Sambil berjalan di koridor sekolah, [Name] terus bertanya siapa saja yang ingin ikut dengannya hari minggu nanti, Akashi dan Riko tidak bisa, karena mereka mempunyai urusan masing-masing, dan mengejutkan sekali—yang mau pergi dengan [Name] yaitu...

"Eh? benarkah Himuro, Kagami, Midorima?! Kalian mau menemaniku?!" [Name] langsung berhenti berjalan dan menoleh ke belakang, menatap ketiga orang itu.

"Hm, lagipula aku penasaran seperti apa taman bermain di Jepang." Ucap Himuro, Kagami pun mengangguk mendengar jawaban Himuro. [Name] menatap Midorima.

"A-aku tidak ada jadwal di hari minggu, daripada bosan dirumah—nanodayo."

"Oke! Kalau begitu ambil tiketnya!" [Name] memberikan tiket kepada Himuro, Kagami, dan Midorima, disaat mereka baru saja mengambil tiketnya, tiga orang yang yang berdiri di belakang [Name] alias Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji sudah menatap mereka bertiga dengan tajam, dengan aura hitam yang mengatakan;

"Yang pergi dengan [Name] itu... Aaaakuu!"

Himuro, Kagami, dan Midorima pun mengembalikan tiketnya kepada [Name] dengan wajah yang datar.

"Eh? kenapa dikembalikan?"

"Aku lupa kalau hari minggu sudah ada janji duluan." Jawab Himuro, Kagami dan Midorima kompak, takut-takut mereka menatap Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji, yang aura diantara mereka sudah berubah dengan bunga yang bermekaran apalagi mereka mengacungkan jempol.

"Lebih baik kau pergi dengan mereka saja [Name]-chan." Himuro menunjuk ketiga orang itu, [Name] menoleh ke belakang, melihat Mayuzumi, Nijimura, dan Miyaji yang berdiri menunggunya.

"Benar, mereka pasti bisa menemanimu." Ujar Kagami. [Name] kembali menatap Himuro, Kagami dan Midorima dan menjawab

"Baiklah... asalkan ada yang menemaniku." [Name] menunduk melihat tiket yang ia pegang, sayang sekali [Name] tidak melihat Himuro, Kagami dan Midorima yang menghela nafas berat, dan Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji yang mengepalkan tangan mereka kegirangan.

YESS!


When Three Boys Fall in Love With a Same Girl.

Rated: K+

Warn: TYPO,OOC, tidak sesuai EYD,POV berubah-ubah, mengandung unsur baper/?, patah hati, dan kecemburuan :v, punya pengalaman seperti itu? Tapi tetep maso buat baca? Silahkan, tapi jangan salahkan saya kalau keinget masa-mada baper anda #ngacir

IF YOU DON'T LIKE IT, THEN DON'T READ IT.

ENJOY!


READER POV

Aku menunggu Chihiro, Shuuzo, dan Kiyoshi di dekat halte bis, mungkin aku datang terlalu cepat. Lagipula pasti mereka datang bersama-sama, soalnya kan mereka tinggal di komplek apartemen yang sama.

"[Name]!" seseorang memanggilku, aku mencari sumber suara dan menemukan Shuuzo, sendirian.

"Lho? Chihiro dan Kiyoshi mana?"

"Aah? Mereka katanya tidak bisa, ada urusan mendadak."

"Hee, jadi hanya kita berdua saja?"

Shuuzo mengangguk dan dia mendorong bahuku, menandakan aku untuk berjalan "Ayo, kita naik bis yang berikutnya." Kenapa dia terlihat terburu-buru sekali? Tapi sudahlah.

Sebuah bis berhenti tepat di depan kami berdua, baru saja aku dan Shuuzo ingin menaikinya, aku mendengar teriakan Kiyoshi dan Chihiro.

"Tunggu! Tunggu sebentar!" teriak mereka sambil berlari ke arah sini.

"Cih, cepat juga mereka menyusul kesini."

"Eh? apa kau mengatakan sesuatu Shuuzo?"

"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa."

.

.

.

Akhirnya kami berempat pun menaiki bis, Chihiro dan Kiyoshi masih mengatur nafas mereka karena habis berlari barusan.

"Bukankah kalian ada urusan mendadak?" tanyaku sembari mengipasi mereka berdua.

"Siapa yang bilang begitu?!" tanya Kiyoshi dengan nada kesal, aku langsung menunjuk Shuuzo yang duduk di sebelahku.

"Kau ini—jangan langsung percaya dengan Shuuzo." Tegur Chihiro, lalu mereka berdua terus menyindir Shuuzo yang katanya telah menipu mereka, sepertinya mereka berdua sangat marah.

"Iya-iya, aku kira kalian memang betul-betul ada urusan mendadak, maaf ya..." setelah mengatakan itu, Chihiro dan Kiyoshi langsung diam, dan mengalihkan pandangan mereka ke arah lain, dan aku bisa mendengar Shuuzo mendengus kesal di sebelahku, aku melirik mereka secara bergantian lalu menghela nafas.

"Kalian ini kenapa?"

.

.

.

Aku terkagum melihat taman bermain ini, maksudku—aku sudah lama sekali tidak pergi ke taman bermain! Terakhir aku pergi ke taman bermain juga saat aku masih kecil, dan aku sama sekali tidak mengingatnya. Dengan antusias, aku menunjuk semua wahana seperti anak kecil.

"GYAAAAH!"

"KYAAAAAAAA!"

"Ne, ne! Ayo naik yang itu!" aku menunjuk menunjuk wahana Roller Coaster yang meluncur dengan cepat itu. Chihiro, Shuuzo, dan Kiyoshi melihat wahana itu dengan mata yang terbuka lebar, mereka seperti yang ingin mengatakan sesuatu kepadaku, tapi sebelum mereka mengatakan apapun, aku mengatakan;

"Kalian kan mau menemaniku kesini, dan aku tidak menerima penolakan apapun karena kalian takut."

Mereka bertiga menjentik jidat ku, sepertinya mereka merasa ditantang oleh kata-kataku.

"Siapa bilang aku takut?" Ucap Chihiro, sambil melipatkan tangannya.

"Tadi kalian menatap wahana itu dengan tatapan shock tahu!"

"[Name], kau ini tidak bisa membedakan mana tatapan kagum dan tatapan shock ya?" Kiyoshi menatapku dengan tatapan meledek, aku menggembungkan pipiku.

"Tapi tadi kalian seperti yang ketakutan!"

"Kalau begitu, ayo kita naik Roller Coaster itu, dan menunjukkan siapa yang akan menangis nanti." Shuuzo menantangku, huh! Siapa takut? Aku terima tantanganmu!

Setelah lama mengantri...

Aku megenggam tangan Kiyoshi dengan kuat yang tepat duduk di sebelahku (Sementara Shuuzo dan Chihiro duduk di belakang kami berdua), dan terus berteriak ketika Roller Coaster ini mulai naik ke atas, yang semakin lama semakin tinggi.

"Uwaah! Aku benci ini! Aku menyesal! Maafkan aku!"

"Ugh! [Name], kau bisa mematahkan tanganku!"

"Aku ingin turun! Ingin turun! Uwaah!"

"Tenang saja [Name], sebentar lagi kita akan turun dengan kecepatan tinggi, dan semuanya akan selesai dengan cepat." Ucap Shuuzo yang ingin menenangkanku namun gagal.

"Tidak mau! Tidak mauu!"

"Kau malah membuatnya semakin ketakutan bodoh!" Teriak Kiyoshi dan Chihiro.

Roller Coaster ini sudah mencapai puncak ketinggian, dan perlahan bersiap-siap untuk turun. Saat Roller Coaster ini mulai turun dengan kecepatan yang sangat tinggi aku mulai berteriak histeris.

"SIIAAAAL! KENAPA AKU AMBIL TEMPAT DUDUK PALING DEPAAAAAN?! GYAAAAAAAH!"

.

.

.

.

Ugh, kepalaku pusing, aku mual. Kami berempat mencari tempat duduk, aku yang jalannya sempoyongan ini pun dituntun oleh Chihiro, aku memeluk tangan sebelah kanan nya, mengikuti langkah kakinya. Akhirnya kami pun menemukan sebuah bench

"Shuuzo, karena ini semua salahmu, belikan minuman untuk [Name], dan Kiyoshi, kurasa kau harus mengobati tanganmu yang terluka karena kuku [Name]." Ucap Chihiro sambil menuntunku untuk duduk.

"Uuh, aku benci ini tapi yang kau katakan memang ada benarnya." Ucap Kiyoshi,

"Tapi kau jangan melakukan yang aneh-aneh ya!" Seru Shuuzo, setelah itu mereka berdua pergi menuruti perintah Chihiro.

"Chihiro."

"Apa?"

"Boleh aku tidur di pangkuanmu?"

Ada jeda yang cukup panjang sebelum dia menjawab "Boleh." Aku mengubah posisi ku menjadi tiduran di atas bench, dengan menggunakan paha Chihiro sebagai bantal, jika aku melihat lurus ke atas, aku bisa melihat wajah Chihiro, dia terlihat mencemaskanku.

"Masih mual?"

"Ah? Sudah lebih baik dari sebelumnya."

"Hmm, apa tenggorokkanmu sakit?"

"Tidak sakit, hanya kering saja gara-gara teriak seperti barusan." Aku tersenyum tipis, Chihiro yang saling bertatapan denganku langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Kenapa kau mengalihkan pandanganmu dariku?"

"Tidak apa-apa, memangnya tidak boleh?"

Setelah itu kami tidak membicarakan apapun lagi, mau bagaimana lagi, Chihiro kan orang yang pendiam, setiap kali aku mengajaknya berbicara dia hanya mengagguk atau memberi respon yang singkat namun jelas, apalagi terkadang dia selalu menghindari kontak mata denganku, padahal saat awal-awal aku mengenalnya, dia selalu menatapku ketika aku berbicara dengannya.

Memangnya aku ada salah kepadanya?

Aku mengejamkan kedua mataku, berpikir kesalahan apa yang pernah aku lakukan kepadanya. aah! Tapi bagaimanapun juga, aku tidak bisa memikirkannya!

Menyerah, akhirnya aku bertanya kepadanya.

"Hei, Chihiro."

"Apa?"

"Kenapa kau selalu menghindari tatapan mataku?"

"Tidak, aku tidak menghindarinya."

Dia menjawabnya, tapi sama sekali tidak menatapku. Kesal, aku langsung menarik wajahnya, memaksanya untuk menatapku.

"Kalau begitu, beri aku alasan kenapa kau selalu menghindari tatapan mataku." Aku menatapnya dengan lurus, aku bisa merasakan Chihiro ingin sekali menjauhkan dirinya dariku, bola matanya terus bergerak tidak beraturan. Lihat, bahkan sudah berdekatan seperti ini saja dia masih menghindari tatapan mataku.

"Lihat, kau melakukannya lagi. Aku tidak akan melepaskannya sampai kau menjawabku."

"Itu... itu karena..." Chihiro mengejamkan kedua matanya, kemudian dia membukanya dan menatapku dengan lurus.

"Itu karena matamu."

Eh? Karena mataku? Memangnya ada apa dengan mataku?

"Memangnya ada apa dengan mataku?" Aku masih terus menatapnya, Chihiro terlihat ragu atau mungkin gugup untuk menjawabku, bahkan ia mengalikan pandangannya lagi.

"Aku menyukai matamu."

Lho?

"Kalau kau menyukai mataku, kenapa kau selalu menghindari tatapan mataku?"

Aku bisa melihat ada rona merah di wajahnya, dia malu? Kenapa malu?

"Sebenarnya bukan hanya matamu saja yang aku sukai... Aku menyukai-"

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mendorong wajah Chihiro menjauh dariku.

"Hei hei hei, Kalian ini menarik perhatian publik!" Tenryata itu adalah Kiyoshi, dia terlihat kesal, dan Shuuzo dengan aura aneh disekitarnya menatap Chihiro dengan tajam. Kiyoshi memberiku minuman ion, tapi saat aku melihat tangannya-

"Tanganmu... terluka gara-gara aku ya?" Ada bekas cakaran disitu, dan warnanya merah, aku yakin itu gara-gara aku barusan.

"Oh? Ini hanya luka kecil, tidak ada sakitnya sama sekali." Ucapnya enteng, tidak percaya, aku megenggam tangannya dan memencet luka cakaran itu, Kiyoshi langsung meringis kesakitan.

"Sakit bukan?"

"Sudah aku bilang, ini hanya luka—itte!"

Aku memencet lukanya lagi, walaupun ini hanya luka kecil, tetap saja sakit bukan?

Aku menghela nafas dan mengeluarkan plester yang selalu aku bawa, aku membuka bungkus nya dan menempelkannya di tangan Kiyoshi.

"Aku tahu luka ini cukup membuatmu perih, jangan menyembunyikannya dariku Kiyoshi, karena aku..."

Miyaji menunggu lanjutan kata-kata [Name] dengan antusias.

"Karena aku selalu mengawasimu." Ucapku sambil menatap matanya. Kiyoshi tersenyum tipis mendengar kata-kataku.

Miyaji harus menahan senyum kemenangannya, diam-diam dia melirik Nijimura dan Mayuzumi yang sudah berapi-api dibelakang [Name]. Miyaji menatap mereka dengan tatapan 'aku-menang' apalagi dia sempat menaik turunkan alisnya, tapi kemenangannya tidak bertahan sampai [Name] melirik Nijimura dan Mayuzumi.

"...Aku juga selalu mengawasi Shuuzo dan Chihiro." Shuuzo dan Chihiro saling menatap setelah aku mengatakan itu, lalu mereka menatap Kiyoshi dengan tatapan—meledek? Aku kembali menatap Kiyoshi, ada rona merah di wajahnya, dia sepertinya sangat kesal di tatap seperti itu oleh mereka berdua, mereka ini kenapa sih?


NORMAL POV

"[Name], tanganku ini bukan guling." Keluh Nijimura saat [Name] terus memeluk tangannya, mau bagaimana lagi, [Name] itu termasuk orang yang penakut, padahal dia sendiri yang menantang untuk masuk ke rumah hantu tapi malah dia sendiri yang paling takut.

"Aku... ingin keluar dari sini..." keluh [Name].

"Sudah tanggung—kita selesaikan saja, sudah setengah jalan." Ucap Miyaji yang berjalan paling depan, terus waspada melihat sekeliling, takutnya dia memukul hantu lagi seperti barusan.

Background music yang dimainkan di rumah hantu itu benar-benar menakutkan, mungkin anak-anak jaman sekarang nyebutnya "dapat feel nya." Bahkan suara teriakan di BGM itu terdengar sangat realistis.

"Sudah dekat pintu keluar?"

"Belum [Name]."

"Masih jauh?"

"Entahlah."

...

"Sekarang sudah?"

Walaupun menyukainya, Nijimura tetap saja kesal jika terus ditanya seperti itu. Nijimura menolehkan kepalanya ke belakang. "Sudah aku bilang—be...lum..." Nijimura membelalak kaget saat melihat ada hantu—atau lebih tepatnya orang yang berdandan seperti hantu, sedang berjalan dengan cepat mendekati mereka.

"Ada hantu yang mengejar kita!" pekik Nijimura, [Name] yang berjalan paling belakang langsung berteriak tanpa melihat kebelakang, Miyaji ikut panik—dia pun langsung berlari, cepat-cepat mencari pintu keluar.

Rumah hantu itu pun dipenuhi oleh teriakan [Name], kutukan dari Miyaji, dan bahasa kasar Nijimura. Takut-takut [Name] melirik kebelakang, dan melihat si hantu itu sudah sangat dekat dengannya, teriakannya semakin histeris—hantu itu bahkan menarik baju [Name].

Refleks, [Name] memukul wajah hantu itu dengan sikutnya.

BUUGH!

Dan mereka pun berlari tanpa memperdulikan si hantu yang sudah kena pukulan sikut [Name] itu.

.

.

"Apa dia masih mengejar?" tanya Nijimura, Miyaji melihat sekeliling dan menggelengkan kepalanya, [Name] yang masih dalam posisi memeluk tangan Nijimura pun mengeluh.

"Aaah! Kenapa Rumah hantu ini besar sekali!? Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini!" teriaknya, tapi tunggu—"Ngomong-ngomong, dimana Chihiro?"

...

"Sial, apa dia ketinggalan jauh di belakang sana?" ucap Miyaji

"Bisa saja, karena aku sama sekali tidak melihatnya saat kita dikejar barusan." Ujar Nijimura.

"Kalau begitu, kita harus kembali mencarinyAAAAAAHHHHH!" [Name] langsung berteriak dan memeluk Nijimura ketika merasakan ada tangan yang dingin menepuk bahunya. Membutuhkan proses sebelum Nijimura mulai senyum-senyum tidak jelas, Miyaji menatap adegan yang begitu menyakitkan hatinya tidak percaya.

"Hei! Ini aku!" ternyata orang yang menepuk bahu [Name] barusan adalah Mayuzumi, yang langsung ditarik kerah bajunya oleh Miyaji—dan diberikan acungan jempol oleh Nijimura.

"Lihat itu! [Name] memeluknya! Gara-gara kau [Name] memeluknya!" bisik Miyaji sambil menunjuk-nunjuk [Name] yang memeluk Nijimura itu.

"Terima Kasih, Chihiro." Ucap Nijimura, Mayuzumi dan Miyaji menatapnya dan berbisik.

"Lepaskan dia!"

Nijimura menggidikkan bahunya, ia menepuk bahu [Name] yang sedang memeluknya dengan erat itu. "[Name], bisakah kau lepaskan aku?" tapi [Name] malah semakin memeluk Nijimura, dan menggelengkan kepalanya di dada Nijimura. Nijimura tersenyum lebar dan menatap Miyaji dan Mayuzumi dengan tatapan yang merendahkan.

"Lihat? Dia tidak mau melepaskanku." Ucap Nijimura sembari memeluk [Name] kembali dan menepuk-nepuk punggungnya.

"Teme—!"


Kini mereka berempat berada di sebuah food court.duduk di sebuah meja yang bundar

"Chihiro baka." [Name] terus mengatakan hal itu berkali-kali kepada Mayuzumi, bahkan barusan ia sempat menangis karena ketakutan—hal itu membuat Mayuzumi merasa sangat berdosa.

"Maafkan aku..." Hanya itulah yang Mayuzumi katakan.

Sementara Nijimura masih memasang senyuman menyebalkannya (menurut Miyaji dan Mayuzumi) dan bunga bermekaran disekitarnya. Tapi—kalau [Name] sudah marah seperti ini, hanya ada satu cara yang bisa membuatnya kembali, dan Miyaji sangat tahu bagaimana caranya.

"[Name], apa kau mau makan parfait?"

Pertanyaan Miyaji langsung membuat mood [Name] berubah drastis, matanya langsung berbinar

"Aku akan membelikannya untukmu, pilihlah sesukamu."

"Benarkah? Yatta! Kiyoshi, aku menyukaimu!"

Perkataan [Name] membuat senyuman Nijimura turun, Mayuzumi semakin grumpy.Kali ini Miyaji tersenyum dengan puas.

.

.

.

"Ini fruit paradise parfait pesanan anda." parfait yang sudah ditunggu-tunggu oleh [Name] itu akhirnya datang juga, dengan semangat [Name] mulai melahap parfait itu. Cara [Name] memakan parfait itu membuat ketiga lelaki yang memerhatikannya terkekeh.

"Dia memakannya seperti anak kecil, manis sekali..."

Melihat mulut [Name] yang belepotan, Mayuzumi mengambil kesempatan ini. Mayuzumi mengambil dua lembar tisu dan mengelap mulut [Name] yang belepotan dengan ice cream itu.

"Makannya pelan-pelan saja, mulutmu belepotan."

"Oh ya? terima kasih, Chihiro."

Miyaji dan Nijimura yang sama-sama sedang memegang tisu itupun menggulungkan tisunya, dan menatap Mayuzumi, mereka pun berbicara melalui telepati?

"Siaal! Padahal aku baru saja ingin melakukannya!"

"Hmp, siapa cepat, dia dapat bukan?"

"Oh iya, Kiyoshi." [Name] berhenti memakan parfaitnya, dan menatap Miyaji (yang sudah mengubah ekspresi dan auranya). [Name] mengambil satu sendok besar parfait itu dengan buah nanasnya, kemudian mengarahkannya kepada Miyaji.

"Karena kau mentraktirku, kau juga harus mencoba parfait ini! enak lho~"

Mana mungkin Miyaji menolak kesempatan ini. "Benarkah? Kalau begitu sini aku coba." Miyaji membuka mulutnya menunggu suapan dari [Name]. Sementara Mayuzumi dan Nijimura hanya menganga menatap mereka berdua, tidak terima apa yang akan Miyaji terima dari [Name].

"Oi! Oi! Oi! Itu artinya kau akan dapat ciuman tidak langsung dari [Name] bukan?!" Batin Nijimura dan Mayuzumi

"Tu-tunggu sebentar!" Seru Nijimura yang membuat perhatian [Name] teralihkan.

"Ada apa?" perhatian [Name] memang teralihkan tapi tangannya tetap perlahan maju untuk menyuapi Miyaji, tanpa basa-basi lagi Miyaji langsung melahap suapan dari [Name]—tindakannya membuat Nijimura dan Mayuzumi melotot kepadanya, terutama saat Miyaji menjilati bibirnya dan mengacungkan jempolnya.

"Hmm... rasanya memang enak, boleh aku memintanya lagi?" tanya Miyaji. Nijimura dan Mayuzumi langsung berteriak secara bersamaan;

"Aku juga mau minta!"

Tapi pada akhirnya mereka disuruh oleh [Name] untuk mengambil sendok sendiri.


Tidak terasa sekarang sudah pukul 7 malam. Hampir semua wahana sudah dinaiki oleh keempat orang itu, tapi hanya ada satu wahana yang belum mereka naiki, yaitu ferris wheel. Wahana yang satu ini memang termasuk wahana yang paling terkenal di taman bermain itu, [Name] dengan antusias mengantri untuk menunggu giliran menaiki ferris wheel itu, kecuali tiga orang dibelakangnya yang terus mengeluh karena antrian panjang tersebut. Namun, mereka bertiga membicarakan sesuatu dengan berbisik, dengan aura persaingan diantara mereka

"Kalian sudah menyatakan perasaan kepada [Name]?" Tanya Mayuzumi.

"Belum." Jawab Miyaji dan Nijimura.

"Kau sendiri?" Tanya Miyaji. Mayuzumi memutar bola matanya kesal, "Tadi aku sudah mau menyatakan perasaanku, tapi ADA orang yang meganggu. Aku harus berterima kasih kepada orang itu." Ucapnya sarkastik, Miyaji dan Nijimura high five, Mayuzumi menghela nafas.

"Tapi kalau begini terus, kapan kita akan menyatakan perasaan kita masing-masing kepada [Name]? Setelah menaiki ini, pasti dia akan mau langsung pulang."

Diam sesaat.

"... bagaimana kalau kita menyatakan perasaan kita secara bersamaan?" Usul Nijimura.

"Dan memintanya untuk memilh diantara kita bertiga?" Tanya Miyaji yang dijawab oleh anggukan oleh Nijimura. Belum sempat mengatakan apapun lagi, mereka bertiga sudah di panggil [Name]

"Kalian ini sedang apa? sebentar lagi giliran kita!"

.

.

.

"Yang berikutnya tolong bersiap-siap." Ucap sang petugas, saat melihat [Name] yang sedang bersama tiga lelaki petugas itu tersenyum dan bertanya.

"Nona, yang mana pacarmu?" Tanyanya, [Name] menatap wajah petugas dengan datar dan kembali bertanya.

"Memangnya kenapa?" Pertanyaannya langsung membuat Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji baper alias bawa perasaan.

"Ferris Wheel ini ada legenda nya lho, jika sepasang kekasih berciuman saat berada di puncak, maka pasangan kekasih itu kelak akan menikah di masa yang akan datang." Jelas sang petugas.

"Oh... tapi mereka bukan pacarku." Ucap [Name] sambil menunjuk ketiga orang itu dengan jempolnya. Perkataannya itu membuat harapan mereka yang sudah terbang tinggi langsung terjatuh. Sang petugas melirik Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji secara bergantian.

"Tapi masih ada satu legenda lagi, jika kau menyatakan perasaanmu di dalam Ferris Wheel ini, kelak kalian akan menjadi pasangan kekasih dan hubungan kalian tidak akan putus." Mendengar ucapan itu membuat Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji kembali semangat. Sedangkan [Name] hanya diam saja.

"Nah, silahkan masuk kedalam, dalamnya cukup besar kok, cukup untuk empat orang." Sang petugas membukakan pintu, keempat orang itu pu memasukinya.

.

.

.

[Name] memandang kagum pemandangan malam yang indah, gadis bersurai hitam itu mengambil foto pemandangan itu dengan ponselnya.

"Kalian tahu, rasanya orang-orang dibawah terlihat sangat kecil seperti semut! Dan aku merasa kalau bintang di langit ada dibawahku sekarang! Ahahaha~" [Name] terus berbicara sendiri, Miyaji, Mayuzumi, dan Nijimura daritadi hanya saling menatap, mereka bertiga pun mengangguk dan memanggil [Name] bersamaan.

"[Name]."

Gadis itu menolehkan kepalanya dan melihat ekspresi ketiga temannya itu sangat serius, [Name] yang awalnya berdiri sekarang pun duduk, menatap ketiga lelaki yang duduk di depannya.

"Ada... yang ingin aku katakan kepadamu." Ucap Nijimura, yang langsung di cubit pahanya oleh Mayuzumi dan Miyaji. Salahkan sendiri kenapa dia duduk di tengah diantara mereka berdua.

"Ma-maksudku, ada yang ingin kami katakan!"

[Name] tersenyum, "Apa itu?"

Nijimura menyikuti Mayuzumi, Mayuzumi pun mengatakan "Kau tahu [Name], sudah lama sekali aku selalu memerhatikanmu dari kejauhan."

Kali ini Nijimura yang berbicara "Terkadang kau selalu membuatku khawatir, rasanya aku selalu ingin melindungimu."

Dan yang terakhir, Miyaji yang berbicara "Melihatmu tersenyum atau tertawa membuatku menjadi nyaman, aku suka dengan senyumanmu."

[Name] terus memerhartikan mereka, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan mereka katakan, Mayuzumi, Nijimura, dan Miyaji saling menatap dan mengangguk, mereka menghirup udara dan membuangnya, dan secara bersamaan mengatakan.

"Aku menyukaimu!"

[Name] mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia terkekeh dan menjawab "Terima kasih. Aku juga merasakan hal yang sama, dan aku akan senang sekali kalau salah satu diantara kalian adalah..."

Jantung Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji berdetak dengan kencang, menunggu kata-kata [Name] selanjutnya yang ternyata adalah...

"Kakak-ku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Eh?"

"Ma-maksudmu?"

"Kalian sendiri barusan mengatakan kalau kalian selalu memerhatikanku, khawatir denganku, dan suka melihatku tersenyum, bukankah itu ciri-ciri dasar Kakak yang sayang atau menyukai adiknya kan?" Ucap [Name], membuat ketiga lelaki itu jawdrop. Mayuzumi yang berusaha tenang mencoba menjelaskan kepada [Name]

"Ma-maksud kami bukan rasa suka sebagai adik, tapi..." perkataan Mayuzumi langsung dipotong oleh [Name]

"Tapi apa? Selama ini aku menganggap kalian ini sebagai kakak-ku, karena kalian perhatian sekali kepadaku!" Ucap [Name] sambil tersenyum, muncul petir di malam hari yang diterangi bulan, [Name] benar-benar tidak bisa membaca suasana diantara mereka berempat. Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji menundukkan kepala, ingin nangis rasanya.

"Ke-kenapa kalian murung seperti itu? Apa kalian ingin aku memanggil kalian dengan sebutan 'Onii-chan'?" tanyanya panik.

"Tidak... tidak daripada 'Onii-chan', lebih baik panggil 'My darling' saja." Ucap Miyaji dengan murung.

"Eeh! Tapi kakak laki-laki kan panggilannya 'Onii-chan'! Kenapa jauh-jauh ke 'My darling'?" Protes [Name] yang membuat ketiga hati lelaki itu semakin hancur.

Setelah pulang dari taman bermain, Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji menangis semalaman.


Asal kalian tahu, jika kalian ingin bisa masuk ZONE, kalian harus mencintai basket lebih daripada apapun.

Tapi ZONE yang satu ini agak berbeda, atau lebih tepatnya jangan sampai masuk ZONE yang ini.

Semakin Mayuzumi, Nijimura dan Miyaji memerhatikan dan menyukai [Name] lebih dari apapun, lebih dalam pula lah ZONE yang mereka masuki.

Iya, Adik-Kakak ZONE.

Salah sendiri kenapa baper, udah tau [Name] mah emang gitu orangnya.

.

.

.

.

.

Dengan dipaksa, ff ini Misa tamatkan.

Fix gak akan dibikin kelanjutannya.

Maaf kalau chapter ini garing ay, gak sesuai dengan keiinginan lo.

Betewe, chapter ini kesannya Misa kayak yg nyindir seseorang deh uhuk /lirik /not gomen.

Dan sekali lagi, harap maklum kenapa Misa belum update ff yang lain, Misa stuck di suatu bagian, dan Misa punya kehidupan sendiri. Jadi tolong maklum.