Dua hari telah berlalu sejak ledakan besar di pusat kota Pulau Rintis. Sudah dua hari pula, krisis besar menimpa Pulau Rintis. Pusat kota yang menjadi penopang serta sumber penghasilan kota kecil itu hancur tak bersisa.
Rumah sakit-rumah sakit menjadi penuh akan korban yang terkena ledakan maupun angin ledakan. Kepolisan Pulau Rintis pun juga penuh dipadati penduduk yang melaporkan kasus orang hilang.
Namaku Yaya, salah satu penduduk kota yang dalam kondisi memprihatinkan itu. Aku sendiri yang bahkan menjadi salah satu superhero pelindung Pulau Rintis tidak bisa berbuat banyak menghadapi keadaan krisis tersebut.
Kekuatan yang kupunya sebagian besarnya hanya berguna saat pertarungan. Ditambah lagi, kabar mengenai sahabatku, Boboiboy yang ditemukan tim SAR dalam keadaan sekarat dan hampir tak berbentuk membuatku shock berat. Kala itu, aku hampir pingsan karena juga mendengar presentase hidup Boboiboy tidak lebih dari 5% saja .
Depresiku pun berdampak besar bagi sebagian kekuatanku yang lain yang mungkin bisa digunakan untuk membantu penduduk Pulau Rintis yang lain. Aku memutuskan untuk menunggui Boboiboy yang dalam kondisi koma itu hingga sadar dan pulih kembali.
Tentu saja orangtuaku melarang keras tindakan itu dengan alasan aku tidak boleh membolos dari sekolah dan kehilangan titlesebagai anak teladan sedunia. Aku terus menolak larangan itu hingga orangtuaku akhirnya menyerah.
Kedua temanku yang lain juga mendapat perlakuan sepertiku saat membuat keputusan tidak masuk akal itu. Namun, mereka tetap bersikeras hingga akhirnya orangtua mereka mengizinkan. Tapi hanya dalam jangka waktu tiga hari, tempo waktu yang sama yang diberikan orangtuaku kepadaku.
Sedangkan, Fang. Dia yang menurutku kehidupannya paling enak. Keluarga satu-satunya yang dia punya yaitu Kapten Kaizo kini tinggal di luar angkasa sana. Alhasil, dia bebas mengatur dan menentukan hidupnya didunia ini.
Kami berempat saling bergantian dalam menunggui Boboiboy karena dokter membatasi orang-orang serta waktu dalam mengunjungi dan menunggui Boboiboy. Ochobot dan Tok Aba masih dalam keadaan shockberat karena mereka berdua adalah orang yang paling dekat dengan Boboiboy.
Tok Aba pingsan hingga seharian penuh, kami sangat khawatir padanya kala itu. Namun, untungnya, keesokan harinya dia siuman walaupun masih harus diberikan beberapa perawatan ringan oleh Ochobot.
Firasatku mengatakan kalau ini semua masih belum selesai. Karena pelaku dan sebab dari ledakan itu sendiri masih belum diketahui. Aku pun berusaha menghilangkan firasatku yang mengerikan itu dan fokus pada Boboiboy yang kini sedang terluka parah.
REBORN OF EVIL
Rate : T
Disclaimer : Animonsta Studios
Genre : Supernatural, Adventure, Super Power, Friendship
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari keempat sejak peledakan di pusat kota itu terjadi, sekaligus menjadi hari keempat sejak Boboiboy ditemukan hampir tak bernyawa. Hari ini adalah hari dimana tempo waktu ku untuk membolos telah habis, karena itulah kini aku harus menapakkan kaki lagi di Sekolah Menengah Pulau Rintis, tempatku menuntut ilmu.
"YAYA."
Sahut salah satu teman perempuanku yang berkuncir kuda bernama Suzy histeris. Dia berlari kecil kearahku dan memelukku begitu erat hingga nafasku menjadi agak sesak. Gadis yang sudah menjadi teman sekelasku dan Ying sejak Sekolah Dasar itu menangis tersedu-sedu dan menyebabkan punggungku yang dilapisi seragam sekolah menajdi sedikit basah.
"Kau tega sekali, Yaya."
Suzy berujar tegas seketika setelah melepas rangkulannya terhadapku. Aku mengernyit heran karena tidak mengerti apa maksud perkataannya.
"Ma-maksudmu?"
"Kau tega meninggalkan sahabatmu ini dan lebih mementingkan pacar supeheromu itu?"
Semburat merah muncul di kedua pipi tembam-ku begitu Suzy menyebut kata 'pacar' yang tentu saja maksudnya adalah Boboiboy.
"Aku dan Boboiboy itu hanya sebatas teman. Lagipula, Ying dan yang lainnya juga ikut tidak masuk juga kan tiga hari belakangan ini."
"Ying dan Fang sudah masuk sejak kemarin. Sedangkan Gopal, sudah masuk ke sekolah sejak dua hari yang lalu."
Fakta yang dijelaskan Suzy itu membuatku sedikit jengkel karena mengetahui ternyata selama ini ketiga sahabatku itu berbohong. Kini, aku tau penyebab mereka bertiga tak ada yang bisa menunggui Boboiboy pada saat siang.
"Sudahlah, Suzy. Yaya itu memang tidak bisa jujur pada perasaannya sendiri."
Ying seketika muncul dan menepuk bahuku dari belakang. Aku pun terlonjak kaget karena reflek akibat perbuatan dari rivalbelajarku di kelas itu. Beberapa detik kemudian rasa jengkel yang kupendam di hatiku tadi langsung kukeluarkan habis-habisan.
"Kau ini Ying. Kalian bilang akan mengambil izin sampai tiga hari sepertiku, tapi kemarin kau dan Fang malah masuk. Dan Gopal lebih parah, dia masuk dua hari yang lalu."
Seluruh orang dikelasku langsung mengalihkan perhatiannya kepada kami begitu mendengar aku menyampaikan unek-unekku, namun, aku tidak memperdulikannya. Dan saat orang-orang itu kembali melakukan aktivitasnya yang semula, Ying pun mulai menjawab pertanyaanku dengan tergagap.
"E-etoo.."
Kriiing
Bel masuk telah berbunyi. Bel itu membuat beberapa siswa kelasku yang sedang berada diluar kelas, berebut masuk. Bel itu juga membuat Ying terpaksa menunda jawabannya karena aku langsung pergi ke tempat dudukku begitu wali kelasku yang menjadi guru pada jam pertama masuk.
"Aku tunggu jawabannya nanti, Ying."
Aku mengingatkan Ying yang hanya dibalas olehnya dengan kata 'ya' dan sebuah anggukan kepala. Meskipun begitu ekspresi gugup masih tampak jelas di mukanya.
END OF YAYA'S POV
Yaya yang notabene adalah ketua kelas di kelasnya itu mengomando teman-temannya yang lain untuk memberi salam kepada guru wanita dengan tubuh tinggi serta berjilbab yang kini sedang berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita akan mendapatkan teman baru, ayo masuk Sherry."
Seorang gadis dengan sebuah jaket dari kulit berwarna coklat susu tiba-tiba masuk ke kelas Yaya. Gadis itu terus menunduk ke bawah sehingga ekspresinya serta wajahnya hampir tak terlihat. Rambutnya sendiri tertutupi tudung jaketnya.
"Sherry, Sherry Inoue."
Perkenalan singkat itu keluar dari mulut gadis misterius bernama Sherry itu. Tudung jaketnya sudah ia tanggalkan sehingga kini nampak jelaslah sebagian wajah serta rambutnya yang tertutup tadi.
"Sherry ini adalah pindahan dari sekolah Raigen Gakuen di Kyoto, Jepang. Karena dia berasal dari Jepang jadi dia tidak terlalu pandai berbahasa Melayu. Karena itu tolong bantu Sherry untuk beradaptasi disini. Nah, Sherry. Silahkan cari tempat duduk yang kosong."
Sherry pun berjalan pelan ke arah tempat duduk yang kosong tepat di sebelah kiri Yaya. Kursi itu dulunya ditempati oleh Amar Deep, teman Sekolah Dasar Yaya yang kebetulan sekelas lagi dengan Yaya dan teman se-gengnya. Namun, sebulan kemudian Amar Deep pindah sekolah ke Kuala Lumpur mengikuti ayahnya yang sedang dinas disana.
"Yaya, kau kan ketua kelas. Tolong bantu dia beradaptasi disini ya."
Amanat yang cukup besar kembali diberikan oleh wali kelas sekaligus guru pelajaran IPS-nya itu dan Yaya pun hanya bisa mengiyakannya dan tersenyum terpaksa. Semua yang terjadi akhir-akhir ini membuat fisik dan mentalnya lelah, sebenarnya, Yaya tidak ingin masuk hari ini, namun dia tidak bisa mengingkari janji yang dibuatnya sendiri dengan orangtuanya.
"Baiklah, sekarang kita buka Bab 10 dan lanjutkan materi minggu lalu."
Yaya pun beralih merogoh tas kecil berwarna pinkkepunyaannya dan meraih buku IPS nya yang cukup tebal dengan kira-kira hampir dua ratus halaman. Saat Yaya menaruh buku itu ke meja dihadapannya, Yaya tiba-tiba merasa terintimidasi oleh sebuah kekuatan yang sangat besar dan kuat.
Saking kuatnya, tubuh Yaya menjadi bergetar. Walaupun dia dan kelompoknya itu adalah seorang pahlawan super, tetapi, Yaya tidak pernah merasakan kekuatan temannya menguar deras seperti ini dan mengintimidasinya.
Yaya tidak tau pasti siapa pemilik kekuatan ini, tetapi yang pasti, pemiliknya kini tengah berada di kelasnya. Teman atau Lawan? Entahlah, Yaya juga tidak tahu. Kekuatan itu tiba-tiba mendekat ke arahnya.. Semakin dekat dan semakin dekat dan seketika kekuatan itu tiba-tiba menghilang bagai ditiup angin.
"Ano.. Cikgu menyuruh kita untuk berkelompok. Ka-kau ingin ber-berkelompok denganku."
Anak baru itu tiba-tiba mendekati Yaya dan berbicara dengannya dengan terbata-bata. Yaya pun tersadar dari lamunannya tentang kekuatan yang mengintimidasinya beberapa detik yang lalu itu.
"Ba-bagaimana?"
Sherry kembali menanyai Yaya dan kemudian dibalas anggukan antusias oleh Yaya.
"Baiklah."
Sherry mengambil tempat duduknya dan memposisikannya di samping bangku Yaya. Beberapa menit kemudian, guru muda berkacamata itu mulai menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh Yaya dalam keadaan berkelompok begini.
*#*
Bel pulang berbunyi. Para siswa di salah satu sekolah favorit di Pulau Rintis itu bersorak gembira dan berhamburan keluar kelas.
"Pelajaran akan Papa tutup sekarang. Sampai jumpa minggu depan di Kelas Kebenaran Cikgu Papa dan jangan lupa kerjakan PR kalian. Bagi yang tidak mengerjakan PR, Kebenaran akan melipat gandakannya menjadi... 10 kali lipat."
Guru dengan gaya ala tokoh imajineryang sering muncul di TV dan video game bernama Papa Zolayang sudah Yaya kenal betul sejak Sekolah Dasar itu meninggalkan kelas yang baru saja diajarnya itu dengan kata-kata mengerikan sehingga membuat suasana disana menjadi agak suram.
Dengan muka lesu, murid kelas VII-A keluar satu-persatu dari kelasnya dan akhirnya menyisakan tiga orang saja, yaitu, Ying, Yaya, dan Suzy. Ketiga perempuan yang sudah mnejadi sahabat sejak lama itu kini sedang mengobrol sembari menunggu salah satu dari mereka yang bernama Yaya yang kini sedang memasukkan bukunya ke dalam ke tasnya.
"Oh iya, Ying. Apa jawabanmu dari pertanyaan yang kuajukan tadi?"
"Be-begini, Yaya. Kami bertiga memang akan mengambil izin selama tiga hari sama sepertimu, tapi, kami tidak pernah bilang akan izin pada hari yang sama."
Ying menjelaskan dengan sedikit terbata-bata, takut Yaya tidak mempercayai perkataannya. Yaya menyipitkan matanya sebentar, melihat apakah perkataan Yaya benar adanya. Dan sepertinya, perkataannya itu benar karena Yaya tidak menemukan sedikitpun kebohongan yang tercermin di mata Ying.
"Baiklah, aku percaya itu. Sekarang ayo kita pulang."
Ketiga perempuan remaja itu berjalan keluar dari kelasnya hingga keluar gerbang sekolahnya sambil asyik mengobrol. Namun, saat sampai di persimpangan disebuah lorong yang bernama lorong Pak Senin Koboi, mereka terpaksa harus berpisah karena rumah mereka yang berbeda arah.
Setelah mengucapkan sampai jumpa kepada kedua temannya, Yaya berjalan gontai ke arah rumahnya yang berada tepat sekitar seratus meter disana. Dia merasa sangat lelah hari ini, entah apa yang menyebabkannya seperti ini. Mungkin karena dia harus memandu dan menjelaskan ruangan-ruangan dan bagian-bagian yang ada disekolah kepada Sherry.
Yaya terus memasang ekpresi lesu hingga berjalan melewati rumah Fang yang berada di ujung lorong Pak Senin Koboi. Rumah dengan kesan suram dan berhantu itu terlihat sangat sepi. Yaya tak merasakan hawa kehadiran Fang dirumah yang digosipkan sebagai rumah berhantu beberapa tahun yang lalu itu.
Fang sepertinya sedang pergi. Itu terbukti karena Fang hari ini juga tidak masuk sekolah. Mungkin saja, kini Fang sedang menjenguk Boboiboy atau Kapten Kaizo datang menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan. Siapa yang tau?
Yaya pun tidak mau ambil pusing tentang itu. Masih dengan langkah gontai, Yaya lanjut berjalan kerumahnya yang tinggal berjarak lima puluh meter lagi.
Dan setelah hampir sepuluh menit dia berjalan, akhirnya dia sampai didepan rumahnya yang bersampingan dengan rumah Boboiboy. Kedai coklat kepunyaan Tok Aba yang tampaknya mulai buka lagi hari ini terlihat jelas dari rumah Yaya.
Dari kejauhan, Yaya melihat siluetsesoerang dengan jaket berwarna kuning dan berlengan hijau tengah meneguk coklat panasnya dengan rakus dan terburu-buru. Disampingnya juga terlihat seorang pemuda dengan warna ungu yang dominan yang tampak sedang menceramahi pemuda berjaket kuning kuning disampingnya yang kini sedang tersedak.
Yaya seketika mengurungkan niatnya untuk masuk kerumahnya dan beristirahat dan kemudian berlari kecil ke arah kedai coklat dimana kedua pemuda itu berada.
"Gopal, Fang."
Kedua pemuda yang sedang duduk di bangku di sekitar meja tenderkedai itu sontak terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinga mereka. Dengan takut-takut, mereka pun melihat ke arah belakang dan sesuai perkiraan mereka, sang ketua kelas yang dikenal dengan kegalakannya itulah yang memanggil mereka.
"Ma-maafkan kami, Yaya. Kami tidak bermaksud membohongimu, sungguh, maafkan kami Yaya, maaf."
Kedua pemuda itu merelakan harga dirinya dan bergantian tunduk meminta maaf kepada sang Singa dihadapannya yang kini malah memasang ekspresi pockerface.
"Ya-yaya?"
Gopal mendongak sebentar dan ingin memastikan apakah Yaya masih berada disana. Dan Yaya yang masih setia dengan ekspresinya itu membuatnya bingung. Dan Gopal pun mulai melihat sekeliling dan baru menyadari kalau mereka bertiga kini sedang menjadi pusat perhatian para pelanggan Tok Aba.
"Ada apa ini, kok ribut-ribut?"
Tok Aba tiba-tiba memunculkan diri dari bawah meja tempat Gopal dan Fang menyesap coklat panasnya.
"Oh, Yaya. Kau sudah pulang, mau Special Hot Chocolate?"
Tok Aba yang mengerti dengan suasana tegang ini pun berusaha mencairkan suasana dengan berbasa-basi kepada Yaya. Dan ternyata cara itu berhasil, dan para pelanggannya pun kembali mengerjakan urusannya masing-masing.
"Boleh, Tok."
Yaya yang sekarang sudah menggantikan ekspresi datarnya itu dengan senyuman riang berjalan melewati Gopal dan Fang yang masih melongo karena permintaan maafnya yang tidak direspon sama sekali oleh Yaya.
"Aku sudah dengar penjelasannya kok dari Ying, jadi tenang saja. Dan jangan lakukan itu lagi, aku kan jadi malu."
Yaya mulai menjelaskannya kepada Fang dan Gopal sambil meneguk coklat panasnya. Kedua pemuda itu pun langsung menghela nafas lega dan kembali duduk berdekatan dengan Yaya.
"Lalu, kemana kalian tadi sampai tidak masuk sekolah tanpa keterangan begitu?"
"Ya, kemana lagi kalau bukan menjenguk Boboiboy?"
Sesuai perkiraannya, Fang ternyata memang sedang pergi tadi dan baru kembali beberapa menit yang lalu, begitu juga dengan Gopal.
"Lalu, bagaimana keadaan Boboiboy?"
"Kondisinya sudah stabil, kemungkinan besar perbannya akan dibuka besok atau lusa."
Kali ini Gopal yang menjawab. Yaya pun mengangguk antusias sambil sesekali menyesap coklat panasnya. Mereka bertiga lalu melanjutkan mengobrol dengan topik-topik yang ringan seperti kejadian-kejadian lucu yangterjadi saat kedua pemuda dengan sifat bertolak belakang itu saat keduanya mengunjungi Boboiboy.
Tak terasa, sore hari pun tiba. Saat jam tangan multi-fungsiditangan Fang menunjukkan pukul 4 sore, dia pun pamit kepada kedua sahabat senasibnya itu. Tak lupa pula, kepada Tok Aba dan Ochobot yang sudah menyediakan minuman gratis kepadanya dan Gopal siang tadi.
Saat Fang mulai menjauhi kerumunan orang-orang yang berada disekitar kedai coklat milik Tok Aba, Fang merasa kalau dia kini sedang diikuti. Fang pun mempercepat jalannya dan kemudian berbelok ke kanan saat berada di persimpangan didekat rumahnya dan bersembunyi dibalik dinding.
Dia sesekali mengintip ke balik dinding itu guna mengetahui siapa yang tengah mengikutinya. Dan pada saat itu juga, Fang tiba-tiba merasa ada yang menepuk bahunya dari belakang. Reflek, Fang terlonjak kaget dan mengalihkan pandangannya kebelakang. Alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang barusan menepuk bahunya.
"Hai."
Makhluk aneh dengan separuh tubuh berwarna hitam dan separuh lagi berwarna putih itu menyapa Fang dengan santainya.
"Siapa kau?"
Fang merasa sedikit takut terhadap makhluk di depannya ini. Dia tidak merasa takut akan penamilannya yang agak seram, tetapi dengan aura dan kekuatan dari makhluk itu yang terpancar kuat.
"Namaku Yakari Mogue. Tapi, teman-temanku sering memanggilku Akuma, salam ke..."
"Harimau Bayang."
Fang langsung mengeluarkan serangannya dan memotong perkataan makhluk di depannya begitu menyadari kalau makhluk itu cukup berbahaya dan harus dibinasakan sekarang juga.
"Dasar, ternyata kau bukan orang yang suka berbasa-basi."
Fang sedikit terkejut begitu mengetahui kalau makhluk bernama Yakari itu masih saja santai meskipun serangan Fang hampir mengenainya.
"Black Hole.."
Yakari berujar pelan dan mengangkat tangannya, sebuah piringan berwarna hitam yang semakin bertambah besar beriringan dengan semakin dekatnya serangan Fang terbentuk di telapak tangannya. Piringan besar itu menelan Harimau Bayang Fang hingga tak bersisa.
Fang terkejut dan Yakari pun tertawa melihat reaksi dan ekspresi yang jarang di tunjukkan pemuda berambut ungu kehitaman itu.
"HAHAHA, ini, kukembalikan seranganmu. White Hole."
Fang tidak terlalu mengerti maksud dari perkataan Yakari. Tapi beberapa detik kemudian, dia mendengar suara geraman khas seekor harimau dibelakangnya.
"Cih."
Dengan reflek yang cukup bagus, Fang berhasil menghindari harimau yang ternyata dibentuk oleh dirinya sendiri itu. Namun, saat Fang tengah mendaratkan dirinya setelah melompat cukup jauh tadi, seseorang tiba-tiba berdiri tepat dihadapannya dan kemudian menendangnya dengan keras hingga membuat dinding yang menjadi sasaran mendaratnya Fang kini menjadi retak.
"Uhuk."
Fang memuntahkan darahnya sendiri dari mulutnya dengan paksa.
"Apa itu tadi?"
Fang bertanya entah kepada siapa sambil mengelap beberapa darahnya yang masih tersisa dimulutnya.
"Terkejut bukan?"
Fang tidak bisa melihat jelas siapa yang tengah berbicara dengannya itu karena asap yang mengebul disebabkan oleh beberapa partikel dari dinding yang barusan Fang tabrak, namun, Fang dapat memastikan kalau suara itu adalah milik makluk yang berbicara dengannya beberapa waktu yang lalu.
"Hei, bukankah itu terlalu kasar."
Fang mengernyit heran lantaran mendengar suara lain yang terdengar asing ditelinganya.
"Tak apa kan, lagipula nanti dia juga akan kita hancurkan."
Lagi-lagi Fang mendengar sebuah suara asing yang juga berbeda dari suara yang barusan ia dengar tadi. Dan saat asap mulai menipis, Fang pun bisa melihat beberapa siluet yang tengah mendekati dirinya.
Dan ketika asap sudah hilang total, Fang terkejut ketika menyadari karena kini dihadapannya ada tiga sosok makhluk aneh. Fang bisa mengenali salah satunya sebagai Yakari. Tetapi tidak pada kedua makhluk yang lain.
"Siapa lagi kalian?"
Salah seorang dari ketiga makhluk aneh itu yang mempunyai telinga seperti kucing mentap tajam begitu mendengar pertanyaan ketus yang dilontarkan oleh Fang.
"Kau seharusnya tidak berbicara seperti itu kepada kami, makhluk rendahan."
"Sudahlah, Ryuma. Dia kan hanya ingin tau siapa kita, apa salahnya coba memperkenalkan diri."
Yakari berujar santai sambil mencoba menenangkan makhluk setengah kucing setengah manusia bernama Ryoma yang sepertinya mempunyai tingkat emosi yang tinggi itu.
"Kami adalah pemburu Sfera Kuasa sekaligus penjajah alam semesta, Tengkotak."
Fang terkejut begitu mendengar penuturan dari makhluk yang memakai topeng dengan gambar iblis yang sepertinya berfisik paling mirip dengan manusia yang sedaritadi memilih untuk diam itu.
"Apa maksudmu? Kelompok Tengkotak itu sudah lama kami hancurkan."
"Kelompok Tengkotak yang kalian hancurkan itu hanyalah sekumpulan pecundang berpangkat kadet di pasukan besar kami yang sangat mengidolakan kami."
Fang tidak terlalu mengerti apa maksud perkataan Yakari. Ryoma yang melihat ekspresi bingung Fang itu menggeram kesal.
"Intinya, Tengkotak yang kalian kalahkan itu palsu. Dan kami yang sedang berdiri di hadapan kau inilah yang asli."
Fang terkejut bukan main saat mendengar penuturan ketus dari makhluk bernama Ryoma itu. Fang lalu menggertakkan giginya sambil menautkan alisnya. Ekspresinya tak terlalu kelihatan karena sebagian wajahnya tertutupi oleh poni rambutnya yang tak ia singkapkan.
"Lalu, apa tujuan kalian kesini?"
"Sudah jelas bukan? Tentu saja untuk memburu Ochobot dan mengambil jam kuasa kalian."
Yakari kembali berujar santai. Dan sedetik kemudian, Fang sudah berdiri kembali dan menyiapkan kuda-kudanya untuk melakukan serangannya yang berikutnya.
"Aku mulai muak denganmu. Bisakah kau tidak menyela orang lain yang sedang berbicara?"
Fang sangat terkejut begitu mengetaui kalau kini Ryoma sudah berada dibelakangnya sambil menjulurkan sebuah pisau yang sangat tajam tepat disebelah lehernya dan berucap dengan nada mengancam.
"Tapi... Aku tidak bilang kalau kami akan melakukan itu sekarang. Sekarang kami hanya ingin mendeklarasikan perang kepada kalian, para supehero bumi..."
Fang merasa sedikit lega begitu mendengar penjelasan lanjutan dari Yakari, namun, dia masih penasaran dengan maksud kata-kata akhir dari Yakari itu.
"Persiapkan diri kalian hingga pertarungan itu terjadi."
Itulah kata-kata terakhir dari Yakari sebelum akhirnya menghilang ke balik sebuah piringan hitam yang dia buat sendiri. Ryoma dan sang Topeng Iblis pun mengikuti Yakari dari belakang. Dan sebelum keduanya benar-benar menghilang, tiba-tiba Ryoma memalingkan wajahnya sebentar ke arah Fang dan berujar.
"Pada pertemuan kita yang selanjutnya, kau akan menjadi mangsaku."
Fang tak merespon ucapan dari alien yang bersifat hampir sama dengannya itu. Dia terus menunduk ke bawah sambil mengepalkan tangannya kuat hingga akhirnya piringan yang menjadi sarana trasportasi bagi ketiga alien yang mendatangi Fang itu menghilang.
"Aku harus memberitahu mereka, nyawa mereka dalam bahaya."
Fang pun berbalik arah dan berniat kembali menuju kedai Tok Aba. Dia berharap semoga teman-temannya masih berada disana. Namun, sayangnya harapannya itu tak menjadi nyata. Tok Aba sudah menutup kedainya dan otomatis kedua temannya yang masih disana beberapa menit yang lalu sudah pulang
Sebenarnya, dia ingin menghampiri rumah temannya satu persatu dan memberitahu hal ini. Namun, karena hari ini sudah hampir malam dan juga luka diperutnya yang agak sedikit lebar dan perlu diberikan beberapa perawatan membuatnya memilih untuk memberitahu ketiga temannya itu besok. Dan untuk Boboiboy, begitu dia sadar, Fang akan langsung memberitahunya.
Fang pun kembali berbalik arah dan berjalan pulang menuju rumahnya dengan langkah gontai sambil memegang perutnya yang memar dan terasa sakit. Tanpa dia ketahui, bahwa hari-harinya yang akan dilewatinya selanjutnya akan menjadi sangat suram. Musuh-musuh yang sangat kuat akan berdatangan kepadanya dan menyebabkan kekacauan di bumi, akankah pada saat itu, Fang dan kawan-kawannya bisa menghadapi musuh itu disituasi seperti ini?
TO
BE
CONTINUED
