A/N : Maaf, sebenarnya Lucy muncul di chapter 3, ini terjadi karena kepikunan ane, maaf sekali lagi
Waktu berjalan dengan cepat rupanya, sudah beberapa minggu Natsu dirawat di rumah sakit, dan sudah berkali-kali pula ia menjalani fisioterapi, berkali-kali pula ia gagal. Setiap kali tangan kanannya digerakkan, Natsu pasti merasa kesakitan seakan tangannya "berhenti untuk menerima perintah" darinya. Erza-sensei selalu berada disampingnya, memberi semangat hingga Natsu bisa bertahan dari rasa sakit.
"Kamu pasti bisa, ingatlah tentang mimpi-mimpimu, kesenanganmu saat melukis, ingatlah semua itu!"
Begitulah yang selalu dikatakan oleh seorang Erza-sensei, berulang kali tanpa henti. Tetapi ada kalanya ia merasa ragu, melihat Natsu yang kesulitan benar-benar membuat kesempatan semakin menipis, dan mungkin tanpa disadari Natsu perlahan-lahan tau apakah tangannya bisa berfungsi normal kembali atau tidak.
Hari Senin, siang hari di rumah sakit…
"Aku ingin pulang ke rumah" pinta Natsu secara tiba-tiba
"Tapi kenapa?"
"Hanya ingin berganti suasana, aku bosan berada di sini. Kumohon, aku ingin pulang, dengan begitu ayah dan ibu tidak akan curiga"
"Ba-baiklah, ibu akan urus administrasinya. Memang orangtua-mu kapan akan kembali ke Magnolia?"
"Entah, sudah beberapa minggu ini mereka tidak memberi kabar"
"Tenang saja, mereka akan pulang dengan selamat"
Natsu hanya mengiyakan perkataan guru lesnya itu, selesai mengurus administrasi keluar rumah sakit, Erza-sensei mengantar Natsu pulang ke rumahnya, begitu sepi karena tidak ada siapapun. Rumah besar yang kesepian? Bisa dikatakan begitu.
"Ibu akan menginap di sini, sekalian untuk menemanimu melakukan fisioterapi"
"Apa tidak apa-apa? Aku tidak ingin merepotkan sensei lebih dari ini"
"Tenang saja, lagipula ibu tinggal sendirian di apartemen, sama seperti rumah besar ini, ibu kesepian…"
Itulah keputusan yang dibuat oleh Erza-sensei, memutuskan untuk menemani Natsu hingga kedua orangtuanya pulang. Hanya berdua di rumah sebesar ini, apa tidak apa-apa? Selesai berbenah, Erza-sensei menyiapkan pena dan secarik kertas, ini semua demi fisioterapi Natsu.
"Sekarang menulislah di atas kertas ini, tulis apa saja yang kamu inginkan"
"Ba….baiklah" ucap Natsu agak ragu-ragu
Memegang bolpoin pun Natsu nampak kesulitan, seakan-akan ukuran bolpoin itu lebih besar dari dirinya. Memang ia berhasil memegangnya di beberapa menit pertama, tetapi ketika hendak menulis pena itu jatuh begitu saja, gagal menulis sepatah kata pun.
"Aku akan mencobanya sekali lagi"
Begitu terus hingga Erza-sensei menampilkan raut wajah yang terkesan takut, ngeri dan tidak tega. Wajahnya terlihat begitu kesakitan, di sekitar wajahnya ada begitu banyak keringat bercucuran, sudah saatnya Natsu berhenti.
"Sudah, jangan diteruskan" perintah Erza tegas
"Tapi…."
"Tidak ada tapi-tapian Natsu, apa kamu ingin membantah perintah?"
"Jangan mengasihani aku! Aku tau sensei khawatir melihatku seperti ini, tetapi aku bisa, aku masih bisa melakukannya. Jika begini terus, bagaimana bisa aku melukis nanti?! Bagaimana jika ayah dan ibu bertanya tentang tangan kananku, apa yang harus kukatakan?!" ucap Natsu penuh amarah
Baru pertama kalinya Natsu membantah perintah gurunya sendiri, ia tetap melanjutkan fisioterapi tersebut, tetapi secara paksa Erza memegang tangan Natsu keras, memaksanya untuk berhenti menulis. Dia tidak bisa melawan ataupun melepaskan pegangan tersebut, tangannya serasa tidak bertenaga. Perlahan-lahan Erza melepaskannya, terdiam sejenak.
"Maaf membantah perintahmu, saya akan berhenti"
"Begini baru bagus, kita akan melanjutkannya nanti malam"
Mereka berdua sedang berjalan-jalan di sekitar lorong rumah, sunyi tanpa kebisingan yang mengusik. Mendadak Natsu berhenti berjalan, ia memperhatikan sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih, untuk sesaat ia sempat tersenyum sambil memandanginya selama beberapa saat.
"Di sinilah biasanya aku melukis"
"Kamu ingin kembali ke ruangan ini bukan?"
"Tentu saja! Maka dari itu aku akan berusaha"
Semangat yang bagus, puji Erza dalam hati. Untuk sesaat pula ia sempat tersenyum pilu, memang sekarang Natsu nampak bersemangat, tetapi apa semangat itu akan bertahan lama? Jika cepat menyerah itu bukan Natsu namanya.
Malam hari pukul 19.00 di ruang makan….
PRAANNGGG….!
Terdengar bunyi nyaring dari ruang makan, seperti ada benda yang pecah, merasa khawatir Erza langsung berlari menghampiri Natsu. Di lantai berserakan kaca pecah, pasti akibat perbuatan Natsu, memangnya siapa lagi kalau bukan dia.
"Ada apa?"
"I…itu, aku ingin minum, tetapi saat kupegang gelasnya jatuh dan pecah"
"Apa tanganmu terluka? Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Erza bertubi-tubi
"Memangnya kenapa jika terluka?" balik Natsu bertanya dengan nada dingin
Nada bicaranya…apa Natsu pernah berbicara seperti ini? Mendadak hati Erza diliputi rasa khawatir, Natsu tidak pernah seperti ini sebelumnya dan sorot matanya belum pernah semarah itu.
"Tangan kanan ini sudah tidak berguna, dia tidak akan pernah bisa kembali normal!"
"Bisa, pasti bisa. Bukankah kamu juga meyakini hal yang sama dengan ibu?!"
"Sekarang pikiranku berubah, aku tidak bisa mempercayai perkataan sensei!"
"Tapi kenapa, apa kamu merasa saya berbohong padamu?!" bentak Erza semakin keras
"Ya, benar sekali, sensei pasti sengaja mengatakan hal itu supaya aku tidak putus asa, supaya aku yakin jika tanganku bisa kembali normal"
"Hasilnya tidak secepat itu, kamu harus melakukannya berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun!"
"Tidak, tidak akan pernah bisa, aku tau jika tanganku tidak akan bisa digerakkan kembali"
"Memangnya kamu tau darimana? Beritau ibu!"
"Dua hari lalu…"
Flashback…
Aku sedang berjalan-jalan di lorong rumah sakit, kupikir itu lebih baik dibandingkan mengurung diri di kamar, lagipula pasti sensei masih lama datangnya. Saat melewati belokan, tanpa sengaja aku mendengar ada dua suster sedang berbicara tentang pasien di kamar nomor 677, sudah jelas jika mereka membicarakan tentang diriku, merasa penasaran aku pun menguping.
"Kasihan sekali anak muda itu" ucap suster pertama memulai pembicaraan
"Benar, padahal dengar-dengar dia itu seorang pelukis ternama"
"Patah tangannya terlalu parah, padahal jika tidak dengan melakukan fisioterapi beberapa bulan pasti bisa digerakkan kembali"
"Aku tidak tega memberitau hal ini padanya, begitu juga dengan dokter dan wanita itu" balas suster kedua nampak sedih
"Semoga saja terjadi keajaiban"
End flashback…
"Jadi kamu sudah tau semuanya?"
"Ya, aku sudah mengetahui apa yang sensei sembunyikan dariku"
Hujan turun dengan begitu derasnya, menimbulkan bunyi yang terdengar begitu khas. Erza menyandarkan punggungnya di sofa, merasa lelah terus-menerus berdiri. Natsu hanya memandangi rintikan hujan dari balik jendela, terlihat murung tanpa tersenyum sedikitpun.
"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Erza lagi
"Aku tidak tau, pupus sudah semua impianku, aku tidak bisa menjadi pelukis lagi"
"Kamu bisa, gunakanlah tangan kirimu, meski akan terasa sulit pada awalnya"
"Tidak enak rasanya menggunakan tangan kiri untuk melukis, mungkin aku harus menyerah…"
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan oleh Erza, mulutnya terkunci rapat, ikut merasakan kepedihan yang dialami Natsu. Kalender menunjukkan tanggal 24, seminggu lagi Natsu sudah harus masuk sekolah dan Erza akan berhenti menjadi guru lesnya.
"Seminggu lagi kamu akan masuk sekolah, sudah dipersiapkan semuanya?"
"Sudah" jawab Natsu singkat tanpa mengalihkan padangannya dari jendela
"Tak lama lagi ibu akan berhenti menjadi guru lesmu"
"Aku tau"
Suasana menjadi hening lagi seketika, Erza memutuskan untuk menutup mulut, Natsu pasti sedang tidak dalam keadaan ingin mengobrol.
Keesokan harinya…
Wajah Natsu tak lagi secerah matahari, tidak ada lagi senyum yang terlihat dimukanya, semua sirna begitu saja dalam sehari. Melihatnya hanya membuat Erza semakin sedih, Natsu tidak akan pernah bisa menjadi "Natsu" yang dulu.
"Mungkin kamu tidak tertarik, tetapi ibu merasa harus memberitaumu"
"Langsung saja"
"Ada festival musim panas malam nanti, apa kamu mau kesana?"
"Baiklah, aku akan kesana sendiri"
"Tidak mau ditemani?"
"Tidak"
Jawaban yang keluar dari mulutnya terdengar tidak ikhlas bagi Erza, pasti karena muridnya yang bodoh itu merasa tidak enak hati untuk menolak. Ya setidaknya dicoba saja dahulu, mungkin bisa merubah suasana hati Natsu menjadi lebih baik, akan tetapi Erza berharap lebih dari itu.
"Aku berharap jika Natsu pergi ke festival tersebut, hidupnya akan berubah"
Terlalu berlebihan memang, tetapi tidak ada salahnya berharap, karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Kalau pun harapan itu tidak terkabul, Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik bagi Natsu.
Malamnya di festival…
Natsu POV
Entah mengapa untuk pertama kalinya aku membenci keramaian, padahal biasanya aku sangat suka suasana ramai festival. Harum jagung bakar, manisnya permen apel, hadiah-hadiah yang terlihat menarik pun gagal membuatku senang. Setiap kali datang ke festival musim panas, aku selalu membeli permen apel, ataupun mencoba beberapa permainan, tetapi kemana hilangnya semua perasaan itu?
BRRAKK..!
"Ittai…" ucap seorang wanita yang tidak sengaja menabrakku
"Ma..maaf, sampai jumpa" ujarnya berlalu
Ceroboh sekali, apa yang dia pikirkan sampai melamun begitu? Ya itu bukan urusanku, yang penting dia sudah minta maaf. Merasa bosan aku memutuskan untuk pulang ke rumah, padahal aku baru beberapa menit berada di sana, daripada tersesat lebih baik pulang dan tidur. Hari sudah larut malam, bintang menyinari langit kala itu, mataku menatap kosong ke atas, bintang yang biasanya kukagumi kini sudah tidak, yang terpenting liburan tinggal sebentar lagi…
Bersambung…
