Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
.
Berkali-kali Haruno Sakura menghela napas berat. Mata hijaunya menerawang menatap langit biru yang perlahan mulai berubah warna menjadi jingga. Kedatangan Kakashi dan Tsunade ke apartemennya beberapa waktu lalu, cukup membuat pikirannya terganggu. Dia tahu dia berhutang penjelasan pada banyak orang mengenai keberadaan Sarada, tapi dia belum siap untuk ini. Kakashi dan Tsunade terlihat sangat kecewa pada Sakura, karena dia masih enggan menceritakan penyebab kepergiannya Sembilan tahun yang lalu, dan juga siapa Ayah Sarada yang sebenarnya. Dalam hati Sakura yakin kedua gurunya itu sudah tahu tentang siapa ayah Sarada, dilihat dari sisi manapun Sarada sangat mirip dengan Ayahnya.
"Jangan lupa untuk mengunjungi orang tuamu, mereka tahu kalau kau sudah pulang ke Konoha dengan membawa seorang anak kecil yang mereka yakini sebagai cucu mereka. Ayah dan Ibumu sangat sedih karena kau masih belum mengunjungi mereka untuk memberi penjelasan. Temui mereka secepatnya, Sakura."
Sakura mengerang sedih mengingat perkataan Tsunade tadi. Orang tuanya. Ya, orang tuanya. Sakura pikir Ayah dan Ibunya pasti sedang terluka dan kecewa pada kelakuannya sekarang. Dulu ayahnya paling sering membanggakan dia sebagai kunoichi medis hebat dan cerdas pada teman-teman sejawatnya, begitupula sang ibu.
Dan sekarang, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku, batinnya miris. Pikirannya yang mulai kacau perlahan membuat Sakura terisak, dia mulai menangis menenggelamkan wajahnya pada sandaran sofa.
.
.
Sarada baru saja pulang dari bermain bersama teman-temannya. Dia sudah mengetuk pintu flat dan berucap salam. Tapi tak ada jawaban ataupun tanggapan dari sang Mama. Pintu yang tidak terkunci membuatnya bisa langsung masuk ke dalam flat.
"Ma. Mama~" Sarada berseru memanggil mamanya, dan dia tertegun saat melihat Sang Mama yang duduk sambil menenggelamkan wajahnya pada sandaran sofa. Tubuh Mamanya bergetar diiringi suara isakan pilu yang terdengar.
Mama menangis? Sarada kecil terlihat bingung. Dia ingin bertanya apa penyebab Mamanya menangis, tapi dia tidak berani. Dia mau menenangkannya, tapi tak bisa—dia benar-benar tak mengerti bagaimana cara menenangkan orang lain yang bersedih.
Takut-takut, Sarada berjalan menghampiri Sakura, lalu dia naik ke atas sofa di depan Mamanya.
"Mama?" ucapnya pelan sembari mengelus pundak sang Mama, kemudian memeluknya.
Sakura yang sejak tadi merasakan keberadaan Sarada, hanya bisa balas memeluk putrinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
.
.
"Dia anaknya Haruno Sakura?"
Keesokan harinya, Sarada mencurigai kalau tangisan Mamanya disebabkan oleh gunjingan jahat para ibu yang berkumpul untuk berbagi gossip. Pasalnya ketika dia dan Chouchou berjalan di pasar dan mampir di sebuah warung untuk membeli snack-nya Chouchou, Sarada tidak sengaja mendengar gunjingan beberapa orang ibu-ibu jahat yang berbelanja di warung—di samping tempat mereka membeli snack.
"Iya. Baru kembali ke Konoha bersama ibunya beberapa hari yang lalu."
"Siapa Ayahnya ya?"
Deg! Jantung Sarada seakan berhenti berdetak. Ayah adalah topik yang paling sensitive untuknya—dan juga untuk Mamanya. Sarada pernah bertanya perihal siapa ayah kandungnya pada sang mama, namun mamanya tak mau menjawab dan selalu menghindari topik tersebut.
"Setahuku Haruno Sakura masih belum menikah. Apa dia menikah dengan orang luar desa setelah Sembilan tahun meninggalkan Konoha?"
"Mungkin. Atau dia hamil diluar nikah? Hihihi."
Sarada menggertakan giginya marah. Ini mulai diluar batas, para penggunjing jahat itu keterlaluan. Chouchou menatap teman barunya khawatir. Setelah menerima semua belanjaannya, dia mengajak Sarada pergi, tapi gadis manis berkacamata itu bergeming. Dia masih ingin mendengar kelanjutan perkataan perempuan-perempuan bermulut jahat itu tentang Mamanya. Dia bersumpah akan menyumpal mulut mereka dengan ikan busuk, kalau dia mendengar yang lebih parah dari apa yang seorang ibu bermulut jahat itu katakan.
"Tapi lihatlah anak itu. Dia sama sekali tidak mirip dengan Sakura. Mungkin dia hanya anak pungut, atau anak adopsi."
Obsidian Sarada melebar. Dia menggertakan gigi, lalu menatap ketiga ibu tua bermulut jahat itu dengan mata menyalang marah.
"Aku. Anak. Mamaku," geramnya.
Chouchou terlihat makin khawatir. "Sarada, ayo kita pulang," ajaknya panik.
"Ada apa dengan anak kecil itu?" salah satu ibu berambut cokelat ikal, yang tadi menggunjingkan Sakura dan Sarada, mengernyit ngeri saat melihat obsidian bulat milik gadis kecil Haruno yang menatapnya tajam. Mereka—dan bahkan semua orang di desa—tahu, kalau Haruno Sakura itu menyeramkan kalau sedang menjadi kunoichi dan berhadapan dengan musuh. Tapi entah kenapa anak Sakura ini, walaupun baru delapan tahun, dia terlihat jauh lebih mengerikan daripada ibunya.
"Aku anak Mamaku." Sarada berjalan menghampiri mereka, ekspresinya dingin dan aneh. "siapa yang berani bilang kalau aku bukan anak Mamaku?" dia menyipitkan mata. Satu persatu memperhatikan wajah ibu-ibu bermulut jahat di depannya. Rambut cokelat, hitam, dan pirang. Dia akan mengingat mereka.
"K-kau memang tidak mirip Mamamu." Salah satu ibu yang berambut pirang dan bertubuh agak gempal menjawab. Dia menatap remeh pada gadis kecil Haruno di depannya. Memangnya apa yang bisa diperbuat oleh seorang anak kecil pada orang tua seperti mereka? Menonjok? Tidak akan sakit. Dia hanya anak-anak, dan bukan ninja yang perlu ditakuti seperti ibunya. "Apa kau sudah pernah berkaca, Nak? Kau dan ibumu sama sekali tidak mirip. Mungkin kau itu hanya anak adopsi atau anak pungut yang diambil dari panti asuhan atau jalanan."
Setelah si ibu pirang gempal berkata demikiaan, semua orang yang ada di pasar dikejutkan oleh…
BRUAAAKKKK!
TRAKKKK.
"KYAAAAAA!"
"KIOSKUUUU!"
"DAGANGANKU!"
"SARADA APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"TOLOOOONG!"
"SIAPA LAGI YANG BERANI MENGATAKAN KALAU AKU BUKAN ANAK MAMAKU, MAJU!"
—kios yang hancur dan hampir rata dengan tanah. Retakan tanah dalam skala besar yang disebabkan oleh amukan seorang anak kecil berusia delapan tahun?
.
.
Itachi dan Shisui sedang dalam perjalanan menuju akademi untuk memberikan pelajaran bertarung secara berkelompok bagi para murid di kelas senior. Kekacauan yang terjadi saat mereka akan melewati pasar, menarik perhatian. Beberapa kios hancur, dan tanah yang retak dalam skala besar seperti baru saja ada gempa hebat yang mengguncang. Orang-orang berlarian minta tolong.
Itachi dan Shisui mulai waspada. Apa ada ninja buronan yang menyusup masuk untuk menghancurkan Konoha? Keduanya segera berlari ke arah sumber kekacauan.
Kedua lelaki Uchiha itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, saat melihat siapa biang keladi dari hancurnya pasar Konoha. Seorang anak perempuan kecil yang baru beberapa hari masuk di akademi. Dia meninju membabi buta, membuat sekitarnya berantakan sambil berteriak, "AKU ANAK MAMAKU!"
"Sarada." Itachi tertegun.
"Dia muridmu?" tanya Shisui.
Itachi mengangguk. Mata hitamnya kemudian menangkap bayangan seorang gadis kecil berkulit gelap dan bertubuh gempal, tampak asik duduk bersila di jalan menonton kekacauan yang dibuat temannya sambil makan snack. Sesekali dia bergumam kata keren dengan mulut penuh. Oh, ya ampun Akimichi Chouchou.
"Shisui. Tolong kau bawa anak yang satu itu ke Akademi," dia menunjuk Chouchou dengan jarinya, "aku akan menghentikan yang ini," kemudian menunjuk pada Sarada yang masih mengamuk.
"Hn."
Setelah Shisui berhasil mengungsikan Chouchou. Itachi segera melompat ke depan untuk menghentikan Sarada, sebelum dia menghancurkan lebih banyak lagi.
"AKU ANAK MAMAKU. AKU ANAK MAMAKU!"
"Sarada hentikan." Itachi dengan cepat menangkap sebelah tangan Sarada sebelum dia menghancurkan lebih banyak lagi.
Sarada mendongak. Dia menatap lurus ke mata Itachi. Air mata berlinang dari obsidian milik gadis kecil itu. "Aku anak Mamaku, Sensei," lirihnya.
Dan Itachi benar-benar terkejut melihat perubahan yang terjadi pada sepasang mata gelap muridnya. Mata itu berubah menjadi merah, dengan dua tomoe yang tiba-tiba muncul lalu saling berkait.
"Aku anak Mamaku Uchiha Sensei. Kau percaya kan?" tanya Sarada lagi.
Itachi tak bisa merespon. Dia terlalu kaget melihat perubahan mata Sarada ke mode sharingan.
Hanya seorang Uchiha yang memiliki mata sharingan. Lalu Sarada …? Dia menatap Sarada linglung. Beribu opsi dan pertanyaan mulai muncul di kepala jeniusnya.
.
.
Uchiha Sasuke satu jam yang lalu baru saja pulang dari Suna setelah menyelesaikan misinya meringkus buronan yang berusaha membunuh Kazekage. Menyerahkan laporannya ke kantor Hokage, dia cukup terkejut ketika melihat Naruto, Sai, dan Yamato berkumpul disana. Jika satu orang lagi ada disana, ini akan menjadi reuni tim tujuh yang menyenangkan dan lengkap.
"'Reuni, eh?" tanyanya sinis sambil melemparkan gulungan laporan ke meja kerja Rokudaime.
Kakashi mendengus, dan Naruto cemberut.
"Sombong seperti biasa Teme," kata Naruto sebal.
Sasuke tak menggubris.
"Setelah resmi jadi duda, kau kelihatan makin galak ya Sasuke," komentar anggota anbu-Ne itu tak tahu tempat dan suasana.
Sasuke cemberut. Dia membuat catatan mental agar tidak lupa membawa lakban kemana-mana, karena jika bertemu Sai, dia bisa langsung mengelem mulut lelaki pucat itu rapat-rapat.
"Apa kau memiliki tujuan tertentu dengan mengumpulkan kami semua disini senior Kakashi?" Yamato bertanya, dia mulai tak nyaman dengan suasana dan aura yang dikeluarkan oleh ketiga laki-laki muda rekan setimnya yang merupakan mantan murid Rokudaime itu.
"Hn. Aku mengumpulkan kalian disini untuk mengumumkan anggota tim tujuh/tim Yamato yang baru?"
"Siapa?" tanya Naruto tak sabar.
"Dia akan tiba disini sebentar lagi."
Mereka terdiam saat mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat ke ruang Hokage. Keempat lelaki itu tertegun saat mengenali chakra yang menghampiri mereka.
"Ini tidak mungkin …"
"Dia sudah kembali ya?"
Pintu terbuka …
"SAKURA-CHANNNN!"
.
.
BERSAMBUNG
Terimakasih banyak : Princess948, Yuukio, 1, LeEsacHi aRdian Lau, VeeQueenAir, Aiko Asari, FiaaATiasrizqi, Shahlia Chahayani, Guest, sasuoriom, Horyzza, RaraiRara, . emma Edward, exofujo12, hanazono yuri, YOktf, yana kim, Nikechaann, Guest, dinda adr, ayuniejung, kura cakun, mikahiro-shinra, suket alang alang, Liana Zhafirna, Guest, dan goodbye summer.
#maaf ya pendek. Lagi berusaha mengumpulkan nyawa buat bangkit dari WB dan membayar semua hutang multychapter (T_T)
