Ehem ehem... yosh. Baiklah, saya selaku Author yang paling tidak bertanggung jawab, telah kembali setelah sekian lama menelantarkan fic ini. Maaf karena lama updatenya. Itu karena saya kepincut sama fandom sebelah.
Warning : OOC, Typos, dan teman²nya
Gintama milik : © Sorachi Hideaki
The Journey of Love : © Hiria-ka
Douzo~
Chapter 2
ˁˀ GinHiji ˁˀ
Hijikata membuka matanya perlahan. Ia tersentak saat mengetahui bahwa ia berada di dalam sebuah jeruji besi. Kedua tangannya terkunci oleh borgol berantai yang menggantung di dinding belakangnya. Pergelangan tangannya terasa sakit. Bagaimana tidak? Selama ia tak sadarkan diri, ia sudah diborgol oleh pemimpin Kiheitai itu. Ia bahkan tak tahu berapa lama dirinya berdiri selama ia pingsan. Wakil komandan itu pun mengedarkan pandangan buramnya ke sekelilingnya. Ruangan itu— Penjara bawah tanah lebih tepatnya, hanya di terangi oleh beberapa lentera yang cahayanya redup. Dan juga bau anyir darah yang terus menyeruak pada indera penciumannya.
Drap... Drap... Drap...
Hijikata mengangkat kepalanya saat mendengar langkah kaki yang ia perkirakan lebih dari satu orang. Wakil komandan shinsengumi itu menajamkan indera pendengarannya, matanya terpejam karena menurutnya hal itu hanya akan sia-sia. Percuma saja memaksakan bola matanya untuk melihat tempat yang penerangannya kurang dan cahaya lampu yang remang-remang. Merasa derap langkah itu semakin dekat dengannya, Hijikata menegakan tubuhnya. Seakan bersiap untuk menghadapi apapun masalah yang akan datang meskipun ia sadar bahwa tak ada yang bisa ia lakukan dengan kondisi mengenaskan seperti ini.
"Iblis wakil komandan shinsengumi yang terhormat, Hijikata Toushirou"
Suara berat dari seseorang yang sudah dikenali oleh Hijikata langsung membuatnya membuka mata dan dengan cepat menatap tajam sosok pria dengan kimono ungu di luar jeruji. Pria dengan perban yang membalut sebelah matanya itupun tengah menyeringai lebar kearahnya, dibelakangnya tampak terdapat sekelompok orang yang juga ikut menatapnya seperti sebuah objek pameran yang di pajang dalam penjara.
"Bansai, berikan kuncinya padaku"
Hijikata dapat melihat bahwa Takasugi membuka sel penjara itu dan melangkah masuk mendekatinya dengan senyum sadis, yang tak pernah luput dari wajah pemimpin Kiheitai itu. Itu adalah senyum yang menakutkan. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa dirinya seperti dikuliti hidup-hidup hanya dengan memandang wajahnya saja. Bahkan Hijikata mengakui kalau dirinya sempat gentar saat bertatapan dengan si bajingan licik itu.
"Khukhu.. sudah sepenuhnya terbangun dari tidur panjang mu, Wakil komandan Hijikata... -kun?" Takasugi meraih dagu Hijikata dan mendekatkan wajah pria tak berdaya itu padanya, namun Hijikata segera menghentakan wajahnya.
"Jangan berani menyentuhku. Jika kau ingin membunuhku, maka cepat lakukanlah!"
Takasugi melebarkan seringaiannya. "Huh, jadi.. beginikah sikap keras kepala dari Iblis Wakil komandan shinsengumi?"
Hijikata tak menjawab. Ia hanya diam menatap lekat-lekat pria lain di depannya dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan bahwa dirinya benar-benar sudah siap untuk mati. Sebaliknya Takasugi selaku pemimpin dari kelompok Kiheitai itu juga dapat melihat tak ada rasa takut pada kematian dari kilatan mata pemuda berparas indah didepannya, yang memang benar apa adanya pantas mendapat julukan iblis shinsengumi.
Menyeringai. Pemimpin Kiheitai itu menyeringai. Entah mengapa ia merasa sangat tertarik dengan pria tangguh di depannya ini.
"Tapi sayangnya, aku tak akan semudah itu membunuhmu. Wakil komandan Hijikata-kun..."
Secepat kilat tangan Takasugi menyuntikan sebotol kecil cairan berwarna hijau pada leher Hijikata. Membuat wakil komandan itu terkejut dan memberontak. Tapi sayang Hijikata tak bisa mengelak karena cairan sialan itu telah terlanjur masuk kedalam kulitnya hanya dengan sekali tekan.
"—Kau! Apa yang ka—" rasa kantuk dan pusing luar biasa tiba-tiba menyerang kepala Hijikata. "Te-teme..." itu adalah kata-kata terakhir darinya sebelum ia memejamkan mata sepenuhnya.
"Bawa dia ke ruangan ku" titah Takasugi pada Bansai yang langsung mengangguk cepat lalu melepaskan rantai yang memborgol sang tahanan.
Gintoki melompat ke atas kapal besar milik teman lamanya— Sakamoto, dan berlari terburu-buru seperti orang kesetanan. Ia juga menerobos beberapa orang yang tengah sibuk mengangkat barang, membuatnya menerima cacian dan makian yang terlontar dari beberapa orang yang terkena musibah olehnya. Tapi pemuda silver itu tidak mempedulikan mereka sedikit pun dan terus berlari memasuki ruang inti di kapal itu.
"HOI! SAKAMOTO BRENGSEK! CEPAT KELUAR KAU!" teriaknya— sangat tidak sopan— seraya menebaskan pedang kayunya pada apapun yang 'menurutnya' menghalangi jalannya. Pikirannya benar-benar sedang kacau. Seluruh akal sehatnya sekarang sudah diselimuti oleh amarah yang luar biasa dahsyatnya. Itu bermula pada siang tadi, saat ia sedang mendapat sebuah pekerjaan dari seorang paman botak yang untuk kesekian kalinya menyuruhnya memperbaiki atap rumahnya.
Flashback
Gintoki tengah terfokus pada pekerjaannya. Saat ia tengah memaku sebuah papan penyangga di pinggir atap, dirinya dikejutkan oleh si bocah sadis sialan yang tiba-tiba muncul di belakangnya dan membuatnya tak sengaja memaku ibu jarinya sendiri.
"Yoo~ Danna.."
"Ouch! Kau! Anak sadis sialan! Ada urusan apa kau kesini?!" Gintoki meniup ibu jarinya yang bengkak serta berasa berdenyut.
"Santai, Danna.. aku kemari hanya ingin menyampaikan perintah dari Kondou-san"
Gintoki mengerutkan alisnya menatap Sougo. Si bocah sadis itu pun melanjutkan kata-katanya. "Kondou-san meminta, agar kau menemuinya di markas, sekarang. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu"
Tanpa peduli dengan semua omongan yang telah disampaikan oleh si bocah sadis, Gintoki pun melanjutkan pekerjaannya. "Huh? Gorilla-san ingin bicara denganku? Sepertinya hari ini aku tidak bisa, kau lihat sekarang aku sedang bekerja kan, Okita-kun~" ucapnya malas.
"Tapi Danna, Kondou-san bilang ini penting" Sougo menimpalinya dengan malas sembari meniup permen karetnya.
Merasa si Kapten divisi satu yang sering mengganggu Hijikata-nya itu tak kunjung pergi dari sana Gintoki pun menghentikan aktifitasnya sejenak "Apa hal itu sebegitu pentingnya sampai kau tidak juga pergi dari sini, Okita-kun... "
Gelembung permen karet Sougo pun meletus "Mm... tidak juga.. bagiku" jawabnya malas sambil mengunyah permen karet yang masih betah berada dalam mulutnya.
Mendengar itu pun pembuluh vena disekitar pipi Gintoki mencuat karena kesal. "Kalau begitu, pergilah dari hadapanku kuso gaki" geramnya menahan marah sambil melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda.
"Tapi... Kondou-san bilang ia ingin meminta bantuanmu untuk menyelamatkan Hijikata-san... yang telah tertangkap oleh musuh..."
BAM
Untuk yang kedua kalinya jempol berharga milik Gintoki terkena hantaman palu yang amat keras. Tapi, bukannya berteriak kesakitan Gintoki malah terdiam mencerna kata-kata si pangeran sadis.
"APA?! SIAPA YANG MELAKUKANNYA?!"
Dan barulah ia sadar setelah lima detik berlalu. Tak lupa si pemuda silver itu juga turut menarik kerah baju si kapten divisi satu shinsengumi dengan tak elitnya sampai si pangeran sadis itu sedikit terangkat. Dan dapat terlihat dengan jelas kalau wajah Shiroyasha tampan itu tengah dipenuhi oleh urat-urat kekesalan karena marah. Hal itu malah mengundang Sougo jadi ingin memanas-manasinya akibat reaksi berlebihan yang di timbulkan oleh Gintoki hanya karena mendengar kabar buruk yang menimpa Hijikata.
"Ohh.. sebenarnya aku malas mengatakannya—"
"CEPAT KATAKAN! OKITA-KUN! ATAU KAU INGIN MATI SEKARANG!?"
Omongan Sougo terpotong dan langsung diam seketika saat melihat Gintoki sudah memegang palu yang di arahkan kekepalanya sambil melotot untuk meminta penjelasan cepat.
"Tenang Danna.. tenang... mm.. yah... mungkin kau mengenalnya. Dia adalah pemimpin Kiheitai"
DEGH
Pemuda silver pun terdiam kehabisan kata-kata.
"Tidak mungkin... Takasugi.."
Tiba-tiba saja Gintoki segera melepaskan Sougo dan menjatuhkan palunya sembarang. "OI! PAMAN BOTAK! MAAF AKU BELUM MENYELESAIKANNYA! AKU ADA URUSAN! DAN INI LEBIH PENTING DARI UANG BAYARANMU!" Ia melompat turun kebawah meninggalkan sougo yang sudah terbengong heran dibuatnya. Tersadar akan tujuannya kesini pun Sougo sontak berteriak memanggil si bos Yorozuya itu.
"DANNA! KAU MAU KEMANA? BAGAIMANA DENGAN—"
"Bilang pada Gorilla, aku akan pergi menyelamatkan Hijikata sendirian"
Lagi-lagi Sougo di buat heran olehnya. "Heh.. sepertinya ini akan jadi menarik, Hijikata-san"
End of Flashback
"Oi, Oi, Kintoki! Tenangkan dirimu, kau tidak perlu mengamuk di kapalku" Sakamoto pun datang dari arah belakang Gintoki bersama Mutsu. Dan Gintoki yang sudah menemukan orang yang sedari tadi ia cari langsung saja menyambarnya.
"Oi! Matsumoto teme! Kau pasti tahu dimana keberadaan Takasugi saat ini kan?! Cepat katakan padaku!" tukasnya dengan nada menuntut seraya menyambar kerah Sakamoto dengan geram.
Sedangkan pria keriting dengan kacamata hitam bulat itu hanya bisa gemetaran sekaligus gugup saat disergap tanpa sebab oleh teman lamanya yang pernah mendapat julukan iblis putih itu.
"A-Ahahahahaha... sa-sabar sedikit, Ki-Kintoki... Ahahahaha... dan lagi.. namaku bukan Matsumoto! Ahahahahahah!—"
—BUAGH
"Aku tak bisa sabar sekarang"
Melihat bosnya terkapar karena Gintoki, Mutsu pun segera memapah Sakamoto untuk berdiri.
"Oi kau!" panggil Gintoki pada Mutsu yang langsung menatapnya horror karena melihat wajah berurat Gintoki yang tengah menyeringai menahan kesal. "Kau pasti tahukan, dimana keberadaan partner bisnis kalian, Kiheitai...?" lanjut Gintoki dengan geraman penuh penekanan. Nampaknya ia sudah seperti orang yang sangat gila. Membuat Mutsu hanya dapat mengangguk kaku karenanya.
Kepala yang masih terasa berat dan sedikit pusing membuat wakil komandan itu susah untuk sadar sepenuhnya. Dengan bersusah payah ia menopang tubuhnya untuk bangun dan mendudukan diri di tempat tidur entah milik siapa yang Hijikata sendiri pun tidak mau tahu. Wakil komanandan itu pun menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya.
Samar-samar karena pandangannya masih buram. Hijikata melihat sesosok pria dengan kimono ungu yang ia yakini adalah si bajingan Takasugi.
"Kuso..." rintihnya saat mencoba untuk berdiri tapi gagal karena rasa nyeri menyerang kepalanya tiba-tiba.
Sosok yang diketahui adalah pimpinan kelompok Kiheitai itu pun melangkahkan kakinya mendekati Hijikata yang masih memegangi kepalanya karena nyeri. Tiba-tiba saja pemimpin Kiheitai itu mendorong tubuhnya yang masih terduduk di pinggir ranjang hingga terbaring dan segera menimpanya.
Hijikata yang merasa pandangannya sudah kembali normal pun langsung panik mengetahui posisi mereka. 'Apa maksudnya?' Pikirnya akan tindakan Takasugi. Ia bisa melihat seringaian menghias wajah mafia tampan itu.
"Heh.. Kurasa akan lebih menyenangkan bila menunggu mu bangun, Fukuchou no Hime..." desisnya di samping telinga Hijikata yang langsung membuat wakil komandan itu bergidik.
"Apa maksudmu? Bajingan!"
Tak mau diam, akhirnya Hijikata pun mendorong Takasugi menjauh darinya, namun akibatnya ia merasa kepalanya kembali berdenyut saat mencoba untuk bergerak lebih.
Pemimpin Kiheitai itu tertawa senang melihat Hijikata tak bisa berkutik akibat efek samping dari obat yang ia berikan.
"Fufu.. ini benar-benar buruk..." Takasugi kembali mendekat sembari mengambil sebotol wine yang sudah terbuka. "Minumlah... sepertinya kau akan membutuhkan ini" tawarnya pada Hijikata. Tapi wakil komandan itu langsung menepisnya dan berusaha bangkit berdiri, mencoba memukul Takasugi yang jelas saja tidak berhasil karena kepalanya masih terasa berat. Akibatnya, ia malah terkunci oleh pemimpin Kiheitai yang berhasil melipat kedua tangannya kebelakang lalu menghempaskannya ke ranjang tanpa melepaskannya.
"Heee...? Iblis wakil komandan memang sangat keras kepala rupanya"
Hijikata membeku, ketika merasa leher belakangnya yang sedikit terekspose di jilat oleh Takasugi. Ia juga bertambah panik saat si bajingan Kiheitai itu mulai melucuti jas Shinsenguminya, yang kemudian di lilitkan pada tangannya yang masih terkunci.
"Apa mau mu brengsek? Jika kau memang ingin membunuhku, cepatlah! Apa kau tidak punya keberanian untuk membunuh seseorang hah?!" lontar Hijikata marah, yang malah membuat seorang Shinsuke makin menyeringai.
"heh... Begitukah maumu, Fukuchou-san? Tapi kurasa, aku tak ingin membunuhmu..." satu tangan nakal Takasugi mulai menyelinap kedalam kemeja putih Hijikata. Meraba kulit halus yang selama ini di sembunyikan oleh sang wakil komandan yang katanya adalah Iblis ganas di Shinsengumi.
"O—Oi! Apa yang kau— m!" Hijikata terdiam memejamkan matanya dan menahan suaranya agar tidak keluar saat Takasugi membelai lembut puting susunya.
"Ku pikir.. kau terlalu menarik untuk dibunuh begitu saja... khukhu... bagaimana kalau kau menjadi tempat untuk bibit-bibit keturunanku hmm?" Takasugi pun meminum wine yang 'mencurigakan' di dekat meja kecil disamping ranjang tanpa menelannya.
"Jangan main-main kau— mgbh!" dengan cepat pemimpin Kiheitai itu membungkam bibir seksi yang sedari tadi kerap menggodanya. Hijikata melebarkan matanya ketika tahu Takasugi tengah mencekokinya wine melalui ciuman paksa itu. Tapi tentu saja Hijikata tidak akan semudah itu mau menelannya.
Namun dengan kurang ajar sentuhan lembut lagi-lagi membelai area sensitif di sekitar dadanya membuatnya tersedak dan mau tak mau harus meminum cairan alkohol itu dari mulut seorang bajingan, yang mungkin akan ia benci seumur hidupnya.
Seorang pria dengan rambut silver keriting alami terlihat sedang memporak porandakan semua isi kapal yang ada disana dengan wajah dan aura yang sangat murka, entah apa sebabnya. Sedangkan sang pemilik kapal yang terkena imbas kesialan oleh Gintoki hanya bisa mengucurkan air matanya dengan deras karena tak bisa melawan sang Shiroyasha yang tengah naik pitam.
"OOOOIIIIIIHHH~! Kin—Maksudku— Gintoki! Kumohon jangan hancurkan kapal berharga ku ini... ahahahahuhuhu... Mutsuu... tolong hentikan dia huaaa..." Sakamoto memeluk asistennya yang hanya dapat menghela napas pasrah akan kehancuran yang terjadi di kapal mereka. Masalahnya, ia sudah berkali-kali mencoba menenangkan si rambut putih ubanan keriting itu, tapi tetap saja nihil.
"Um.. Sakata-san—"
"UGRAAAAAAA! KENAPA KAPAL GEMBEL BRENGSEK INI JALANNYA LAMBAT SEKALI HAAAAHH?! BAHKAN KURA-KURA PUN MUNGKIN LEBIH CEPAT DARI INI! SIALAAAAANN!"
"Um... Maaf Sakata-san, tapi ini memang sudah dalam kecepatan penuh"
"KECEPATAN PENUH APANYA?! BAHKAN DENGAN LARI PUN AKU BISA MENEMPUH RATUSAN KILO METER DALAM WAKTU SATU MENIT!"
Twittch!
Mutsu yang mendengar kelebaian dan kesombongan Gintoki pun menjadi jengkel dibuatnya.
"Kalau begitu, kenapa kau tak lari saja Sakata-san? Bukankah kau sudah tahu tempat tujuan mu" Sindirnya yang ternyata berhasil masuk pada otak bodoh Gintoki.
"Benar juga" Gintoki menepuk kedua tangannya dengan satu tangan terkepal. "Baiklah kalau begitu, aku akan berlari saja! Terimakasih atas tumpangannya Tatsuma!"
Mutsu dan Sakamoto hanya bisa memasang wajah datar saat Gintoki melompat turun dari kapalnya dan mendarat di kapal lain yang ada di bawah mereka seterusnya seperti itu, sampai ia benar-benar menginjakan kaki di bumi dan berlari kearah yang di tujunya.
"Kenapa tidak dari tadi saja kau mengatakan itu padanya, hiks.. Mutsu! ahahahaha! Gintoki memang bodoh!"
Mutsu hanya bisa mengangkat bahu dengan wajah datar sambil membatin dongkol 'Kalian berdua sama saja bodohnya'
Entah mengapa Hijikata merasa tubuhnya panas seperti terbakar. Dan ia juga merasa lebih sensitif ketika Takasugi menyentuhnya. Ia menolehkan kepalanya kebelakang, menatap tajam pada Takasugi yang masih asyik menikmati punggung indahnya yang kini sudah terbebas dari kemeja putih yang membungkusnya. Ia benar-benar merasa terpojok. Tak bisa berbuat apa-apa.
"Pa-panas... hah.. apa yang telah kau berikan padaku, bajingan!" keluh Hijikata dengan perasaan yang sangat dongkol.
Takasugi menyeringai melihat wajah pria tampan di depannya sudah sangat merah "Fufu.. sudah mulai bereaksi rupanya, huh?"
Pemimpin Kiheitai itu pun langsung menggigit lekuk antara leher dan bahu Hijikata sekencang-kencangnya, membuat si wakil komandan sedikit merintih.
"Keparat..." Hijikata menghentakan bahunya membuat Takasugi melepaskan gigitannya.
"Masih saja mencoba menolakku bahkan setelah obat itu bereaksi huh? Aku tahu kau sudah dimiliki oleh Shiroyasha. Samurai pengangguran yang tidak berguna dan hanya menjadi parasit bagi dunia. Sungguh sulit di percaya bahwa Iblis wakil komandan seperti mu memilih orang seperti itu" Takasugi kembali melanjutkan aksinya dengan menikmati leher jenjang Hijikata.
"Heh... seharusnya kau bercermin terlebih dahulu sebelum menghina orang yang lebih baik dari mu! tak sadarkah kau, kalau dirimu sendirilah yang menjadi parasit bagi dunia"
Pemimpin Kiheitai itu tiba-tiba saja membalik Hijikata menghadapnya dan merebahkannya dengan kasar. Tidak begitu sulit karena kedua tangan pemuda itu masih terkunci oleh lilitan jas dan juga pakaiannya.
"Aah.. kau memang sangat pintar wakil komandan-san... itulah mengapa kau sangat menarik. Dan pantas untuk menjadi kelinci percobaan ku. Fufu.."
"Apa maksudmu bajingan? Dari pada menjadi kelinci percobaan mu lebih baik aku mati! Cepat bunuh aku sekarang juga!"
Mafia tampan itu menyeringai lalu mendekatkan wajahnya pada Hijikata.
"Fu... sudah kubilang, Fukuchou no Hime... mulai sekarang aku tak akan membiarkan mu mati. Karena kau akan menjadi tempat bagi bibit-bibit ku nanti. Tak akan ku biarkan kau mati begitu saja tanpa sepengawasan ku"
TBC
Balasan review buat anon, yang login cek PM ^^d:
BlackJewels :: haha. Iya ini udah di lanjut. Maaf lama T_T yang penting udah wajibkan... hehe
Yuzu-ka :: iya ada. ^^ tunggu aja ya
Kiryuu Risalatus :: uwaah.. makasih ^^ padahal ini fic abal banget. Iya ini udah dilanjut kok^^
Irgill cruch :: hahaha... maaf ya ga bisa update kilat... semoga ini bisa membantu^^.
Hana Masami :: haha... iya emang bukan. Ini GinHiji. Lagi juga aku lebih suka Hiji di jadiin uke^^ iya ini ada mpregnya kok sabar ya^^ ikuti aja alurnya dulu^^ haha.. penasaran ya? Oke deh. Aku kasih bocoran buat kamu yang telah penasaran^^ kynya Hijikata bakal punya anak dari mereka berdua tuh^^ hyahahaha! #Authorbejat#
byunchan :: iyaaaa byunchan^^ ini udah aku lanjut^^
Amatsuki :: okee. Ini udah. Tunggu lagi ya^^
Gokurou :: Aaaaaaa! Iya! Maaf ya^^a udah nelantarin fic ini. Makasih udah menunggu^^
reza rizky :: a... ano... kamu cowo? Kyaaahhh... ga nyangka ada fudan! Horayy! Ini udah ku lanjut kok. Maaf udah buat menunggu ya^^
jameela :: ahahaha... maaf maaf... maafkan daku si author tak bertanggung jawab ini T_T makanya ini udah ku lanjut kok... maaf ya kalo updatenya lama. Sumimasen...
Terimakasi banyak buat yang udah bersedia mereview di fic gajeba ini ^^ sampai jumpa di chap depan~
