Yaoi, Shounen-ai, Sad Romance, Fluff, Angst, Drama

Main Cast : KRAY/FanXing/KrisLay

Banyak yang nanya ama KraYeol kyak gini "Kak/Mer/Yeol, masih jadi author kah?" nah, KraYeol tuh bingung mau jawab apa... Dibilang udah nggak ya masih, tapi kalo dijawab pasti ditanyain lagi updatenya kapan? Ini masalahnya udah nganggur lama banget. Maaf yaahh :*

Sebenernya bukan malas, KraYeol skarang lagi di semester 7 jadi rada2 sibuk gitu. KraYeol ga pernah lupa lapak(?) kok ciyus! Cuma ya gitu deh.. dirumah aja jarang gimana mau rampungin ff bnyak2? Mohon maklumin yah ceman-ceman~ #Sungkeman

Ini aja udah dipaksain buat kejar tayang! Dan KraYeol mohon maaf lagi kalo hasilnya ga memuaskan pembaca.

Baiklah, terima kasih sebelumnya dan silahkan dibaca.

Mempersembahkan~

~Vacillation~

Happy Reading for..

Chapter 2..

.

.

.

Beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya Yixing merasakan bagaimana rasanya 'terpuruk' itu. Ya, dia benar-benar merasa terpuruk setelah ditinggalkan oleh Yifan. Namun sekarang, Yixing sudah mulai bisa mengontrol hati dan perasaannya sendiri. Sedikit demi sedikit.

Sejak kejadian Yifan mengantarkannya kerumah malam itu, Yixing tidak menyangka kalau Yifan juga akan menggendongnya dipunggung dan membawa tubuhnya kekamar mereka_ah, maksudnya kekamar Yixing.

Oh, sebagai manusia biasa Yixing tak ingin munafik. Dibeberapa waktu ia memang sengaja mencuri kesempatan untuk mendapat perhatian Yifan. Tentu saja maksud Yixing adalah untuk melihat, sudah seberapa jauh Yifan 'menempatkannya' sekarang. DanYixing fikir ia masih memiliki harapan ketika ia mendengar Yifan berbisik diantara ciumannya dikening Yixing_

"Maaf kan aku. Jujur, aku masih menyayangimu Xing_" Helaan nafas halus Yifan menerpa kulit kening Yixing dan dia benar-benar terharu saat merasakannya. "_Tapi.. aku benar-benar serius soal hubunganku dengan Hyerin. Kuharap kau bisa memahamiku setelah ini~"

Yixing baru saja hendak tersenyum didalam 'tidur sadar' nya ketika mendengar seuntai kalimat bisikan pertama Yifan. Namun tidak jadi. Karena setelah itu, Yifan kembali mematahkan hatinya.

Mematahkan lagi yang telah patah.

Mungkin benar, Yixing harus berbesar hati menerimanya mulai malam itu..

Jadi, meskipun Yixing memang menangis setelah Yifan pergi, Yixing juga berjanji kepada hatinya kalau itu akan menjadi tangisan terakhirnya untuk Yifan.

Karena dia...

Juga seorang lelaki..

.

.

.

Cuaca yang buruk untuk siapa saja yang mengawali pagi hari ini. Salju tiba-tiba turun sekitar pukul empat dini hari tadi dan itu membuat sebagian masyarakat kota Seoul merasa enggan untuk menjalani aktifitas mereka. Dikarenakan nyamannya bergelung dengan selimut tebal, atau sekedar duduk-duduk didekat perapian yang baru dinyalakan oleh penduduk sekitar dimasing-masing rumah mereka.

Hujan salju bahkan masih berlangsung hingga siang menjelang. Membuat sebagian besar para petugas jalan merasa direpotkan karena harus menyisir tumpukan-tumpukan salju yang menyelimuti jalanan hingga ketepi. Bertujuan untuk melancarkan laju lalu-lintas di kota besar tersebut.

Yifan menjulurkan tangannya, meraih segelas kopi yang sudah mulai mendingin diatas meja lalu meneguk setengah cairan hitam yang masih tersisa disana hingga habis. Lelaki tinggi itu mengangkat tangan kirinya dan menekuknya di depan dada, kemudian kedua mata elangnya menatap serius kearah jarum jam dipergelangan tangannya yang masih bergerak dari detik ke detik. Jam makan siang baru saja masuk dan itu artinya, ada sekitar tiga puluh menit untuk Yifan menikmati waktu istirahat.

Ya, tentu Yifan akan menikmati waktu istirahat jika saja tak ada hal lain yang kini sangat-sangat mengganggu fikirannya.

Menghela nafas sebentar, Yifan meraih jaket tebal yang ia sampirkan disandaran kursi kerjanya lalu memakaikan kain berbahan kulit itu ketubuhnya, dengan gerakan sedikit tergesa. Setelahnya, ia mulai melangkah keluar ruangan tanpa ada rasa ragu sedikitpun disetiap langkahnya.

Yifan baru saja keluar dari lift saat ia mendapati Luhan tengah mengemasi beberapa kertas dan memasukkannya kedalam map, meraih jaket tebal dan memakainya tergesa, sama seperti yang ia lakukan tadi.

Melihat itu, Yifan berfikir sebentar. Tiba-tiba merasa tak ada salahnya jika ia menemui Luhan terlebih dahulu untuk menanyakan susuatu hal. Yeah, meski sebenarnya Yifan agak ragu untuk melakukannya (dia dan Luhan sudah agak berjarak sekarang). Namun karena ini sedikit mendesak fikirannya, Yifan pun tidak ingin buang-buang waktu lagi. Jadi dia segera berjalan mendekati Luhan lalu menyapa lelaki itu_

"Luhan"

Luhan mendongak. Entah ini hanya perasaan Yifan saja, tapi raut wajah Luhan benar-benar tampak sedikit berbeda ketika lelaki itu menatap kearahnya. Jelasnya, Luhan seperti kurang suka akan kehadirannya. Tapi sekali lagi, Yifan mencoba untuk mengabaikan prasangkanya, juga ekspresi kurang menyenangkan Luhan yang sangat kentara terlihat. Sebab, ada hal yang penting yang harus ia tanyakan kepada Luhan terlebih dahulu.

"Bisa aku bertanya sesuatu?"

"Hm!" Luhan hanya mengangguk dan mulai sibuk membuka plastick yang membungkus payungnya. Mengalihkan tatapannya dari Yifan.

Yifan menghela nafas. Tak mau banyak berbasa-basi lagi, Yifan segera mengungkapkan niatnya_

"Begini Lu..Yixing tidak masuk hari ini dan aku yakin kau mengetahui sesuatu tentang Yixing. Dan_ehm_" Menarik nafas lagi saat melihat Luhan mengangkat wajahnya sembari menatapnya dengan keryitan didahi. "_Aku hanya sedikit khawatir, cuaca hari ini sangat buruk. Ini hari pertama musim dingin dan_dan kau tau kan, kalau Yixing tidak bisa terkena cuaca yang terlampau dingin? Aku takut terjadi sesuatu dengannya.. Jadi_Ah, begitulah, kau tahu maksudku kan?_" Memberi jeda sebentar pada kalimatnya yang agak kacau, lelaki tinggi itu lantas melanjutkan ucapannya kembali karena belum kunjung mendapat respon dari Luhan. "_Aku sudah mengiriminya pesan dan tidak ada balasan_" Bahu Yifan agak terjatuh dari posisi semula. "_Yeah, aku tahu..mungkin Yixing masih enggan untuk_"

"Pesan ku juga tidak dibalas." Luhan akhirnya memberi respon dengan memotong kalimat panjang tak beraturan Yifan.

"Apa?" Yifan sedikit membesarkan matanya. Tak bisa ia pungkiri, fikirannya tiba-tiba saja diserang oleh setumpuk rasa khawatir. Beberapa pemikiran negatif tentang bagaimana dengan keadaan Yixing saat ini mulai mengganggunya.

Ini hari pertama musim dingin, dan kebetulan-atau memang ada sesuatu yang terjadi-, Yixing tidak datang kekantor..

Jangan-jangan...

"Kau yakin?" Yifan mulai bertanya kurang sabar. Apa Luhan sedang berbohong padanya?

"Uhm." Luhan mengangguk lagi.

"Bagaimana bisa?"

Luhan mengangkat satu alisnya. "Mengapa tidak bisa?"

"Maksudku_Kau dekat dengannya Lu! Kurasa wajar-wajar saja jika Yixing tak membalas pesanku, tapi kau_"

"Bisa saja dia tertidur atau apa. Iya kan?" Luhan mendengus kecil. Sebenarnya Luhan melihat raut wajah panik yang sedang Yifan tunjukkan, entah lelaki itu sadar atau tidak.

Menghembuskan nafas sekali, Luhan melirik jam tangannya kemudian meringis kecil. "_Kau terlalu banyak basa-basi Fan. Ini hanya akan menghabiskan waktu._" Luhan mengangkat wajahnya dan kembali menatap Yifan. "_Jika khawatir kenapa tidak kau jenguk saja? kebetulan aku juga akan kesana.." Luhan berkata datar. Sebenarnya kurang setuju jika Yifan ikut, tapi sudahlah. Bukan haknya juga kan untuk melarang seseorang menjenguk Yixing, jika benar Yixing sedang sakit.

"Oo? Baiklah!"

"Hm" Luhan menggumam lagi. Hendak melangkah sebelum suara Yifan kembali menghentikannya_

"Sebaiknya kau tinggalkan payungmu. Kita pergi dengan mobilku saja. Kebetulan aku memarkirkannya tidak jauh dari sini.."

Luhan berfikir sebentar. Karena ia juga merasa kalau waktu yang mereka miliki tidaklah banyak, Luhan pun menganggukkan kepala tanda setuju ajakan Yifan. Tanpa mau menunda waktu lebih lama lagi, keduanya mulai berjalan beriringan menuju ketempat mobil Yifan berada.

.

.

.

Sebenarnya Yixing berada dalam mood yang buruk hari ini. Lebih diperburuk lagi saat dia mendapati dirinya yang baru bangun sekitar jam sebelas siang yang itu artinya, tidak ada kerja hari ini!

Demi apapun, bukan keinginan Yixing untuk bolos dari pekerjaannya. Tapi apa mau dikata, itu sudah terjadi. Jadi Yixing hanya berusaha berfikir positif, mungkin dirinya sedang lelah dan butuh istirahat total seharian agar dirinya benar-benar membaik dari segi apapun, luar maupun 'dalam'.

Mungkin tidak bekerja hari ini adalah pilihan yang tepat. Dan Yixing bisa melanjutkan tidurnya setelah membersihkan diri. Itu lah yang rencanakan oleh lelaki manis bernama lengkap Zhang Yixing tersebut sebelum_

_Yixing kedatangan tamu tak diundang ke apartementnya!

Yixing sempat berfikir-lagi- beberapa detik tentang hal-hal yang terjadi secara tak terduga hari ini. Tentang musim dingin yang tiba-tiba saja terjadi tanpa ada ramalan cuaca sebelumnya, tentang dirinya yang tak biasanya terlambat bangun, dan, tentang dia yang kedatangan tamu-tamu yang sedang berdiri dihadapannya sekarang. Terasa wajar jika Luhan yang berkunjung, tapi_

_Bagaimana bisa Yifan juga ikut bersamanya?!

Apa Luhan yang mengajak?

Yixing yang baru saja membuka pintu apartementnya terdiam selama kurang lebih lima detik sebelum suaranya terdengar. "Umm..Masuklah.."

Luhan tampak mendesah lega. "Kufikir terjadi sesuatu denganmu Dimp! Tapi syukurlah, kau terlihat baik-baik saja.." Luhan mengawali rasa kekhawatirannya melalui sederet kalimat sederhana sembari berjalan masuk kedalam apartement Yixing.

Yixing hanya tersenyum kecil. Kedua bola matanya lantas beralih kearah lelaki tinggi yang masih berdiri didepan pintu. "Kenapa tidak ikut masuk?" Tanya Yixing heran.

"Kau hanya menatap Luhan tadi.."

Yixing mengeryit bingung. Merasa kurang mengerti dengan jawaban Yifan. "Apa?"

"Kukira kau hanya mempersilahkan Luhan untuk masuk.."

"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja, kau juga.."

"Tapi kau hanya melihat Luhan.."

Apa?

Yixing sebenarnya masih merasa heran, namun ia mencoba untuk memahami maksud Yifan. Menghela nafas sejenak, Yixing melemparkan senyuman kecilnya kearah Yifan sebelum berkata kembali. "Kau benar-benar sudah seperti orang lain Fan, bukankah biasanya kau langsung masuk saja tanpa kusuruh?"

"Yah, itu dulu. Sekarang sudah berbeda, Xing. Aku tak mungkin selancang itu sekarang.." Yifan menjawabnya. Walau sebenarnya kalimat yang meluncur dari mulutnya barusan sengaja ia keluarkan dengan berat hati.

Tiba-tiba jantung Yifan berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dia sudah mewanti-wanti ini sejak awal. Dan benar saja, raut wajah Yixing dihadapannya mulai menunjukkan perubahan (meski lelaki manis itu langsung berusaha menyembunyikannya). Membuat Yifan seketika merasakan ada perasaan bersalah terhadap Yixing. Tapi Yifan terus menekankan dirinya sendiri kalau apa yang ia lakukan saat ini adalah untuk menyadarkan Yixing.

Sedangkan Yixing, lelaki berlesung pipi itu lantas mengangguk pelan setelahnya. Yifan sebenarnya tak sampai hati untuk berkata seperti barusan, tapi sesuatu mendorongnya untuk melakukan ini. Yifan hanya ingin Yixing tidak menaruh harapan apapun lagi padanya, karena itu akan menyulitkan Yifan nantinya. Namun apa yang Yifan lihat selanjutnya cukup membuat Yifan tertegun_

"Aku tahu.."

_Yixing kembali mengembangkan senyuman kecilnya. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Berbeda dengan respon lelaki itu beberapa hari yang lalu, saat Yifan menawarinya tumpangan dan kebetulan, itu adalah saat dimana keduanya kembali berkomunikasi setelah 3 hari putus hubungan.

Saat itu Yixing berbicara sedikit ketus kepada Yifan, bersikeras menolak tawaran Yifan. Tapi sekarang, Yixing meresponnya secara tidak berlebihan. Seolah dirinya telah ikut melepaskan 'semua'nya bersama. Membuat Yifan mau tak mau menjadi sedikit penasaran dengan perubahan sikap Yixing.

Tak ingin menambah kecanggungan diantara mereka, Yixing mulai bersuara lagi setelah keduanya terdiam selama beberapa detik. "Ayo, masuklah.. Luhan sudah menunggu didalam.." Kali ini Yixing secara tegas menatap tepat dikedua bola mata Yifan. Berusaha menunjukan kalau dirinya tetaplah seorang laki-laki yang sama kuatnya dengan Yifan.

Merasa juga tak ingin berdebat lebih lanjut, Yifan pun merespon dengan hanya bergumam lalu mengangguk sekali kemudian mulai melangkahkan kaki kanannya maju, sementara Yixing bergerak mundur untuk memberi ruang.

Dan tepat saat itu pula suara Luhan menginterupsi gerakan mereka_

"Ah, Ya Tuhan! Dimp! aku ingat, aku harus mengurus sesuatu yang penting. Maaf, tapi aku benar-benar harus segera kekantor sekarang!"

Ucapan tiba-tiba Luhan berhasil memunculkan sebuah keryitan di dahi Yifan maupun Yixing. Keduanya menatap Luhan dengan tatapan heran.

"Lu, kenapa mendadak?" Yixing bertanya dengan raut wajah bingung.

"Hanya sebuah masalah kecil namun jika aku tak segera menyelesaikannya, aku akan mendapat teguran dari bos. Dan...Kulihat kau juga baik-baik saja Dimp, jadi, kau hanya berhutang cerita kepadaku." Tanpa mau menunggu respon Yixing lebih banyak lagi, Luhan segera mengalihkan tatapannya kepada Yifan yang kini juga tengah menatapnya dengan ekspresi menuntut.

"Fan. Aku akan kembali sekarang dan pastikan kau juga akan kembali sebelum jam kerja masuk.. Ok, bye.."

Hanya itu. Dengan kalimat yang terkesan dipaksakan, apalagi tak ada ucapan basa-basi dari Luhan untuk mengajak Yifan kembali kekantor bersamanya, Luhan segera melesat pergi dari hadapan keduanya. Seolah tidak menyadari kalau dirinya kesini bahkan dengan menaiki mobil lelaki yang ia tinggalkan dirumah Yixing.

Yifan yang sama sekali tidak menangkap adanya gelagat aneh dari kelakuan Luhan, hanya diam dan mengangguk pelan untuk menjawab perkataan Luhan. Dan keduanya-Yifan dan Yixing- hanya menatap punggung Luhan yang perlahan menjauh setelah itu.

Keheningan tiba-tiba saja menguasai tempat dimana Yifan dan Yixing kini berdiri, hanya berdua, didepan pintu apartement Yixing. Yixing mengalihkan tatapannya dari arah dimana ia melihat Luhan menaiki lift kearah Yifan, dan Yifan balas menatapnya.

"Jadi kalian kira aku sakit?"

Yifan memiringkan bibirnya sedikit kemudian mengangguk pelan atas pertanyaan yang baru saja Yixing lontarkan.

Yixing menghela nafas pelan, tersenyum kecil, menciptakan kepulan asap samar dari kedua celah bibirnya. Menatap cuaca diluar yang agak berembun kemudian kembali menatap wajah pemuda tinggi yang masih berdiri dihadapannya. Merasakan keadaan yang mulai menjadi jauh lebih canggung dari beberapa detik sebelumnya. "Kau lihat sendiri kan? Aku baik-baik saja sekarang.."

"Jadi kau mengusirku?" Lagi. Respon tidak biasa yang sengaja Yifan hadirkan diantara mereka. Dan sama seperti sebelumnya, Yifan pun menunggu respon balik dari Yixing.

Yixing lantas menatap Yifan sesaat, kemudian terkekeh pelan. Bahkan sangat pelan. "Kau benar-benar sudah berubah ya." Ujarnya santai.

"Tidak juga.."

Mendengar respon Yifan, Yixing kembali melanjutkan ucapannya. "Aku seperti tengah berbicara dengan orang yang baru saja kukenal_" Yixing lantas tertawa kecil setelah menyelesaikan kalimatnya. Tawa yang sebenarnya sangat hambar. Dan setelah membuang nafas dingin lewat mulutnya sekali lagi, Yixing melanjutkan perkataannya. "_Masuklah, diluar sangat dingin.." Ucapnya. Tak ingin mendengar berbagai respon asing-lagi- yang akan keluar dari bibir Yifan.

.

.

.

Secangkir kopi hangat Yixing letakkan untuk 'tamu' nya. Ia kemudian ikut duduk disamping Yifan dengan sikap yang biasa-biasa saja. Seperti tidak ada beban apapun dihatinya.

"Jadi, apa yang membuatmu bolos kerja hari ini?" Tanya Yifan untuk memecah keheningan. Bahkan ia juga bertindak seolah semuanya memang biasa-biasa saja.

"Mungkin ponselku menghianatiku. Benda itu tidak berbunyi padahal aku sudah menyetelnya dengan benar." Dengus Yixing. Lelaki itu kemudian menyesap kopi bagiannya juga.

"Dan kau marah pada ponselmu?"

Yixing menoleh kearah Yifan. Dan beberapa detik berlalu dalam keheningan..

Ya Tuhan. Suasana disekeliling Yifan dan Yixing sekarang benar-benar awkward dan keduanya malah bersikap seperti tidak pernah terjadi sesuatu saja!

Yixing menggeleng. "Tidak. Mana mungkin aku marah kalau kenyataan sebenarnya akulah yang salah. Aku lupa mengisi baterai yang tinggal setengah jadi yah, ponsel itu mati_" Yixing terkekeh kecil. Sedikit merasa aneh dengan percakapan ambigu mereka. "_Seharusnya aku selalu mengisinya agar dia tidak menghianatiku." Desah Yixing lagi.

Yifan ikut menghela nafas. Ingin tertawa rasanya ketika otaknya malah menangkap maksud-maksud lain dari ucapan Yixing. Yifan menggeleng sejenak. Ia pun mengecek jam dipergelangan tangannya kemudian mendesah berat entah untuk apa.

"Xing, kurasa aku harus pulang."

"Hm." Yixing mengangguk dan ikut berdiri mengikuti Yifan yang sudah terlebih dahulu mengangkat diri dari sofa.

Yifan belum beranjak dari sana. Ia malah membalikkan tubuhnya menghadap Yixing. Membuat sebelah alis Yixing naik melihat gelagat Yifan.

"Sebenarnya.. Aku ingin berbicara lebih banyak denganmu." Aku Yifan.

"Ya?"

"Kau tahu kan, pertemuan terakhir kita.. benar-benar buruk.." Yifan meringis kecil dengan ucapannya. Takut menyinggung perasaan Yixing lagi.

"Eoh?"

"Yah. Pertemuan terakhir ketika aku mengantarmu pulang_" Yifan mengelus tengkuknya sedikit. "_Menurutku itu benar-benar terlalu buruk untuk sebuah.. 'akhir'.." Gumamnya pelan diujung.

Yixing masih berdiri dihadapannya dengan tatapan yang.. Entahlah, teduh namun menyimpan berjuta makna.

Yifan sebenarnya tidak biasa melihat sikap pendiam Yixing seperti sekarang. Itu membuatnya semakin merasa bersalah mengingat dulu Yixing adalah type orang sangat banyak bicara. Juga terkadang akan menjadi manja jika mereka hanya berdua. Uh, oke! Mungkin karena situasinya sekarang sudah berbeda tapi.. Tidak bisakah Yixing melampiaskan saja rasa kekesalannya dari pada hanya diam seolah menyimpan 'sesuatu' begini?!

Yifan tiba-tiba diserang rasa frustasi didalam otaknya. "Mungkin jika kau keberatan dan sakit hati padaku, kau bisa memukulku sekarang!" Yifan menunduk. Dia tidak bisa bersandiwara lagi diatas perasaan bersalahnya.

Yixing tercengang. Mulutnya sedikit terbuka tanda terkejut dengan pengakuan Yifan. Tidak benar-benar mengerti akan sikap Yifan tapi Yixing juga cukup tahu diri untuk bisa menahan gejolak dihatinya.

Hening sebentar...

"Ti_Tidak. Mungkin, kita bisa bicara besok?" Ujar Yixing lebih kepada bertanya untuk dirinya sendiri.

Yifan mengangkat wajahnya. Menunjukkan raut bersalah yang masih setia menghias disana. "Maafkan aku~ Tapi tolong, bersikaplah seperti biasa. Jangan hanya banyak diam begini, Xing.." Pinta Yifan terakhir.

Kalimat yang berhasil membuat Yixing terdiam tidak tahu harus merespon seperti apa kata maaf dari 'mantan kekasihnya' itu. Bersikap seperti biasa? Tidakkah itu terdengar sedikit... Egois? Memangnya apa lagi yang harus Yixing lakukan?

Bukankah semuanya memang sudah 'berbeda'?

"Mari bicara besok.." Ulang Yixing lagi. Seketika ingin percakapan mereka segera berakhir.

.

.

.

"Aku tidak melihat Yifan, dan aku.. Juga tidak melihat temanmu!"

Luhan tidak tahu kalau dirinya akan dicegat dan diberikan tatapan menuduh seperti saat ini ketika dirinya sampai dikantor.

"Apa yang kau bicarakan?" Ujar Luhan santai.

"Aku yakin tadi aku melihatmu dan Yifan pergi." Desak Hyerin. Kekasih Yifan.

"Yeah, kami mengunjungi Yixing kerumahnya. So, apa masalahnya denganmu?" Tanya Luhan lagi.

Hyerin menatap Luhan tidak suka. "Dan kau pulang lalu meninggalkan mereka, hanya berdua?" Hyerin nampak memastikan lagi dengan raut wajahnya yang sedikit mengeras.

Luhan mengangguk pelan. "Mungkin seperti itu.." Ujarnya lagi. Kemudian mulai berjalan meninggalkan Hyerin yang terdiam diambang pintu masuk kantor.

Hyerin menatap punggung Luhan tajam. "Sialan!" Umpatnya pelan dan penuh kebencian.

.

.

.

Esoknya..

Yixing mengencangkan sampul dasi yang tersampir dilehernya. Ia menyisir rambut hitamnya menggunakan jari sekali. Dia tidak terlambat bangun hari ini. Tidak karena Yixing memang sudah terbiasa bangun pagi. Bangun dengan sendirinya tanpa dibantu alarm sedikitpun. Lupakan ucapan Yixing tempo hari tentang 'ponsel yang menghianatinya'. Jujur, dia hanya asal bicara ketika itu.

Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, Yixing bergegas meraih tas laptop yang selalu ia bawa. Sebelah tangannya yang tidak menjinjing apapun meraih ponsel dan mulai mengetikkan sesuatu disana. Menelfon supir yang bertugas mengantar dan menjemputnya mulai sekarang.

.

.

.

Sebuah map berukuran sedang terulur kearah Yixing. Lelaki itu menerimanya tak lupa menyelipkan kata terima kasih kepada sang sekretaris.

Sudah sekitar 30 menit berlalu sejak Yixing menerima dokumen-dokumen yang diantarkan sekretarisnya keruangannya. Dan sudah beberapa kali pula Yixing mencoba berkonsentrasi dengan pekerjaannya, namun tetap saja tidak bisa karena sesuatu tengah mengusiknya saat ini!

Yixing tidak tahu apa penghuni sebelah sengaja atau tidak sehingga percakapan mereka bisa terdengar sebegitu kerasnya hingga keruangannya. Bahkan beberapa percakapan mereka benar-benar menyinggung perasaan Yixing!

Mungkin jika Yixing perempuan, maka ia akan berdiri dengan tegas dari duduknya, berjalan cepat mengunjungi ruang sebelah, lalu melabrak pemilik suara yang mengatakan_

"Aku senang akhirnya Oppa sadar. Oppa tahukan kalau hubungan sesama jenis itu sangat..eew..Menjijikkan?!"

"Jadi kau jijik dengan Oppa selama ini?!"

"Tidak juga sih. Tapi aku benar-benar benci ketika melihat laki-laki yang bersikap kurang gentle dengan selalu bermanja kepada lelaki lainnya, layaknya seorang perempuan."

"Hyerin jaga ucapanmu!"

Yixing mendengus dengan muka memerah. Dia tahu kalau Hyerin dan Yifan tengah membiacarakannya. Dan suara pelan namun tegas Yifan terakhir sama sekali tidak membantunya. Apa itu sebuah bantuan untuk Yixing yang kini hanya bisa diam menahan amarah diruangan sebelahnya?

Oh, bantuan yang benar-benar buruk!

Kenapa tidak sekalian saja Yifan juga mengungkapkan perasaannya kalau ia SENANG karena telah menjadi normal dan BAHAGIA sudah memutuskan Yixing?!

.

.

.

Yixing benar-benar masih dalam keadaan kesal ketika Luhan dan Yifan datang keruangannya secara bersamaan di jam istirahat makan siang. Namun akhirnya lelaki itu memilih untuk menyembunyikannya dihadapan Luhan, juga Yifan. Luhan mengajak Yixing makan bersama sementara Yifan menagih janjinya untuk berbicara lebih banyak dengan Yixing.

Yixing hanya menatap kedua orang yang sangat dikenalnya itu dengan ekspresi bingung. Sebenarnya Luhan juga merupakan pihak yang agak bingung, maka dari itu, dengan inisiatifnya-lagi- ia pun memilih untuk mengundurkan diri agar bisa memberikan kesempatan untuk Yifan dan Yixing berbicara. Namun belum sempat Luhan beranjak, Yixing mencegatnya_

"Lu. Aku benar-benar lapar sekarang_" Yixing pun mengalihkan tatapannya kearah Yifan. "_Mungkin kita bisa bicara sepulang kerja. Apa kau tidak keberatan?"

Yifan mengangguk maklum. "Oh, tidak apa-apa. Kufikir itu lebih baik karena waktunya mungkin akan sedikit lebih panjang.." Ujarnya dan diakhiri dengan senyuman.

Yixing membalas senyuman Yifan. Sebenarnya kedua belah bibir Yixing terasa berat untuk diangkat mengingat percakapan Yifan dengan kekasihnya beberapa saat yang lalu. Tapi Yixing mencoba bersikap profesional. Bertindak seolah ia tak mengetahui apa-apa.

Sementara Luhan, ia hanya dibiarkan menjadi pihak yang penasaran oleh 'janji' yang tengah dibuat oleh kedua orang dihadapannya ini. Dia tidak tahu menahu soal itu tapi bolehkan Luhan sedikit menginterogasi Yixing setelah ini?

Dan tepat saat itu juga, Yifan pamit keluar lebih dulu. Kembali keruangannya sendiri tanpa ada niat untuk pergi makan juga. Yifan tidak tahu kenapa, namun ia benar-benar mendapati selera makannya menghilang setelah percakapannya dengan Yixing dan Luhan berakhir.

.

.

.

"Dia fikir, pertemuan kami terakhir sebelum kalian berkunjung kerumahku benar-benar buruk untuk sebuah 'akhir." Jelas Yixing dengan santai kepada Luhan.

Luhan yang tengah memakan steaknya mendadak berhenti mengunyah. "Dia berbicara...Setega itu?" Tanya Luhan tidak suka.

"Kufikir Yifan tidak tega makanya ia menyuruhku memukulnya terakhir.." Yixing terkekeh pelan.

Luhan kembali mengunyah sembari mendengus. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya Dimp! Seharusnya dia tidak menganggumu lagi agar permasalahan kalian bisa clear!"

"Yeah, katakan itu kepada orang yang meninggalkanku hanya berdua dengan Yifan!" Sindir Yixing sembari menggigit potongan steak yang menancap digarpunya.

Luhan meringis sedikit. "Kufikir setelah kutinggalkan kalian hanya berdua, maka akan terjadi sebuah 'awal' yang baru lagi, bukan sebuah 'akhir' seperti ini.."

"APA?!"

Luhan terkesiap. Apa dia salah bicara?

"Jadi kau sengaja?! Yak! Xi Luhan!"

Luhan hanya nyengir tanpa dosa.

.

.

.

Luhan dan karyawan-karyawan kantor yang lain sudah pulang. Yixing masih duduk diruang kerjanya ditemani secangkir kopi hangat dan sebuah jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Dia juga ingin pulang dan istirahat. Namun pesan Yifan beberapa saat lalu tentang janjinya dengan Yixing membuat dirinya harus menunggu. Lebih lama lagi ketika Yifan mengatakan kalau dia harus mengantarkan kekasihnya pulang terlebih dahulu. Huh..

Ketukan sepatu terdengar menggema dikoridor lantai dua yang sepi. Yixing berdiri dari duduknya ketika ia melihat siluet Yifan yang sudah mendekat kearah pintu masuk ruangannya.

Pintu terbuka dan Yifan mendongakkan kepalanya sedikit. "Jadi, kita berbicara diruanganmu atau_"

"Diluar saja.." Potong Yixing.

.

.

.

Disinilah mereka sekarang. Duduk didalam cafe sebelah kantor yang memang belum tutup. Ditemani dua cangkir kopi hangat. Namun Yixing sama sekali belum menyentuh bagiannya karena sisa-sisa rasa kopi yang tadi masih melekat ditenggorokannya. Sedangkan milik Yifan sudah tinggal setengah.

"Kenapa kau meninggalkan jaketmu?"

"Kurasa disini cukup hangat. Jadi tidak perlu membawa jaket.." Jawab Yixing sekenanya.

Yifan terlihat mendengus sedikit. "Cuaca benar-benar dingin dan kau...Ah, sudahlah!" Yifan tidak mengerti tapi nalurinya untuk mengomeli Yixing yang keras kepala benar-benar hampir mematahkan niat awalnya kesini.

"Tidak usah berlebihan. Ingat, aku laki-laki Fan! Sama sepertimu, kau juga tidak membawa jaket. Padahal kau beberapa kali terserang bentol-bentol karena alergi dingin." Yixing segera meraih gelas kopinya untuk menyumbat mulutnya yang telah lancang berkata. Dia tidak sadar dan itu terjadi begitu saja. Ck!

Yifan menghela nafasnya yang tanpa sadar telah ia tahan selama lebih dari tiga detik. Yixing masih mengingat kebiasaannya? Apa-apaan perasaannya yang senang bukan main ketika Yixing seolah mengomelinya saat ini!

Yifan tersenyum sekilas. Ikut menyesap kopinya guna mengalihkan topik aneh diantara mereka. "Iya ya.." Gumamnya sedikit.

Dan obrolan ringan itu berlanjut ketika Yixing meminta Yifan untuk memulai. Jujur, rasa sesak itu masih ada ketika Yifan lagi-lagi mengulang semua ungkapan maafnya dengan raut wajah bersalah dihadapan Yixing. Kata maaf yang mewakili seluruh keputusannya untuk mengakhiri hubungan lima tahun mereka.

Kali ini Yixing tampak tak keberatan. Dia hanya mengangguk dan sesekali berkata 'tidak apa-apa' atau 'aku mengerti sekarang' kepada Yifan, sang mantan kekasih. Menyembunyikan perasaan luka yang masih sama, jauh didalam lubuk hatinya.

Jika ia masih boleh berkata, maka Yixing tak menginginkan perpisahan ini karena yeah, dia sudah terlanjur mencintai lelaki didepannya. Lelaki yang lima tahun ini memenuhi hari-harinya dan juga lelaki yang sudah mencampakkannya beberapa hari belakangan.

Miris.

Tapi jika itu menyangkut keinginan hidup seseorang, maka Yixing tidak berhak menghalanginya.

"Terima kasih, Xing.." Desah Yifan lagi. Setelah menyelesaikan semua ungkapan hatinya.

Yixing mengangguk sembari tersenyum kecil. "Kurasa aku harus ketoilet.." Ujarnya dengan suara pelan.

Belum sempat Yixing berdiri, Yifan menahan pergelangan tangannya. "Setidaknya katakan sesuatu sebelum kau pergi.." Pintanya penuh harap. Sebenarnya, respon-respon singkat yang ia dapat dari Yixing sedari tadi belum bisa membuatnya puas sama sekali.

Pelan-pelan Yixing kembali mendudukkan dirinya. Menatap Yifan dengan sebuah helaan nafas panjang. "Jika kau tanya aku, Yeah, seperti yang kau lihat Fan. Aku belum sepenuhnya normal seperti dirimu. Tapi aku akan berusaha, dan jikapun itu tidak berhasil, kuharap aku bisa menemukan orang lain yang siap menerima ketidak normalanku.._"

Yifan terdiam dengan tangan yang belum lepas dari tangan Yixing. Malah sekarang telapak dingin itu berangsur untuk meraih dan menggenggam jemari Yixing yang sama dinginnya. Yixing membiarkannya, ketika jemarinya diremas dengan kuat oleh tangan Yifan.

Yixing mendongak sedikit, lalu terkekeh paksa. Diam-diam menertawakan nasibnya. "Ya Tuhan aku benar-benar benci ini!" Dengusnya menahan air mata. Tidak jadi karena Yixing benar-benar menahannya sekuat tenaga hingga hanya menyisakan kedua matanya yang memerah. Ia menatap Yifan lagi.

"Seharusnya kau membiarkanku ketoilet dulu agar kau tak melihat ini.." Ujarnya seraya tersenyum kaku.

"Tidak apa-apa. Menangis saja.." Lirih Yifan lagi. Ia sengaja menggenggam sebelah tangan Yixing kali ini menggunakan kedua tangannya. Bermaksud memberi lelaki dihadapannya kekuatan atas apa yang telah ia buat. Menyesal. Namun tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk saat ini, itulah yang tengah dirasakan Yifan.

Sekali lagi, perasaannyalah yang mengatakan kalau jalan ini yang terbaik. Dan Yifan tidak menemukan ada yang salah dengan keputusannya. Dia hanya mencoba bersikap tegas atas pendiriannya!

Yixing dengan cepat meraih tissue dengan tangannya yang bebas. Sementara sebelah tangannya lagi membalas genggaman kedua tangan Yifan. Membiarkan telapak dingin itu perlahan menghangat didalam kukungan kedua tangan besar Yifan. Meskipun Yixing sepenuhnya sadar kalau genggaman itu tidak akan lama, namun nalurinya juga mengatakan kalau dia benar-benar membutuhkan genggaman hangat itu untuk sekarang...

Meski hanya sesaat..

"Tidak. Aku tidak akan menangis~" Ujar Yixing dengan suara serak. 'Karena aku sudah berjanji!' Tegasnya didalam hatinya sendiri.

Sementara Yifan hanya bisa melihatnya dalam keterpakuan. Ingin memeluk Yixing, namun sebuah batasan tak kasat mata menghalangi niatnya_

"Maaf.."

_Dan Yifan merasa seperti tengah berperang dengan 'hati' dan 'perasaann' nya sendiri untuk saat ini, ketika lagi lagi ia melihat dan menyadari_

_Kalau Yixing masih mencintainya...

.

.

.

Kedua lelaki dengan perbedaan tinggi tubuh yang kontras itu berjalan bersisian disepanjang koridor lantai satu yang mengarah ketoilet pria. Tadi Yixing tidak jadi ketoilet jadi sekarang Yifan menawarkan diri untuk menemani Yixing karena hari sudah mulai gelap dan kantor semakin lengang.

Yixing ingin tertawa tanpa sebab rasanya karena Yifan menawarkan diri sebagai_

_Sahabat?

Oh.. Ini bukan lelucon Yixing! Tapi kenyataan!

Yixing mencoba menyadarkan dirinya sendiri, terus menerus. Bahwa semua benar-benar sudah berbeda!

Namun Yixing cukup lega, karena setelah ini, dia dan Yifan tidak perlu bersembunyi-sembunyi dan saling diam ketika dikantor karena yeah, tidak ada alasan 'sepasang sahabat' untuk tidak menyapa satu sama lain.

Yixing sudah menahan diri sedari tadi. Kepalanya sedang pening sekarang. Jadi tanpa ragu sedikitpun, ia meraih sekotak rokok yang ia simpan baik-baik didalam saku celananya kemudian mengambil isinya satu, berikut pematik kecil yang ikut menyusul keluar dari sana.

Langkah Yifan melambat. "Kau merokok sekarang?" Tanya Yifan kurang yakin.

Yixing memilih untuk menyalakan rokoknya terlebih dahulu ketimbang menjawab pertanyaan Yifan. Satu kepulan asap keluar dari celah bibir Yixing. Ia menoleh kearah lelaki tinggi disampingnya. "Kurasa semua lelaki melakukannya. Kau juga kan? Apa kau mau rokok satu?"

Yifan menggeleng. "Tidak tidak. Terimakasih, tapi aku sudah lama sekali tidak merokok. Rasanya saja aku sudah lupa.." Ujar Yifan lagi.

Yixing mengangguk sembari menyimpan kembali rokok beserta pematiknya kesaku celana. "Kenapa tidak kau coba lagi?"

"Seseorang mengatakan kalau itu tidak sehat." Gumam Yifan pelan.

Yixing meringis kecil sembari tersenyum. "Terkadang pemikiran seseorang bisa berubah kapanpun itu.." Elak Yixing. Sadar kalau itu adalah sebaris kalimat yang pernah muncul dari bibirnya sendiri.

"Begitu ya?" Sindir Yifan sembari menyenggol kecil bahu Yixing.

Yixing terdorong sedikit kesamping. Lelaki itu terkekeh pelan diantara hisapannya pada sebatang rokok dengan ujung merah menyala yang menyelip diantara belahan bibirnya.

Setidaknya suasana diantara mereka sedikit mencair sekarang. Itulah yang sama-sama difikirkan Yifan dan Yixing saat itu.

Setelahnya, Yixing meminta Yifan menungguinya diluar ketika ia buang air kecil.

.

.

.

Yixing terbatuk didalam toilet dan Yifan dapat mendengarnya. Ia berdiri diluar dengan kedua tangan menyelip disaku celana. Beberapa menit setelah itu, Yixing keluar dengan sebelah tangan mengusap-usap hidungnya yang memerah menggunakan tissue toilet.

"Kudengar kau batuk.."

"Aku tersedak asap rokok." Jawab Yixing asal.

Yifan hanya mengangguk dengan keryitan didahinya. Dan ketika Yifan melihat Yixing melepas tangannya dari hidungnya, ia dapat melihat wajah Yixing yang agak pucat kala itu.

"Aku harus segera pulang."

Dada Yixing tampak naik dan turun dengan cepat. Yifan menyadari itu. Namun Yixing juga seperti tengah mencoba terlihat stabil dihadapan Yifan.

"Biar kuantar."

Yixing menggeleng cepat. "Tidak tidak. Aku sudah menelfon pelayanan antar jemputku. Kau tidak perlu repot-repot. Sampai bertemu besok ya.." Yixing segera berjalan melewati Yifan. Namun secepat itu pula Yifan menahan lagi pergelangan tangannya.

"Kau.. Baik-baik saja?" Kedua mata elang itu memicing curiga kearah Yixing.

Yang ditanyai lagi-lagi mengangguk cepat. "Aku benar-benar harus pulang sekarang..Hhhh~" Desaknya.

"Baiklah." Yifan melepas tangan Yixing dengan tidak rela. Dia seperti familiar dengan sikap dan gelagat Yixing barusan.

Yixing tesenyum sedikit kemudian membalikkan badannya, menjauhi Yifan dengan langkah buru-buru dan terkesan dipaksakan.

Yifan yang sebenarnya masih bingung, memilih untuk berbalik juga. Mulai berjalan berlawanan arah dengan Yixing. Sebenarnya perasaannya kurang enak melihat gelagat Yixing. Namun ia tetap meneruskan langkahnya.

Tapi belum sampai beberapa detik, Yifan kembali menoleh kebelakang. Dan dia mendapati Yixing berdiri sejenak diujung koridor dan menumpukan sebelah tangannya didinding sembari menghela nafas yang sangat panjang. Setelahnya, tubuh itupun menghilang dari jarak pandang Yifan ketika Yixing kembali berjalan.

Sesuatu hal yang tidak beres sedang terjadi!

Yifan tidak yakin dengan pikirannya namun langkah kakinya yang berbalik dan mengikuti jejak Yixing adalah jawabannya. Yifan penasaran dan dia tak bisa diam begitu saja!

Yifan mempercepat langkahnya. Dan ketika ia berbelok, ia mendapati Yixing menyandar didinding dengan kepala mendongak dan sebelah tangan memegangi dadanya. Lelaki itu menoleh ketika menyadari keberadaan Yifan.

"F_Fanhh?~" Suara berat dan tertahan yang keluar dari mulut Yixing membuat Yifan seolah tertampar oleh sesuatu. Jangan bilang_

"Astaga Yixing!"

Tungkai panjang itu segera mendekat kearah Yixing. Yifan segera menahan tubuh yang hampir ambruk itu kepelukannya. Sial! Kenapa Yifan harus melupakan penyakit asma Yixing?!

"Xing, dimana obatmu?!" Ekspresi Yifan mengeras. Tanda panik luar biasa. Semakin panik ketika mendapati Yixing yang malah menggeleng didalam rengkuhannya.

"Jangan bilang ini pertama kalinya kau menggunakan benda sialan itu?!" Yifan semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Ia hampir saja menyumpah ketika melihat Yixing malah tersenyum kecil sembari mengangguk kemudian terbatuk keras sebanyak dua kali.

"Kau ini bodoh atau apa hah?!" Yifan benar-benar dibuat kalang kabut karena nafas Yixing terdengar semakin berat dan terputus-putus disetiap helaannya.

"Akuhh..Hhhhh..Hanya_Menco...hhhhh..baa..!" Yixing meringis sembari meremas kuat dadanya.

"Ya tuhan ya tuhan, Xing!_" Yifan menepuk pipi Yixing sekali melihat kedua mata itu perlahan mulai sayu dan helaan nafasnya semakin tak beraturan. "_Ya Tuhan apa yang harus kulakukan?!"

Berfikir Fan!

Berfikir Fan!

BERFIKIRLAH WU YIFAN!

Tidak ada pilihan lain lagi!

Yifan masih memeluk pinggang Yixing dengan sebelah tangannya. Sementara yang sebelahnya lagi mulai merambat kerahang Yixing. Menahan wajah pucat itu tepat didepan wajahnya. Yifan merasa seperti ingin menangis karena tidak sampai hati ketika melihat bibir pucat didepannya itu terbuka dan meraup-raup oksigen dengan tersiksa. Maka dengan segala rasa panik yang melandanya, Yifan juga membuka mulutnya dan menyatukannya kebibir Yixing.

Kedua mata Yixing spontan terbuka dan ia menggapai dengan panik tambahan nafas yang diberikan Yifan. Benar-benar menghirupnya seperti orang kesetanan. Kedua tangannya menarik pipi Yifan mendekat dan tiada hentinya menerima bantuan berharga itu.

Dengan kedua mata memerah, Yifan membiarkan Yixing menghirup nafasnya dengan rakus. Ia ikut menekan bibirnya kebibir Yixing hingga rasanya sedikit pedal. Tapi Yifan tak memikirkannya, karena yang ia ingin sekarang adalah bagaimana caranya agar Yixing tidak tersiksa lagi.

Yifan menghembuskan nafasnya dengan lembut. Dadanya bergerak naik turun dengan pelan. Berbeda dengan Yixing yang benar-benar membutuhkannya, jadi kini dadanya bergerak tak menentu didalam pelukan hangat Yifan.

Yifan tahu ini bukan obat yang ampuh. Namun ia memiliki keyakinan kalau setidaknya, bantuan yang ia berikan kepada Yixing bisa sedikit mengurangi penderitaan Yixing ketika asma sialan itu menyerang. Hanya bermodal keyakinan, dan Yifan mendapati Yixing yang perlahan mulai rileks dipelukannya.

Yifan tidak hentinya bersyukur didalam hatinya ketika mengetahui nafas Yixing mulai terasa teratur meski perlahan-lahan. Ia masih memenghembuskan nafasnya saat ini, untuk memenuhi rongga pernafasan Yixing yang masih sesak.

Sudah satu setengah menit berlalu namun kedua bibir itu masih bertaut satu-sama lain. Yifan tidak tahu kenapa namun ia merasa tidak ingin melewatkan moment ini begitu saja. Dan tanpa sadar, kedua belah bibir itu malah bergerak satu sama lain. Saling memberi lumatan-lumatan halus yang sarat akan rasa rindu.

Yixing perlahan membuka matanya ketika ia merasakan hisapan halus dari bibir Yifan. Dan ketika kesadarannya kembali, Yixing buru-buru mendorong dada Yifan dengan tenaga seadanya. Melepaskan tautan bibir mereka dengan perasaan canggung luar biasa.

Yifan pun begitu. Ia sebenarnya juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tidak mengerti kenapa bantuan itu malah berlanjut menjadi sebuah ciuman. Tapi Yifan tak bisa berbohong kalau sebenarnya..

Dia juga merindukan Yixing. Untuk sebuah alasan...

"Maaf~"

"Hhhh.. Tidak. Aku_Ng_Terima kasih..." Ujar Yixing pelan.

.

.

.

Yixing tidak tahu apa dia harus senang atau tidak ketika Yifan mengantarnya pulang untuk kedua kalinya sejak mereka putus hubungan. Apalagi ia juga mendapatkan perhatian yang lebih dari Yifan. Yifan mengajaknya untuk kerumah sakit namun Yixing menolaknya dengan halus. Dan tidak disangka penolakkannya malah berakhir dengan Yifan yang pergi sendiri untuk membeli obat Yixing lalu kembali dengan satu kotak Inhaler ditangannya.

.

.

.

Air yang meluncur dari shower itu perlahan mengecil lalu berhenti. Yixing mengusap rambutnya kebelakang menggunakan kedua tangannya. Kemudian berjalan pelan kearah westafel dan berdiri sejenak disana. Menatap wajahnya yang lumayan pucat dari kaca.

Yixing menyentuh bibirnya yang basah. Bayangan Yifan yang menciumnya seketika merambat didalam fikirannya. Yixing terdiam sebentar, menatap pantulan dirinya sendiri dicermin dengan tatapan kosong. Memang, semuanya terjadi diluar dugaan Yixing maupun Yifan, tapi ada sedikit perasaan sedih dihati Yixing ketika mengingat kembali 'bantuan' dari Yifan.

"Ch!" Yixing tersenyum sembari berdecih kecil, masih dengan tatapan kosong yang menghiasi kedua sinar matanya.

Pelan-pelan Yixing meraih handuk kemudian berjalan menjauhi kaca. Meninggalkan bayangannya sendiri yang seolah masih tertinggal disana, bersama jiwanya yang juga tengah terasa kosong. Perih, ketika dirinya selalu teringat akan ciuman terakhir Yifan yang memberinya sebuah harapan baru..

Sebuah harapan hampa...

.

.

.

Besoknya..

"Dimp!"

Yixing mengangkat wajahnya. "Luhan?"

Cengiran bodoh sang sahabat dipagi hari membuat dahi Yixing seketika bertaut heran. Dia hanya menunggu Luhan sampai kemeja kerjanya, dengan masih mempertahankan raut heran diwajahnya.

Luhan segera duduk didepan Yixing tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dahulu. Wajah Luhan yang berseri-seri membuat Yixing mau tak mau menutup dokumen ditangannya.

"Terjadi sesuatu?" Tanya Yixing penasaran.

"Aku membawa seseorang!" Jawab Luhan ceria.

"Siapa?"

"Perhatikan bibirku_"

Yixing mengangguk lalu berkonsentrasi dengan kedua belah bibir Luhan. Memperhatikan dengan seksama.

"..."

"Apa?" Yixing mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Luhan. Belum menangkap betul isyarat bibir dari sahabatnya itu.

"..."

"Apa?_Ge_Geka.._"

Luhan menggeleng sembari tersenyum manis. Dia mengulang lagi membuat Yixing semakin penasaran.

"Geka?_Ge_"

Luhan memutar bola matanya sembari mendengus geli. "Ah, kau sangat bodoh! Dan sialnya aku sangat gugup mengatakannya! Bukan 'geka' tetapi..Ke_Ka_"

"_Sih?" Yixing hampir melompat dari kursinya sendiri. Dia memekik antara senang dan tidak percaya. "SERIUS?!"

Luhan mengangguk malu.

"Oh, Tuhan! Apa ini nyata?!" Yixing benar-benar tak dapat membendung perasaannya mendengar kabar dari Luhan. Sang sahabat yang belum pernah berkencan sama sekali akibat trauma akan 'cinta pertama' nya yang kandas, bahkan sebelum mulai berjalan, sensi terhadap wanita, dan menahan gejolak perasaan terhadap perempuan sejak lama! Begitulah Luhan sebelumnya, tapi sekarang? Luhan berkencan?

"Selamat!_" Yixing segera berdiri, mengitari meja lalu memberikan pelukan hangat kepada sang sahabat. "_Aku harus bertemu segera dengan gadis beruntung itu!"

Luhan terkekeh malu. Canggung rasanya ketika memikirkan kalau dirinya telah memiliki seorang gadis, miliknya, kekasih, pacar, dan, ah_

_Luhan benar-benar sedang bahagia sekarang! Jadi, untuk membagi rasa bahagianya, Luhan pun membalas pelukan Yixing. "Terimakasih Dimple!"

Yixing ikut terkekeh kecil. Gemas akan pengakuan lucu Luhan. Namun tiba-tiba tawanya berhenti ketika dirinya melihat seseorang berdiri diam setelah membuka pintu ruangan kerjanya.

"Yifan?"

Gumaman Yixing terdengar ditelinga Luhan yang membuat sang sahabat mau tak mau segera melepas halus pelukan mereka. Luhan menoleh kebelakang, menangkap keberadaan Yifan diambang pintu.

"Perlu sesuatu?" Yixing tersenyum kecil kearah Yifan. Ia sudah berdiri disebelah Luhan.

"Eng.. Kufikir, ini saat yang kurang tepat. Sepertinya aku mengganggu_"

"Hey..Tidak ada kata tidak tepat untuk seseorang mengunjungi rekan kerjanya_" Yixing berjalan mendekati Yifan. Menarik pergelangan tangan Yifan kedalam lalu melepasnya dan menutup pintu. "_Masuklah, tapi terlebih dahulu berikan selamat kepada teman kita.."

Yifan tidak mengerti namun ia tetap masuk. Ia bahkan sempat melupakan niat awalnya kesini (menanyakan keadaan Yixing), ketika melihat betapa eratnya pelukan Yixing dan Luhan. Terlebih, kalimat Yixing barusan sebenarnya terdengar sedikit asing ditelinga Yifan. 'Teman kita?' Yah, ingat Fan, kalian bertiga hanyalah 'teman' sekarang..

Ohh.. mengapa Yifan merasa ada yang aneh dengan dirinya?

.

.

.

Di beberapa kesempatan, Yixing sudah memaparkan dengan jelas kepada Chanyeol, Sulli, maupun Luhan tentang perkembangan hubungannya dengan Yifan yang sudah jauh lebih baik, meski status mereka bukan sebagai sepasang kekasih lagi. Jadi, tak ada alasan untuk mereka saling canggung satu sama lain lagi jika bertemu Yifan, sebab itu hanya akan membuat Yixing merasa kalau dirinyalah yang memisahkan hubungan pertemanan mereka selama ini. Yixing hanya tak ingin dibela sedemikian rupa karena memang tidak ada yang berhak dibela.

Tidak ada pihak yang salah disini, semuanya hanya perlu menyesuaikan diri dengan suasana yang 'baru'.

Jadi disinilah mereka sekarang, duduk bersama dicaffe sebelah kantor, berenam, Yifan, Yixing, Luhan, Chanyeol, Sulli dan seorang gadis lain. Kekasih Luhan.

"Jadi, sejak kapan?" Yixing membuka pertanyaan. Ia dan yang lain sudah berkenalan dengan seorang gadis cantik berpipi chubby yang dibawa Luhan, namanya Minseok.

Luhan sepertinya enggan menjawab. Dia malah meneruskan acara makannya yang lebih terlihat seperti menghindari pertanyaan Yixing. Ingin sekali rasanya Yixing menertawai kelakuan lucu sahabatnya itu. Lihat, bahkan Luhan terkesan lebih pemalu dari gadisnya sendiri.

"Sejak tadi malam Oppa.." Suara halus Minseok terdengar. Menjawab pertanyaan karena dirasa Luhan tak kunjung menjawab. Minseok tersenyum seraya memamerkan gusi merah mudanya nan manis.

"Ahh.. Mengapa kau begitu cantik?" Sulli terkekeh sendiri akibat perkataannya.

"Terimakasih Eonnie.." Minseok ikut terkekeh. Ia menatap Luhan-yang masih sibuk dengan makanannya- sekilas, lalu kembali bercakap-cakap dengan yang lain.

Menit-menit telah berlalu..

Beberapa kali siulan penuh godaan dilontarkan para sahabat kepada Luhan yang begitu pemalu. Minseok bahkan malah bergabung dalam menertawai sikap canggung Luhan yang kelewatan.

Yifan, secara tak sadar ikut menikmati acara makan siang yang hangat itu. Sudah lama ia tidak berkumpul bersama para sahabat seperti saat ini. Terakhir adalah dua hari sebelum ia putus dengan Yixing. Dia merasa sangat puas menggoda Luhan bersama yang lain. Tawa Yifan masih berlangsung ketika kedua matanya yang semula sibuk malah berhenti tatap ketika pandangannya jatuh kearah kanan, kearah wajah Yixing yang menyamping.

Senyumnya..

Cekungan dipipinya..

Bunyi tawanya..

Lekukan wajahnya..

Tanpa sadar tawa Yifan berubah menjadi sebuah senyuman yang sarat akan perasaan hampa, rasa bersalah itu lagi.

Jadi, apakah dia orang yang pernah membuat senyuman itu berganti tangis? Jadi, apakan dia yang pernah menghilangkan keindahan cekungan pipi itu? Jadi, apakah dia yang pernah membuat suara tawa itu berganti isakan lirih? Jadi, apa dia orang yang pernah merenggut kebahagiaan diwajah damai itu?

Oh Tuhan. Betapa Yifan benci akan dirinya sendiri yang merasa amat rindu akan tawa Yixing yang seperti ini! Tepat disampingnya, lepas dan tanpa beban!

Yifan masih belum sadar ketika tiba-tiba sebelah tangannya terangkat, hampir menyentuh wajah Yixing jika saja objek yang sedari tadi ditatap tidak menoleh_

"Lihat Fan! Luhan sangat luc_"

Hening...

Yifan terkesiap, terlebih Yixing. Kedua belah bibir Yixing tidak mengatup dengan baik ketika jemari Yifan menyentuh permukaannya.

Suasana mendadak awkward. Segala tawa berubah menjadi kesunyian. Yifan yang paling gugup, ingin berbicara namun dia tergagap. Dia bahkan tidak mengerti mengapa jarinya sampai disana, dibibir Yixing, bahkan dengan lancang juga menyentuh.

"Ah! Tadi ada sesuatu disini!" Bohong Yifan.

"Benarkah?_" Yixing segera menarik diri dan memeriksa bagian bibirnya. "_Apa mungkin remah makanan?" Ujarnya penasaran.

"Iya, sepertinya begitu.." Jawab Yifan yang juga sudah menarik kembali tangannya. Meletakkan dipaha dan mengepalkan jemarinya dengan perasaan gugup luar biasa. Fikirannya mendadak kaku, tidak memahami makna dari sikapnya sendiri.

Mungkin keheningan akan berkuasa selama-lamanya jika saja suara bass Chanyeol tidak terdengar untuk memecah suasana_

"Emm.. Jadi, bisakah kita kembali tertawa?" Pertanyaan Chanyeol sungguh aneh dan terkesan terlalu dipaksakan.

Tapi karena tak ingin kecanggungan terus berlangsung, Yixing berinisiatif menjadi orang yang pertama kali mengeluarkan senyuman lebarnya, dilanjutkan dengan tawa. Diam-diam menyelamatkan lelaki bodoh yang duduk tepat disampingnya.

Hingga tidak terasa, keenam anak manusia itu kembali larut dalam lelucon kekanakan mereka. Tidak jauh-jauh, Luhan masih menjadi objek bullyan pada istirahat siang yang singkat itu.

Yixing, diam-diam lelaki itu menyimpan perasaan hangat didalam hatinya...

.

.

.

Jam kerja sudah masuk, semuanya sudah kembali keruangan masing-masing. Tinggal Yifan dan Yixing yang saat itu masih berjalan kearah lift, menuju kelantai dua.

Ting~

Pintu lift tertutup rapat. Yixing memasukkan kedua tangannya kesaku celana. Sedangkan Yifan tengah bersiul kecil sembari menunggu lift sampai dilantai dua. Biasanya, tidak pernah lebih dari lima detik keduanya didalam sana hingga pintu lift terbuka kembali, dan ruangan kerja siap menyambut kedatangan mereka.

Namun ketika itu yang terjadi adalah, sudah sekitar sepuluh detik terlewat namun pintu lift tak kunjung terbuka. Yixing mendekati tombol lift yang berwarna merah tepat diangka dua, dia memencet tombol buka beberapa kali, namun tak ada respon.

Yifan ikut mendekat, dia berdiri dibelakang Yixing. "Apa yang terjadi?"

Yixing menoleh kebelakang. "Aku tidak tahu. Mungkin lampu mati." Yixing sebenarnya panik. Namun ia berusaha untuk terlihat lebih 'laki-laki' didekat Yifan. Bayangkan, terjebak didalam lift? Selain rasanya tidak menyenangkan karena hanya ada dia dan Yifan disini, tidakkah kepengapan ini akan mengganggu pernafasan?

"Tekan tombol Call." Usul Yifan.

Yixing mengangguk lalu melakukannya sesegera mungkin. Ia meninggalkan pesan suara disana, berharap bantuan segera datang.

Sekitar lima menit telah berlalu, Yixing bersandar didinding lift, Yifan pun sama, keduanya berdiri berhadap-hadapan. Yixing hanya diam ketika ia mulai merasa agak pusing.

Menyadari kegelisahan Yixing, Yifan berjalan selangkah mendekati pintu lift. "Merasakan sesuatu?" Ujarnya tanpa menoleh kearah Yixing. Yifan sedang mencoba mendengar keberadaan orang diluar lift.

"Apa?"

Yifan mengalihkan pandangannya kearah Yixing. Dia meraih sesuatu dari dalam saku celananya kemudian berdiri dihadapan Yixing. "Lihat, keringatmu sangat banyak.."

Yixing hanya terdiam tak mampu berkata ketika usapan lembut dari sapu tangan Yifan mendarat dipelipisnya. Yixing tidak menolak ataupun banyak berkomentar. Memang, rasanya sedikit canggung mengingat Yifan bukanlah siapa-siapanya lagi, hanya 'seorang teman'. Namun Yixing merasa tidak ada yang salah jika ia menerima begitu saja perlakuan baik Yifan.

Yixing bergumam lirih seraya mengangguk pelan. "Hm.. Disini sangat panas.." Ucapnya seraya memejamkan mata.

Yifan merasa hatinya menghangat entah karena apa. Lelaki tinggi itu tersenyum mendapati Yixing tidak menolak perlakuannya. Yifan mendekatkan wajahnya kewajah Yixing, entah mendapat keberanian dari mana, ia mulai meniup permukaan wajah manis Yixing yang kini basah akan keringat, meniupnya dengan pelan dan halus. Sementara itu, sebelah tangannya masih mengusap-usap keringat Yixing dengan penuh kelembutan.

Yixing terenyuh. Sapuan hangat nafas Yifan membuatnya terpaku diantara perasaan yang kian tak tergambarkan. Yang Yixing tahu, dia hanya perlu merasakannya. Bohong jika Yixing katakan kalau dia tidak menikmati perlakuan manis Yifan-lelaki yang pernah hidup dengan dirinya selama lima tahun bersama 'cinta'-, saat ini. Yixing tidak ingin munafik. Jujur saja, dia masih menyayangkan keadaan meski sudah ia coba untuk tegar. Karena kenyataan sebenarnya adalah, hati kecil Yixing masih mengharapkan sosok Yifan.

Disisi lain, Yifan terpana. Dia menatap wajah Yixing seolah tak ada hal lain didunia ini. Yifan sadar saat melakukannya, bahkan sangat sangat sadar! Ketika dialah yang memulai untuk mengecup permukaan bibir Yixing. Berlanjut dengan meciumnya lembut.

Yixing tidak terkejut sama sekali. Bahkan sebelum Yifan lancang menciumnya, nalurinya sudah berkata kalau ini akan terjadi. Tidak mengerti namun Yixing mencoba untuk memahami. Dia dan Yifan 'sama', dalam artian yang berbeda-masih saling membutuhkan-. Merasakan pergerakan bibir Yifan diatas bibirnya, membuat Yixing yakin kalau masih ada sisa cinta dihati lelaki tinggi itu untuknya. Yixing lagi-lagi tidak menolak, matanya terus terpejam. Perasaanya tak menentu. Antara senang dan...Bimbang..

Tapi untuk sekarang, Yixing rasa ia hanya perlu mengimbangi Yifan, bukan membalasnya.

Sekali lagi Yixing katakan, dia hanya perlu menerimanya. 'Tidak ingin membohongi diri'. Karena belum ada orang lain yang mampu mengisi kekosongan dihati Yixing kecuali_

'Yifan'

.

.

.

"Maafkan aku."

Yixing menatap Yifan. "Lupakan saja.."

"Maafkan aku.."

"Fan.."

"Kau boleh memukulku!"

Yixing menghela nafas seraya menghapus sisa saliva disudut bibirnya. "Cukup lupakan saja.."

"Maaf.."

Yixing diam, tidak menjawab. Dia membuang muka kesamping, menghindari tatapan Yifan.

"Tidak perlu meminta maaf. Kita berdua salah.." Lirih Yixing.

Kali ini Yifan yang diam. Dia menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahnya lagi. Kembali menatap Yixing meski lelaki manis itu terlihat enggan menoleh kearahnya. "Tidak. Aku yang lancang.."

"Sudahlah Fan. Lupakan saja.." Yixing mendesah lemah. Ia kemudian menunduk.

"Kau marah.."

Yixing menggeleng. "Tidak. Hanya saja, aku membayangkan bagaimana jika kekasihmu mengetahuinya.." Lirih Yixing lagi. Ia menghembuskan nafas sekali melalui mulut.

"Tatap aku.."

"Apa?" Yixing masih belum menoleh.

"Tatap aku Yixing?"

Kesal, Yixing mengangkat wajahnya. Membalas tatapan Yifan.

"Apa kau masih mencintaiku?"

Cukup terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Yifan, Yixing memilih untuk tidak segera menjawab. Dia malah membalikkan pertanyaan_

"Dan kau? Apa kau masih mencintaiku?" Tantangnya.

Hening...

Sebenarnya Yifan tak menyangka kalau Yixing akan seberani ini. Namun ia berusaha untuk terlihat biasa saja didepan lelaki yang merupakan 'mantan kekasihnya' itu. "Jawab aku dulu.."

"Kutanya, apa kau masih mencintaiku?" Yixing mengulang pertanyaannya. Bersikukuh dengan satu kalimat itu meski tempat berpijaknya saja sudah terasa goyah sekarang. Jantungnya bahkan berdetak dengan tidak karuan.

Apa-apaan situasi ini?!

Hening lagi, kali ini cukup lama..

Belumlah hilang rasa perih dihatinya, kini, sebuah gelengan kepala yang Yixing dapat dari Yifan seolah menjadi garam yang seketika menaburi luka dihati Yixing.

'Tidak'

Sepenggal jawaban lisan yang Yixing dapat dari Yifan.

"Kau menciumku.." Yixing tidak tahu apakah ini jenis pernyataan atau pertanyaan, dan apakah kalimatnya pantas atau tidak untuk dikeluarkan, namun yang ia tahu hanyalah, hatinya tidak sedang baik-baik saja sekarang.

"Tapi kau membalasnya. Sehingga aku tahu kalau kau masih mencintaiku.."

Kedua mata Yixing reflek memicing. "Apa?"

Yixing tidak percaya!

Yifan mengangguk. "Kau, masih, mencintaiku." Jelasnya lagi. Menekan setiap suku kata yang keluar melalui mulutnya.

Tidak tahu apa yang telah ia lakukan sehingga Yifan menyakitinya lagi dan lagi. Apa Yifan sedang mengujinya? sampai sejauh ini? juga mempermaikan perasaannya hingga sedalam ini?

Sakit hati! Itulah yang Yixing rasakan sekarang!

"Apa maksud ucapanmu?!" Yixing menahan emosinya.

Yifan menjawab kembali ucapan Yixing. "Memperjelas lagi tentang hubungan kita. Jelas, sejelas-jelasnya.." (Maksud Yifan disini adalah Yixing yang masih mencintainya sementara Yifan sudah tidak; meyadarkan Yixing atas perasaannya yang tak terbalaskan).

Yixing mengangkat tangannya kemudian memberikan sapu tangan Yifan dengan gerakan sedikit kasar. Mendorong dadanya dengan itu. "Ini, milikmu!_" Yixing melepas tangannya dari dada Yifan sebelum Yifan sempat meraih kain kecil itu. Hingga sapu tangan berwarna hijau tua itu melayang dan terjatuh diatas lantai.

Satu langkah pelan Yixing ciptakan untuk memperpendek jarak antara dirinya dengan Yifan. Ia menghela nafas sekali sebelum berbicara. "_Mungkin sangat menyenangkan bagimu ketika mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin kau belum puas sebelum aku menghilang dari jarak pandangmu. Aku tidak tahu apa alasan kau melakukan ini. Namun yang aku tahu sekarang, kau, bukan Yifan yang dulu kukenal lagi!_" Yixing merasa hatinya terpukul begitu keras atas kalimatnya sendiri. "_Dan kau benar_" Yixing menatap Yifan dengan tajam namun terpancar rasa kecewa disana. "_Aku masih mencintaimu!"

Cup!

Satu kecupan Yixing layangkan dibibir Yifan. Mencium dan melumatnya sebentar. Dan dalam perasaan perih luar biasa yang kian menyayat hatinya, Yixing melepas ciuman itu.

Yifan tertegun melihat air mata Yixing yang jatuh ketika lelaki itu melepas ciumannya.

Yixing menatap Yifan dingin. "_Aku tidak pernah menyesal karena telah bertahan hingga sejauh ini.._" Yixing menghela nafas lirih. "_Kuharap, tidak ada orang lain yang merasakan bagaimana 'rasanya' menjadi aku. Hargai setiap orang yang menyayangimu, Fan. Cukup. Karena jika kau benar-benar sudah muak dengannya, setidaknya berikan dia waktu untuk bernafas. Jangan memaksanya. Karena yakinlah, dia akan menjauh dengan sendirinya. Menghilang, tak pernah terlihat, dan tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi!"

Yixing mengangkat tangannya, menyentuh bibir Yifan yang terkatup rapat. "Maafkan aku, karena telah lancang menciummu." Gumamnya sendu. Membalikkan kata yang sempat terucap dari bibir Yifan sebelumnya.

Sekali lagi, Yifan tak mampu berkata.

"_Anggap semuanya impas. Karena mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing! Tapi yang perlu kau ingat Fan..._" Yixing menunduk, menatap lantai dengan pandangan kosong. "_Yixing yang kau kenal, sudah tidak ada lagi..."

.

.

.

Mungkin beberapa orang hanya menganggap spele masalah perasaan. Tapi bagi Yixing tidak! Dia selalu menghargai setiap apa yang orang rasakan dan dia rasakan. Itu adalah hal yang paling sensitif apalagi jika ada yang menyinggungnya, terlebih hingga kedasar.

Seperti yang telah Yifan lakukan kepadanya!

.

.

.

"Xing, Yixing?"

Kedua alis Yixing terpaut kesal. Matanya terpejam erat dan tubuhnya mendadak menegang.

"Xing?"

Kedua matanya lantas terbuka seiring dengan nafasnya yang kian memburu, kemudian_

PLAKK!

Satu tamparan keras melayang di pipi Yifan!

Yifan tercengang, begitupun dengan Yixing yang perlahan menyadari sesuatu.

Yifan memegang pipinya yang memerah. "Ap_Apa yang terjadi?" Tanyanya kebingungan.

Gagap. Mulut Yixing terbuka dengan kedua mata melotot. Tidak tahu harus berkata apa setelah tamparan menyakitkan yang ia layangkan ke pipi lelaki didepannya. "A_a..."

Menghela nafas, Yifan menurunkan sebelah tangannya yang semula berada dipipi. Ia menatap Yixing kemudian mendesah kecil. "Mungkin kau mimpi buruk.."

"Ya?"

Yixing tidak tahu harus merespon seperti apa ketika dirasa Yifan mulai membantunya berdiri. Fikirannya masih blank dan nyawanya benar-benar terasa belum utuh semua.

Mi_Mimpi?

Jadi hal 'nyata' yang dialami Yixing itu hanya mimpi?

Sial!

Pintu lift sudah terbuka, entah sejak kapan. Yifan masih dalam proses membantunya berdiri ketika Yixing mengalami denyutan halus dikepalanya. Ia mendadak pusing memikirkan apa saja yang telah terjadi pada dirinya.

"Akh!"

"Xing?! Kau baik-baik saja?" Tanpa sadar Yifan memeluk tubuh Yixing yang tiba-tiba oleng.

"Maaf, tapi... aku.. sangat pusing.."

"Kau boleh memelukku sebentar, hingga pusingmu hilang.."

Mengingat tamparan yang telah ia hadiahkan tanpa alasan kepada lelaki disebelahnya, membuat Yixing segan untuk bertindak apapun saat ini. Jadi dia hanya menunduk, ingin meminta maaf namun ia tak memiliki alasan dibalik itu. Yixing hanya diam, tidak membalas maupun menolak ketika Yifanlah yang mulai memeluknya. Menyandarkan pipi Yixing didadanya.

Yifan juga memilih diam sejenak. Memaklumi sikap Yixing meski ia sangat penasaran. Jujur, sebenarnya bekas tamparan Yixing masih terasa dipipi Yifan. Tapi itu bukan masalah. Karena Yifan yakin kalau Yixing hanya mengalami mimpi buruk ketika ia tertidur didalam lift tadi.

Hening..

Tapi belum sampai beberapa detik setelahnya_

"Oppa~..."

_Sebuah suara menginterupsi Yifan dan Yixing. Bersamaan keduanya menoleh kesumber suara. Disana, seorang gadis cantik berdiri didepan pintu lift yang terbuka, dengan kedua mata memerah menahan tangis. Itu Hyerin, kekasih Yifan.

.

.

.

Bersambung..

Udah, sampai disini dulu yah.. Kalau kurang panjang atau kurang memuaskan silahkan dikritik. Jujur, KraYeol sendiri ngerasa 'kaku' pas nulis ini (setelah sekian lama nganggur). Ini aja udah dibaca berulang-ulang tetep aja rasanya ada yang janggal sma tulisannya.

Oke, sampai disini dulu..

Dahhh...

Salam manis by_

^KraYeol^