PATS

Disclaimer : Singeki no Kyojin is belong to Hajime Isayama, But PATS is belong to me

I don't like any Flame, Bullying, and etc. Please enjoy my story and if you like please give me your opinion about my story

.

Thanks for Sivanya anggarada, Kyucel, NaluCacu cuka cuka, Marisa19Putri, Rivaille yuki Gasai 2, Julihrc

.

Chap 2 : Rivaille's Apartement

Eren berjalan lemas menuju kelasnya. Dari kantung hitam dibawah matanya, terlihat bahwa bocah brunnet itu kesulitan untuk tidur semalam-atau memang tidak tidur sama sekali. Dan kini, Eren berangkat kesekolah bak mayat hidup yang sering ditonton anak anak di film zombie

"Zombiee~"

Eren mengarahkan pandang kearah suara mengerikan yang baru didengarnya, dan langsung menekuk kedua alisnya mendapati seorang pemuda berwajah kuda berdiri disebelahnya

"Cih. Diam kau wajah kuda" Ujar Eren sambil mempercepat langkahnya. Pemuda kuda itu-Jean Kirstchein, tertawa lebar kemudian menyamakan langkahnya dengan Eren

"Hohoho.. Rupanya ada yang tidak bisa tidur semalam. Apa Mikasa lupa me nina bobokan mu sehingga kau tak bisa tidur semalaman?" Jean berkata dengan nada mengejek. Seketika itu juga Eren menghentikan langkahnya dan menatap jengan Jean. Eren langsung menarik kerah seragam Jean dan mempelototinya dengan kesal

"Aku bukan tak bisa tidur karena itu! Dan asal kau tahu, aku tak pernah di nina bobokan oleh siapapun muka kuda!" Eren menggeram dengan penekanan disetiap katanya, sementara pria jangkung didepannya masih menaikkan sebelah alisnya dan menatapnya remeh.

"Oh, benarkan tuan Jaeger? Kurasa alibimu itu terlalu tak masuk akal. Mengingat kau selalu dijaga Mikasa setiap waktu!" Jean balas mendorong Eren mundur, membuat keseimbangan Eren hilang dan nyaris tumbang jika saja tak ada yang menahannya. Eh.. Tapi siapa?

"Berhati hatilah Kirstchein. Jika Eren sampai terluka kupastikan tanganmu tak akan punya kesempatan untuk menyentuh apapun lagi"

Eren menoleh dan mendapati Mikasa yang memegang pinggangnya bersama Armin yang berdiri disebelahnya. Jean bergidik ngeri lalu pergi setengah berlari memasuki kelas, setelah melihat aura berbahaya yang keluar dari gadis pujaan hatinya. Eren hanya menghela nafas

"Eren, matamu kenapa?" Mikasa memperhatikan lekat-lekat lingkaran hitam dibawah mata Eren. Eren langsung menoleh ke arah lain, berusaha menutupi kantung matanya dari pengelihatan Mikasa meski itu nyaris tak mungkin

"Tak apa. Hanya kurang tidur" jawab si brunnet enteng

"Apa kau serius? Seharusnya aku kemarin berkunjung ke kontrakanmu, jadi aku bisa membuatkan sup kari sehingga tidurmu bisa nyenyak" Eren hanya memutar bola matanya bosan, mendengar ceramah panjang Mikasa.

"Aku tak apa Mikasa. Dan berhentilah bersikap posesif begitu" Eren lalu beranjak memasuki kelas. Meninggalkan Mikasa dan Armin yang hanya saling melempar pandang

"Sikapnya hari ini agak aneh. Menurutmu bagaimana Armin?" Mikasa menghela nafas dan menatap penuh harap kepada lelaki berambut pirang didepannya.

"Kau benar. Dia lebih sensitif pagi ini" Armin mengangguk

"Mungkin dia sedang PMS!"

Armin dan Mikasa menoleh dan mendapati Sasha yang sudah berdiri disebelah mereka, membuat kedua orang itu agak terkejut

"Kau bercanda Sasha? Eren itu laki-laki" Mikasa melipat tangannya didepan dada sambil melempar tatapan bosan pada gadis berkuncir didepannya

"Haha.. Siapa yang tahu?" Sasha lalu masuk ke dalam kelas, kembali meninggalkan Armin dan Mikasa yang masih sibuk berdiskusi didepan pintu kelas.

"Aku yakin ada yang disembunyikan Eren, Armin"

"Ya, mungkin kau benar Mikasa"

.

Eren masuk kedalam kelas masih dengan tampang lemasnya, kemudian duduk di bangkunya dan langsung menenggelamkan wajahnya pada kedua lengan yang ditekuk. Eren terus merutuki kebodohannya mengikuti saran Ymir untuk memberi fanservice pada pelanggan, dan berakhir pada ciuman pertamanya yang direnggut. Ugh.. Ciuman..

Eren menjedukkan kepalanya hingga menyebabkan suara bedebum yang lumayan keras, membuat belasan pasang mata menatapnya dengan bingung.

"Yo Eren. Ada apa denganmu?"

Eren mengangkat wajahnya dan mendapati pemuda berbadan besar dan seorang pemuda jangkung-sangat jangkung-disebelahnya

"Yo Reiner, Yo Bertholdt" jawab Eren lemas. Reiner dan Bertholdt saling melempar pandang lalu mengangkat bahu bersamaan.

"Ada apa Eren? Sepertinya kau tak bersemangat hari ini?" Bertholdt menarik kursi didepan Eren lalu duduk diatasnya

"Kau sakit?" Kini giliran Reiner yang bertanya

"Ya. Sebentar lagi kalian akan mendapat kabar bahwa seorang anak lelaki bernama Eren Jaeger masuk rumah sakit jiwa karena depresi setelah ci-" Eren langsung menahan nafas. Merutuki dalam hati atas kebodohannya yang hampir membocorkan rahasianya didepan dua pemuda didepannya

"Bu-Bukan apa apa! Jangan hiraukan aku! Aku hanya kelelahan, jadi sampai jumpa!" Eren kembali menenggelamkan wajahnya pada lengannya, dengan kedua tangannya yang mengepal erat. Reiner dan Bertlhodt kembali saling lempar pandang sebelum meninggalkan bangku Eren.

Kepalan tangan Eren semakin mengerat, higga akhirnya terlepas saat bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Eren mengangkat wajahnya dan mendapati isi kelas yang sudah penuh. Jam pertama hari ini adalah pelajaran Fisika yang diisi oleh Keith Shadis. 'Ck, sial! Aku jadi tak bisa tidur'

"Jadi jika masa benda 1/3 maka- Jaeger! Perhatikan pelajaran!"

Eren tersentak lalu menoleh kedepan dengan cepat. Sial, Keith Shadis sudah mendelik galak ke arahnya. Tadi dia melamun ya?. Suara geseran pintu membuat Eren mengalihkan pandangannya. Dan betapa terkejutnya Eren mendapati pria dengan tinggi agak dibawah rata-rata dengan surai eboni, menatap tajam seisi kelas

"Eren Jaeger" si raven berujar datar. Eren mendelik sejenak sambil menoleh ke kanan dan kiri, sebelum menatap Rivaille sambil menunjuk dirinya

"Eh? Aku?!" Rivaille menggangguk dan mengangkat tangannya, membuat gesture agar Eren mendekat. Eren berdiri dengan gugup, hati hati jika pria raven itu memukulnya karena kejadian semalam. 'Tapi.. Yang menciumku kan dia! Seharusnya aku yang marah!

"Ya-ya? Sir?" Eren menundukkan kepalanya, tak berani menatap iris abu-abu si raven. Hingga tarikan pada tangannya membuatnya menengadah dengan cepat.

"Itu alamat apartementku. Bawa pakaianmu dan sepulang sekolah datang ke sana bocah" jawab Rivaille cepat, seolah mengerti isi pikiran Eren. Eren menatap secaraik keras ditangannya, juga tangan Rivaille yang masih menggenggam erat tangannya. 'Sial' wajah Eren langsung memerah, entah kenapa ia kembali teringat pada kejadian semalam. Rivaille yang melihat itu menekuk ujung bibirnya keatas, tersenyum tipis pada si brunnet

"Wajahmu kenapa? Kau demam?" Rivaille meletakkan tangannya pada dahi Eren, membuat wajah Eren semakin memerah. Eren dengan pelan pelan langsung menyingkirkan tangan Rivaille pada dahinya

"Ti-tidak apa apa sir"

"Benarkan?" Rivaille langsung meraih tengkuk Eren dan menariknya mendekat, membuat Eren secara reflek memegang pintu kelasnya. Rivaille mempertemukan iris kelabunya dengan manik emerland si brunnet yang hanya berjarah beberapa jengkal dari miliknya. Melihat wajah Eren yang mulai panik Rivaille kembali menarik tengkuk Eren, menempelkan dahinya pada dahi si brunnet

"S-sir!" Eren mulai panik dan berusaha mendorong bahu Rivaille menjauh. Namun percuma, pria raven didepannya tak bergeming sedikitpun.

"Wajahmu pucat bocah. Istirahatlah yang benar" Rivaille menjauhkan wajah Eren dari wajahnya kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Eren yang masih membatu

"Disana ada nomer ponselku. Hubungi aku nanti" punggung Rivaille lalu menghilang disebuah tikungan beberapa meter didepan Eren. Eren masih menatap kearah sana dengan tatapan penuh arti. Entah kenapa perlakuan Rivaille tadi membuat jantungnya serasa berlari dengan cepat

"Jaeger! Duduk di kursimu!"

"Ah! I-iya sir!" Eren langsung berbalik dan dengan cepat sudah duduk kembali di bangkunya. Namun kali ini wajah Eren lebih cerah dari sebelumnya, dengan polesan berwarna pink masih menghiasi pipinya

"Sst! Eren!"

Eren langsung menoleh kebelakang dan mendapati Jean yang melempar pandangan jahil kearahnya

"Siapa dia eh? Pacarmu? Wah, ternyata kau belok ya" Jean menyeringai kearah Eren, membuat Eren menekuk alisnya dan menatap Jean tak suka

"Aku masih straight muka kuda! Kau yang belok! Kau suka pada Armin kan!?" Geram Eren dengan wajah memerah

"A-apa!?" Jean langsung berdiri dan mendelik kearah Eren, membuat semua orang didalam kelas langsung menoleh kearahnya. Eren juga ikut berdiri dan menunjuk Jean tepat didepan hidungnya

"Kau menyimpan foto Armin di handphonemu kan!? Jujur saja! Aku sudah tahu!" Eren menuding Jean dengan nada lantang. Membuat baik Jean maupun Armin langsung salah tingkah dengan wajah memerah.

"E-eh.. Je-jean? Fo-fotoku?" Armin melirik Jean sekilas kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya. Membuat Jean yang melihatnya juga ikut membuang muka dan menatap tajam Eren

"K-kau!?"

"Hah.. Sekarang terbukti kan siapa yang belok?" Eren melipat tangannya didepan dada dan memandang Jean dengan pandangan meremehkan, membuat Jean hanya mendecih karenanya

"Kirstchein! Jaeger! Dan Arlert! Pergi ke halaman dan lari sebanyak dua puluh kali!" Suara Keith membuat ketiga pemuda tadi langsung menoleh dengan terkejut. Sepertinya mereka lupa dengan kehadiran guru berkepala licin ini.

"A-Armin juga sir!? Jangan hukum dia sir! Biar aku yang menggantikannya!" Jean langsung melempar tatapan memelas kepada Keith, tapi tak digubris sedikitpun oleh yang bersangkutan

"Wah.. Lihat pangeran penyelamatmu Armin. Jean baik sekali" Connie menyikut lengan Armin sambil menaik turunkan alisnya. Tak lupa sebuah tatapan mesum dilayangkan olehnya

"Ti-Tidak apa Jean. Biar aku yang menjalani hukumanku" Armin tersenyum manis kearah Jean, membuat wajah Jean kembali memanas

"Tapi kau kan lemah dalam olahraga Armin! Kalau kau pingsan bagaimana?" Jean kembali menatap manik saphiere Armin dengan penuh harap

"Wah perhatian sekali" Christa tersenyum kearah Jean dan Armin

"Tinggal kau gendong saja Jean. Kan kau juga yang untung" giliran Ymir yang menimpali. Membuat suara gelak tawa langsung pecah memenuhi seisi kelas. Hingga suara gebrakan meja membuat semua orang didalam kelas itu diam seketika, hening.

"Sudah, semuanya tenang! Kirstchein!Jaeger!dan Arlert! Cepat menuju lapangan!"

"Yes sir!" Ketiga remaja itu langsung nimbrug meninggalkan kelas. Tak lupa Eren dan Jean yang berebut saling dorong ingin melewati pintu kelas duluan. Hingga Armin menarik tangan Jean, dan Jean bersedia mengalah. Erenpun langsung berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan 'calon pasangan' dibelakangnya

Eren langsung berlari mengelilingi lapangan yang besarnya hampir dua per tiga lapangan sepak bola itu-maklum sekolah terkenal. Dibelakangnya Jean yang berlari pelan disebelah Armin, menatap khawatir Armin yang terlihat sangat kelelahan

"Kau.. Hosh... Lelah? Armin?" Jean merangkul pundak Armin, membuat Armin agak terkejut dan menatap Jean dengan wajah memerah

"Ta-tak apa.. hosh.. Jean. Akuh.. Mhasih kuat.. Hah.. Hah" Armin mencoba menjawab dengan sekuat tenaga, sedangkan Jean masih menatap khawatir pemuda pirang disebelahnya. Hingga tanpa aba-aba Jean langsung berjongkok dan menggendong Armin dipunggungnya

"Je-Jean!" Armin reflek tersentak, hampir membuatnya terjungkal kebelakang jika saja Jean tidak menahan bokongnya. Tunggu! Bokongnya!?

"Diamlah Armin. Aku tak ingin meliatmu pingsan karena hukuman Keith Shadis. Sekarang lingkarkan tanganmu pada leherku" Jean berkata dengan keringat yang melayang secara slow motion dari rambutnya, membuat Armin terpana sejenak sebelum mengalungkan lehernya dengan malu-malu pada leher Jean

"Te-terimakasih Jean"

(Sementara dikelas Eren)

"Kyaaaaaa... Lihat itu! Jean menggendong Armin" suara teriakan fangirling menyerbak dikelas Eren. Maklum jam pelajaran Keith baru saja usai beberapa menit yang lalu

"Benarkah!? Kyaa.. Mereka manis sekali! Aku harus menyebarluaskan foto mereka kepada seisi sekolah!"

Suara jepretan kamera langsung memenuhi ruang kelas, dengan para fujo sejati yang siap siaga berdiri didepan jendela kaca dengan kamera handphone ditangan mereka. Siap mengabadikan moment manis yang terpampang didepannya. Saat itulah Eren mulai menyadari, perempuan itu mengerikan

(Kembali pada Eren)

"Cih.. Modus" Eren melirik sekilas kebelakang dan memutar matanya bosan. Dengan kaki yang masih sigap berlari, beserta keringat yang sudah membasahi baju seragamnya.

"Dua puluh! Yeay!" Eren langsung menjatuhkan tubuhnya dan merebahkan tubuhnya diatas lapangan yang beralaskan rumput. Disusul oleh Jean dan Armin yang langsung duduk didekatnya

"Sial! Hah..hah.. Keith itu sesuai dengan namanya! Sadis! Haaaaaahh" Jean menengadahkan kepalanya kelangit sambil menutup matanya, berusaha mengatur kembali nafasnya yang memburu.

"Ma-maaf Jean. Seharusnya aku tak usah kau gendong. Kan sekarang kau-"

"Sst!" Jean langsung menempelkan jari telunjuknya pada belahan bibir Armin, mencegahnya meneruskan kalimatnya dan sukses membuat wajah Armin menjadi sangat merah. 'Cih.. Berlebihan sekali si muka kuda itu!' Eren membatin sambil melempar pandangan bosan kearah dua 'calon pasangan' yang tengah bermesraan disana. Eren bahkan bisa melihat taman bunga imajiner mengelilingi dua remaja itu

Eren lalu berdiri, bersiap meninggalkan dua remaja yang sedang kasmaran itu. Berniat memberi waktu untuk kedua pemuda itu mengutarakan isi hati mereka masing masing

"E-Eren! Kau mau kemana?" Armin langsung menahan tangan Eren, membuat pemuda dengan wajah mirip kuda disebelahnya mendecih pelan. Eren yang melihat itu langsung menyeringai dan menggenggam tangan Armin, membuat Jean langsung mengerinyit tak suka

"Armin aku hanya ingin membeli minuman. Kau tunggu sebentar ya" Eren lalu berjalan menjauh dari dua pemuda yang tengah duduk bersebelahan disana. Sekilas Eren menoleh kebelakang dan tersenyum lebar setelahnya. Mengingat ia sudah meletakkan kameranya disana dengan keadaan kamera video stand by. Siap merekam adegan saling 'tembak menembak' Jean dan Armin

.

Eren duduk dikantin dengan sebotol air mineral ditangannya. Dipandanginya jam dinding pada dinding yang menunjukan pukul sembilan kurang lima belas menit. Sudah sepuluh menit Eren meninggalkan Jean dan Armin. Eren lalu berdiri, berniat kembali ketempat Jean dan Armin berada. Belum sampai ia beranjak Jean dan Armin langsung datang menghampirinya

"Eren. Handphonemu tertinggal" Armin menyondorkan handphonenya kepada Eren dan langsung diambil oleh si pemilik. Eren melirik sekilah layar handphonenya. 'Bagus! Tersimpan'

Eren lalu langsung pergi meninggalkan Jean dan Armin setelah mengucapkan terimakasih. Eren berjalan menuju halte bus sebelum ia teringat sesuatu kemudian mengeluarkan secarik kertas pemberian Rivaille kepadanya

"Hm.. Apartemennya tinggal lurus dari sini. Jika aku pulang berarti aku bolak-balik kesekolah. Ah, aku langsung saja kesana" Eren langsung berbalik arah dan berjalan menuju halte bus yang ada diseberang jalan.

.

Eren tiba disebuah bangunan apartement besar bertingkat 12. Eren langsung masuk kedalan lift dan menekan angka 12 disana, lantai kamar Rivaille berada. Tak lama pintu lift itu terbuka, Eren langsung keluar dan menatap pintu apartement satu persatu

"1036, 1037, ah! 1038!" Eren memekik girang lalu menekan bel apartement itu. Tak lama pintu itupun terbuka, menampilkan sesosok pria bersurai eboni yang menatapnya dengan jijik

"Bukankah sudah kubilang untuk pulang dulu bocah? Dan apa-apaan keringat itu" Rivaille menyilangkan tangannya didepan dada sambil menatap tajam remaja brunnet didepannya

"Ma-maaf sir. Jika aku pulang itu berarti aku membuang uangku. Jadi aku langsung saja kemari. Ada apa anda memanggilku kemari sir?" Eren bertanya sambil mengembungkan pipinya. Membuat Rivaille menaikkan 'sedikit' sebelah alisnya.

"Masuk" Rivaille langsung membuka lebar pintu apartementnya, mempersilahkan jalan untuk si brunnet masuk kedalam apartemennya. Eren langsung menyapukan pandangannya kesekeliling dengan wajah terkagum kagum. Tak pernah ia banyangkan kalau apartement Rivaille akan sangat bersih seperti ini

"Mandilah bocah, kau bau. Akan kusiapkan pakaian ganti" Rivaille menunjuk sebuah pintu yang Eren yakini sebagai kamar mandi. Eren lalu mengangguk dan berjalan menuju tempat itu. Ditanggalkannya pakaiannya satu persatu hingga hanya menyisakan celana boxer pendek yang menutupi pinggulnya kebawah, tanpa Eren sadari Rivaille sedari tadi sudah memandangi tubuhnya dari belakang. Eren lalu langsung masuk kedalam kamar mandi dan menutupnya pelan

Eren memandang takjub kamar mandi Rivaille yang ia yakini selalu digosok tiap hari sehingga salang cling dimata Eren. Ia jadi ingat kata-kata Armin 'Kamar mandi seseorang menunjukkan bagaimana kebersihan orang itu'. Dan Eren menarik kesimpulan bahwa Rivaille adalah orang sangat mencintai kebersihan. Pandangan Eren lalu jatuh pada kumpulan botol shampoo dan sabun yang tertata rapi diatas rak

"Mint... Fruit..." Eren menelusuri satu persatu botol itu dengan jari telunjuknya. Kemudian jarinya berhenti pada sebuah botol bertuliskan 'Magic Fruity'. Eren mengambilnya lalu tersenyum lebar, disusul dengan tangannya yang mulai memutar keran dan mengisi penuh bathub didepannya. Dimasukkannya isi botol tadi dan dalam waktu singkat bathub itu mulai dipenuhi busa.

"Keren" Eren langsung melucuti boxernya dan meninggalkannya begitu saja dilantai. Kemudian Eren mulai mencelupkan tubuhnya kedalam bathub. Membuat tubuhnya kini dibungkus oleh busa, dan kini Eren terlihat seperti kue yang diselimuti cream. Eren tengah asyik menikmati acara mandinya saar tiba-tiba suara pintu kamar mandi yang dibuka membuatnya menoleh dengan cepat, dan mata emerlandnya melebar saat mendapati sosok Rivaille yang menutup pintu dengan cepat dan berjalan kearahnya

"S-sir-hmp!"

Rivaille langsung membungkam mulut Eren dan memberinya pandangan yang menyuruh Eren untuk menutup mulutnya. Eren mengangguk gugup lalu Rivaille melepas tangannya pada mulut si brunnet

"Rivaille! Kau didalam?"

Eren menoleh kearah pintu kamar mandi setelah mendengar teriakan dari dalam apartement. Eren lalu melirik kearah Rivaille yang hanya mendecih, terlihat dari raut wajahnya kalau si raven tengah kesal saat ini

"S-sir? Siapa itu?" Eren berbisik pada telinga Rivaille, membuat Rivaille menoleh dan langsung menatap tajam Eren. Eren langsung kicep dan diam seketika

"Bocah, mendesahlah" Rivaille terus menatap Eren yang kini tengah mendelik mendengar ucapan yang lebih tua

"M-mendesah!?-Hmp!" Kembali Rivaille membungkam mulut Eren dengan tangannya

"Cepat, lakukan bocah" Perintah Rivaille, membuat Eren langsung meneguk ludah dengan susah payah

"Ah.. Ohh.. Haaa" Eren mulai mendesah, tapi langsung terhenti ketika Rivaille memandangnya sambil mengerinyitkan alis

"Kau sebut itu dengan mendesah bocah?"

Eren langsung mendelik dengan wajah memerah kemudian menunjuk Rivaille dengan jari telunjuknya

"S-saya tidak pernah melakukannya sir! Untuk a-apa anda menyuruhku mendesah?!" Eren berkata dengan setengah berbisik. Rivaille tak menjawab tapi malah mendekat kearah Eren dan meraih tengkuknya

"Hoo.. Kalau begitu kau perlu diajari rupanya bocah" Rivaille berbisik tepat didepan telinga Eren, membuat Eren tersentak dan berusaha mendorong bahu Rivaille. Rivaille lalu menjilat telinga Eren, dan sukses membuat Eren tersentak dan menggelijang geli. Tanpa sadar gerakannya itu telah membangunkan predator yang tadinya tengah tidur

"S-sir!" Eren terus mencoba mendorong bahu Rivaille, tapi selalu tak berhasil. Rivaille kini mulai menggigit pelan kuping kanan Eren, tanpa sadar telah membuat desahan lolos dari bibir si brunnet. Eren tersentak lalu menutup mulutnya dengan tangannya. Diliriknya Rivaille yang kini tengah menyeringai kearahnya

"Hoo.. Suaramu tidak buruk juga" Rivaille mulai menurunkan ciumannya pada rahang bawah Eren. Menjilati dan menghisapnya sampai di dagu Eren. Rivaille lalu mendekati bibir Eren dan menghentikan bibirnya tepat satu senti dari bibir Eren. Membuat Eren menggelijang saat nafas Rivaille menerpa bibirnya

"Naa, bocah. Aku tak akan berhenti sampai kau mendesah. Kau mengerti?"

"S-sir! Hmp!"

Rivaille langsung mencium Eren, membungkam kata-kata si brunnet dengan bibirnya. Hisap, jilat, itulah yang dirasakan oleh Eren saat bibirnya bertemu dengan si raven. Perlahan Rivaille melepaskan ciumannya dan menatap wajah Eren yang sudah sangat memerah

"Diam dan nikmati saja, kau mengerti Eren?"

Eren mengangguk pelan, membuat Rivaille menyeringai puas kemudian menjilat bibir bawah Eren. Membuat Eren membuka mulutnya, kemudian Rivaille langsung melesakkan lidahnya kedalam rongga mulut Eren.

"Ahnn.. Nggah.. S-sir" Eren merasakan lidah Rivaille menari nari dalam mulutnya. Menarik lidahnya untuk ikut bergumul didalam mulut si brunnet. Rivaille lalu menurunkan ciumannya menuju leher jenjang si brunnet. Rivaille berhenti di perpotongan kanan leher Eren lalu menggigit dan menghisapnya dengan kuat

"S-sir!" Eren hampir berteriak merasakan lidah hangat Rivaille menyapu tiap jenggal lehernya. Eren memejamkan matanya erat ketika Rivaille tak henti hentinya menginggalkan kissmark pada lehernya. Hingga suara air yang jatuh dati bathub membuat mata Eren terbuka dengan cepat. Eren langsung mendelik melihat Rivaille yang masuk ke dalam bathub dan sekarang berada diatas tubuhnya. Masih setia menjilati lehernya.

"Si-sir!?"

"Eren.." Rivaille membisikkan nama Eren tepat ditelinga si brunnet. Membuat Eren tertegun sejenak. Rivaille memanggil nama kecilnya, dengan sangat lembut

"S-sir! Ahn... Ja-jangan. Akh..." Eren langsung tersentak ketika merasakan tangan Rivaille mulai menyusuri dadanya, dengan sengaja menggesekkan telapak tangannya pada tonjolan di dada si brunnet. Membuat pemuda dibawahnya mulai menggeliat dan mendesah tak karuan.

Rivaille lalu memindahkan tangannya menuju bagian samping tubuh Eren. Menaik turunkan telapak tangannya pada pinggang ramping Eren. Membuat pemuda brunnet dibawahnya semakin menggeliat karena geli

"S-sir.. Haha.. Geli sir.."

Rivaille terlihat puas dengan reaksi Eren. Kemudian usapan tangan Rivaille mulai menyusuri perut rata Eren. Merasakan otot otot yang menonjol disana, meskipun tak terbentuk secara sempurna. Eren langsung tersentak ketika merasakan tangan Rivaille memegang 'miliknya', membuat reflek menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan Rivaille yang juga tengah menggenggam miliknya

"Sir! Jangan! Ahn.. Ku-kumohon" Eren melempar tatapan memelas kepada Rivaille, tapi Rivaille langsung membungkam mulut Eren dengan ciumannya. Sedangkan tangan Rivaille mulai mengocok 'milik' Eren dengan cepat dibawah sana

"Ja-mph..ngan.. A-aku.. Ngghn.." Eren tak bisa mengeluarkan kata-katanya dengan benar. Entah kenapa dia merasakan pikirannya dipenuhi kabut saat ini. Yang dia rasakan saat ini hanyalah sentuhan sentuhan Rivaille yang entah kenapa membuatnya menginginkan lebih

"S-sir! Nghah.. Ada yang-hmp.! Seperti.. Hah, ingin keluar! Nggeh" Eren mulai menggerakkan kakinya dengan gelisah. Dia seperti merasakan sesuatu yang panas seperti akan meledak dari dalam dirinya. Rivaille menyeringai kemudian mencium Eren lagi.

"Keluarkan, sambil panggil namaku Eren.." Ruvaille mempercepat gerakan memompanya pada 'milik' Eren, membuat Eren terkejut dan langsung menggerak gerakkan seluruh badannya tak nyaman

"S-sir.. Ahnn.. Aku-mph.. Sir.. Rivaille!" Eren berteriak dengan lantang sambil mengumandangkan nama Rivaille. Membuat Rivaille tersenyum puas lalu mengecup sekali lagi bibir Eren sebelum berdiri dan menanggalkan pakaiannya satu per satu. Hingga tanpa sadari sosok yang sedang berdiri didepan pintu kamar mandi kini tengah menahan panas yang menjalar diwajahnya, sebelum memilih pergi meninggalkan apartement Rivaille.

"S-sir! An-anda mau apa?!" Eren mulai panik saat melihat Rivaille menanggalkan pakaiannya dan langsung ikut masuk kedalam bathub

"Bajuku basah bocah. Dan kurasa mandi bukan pilihan yang buruk" Rivaille menjawab sambil meraih sebuah botol dan menyiramkan isinya diatas kepala kemudian menggosoknya perlahan

"Ta-tapi anda kan bisa mandi setelah saya sir" Eren memalingkan wajahnya, berusaha menutupi warna merah pada wajahnya dari pandangan si raven

Rivaille menoleh sekilas lalu menarik tubuh Eren dan memposisikan Eren duduk membelakanginya

"S-sir!"

"Diamlah bocah, kau perlu mandi yang bersih" Rivaille lalu menuangkan isi botol yang tadi keatas kepala Eren dan mulai menggosok kepala Eren dengan terampil. Membuat Eren kembali merona dan berusaha menghentikan tangan Rivaille

"S-sir. Saya bisa sendiri" Eren berusaha menghentikan tangan Rivaille

"Diamlah bocah"

"Ta-tapi sir-"

"Jika kau ingin mandi sendiri, maka kau harus menciuku dulu" jawab Rivaille cepat. Eren langsung terdiam dambil merengut. 'Modus' batin Eren. Akhirnya Erenpun pasrah dijadikan anak kecil dan dimandikan oleh Rivaille. Setelah mengeramasi Eren Rivaille langsung berdiri dan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Eren menoleh sekilas dengan rona merah masih diwajahnya, kemudian melanjutkan mandinya.

Eren lalu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dada hingga setengah lututnya. Dan yang didapati oleh Eren adalah Rivaille yang sudah berpakaian rapi. Dengan celana panjang hitam dan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku. Eren menelan ludah, kemudian berjalan mendekat. Rivaille yang mendengar suara langkah kaki berbalik dan mendapati Eren disana. Rivaille lalu mendengus kecil kearah Eren

"Hei, bocah. Aku jadi ragu kau itu laki-laki atau perempuan"

Eren hanya mengembungkan pipinya dan tak menghiraukan ucapan Rivaille. Matanya tertuju pada setelan baju ganti yang terlipat rapi diatas kasur. Diambilnya baju itu dan dikenakannya sambil memunggungi Rivaille. Tak menyadari tatapan Rivaille yang terus tertuju pada bokongnya yang bergoyang goyang

Eren lalu memandangi dirinya dari bawah. Celana panjang yang entah kenapa sangat longgar dikenakannya, apa mungkin Rivaille melipat bagian bawahnya saat mengenakannya?. Lalu baju kaos lengan panjang yang kebesaran pada tubuh Eren. Sial, walaupun tubuh Rivaille pendek tapi ternyata dia lebih berisi daripada Eren.

Eren lalu melirik Rivaille yang tengah memakai jam tangannya dan mengambil kunci mobil. Membuat Eren mengerinyit dan beranjak mendekati si raven

"Anda mau kemana sir?" Tanyanya pelan

"Aku ada urusan sebentar. Jadi Jaeger, bersihkan tempat ini" Rivaille menjawab tanpa memandang Eren. Membuat Eren menekuk alisnya kearah Rivaille.

"Kemana? Dengan siapa?"

Suara pintu mengalihkan perhatian Eren. Dipandanginya Rivaille yang terlihat tak terlalu menggubris. Eren lalu beranjak menuju pintu apartement dan membukakannya. Dan betapa terkejutnya Eren mendapati gadis berambut merah berdiri disana

"Ma..Magnolia-san!"

"Wah.. Hai Eren! Rivaille ada?" Tanya Isabel ceria. Eren masih terdiam saat Rivaille melewatinya dan berdiri disebelah Isabel

"Aku akan pergi sebentar bocah. Kau, bersihkan tempat ini"

Dan suara bedebum pintu menutup kalimat Rivaille tadi. Eren masih memandang tak percaya kearah pintu apartement, sebelum membalikkan badan dan berjalan dengan wajah merengut. Diambilnya sapu dan kemoceng dan Eren mulai menyapu apartement Rivaille. Walau ia ragu akan menemukan debu.

"Sial! Apa-apaan dia itu. Dia menyuruhku menari hanya untuk dijadikan pembantu?! Dasar! Kenapa dia selalu seenaknya saja! Tadi dia menyuruhku apa? Mendesah? Dia gila! Cih kenapa aku malah mengingat itu !" Eren memukul pelan dahinya lalu menatap tajam sebuah foto Rivaille diatas meja

"Kau! Maumu apa hah?! Kau menyuruhku kemari, mempermainkanku di kamar mandi, sekarang kau pergi bersama seorang wanita !? Oh bagus sekali Tuan Rivaille! Dasar bodoh!" Eren meraih foto itu dan memelototinya tepat didepan wajahnya. Eren memaki maki foto itu sebelum meletakkannya kembali dan mulai membersihkan apartement lagi.

.

Rivaille dan Isabel sampai di Cafe Magnolia dan mendapati Farlan berada didepan meja Bar bersama beberapa gelas kaca berisi cairan berwarna didepannya.

"Ada apa kau memanggilku kemari?" Rivaille duduk depan Farlan dan merebut gelas dengan warna serupa minuman yang dibuatkan Eren beberapa kemarin

"Hei.. Aku hanya ingin membuat reunian untuk kita. Apa kau tidak suka?" Farlan memasang wajah cemberut yang dibuat buat

"Cih, berusahalah lebih keras untuk memberikan alasan tak masuk akal untukku"

"Hahaha.. Baik baik, aku hanya ingin menyinggung soal Eren" Farlan meletakkan gelas ditangannya dan menatap Rivaille dengan serius

"Aku harap kau tidak mempermainkannya Rivaille. Dia anak yang masih sangat polos dan manis" Isabel menambahkan

"Aku tahu. Jika kalian hanya ingin mengatakan itu, kalian hanya membuang waktuku" Rivaille lalu berjalan meninggalkan Farlan dan Isabel

"Jaga Erek-ku ya Rivaille aniki~" Isabel berujar dengan lantang sambil melambaikan tangannya, yang hanya dibalas decihan oleh Rivaille

Rivaille menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus angin jalanan Maria dan akhirnya berhenti di parkiran apartementnya. Rivaille keluar dari mobil dan beranjak menuju apartementnya.

Dibukanya pintu apartemennya. Tak ada tanda tanda keberadaan Eren. Rivaille lalu menuju tempat tidurnya dan mendapati sesosok pemuda tengah meringkuk diatas ranjangnya.

"Cih, berani sekali dia" Rivaille lalu melepas sepatunya dan membuka tiga kancing teratas kemejanya, sebelum berbaring disamping Eren dan menutup matanya. Namun matanya kembali terbuka ketika merasakan tangan Eren mendekap Erat tubuhnya. Rivaille menoleh dan tersenyum kecil melihat Eren tidur. 'Seperti anak kecil'. Eren semakin mendekatkan tubuhnya pada Rivaille dan menyenderkan kepalanya pada dada Rivaille. Membuat Rivaille dapat menyesap aroma shampoo dari rambut si brunnet. Rivaille membelai pelan rambut Eren lalu memeluk baluk si brunnet

"Selamat malam, Eren"

.

.

A/N:

Hai minna... Happy New Year all:)

Terimakasih untuk yang sudah mendukung dan bersedia meninggalkan riview, fav, atau follow :)

Dan untuk semua pembaca yang sudah berkenan membaca cerita saya, terimakasih ^^