri. Aku terdiam sejenak ditempat. Menatap kosong kearah pagar besar yang akan menutup itu. Kemudian, aku tersadar bahwa melamun bukanlah saat yang tepat sekarang. Aku kembali masuk kedalam rumah dan segera menuju kelantai tiga, tempat kamarku berada. Tujuanku kini hanyalah mencari sebuah kunci. Kunci pada mobil pribadiku, yang diperoleh pada ulang tahunku keenam belas.
Tapi aku melupakan dimana letaknya sehingga dengan terpaksa beberapa laci harus kubongkar. Isi laci yang kubongkar semuanya berhamburan dilantai dan kamarku mulai terlihat berantakan. Aku mulai panik saat kunci tersebut tidak kunjung ketemu juga. Akhirnya aku berhasil menemukan kunci tersebut setelah beberapa lama. Kunci itu tergeletak dibawah meja riasku yang berukiran es. Tanpa pikir panjang, segera kuraih dan memasukkannya disaku.
Tiba-tiba, aku merasa atmosfer disekelilingku mulai berubah sesaat aku memasukkan kunci tersebut kedalam saku. Aku segera berdiri dan menatap cermin yang ada dihadapanku. Mataku membulat seketika begitu melihat apa yang dipantulkan cermin tersebut. Penuh akan bercak darah dan gelap padahal, lokasi kamarku tengah dipenuhi cahaya dari mentari kini. Tapi kejadian itu hanya sekilas, sehingga aku menyimpulkan itu hanyalah halusinasi semata.
Aku mulai beranjak kepintu. Sebelum aku keluar, tanpa sadar aku melihat kearah cermin itu lagi dan apa yang kulihat tadi kembali terjadi. Penuh akan bercak darah dan terlihat sesuatu mulai mencoba untuk keluar dari cermin tersebut. Mataku kembali membulat dan tubuhku membeku ditempat seakan ada rantai yang mengikat agar aku diam menyaksikan pemandangan ganjil itu dengan tenang. Beberapa kali aku mengusahakan untuk bergerak tapi sia-sia belaka.
Secara tidak sengaja, telingaku menangkap sebuah suara, yang kuduga itu adalah suara dari seseorang yang tengah berjalan. Derapan kakinya mulai menggema disekitar hingga akhirnya, berhenti tepat dihadapanku. Hanya pintulah yang menjadi penghalangku untuk mengetahui siapa dibaliknya. Perlahan, gagang pintu tersebut mulai berputar searah dengan jarum jam. Rasa penasaran terus meluap pada diriku hingga ingin segera kutarik pintu tersebut agar mengetahui siapa dibalik ini semua secepatnya. Tapi tubuh ini tetap tidak dapat bergerak. Seakan telah dilumpuhkan oleh sesuatu...
CKLEK...
Akhirnya pintu tersebut mulai terbuka. Iringan berderit terus menderu setiap kali pintu itu membuka. Aku menyadari bahwa deritan itu berasal dari sebuah engsel yang sudah sangat tua. Tapi seingatku, engsel pada pintu kamarku tidak setua itu usianya.
Aku memejamkan kedua mataku tepat setelah deritan itu berakhir. Kini dapat dipastikan bahwa pintu tersebut telah terbuka sepenuhnya. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisku dan perasaan tegang terus menghantuiku. Keheningan pun menyelimuti sesaat sampai sebuah suara memanggil namaku. Dari nadanya, aku mengenali orang tersebut. Ia kembali memanggil dengan khawatir begitu aku tidak meresponnya. Perlahan, kedua mataku mulai terbuka dan tampaklah...
TBC
.
.
Balas Review
Azelea Yukiko :
Arigato arigato atas pemberitahuannya senpai... ^^
Tenang saja, kalau sudah waktunya akan dinaikkan kok... Sekali lagi arigato atas Review-nya... ^^
.
.
Mind to Review?
