Title : Love of My Life

Chapter : 2/?

Author : Oh Michele

Cast : Sehun, Jongin, Luhan,etc

Rated : T

Pair : Hunkai

Warning : cerita abal, banyak typo, aneh, yaoi, mpreg, etc.

CHAP 2

Mereka bertiga duduk berhadapan di salah satu meja di café itu. Kai sudah memesankan beberapa minuman untuk mereka. Ia tidak menyangka Nyonya Oh akan mendatanginya setelah sekian lama. Rasanya sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Pasti kali ini ada sesuatu yang penting. Tentang Sehun kah? Apa mereka sudah ketahuan?

Kai melihat sosok Nyonya Oh dan Luhan bergantian. "Apa yang ingin anda bicarakan?"

"Langsung pada intinya. Sudah berapa lama anakku tinggal denganmu?"

Pertanyaan Nyonya Oh sontak membuat Kai terkejut. Ia sedikit gugup namun masih mencoba bersikap sewajarnya. "Saya tidak mengerti maksud nyonya…."

"Jangan berdusta! Apa kau tidak malu merebut suami orang hah?" Ucapan Nyonya Oh sangat menohok hati Kai. Ia masih mencoba bersabar menghadapi orang tua Sehun satu-satunya itu.

"Aku tidak-"

"Apa kau pikir aku akan percaya padamu setelah apa yang sudah kau lakukan? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"

Kai akhirnya memilih untuk menunduk. Percuma saja ia membela diri. Dirinya akan selalu buruk di mata Nyonya Oh.

"Aku sudah bilang bahwa aku tidak akan merestui kalian! Mengapa kau masih saja menggoda Sehun padahal dia sudah memiliki istri?!" Nyonya Oh kini mulai berteriak. Mengundang perhatian orang-orang yang sedang berada di café itu. Juga tidak peduli dengan para pengunjung yang mulai berbisik-bisik.

Luhan langsung memegang tangan ibu mertuanya. "Umma bersabarlah…."

"Tidak bisa Luhan! Dia sudah kurang ajar! Apa yang kau inginkan hah? Uang? Dasar murahan!" teriakan Nyonya Oh semakin menjadi-jadi disertai dengan tamparannya pada pipi Kai. Kai semakin menundukkan kepalanya. Dapat Luhan lihat ada tetesan air yang jatuh dari mata Kai.

"Kau harusnya tau diri! Kau ini siapa hah? Kau hanya anak pelacur yang kotor! Oh…. atau kau ingin menjadi seperti ibumu?! Kau tidak sepadan dengan kami!"

"Umma…." Luhan menyela ucapan mertuanya. Ia rasa ini sudah keterlaluan.

"Jauhi Sehun! Tinggalkan dia!"

Kai segera menghapus kasar air matanya. Kata-kata Nyonya Oh benar-benar menyakitkan. Apalagi Nyonya Oh juga membawa-bawa nama mendiang ibunya. Hatinya sakit. Akhirnya Kai mendongak dan menatap dua orang dihadapannya. Dapat terlihat bahwa wajah Kai semakin tampak pucat. "Baiklah saya akan menjauhi Sehun. Maafkan saya bila telah mengganggu kehidupan kalian. Maafkan aku Luhan-sshi." Ucap Kai lalu kembali menunduk. Ia ingin ini cepat berakhir. Ia sudah lelah sekali. Belum lagi rasa sakit pada kepalanya. Rasanya begitu menyiksa.

"Baguslah! Ku pegang kata-katamu kali ini. Jangan sampai kau melanggar kata-katamu lagi atau kau akan tau akibatnya. Pergilah sejauh-jauhnya dari kehidupan kami!" Nyonya Oh langsung berdiri dan menarik tangan Luhan. "Ayo kita pergi Luhan."

Luhan masih menatap ke arah Kai. Ia merasa bersalah melihat Kai yang masih tertunduk di tempatnya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak berani melawan mertuanya itu. Setelah keluar dari café milik Kai, mereka langsung memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari sana.

"Dia memang pantas diberi pelajaran." Ucap Nyonya Oh di tengah perjalanan.

Tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan dipikiran Luhan. "Sebenarnya Sehun dan Kai sudah sedekat apa?" Tanya Luhan pada mertuanya. Ia penasaran juga. Bagaimana bisa Sehun sampai bertekuk lutut seperti itu pada Kai.

Nyonya Oh menghela nafas. Sebenarnya malas juga membicarakan orang yang dibencinya. Tapi kalau Luhan yang menanyakannya apa boleh buat. "Mereka saling mengenal sejak di universitas. Umma sudah tau semua latar belakang Kai. Awalnya umma pikir mereka hanya berteman. Tapi saat Sehun meminta restu pada Umma untuk menikah dengan Kai, Umma tidak bisa terima. Kai tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Oh. Karna itu Umma tidak pernah menyetujui mereka." Ucap Nyonya Oh menjelaskan.

Luhan mengangguk. Ternyata sudah selama itu. Pantas saja Sehun sangat mencintai Kai. Ia terdiam dan kembali berpikir.

"Ehm Umma…. Turunkan aku disini, aku lupa ada yang harus aku beli." Ucap Luhan tiba-tiba.

"Apa yang mau kau beli Hannie? Apa perlu umma tunggu?" Tanya Nyonya Oh.

"Ah tidak usah Umma. Aku bisa sendiri." Luhan menggeleng sambil tersenyum. Dibukanya pintu mobil dengan cepat.

"Kalau begitu umma akan menyuruh Pak Jung untuk menjemputmu." Luhan hanya mengangguk sambil tersenyum.

OooooO

Luhan berjalan dengan cepat. Untung saja mereka belum jauh dari café milik Kai. Ia ingin bertemu dengan Kai karna perasaannya tak enak. Luhan sangat merasa bersalah padanya. Ia juga ingin meminta maaf pada Kai menyertakan nama mertuanya. Ia membuka pintu café perlahan. Mendapati sosok Kai yang masih duduk ditempat yang sama saat terakhir ia meninggalkan tempat itu. Air matanya seperti mengering. Ia duduk sambil melamun dengan wajah yang sangat pucat. Luhan berjalan mendekatinya.

"Kai-sshi…."

Mendengar sebuah suara memanggilnya, Kai langsung tersadar dari lamunannya dan mendapati Luhan berdiri di depannya.

"Ada apa lagi Luhan-sshi?" ucap Kai dengan nada datar.

Luhan menelan ludahnya kasar. "Ehm sebenarnya aku hanya ingin minta maaf. Maaf kami tadi tidak-"

"Gwenchana" Kai menginterupsi ucapan Luhan.

"Eh?"

"Gwenchana. Nyonya Oh benar. Tidak seharusnya aku mengganggu kehidupan kalian. Mianhae Luhan-sshi. Aku merebut suamimu. Mianhae. Aku yang bersalah jadi kau tidak perlu minta maaf."

Luhan terdiam. Tidak tau harus berkata apa. Bukan ini yang ingin ia dapatkan. Ia hanya ingin mengajak Kai bicara baik-baik dengannya. Melihat Luhan terdiam, Kai langsung berdiri dan berbalik akan meninggalkan Luhan. Luhan langsung tersadar

"Tu…tunggu bukan begitu maksudku a-"

"Bruuuk"

Belum selesai Luhan berbicara, tubuh kurus di depannya sudah jatuh ke lantai. Luhan langsung terkejut.

"Kaaaai…"

OooooO

Luhan bergegas menuju rumah sakit. Untung saja Pak Jung sudah datang menjemputnya jadi ia bisa langsung membawa Kai kerumah sakit. Tubuh Kai tampak sangat lemah. Luhan hanya berharap tak terjadi apa-apa pada Kai. Ia duduk diluar. Menunggu Kai yang sedang di periksa oleh dokter. Ia terus bedoa untuk Kai. Luhan memang tidak bisa melihat orang jatuh pingsan. Ia akan langsung panik dan linglung secara bersamaan. Tak berapa lama tiba-tiba dokter keluar dari ruangan pemeriksaan.

"Dokter apa yang terjadi dengan Kai?" Tanya Luhan tak sabaran.

"Tenang… tenang… kalau boleh saya tau anda siapanya?"

"Ehm saya… temannya." Jawab Luhan setelah sebentar berpikir.

"Oh begitu. Teman anda hanya terlalu lelah dan stress. Itu tidak baik untuk kandungannya."

Mendengar ucapan dokter itu seketika Luhan membeku ditempatnya. Seperti tersambar petir. Dadanya terasa sesak.

"Di…. Dia hamil?" Luhan bertanya dengan terbata dan di jawab anggukan oleh dokter itu.

"Benar. Dia hamil. Sudah 1 bulan lebih. Apa dia tidak tau?" Tanya dokter yang memerikasa Kai.

Luhan hanya menggeleng. Bukan Kai yang tidak tau. Tapi dirinyalah yang tidak tau. Ternyata Kai dan Sehun sudah sejauh itu.

"Boleh saya menemuinya?" Luhan berucap pelan.

"Tentu saja. Mungkin sebentar lagi dia akan siuman."

Luhan langsung membungkuk tanda terima kasih dan segera berjalan menuju ruangan Kai. Ia masuk dengan pelan. Air matanya hampir jatuh saat melihat Kai yang masih tak sadarkan diri. Kai tampak kurus dan sangat lelah. Ia jadi semakin merasa bersalah. Kai pasti sudah banyak menderita. Tiba-tiba Kai mengerutkan keningnya. Sepertinya sebentar lagi ia akan siuman. Luhan buru-buru menghapus air matanya yang tak sengaja menetes. Kai membuka matanya perlahan. Mencoba membiasakan cahaya yang masuk kedalam matanya.

"Akhirnya kau siuman…." Luhan tersenyum kearah Kai. Walaupun senyum itu sedikit dipaksakan.

Mendengar suara seseorang, Kai langsung menoleh ke samping.

"Aku dimana?"

"Kau tadi pingsan. Dan sekarang kau sedang berada di rumah sakit."

Kai mengangguk. Pantas saja ia merasa kepalanya berat sekali. Astaga rasanya mau pecah saja kepalanya. Itu benar-benar menyiksa Kai.

"Ah iya. Ada yang harus aku katakan…." Ucap Luhan.

Kai mengalihkan pandangannya pada Luhan. Tidak ada niat untuk menjawab. Ia menunggu Luhan melanjutkan kata-katanya.

"Dokter yang memeriksamu mengatakan…"

Kai menelan ludah. Ia merasa tenggorokannya kering saat mendengar Luhan berbicara.

" Kau sekarang sedang hamil 1 bulan lebih."

Kai langsung membulatkan matanya. Ya Tuhan…. Bagaimana bisa? Ia mengacak rambutnya frustasi. Mengapa begitu banyak yang menimpanya hari ini?

"Brengsek…."

Kejadian ini terulang lagi. Mungkin jika Sehun adalah suaminya dia akan senang sekali mendengar ini. Tapi kenyataannya? Sehun belum menjadi miliknya. Apalagi ia malah mendengar kabar mengejutkan ini dari istri Sehun. Ah ia benar-benar pusing. Kai merasakan kepalanya kembali dihantam bertubi-tubi.

Luhan menatapnya khawatir. Mungkin Kai sedang banyak pikiran sekarang. Labih baik jangan mengajaknya bicara tentang masalah lain. Tak berapa lama tiba-tiba Kai terdiam sebentar kemudian menjadi panik.

"Jam berapa sekarang?"

Luhan terkejut dan langsung mencari ponsel dalam tasnya.

"Sekarang jam 3 sore. Ada apa?" Tanya Luhan.

Kai langsung kebingungan. "Aku harus pergi. Aku harus menjemput Baekhyun." Ia langsung turun dari tempat tidurnya. Tubuhnya sedikit oleng, untung saja Luhan segera menangkapnya.

"Tu…tunggu Kai kau masih lemah. Kau harus istirahat." Luhan mencoba menahan tangan Kai dan langsung di tampik oleh Kai.

"Tapi aku harus segera menjemput Baekhyun ini sudah terlalu lama."

Luhan sedikit bingung. Namun segala pertanyaan yang berputar dalam otaknya segera ia tepis. Ia berpikir sepertinya ini keadaan yang genting dan bukan saatnya untuk bertanya macam-macam. "Baiklah aku akan mengantarmu."

OooooO

Luhan terkejut. Kai memintanya mengantar kesebuah taman kanak-kanak yang sudah sangat sepi. Begitu sampai, Kai langsung turun dan bergegas menuju ke dalam bangunan itu. Luhan mau tidak mau ikut berlari mengejarnya. Sampai di pintu masuk, terdengar suara tangisan yang sangat kencang. Kai yang berdiri disamping Luhan langsung berlari kearah anak lelaki yang sedang menangis histeris memanggil ummanya.

"Ummaaaaa…."

"Baekki…. Umma sudah datang. Jangan menangis lagi ne?" Kai menggendong Baekhyun dan mencoba menenangkannya.

Batin Luhan bergejolak "Umma? Jangan-jangan ini…."

"Umma jahat…huks…. Kenapa lama sekali huaaaa….."tangisan Baekhyun semakin menjadi-jadi.

"Mianhae…. Maafkan Umma ne? Umma janji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan menangis baby…."

Baekhyun meronta-ronta minta dilepaskan. "Tidak mau! Umma jahat! Baekki mau Appa huwaaaaa…."

Mendengar Baekhyun meminta Appanya hati Kai serasa teriris. Ia mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. Entahlah ia merasa sedih sekali sekarang. Tanpa sadar air matanya menetes. "Mianhae… Mianhae…"

Luhan terdiam di tempatnya. Menemukan satu lagi fakta dalam kehidupan Kai. Bahwa Kai dan Sehun bahkan sudah memiliki anak. Ia ingin menangis tapi air matanya bahkan tak bisa keluar. Ia terlalu terkejut melihat pemandangan di hadapannya ini. Terjawab sudah semua pertanyaannya. Pantas saja ia tidak pernah bisa menggantikan posisi Kai dihati Sehun. Ternyata Sehun sudah memiliki keluarga kecil ini. Bahkan mungkin sebelum menikah Kai yang merebut Sehun darinya, tapi dialah yang menjadi penghalang mereka. Luhan jadi semakin bersalah dan merasa bodoh. Ia selalu berpikir bahwa ia adalah yang menderita dalam kehidupannya. Tapi setelah melihat semuanya,ternyata dialah yang membuat orang lain menderita. Baru sehari ia bersama Kai tapi sudah begitu banyak hal yang mebuatnya menjadi peran antagonis dalam kehidupan Kai, apalagi berhari-hari? Mungkin dia akan menjadi manusia jahat.

TBC