A GOOD MARRIAGE

Author/Writer : Na U-Young

Cast : Jung Yunho 30 y/o

Kim Jaejoong 27 y/o

Park Yoochun 29 y/o

Shim Changmin 25 y/o

Kim Junsu 27 y/o

Rate : M

Warning : No flame, No bash, No War, YAOI (MATURE), Typo, NC = Underage Not

Allow, Breastfeeding, Alur kecepatan, MPREG, Jangan lupa REVIEW'a..

.

.

.

.

.

.

CHAPTER 2

Jaejoong melangkahkan kakinya pelan menuruni setiap anak tangga sambil sesekali memandang ke arah kamar pribadinya dengan pria yang masih sangat dicintainya. Dengan helaan nafas berat, Jaejoong tetap berjalan hingga ia sampai di depan pintu mansion Park dan segera membuka knop pintu ingin segera keluar.

"Jaejoong! Kau... mau kemana malam begini?"

"Umma..." Jaejoong terkejut saat orang yang ada dihadapannya kini adalah ibu mertuanya yang baru saja pulang dari butik pribadinya.

"Aku... aku akan pergi umma... aku sudah memenuhi keinginanmu. Aku... hiks... aku dan Yoochun akan bercerai." Pria cantik itu sudah tak kuasa lagi kala ia mengucapkan kembali kata perceraian.

"Ccckk... Sudah seharusnya eoh... kenapa tidak dari dulu saja eoh? Yoochun memang pantas dengan yeoja. Sudah hentikan tangisanmu dan segera pergi. Lupakan saja Yoochun, dia pasti bahagia dengan Ahra-ssi. Ini terimalah uang dariku, semoga bisa kau gunakan agar kau bisa bertahan hidup." Ujar Mrs. Park sinis sambil tertawa merendahkan.

"Baiklah umma... gumawo... aku dan Moobin pamit. Tolong jaga kesehatan Yoochun umma. Aku akan pulang ke Seoul sekarang" Jaejoong membungkukan sedikit tubuhnya sebagai penghormatan terakhirnya pada sang ibu mertua. Dan mulai mengiring kopernya agar sang supir taksi yang sudah lama menunggunya memasukkan semua barangnya pada bagasi.

"Dasar anak bodoh.. Ke Seoul dia bilang? Keluarga saja ia sudah tidak punya. Huaah... paling tidak bebanku berkurang." Seru Mrs. Park dan langsung mengunci pintu Mansion Park.

.

.

.

.

Jaejoong memandang gelisah saat ia duduk di bangku penumpang pesawat terbang yang ia tumpangi saat ini. Masalahnya kini ia sedang menyusui Moobin dan posisinya di apit oleh pria-pria bule yang memandangnya lapar. Moobin memang rewel jika menjelang tengah malam, ia pasti akan menyusu padanya.

'Tuhaann... Tolonglah aku...' Ujar Jaejoong dalam hati sambil menundukkan kepalanya dan menatap Moobin yang mulai tertidur.

"Nyonya kau terlihat sangat menawan saat anda menyusui bayi anda. Apa suami anda tidak menemani kalian berlibur?" Tanya seorang pria bule setengah baya sambil tersenyum mesum.

"Tidak, hanya kami berdua." Jaejoong membalas seadanya tanpa memandang lawan bicaranya.

"Begitukah? Hey kenapa kau terus menundukkan wajahmu?" Dengan sangat tidak sopan pria itu mengangkat dagu Jaejoong hingga pandangan mereka bertemu.

"Woaa... soo beautifuul..."

"..."

"Kauuuu!"

GREP...

DUAK...

Jaejoong terkejut saat melihat pria bule yang sangat tidak sopan padanya itu terjungkal dari kursi penumpangnya. Arah pandangnya ia alihkan pada sesosok pria jangkung yang berdiri hendak memukul wajah pria bule itu.

"Sekali lagi kulihat kau mengganggu wanita, akan ku buat kau dipecat dari kepolisian."

"Oke... oke... calm down Mr. Shim." Pria bule itu segera berdiri dan meminta maaf pada pria yang bernama Mr. Shim itu.

"Tempat duduk mu dan temanmu pindah dari sini. Sekarang kursi ini jadi milikku. Kita bertukar tempat. Cepat pergi dari hadapanku!" Setelah pria tampan itu membentak pria bule itu, dengan kasarnya ia mendudukan dirinya pada bangku yang kosong disebelah Jaejoong yang menatapnya takjub.

"Hnn... dasar mata keranjang, tidak ada kapok-kapoknya padahal ia sudah memiliki istri dan anak." Pria yang menggerutu itu adalah Shim Changmin pria muda yang kaya raya namun tidak sombong seperti orang kaya yang lainnya. Ia pun menghela napas berat dan segera menolehkan kepalanya pada seseorang yang masih saja menatapnya bingung.

"Hey... kau tidak apa-apa? Apa kau disakiti oleh pria hidung belang itu?" Jaejoong hanya membalas pertanyaan Changmin dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hmm... baguslah kalau begitu. Eh... hey... itu anakmu? Kya... tampan sekali eoh? Aku ingin menciumnya... bolehkah?" Tanya Cahngmin antusias. Ya Changmin memang menyukai anak-anak. Ia memiliki kakak perempuan tapi ia tidak memiliki adik laki-laki, saat melihat Moobin yang tidur tenang sambil mengeyot lemah pada dada Jaejoong ia seolah-olah terhipnotis dengan wajah angel Moobin.

"Eeeh... tunggu..." Jaejoong segera menahan kepala Changmin yang hendak mencium pipi gembul Moobin.

"Aku malu... aku mau mengancingkan dulu kemejaku." Ujar Jaejoong sambil melepaskan bibir tipis Moobin dari putingnya dan segera mengancingkan kemejanya agar rapi kembali. Changmin hanya tersenyum kikuk sambil menatap setiap pergerakan orang yang menawan disampingnya.

"Uhmm... sekarang kau bisa mencium Moobin tapi jangan sampai ia bangun yah. Ia akan sangat marah kalau tidurnya terganggu. Hihii..."

DEG...

Changmin terpaku saat melihat tawa manis dan senyuman yang indah dari orang yang ada disebelahnya ini.

"Benar-benar cantik..." Ujar Changmin tanpa sadar.

"Siapa? Anakku tampan tau... kau jadi tidak mencium Moobin?" Tanya Jaejoong lagi.

"Ah... iya... aku juga ingin menggendongnya bolehkah. Malam ini biar aku yang menjaganya kau beristirahatlah."

"Tidak... kau sudah menolongku tadi, aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Terimakasih tuan."

"Jangan panggil aku seperti itu. Namaku Shim Changmin pengusaha muda yang sangat jenius." Ujar Changmin sambil menepuk-nepuk dadanya sok seme.

"Aku... Park... ah... sekarang aku Kim Jaejoong... ahahaha..." Jaejoong tertawa garing saat ia hampir melupakan marga aslinya sendiri.

"Sudah kuduga kau pasti warga Korea. Kekeke... sini biar Moobin denganku saja." Dengan pelan Changmin mengambil alih Moobin dari tangan Jaejoong lalu mencium pipi Moobin pelan sambil tersenyum tulus menatap wajah damai bayi yang hampir memasuki usia 7 bulan itu.

"Keluargaku adalah orang-orang yang hanya peduli pada uang dan karir mereka. Aku tidak pernah merasakan kehangatan memiliki orangtua dan saudara. Hingga aku kesepian seperti ini. Geez... aku benar-benar ingin punya adik laki-laki apalagi punya anak yang setampan Kim Moobin."

"Ah... aniya... Park Moobin. Biar bagaimana pun ia masih anak dari mantan suamiku. Hnn... sudahlah aku tidak ingin membicarakannya lagi pula ia pasti bahagia tanpa namja mengerikan sepertiku. Dan kau Changmin-ssi... kau jangan bersedih seperti itu, carilah istri supaya kau bisa memiliki anak sepertiku."

"Mwo... tunggu... mantan suami, anak, dan... kau... namja?" Tanya Changmin shock.

"Kekeke... kumohon kau jangan jijik denganku. Dan memang benar aku adalah seorang namja. Orang bilang kalau aku adalah namja istimewa karna bisa hamil dan sudah pernah menikah dengan mantan suamiku, ayah kandungnya Moobin." Jaejoong tertawa miris mengingat betapa sengsaranya karna ia bergender pria. Walaupun ia pria ia benar-benar rapuh dan mudah menangis. Tidak salah bukan? Hey... hati Jaejoong sangatlah lembut.

"..." Melihat tidak ada respon dari Changmin menbuat Jaejoong merasa risih. Mungkin saat ini Changmin jijik padanya. Dan Jaejoong ingin mengambil alih lagi putranya yang masih digendong Changmin.

"Aaandwae... Moobin tetap bersamaku. Dan aku mengerti perasaanmu Jaejoong-ssi. Itu pasti sangat-sangat berat. Aku tidak jijik dengan mu. Kau malah membuatku kagum, sangat-sangat luarbiasa."

"Ah... gumawo Changmin-ssi..." Jaejoong tersanjung dengan pujian dari pria yang baru saja ia kenal.

"Tapi... bagaimana cara Moobin keluar? Apa ia keluar dari.. uuhmm hole mu?"

PLETAK...

"Kau gila... mengeluarkan Moobin sebesar 3 kg dari itu ku. Sungguh aku meragukan otak jeniusmu Mr. Shim." Keduanya pun tertawa bersama dan melupakan permasalahan mereka masing-masing dengan bercanda dan mengobrol. Jaejoong cukup beruntung, karna hanya sedikit orang yang mengerti akan perasaan serta posisinya selain mantan suaminya Park Yoochun. Bertemu Changmin bagaikan bertemu dengan malaikat, benar-benar penolong.

.

.

.

.

Bandara Internasional Seoul

Jaejoong merenggangkan tubuhnya saat ia dan Changmin turun dari pesawat yang mereka tumpangi. Menghirup kembali udara sejuk negara kelahirannya setelah beberapa tahun ia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di Seoul. Terhitung semenjak ia menikah dengan Park Yoochun.

"Uhmm.. Jae... kau akan tinggal dimana di Seoul? Aku ingin berkunjung ketempatmu apabila aku merindukan Moobin." Jaejoong menghentikan langkahnya saat ia ingat dimana ia dan anaknya akan tinggal. Ia tidak mungkin mengatakan pada Changmin bahwa ia tidak memiliki orangtua bahkan tempat tinggal karna apartemen yang pernah ia tempati dulu sudah dijual beberapa hari sebulum ia pindah ke Amerika Serikat.

"Itu... aku akan tinggal di apartemenku. Uhm.. nanti jika kita bertemu lagi kau bisa mengunjungi kami Changmin-ah. Moobin pasti akan senang." Ujar Jaejoong tersenyum menutupi kegugupannya saat berbohong. Lalu, ia kembali berjalan mensejajarkan langkah kaki Changmin yang masih menggendong Moobin.

"Baiklah..." Ujar Changmin senang dan mengusap rambut Jaejoong penuh perhatian.

"Nah.. itu barang-barangku. Aku pamit Changmin-ah terimakasih kau telah menolongku." Jaejoong segera memanggil taksi dan menyuruh sang sopir untuk mengangkat barangnya untuk dimasukkan dalam bagasi taksi lalu mengambil Moobin dari tangan Changmin.

Changmin terus memandang sedih saat taksi yang ditumpangi Jaejoong kini hampir menghilang dari hadapannya.

"Kuharap aku bisa bertemu dengan dia lagi Ya Tuhan..." Changmin mengusak rambutnya kasar. Ia merasa sangat tidak rela jika ia berpisah dengan orang yang telah membuatnya terpesona pada pandangan pertama. Walaupun Jaejoong adalah namja, namun ia cukup menyukainya.

.

.

.

DRRT... DRRT...

Ponsel canggih dan mahal milik pria tampan bermata musang itu begetar di meja nakas. Dengan kesal karna tidurnya terganggu dengan sangat tidak sopannya ia mengangkat panggilan itu dan langsung mengeluarkan sumpah serapahnya.

"Brengsek... mengapa menelpon malam-malam begini eoh? Ini jam tidur tau. Ku patahkan lehermu." Yunho hampir saja mematikan sambungan teleponnya jika bukan karna seseorang yang bersuara khas lumba-lumba meneriakinya dengan lebih kencang.

"Shim Changmin kembaliiii... Cepat hubungi dia dan cari calon istri untukmu, kalau tidaakk Mrs. Jung akan memecatku! Ingat ituu Jung Yunho... ingat!"

PIP...

"Yaak! Huuh?" Yunho memandang layar ponselnya yang sambungannya telah diputus sepihak oleh sahabat sekaligus asistennya yang bekerja di perusahaannya. Ia bingung Kim Junsu hanya ingin menyampaikan pesan bahwa Changmin sudah ada di Seoul. Dan lebih gilanya ia kembali teringat akan janjinya pada sang umma akan segera mencari istri.

"Geez... menjengkelkan... dasar lumba-lumba aneh..." Yunho langsung membanting tubuhnya pada kasur empuknya dan mencoba untuk kembali tidur.

.

.

.

.

AMERIKA SERIKAT

Mansion Park

Park Yoochun menggeram marah saat dirinya tidak mendapati istri dan anaknya disisinya. Menggenggam secarik kertas pernyataan perceraian dari istrinya membuat emosinya semakin tak terkendali.

KRASH...

Dengan bringas Yoochun merobek kertas itu hingga menjadi potongan-potongan kecil. Sungguh istrinya keterlaluan, tidakkah ia mengerti akan posisinya yang terhimpit seperti ini. Ia tau bahwa anak yang di kandung Ahra kemungkinan memang anaknya. Tapi, ia masih sangat mencintai Jaejoong walaupun pada akhirnya ia akan dipaksa untuk bertanggung jawab dengan menikahi Ahra. Demi apapun yang ada di dunia ini Moobin dan Jaejoonglah yang paling berharga.

"Umma... umma...!" Yoochun berjalan tergesa menghampiri ibunya yang sedang memasak menggantikan posisi Jaejoong yang biasanya membuatkan mereka sarapan.

"Yoochun-ah... ayo kita makan nak. Umma memasakkan makanan kesukaanmu." Ujar Mrs. Park sambil memegangi tangan anaknya.

"Tidak usah berakting umma... sekarang katakan dimana Jaejoongku umma... dimana Moobin?"

"Umma tidak tau Chunie... sejak tadi malam umma juga mencarinya tapi ia sudah tidak ada.." Bohong Mrs. Park dan tersenyum di dalam hatinya.

"Ada apa ini... kalian selalu bertengkar mempermasalahkan Jaejoong. Memang ada apa dengan dia." Tanya Mr. Park memang tidak tau apa-apa tentang perginya Jaejoong dan cucunya.

"Jaejoongie dan Moobin meninggalkan rumah appa... aku tidak tau mereka pergi kemana. Aku hanya mendapati surat perceraian yang ia taruh di meja riasnya." Yoochun menutup wajahnya dengan tangan kanannya karna ia merasa benar-benar akan menangis.

"Bagus... dengan begitu kau bisa menikahi Ahra secepatnya." Ujar Mr. Park santai sambil meminum kopi panasnya.

"Appa... bagaimanapun juga Jaejoong adalah menantu Appa dan Moobin cucu Appa... tidakkah kau ingat itu?"

"Aku ingat. Sangat-sangat ingat. Tapi aku menginginkan cucu dari seorang yeoja bukan namja." Ujar Mr. Park datar.

"Baik... jika itu mau Appa dan Umma aku akan mengabulkan permintaan kalian namun satu yang harus kalian ingat aku tidak akan pernah mencintai wanita itu."

BRAAK!

"Kau... anak kurang ajar!" Mr. Park langsung berdiri dari kursinya dan hendak memukul wajah Yoochun namun...

"Uuughhh... jantungku... ugghh... sakkiitt..." Mr. Park merintih dan memegangi dada kirinya erat hingga tubuhnya pun tumbang karna pinsan.

DEG...

"Appaaaa!" Ucap serempak oleh Mrs. Park dan Yoochun saat melihat Mr. Park tidak sadarkan diri.

"Cepat angkat Appa ke mobil. Kita kerumah sakit sekarang!" Teriakan panik dari Mrs. Park.

.

.

.

.

.

Yoochun memandang sedih pada layar ponselnya, sesekali ia kecup layar itu karna sungguh ia sangat merindukan istri dan anaknya yang masih balita. Entah dimana mereka sekarang. Apakah mereka baik-baik saja dan dapat makan enak? Air mata yang seakan tiada henti mengalir saat ia membolak-balikan slide pada layar ponselnya yang menampilkan banyak foto-foto Jaejoong dalam berbagai pose. Sangat cantik dan menawan.

"Jaejoongie... istriku... kau dimana... aku merindukanmu. Maafkan aku Jaejoongie... maafkan Appa anakku Moobin. Aku sangat merindukan kalian. Hiks..." Tetesan air mata dan senyuman getirlah yang ia tampakkan disaat seperti ini.

"Ngghh..." seketika Yoochun menghentikan tangisannya dan menoleh pada ayahnya yang masih terbaring lemah di ranjang rawat inap di Rumah Sakit.

"Appa..." Yoochun menggenggam tangan ayahnya dan mengusapnya pelan.

"Yoochunie... kumohon menikahlah... ughh dengan Ahra-ssi.. sebelum Appa meninggal. Appa ingin memiliki ugh... menantu wanita." Dengan susah payah Mr. Park mengucapkan keinginannya pada sang anak.

DEG...

Dengan sekuat hati Yoochun berusaha menahan emosinya. Namun kalau sudah begini adanya ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk berbakti pada orangtuanya.

"Ne Appa... aku akan segera menikahi Ahra-ssi..."

.

.

.

KOREA SELATAN

SEOUL

Jaejoong kini sudah terlihat frustasi dan kehilangan arah. Ia sudah lupa dimana ada yang menyediakan apartemen murah. Ia ingat, ia harus menghemat tabungan pribadinya dan uang yang diberikan oleh Mrs. Park. Sebelum malam tiba ia harus mendapatkan tempat tinggal dan besok harus mencari pekerjaan. Mau makan apa ia dan anaknya jika dirinya tidak bekerja. Jaejoong melamun memandangi jalanan kota Seoul yang semakin ramai. Ia hanya bisa duduk di sebuah halte bus tanpa tau mau kemana ia mencari tempat tinggal.

"Moobin-ah... maafkan umma ne. Umma akan mencarikan tempat tinggal untuk kita berdua. Umma sayang Moobin." Ujar Jaejoong berbicara pada anaknya yang tertawa saat melihat wajah tersenyum ibunya. Sejenak ia tolehkan pada sekitar kursi yang sedang ia duduki hingga Jaejoong melihat beberapa kertas koran yang tercecer di bawah bangku dan ia beranjak mengambil koran itu.

"Hmm... lumayan cukup uang yang kita miliki untuk menyewa rumah kecil ini." Jaejoong segera mengambil ponselnya dan mendial contact person yang ada di koran itu. Pemberitahuan saja Jaejoong sudah mengganti nomor ponselnya agar ia tidak bisa dihubungi oleh siapapun termasuk mantan suaminya. Alangkah ajaibnya rumah yang ingin ia sewa masih tidak ada yang menempati dan malah menyetujui Jaejoong untuk menempati tempat tinggal itu. Dengan tergesa-gesa Jaejoong kembali memanggil taksi yang lewat dan mengantarnya pada alamat sang pemilik rumah sederhana itu.

.

.

Sesampainya Jaejoong pada sebuah rumah sang pemilik rumah yang ingin disewanya, ia segera memencet bel yang ada di depan pintu bercat coklat tua.

Krieet...

"Uhmm... Annyeonghaseyo ahjumma. Kim Jaejoong imnida, saya yang baru saja menghubungi ahjumma itu." Jaejoong membungkuk ramah dan tersenyum pada sang pemilik rumah.

"Ah... ne... Bibi Jang imnida. Silahkan masuk dulu."

"Gumawo ahjumma..." Jaejoong berjalan mengikuti bibi Jang dan duduk di sebuah kursi tamu.

"Hmm.. nak Jaejoong. Benar ingin menyewa rumah kami? Padahal kondisinya hmm sedikit mengenaskan maksud ahjumma sedikit kumuh. Keke... kami tidak mampu memperbaikinya sementara ini. Makanya kami coba untuk menyewakannya saja dengan harga murah." Ujar bibi Jang tidak enakkkan karna ia kasihan pada balita yang digedong oleh Jaejoong.

"Ah... gwenchana ahjumma. Aku hanya punya uang sedikit untuk menyewa rumah, dan rumah yang ditawarkan cukup untuk saya dan anak saya tempati."

"Baiklah kau bisa menempatinya hingga kapanpun jika kau betah Jaejoong-ssi. Mari biar ahjumma antar. Tempatnya tidak terlalu jauh dari sini."

Kini Jaejoong sudah berada didalam rumah barunya. Ya memang terlihat sangat tua dan kumuh dengan cat-cat yang mengelupas dan menghitam. Sedikit reot, namun mau bagaimana lagi. Ia harus bersabar agar anaknya tidak kedinginan malam ini.

Jaejoong meletakkan tubuh Moobin pada kasur berukuran sedang. Beruntungnya Moobin sudah tertidur nyenyak sehingga ia dapat membersihkan rumah barunya agar enak dilihatnya. Hingga perhatian Jaejoong terhenti karna suara ketukan pintu lalu ia segera membukakan pintunya.

"Jaejoong-ssi... ahjumma tau kau belum makan. Ini ada sedikit makanan untukmu." Ujar bibi Jang menyodorkan sebuah kotak makanan pada Jaejoong.

"Ah ne... gumawo ahjumma, anda sangat baik sekali." Jaejoong menerima makanan itu dan tersenyum senang pada wanita paruh baya itu.

"Kau mengingatkan ku pada anak-anakku... mereka tidak memperduli appa dan umma nya. Geez... aku merasakan sangat kesepian dan merindukan mereka." Bibi Jang tersenyum miris sambil menatap Jaejoong yang iba melihatnya.

"Aniyaa... umma memiliki kami. Kan sekarang ada cucu ahjumma Park Moobin anakku. Keke..." Ujar Jaejoong berusaha menghibur.

"Park Moobin? Bukankah margamu Kim aniya?"

"Ah ne... ahjumma... aku baru saja kembali dengan marga asliku karna aku sudah bercerai dengan suamiku."

"Maafkan aku Jaejoongie, ahjumma tidak bermaksud mengungkit masalahmu. Apapun jika kau merasa ingin memiliki teman curhat. Akulah orang yang bisa diandalkan, aku bisa memegang janjiku. Kekkee..."

"Hahaa... gumawo ahjumma. Hmm... namun bolehkah aku mengatakan suatu hal?"

"Iya silahkan nak..." Ujar bibi Jang sambil mengusap lengan kanan Jaejoong lembut.

"Hmm... sebenarnya aku adalah seorang namja. Ya aku benar-benar seorang namja. Aku... aku adalah seorang male pregnant. Kumohon ahjumma jangan jijik padaku. Posisiku sungguh sangat sulit ahjumma. Hingga aku memutuskan untuk bercerai dari suamiku karna genderku. Aku malu jika keluarga suamiku dikabarkan yang tidak enak terus. Makanya aku dan Moobin pergi meninggalkan Amerika. Kumohon pengertian anda ahjumma..." Jaejoong menundukkan wajahnya sedih. Matanya kembali berkaca-kaca, airmatanya sudah menumpuk dan siap untuk keluar kapan saja. Ia merasa sungguh memalukan dan menyedihkan.

"Aniya... kau tidak semengerikan itu Jae... aku akan menyayangi kalian seperti anakku sendiri." Bibi Jang memeluk erat tubuh ramping Jaejoong dan merasa kasihan saat mendengar penuturan yang membuatnya sedikit terkejut.

"Nah... sekarang kau harus makan ne. Bukankah kau juga harus menyusui Moobin? Ia pasti membutuhkan gizi darimu Jae."

"Hehee... gumawo ahjumma..." Ucap Jaejoong terkekeh sambil mengusap lelehan air matanya. Bertambah satu orang yang peduli pada keadaan Jaejoong dan ia merasa bersyukur. Setidaknya Tuhan masih sayang padanya.

One Week Later

Satu minggu sudah namja cantik Kim Jaejoong berada di Seoul bersama anakknya yang sangat disayanginya. Dengan telaten dan apik Jaejoong merapikan perabotan rumah yang baru saja dibelinya pada salah satu mini market di perkotaan Seoul, karna rumah Jaejoong cukup jauh dari sana. Tapi karna ingin melihat-lihat barang sebentar Seoul itu seperti apa maka ia mencoba untuk berbelanja seorang diri. Si tampan Moobin tentu saja ia titipkan pada bibi Jang. Namun kejadian yang baru saja terjadi terus terngiang-ngiang dibenaknya karna bisa bertemu dengan Changmin dan seseorang bermata musang yang ia tidak tau namanya.

FLASH BACK ON

"Hmm... apalagi yang harus aku beli untuk keperluan rumah?" Jaejoong mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada bibir merah cherrynya tanda ia sedang berpikir.

"Ah... besok Moobin sudah berusia 7 bulan.. aku ingin membelikan biskuit saja." Jaejoong mendorong troli besarnya dan berjalan menuju rak yang menyediakan makanan untuk balita.

"Biskuit rasa pisang... aku harus mendapatkannya sebelum oranglain mengambilnya." Namja cantik itu bergegas dan tangannya sudah terjulur ingin mengambil kotak biskuit. Namun, tangannya licin sehingga mengakibatkan kotak itu jatuh.

"Ah... nuna... ini kotaknya..." Terdengar suara tegas seorang pria yang cekatan memberikan kotak biskuit rasa pisang pada Jaejoong.

"Ne... gumawo..." Jaejoong hanya menundukkan wajahnya dan mengambil kotak itu tanpa melihat siapa yang sudah berbaik hati padanya.

"Eeh... Kau... Jaejoong-ssi..."

"Huh...?" Lantas Jaejoong mendongakkan wajahnya dan terkejut saat ia bertemu dengan Changmin. Jujur ia senang, tapi entah mengapa ia sangat tidak mengharapkan bertemu dengan siapa saja yang mengenalnya.

GREP...

Dan gerakan cepat Changmin langsung merengkuh erat tubuh ramping Jaejoong dan tersenyum senang karna doanya benar-benar terkabul.

"Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi Jae... aku sangat merindukanmu... ah... maksudku Moobin." Changmin langsung melonggarkan pelukkannya dan menumpukan kedua tangannya pada kedua pundak Jaejoong dengan mata yang berbinar-binar.

"Ah... ne... Moobin juga merindukanmu Changmin-ah..." Jaejoong tersenyum pada Changmin yang mengakibatkan kedua mata mereka saling bertemu. Changmin seolah-olah terhipnotis pada mata bulat nan indah milik Jaejoong hingga tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya pada Jaejoong.

"Ah... disini kau rupanya tiang listrik." Pria tampan bertubuh kekar dan bermata kecil itu langsung berjalan menghampiri Changmin yang terlihat sedang berbicara dengan seseorang. Namun hal yang membuatnya jengkel adalah Changmin malah hendak berbuat nekad dengan ingin mencium seseorang di tempat umum.

NYUT...

Jung Yunho langsung menjewer kuping Changmin yang hampir saja mencium seorang yeoja menurutnya.

"Aaarggh... Yak! Yak! Hyung... sakitt..." Changmin langsung melepaskan pegangannya pada pundak Jaejoong dan mengaduh kesakitan.

"Dasar food monster! Di tempat umum pun kau ingin memakan orang eoh?" Dengan gemas Yunho malah menjewer kedua kuping Changmin hingga memerah.

"Bhahahahaaaa... kalian seperti anak kecil... hihihi..." Yunho dan Changmin langsung mengalihkan pandangannya pada sesosok indah yang sempat terabaikan.

DEG... DEG...

Jantung kedua namja tampan itu seolah-olah terhenti kala melihat wajah cantik dan menggemaskan yang kini tertawa dihadapan mereka. Cantik... ujar Yunho dan Changmin dalam hati.

Kriik... Kriik...

"Eh... Yunho hyuung... sudah ayo kita pulang. Jangan kesini, sudah kubilang tunggu dimobil." Changmin yang sempat merasa risih karna ia takut Yunho akan terpesona dengan Jaejoong-nya dengan cekatan ia membalikkan tubuh Yunho dan mendorongnya sekuat tenaga hingga menghilang dari hadapan Jaejoong. Jaejoong hanya menatap bingung pada tingkah ajaib dua orang namja dewasa itu, dengan mengendikkan bahunya tanda ia tidak perduli lalu Jaejoong kembali melanjutkan berbelanjanya.

"Jae..." Jaejoong menolehkan kepalanya saat ia mendengar suara Changmin yang ternyata masuk lagi ke mini market lagi.

"Ini nomor ponselku, tolong hubungi aku jika kau memerlukan sesuatu. Aku pergi ne... bye bye..." Changmin pergi setelah ia memberikan secarik kertas yang berisi nomer telpon pada Jaejoong. Jaejoong menatap bingung pada Changmin yang telah menghilang di balik pintu mini market dan tersenyum sambil menatap nomor telepon yang diterimanya.

"Ne... suatu saat nanti Changmin-ah..."

FLASH BACK OFF

.

.

.

Mansion Jung

"Yeoja itu siapa Changmin-ah? Hm.. cukup menarik." Yunho berjalan menuju ruang kerjanya bersama Changmin yang bingung harus berkata apa.

"Hmm... dia temanku.. kekee... sudahlah hyung. Jangan dipikirkan. Sekarang saatnya kau mengambil berkas yang tertinggal tadi. Kau harus menandatanginya." Changmin sebisa mungkin mengalihkan perhatian Yunho.

"Ahh... ne.. ne..." Yunho langsung mengambil dokumennya dan tanpa Changmin sadari Yunho mengeluarkan smirknya dalam diam.

'Aku harus cari tahu siapa yeoja cantik itu' Ujar Yunho dalam hati.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

REVIEW JUCEYOO...^^V

REVIEW & tinggalkan jejak...^^

Kalau yang minat banyak maka aku teruskan chapter 3-nya... karna yang review chap. 1 sedikit tapi yg ngefollow-ngefave udah cukup maka aku buatkan chapter 2 ini. Yang sudah meReview, Fav & Follow gumawoooo... *hug

Buat :

: Iyah cerita bakal rumit dichapter depan. Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

Minami kz : Hahaha... tenang ajah joongie jadi milik aku kok... *ditendang.

Uhm... tetap di pairing utama Yunjae sih.^^ Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

NicKyun : Iyah... tuh.. udah ketemu pan... kekeke... Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

Moonyoojung : Iyah udah dilanjut.^^ Nantikan chapter 3 ne... Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

Nabratz : Semoga permintaan mu dikabulkan. Kekekee... Iyah tetep Yunjae kok.^^ Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

Meirah.1111 : Uhhm... maaf yah... nantikan ajah Yoosu moment-nya pasti ada kok. Yunjae udah ketemuan nih. Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

Guest : Iyah. Semoga suka epep-nya. Hehehe... Junsu terlalu anu kalo jadi seme-nya Joongie... -_-" Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

Jaelous : Jangan sedih... iyah ini udah dilanjut. Silahkan direview lagi yah. Gumawo udah baca...^^

-KALSEL '15-