PARALLEL UNIVERSE
Cast :
Youngjae (B.A.P)
Daehyun (B.A.P)
Vernon (Seventeen)
Jongup (B.A.P)
Zelo (B.A.P)
Minhyuk (BTOB)
Dan cast lain yang akan muncul adalah OC
Previous Chapter
Terdengar suara ledakan keras. Reflek, laki-laki berambut hitam di depan Youngjae memeluknya. Kepulan asap muncul tak jauh dari mereka.
"Daehyun, lebih baik kita kembali ke tempat kita. Disini terlalu berbahaya." intrupsi laki laki berambut kemerahan.
"Kau baik-baik saja kan ? Bisa berjalan ?." Daehyun nama laki laki berambut hitam itu menuntun Youngjae agar berdiri.
"kemana ?" tanya Youngjae yang masih tidak mengerti.
"Ketempat yang lebih aman." jawab Daehyun.
Chapter 2
Youngjae tak bergerak dari tempatnya. dua orang yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya berhenti. Kemudian menghampirinya lagi.
"kenapa hanya diam. Ayo." Daehyun mencoba meraih tangan Youngjae. Tapi dengan cepat laki-laki manis itu menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.
"aku tidak tahu ini dimana dan aku tidak mengenal kalian berdua. Jadi kenapa aku harus ikut kalian." Kata Youngjae.
"di tempat ini kita tidak bisa berkeliaran sembarangan. Itu sangat berbahaya." Sahut laki-laki berambut kemerahan.
"Minhyuk benar. Untuk saat ini kita ke tempat yang lebih aman dulu." Kata Daehyun.
Youngjae memandang mereka berdua bergantian.
"aku tidak akan-"
SYUUT
Kalimat Youngjae terhenti. Dia menegang. Baru saja satu anak panah melesat melewati dirinya. beberapa senti lagi anak panah itu pasti akan menancap di kepalanya.
Minhyuk dan Daehyun saling berpandangan. Dan tanpa berkata lagi, Daehyun kembali meraih tangan Youngjae. Memaksanya ikut berlari dari sana. Melewati bangunan-bangunan rusak.
Youngjae hanya mengikuti kemana mereka berlari. Pikirannya belum bisa bekerja kembali karena kejadian yang hampir membuat nyawanya melayang barusan.
Mereka berhenti setelah berlari cukup jauh. Minhyuk menoleh ke belakang memastikan sudah tidak ada yang mengejar mereka.
Entah karena stamina kedua laki-laki itu yang kuat atau Youngjae yang lemah karena hanya nafas Youngjae yang tersengal. dia terduduk di tanah.
"aku sudah tidak bisa berlari lagi." Keluhnya. "kenapa berlari dalam mimpi terasa sangat melelahkan." sambungnya dengan gumaman.
"tempat kita sudah dekat." Daehyun berjongkok membelakangi Youngjae. "ayo naik ke punggungku."
"a-apa. Tidak, aku masih bisa berjalan." Tolak Youngjae lalu berdiri.
Mereka kembali berjalan masih melewati bangunan-bangunan rusak. Hingga sampai di salah satu bangunan rusak.
Rusak karena sudah lama di tinggalkan, bukan karena di hancurkan seperti bangunan-bangunan yang lain. Letaknya hampir masuk ke dalam hutan.
Seorang laki-laki tinggi datang dari samping bangunan dan segera menghampiri mereka.
"hyung darimana ? kita semua mencari kalian." Kata laki-laki berbadan tinggi.
"kita hanya ingin melihat keadaan sekitar. Dimana yang lain ?." jawab Minhyuk.
"mereka di dalam."
Kemudian Minhyuk meninggalkan mereka bertiga.
"Zelo. Tolong obati dia." Ujar Daehyun pada laki-laki tinggi itu sambil menunjuk Youngjae.
Zelo memperhatikan Youngjae dan tersenyum.
"aku baik-baik saja." Kata Youngjae.
Daehyun menghela nafas kemudian mengangkat tangan kiri Youngjae. Menunjukan luka yang ada di telapak tangannya.
Mata Youngjae membola. Bahkan luka di telapak tangannya masuk ke dalam mimpinya. Ini seperti nyata.
Zelo mengajak Youngjae ke belakang bangunan. Dia menyuruh Youngjae untuk duduk di sebuah kayu tumbang yang ada disana sementara dirinya memetik beberapa daun tanaman yang tumbuh disana.
Laki-laki manis berbadan tinggi itu meremas beberapa daun hingga hancur sebelum mengoleskannya pada luka Youngjae.
"siapa namamu ?. aku Zelo." Zelo bertanya sekaligus memperkenalkan diri.
"Youngjae." Jawabnya pelan.
"jika dilihat, aku lebih muda darimu. Boleh aku memanggilmu hyung. Aku yang paling muda dari mereka."
"terserah kau saja. Tapi, mereka yang kau maksud siapa ?."
Zelo tampak berpikir. "hyung-hyung ku dan nuna."
Zelo mengeluarkan sebuah kain panjang dari sakunya kemudian melilitkan pada telapak tangan Youngjae.
"ini akan sembuh besok." Zelo meniup pelan telapak tangan Youngjae.
Laki-laki manis itu tertawa karena perlakuannya. Zelo pikir, Youngjae anak kecil ?.
"Zelo. Ini sebenarnya dimana ?." tanya Youngjae. Sedari tadi hanya itu yang berputar pada kepalanya.
"Decastria. Apa hyung bukan berasal dari sini ?."
"aku berasal dari Seoul."
Zelo memiringkan kepalanya tampak bingung, dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Telihat begitu menggemaskan.
"Seoul ? aku belum pernah mendengar itu."
"aku juga belum pernah mendengar Decastria." Jawab Youngjae.
Zelo memperhatikan Youngjae kemudian tertawa. Di dunia ini apa ada orang yang tak mengenal sebuah negeri bernama Decastria ?.
"hyung, jangan bercanda."
"aku tidak bercanda." Ucap Youngjae tak terima. "lalu, apa yang telah terjadi disini ? tempat ini begitu suram, aku merasa tak nyaman."
"ini sudah terjadi berpuluh tahun yang lalu sejak Dantalion menguasai negeri ini."
Youngjae mengerut. Siapa lagi Dantalion ?.
"Zelo."
Seorang laki-laki berambut kebiruan datang mengintrupsi mereka.
"jika sudah selesai. tolong bantu aku mencari kayu bakar." Ujar laki-laki itu.
"aku sudah selesai." Jawab Zelo. "ah, Jongup hyung tidak ingin berkenalan dengannya." Sambungnya.
"Daehyun hyung sudah menceritakannya. Tapi dia tidak tahu namanya." Jawab Jongup.
"namanya Youngjae. Tapi sepertinya kita lebih muda darinya jadi hyung juga harus memanggilnya hyung." Jelas Zelo.
"begitukah."
Youngjae terdiam memperhatikan mereka bergantian.
"ayo cepat. Sebelum Sera nuna memarahi kita." Ujar Jongup.
Zelo mengangguk. "Youngjae hyung ayo masuk ke dalam."
.
.
.
Matahari sudah tenggelam dari beberapa jam yang lalu. Di salah satu ruangan yang ada di dalam bangunan itu hanya di terangi dengan cahaya bulan.
Youngjae terus berjalan mondar mandir mengelilingi ruangan itu, mengeratkan blazer seragam sekolahnya karena angin yang menusuk, masuk melalui lubang besar yang ada di salah satu sisi dinding. Dia mengacak rambut coklatnya kasar.
"sebenarnya mimpi seperti apa ini. Kenapa panjang sekali." Gerutunya frustasi.
"bangun Youngjae-ah. Bangun." Youngjae menepuk nepuk pipinya sendiri. Dia terduduk di sebuah kursi kayu usang disana.
Sebuah ide terlintas di benaknya. lampu tak kasat mata seperti muncul di atas kepalanya.
"apa aku harus tidur dulu ?. Begitu terbangun mimpi ini pasti sudah berakhir. Ya, begitu."
Dia mulai memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.
"Youngjae."
Dengan mata yang masih terpejam Youngjae mengerut tak suka. Seseorang sedang mengganggu usahanya.
"Youngjae." Orang itu kembali memanggilnya.
Youngjae membuka matanya, seketika dia terdiam.
"kau-"
Laki-laki berambut pirang yang sempat menolongnya saat dia terjatuh, berada di hadapannya.
"kenapa kau masuk ke dalam mimpiku juga." Youngjae terheran.
"mimpi ? ini bukan mimpi." Laki-laki itu mencubit pipi Youngjae keras.
Laki-laki manis itu mengaduh kesakitan.
"apa yang kau lakukan ?." Youngjae protes dengan mengusap-usap pipinya.
"bukankah seperti itu cara orang-orang di duniamu untuk membuktikan mimpi atau bukan ?."
"jadi, maksudmu ini bukan mimpi ?." ucap Youngjae tak percaya.
Laki-laki itu mengangguk. "pertama, biarkan aku memperkenalkan diri. Aku Vernon. Yang bertanggung jawab membawamu kemari."
Youngjae menggeleng keras. "tidak tidak. Ini pasti mimpi. kau sedang bercanda."
"tidak Youngjae. Kau sedang tidak bermimpi. Kau benar-benar berada disini. Decastria."
Youngjae kembali mengacak rambutnya kasar.
"kalau begitu disini bumi bagian mana ?."
"kau sedang tidak di duniamu. Mungkin kau bisa menyebut ini dunia kedua."
Youngjae menghela nafas kasar. saat ini dia di antara percaya dan tidak percaya.
"lalu untuk apa aku disini ?. hah ?. kau bilang, kau yang membawaku kemari. Kenapa ? kenapa kau membawaku kemari ?."
"aku membutuhkanmu. Tidak, dunia ini membutuhkanmu." Jawab Vernon pelan pada kalimat terakhirnya.
"aku tidak peduli itu. Sekarang bawa aku kembali."
"aku tidak bisa."
"kenapa tidak bisa. Bagaimana caramu membawaku kemari ?."
"dengan darahmu melalui buku itu. Dan agar kau bisa kembali-"
"buku ?." gumam Youngjae pelan. Dia sudah tak mendengarkan Vernon. Pikirannya sedang melayang jauh.
Apa buku aneh yang dia ambil di perpustakaan itu ?. lalu, bagaimana Vernon mendapatkan darahnya adalah saat dia menolongnya.
Youngjae mendesah pelan dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"untuk saat ini. Tetaplah bersama para Knight. Kau akan baik-baik saja." Ujar Vernon.
Setelah itu hening. Tak terdengar suara lagi, kecuali dedaunan yang saling bergesekan karena di tiup angin.
Youngjae menurunkan tangannya. Vernon sudah menghilang, meninggalkan beberapa kelopak mawar biru di bawah kakinya. Dia menatap kelopak mawar itu yang kemudian perlahan mulai menghilang.
"ternyata kau berada disini, aku mencarimu kemana-mana."
Daehyun datang menghampirinya, Youngjae bergeming.
Laki-laki tampan itu berjongkok, mensejajarkan dirinya di depan Youngjae, agar bisa melihat wajah laki-laki manis yang sedang menunduk di depannya. Kedua tangannya ia letakan di kedua sisi kursi kayu itu. Mereka hanya saling memandang, meski tak begitu jelas karena gelap.
"Zelo bilang namamu Youngjae. Aku Daehyun. Laki-laki berambut kemerahan yang berasamaku tadi Minhyuk. Kau pasti sudah bertemu dengan Jongup." Kata Daehyun.
Dia tersenyum kemudian berdiri karena Youngjae tak memberikan tanggapan apapun.
"ayo. ini sudah waktunya makan malam. Yang lain juga pasti sudah menunggu." Ajak Daehyun.
Youngjae memegangi perutnya saat Daehyun mengatakan makan malam. Cacing di perutnya tiba-tiba bernyanyi. Karena begitu sibuk memikirkan jika ini mimpi, hingga dia melupakan untuk makan.
Dia mengikuti Daehyun, berjalan di belakangnya. Menuju halaman luas di depan bangunan itu. Disana sudah ada tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan yang duduk di depan sebuah api unggun. Daehyun dan Youngjae bergabung dengan mereka.
Minhyuk memberikan ikan bakar yang di tusuk dengan ranting pohon pada Youngjae.
"terima kasih." Ucap Youngjae dan mulai memakannya.
"Youngjae. Dia Sera." Daehyun yang duduk di depannya memperkenalkan gadis yang berada di samping laki-laki tampan itu.
Gadis berambut hitam panjang, matanya bewarna coklat. Dengan jubah merah marun yang di kenakannya semakin menambah cantik parasnya.
Youngjae hanya tersenyum sementara Sera menatapnya tak suka.
"kau tampak seperti manusia biasa." Ujar gadis itu.
"aku memang manusia biasa." Jawab Youngjae acuh.
Sera berdecih kemudian menoleh pada Daehyun. "kenapa kau harus membawanya kemari."
"Bukankah itu memang tugas kita." Daehyun memandang gadis itu tak mengerti.
"tapi tidak membawa orang sembarangan."
"apa maksudmu ? aku menemukannya pingsan disana. itu pasti akibat ulah orang suruhan Dantalion. Tugas kita adalah melindungi orang-orang dari Dantalion. Jangan lupakan itu Sera."
"kita tidak pernah membawa orang yang kita tolong kesini, Daehyun."
Youngjae terlihat tak peduli dengan dua orang di depannya yang sedang memperdebatkan dirinya. Dia tampak begitu menikmati makanannya.
"Youngjae. Besok pagi aku akan mengantarmu. Kemana kau akan pergi ?." kata Daehyun kemudian, mengakhiri perdebatannya dengan Sera.
"ye ?." Youngjae menggaruk tengkuknya yang tak gatal, terlihat bingung. "aku tidak tahu."
"lalu kenapa hyung bisa sampai disini ?." tanya Jongup.
"itu aku juga tidak tahu. Ah, kalian para Knight apa juga berasal dari suatu tempat lalu terseret kemari ? apa dengan darah, kalian memberikan jiwa kalian pada buku itu ?."
Kalimat panjang Youngjae membuat para Knight saling berpandangan heran.
"bagaimana bisa kau tahu jika kami Knight ?" tanya Daehyun.
"Vernon memberitahuku. Apa kau tahu bagaimana caranya keluar dari sini ?. Aku sangat ingin keluar dari sini."
Daehyun terhenyak.
"Vernon ? dia siapa ?." tanya Minhyuk.
"Beberapa saat yang lalu dia menemuiku. Apa kalian tak mengenalnya ?. aku kira dia juga bagian dari kalian."
Kecuali Daehyun, keempat Knight itu memiliki pemikiran yang sama saat ini. Bagaimana orang itu menemui Youngjae disini ?. daehyun telah menggunakan kekuatannya agar tempat ini tak terlihat oleh siapapun kecuali seizinnya.
"kapan dia menemui hyung ?." kali ini Zelo yang bertanya. Youngjae sudah mulai merasa tak nyaman. Dia merasa seperti sedang melakukan interview.
"tepat sebelum daehyun datang, dia menghilang-." Youngjae menjeda kalimatnya untuk mengingat apa yang begitu mencolok pada Vernon. "saat dia menghilang- dia meninggalkan kelopak mawar biru."
Daehyun segera berpindah duduk di samping Youngjae kemudian menatap lekat pada manik indahnya. Sementara yang lainnya hanya saling memandang tak mengerti.
"kau orang yang yang di kirim langit." Kata Daehyun kemudian.
"ye ?." Youngjae mengerjap-ngerjapkan matanya. Apa yang sedang di katakan laki-laki tampan di depannya ini.
"ikut aku." Daehyun menarik tangan Youngjae memaksanya untuk berdiri dan mengikutinya masuk ke dalam bangunan itu.
Sera ikut berdiri hendak menyusul mereka, tapi Minhyuk segera mencegahnya.
"lebih baik kita tetap disini."
Daehyun membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan gelap. Dia menjentikan jarinya, dengan seketika beberapa lilin yang ada disana terbakar api. Membuat ruangannya menjadi terang.
Di depan mereka terdapat satu peti berukuran sedang. Daehyun membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa pedang dan sebuah buku bersampul beludru bewarna hitam.
Youngjae membelalak. Ini adalah buku yang di ambilnya dari perpustakaan. Dia segera mengambilnya, memperhatikan dengan seksama buku itu.
"apa buku itu yang kau maksud ?." tanya Daehyun.
Youngjae mengangguk. Dia membuka bukunya secara acak. "tapi saat itu disini ada beberapa tulisan. Tapi kenapa ini tak ada tulisan apapun."
"apa tulisannya ?."
"aku tidak ingat. Apa jika ingin kembali harus dengan buku ini juga ?."
"kau sudah memberikan jiwamu. Jadi untuk apa kau ingin kembali."
"aku tidak pernah memberikan jiwaku pada siapapun." Youngjae meninggikan suaranya.
Daehyun tersenyum. Apa laki-laki manis ini marah ? tapi, kenapa terlihat begitu menggemaskan.
"ini pasti akan segera berakhir." Kata Daehyun pelan.
Daejae
Di tengah banyaknya bangunan rusak di negeri itu, berdiri sebuah mansion. Meski tampak megah, bangunan mewah itu terasa begitu kelam.
Di salah satu ruangan yang ada di dalamnya, tampak seorang lelaki berdiri di depan jendela besar. Parasnya, begitu mirip dengan Vernon. Hanya saja yang membedakan adalah surainya yang bewarna abu-abu.
"apa kau sudah menemukan mereka ?." ujarnya, begitu dia merasakan seseorang tengah berdiri tak jauh di belakangnya. Dia menduga salah satu orangnya.
"apa kau belum menemukan mereka ?." sahut seseorang yang berdiri di belakangnya itu.
Laki-laki yang saat ini menjadi penguasa Decastria itu menyeringai, sebelum dia berbalik.
"aku senang kau berkunjung, adikku. Vernon."
Dua saudara itu hanya saling menatap.
"kenapa kau masih melindungi para Knight ?." ujar Dantalion memecah kesunyian ruangan itu. "bergabunglah bersamaku dan serahkan keempat Knight itu padaku. Maka kita sama-sama akan menerima kekuatannya. Dan aku juga akan mengembalikan kekuatanmu." Lanjutnya.
"kita adalah dua sisi yang berbeda. Aku harapan dan kau kehancuran." Jawab Vernon.
Dantalion tampak tak suka dengan ucapan saudaranya. Dia menatap Vernon tajam.
"itulah kenapa aku membunuh ibu. Dia selalu mengatakan jika aku adalah kutukan. Dan aku tidak menyukainya." Dan seketika dia merubah ekspresinya menjadi seperti biasa, dia tersenyum. "kau tinggal menunggu. Aku pasti akan mendapatkan mereka sebelum gerhana."
"aku akan menghentikanmu."
Dantalion tertawa kencang, hingga menggema ke seluruh ruangan.
"apa kau sudah menemukan gadis itu dan kau sudah mendapatkan pedangnya ? tanpa keduanya, kau tidak akan bisa menghentikanku."
Laki-laki bersurai abu-abu itu melangkah mendekati Vernon.
"bahkan dia lebih memilih membunuh dirinya sendiri. Dari pada bersamamu." Dantalion berbisik pelan. Seketika Vernon terhenyak.
"kau bisa kembali setelah mendapatkan keduanya. Aku akan menunggumu untuk menghentikanku." Ujar Dantalion sebelum menghilang dari hadapan Vernon. Meninggalkan beberapa kelopak mawar bewarna hitam.
Vernon masih berdiri pada tempatnya. matanya menatap nanar ke depan. Yang di katakan Dantalion memang benar. tapi, mungkin dia masih memiliki harapan.
.
FLASHBACK
Di malam musim panas, seorang wanita berusia tiga puluhan, duduk di sebuah halte. Di dalam gendongannya seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang tertidur.
Halte tampak begitu sepi, karena bis yang akan datang setelah ini adalah bis terakhir.
Tak lama bus yang dia tunggu datang, penumpangnya tak begitu banyak. Dengan menggendong anaknya, perempuan itu duduk di barisan depan.
Dia dan anaknya baru saja pulang dari mengunjungi makam suaminya. Ayah dari anak semata wayangnya yang meninggal dua tahun lalu.
Setelah melewati beberapa halte, bus itu akhirnya berhenti di halte dekat rumahnya. Dia turun dengan pelan, takut jika akan membangunkan anaknya.
Perempuan itu berjalan menyusuri jalanan area perumahan yang sudah sepi. Hanya beberapa lampu yang menyala membuat jalannya sedikit gelap.
"Suyeon." Suara seorang laki-laki memanggil namanya terdengar dari belakang.
Perempuan itu berhenti, lalu berbalik. Dia menenggelamkan wajah anaknya di balik dadanya. Dia tahu siapa yang memanggilnya.
"kenapa kau masih datang menemuiku. Sudah ku bilang jangan menemuiku lagi." Ujar Suyeon pelan.
Laki-laki berambut pirang dengan mengenakan pakaian khas bangsawan eropa di depannya itu berjalan mendekatinya.
Suyeon semakin memeluk anaknya erat.
"bagaimana aku bisa melakukan itu. Kita terikat."
"aku tidak peduli itu." Suyeon menjawabnya cepat.
"sampai sekarang aku masih menunggumu. Ikutlah denganku. Kau akan mendapat keabadian itu. Bahkan kau bisa memilih kematianmu."
Suyeon tersenyum, dia menatap laki-laki di depannya. "Vernon. Aku memohon padamu. Ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Juga, jangan pernah temui anakku lagi." Dia berucap pelan sebelum kembali berjalan menuju rumahnya.
.
Suyeon meletakan anaknya pelan ke atas tempat tidur. Membetulkan posisi tidurnya senyaman mungkin kemudian menyelimutinya.
Dia tersenyum, mengusap pelan kepala anaknya.
"Youngjae-ah. Kau harus berjanji pada eomma, harus selaly hidup dengan bahagia." Ucapnya lembut kemudian mengecup keningnya lama.
Suyeon beranjak dari sana, menoleh pada anaknya sebentar sebelum menutup pintunya pelan.
"Suyoung-ah." Dia memanggil adiknya yang sedang berada di depan tv.
"aku akan pergi. Tolong jaga Youngjae. Dia sedang tidur sekarang." Suyeon berpesan.
"eonni mau kemana ? baru saja pulang sudah pergi lagi ?."
"aku pergi dulu." Tanpa menjawab adiknya, Suyeon berpamitan.
.
Angin berhembus tenang di atas sebuah jembatan, menerbangkan helaian rambut panjangnya.
Suyeon berpegangan pada pagar pembatas di belakangnya. Di bawahnya adalah sebuah sungai yang begitu tenang, tapi dia tak pernah tahu seberapa dalam sungai itu.
Dia mendongak menatap langit. "bahkan tanpa menerima keabadian itu aku tetap bisa memilih kematianku."
Lalu, tiba-tiba buliran air matanya jatuh membasahi pipi lembutnya.
"maafkan eomma Youngjae-ah." Ucapnya di sela tangis.
Dia berusaha tersenyum untuk menghentikan tangisnya sebelum melepaskan pegangan tangannya.
Suara gemeriak air terdengar, tubuhnya jatuh bebas ke dalam sungai.
Sesaat setelah itu, Vernon tiba-tiba datang. Dari atas jembatan dia menatap sungai di bawahnya.
Satu persatu air matanya berjatuhan. Kejadian 15 tahun lalu yang membuat dia dan perempuan itu terikat sudah berakhir hari ini. Tapi, cintanya tidak akan pernah berakhir.
.
.
.
Daejae
.
.
.
TBC
Balasan Review :)
Sooya : Yehee :D ini sudah di lanjut. Terima kasih sudah review :)
Daejae24 : sudah di lanjut hhehe. Terima kasih sudah review :)
Cito : masih berasa doang kan hehehe,, gak mirip sama anime apa gitu ? soalnya aku gak tahu. Belum pernah nonton anime T.T makasih udah review :)
Jung rae gun : dia bukan Daehyun, tapi sekarang udah tau kan dia siapa kekekek~ ini cast nya bukan BAP X GOT7 sih. Mungkin mereka Cuma bakal jadi temen yjae di dunianya hhaha. Makasih ya sudah review :)
Dan terima kasih yang sudah follow dan favorite :)
