"Apakah kau sedang flu, Mignet?"
"Memang kenapa?"
"Masker-mu lepas, jadi apakah kau flu?"
"Tidak."
"Aa … yokatta yokatta."
"Kau kenapa, jeruk?"
"Hehe tidak ada. Masalahnya maskermu tak sengaja kuinjak."
"APA?!"
PESONA
Victoria Yuuki
Tite Kubo
IchigoRukia
Hurt and Romance
Couple
Helen of Sparta and Paris Prince of Troya
Warning
OOC, Setting kerajaan, Sedikit fantasi, Typos, Feel kurang, and many others.
Hurt? Romance ?
(Nilai sendiri)
Summary
"Kecantikannya membawa petaka. Kutukannya, hidup dalam pesona mematikan yang menghipnotis setiap lelaki/Jika memang keberadaanku adalah sebuah bencana, mengapa kalian tak langsung membunuhku?/Dulu aku tak tau apa arti hidup, tetapi setelah bertemu dengannya, aku mengerti./Penyebab perang berbagai macam, tetapi pesonalah pemicu perang ini/For The Story of Destiny, an IchiRuki Event."
.
.
Happy reading
.
.
Rukia menatap horror lelaki di depannya yang malah tanpa dosa asik bercengir ria. Benar-benar tanpa dosa! Cadarnya telah kotor karena terinjak, mana mungkin ia kembali memakai benda yang penuh penyakit seperti itu!
"Jeruk no Baka!" umpatnya.
Ichigo mengangkat tangannya tanda menyerah, "Gomen. Sungguh, aku tidak sengaja."
Gadis itu menghela napas, tetapi tidak mungkin memarahi pemuda itu, bagaimanapun lelaki itu telah menolongnya dari kejaran hewan buas. Tetapi mengingat cadarnya tak bisa dipakai, bagaimana ia bisa keluar dari sini?
"Benda itu pasti sangat penting ya?" tanya Ichigo merasa tak enak.
"Benda ini pelindungku," ujar Rukia datar seraya menatap cadarnya.
Salu alis pemuda itu terangkat, "Masker?"
"Cadar," gadis itu membenarkan.
"Aa … itu maksudku. Cadar itu bisa melindungimu?" kening Ichigo berkerut heran. 'Bagaimana bisa?' tambahnya dalam hati.
"Yah …" Rukia mengangkat bahunya. "Setidaknya cukup membantu menjauhkan lelaki hidung belang."
"Menjauhkan lelaki hidung belang?"
"Kau tidak mengerti?" Rukia balik bertanya.
Ichigo terlihat menimang, "Sedikit, hanya saja … kenapa?"
Kening gadis itu berkerut bingung, "Kau tidak merasa tertarik denganku?"
"Tidak. Kenapa? Memang kau cantik?"
"HAH?!"
_.PESONA._
"Kira-kira dimana keberadaan Hime-sama?"
"Entahlah Toru … kemunculan panah-panah sialan itu membuat kita kerepotan!"
"Tenanglah Rei, yang terpenting, kita harus menyelamatkan Hime-sama. Aku melihat seekor hewan mengejarnya, ia pasti ketakutan." Seorang rekannya yang lain menepuk bahu Rei, mencoba menenangkan.
"Yah … kau benar Kei, tetapi lihatlah. Kita hanya bertiga disini, rekan kita yang lain telah terbunuh oleh panah sialan itu." Toru menoleh ke sekitar dan masih sempat-sempatnya mengumpat.
Kei memperhatikan sekelilingnya waspada, mereka sedang berada dibalik batu untuk melindungi diri dari musuh, "Dimana Soru?"
Rei menoleh, "Aku memintanya melapor kepada Byakuya-sama."
"Sendirian?" tanya Toru kaget.
"Ya, memang kenapa?" tanya Rei heran.
"Kau ini, seharu—
"Ternyata kalian berada disini ya, lalu bagaimana dengan Hime-ku?"
Ketiganya menoleh, menatap terkejut seorang lelaki dengan tubuh besar dan tinggi. Mata tajamnya berkilat serta seringai menakutkan terlihat. Tangannya memegang panah yang mirip dengan panah yang terbang secara membabi-buta ke arah mereka tadi.
"Panah itu," bisik Toru kepada Kei.
"Sudah kuduga ada yang tidak beres," sambung Kei.
Rei berdiri lalu menunduk perlahan, "Maafkan kelalaian kami. Hime-sama …"
"Kau ingin mengatakan bahwa Hime-ku tak berada bersama kalian, hm?" tanya lelaki itu dengan wajah datar.
"Be-benar," kata Rei terbata. Entah mengapa ia merasa ada aura menakutkan disekitar tubuh lelaki itu. Menusuk kulit hingga ketulangnya.
"Sayang sekali," ucap pria itu dingin.
Crash
"GYAAA!"
_.PESONA._
Seorang wanita berambut ungu menolehkan kepalanya ke seluruh penjuru arah, memicingkan mata mencari sesuatu atau lebih tepatnya 'seseorang'. Tidak menemukan apa yang dicari terlebih keadaannya yang cukup lelah, ia menghembuskan napas kesal. 'Pencarian cukup sampai disini' pikirnya.
Melihat seorang lelaki yang sedang berbaring santai diatas kursi malas, membuatnya sedikit mendapat ilham. Mungkin ia bisa mendapat petunju—walau tidak yakin.
"Hei, kau melihat Ichigo?" tanyanya.
"…"
Tidak mendapat respon, wanita itu kembali bertanya, kali ini lebih keras.
"…"
"URAHARA!" teriaknya kesal.
Lelaki itu sedikit terjungkal, "Ah hah! I-iya?! Siapa?! Kenapa?! Eh Yoruichi?"
Yoruichi merotasikan matanya, "Ya ya. Kau tau dimana Ichigo?"
Mata pria itu berkedip beberapa kali, "Entahlah. Tadi ia mengatakan ada sesuatu yang menarik di hutan."
Wanita cantik itu mengerutkan keningnya, "Sesuatu yang menarik?"
"Ya," Urahara mengangguk. "Tetapi mengapa aku merasa sebaliknya?"
"Apa?"
"Sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk," lelaki itu menyeringai.
"Terserah, aku hanya berharap ia tidak lupa batas waktu yang kuberikan. Aku tidak ingin memperbaiki hutan seperti rumah Tessai." Yoruichi bersedekap.
Uruhara terkekeh, "Tessai lebih senang tinggal disini daripada di rumahnya. Itulah alasan mengapa ia mau saja menerima Ichigo berlatih disana."
"Kau benar, tetapi tetap saja. Amukan makhluk orange itu merepotkan," gerutu Yoruichi.
Rukia terdiam, begitu heran dengan dirinya. Selama ini tak ada yang bisa membuatnya bercerita—kecuali Yamamoto. Tetapi anehnya, lelaki disebelahnya—yang tengah berwajah bangga—dengan cepat bisa membuatnya nyaman dan bebas mengeluarkan keluh kesah yang telah lama terpendam.
Gadis itu meringis, mungkinkah ia terkena jampi-jampi?
Ichigo tertawa keras, "Tidak masuk akal. Istana adalah tempat terbaik!"
Rukia mendengus, "Istana tak ubahnya sebagai penjara para anggota kerajaan. Memuakkan."
"Benarkah? Ku pikir setiap anggota kerajaan pasti bahagia tinggal di istana. Hidup dalam kemewahan, apapun selalu ada dan diturui." Ichigo menaikkan sebelas alisnya ketika melihat gadis di depannya menyorotkan mata sendu.
"Pikiran klasik manusia." Rukia mendengus setelah beberapa detik terdiam.
"Apa?" Ichigo merasa kesal karena buah pikirannya di anggap remeh. Gadis itu sekarang malah dengan santai menyender di sebelahnya.
"Kau tidak tau saja." Gumam Rukia.
"Bisa kau ulangi?" Ichigo mendekatkan telinganya. Rukia yang risih menjauhkan tubuh pemuda itu walau tanpa tenaga yang berarti.
"Lupakan. Bagaimana denganmu?" tanyanya mengubah topik pembicaraan.
Ichigo kembali menegakkan tubuhnya, "Kehidupan biasa. Hidup dalam keluarga kecil di sebuah desa miskin. Memiliki seorang ayah yang menyebalkan, ibu luar biasa yang kini hidup dalam kemewahan sang penguasa, dan dua orang adik perempuan."
Rukia menatap aneh, 'Ibu luar biasa yang kini hidup dalam kemewahan sang penguasa?'
Ichigo tersenyum cerah hingga membuat Rukia memerah karenanya. Sang gadis terpesona untuk pertama kali pada senyuman seorang lelaki. Lengkungan itu terlihat sangat tulus dan terlihat amat indah untuk dilihat. Begitu menentramkan.
Telunjuk pemuda itu terangkat ke atas, mengangguk walau Rukia tak begitu mengerti maksudnya. "Ibuku tinggal di atas. Menemani Kami-sama."
Iris kelam itu membelalak, jadi itu maksudnya. Ternyata ibu pemuda ini telah meninggal.
"Maaf … begitu lancang aku bertan—
"Aaa …" Ichigo mengibaskan tangannya, menghentikan perkataan sang gadis. "Aku memang ingin bercerita."
"Dan ada angin apa yang membawamu kemari?" tanya Rukia.
"Panggilan misterius. Seruan kekuatan." Jawab Ichigo asal.
Rukia mendengus, "Kita tidak sedang mengikuti lomba kesabaran."
Seringai terbentuk di wajah Ichigo, "Hanya mengikuti insting. Alarm bahaya yang mengancam seorang gadis memanggilku kemari. Jadi begitulah."
Rukia memukul lengan Ichigo, "Kau selalu bermain-main baka!"
"Itai!"
Kyruyuukk …
Perkelahian aneh itu berhenti seketika kala sebuah suara mengrintrupsi keduanya. Rukia melempar pandang ke arah lain dengan wajah memerah, sedangkan Ichigo terpaku kemudian terpingkal.
"Dengarlah! Perutmu berbunyi!" seru lelaki itu dengan tawanya yang belum berhenti.
"Urusai!"
"Ya, se-urusai kondisi perutmu. Aku rasa disekitar sini ada sungai. Sepertinya beberapa ikan akan cukup untuk kita berdua." Ichigo berbicara dengan nada menimang.
Iris kelam itu menyipit, "Kau mengajakku?"
"Tidak. Hanya melapor," kata pemuda itu malas.
"Aku tidak bisa pergi, bagaimana bila mereka mencariku?"
"Apakah kepalamu terbentur Mignet? Baru saja kabur dan sekarang kebingungan jika mereka mencari? Benar-benar tak masuk akal!"
"Kau tidak mengerti posisiku baka! Apa telingamu bermasalah? Ledakan terjadi pada pos utama!"
"Kukira kau sendiri tak memperdulikannya."
Rukia mendengus, malas menjawab. Tetapi kemudian pandangannya berubah menjadi khawatir.
"Ada apa?" tanya lelaki itu lembut, amat lembut.
Gadis itu tersentak, suara yang lembut merasuk dalam pikirannya. Tatapan menyebalkan berubah menjadi penentram hati dan jiwa. "Kau …
"Apa?" Ichigo mendekatkan wajahnya.
Rukia merona, menggelengkan wajahnya, menepis semua pikiran aneh, "—bisa berkata seperti itu," ucapnya cepat.
"Khas perempuan. Selalu ingin menang sendiri," gumam pemuda itu kesal seraya bersedekap. Suaranya terdengar begitu kecil hingga sang lawan tak dapat mendengarnya.
Rukia berdiri, mengibaskan kembali rok dan baju di punggung, 'Apa yang terjadi dengan para prajurit?' tanyanya dalam hati.
"Mau kemana?" tanya pemuda itu.
Rukia menoleh malas, "Kurasa aku harus kembali. Memastikan para prajuritku tak dimakan hewan buas tadi."
Ichigo tertawa, "Cukup katakan, 'aku mengkhawatirkan mereka,' ternyata kau ini tipe perempuan yang menjunjung tinggi harga diri ya."
"Tentu saja, harga diriku tidak sepertimu," gadis itu membuang buka.
"Hey!" teriak si rambut jeruk ketika tak diperdulikan. "Memang kau tau jalannya?" tanyanya remeh.
Rukia terdiam, sedetik kemudian wajahnya memerah, "Aku akan berusaha mencarinya."
"Jika kau meminta bantuanku—
"Berhenti berkhayal terlalu tinggi."
"Aa~ baiklah. Dasar gadis yang tidak asik."
Rukia tidak memperdulikan sebuttan itu, kemudian kembali berjalan dengan hentakan yang dibuat keras agar lelaki itu tau bahwa ia sangat kesal.
Ichigo berdekap seraya menutup matanya, "Tidakkah kau ingin berpikir sebelum bertindak?"
"Pikiranku adalah telah kukatakan, tindakan juga sedang kujalankan. Berhenti mengurusiku!"
"Bukan itu," pemuda itu mendesah. "Tidakkah kau berpikir bahwa mereka masih hidup?"
Rukia berbalik, cukup kesal karena pemuda itu selalu mengintrupsinya, "Apa maksudmu, jeruk?"
Lelaki itu menatap tajam, "Kurasa mereka tidak terlalu bodoh untuk tak memanfaatkan senjata masing-masing, Mignet."
"Kurasa kita masih ingat seberapa besar makhluk itu, stroberi-kun," jawab gadis itu seraya bersedekap.
Ichigo menyeringai, stroberi adalah arti namanya, "Dan sepertinya kau masih ingat berapa banyak prajurit yang mengawalmu, cebol-chan."
Rukia terdiam, memerah kesal karena panggilan sialan itu, "Jumlah belum tentu menentukan kemenangan!"
"Memang kau tau apa yang menentukan kemenangan?"
"…"
"Keahlian bertarung, pengamatan yang tepat, jumlah personil, ditambah dengan senjata yang memadai. Apa kau pikir tiga hal itu mudah dikalahkan? Prajuritmu telah menang jumlah, kuyakin mereka juga memiliki keahlian bertarung, dan pengamatan yang baik, ditambah senjata pribadi masing-masing, kuharap kau bisa berpikir kesana."
Wajah ayu itu menunduk, "Tetapi mengapa Harimau itu mengejarku jika tidak mengejar mereka sebelumnya?"
"Mengapa? Kurasa kau tidak tau bahwa yang paling dekat dengan hewan itu adalah dirimu sendiri."
"Apa maksudnya?" Rukia kembali mengangkat wajahnya.
"Bayangkan, anggap saja kau adalah daging segar yang berlari seorang diri. Dibandingkan dengan banyak daging tetapi terkandung racun—disini anggap senjata adalah racun oke?—mana yang akan kau pilih?
"…"
"Langkahmu telah memasuki wilayah kekuasaan pemiliknya. Melanggar hukum mereka. Kau tau? Hukum rimba adalah yang terburuk. Masuk ke dalam wilayah akan mendapat hukuman berat, langkah cerobohmu diartikan sebagai sebuah penghinaan—
"Tapi aku—
Ichigo mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Rukia, "Mereka tidak pandang bulu. Tak ada ampun bagi penyusup sekalipun yang dihukum tidak mengetahui konsenkuesinya. Kau telah menjejakkan kakimu duluan sebelum para prajuritmu, Hime. Menjadikanmu orang pertama yang dijatuhi hukuman."
"…"
"Harimau yang kebetulan lapar itu tengah menghukummu. Memberimu sanksi berupa kematian."
_.PESONA._
"Mengapa bisa ada api disini?!"
"Bawa air yang lebih banyak!"
"Angin yang besar semakin memperkuat api ini, kita akan sulit memadamkannya!"
"Kau padamkan api disana!"
"Selamatkan para kuda! Mereka bisa mati terbakar!"
Kericuhan terjadi, kepanikan melanda setiap orang, terutama para wanita kerajaan yang ikut berpartisipasi. Berpuluh orang berusaha memadamkannya, beberapa menggunakan kain basah untuk menghilangkan api pada bagian tubuh kuda, maupun menyiram air pada tempat lain yang dilalap si jago merah.
"Apa yang terjadi?" Byakuya menatap heran seluruh pemandangan di depannya. Terlihat api dimana-mana, pos utama yang paling parah karena hampir terbakar sepenuhnya. Banyak kuda yang dilepas untuk diselamatkan.
"Byakuya-san!" Hitsugaya berlari ke arahnya. Wajahnya yang tenang kini terlihat sedikit panik.
"Apa maksud semua ini?"
Jendral muda itu mendekatkan tubuh mereka lalu berbisik, "Kurasa ini rencana Aizen-san."
"Aizen?"
Pemuda bertubuh pendek itu mengangguk, "Kedatangannya memunculkan pertanyaan dalam benak kami, sehingga saya dan kerajaan Latium mengadakan pertemuan rahasia. Kejanggalan terasa karena ia meminta rute yang sama dengan Byakuya-san. Sikapnya itu semakin memperjelas pikiran kami."
"…"
"Demi keamanan, saya telah mengatur sedemikian rupa agar rute Anda dan ia menjadi sangat jauh. Tetapi hal itu tidak akan berpengaruh pada situasi ini."
"Aa … aku mengerti." Byakuya berbalik, menghadap hutan yang baru saja di terobosnya. Meninggalkan seorang yang amat rapuh hanya dengan para prajurit.
Hitsugaya terdiam, tau benar bahwa atasannya memiliki instuisi yang luar biasa. Menebak jalan pikiran atau siasat musuh merupakan hal mudah. Terlebih bila ada satu—dua kunci, semakin mempermudah hal itu.
"Aizen memancingku. Lelaki itu mengincar Rukia."
_.PESONA._
"Jadi kau memiliki kutukan pesona ya?"
Pemilik mata kelam itu mengangguk, tetapi tak menundukkan wajahnya.
"Tetapi kenapa aku tak terpesona dengan mu?"
Rukia menoleh, "Mungkin kau memiliki kelainan."
Rasanya pemuda itu ingin membekap bibir mungil sang gadis yang asal menyebutnya memiliki kelainan. Jangan salah! Ia sangatlah normal!
Oh lihatlah, sekarang gadis itu tertawa kecil membuatnya sedikit kesal. Tetapi saat melihat tawanya yang cantik dan anggun, itu membuatnya ikut tersenyum, tanpa sadar berpikir dalam hati bahwa gadis ini sangat kuat menghadapi hidup.
"Hei," panggil pemuda itu pelan.
Rukia menoleh, mengerutkan alisnya tanpa menjawab panggilan itu.
"Jika aku menjadimu Mignet, aku pasti memanfaatkannya," lelaki itu kini menampakkan cengirannya.
Bletak
"Baka," umpat Rukia.
"Itai yo!" dengus Ichigo sembari mengusap kepalanya yang tadi terkena pukulan gadis itu.
"Urusai!"
Pemuda itu terkekeh, "Tetapi sejauh ini … aku hanya melihat seorang gadis yang kuat."
Rukia menoleh, "Apa?"
"Kau kuat Rukia, amat kuat. Keberadaanmu di depanku sebagai buktinya." Ichigo tersenyum dengan tulus. Membuat pipi Rukia memanas karenanya.
"Kau ingin mempermainkanku?"
Pemuda itu merangkulnya perlahan, "Aku tak akan mempermainkan gadis kuat sepertimu. Percayalah, Kami-sama pasti telah memilihmu karena yakin kau orang yang kuat untuk menjalani hidup ini. Hanya satu yang kau butuhkan sekarang."
Rukia terdiam, tak menyela. Menunggu apa yang akan dikatakan pemuda yang tengah merangkulnya hangat ini.
Ichigo tersenyum, merasa tak ada penolakan sedikitpun, "Terkadang, sekuat apapun manusia, ia tetap memiliki kelemahan. Membutuhkan sandaran untuk membuatnya semakin kuat menghadapi masalah. Inilah yang kau butuhkan, membagi masalah, duka, dan kesedihan, menangislah."
Air mata gadis itu menggenang, tetapi egonya berteriak untuk tak mengangis di depan pemuda asing yang baru saja ditemuinya. Tetapi usapan hangat terasa dipucuk kepalanya, membuat harga diri kembali terbenam.
"Banyak orang mengatakan 'kesedihan tidak untuk dibagi', tetapi menurutku, 'kesedihan perlu dibagi untuk menemukan penyembuhnya'. Menangislah, lalu kembali kuat seperti sedia kala. Kau tak sendiri Rukia, tak ada manusia yang dilahirkan untuk hidup sendirian."
Rukia menangis, membenarkan kata-kata Ichigo. Perasaannya begitu hangat ketika mendengar setiap tutur kata lembut pemuda itu, menggetarkan jiwanya, dan masuk ke dalam relung hati.
"Kau tau? Keberadaanmu bukanlah suatu dosa, tak ada yang bisa menyalahkan eksistensi seseorang."
Rukia terisak, "Tetapi … aku adalah penyebab kehancuran dunia."
"Seseorang tak seharusnya disalahkan hanya karena sebuah ramalan konyol, kau telah berjuang untuk dirimu. Berdiam diri bukanlah hal yang tepat—ketika kita dituduh akan melakukan sesuatu yang belum tentu akan kita lakukan dimasa depan."
Gadis itu semakin terisak, membenamkan kepala sedalam-dalamnya pada dada bidang pemuda itu. Tak pernah ada yang mengatakan hal itu padanya. Bahkan kehangatan kakeknya berbeda dengan lelaki ini.
Entahlah … hanya saja, perasaan hangat melandanya lebih dari apapun.
_.PESONA._
Berpuluh menit terlewati. Kini tak ada satupun sinar panas yang meriuhkan suasana. Hanya orang-orang yang terluka dan kesibukan dari panitia dan prajurit untuk memastikan tak ada ledakan susulan.
Jauh dari pos utama yang terbakar—sekaligus pencegahan serangan, terdapat tenda putih yang baru dibangun untuk melakukan pertemuan dadakan akibat masalah ini.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Gin masih dengan wajah tersenyumnya. Rute pemuda itu tidak terlalu jauh dari pos utama, makadari itu ia bisa segera sampai di tempat ini sama seperti Byakuya.
"Kami masih menyelidikinya Gin-sama. Tetapi hasil penyelidikan sementara, itu berasal dari kotak yang berada di pos utama," jelas salah satu panitia.
"Kotak?" tanya Hitsugaya. "Bisakah kalian membawanya kemari?"
"Dengan senang hati." Panitia tersebut meminta rekannya mengambilkan kotak. Tak berselang lama, panitia yang lain datang bersama benda gelap yang ditaruh perlahan di atas meja, "Kami cukup beruntung karena kotak ini terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar."
Byakuya memandang datar kotak itu, warnanya hitam karena terbakar, tetapi sebuah lukisan yang menggambarkan tiga bunga membuatnya penasaran. Bunga edelweiss yang berada diatas menjadi bingkai, baground permukaan kotak yaitu mawar hitam yang mekar, di tengahnya terdapat mawar merah.
Iris kelamnya melebar sesaat ketika mengetahui maksud rahasia dari gambar itu.
"Byakuya-samaa!"
Seluruh orang yang berada dalam tenda menoleh, seorang prajurit Lavenia terengah-engah berjalan ke arahnya. Wajahnya menyiratkan kepanikan yang mendalam. Tubuh lelaki itu pun tidak terlihat baik. Seorang panitia membantunya berjalan.
"Hime-sama! Hime-sama!"
"Aku pasti terlihat jelek," gerutu Rukia.
"Kau memang jelek, Mignet," ejek Ichigo seraya menjulurkan lidahnya.
Rukia menggeram, lalu menarik napas mencoba tenang, "Ichigo?" panggilnya.
Pemuda itu memandangnya dengan raut wajah bingung yang dimiringkan, "Ada apa?"
"Terimakasih," ucap Rukia tulus dengan senyum lebarnya.
Ichigo terpesona, senyum Rukia begitu memukaunya, begitu bersinar, begitu cantik. Tapi lelaki itu menekankan, itu bukan karena pesona, tetapi memang asli dari dalam gadis itu sendiri.
"Ichigo? Ichigoo?" panggil gadis itu seraya mengibaskan tangannya.
"Ah! I-iya sama-sama," jawab Ichigo tergagap membuat Rukia bingung karenanya.
"Hey …" panggil gadis itu kembali.
Ichigo tak menoleh, masih sibuk menetralisir keadaan tubuhnya.
"Bisakah kau menceritakan tentang siapa dirimu yang sebenarnya?"
Pemuda itu terdiam lalu menghela napas, "Terlalu sulit, Mignet."
Rukia ikut terdiam, menunduk dalam, "Jadi begitu."
"Aku tak bisa membahayakan hidupmu, mengetahui identitasku akan menambah beban dalam hidupmu," Ichigo menatap dalam.
"Tidak apa, terlalu banyak beban yang kumiliki, hal itu tidak akan berpengaruh banyak," ujarnya seraya tersenyum manis.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Ini berbeda dengan bebanmu yang lain. Aku bukanlah orang yang baik, keberadaanku disini juga merupakan sebuah rahasia."
Rukia mengerutkan keningnya, "Aku tidak mengerti."
Ichigo mengambil tangan gadis itu, menaruhnya tepat di dadanya, "Kau tau? Disini, terdapat seorang iblis. Iblis yang akan menghancurkan dunia."
"Itu berarti kau sama denganku!" Rukia menarik tangannya.
Pemuda itu menggeleng, "Ini tidak sama. Pesonamu belum tentu menghancurkan, berbeda denganku, aku pasti akan menghancurkan segala sesuatu."
"Tapi …"
"Kau masih suci Rukia. Aku berani bertaruh tak ada satupunnyawa yang pernah kau antar dengan tanganmu sendiri."
"Ichigo … kau?"
"Ya. Aku sudah pernah melakukannya. Sebuah penyesalan tak berujung, tetapi tetap mengambil pelajarannya."
"Lalu apa yang lakukan disini? Apakah kau melarikan diri?" selidik Rukia.
Ichigo tersenyum, mencubit gemas pipi chubby gadis itu, "Kata melarikan diri terlalu kejam, Mignet. Anggap saja aku sedang 'berlatih."
"Berlatih?" Rukia membeo.
Suara gagak hitam terdengar dari langit. Ichigo mengadahkan wajahnya lalu menutup mata perlahan, Rukia memandang pemuda itu penuh keheranan, terlebih lagi ketika angin kuat yang menerpa tubuh mereka berdua.
"AKH!" teriak gadis itu panik, tanpa sadar memeluk erat leher Ichigo.
Lelaki itu tersenyum, merasakan angin yang memanggilnya, lalu sengaja membalas pelukan Rukia. Sebelum memutuskan pergi dari tempat itu.
"Sepertinya pertemuan kita cukup sampai disini."
Rukia tersentak, segera melepaskan dekapannya pada lelaki itu, wajahnya merona akan aksinya barusan.
Ichigo berdiri, membuat gadis mungil itu mengikuti gerakannya, "Kuharap kita bisa bertemu," ujarnya sebelum pergi menjauh tanpa mendengar persetujuan Rukia.
"Tunggu!" Rukia menarik pergelangan tangan Ichigo. Ada sesuatu yang berbeda, mata pemuda itu terlihat lain … tetapi apa?
"Aku tak memiliki banyak waktu Mignet, jadi tolong katakan lebih cepat," kata Ichigo dengan napas yang memburu.
"Aku sangat berharap bila kita bisa bertemu kembali," Rukia menatap harap mata Hazel yang menatapnya balik.
"Kau ingin kembali bertemu denganku?" tanya lelaki itu serius.
Rukia mengangguk.
"Tak ingin berpikir dua kali?" ujinya.
"Tak pernah seyakin ini." jawab Rukia tegas.
Wajah tampan itu tersenyum lega dan terlihat penuh makna, "Kuharap kau tak pernah menyesalinya, Mignet."
Ichigo merogoh kantungnya, seolah mencari sesuatu. Lalu mengeluarkan sebuah benda indah. Ternyata sebuah batu oval berwarna biru susu yang seukuran ibu jari, amat manis, yang kemudian diberikan kepada Rukia.
Rukia menerima batu itu dengan wajahnya yang merona, mengangkatnya setinggi wajah dan terpukau akan kilauannya. "Ini untukku?"
"Ya, bila kau memenuhi sebuah syarat," napas lelaki itu semakin terdengar putus-putus, seperti menahan sesuatu.
Rukia mengerutkan keningnya heran, "Apa?
Ichigo menggenggam erat bahu Rukia, "Kutanya sekali lagi, apa kau serius ingin kembali bertemu denganku?"
"Apakah aku perlu membuktikannya untuk membuatmu percaya?" Rukia balik bertanya, membuat lengkungan indah terbentuk di wajah tampan sang pemuda.
Ichigo tak menjawab, justru kembali mengambil batu cantik itu, dikecupnya batu itu lama, kemudian bekas ciuman pada batu ia tempelkan pada bibir Rukia. Gadis itu membelalak, tak mengerti, tetapi tak berusaha melawan.
Tatapan Ichigo padanya membuat jantung Rukia berdebar kencang, seolah menghanyutkannya. Lelaki itu terlihat serius, cemas, dan berharap. Perlahan, pemuda itu mengarahkan bibirnya pada bibir mungil Rukia. Mengecupnya perlahan.
Chu
Rukia yang bingung menutup matanya rapat, ciuman itu tidaklah mengandung hawa nafsu. Hanya ciuman biasa, tetapi … terasa ada yang berbeda. Seperti ada energi khusus yang mengalir pada bibirnya, lalu perlahan menuju ke seluruh tubuh yang seperti dialiri listrik.
"Ngh …" gadis itu mengeluh, merasa cadangan oksigennya habis. Jelas saja, ia tak sempat menghirup udara saat ciuman itu terjadi.
Ichigo melepaskan sentuhannya, keningnya ia tempelkan pada kening Rukia. "Lakukan ini selain hari Jumat. Bila kau ingin bertemu, cukup panggil namaku tiga kali lalu cium batu ini."
Rukia tergagap, "Ci-cium?"
Pemuda itu tersenyum, "Anginku akan mengantarmu ke jalan yang benar. Bila ada sesuatu yang mengancam, larilah dengan cepat, anginku akan membantumu."
Setelah berkata, Ichigo berjalan ke belakang pohon yang menjadi senderan mereka. Selang beberapa detik, Rukia yang merasa heran kemudian mencoba melihat apa yang ada di belakang pohon hingga pemuda itu begitu lama berada disana. Tetapi sesuatu mengejutkannya, tak ada seorangpundibalik pohon tersebut.
Rukia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan pria misterius yang telah mengusik hatinya itu.
"Ichigo … kau sebenarnya siapa?"
_.PESONA._
"Ternyata Anda berada disini Rukia-hime, sangat mengherankan tak bersama pengawal dan Byakuya-san, ah ditambah dengan situasi yang amat buruk saat ini juga."
Sebuah suara yang berbeda terdengar. Begitu tajam, misterius, tetapi sangat berbahaya. Gadis itu menoleh cepat, indra penglihatannya menangkap seorang lelaki yang sudah masuk ke dalam daftar orang yang harus dijauhi dan diwaspadai.
"Kau …"
Lelaki itu menyeringai girang, "Sudah saya duga, Anda memiliki paras yang luar biasa!"
"Aizen-san …"
"Merupakan suatu penghormatan Anda mengingat nama makhluk hina seperti saya," Aizen menyeringai dan perlahan berjalan mendekat. Sebuah senyuman yang tak disukai oleh Rukia.
"Bagaimana bisa Anda berada disini?" tanya Rukia seraya mengatur jarak.
"Ini merupakan suatu kebetulan. Suara ledakan memaksa kelompokku berbalik," lelaki itu semakin mendekat.
Rukia mengedarkan irisnya, mencari rekan dari pria itu, "Saya tidak melihat siapapun."
"Mereka telah kuperintahkan kembali ke pos utama ketika pandanganku tak sengaja menangkap siluetmu." Seringai itu semakin melebar ketika punggung gadis incarannya telah menabrak pohon. Tak bisa bergerak.
"Kupikir sebaiknya kita kembali." Langkah gadis itu mencoba bergeser ke tempat lain yang tak terhalang pohon dibelakangnya. Mencoba kabur. Terdapat hembusan angin yang melewatinya. Itu adalah petunjuk!
Iris kelam pria dewasa itu berkilat, tangannya dengan cepat mencengkram pergelangan tangan Rukia. "Ya. Ada baiknya. Tetapi akan lebih baik bila kita berjalan bersama-sama, hutan ini tidak aman."
Rasanya Rukia ingin mengatakan bahwa yang lebih berbahaya saat ini adalah pria itu, menginjak kakinya, atau hal apapun buruk yang bisa ia lakukan.
"Ini bukanlah sesuatu yang pantas Anda lakukan Aizen-san. Perlakuan ini sangat tidak pantas bila mengingat status Anda," desis Rukia seraya menghentakkan tangan berkali-kali. Tetapi tetap saja kekuatan lelaki itu tak mudah dikalahkan.
"Anggap saja ini pajak atas bantuanku mengeluarkanmu dari sini," Aizen menjilat bibirnya, merasa begitu terpesona melihat kecantikan seorang gadis yang telah mendunia. Terlebih sekarang tidak ada siapapun disini kecuali ia … dan Rukia.
"Sayang sekali harus ku katakan … AKU TIDAK MEMBUTUHKAN BANTUANMU!"
Rukia menginjak kaki lelaki itu. Membuat ringisan dan umpatan terlontar. Dengan cepat ia berlari dengan perasaan takut, mengikuti angin yang berhembus. Meninggalkan sejauh mungkin lelaki yang tengah tertawa dan memanggil-manggil namanya.
"Berhentilah Hime, kau tau tak akan bisa lepas dariku, bukan?" Aizen tertawa, matanya memancarkan kegilaan. Perasaan di dada lelaki itu membuncang akan sesuatu yang selalu menarik minatnya.
Satu tetes keringat gadis itu terjatuh. Menggerutu dan mengumpat. Pertama ia dikejar oleh Harimau bertubuh besar yang kelaparan, sekarang seorang lelaki gila tetapi anehnya menyandang status Raja tengah mengejarnya.
'Dasar Raja gila!' umpatnya dalam hati. Fokusnya kini mencoba mengingat jalan utama. Tetapi seolah jalan buntu menyukainya, tak ada satu pun ingatan yang menuntunnya. Pepohonan seluruhnya hampir terlihat sama. Hijau dengan batang dan akar yang besar.
"Berhenti Hime! Aku tidak begitu suka bermain-main," ancam lelaki itu.
Rukia tersentak, kembali berlari dengan lebih cepat. Suara riak air yang dihantarkan oleh angin mengalihkannya dari jalan utama. Langkahnya berbelok tajam ke sumber suara itu. Berharap dalam larinya bila mengikuti arus air, maka sebuah desa akan menyambutnya dan menghentikan kegilaan ini.
Shuuutt!
Rukia terkesiap, sebuah anak panah beracun terarah kepadanya!
"KAU GILA?! PANAH ITU BISA MEMBUNUHKU!" bentak Rukia ketika sebuah anak panah tepat melintas di depan kepalanya. Bayangkan, tepat di depan mata! Kalian pasti bisa berpikir bagaimana masa depannya bila ujung benda itu menembus kepala.
"KAU TAK AKAN BISA LARI DARIKU! TAK AKAN PERNAH!" teriak pria itu seraya berjalan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi bersalah sekalipun telah membahayakan nyawa targetnya. Begitu datar dan dingin.
"Aku bukan milikmu sialan!" hilang sudah etikanya selama ini. Keegoisan dan kegilaan lelaki itu benar-benar menghabiskan tangki kesabarannya.
"Kau hanya milikku Rukia! Milik seorang Aizen-sama!" teriak lelaki itu seraya tertwa, dadanya dibusungkan dengan wajah yang begitu angkuh.
"Kau gila!"
Rukia kembali berlari, kecerobohan Aizen yang bisa ia tangkap yaitu; Ada sesuatu di sekitar sungai, membuat lelaki itu mati-matian menghalanginya menuju kesana. Anak panah yang terlempar mulus adalah bukti kuat alasan tersebut.
Sebuah tawa membahana terdengar, suara yang begitu ganjil dan membuat siapapun tidak senang. Beberapa kali ia menoleh kebelakang ketika berlari, berjaga-jaga bila pria itu kembali melemparkan panah kepadanya.
Anehnya, panah-panah yang terbangkan lelaki itu tak pernah lebih tiga langkah darinya, seolah ada sesuatu yang menghalangi benda-benda itu. Rukia melebarkan irisnya, Ichigo! Pasti angin itu yang membelokkan tombaknya!
Suara gemercik air sekaligus hentakan kaki terdengar. Keriuhan itu menyadarkan Rukia.
Ada pasukan kerajaan lain disini!
Dengan mantap namun berhati-hati, gadis itu melewati pepohonan dan melompati akar yang besar. Pertama yang dilakukannya adalah menoleh kebelakang, tak ada Aizen di sana. Sekalipun pandangannya telah melempar ke seleluruh penjuru arah.
Hal itu tak lantas membuatnya senang, justru semakin was-was. Bagaimana bila Aizen mendekapnya dari belakang dan menggunakan obat bius?(seperti penculikan salah satu prajurit di kerajaannya). Maka dari itu pemanfaatan waktu akan ia lakukan se-efisien mungkin.
Langkah kecil itu perlahan mendekat, mengamati terlebih dahulu siapa Kerajaan yang berlabuh disungai. Terlihat seorang lelaki dengan jubah merah glamour memberi instruksi kepada bawahannya. Satu, dua, tiga … ah! Jumlah dari seluruh prajurit itu ia pastikan lebih dari dua puluh.
Tetapi sebuah perasaan tak menyenangkan melandanya, perlahan dengan gerakan kaku ia tolehkan wajahnya kebelakang.
Shhuuuutt
"KYAAAA!"
Rukia berteriak kencang, sebuah anak panah kembali melintas di depan wajahnya. Bila satu detik saja ia tak menghindar(baca: tepatnya mundurkan wajah kebelakang), kepalanya pasti sudah tertembus! Sayang beribu sayang, tempatnya mengintip adalah di atas bebatuan. Menjadikan posisinya mengintip lebih tinggi.
Hal itu membuat keseimbangannya goyah—karena saat mengintip sangat dekat dengan ujung batu—sehingga terjatuh. Tubuhnya terasa sakit ketika berputar(baca: menggelinding) diatas padatnya benda-benda kasar tersebut.
BRUKH
Cukup sudah.
Tubuhnya terasa begitu sakit ketika punggungnya dengan sukses menghantam tanah dengan keras. Penglihatannya mengabur dan rasa kebas mulai menyelimuti raganya. Tepat sebelum kesadaran gadis itu menghilang, siluet seorang pemuda tampan bermata kelam terlihat dan memanggilnya.
.
.
.
TBC
~(^_^)~ Area Curhat Author
Apakah ada yang menunggu fic ini? semoga ada deh ya ._.
Yuuki bales review dulu :D
Azalea Airys : Wah first reviewer! Ciie*plok*
Iya sama" *cengengesan* iya banyak typo, dan langsung ngenes pas baca ulang hueeee
Jangan kayaknya dong, langsung galau ni. Iya Yuuki juga lupa ngasi couplenya -_- *kebiasaan* utk fic k2 Yuuki udah ngasi. Tapi sedikit fantasi, soalnya ga kuat kalo gaada itu(?) Hehe
Sejujurnya Yuuki udh punya firasat namanya salah wkwkwk*plok* makasii reviewnya =D
Azura Kuchiki : Haloo salam kenal juga ya :D Anu dari Helen dan Paris :3 haha Yuuki juga berharap gitu*eh*
makasii reviewnya, review lagi?
Rin Azuna : haha makasii, Yuuki langsung tersanjung bacanya*serius*
ini udah lanjut, semoga tidak mengecewakan dan makasii reviewnya ;D
Chizuru Mey : Intinya, Rukia terkena kutukan dari Red mood karena hari kelahirannya. Pesonanya dapat membuat perang dan perpecahan dunia. Makadari itu seluruh keluarga dan kerajaan menyembunyikan identitasnya. begitu, gimana? masih bingung? kalau bingung Yuuki ikutan bingung jelasinnya XD okee yang jelas ... Makasii reviewnya ya :D
Naruzhea AiChi : Hehe makasii kayaknya iya, kayaknya juga engga deh, Yuuki juga bingung -_-
Iya, ini udah apdet, cepet(bangetkan?) *nyengir
review lagi loh, kan udah adet cepet :P
UL : Haha jelas dong XD wah kayaknya nunggu rate M-nya nih*dikaplok* untuk rate mungkin ga sampe lemon", tahap berdarah aja mungkin. Mungkin*plak*
Makasii reviewnya, review lagi?
Dearest : makasii, semoga ini juga bagus ya*gemeteran.
BIG THANKS For all reviewer. Semoga chap 2 tidak mengecewakan ya, dan review lagi. hehe
Saran, kritik, dan flame yang membangun, Yuuki terima dengan senang hati XD
(Review anda lebih membuat saya bersemangat loh)
Demi bertambahnya kemampuan menulis author …
Victoria Yuuki
Review Please?
