Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Giniro Tsuki
Pair: Hyuuga Hiashi X Haruno Sakura
Genre: Family, hurt/comfort
Rate: M
WARNING : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s)
Summary: Pernikahan ini memang karena kesalahan. Tapi kesalahan itulah yang membuatku menemukan kebahagiaan.
.
Chapter 2
Awal sebuah petaka
.
Tiga minggu berselang dari malam kelamnya, Sakura mencoba bangkit dan tidak berpikir buruk. Hampir setiap jam bahkan setiap detiknya, dia meyakinkan dirinya sendiri akan hal-hal positif yang akan menantinya di masa depan.
Ada begitu banyak kegiatan yang ia lakukan selama tiga minggu ini. Menumpuknya menjadi satu dalam rentang waktu yang singkat. Berusaha sesibuk mungkin untuk melupakan kejadian buruk yang menimpanya. Dalam benaknya, pekerjaan yang banyak akan mampu mengalihkan segala ingatan mengerikannya. Terdengar seperti sebuah pelarian memang. Tapi siapa yang peduli? Asalkan bisa melupakannya, Sakura tak akan peduli.
Tanpa disadarinya, hal ini menyebabkan kesehatannya menjadi tidak seimbang. Kurang istirahat, makan tidak teratur, bekerja berlebihan menjadikannya sosok yang kurus dan tampak kuyu.
Dan di jalanan ramai, dengan segala hiruk pikuknya yang mampu mengusik telinga. Ino yang berjalan di samping Sakura menampilkan roman kecemasan pada kondisi kesehatan sahabatnya. Pasalnya, saat dia mengunjungi Sakura tadi pagi, gadis musim semi itu terlihat pucat dan berkali-kali pula pergi ke kamar mandi. Entah itu untuk buang air kecil atau untuk muntah.
Menurut keterangan Sakura, dia makan makanan kadaluarsa secara tak sengaja. Ino memaksa Sakura ke rumah sakit setelah melihatnya menahan pusing terus menerus. Dia tidak tahan melihat Sakura tersiksa seperti itu.
"Daijoubou, Dekorin-chan?" Tanya Ino khawatir.
Sakura menggeleng pelan. "Daijoubou." Memaksakan sebuah senyum di wajah pucatnya.
"Kau membuatku khawatir."
Melihat muka Ino yang tampak begitu cemas, suara tawa yang tak keras keluar dari bibirnyanya. Ino semakin kesal diperlakukan seperti orang bodoh. Dia hampir memarahinya, sebelum dikagetkan dengan ambruknya Sakura dengan mata terpejam.
"Sakura! Kau kenapa?!" Teriak Ino panik. Dia berlutut di samping Sakura.
.
.
Chapter 2:Awal sebuah petaka
.
.
Ketika Sakura membuka matanya , di depannya ada sang Shisou dan Shizune yang terus menggendong Ton Ton. Emeraldnya memandang bingung sekitarnya. Dia bisa memastikan sedang berada di rumah sakit. Tapi dimana Ino? Bukankan tadi gadis pirang itu menemaninya?
Sakura menyentuh kepalanya. Masih merasakan sakit di sana, rasa kantuknya juga menyerang. Baru disadarinya bahwa dia sudah keterlaluan memaksa tubuhnya bekerja melewati batas kemampuannya. Sekarang dia benar-benar lelah.
"Shisou, dimana Ino?"Tanyanya.
"Sakura…, " Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Tsunade telah mengalihkan pembicaraan.
Sakura mencoba duduk dan Shizune sigap membantunya. Lalu dia menatap Tsunade sebagai jawaban atas panggilan yang gurunya berikan.
"Aku tak kan berbelit-belit. Kuharap kau akan berkata jujur. Jangan tutupi apapun dariku. Apa kau bisa?"
Awalnya Sakura tak paham. Tapi dia hanya mengangguk. Tsunade menarik nafas panjang. "Siapa ayah dari anak dalam kandunganmu?"
"Maksud Shisou apa?" Tentu saja Sakura mendengarnya, namun dia mencoba bertanya untuk memastikan pendengarannya.
Tsunade menutup matanya sebentar kemudian membukanya kembali. Tangannya membelai lembut rambut merah muda sang murid. "Kau hamil, Sakura, " mata Sakura membulat. Sekarang dia sudah yakin bahwa telinganya tidak salah. "Dan aku bertanya, siapa ayahnya?"
Pandangan Sakura berubah menjadi kosong. Hamil? Dia hamil? Oh, dia sama sekali tak mengharapkan ini. Nafasnya memburu menahan tangis. Tubuhnya menjadi kaku seperti kayu mahoni yang sudah keras.
Melihat muridnya terguncang, Tsunade mencoba menenangkannya dengan sebuah pelukan hangat. Meskipun itu tak mengurangi guncangan hebat dalam diri Sakura. "Tak apa, Sakura. Katakan siapa pria itu?"
Apa dia harus memberitahu Tsunade tentang perlakuan Hiashi malam itu? Malam mengerikan yang selalu menghantuinya sampai sekarang? Sakura menggeleng keras-keras, ingin sekali menyembunyikan fakta itu. Dia tidak menangis, tapi airmata menggenang di pelupuk matanya.
"Aku tak akan memarahimu. Katakanlah siapa dia?"
Dadanya sesak. Tekanan banyak bermunculan menyerang batinnya. "Hy...Hyu-uga… , " Sakura menahan tangisnya.
"Hyuuga? Hyuuga Neji?" Tanya Tsunade. Gelengan Sakura semakin keras. "Lalu siapa?"
"Hyuu-ga Hi…Hia-shi…." suaranya bergetar.
"Hyuuga Hiashi ayah Hinata?" Tsunade kaget. Bahkan Shizune sudah menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Bagaimana bisa?"
"Hyuuga-san jatuh di j-jalan. Ku-kupikir dia s-saki-t dan tak mau dibawa ke mansion Hyuuga. Ja-di aku mem-ba-bawanya ke flatku. Dan dia….. dia ternya-ta mabuk. Dan… d-dan dia…, " Sakura tak sanggup melanjutkan. Suaranya bergetar hebat. Wajahnya pun memerah karena masih menahan tangisannya. "Ap-apa yang harus kulaku-kan, Shisou?"
Tsunade terdiam, memeluk semakin erat tubuh Sakura. Mengelus punggungnya, berharap akan mampu menenangkannya.
"Shizune, panggil Hyuuga Hiashi!" Tsunade menatap menusuk pada Shizune, memberikan kesan gelap di sekelilingnya. "Sekarang juga!" Kalimatnya tajam dan mendesis seperti ular.
"Baik, Tsunade-sama."
Shizune berlari keluar secepat yang dia bisa.
.
.
Chapter 2:Awal sebuah petaka
.
.
"Jelaskan!" Perintah Tsunade jelas dan tegas. Meskipun duduk di dekat Sakura, matanya menatap tajam pria di depannya.
Hiashi sendiri masih berdiri tegap dengan ketenangan luar biasa. Setelah mendengar persoalan yang memaksanya datang ke rumah sakit –tepatnya di bilik seorang perempuan yang tiga minggu lalu menolongnya – pemimpin klan terhormat itu tak bicara sedikit pun.
Dia mengalihkan pandangannya dari Tsunade pada Sakura yang hanya memandang kosong bunga lili dalam vas di samping ranjangnya. Hiashi kembali menatap Tsunade, tepat pada kornea mata sang Hokage.
"Gugurkan."
Sakura sontak menatap Hiashi. Tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
"Gugurkan?" Tsunade mengulang kata-kata sang Hyuuga utama dengan nada meremehkan. "Kau pikir anakmu itu hewan?"
"Memang apa yang bisa kulakukan? Ini demi menjaga nama baik klanku. Aku tidak mau ada desas-desus yang mengatakan Haruno-san melahirkan anak keturunan Hyuuga yang memiliki byakugan. Hal itu hanya akan merusak nama baik klan Hyuuga, " lontaran kalimat datar terucap begitu saja. "Gugurkan saja bayi itu, " Kata-kata terakhir yang santai, seolah sedang menawarkan teh di pagi hari.
Tsunade bangkit dari duduknya. Melayangkan tangannya tepat ke wajah pemimpin klan. Membuat Hiashi terpental menghantam tembok, persis seperti di pagi hari dia terbangun di atas ranjang Sakura. Kekuatan yang dikeluarkan tidaklah besar, tapi cukup untuk membuat tembok retak dengan sangat menyedihkan.
Hazelnya penuh kemarahan, nafasnya tersengal menahan murka. "Manusia macam apa kau?! Teganya kau membunuh nyawa tak bersalah hanya karena hal bodoh seperti itu! Bahkan hewan jauh lebih baik darimu. Srigala pun tak akan membunuh anaknnya sendiri!"
Sakura bergetar kembali. Shizune dengan tanggap memeluk tubuhnya. Ton Ton meringkuk di kaki Sakura yang terjulur lurus di atas ranjang rumah sakit. Babi ini mengerti akan suasana tegang di bangsal ini.
Lengan Shizune yang sedang memeluknya erat digenggamnya erat untuk menahan gejolak di hatinya. Sakura tak dapat lagi menahan airmatanya dan mulai menetes tanpa suara isakan. Seolah-olah suaranya tersangkut di tenggorokan .
"Nikahi Sakura!"
Hiashi masih terduduk di lantai, menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Aku tidak bisa."
Mendengus menghina, Tsunade memasang wajah angkuh tak terbantahkan dia berkata, "Jika tidak, kupastikan hidupmu akan hancur, " Tsunade terdiam, menunggu reaksi lawan bicaranya. Saat yakin Hiashi tak memberi respon, Hokage perempuan pertama ini melanjutkan, "Bukan hanya kau saja, tapi klanmu pun akan ikut hancur."
"Kau tidak akan mampu menghancurkan klanku."
Seringai licik terpampang jelas di muka Tsunade. Melipat tangan di dada, dia melanjutkan, "Dengan kedudukanku, aku bisa menghancurkan kalian semudah aku membalikkan telapak tangan. Camkan itu, Hyuuga."
.
.
Chapter 2:Awal sebuah petaka
.
.
"Apa ini, Hiashi-sama?!" Salah seorang tetua secara tak sadar berteriak di pertemuan mendadak tengah malam seperti sekarang.
Hiashi diam menyaksikan kericuhan di ruang pertemuan klan Hyuuga. Reaksi mereka sudah dapat ditebaknya sejak awal bahkan semenjak dia keluar dari rumah sakit tadi. Benar-benar suatu kejutan yang besar.
"Apa alasan anda, Hiashi-sama? Dan kenapa harus perempuan dari luar klan?"
"Apalagi dia seumuran dengan Hinata-sama. Tidakkah ini terlalu berlebihan dan terlalu cepat? Lebih baik anda pikirkan kembali, Hiashi-sama."
Para tetua sudah saling bertanya, membuat kericuhan tersendiri. Mendukung pernyataan sebelumnya.
"Apa ada yang mau menambahkan?" Ujar Hiashi akhirnya. "Jika tidak aku akan menjawab pertanyaan kalian. Pernikahanku dengan Haruno-san memang tampak terlalu cepat. Tapi aku sangat mengenal siapa dia, " Hiashi menghela nafas pelan. Berbohong adalah cara terbaik saat ini. "Dia pun sudah mengenalku dengan baik. Kami sudah sepakat untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Lalu dimana letak salahnya pernikahan kami ini?"
"Dia dari luar klan. Haruno-san tidak paham akan adat dari klan Hyuuga."
"Itu mudah. Haruno adalah wanita yang cerdas, aku yakin dia akan dengan cepat menyerap semua tradisi kita."
"Apakah Hiashi-sama mencintainya?"
Pertanyaan dengan harga mati. Hiashi menutup matanya, merenungkan jawabannya. "Aku terikat dengannya."
Bukan jawaban 'ya' atau 'tidak', karena memang dia tidak mencintai Sakura. Tapi jika dijawabnya tidak, para tetua tidak akan meluluskan permintaannya menikahi Sakura. Jawaban inilah yang menurutnya adalah jawaban terbaik.
.
.
Chapter 2:Awal sebuah petaka
.
.
Kakashi duduk di samping Sakura di taman desa. Tadi dia melihat Sakura berjalan seperti boneka kugutsu tanpa nyawa. Jadi, Kakashi menarik Sakura untuk berjalan-jalan bersama sebelum hal buruk terjadi padanya.
Dia sudah mendengar berita pernikahannya, dan bertanya-tanya apa yang akan Naruto dan Sasuke lakukan ketika mereka pulang dari misi di Kirigakure? Mereka pasti akan kaget mendengarnya, mengingat hubungan mereka bertiga sangat dekat dan kabar ini begitu tiba-tiba. Dilihat dari keadaan Sakura sekarang pun, dia tidak terlihat tidak bahagia dengan pernikahannya namun dia malah terlihat sangat kacau.
Muridnya ini pasti banyak pikiran. Ingin rasanya Kakashi bertanya, tapi keadaan Sakura tidak memungkinkan untuk menjawab.
"Arigatou, Sensei."
Kakashi memandang Sakura yang menunduk menatap sekaleng jus jeruk di tangannya. Perempuan itu asyik dengan kegiatan memutar-mutar kaleng jus yang telah kosong tanpa ada niat untuk membuangnya. Wajah cantiknya tertutup helaian rambut merah mudanya, menyembunyikan tatapan hampanya dari Kakashi.
"Untuk apa ucapan terima kasih itu?"
Sakura tersenyum di balik rambutnya. "Untuk waktu yang telah Kakashi-sensei berikan untuk menemaniku di sini."
Tangan besar Kakashi terulur menyentuh kepala merah mudanya. Mengacak pelan surainya dengan senyuman di balik maskernya.
"Kakashi-sensei…, "
"Hm?"
"Tolong temani aku lagi di saat aku terpuruk nantinya."
"Apa maksudmu?"
Sakura mengangkat wajahnya. Emeraldnya menyiratkan permohonan. Kakashi merasa hatinya ditusuk pedang seperti saat Itachi memerangkapkannya dalam genjutsu dulu. Sakura rapuh saat ini, seperti kala Sasuke pergi dari Konoha.
Menyipitkan matanya, Kakashi tersenyum tulus. " Tentu, Sakura, " jawabnya. "Aku akan menemanimu."
To be continued…
.
.
See you next chapter
.
.
a/n:
terima kasih aku ucapkan untuk silent readers, yang telah meng-fav, meng-follow dan yang telah mereview….
Princess haru, titip salam apa ? daun salam atau apa? Ini udah dilanjut, terima kasih :)
Miura Kumiko, ini udah dilanjut, terima kasih :)
Andromeda no Rei, aku memang suka pasangan langka :D terima kasih :)
Jeremy Liaz Toner, terima kasih, ini sudah dilanjut :)
Saya, ini sudah dilanjut :) aku akan perbaiki chapter pertamanya, dan maaf atas kata-kata hilang yang membuat tak nyaman. Aku akan lebih teliti lagi. Apakah ini sudah benar tanda bacanya? Aku akan semangat… :D
Untuk semua aku minta maaf akan penulisan yang kurang benar, masih dalam tahap belajar, jadi tolong beri masukan atau saran dan perbaikan jika aku membuat kesalahan dalam penulisan …
Arigatou minna-san,
sign,
Teratai putih
