.

What is Happiness?

A Naruhina fict by Uzumaki Shizuka

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto (udah itu aja).

Rate: T+

Warning: Diksi standar; latar tidak terlalu dideskripsikan; mature theme.

Here it is Chapter 2. Please, enjoy :)

.

Penjelasan usia

Naruto: 21 tahun

Hinata: 17 tahun

.

.

Chapter 2

Matahari di ufuk timur mulai meninggi. Mengawali hari dengan menjalankan salah satu tugasnya yaitu memancarkan kehangatan ke separuh bumi. Termasuk ke sebuah ruangan kediaman mewah milik Namikaze Minato –Daimyou Konoha– yang pintu terasnya sedang dibiarkan terbuka.

Kehangatan menyelubungi sepetak ruangan dominan berwarna cokelat yang tampak minimalis dengan hanya berisi sebuah meja makan kayu besar berkaki rendah di atas tataminya itu. Kalau saja shouji bermotif bangau yang berkualitas dan meja dari kayu asli itu tak digunakan mungkin tak terasa kesan mewahnya.

Pintu teras yang dibiarkan terbuka menampakkan dengan jelas pemandangan halaman khas akhir musim dingin. Tampak pula sekawanan burung kecil yang mampir di ujung sisi teras dengan bebas tanpa ancaman. Memanjakan telinga para penghuni dengan bunyi cicitannya yang merdu. Benar-benar suasana pagi yang sangat disyukuri oleh dua orang penghuni ruangan itu. Sayangnya, anugerah dari Kamisama itu tak menyentuh perasaan seorangnya lagi.

Hinata.. Kenapa dia? Apa mungkin sesuatu yang buruk terjadi? Ataukah dia terlalu shock akibat kejadian semalam? Begitulah kira-kira isi kepala Naruto yang larut dalam pemikirannya. Itu dimulai sejak matanya tak menemukan kehadiran Hinata pada ritual pagi keluarganya itu. Mau tidak mau berbagai pemikiran tentang Hinata pun datang di benaknya silih berganti. Minato yang menyadari perbedaan Naruto pagi itu hanya menatapnya heran.

Wajar jika Naruto mengkhawatirkan gadis berkulit bak porselen itu karena "hal itu" adalah yang pertama baginya. Ia tahu itu terlebih di usianya yang begitu muda ia mungkin tidak siap. Dan jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pastilah itu akibat perbuatannya, walaupun Naruto sendiri tidak tahu persisnya seperti apa yang jelas ia sangat khawatir.

Beruntung Kushina, okaa-san-nya juga menyadari ketidakhadiran gadis yang sejak lima tahun lalu mendiami kediamannya itu dan menanyakan apa yang merongrong pikiran Naruto dari tadi kepada Ayame, rekan Hinata.

Tidak enak badan, setidaknya itulah informasi yang mereka peroleh dari Ayame yang hanya dibalas anggukan dua kali oleh Kushina. Rasa bersalah menyelubungi perasan Naruto yang terekpresi melalui helaan napasnya. Tidak mungkin hanya itu kan, pikir sang pemilik rambut spike pirang. Entah kenapa ia merasa yakin keadaan gadis yang memberikan pengalaman baru kepadanya itu lebih dari sekadar tidak enak badan. Dan Naruto benar-benar tidak menyadari tatapan Minato dan Kushina yang bertemu sebelum beralih memandang heran putra mereka.

Ruangan itu mendadak sunyi sebelum Kushina kembali berucap, "Jadi begitu. Aneh sekali. Padahal selama di sini aku jarang sekali melihat gadis itu sakit. Mungkin sebaiknya setelah ini aku mengeceknya langsung ke kamarnya."

"JANGAN!" Percaya lah itu adalah suara pertama Naruto di pagi itu. Suara dengan interval tinggi yang terucap penuh spontanitas. Jelas saja mengagetkan tiga orang yang ada di sana dan membuat semua perhatian teralih padanya.

"Ah, i-i-itu.. Maksudku.. Biar aku sendiri yang langsung melihat kondisinya. Lagipula, sudah tugasku untuk memastikan kesejahteraan semua pekerja di rumah ini, kan?" jelas Naruto dengan ekspresi seserius yang ia bisa. Minato dan Kushina hanya tersenyum saling memandang tanpa menanggapi. Entah apa yang sedang terjadi dengan anak ini. Tapi keduanya lega karena sudah mendapati Naruto yang seperti biasanya, sangat responsif terhadap keadaan pekerjanya. Tentang kegagapan anak itu, entah kenapa mereka tak tertarik menanggapinya.

Naruto sendiri merasa lega karena salah satu ketakutannya tak akan terjadi. Tentu saja ia takut. Takut seandainya kaa-san-nya yang cerewet itu menemukan hal yang mencurigakan dan memaksa Hinata menceritakan apa yang terjadi. Pastilah wanita yang jika sudah marah akan menjadi monster rubah berwarna merah itu tidak akan membiarkan dirinya lolos dari hukuman yang mengerikan. Hii.. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri.

"Ne, kaa-san dan tou-san tenang saja. Akan kupastikan besok dia sudah kembali seperti biasa," kata Naruto kepada tou-san dan kaa-san-nya yang sudah kembali menyantap sarapan mereka. Kali ini diakhiri dengan senyuman lebar khasnya.

"Heh? Yang benar saja, kau bermaksud memaksa Hinata kembali bekerja besok, begitu." Ucapan Kushina menggagalkan sesuap nasi yang hampir saja beralih dari sumpit ke mulut Naruto. "Yang harusnya kaulakukan itu memberinya pengobatan dan membiarkan penyembuhannya bekerja, Naruto. Sampai dia sembuh baru diizinkan bekerja lagi." Lagi-lagi suara tinggi diperdengarkan wanita itu di pagi hari, yah memangnya hari mana yang tidak.

"Kaa-san..." Belum sempat Naruto mengelak tuduhan kaa-san-nya Kushina kembali berujar. "Ah sudah lah, lain kali kau harus lebih banyak berpikir sebelum berkata-kata, Naruto."

Sebenarnya nada pengucapan Kushina sama sekali tidak terdengar serius. Ia sendiri mengerti maksud sebenarnya Naruto baik, yaitu untuk memastikan penyembuhan Hinata berjalan sebaik mungkin. Tapi bagaimana pun isi ucapannya itu benar-benar telak mengenai Naruto. Mau tidak mau Kushina terkekeh juga berhasil memunculkan ekspresi kesal di wajah putranya. Sedangkan Minato hanya setia menjadi pengamat, pendengar, dan terkadang tertawa ringan. Ayame? Jangan ditanya. Ia selalu melaksanakan tugasnya –stand by di ruang makan dan tanggap terhadap keperluan majikannya– sampai selesai dengan baik.

.

-What Is Happiness?-

.

Sementara itu, seorang gadis yang baru saja berubah status menjadi wanita menyongsong paginya dengan perasaan tak menentu. Kadang malu, takut, gundah, gelisah, juga merasa bersalah yang membuatnya bimbang untuk keluar kamar atau tidak. Di satu sisi ia harus tapi di sisi lain ia belum siap terutama jika harus menampakkan diri di depan Naruto.

Jangankan di depan Naruto, di depan Ayame yang menanyakan kondisinya saja dirinya sudah tidak memiliki muka. Hanya karena Ayame belum mengetahui saja ia masih bisa bersikap ramah, tapi seandainya ia tahu apa yang ia lakukan bersama tuan mudanya semalam mungkin saja bukan hanya Ayame melainkan semua orang akan memandang jijik kepadanya.

T-Tentu saja, pelayan macam apa yang bisa-bisanya tidur bersama tuannya. Ya, itulah tanggapan Hinata tentang kejadian tak terduga yang baru dialaminya kemarin malam. Berkali-kali ia rutuki dirinya yang bisa-bisanya berbuat kesalahan hingga menyebabkan kejadian sefatal itu terjadi. Selain membuat Naruto susah ia juga mengalami perlakuan yang menurutnya hanya boleh diterima oleh orang yang dicintai tuannya itu. Jika saja aku lebih berhati-hati.., andai Hinata.

Tapi mau bagaimana lagi, penyesalan sebesar apa pun tetap saja tak bisa mengubah fakta bahwa yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebagaimana ia juga tidak memiliki daya menghalau memori kejadian semalam yang masih saja membayanginya.

Gadis yang tengah bergelung itu tidak bisa berkutik saat memori kejadian semalam lagi-lagi muncul, memaksa masuk ke dalam benaknya dan memberikan efek seperti ratusan kupu-kupu sedang berterbangan di dalam perutnya. Dan setiap kali teringat hal itu tentu saja mukanya telah berubah menjadi merah menyerupai kepiting rebus.

Harus ia akui Naruto sangat menakjubkan, perlakuan yang ia peroleh membuat tubuhnya seperti melayang ke awang-awang. Walau hal itu sangat sakit awalnya dan menyisakan sakit di kewanitaannya yang masih ia rasakan sampai sekarang, tapi semua itu terbayar dengan apa yang ia rasakan.

Aaargh.. Bodoh! Bodoh! Bodoh! rutuknya sambil meremas frustasi rambut birunya yang tak berdosa, hentikan pikiran-pikiran menjijikan seperti itu! Ya, memang benar. Bukan kah daripada memikirkan hal itu lebih baik memikirkan bagaimana ia ke depannya.

Ia juga harus berjuang melawan ketakutan yang berkali-kali merongrong pikirannya, menyerang batinnya, dan menurunkan suasana hatinya hingga ke level tiga sekaligus. Baik ketakutan akan hal yang menimpa dirinya maupun menimpa Naruto nantinya.

Hei yang benar saja, tidak mungkin ia terus-terusan mengikuti rasa takutnya dan bergelung di antara futon dan selimut seperti itu kan. Malu rasanya pada matahari yang telah meninggi. Cepat atau lambat ia harus menerima kenyataan dan menghadapinya. Tapi, harus memulai dari mana? Selama apa pun ia berpikir rasanya belum ada sejumput ide pun mau menyambanginya. Pikirannya buntu tak tahu harus berbuat apa. Hah.. Mungkin benar kata orang, butuh pikiran yang tenang untuk menghasilkan ide brilian.

"Hinata?"

Deg. Tiba-tiba, sebuah panggilan dari luar mengejutkan Hinata, membuat tubuhnya yang mungil menegang seketika. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya tapi telinganya tidak mungkin salah, sunyi di ruangan itu membuatnya berfungsi dengan baik.

Kamisama, apalagi ini. Oh rasanya aku mau menghilang saja. Kasihan Hinata. Belum selesai berurusan dengan ketakutan di dalam pikirannya, ia sudah harus berhadapan dengan ketakutan lainnya di depan matanya.

Hinata mendengar suara panggilan dari luar yang menyebutkan namanya. Bukan intonasi atau cara panggilannya yang membuat Hinata takut melainkan pemilik suaranya. Mungkinkah ia akan bertemu dengan pemilik suara itu secepat ini.

"Hinata, apa kau di dalam?" Hening. Tak ada sahutan, pikir orang itu. "Hinata, aku tahu kau di dalam."

Merasa telah menunggu lama tapi tidak mendapat sahutan, orang di luar mulai cemas. Gawat! Apa jangan-jangan ia pingsan. "Hinata, aku masuk-"

Sreeek. Bunyi pintu bergeser hampir bersamaan dengan suara Naruto.

Hinata sudah tidak bisa berpikir apa-apa saat mendengar suara Naruto yang memanggil namanya, dan semakin tidak mampu lagi saat orang itu memutuskan masuk dengan seenaknya. TIDAAAK! Hinata hanya bisa menjerit dalam hati sementara tubuhnya refleks menenggelamkan diri di dalam selimut. Sayangnya, karena refleks tersebut kurang cepat atau mungkin Naruto yang bertindak di luar dugaan, Naruto dapat melihat perbuatan Hinata yang cepat-cepat menutup dirinya dengan selimut. Dengan satu tangan yang bebas tanpa membawa nampan ia geser kembali pintu kamar Hinata dan mendekat ke arahnya.

"Hinata?"

.

-What Is Happiness?-

.

Naruto POV

Kamisama, apa sedang yang ku lakukan? Masuk ke dalam kamar seorang gadis seenaknya sementara gadis itu orang yang baru kutiduri tadi malam. Oh oke, mungkin lebih tepat kusebut mantan gadis. Ah sudahlah bukan saatnya berpikiran seperti itu. Demi Kamisama, kalau bukan karena kaa-san aku tidak mungkin mau melakukan ini. Mau kutaruh dimana mukaku di depan Hinata. Ehm. Bukan, bukannya maksudku mau lari dari tanggung jawab, tidak, hanya saja sejujurnya aku belum siap, bertemu dengannya secepat ini.

Tapi memangnya kaumau apa heh, Naruto? Berbalik dan kembali tanpa melakukan apa-apa? Bagaimana pun hal ini tetap harus kulakukan, kaa-san benar bahwa Hinata adalah tanggung jawabku. Mau nanti ataupun sekarang aku tetap harus memastikan keadaannya. Dan lagi aku tidak mau pergi dengan membawa perasaan yang mengganjal. Akan kupastikan ia baik-baik saja. Walaupun aku cukup sadar diri ia sedang menghindariku dengan bersembunyi di balik selimut seperti itu. Hinata...

.

-What Is Happiness?-

.

Hinata POV

Iiee, kudengar langkahnya mendekat. S-semakin dekat dan masih bisa kudengar walaupun bunyi detak jantungku sendiri jauh lebih kencang berkali-kali lipat melebihi langkah kakinya. Kamisama, a-apa yang harus kulakukan.

"Hinata, bagaimana keadaanmu?" Uh! Hatiku mencelos saat mendengar suaranya sangat dekat dari sisi kiriku, pa-pasti posisinya saat ini de-dekat sekali.

Naruto-sama bertanya. Nada suaranya terdengar ragu sedikit bercampur penyesalan. Entahlah mungkin juga pemikiranku salah. Ka-Kamisama, jika mendengar suaranya saja bisa membuat wajahku memanas s-seperti ini, a-apa jadinya jika melihat wajahnya. Haruskah kujawab pertanyaannya? Oh, Naruto-sama, andai saja kejadian tadi malam tidak pernah terjadi pasti sa-saya tidak akan berani mengacuhkan Anda seperti ini.

"Hinata, aku tahu kau mungkin marah padaku."

Apa? Tidak! Ti-Tidak, Naruto-sama. Sungguh.

"Aku tahu aku salah karena sudah mengambil, ehm, ya kautahu itu."

Tidak, Naruto-sama! Ji-jika ada yang pantas disalahkan i-itu adalah saya.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku sendiri merasa menjadi orang paling brengsek karena tidak bisa mengendalikan diri sendiri."

Naruto-sama.. Itu tidak benar. A-Anda tidak seperti itu.

"Kautahu, kaa-san dan tou-san, ya aku juga sih, sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Mereka pikir kau kenapa-kenapa dan kautahu, aku tidak bisa membayangkan reaksi mereka seandainya mereka tahu akulah yang menjadi penyebab semua ini, ha..ha..ha. Maka dari itu aku perlu sekali memastikan keadaanmu. Ya, agar aku sendiri juga tahu harus bertanggung jawab seperti apa atas perbuatanku."

"Jadi.. apa benar kau sakit?"

(Hinata menggeleng) Kamisama, aku memang tidak pernah bisa mengacuhkan Naruto-sama, tanpa sadar kepalaku menggeleng se-sendirinya.

"Benarkah? Kau tidak sakit?"

Ka-Kali ini aku mengangguk dengan sadar. Entahlah, mu-mungkin mendengar suara cerianya membuatku tak rela me-mengecewakannya.

"Tapi, kenapa kau menghindariku seperti ini, Hinata?"

T-Tidak, Naruto-sama, ja-jangan memperdengarkan suara sedih dan pasrah seperti itu.

"Kautahu, aku memang tidak terlalu pandai mengenai perasan wanita tapi aku sudah menyiapkan diri seandainya kau marah besar kepadaku. Silakan umpat aku dengan panggilan apa pun yang kaumau, kaupukul aku juga tidak apa-apa, apapun asalkan kau berhenti menghindariku seperti ini."

Uh, Naruto-sama.. A-Apa.. kaupikir, cara seperti itu bisa meredam kemarahan ses-seorang?

"Hinata, apa perlu aku bersujud agar kau -"

"Ie, ie, ja-jangan lakukan. Kau sama sekali tidak bersalah, Naruto-sama, saya tidak marah, s-saya pun tidak menginginkan apa-apa. Berhentilah.."

Apa ini, aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi saat pandanganku tepat bersirobok dengan sepasang bola mata birunya, iris menghanyutkan milik seseorang yang kuhindari tadi. Ah, kurasakan wajahku memanas, mu-mungkin memerah juga. Ta-Tapi.. kenapa semburat tipis itu juga tampak di wajah Naruto-sama. Mungkinkah..

.

-What Is Happiness?-

.

Ya, Hinata memang tidak salah dengan perkiraannya. Hinata dan Naruto sama-sama memerah saat melihat wajah masing-masing. Hinata yang baru bangkit dari rebahannya dan Naruto yang masih dalam posisi duduknya. Pandangan mereka sama-sama bertemu dan posisi mereka sedang berhadapan. Membuat salah tingkah tak bisa dihindari di antara keduanya. Tiba-tiba, berada berdua di dalam kamar itu menjadi sangat menggerahkan bagi Naruto dan Hinata sangat tidak nyaman dengan detak jantungnya yang memompa keras.

Naruto tak sanggup lama-lama berduaan dengan Hinata. Bukan apa-apa. Laki-laki memang tak sebaik wanita dalam mengingat kejadian seperti itu. Hanya saja melihat pemandangan wajah Hinata yang memerah membuat Naruto mau tak mau dipaksa mengingat lagi reaksi-reaksi Hinata atas perlakuannya.

Naruto yang sudah tidak sanggup berinisiatif segera menyudahi kondisi tersebut dengan mengucapkan terima kasih –dengan suara beratnya. Hinata hanya mengangguk dan menunduk selepasnya. Hinata yang menunduk sedikit membantu kondisi Naruto. Saat mulai bisa menguasai keadaan, ia juga memberitahukan Hinata mengenai rencana kepergiannya ke ibukota siang nanti bersama tou-san dan seorang samurai kepercayaan. Hinata terkejut, ada sedikit kekecewaan karena ia tidak bisa melihat Naruto beberapa hari ke depan. Agak aneh memang. Pasalnya tadi dirinya masih takut bertemu, sekarang malah sedih begitu tahu akan berpisah beberapa hari. Tapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain menutupi kesedihannya dengan memberi senyuman dan doa untuk keselamatan Naruto dan lainnya. Ia bahkan tidak berani menanyakan akan berapa hari Naruto pergi. Tapi Hinata berjanji ia akan kembali bekerja saat makan siang nanti. Tentu saja Naruto senang mendengarnya.

Akhirnya setelah meminta Hinata untuk menghabiskan sarapan yang ia bawa dan memastikan tidak perlu memanggil nenek Chiyo untuk mengobatinya, Naruto keluar dengan perasaan yang berbeda dibandingkan saat masuk tadi. Lebih tenang dan merasa lega tentunya.

.

-What Is Happiness?-

.

Matahari baru saja melewati titik tertingginya, menandakan saatnya rombongan Naruto bersiap berangkat. Dan memang benar, di depan gerbang sudah tertambat tiga ekor kuda yang tampak gagah dan terawat. Sedangkan di balik gerbang tampak dua orang yang sekilas mirip sedang berpamitan dengan seorang wanita berambut merah.

Walaupun disebut berpamitan, tak tampak raut sedih pada wanita penyandang nama Namikaze yang akan melepas keberangkatan putra dan suaminya itu. Tentu saja karena perjalanan yang akan mereka lakukan tak ada bedanya dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya yang sudah biasa mereka lakukan. Walaupun begitu, namanya seorang ibu dan istri pasti mendoakan keselamatan bagi keduanya.

Mungkin ada yang bertanya, jika yang akan berangkat tiga orang, di manakah seorangnya lagi? Nara Shikamaru sang samurai jenius sedang menunggu di depan gerbang atau tepatnya tiduran di bawah pohon. Haaah.. daripada menunggu Naruto dan Minato-sama di samping mereka lebih baik tiduran sambil menatap awan, begitulah pikir samurai pemilik IQ tertinggi itu. Jujur saja ia sangat malas ikut mendengar ceramah tidak singkat Kushina, karena baginya wejangan dari ibunya yang cerewet saja sudah cukup. Tidak perlu ditambah mendengar wejangan Kushina lagi.

Lagipula ia sudah bisa menebak, paling-paling isinya seputar jangan terlalu banyak minum, jangan bermain wanita, jangan malas mandi, tutup jendela sebelum tidur, dan terakhir jangan lupa membawa oleh-oleh. Jangan harap mendengar kalimat 'aku akan merindukanmu' atau 'cepat pulang'. Kalimat itu tersirat di balik kata-kata 'awas ya kalau sudah selesai tidak segera pulang'. Hah~ merepotkan. Benar-benar wanita yang setipe dengan ibunya. Dengan memilih menatap awan seperti ini setidaknya ia bisa memastikan bahwa langit bersahabat dengan perjalanan mereka nanti.

Shikamaru heran karena pamitan kali ini lebih lama. Mendokusai. Saat mencari sebabnya ke arah gerbang, bukannya menemukan jawaban ia malah mendapati seorang gadis sedang bersembunyi di sisi bagian kanan rumah, cukup terlihat dari posisi Shikamaru berada.

Pandangannya menyipit mengenali objek tersebut, seorang gadis berambut biru tua. Dilihat dari pakaiannya sepertinya ia salah seorang pelayan. Melihat sorot pandangan gadis itu, ia bisa menebak apa yang ia lihat dan untuk apa ia melihat. Hah~ sudahlah. Ia malas mengurusi hal yang tidak terlalu penting. Lagipula dari cara memandangnya ia cukup yakin bahwa gadis itu bukanlah ancaman.

Tak lama kemudian Naruto dan Minato keluar dari pintu gerbang. Asal kautahu saja, hanya butuh dua langkah bagi Naruto dan Minato untuk melewati pintu gerbang dari posisi mereka sebelumnya tapi keberadaan seorang wanita membuatnya jauh lebih lama.

Shikamaru pun berdiri dan menghampiri kuda yang juga sedang dihampiri oleh dua orang lainnya. Saat menoleh ke tempat gadis aneh tadi bersembunyi, ia sudah tidak ada. Gadis itu, kalau tidak salah namanya Hinata.

.

-What Is Happiness?-

.

Hari mulai beranjak sepi, seiring matahari yang kembali ke peraduannya. Cahaya matahari mulai tergantikan penerangan dari lentera. Tak butuh waktu lama bagi para pelayan dapur untuk menyiapkan makan malam. Bukan karena porsi makanan yang akan dimasak lebih sedikit –untuk Kushina seorang– melainkan karena mereka sudah terlatih. Ayame dan Hinata tampak sigap menyiapkan alat dan tempat hingga semua hidangan dan alat makan terjejer rapi di atas meja.

Usai menyiapkan semua itu keduanya duduk di sisi yang behadapan dengan pintu teras, menunggu kehadiran Kushina yang telah dipanggil pelayan yang lain. Dan memang benar tak lama kemudian Kushina muncul. Ia duduk di tempat yang biasa ia duduki, yaitu di balik meja yang menghadap pintu masuk.

Ayame dan Hinata bersiap. Duduknya Kushina seolah menjadi kode bagi keduanya untuk tugas tambahan. Tepat dua detik setelah duduk, Kushina tersenyum ke arah Ayame dan Hinata di sisi kirinya seraya berkata, "Ayame, Hinata, ayo!"

"Hai," sahut Ayame dan Hinata kompak lantas beralih menuju sisi meja makan yang berhadapan dengan Kushina. Tepat sekali, Kushina baru saja mengajak Ayame dan Hinata makan satu meja. Semua disebabkan Kushina yang terbiasa ramai tidak bisa makan sendirian. Karena itu, ia meminta Ayame dan Hinata untuk menemaninya mengobrolwalaupun sebenarnya ialah yang mendominasi obrolan.

Dulunya kebiasaan ini tidak ia lakukan. Saat Minato harus berurusan ke ibukota, Naruto kecil sudah cukup untuk meramaikan suasana makannya. Tapi semenjak Naruto beranjak dewasa dan mulai mendapat kepercayaan kaisar, ia sering menemani Minato ke ibukota dan jadilah Kushina harus makan sendirian. Beruntung ia mempunyai Ayame dan Hinata. Walaupun keduanya tergolong pendiam tapi mereka selalu merespons saat ditanya atau dimintai pendapat, membuat Kushina merasa yakin kalau celotehnya memang benar didengarkan oleh keduanya. Ne, tentu saja kesempatan ini Kushina gunakan untuk menanyai Hinata dan mengorek informasi tentang bagaimana Naruto saat melihat kondisinya. Pasalnya Naruto hanya menjawab sekenanya saja saat ditanyai kondisi Hinata sehingga membuatnya semakin penasaran.

"Ne, Hinata, memangnya kau tadi pagi sedang sakit apa?" tanya Kushina dengan ujung sumpit menempel di bibirnya.

Hinata yang ditanya sedikit terhenyak, "A-ano.. Sa-saya.. hanya sedikit kelelahan, Kushina-sama," sahut Hinata sembari menundukkan pandangannya. Seandainya Shikamaru yang melihat ini, ia pasti menyadari kalau Hinata sedang menutupi kebohongan. Walaupun secara tidak sadar ia sebenarnya tidak berbohong juga bahwa ia memang lelah. Sementara Kushina, ia bersyukur mendengar hal itu karena seperti dugaannya Hinata tidaklah sakit parah melihat kondisinya yang cepat pulih.

Kekhawatirannya bukanlah kekhawatiran seorang majikan kepada pekerja semata. Sejujurnya telah lama Kushina jatuh hati dan ingin mengangkat anak gadis termuda di antara pekerjanya itu. Tapi tidak ia lakukan untuk menghindari kecemburuan pekerjanya yang lain. Lagipula tanpa diangkat anak pun ia tetap bisa bertemu dan mengikuti perkembangan Hinata setiap hari. Walaupun terbatas dalam mencurahkan kasih sayangnya.

"Aa, lalu, bagaimana tanggapan Naruto mendengarnya?" Jujur saja Hinata sangat bingung menjawab pertanyaan ini, pasalnya ia sama sekali tak memberi tahu Naruto perihal ia yang sedang kelelahan atau tidak.

"E-eto.." Hinata hanya bisa memainkan jarinya. Kushina menyangka Hinata yang pemalu dan menjaga sopan santun tidak berani berkata lancang tentang tuan mudanya, jadi lah ia menebak sendiri. "Ah, pasti dia sudah menceramahimu panjang lebar ya." Dengan ragu Hinata mengangguk tapi sebenarnya lega. Bisa dibilang ia sedikit tertolong karena tidak perlu mengarang jawabannya.

"Hah~ dasar anak itu. Hey kalian ingat tidak saat Paman Teuchi tak sengaja memukul jempolnya sendiri dengan palu yang ia gunakan untuk membetulkan pagar, Naruto sudah panik setengah mati. Juga saat Chouji yang diare akibat memakan jamur sisa yang tergeletak di pos jaga, Naruto langsung memerintahkan semua pelayan agar lebih berhati-hati dengan makanan sisa. Haha.. Ekspresinya serius sekali.." Kushina tertawa sedangkan Ayame dan Hinata hanya terkikik pelan mengingat potongan kejadian itu.

"Ne, ngomong-ngomong kalian masih ingat Karin keponakanku yang baru menikah dengan samurai bernama Suigetsu sebulan lalu kan?" Hinata dan Ayame mengangguk menanggapi. "Ternyata mereka hebat juga ya, baru sebulan menikah Karin sudah hamil. Aku baru mendapat kabarnya tadi pagi saat pelayan mereka datang untuk memintakan obat pereda mual kepada Chiyo-basan. Aku-"

Tiba-tiba ucapan Kushina terhenti karena menyadari ekspresi Ayame yang menyiratkan kesedihan. Bodoh, kenapa aku bisa lupa, batin Kushina. Ayame adalah seorang wanita berusia 26 tahun yang telah lama menikah namun belum juga dikaruniai anak. Tiba-tiba Kushina merasa bodoh karena justru membahas tema ini di depan Ayame.

"Ma-maafkan aku, Ayame-chan," ujar Kushina penuh simpati.

Ayame tidak bisa menjawab apa-apa tetapi mulai terisak dan meneteskan air mata dengan bahu gemetar. Kushina yang melihat itu menjadi iba. Ia mendekati Ayame untuk merengkuhnya. Mungkin karena sesama perempuan membuat Kushina lebih bisa memahami. Sedangkan Hinata yang melihat pemandangan itu jadi ikut sedih dan juga terbawa untuk memikirkan kondisinya sendiri.

.

-What Is Happiness?-

.

Ayame dan Hinata telah selesai membereskan ruang makan yang menjadi penutup pekerjaan mereka hari itu. Saat ini mereka sedang berjalan beriringan menuju gerbang. Hinata bermaksud mengantar Ayame sampai pintu gerbang karena ia telah dijemput suaminya. Sedangkan Hinata akan tinggal.

Hinata tinggal di kediaman Namikaze atau tepatnya di samping rumah utama yang khusus disediakan untuk para pekerja –saat ini hanya didiami oleh Hinata dan Nenek Chiyo yang tempat asalnya dari Suna.

Berkat Kushina, Ayame sudah merasa lebih lega. Pelukan dan dorongan semangat dari Kushina agar tidak patah semangat membuat bebannya selama ini sedikit terangkat. Di tengah kesunyian –kecuali suara langkah yang beriringan– Hinata membuka suaranya, "A-Ayame-san, bo-bolehkah saya bertanya tentang sesuatu?"

"Tentu saja, Hinata," Ayame bersuara ramah menanggapi permintaan sopan gadis yang sudah dianggapnya adik itu.

"Ano.. Se-sebenarnya.. Apa yang membuat seorang wanita menjadi ha-hamil?" tanya Hinata dengan semburat merah yang menghiasai pipinya. Ayame terhenyak dengan pertanyaan tak terduga dari Hinata.

"Fufu.." sebenarnya Ayame juga malu menjawab pertanyaan polos Hinata karena baginya seperti menjawab pertanyaan kenapa siang hari terang sedangkan malam hari gelap dari seorang anak kecil. "...ne, jawabannya adalah, jika sepasang wanita dan pria yang saling mencintai, em, sebut saja melakukan hubungan suami istri, maka di saat itulah ada kesempatan seorang wanita akan mengandung janin dari benih sang laki-laki." Penjelasan Ayame berusaha dicerna oleh Hinata.

"Aa, sou ka." Hinata sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti akan semua penjelasan Ayame. Tapi menurutnya itu cukup menegaskan bahwa yang ia tahu berhubungan suami istri memang dapat membuat seorang wanita menjadi hamil. "A-arigatou, Ayame-san"

Ayame senang menjawab pertanyaan Hinata. Baginya seperti memuaskan rasa ingin tahu seorang gadis remaja yang sedang penasaran dengan hal-hal baru di sekitarnya, apalagi gadis itu tidak pernah mengecap pendidikan formal jadi wajar jika banyak hal yang belum diketahuinya. Nyatanya memang ada banyak hal yang belum diketahui Hinata, termasuk bahwa tidak selalu hubungan suami istri membuat wanita menjadi hamil.

Akhirnya, selepas mengantar Ayame hingga depan gerbang, dan Hinata kembali ke kamarnya, pada malam itu ia terjaga hingga larut malam karena memikirkan konsekuensi yang baru disadarinya. Ia menangis terisak di dalam selimutnya sendirian membayangkan dirinya akan hamil sementara ia belum menikah. Itu artinya ia akan mengandung bayi hasil hubungan di luar nikah. Walaupun jarang bergaul di luar, Hinata pernah mendengar gunjingan para wanita di pasar tentang wanita yang hamil di luar nikah. Dan perasaan Hinata bergejolak saat mengingat sebentar lagi ia akan menyandang sebutan itu.

Dan lagi, apa yang akan dikatakan Kushina-sama tentangnya. Apa kata tou-san dan kaa-san-nya yang telah tiada tentang anaknya yang tak bisa menjaga diri. Lantas, apakah ia menyesal?

Hiks.. Naruto-sama.. Di saat seperti ini rasanya ia ingin berada di samping Naruto-sama dan mendapatkan ketenangan dari pelukannya. Tapi, apakah ia berhak? Ia juga bingung apakah Naruto harus tahu dan bagaimana caranya jika ia harus menyampaikannya. Ataukah lebih baik ia sembunyikan saja semua itu dari Naruto. Ah, semuanya terlalu menjejali pikiran Hinata. Bisa dibayangkan betapa peliknya beban pikiran yang ditanggung gadis belia itu. Ia hanya berharap waktu dapat memberikan solusi untuknya. Oh dear, semoga saja di hari esok ada seseorang yang bisa menjelaskan kepadanya bahwa hubungan seksual tidak mesti dapat menyebabkan kehamilan.

.

To Be Continued

.

A/N: Minna, saya minta maaf sebelumnya karena tidak bisa memenuhi permintaan reader buat update cepat. Gomen ne. Saya tahu saya salah. Saya sempet upset sewaktu mencari informasi tentang latar yang susah dan juga takut kelanjutannya mengecewakan. Tapi dukungan dan permintaan para reviewer buat fict ini segera dilanjutkan benar-benar mampu membangkitkan semangat lho.

Yang menjadi author saya yakin tahu rasanya :)

.

Hontou ni arigatou atas review-nya buat:

Wafihidayatulloh, Zecka S. B. Fujioka, Utsukushi Hana-chan, Einselhyuri, ArisaKinoshita0, Gorm Speir, Minae Cute, Reikan, Rikaochan, Fuuku, Amu B, NaruHina-Lover, Anyone, Arufi, dan 2 orang Guest.

.

Hontou ni arigatou juga untuk fav-nya buat:

Ahmad Syarif Hidayat, Andypraze, Einselhyuri, Utsukushi Hana-chan, dan ArisaKinoshita0 :D

.

Hontou ni arigatou untuk alert-nya buat:

Zecka S. B. Fujioka, Andypraze, Einselhyuri, Utsukushi Hana-chan, ArisaKinoshita0, Ajafajri, Chiee69, dan Arufi :D

Luv you all, guys.. :*

Oya, saya juga minta maaf seandainya ada yang berharap fict ini menjadi rate M. Jujur sampai saat ini saya belum sanggup, hehehe. Terakhir, jangan sungkan untuk memberikan kritik, saran, nilai, komentar, dan lain-lain, ok? ;)

.

Mind To Review?