Title: The Dark Encounters
Rating: T
Pairings: Ita/Saku, minor Naru/Hinata, minor Sasu/Ino
WARNING: Heavy angst, kekerasan di beberapa chapter. Hampir tidak ada (atau memang tidak ada?) lelucon sama sekali.
DISCLAIMER: Seandainya saja aku punya Naruto. Setiap hari aku bangun pasti aku bakal menggodain Naruto yang jadi adikku. Setelah siap ke kampus, bakal di antar sama Kakashi yang jadi sopir pribadiku, dan di kampus aku bakal hang out sama Itachi yang boyfriend-ku. Yah karena aku cuman bisa mengkhayal, makanya serial Naruto bukan milikku. Tapi plot cerita ini emang hasil pemikiranku loh. I own the plot!
Summary: Sakura menemukan sosok Itachi yang terluka dan dikejar-kejar oleh musuh terbaring di tanah. Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan membiarkannya atau dia akan menolongnya meskipun hal itu akan menyebabkan Sasuke membencinya seumur hidup? AU, ItaSaku.
Author's Note: Kalian pasti kaget betapa cepetnya aku update! Hmm… chapter ini kelihatannya aku banyak hal yang tidak kurencanakan sebelumnya. Tadinya aku tidak mau menulis flashback kejadian yang menimpa Itachi… tadinya sih maunya cuman dijelaskan secara pendek saja. Tapi kelihatannya flashback ini penting juga yah… makanya akhirnya kutulis juga Yah aku senang juga kok menuliskannya. Bagian dengan Sakura berikut ini juga kupikir cukup menarik… Mereka memulai hubungan mereka dengan perseteruan dan ketegangan! Hmm, daripada kalian membaca omonganku yang bacot dan nggak penting, kenapa kalian tidak langsung membaca ceritanya saja? Selamat menikmati m( )m
Chapter Two: Scarlet –Kimi no Iro-
Langit sore memerah… seolah terbakar oleh bara api yang tak terlihat. Pantulan warna dan permainan cahaya meninggalkan bekas rona di awan yang menggumpal di langit… perlahan-lahan menarik semuanya ke dalam kegelapan yang siap menyambut dengan tangan terbuka. Uchiha Itachi memandangi warna merah yang indah itu. Meskipun dia sering dikatakan tidak memiliki perasaan oleh orang lain, tapi dia bisa menghargai keindahan. Dia mengagumi indahnya senja merah membara seperti halnya dia mengamati darah merah yang menetes dari tubuh yang merenggang nyawa. Indah… paling indah saat menjelang akhirnya….
Merah…. Betapa indahnya merah itu….
Merah seperti anggur yang memabukkan, merah seperti api yang membara dengan semangat hidup, merah seperti tetesan darah yang mengalir di dalam setiap pembuluh darahnya, merah seperti warna mata mangekyou sharingan-nya….
"Sedang apa?" Tanya sebuah suara memecah kesunyian.
Itachi tidak menjawab. Matanya masih terpaku memandang senja yang perlahan-lahan memudar di khatulistiwa. Pertanda bahwa kuasa siang telah menghilang untuk digantikan oleh kuasa malam yang mencekam.
Pemilik suara tadi hanya menghela napas panjang dan mulai menyibukkan dirinya menyiapkan api unggun untuk menerangi gelapnya malam yang akan tiba. Tidak lama kemudian, aroma ikan bakar memenuhi udara. Di dalam hutan, beberapa ekor binatang mengangkat hidungnya dan mengendus-endus udara penuh pengharapan.
Setelah jejak-jejak cahaya merah terakhir hilang di balik pepohonan, Itachi perlahan-lahan membalikkan badannya untuk melihat Hoshigaki Kisame yang sedang mengangkat ikan bakar ke mulutnya untuk dimakan, tapi berhenti sejenak karena menyadari tatapan Itachi.
"Itachi, aku menangkap ikan tadi saat sedang mengumpulkan kayu bakar. Aku juga menangkap beberapa untukmu. Makanlah," sahut Kisame sambil menunjuk dua ekor ikan bakar yang masih tertancap pada kayunya di atas api unggun.
"Hn." Hanya itu respon yang diberikan Itachi ketika dia berjalan mendekati kehangatan api unggun, duduk menyeberangi Kisame, meraih salah satu ikan bakar dan makan dalam kesunyian.
"Ya, sama-sama." Kisame bisa mengartikan setiap respon yang diberikan Itachi, sependek apapun, menjadi kalimat-kalimat panjang. Kali ini dia mengartikan "Hn" dari Itachi menjadi "Terima kasih telah memberikanku makanan, Kisame-sama yang paling hebat keren dan tampan sedunia. Kamu sangat mengagumkan sampai sempat memikirkan makan malam sementara aku hanya berdiri seperti patung sambil melihat senja seperti orang tolol." (AN: maaf! Maksudnya ini menurut Kisame loh… jangan pukuli aku! Kyaaa… (lari sambil dikejar-kejar fans Itachi yang memegang sapu) Maafkan akuuuu… sumpah aku berpendapat kalau Itachi yang sedang mengamati senja itu cool dan keren! Bukannya kelihatan tolol! Sumpah!) Yah sebenarnya arti yang sesungguhnya tidak seperti itu, tapi setidaknya Kisame benar soal Itachi berterima kasih padanya.
"Kenapa hari ini kamu lebih pendiam dari biasanya?" Tanya Kisame ketika mereka sudah menghabiskan makan malam mereka. Kayu yang tadinya digunakan untuk menusuk ikan panggang itu dilemparkannya ke api unggun yang menyambar bahan bakar tambahan itu dengan rakus.
"Langit."
"Apa maksudmu?"
"Langit senja kali ini… semerah darah…."
Itachi dan Kisame saling bertukar pandangan penuh arti. Mereka berdua merasakannya sampai ke sum-sum tulang mereka yang paling dalam bahwa bahaya sedang mendekat. Bahaya yang mengintai dari balik pepohonan di malam yang gelap mencekam…. Merayap dengan pelan namun pasti ke arah mereka….
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Mereka sudah terkepung. Itachi dan Kisame berdiri saling membelakangi sehingga kedua punggung mereka bersentuhan. Ada apa dengan orang-orang ini? Mereka seolah tidak ada habis-habisnya…
Dengan ngeri Kisame menyaksikan orang yang baru saja ditebas lengannya sampai putus oleh Kisame yang menggunakan pedang Samehada-nya bangkit lagi dan ikut bertarung tanpa memperdulikan darah yang menetes dari lengannya yang sudah lepas.
Orang-orang ini… monster… mereka bukan manusia…
Seolah menjawab pertanyaan Kisame, suara tawa yang dingin dan kejam bergema di tengah kelebatan hutan. "Aaa… jadi kamu menyadarinya, Kisame-kun? Lama tidak berjumpa, ya… Terakhir kali kau mencoba membunuhku ketika aku berkhianat pada organisasimu yang menyedihkan itu."
Mata Kisame menyipit dengan marah. Di sebelahnya, Itachi menunjukkan reaksi dengan menaikkan bahunya sedikit. Mereka berdua memandang pemilik suara itu yang berdiri di atas cabang pohon tak jauh di depan mereka. Orochimaru. Namanya saja sudah membuat Kisame ingin meludah ke atas tanah.
"Kalian menyukai ciptaan terbaruku?Aku menyebutnya 'sentient zombie'. Memang jenius ya? Menciptakan virus yang mengendalikan pikiran manusia hidup… merusak otak mereka secara permanen dan menjadikan mereka seperti mayat hidup. Tapi mereka lebih berguna dari mayat hidup karena mereka tidak membusuk sampai habis, dan mereka masih bisa menggunakan jurus mereka. Bahkan mereka tidak memiliki kelemahan teknik Edo Tensei yang dapat dikalahkan dengan merusak segel yang ditempelkan pada bagian tubuh. Mereka juga tidak mengenal rasa takut maupun rasa sakit… Tahu bagian yang paling hebat? Mereka tidak bisa berkhianat karena mereka tidak mempunyai kesadaran sendiri."
Kisame mengepalkan tinjunya dengan marah. Hal yang diperbuat oleh Orochimaru sudah diluar batas-batas kemanusiaan. Bahkan dirinya yang dikenal sebagai pembunuh dan selalu mencari pertarungan sebagai jalan hidup tidak akan melakukan perbuatan serendah itu. Orang itu… dia adalah iblis!
Itachi memandang Orochimaru dengan tatapan tanpa emosi. Baginya tidak ada masalah dengan hal yang dilakukan Orochimaru… semua adil dalam perang… semua adil asal demi memperoleh kekuatan yang lebih… Tapi sekarang bagaimana agar mereka dapat keluar dari sini hidup-hidup untuk melaporkan perkembangan yang cukup mengejutkan ini pada Pemimpin Akatsuki?
Kemudian Itachi menyadari satu hal. Tidak mungkin mereka bisa keluar dari sini berdua. Satu orang di antara mereka harus mati di sini. Itachi melihat ke arah Kisame yang sibuk memelototi Orochimaru. Sayang… padahal kita sudah berpetualang bersama sampai sejauh ini… sepertinya sudah saatnya kita berpisah jalan…
Pemikiran Itachi dipecahkan oleh tawa Orochimaru yang dipenuhi oleh niat jahat. "Sudah cukup obrolan kita sampai di sini. Itachi-kun, Kisame-kun, senang berbicara dengan kalian lagi tapi sudah saatnya kalian mati. Pasukanku, serang mereka!"
Dengan perlahan, pasukan shinobi berani mati itu mendekati dan mengelilingi kedua anggota Akatsuki. Ekspresi wajah mereka yang kosong seolah lebih mengancam dari ekspresi sadis maupun marah dari manusia normal.
Dengan teriakan perang dari Kisame, pertarungan dimulai. Itachi dan Kisame bergerak dengan harmonisasi yang sempurna oleh pengalaman bertahun-tahun bertarung bersama. Kerja sama tim mereka sangat sempurna dan mereka berdua bisa menutupi celah pertahanan masing-masing dan saling membantu menyerang musuh yang ada di depan mata mereka.
Selama mereka bertarung dan membunuh ratusan pasukannya, Orochimaru hanya berdiri diam dan mengamati pertarungan dari atas pohon. Ketika jumlah pasukannya perlahan-lahan semakin menipis, Orochimaru kehabisan kesabaran dan dia menembakkan ular dari mulutnya, dan dari mulut ular itu keluar pedang Kusanagi yang ditujukan tepat ke arah Kisame.
Kisame tidak mempunyai waktu untuk bereaksi karena segalanya sangat tidak disangka-sangka.
Semuanya seolah membeku dalam waktu. Di depan Kisame berdiri Itachi. Pedang Kusanagi menusuk perutnya sampai menembus punggungnya. Darah berceceran membentuk kolam kecil di sekeliling tubuh Itachi.
Orochimaru tertawa, kemudian dia menarik keluar Kusanagi dari perut Itachi dengan suara daging tersayat yang menjijikkan. Itachi berdiri dengan sedikit goyah. Sebelah tangannya memegangi lukanya dan darah mengucur dari ujung bibirnya.
"Hoo… kenapa kamu menyelamatkan Kisame, ne Itachi-kun? Apa kamu ternyata memang memiliki perasaan peduli terhadap temanmu ya?" desis Orochimaru yang jelas-jelas senang dengan perkembangan yang tidak terduga ini.
Itachi hanya memandang dengan pandangan tanpa emosi sebelum berbicara, bukan menghadap Orochimaru, tetapi kepada Kisame.
"Kisame, aku akan tetap tinggal di sini dan menahan mereka. Salah satu di antara kita harus melakukannya karena tidak mungkin kita bisa keluar dari sini hidup-hidup berdua. Dengar Kisame, setelah keluar dari sini, kamu harus secepatnya melaporkan kejadian ini kepada Pemimpin kita. Mengerti?" kata Itachi dengan cepat dan serius. Matanya menatap tajam kepada Kisame. Dari nada bicaranya terdengar jelas bahwa perkataannya tidak bisa dibantah.
Kisame menatap Itachi dengan ekspresi tidak percaya. Benarkah Itachi rela mengorbankan nyawa untuknya? Atau lagi-lagi dia hanya menjalankan tugas seperti biasanya? Tapi di tengah pemikirannya dia sempat melihat orang di belakang Itachi melempar kunai ke arah punggung Itachi yang tidak terlindungi.
Dengan menggeram, Kisame menarik tubuh Itachi ke samping dan menangkap kunai itu dengan giginya yang tajam seperti ikan hiu. (AN: mirip Zabuza… ya seperti itu…) Di sebelahnya, Itachi yang terengah-engah kelihatan heran kenapa Kisame belum pergi juga.
Kisame kemudian berbalik menghadapi Itachi dan tersenyum mengejek. "Itachi, kau bahkan tidak bisa mempertahankan dirimu sendiri. Bagaimana kau bisa bertahan sampai bantuan datang?" Bantuan takkan pernah datang… setidaknya sebelum terlambat… "Lebih baik aku saja yang tinggal di sini dan menahan mereka." Jangan mati, hidupmu masih panjang… Dengan kata-kata itu, Kisame merenggut kerah jubah Itachi dan melemparkannya keluar dari kerumunan.
Seolah dalam gerakan diperlambat, pada saat jatuh Itachi melihat Kisame yang tersenyum, dan kemudian sosoknya tidak terlihat lagi dibalik kerumunan pasukan yang langsung mengerubunginya.
(AN: tidak ada yang yaoi dengan hal itu. Semata-mata pertemanan belaka lah yaw )
.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Itachi terbangun oleh sinar matahari yang menerangi bagian dalam gua. Dia membuka matanya perlahan-lahan karena silau, mencoba mengenali lingkungan di sekitarnya. Dia berada di sebuah gua yang tidak pernah dia masuki sebelumnya. Tiba-tiba, dia merasakan hembusan napas yang hangat di lehernya. Dia berpaling ke samping hanya untuk menemukan Sakura tertidur tepat di sampingnya. Wajah mereka hanya terpisah jarak beberapa inchi. Matanya melebar karena terkejut. Siapa gadis berambut pink ini? Kepalanya sakit ketika dia mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Kisame di tengah-tengah lingkaran pasukan shinobi… darah… dia berdiri terpaku di sana sementara semua sosok itu berpaling ke arahnya…
"ARRGGGGHHHHH!" suara teriakan bergaung di telinganya, suara teriakannya sendiri. Mangekyou sharingan menyala dan berputar cepat di dalam matanya. Rasanya panas… seolah-olah seluruh tubuhnya terbakar… Sepasang tangan yang lembut meraih kedua bahunya dan mengguncang-guncangkannya agar sadar dari kejang yang dialaminya saat itu. Akhirnya Itachi tersentak sadar, Mangekyou Sharingan perlahan-lahan menghilang meninggalkan Itachi terengah-engah dan berkeringat dingin. Itachi akhirnya mengangkat wajahnya dan memandang tatapan khawatir dan tidak percaya yang menodai mata hijau zamrud itu. Setelah beberapa waktu berlalu, dia mulai menyadari posisinya yang memalukan. Dengan cepat, dia menepis tangan Sakura dari bahunya dan menatap Sakura dengan tatapan penuh niat membunuh. Gadis yang ada di hadapannya kelihatannya terluka oleh tindakannya. Sekarang, dia bisa mengingat kejadian semalam dengan jelas.
"Kenapa kamu masih ada di sini?" sahut Itachi dengan nada yang dingin. Ada petunjuk mengenai kecurigaan di dalam suaranya. Sakura tidak menjawab dan hanya menatap Itachi dengan wajah serius dengan ekspresi yang sulit dibaca. Itachi mempercayai Kisame, dia rela mempercayakan nyawanya pada Kisame. Jelas dia tidak mempercayai gadis berambut pink yang baru ditemuinya ini. Tanpa menunggu jawaban dari Sakura, dia melanjutkan dengan nada dingin mengancam, "Pergi sekarang juga, kalau kau masih sayang nyawamu."
"Tidak!" jawaban yang keluar dari mulut Sakura itu benar-benar spontan dan tidak mungkin sudah disiapkan sebelumnya. Wajahnya diwarnai oleh perasaan yakin dan percaya diri. "Aku adalah seorang medic-nin tersumpah. Aku sudah disumpah untuk menolong orang-orang yang terluka dan membutuhkan perawatan. Kamu terluka, dan aku berkewajiban untuk menolongmu."
Itachi tidak mempercayai pendengaran dan penglihatannya. Gadis ini… gadis ini berani menentang perintah langsung darinya… meskipun dengan ancaman akan dibunuh? Itachi memandang pada lautan hijau mata Sakura. Entah mengapa, dia merasakan kebencian yang amat sangat mengalir di seluruh pembuluh darahnya. Mata itu…. Mata yang tidak kenal takut itu… dia membencinya dengan sepenuh hatinya… (AN: alasannya ada di masa lalu Itachi…)
Tanpa sadar seolah tersihir, Itachi menjulurkan tangannya dan melingkarkan jari-jarinya di sekeliling leher Sakura dan mulai meremas dengan sekuat tenaga. Sakura merasakan tekanan dari jari-jari tangan Itachi yang menyempitkan saluran pernapasannya dan dia mulai berontak untuk dapat bernapas. Kedua tangannya berusaha melonggarkan pegangan Itachi pada lehernya dengan tanpa hasil. Akhirnya, Sakura kehilangan tenaga dan kedua tangannya tergolek lemas di samping tubuhnya.
Apakah semuanya hanya sampai di sini saja? Sakura menatap wajah Itachi yang tanpa emosi dari balik kelopak matanya yang setengah tertutup. Tidak! Aku harus hidup… aku harus hidup karena ada yang menungguku pulang di Konoha… aku tidak akan mati seperti ini… Aku menolak untuk mati dengan cara ini! Dengan gemetaran, Sakura mengumpulkan seluruh tenaganya pada tangannya, dengan seluruh semangat hidup yang dimilikinya untuk menggapai ke dalam kantong kunainya. Dia menggenggam sebuah kunai dan dengan tangan yang gemetar dan susah payah, menusukkannya ke tangan Itachi yang mencekik lehernya.
Itachi memandang mata hijau Sakura yang pada saat itu terlihat sudah menyerah, hilang harapan dan putus asa. Sepertinya dia diam saja menunggu ajal menjelang. Tapi kemudian, dengan cepat api semangat hidup menyala kembali di matanya. Itachi tidak berbuat apa-apa ketika gadis itu menusukkan kunai ke tangannya dan dia melepaskan cekikannya, membuat Sakura terjatuh ke tanah, terengah-engah sambil memegangi lehernya dan mundur sampai membelakangi dinding gua. Itachi menyalahkan luka pada perutnya yang menyebabkan pegangannya melemah, dan bukannya perasaan aneh yang mengatakan bahwa dia seharusnya mengampuni nyawa gadis yang sudah menolongnya itu.
Sambil menatap mata Sakura yang masih tidak terfokus, Itachi berkata dengan tanpa emosi, "Kau beruntung, aku sedang tidak ingin bermain-main. Sekarang kau tahu bahwa aku serius bahwa aku akan membunuhmu. Pergi sebelum aku berubah pikiran."
Sakura menatap Itachi dengan tatapan tidak percaya. Banyak pikiran yang berlari di dalam benaknya. Apa yang tadi Itachi coba lakukan? Apakah dia serius ingin membunuh dirinya? Tapi… niatnya untuk membantu Itachi tulus dan dia sudah mengorbankan segala kemungkinan untuk bisa bersatu dengan Sasuke demi menolong Itachi. Apa sebenarnya Itachi tidak pantas ditolong dan sebaiknya dia pergi saja? Tapi, melihat Itachi, Sakura tidak tega untuk pergi.
Sakura menggelengkan kepalanya. Dia menatap Itachi seolah menantangnya untuk melakukan sesuatu atas penolakan Sakura untuk pergi. Ya, aku di sini. Dan aku akan tetap tinggal.
Itachi menatap gadis di depannya dengan tatapan tanpa emosi. Di dalam dadanya dia merasakan suatu ketertarikan. Gadis yang tidak takut mati, yah? Meskipun sudah merasakan sejengkal dari kematian dia masih tidak takut untuk melawan. Menarik… tapi aku tidak punya waktu untuk hal seperti ini. Dengan kecepatan yang terlihat oleh mata, Itachi menarik sebuah shuriken dari balik jubahnya dan melempakannya ke arah Sakura.
Sakura tidak sempat bereaksi. Dia hanya sempat menutup matanya menghadapi shuriken yang datang dengan cepat ke arahnya. Setelah beberapa saat berlalu, Sakura tidak merasa sakit. Dengan perlahan dia membuka matanya dan menoleh ke sampingnya. Di sampingnya, hanya beberapa senti dari daun telinganya, sebuah shuriken tertancap di dinding gua. Sakura hanya bisa menatap ketakutan dengan jantung berdebar kencang ketika helai demi helai rambutnya yang terpotong shuriken itu jatuh ke tanah. (AN: meleset… lagi-lagi karena luka)
Dengan gemetar, entah karena ketakutan atau karena marah, mungkin keduanya, Sakura menolehkan wajahnya dan memandang wajah Itachi. Itachi hanya melihatnya dengan ekspresi dingin. Wajah Sakura mengeras dan dia berkata menyindir Itachi, "Gagal lagi, Uchiha Itachi-san? Ternyata kemampuanmu tidak sehebat yang dikatakan orang-orang yah? Mengapa Uchiha Itachi yang terkenal itu tidak berhasil membunuh seorang gadis kecil yang tidak berdaya. Ayo, silahkan kalau berani… bunuh aku sekarang!" mata Sakura menantang Itachi untuk mencoba membunuhnya lagi.
Itachi melihat pandangan serius di wajah Sakura. "Aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu. Aku punya berita penting yang harus disampaikan pada atasanku secepat mungkin." Dengan itu Itachi berdiri dan beranjak pergi menuju mulut gua.
Sakura yang sadar akan maksud kata-kata Itachi segera berlari dan memeluk tubuh Itachi dari belakang. "Jangan pergi!"
Itachi memandang Sakura dengan ekspresi terkejut dari balik bahunya. Gadis ini… mengapa dia tidak mau meninggalkan aku sendiri dan mengapa dia tidak mau menyerah? "Jangan sentuh aku…" kata Itachi sambil menggeram.
Sakura melepaskan pelukannya, tapi kemudian dia memutar badan Itachi sampai mereka berhadapan lagi seperti kemarin malam (AN: ingat? Kejadian kunai…) "Aku tidak bisa membiarkan pasien yang terluka bangkit dan bertugas. Kau butuh istirahat dan tidak boleh bergerak banyak karena lukamu belum menutup dengan sempurna." Kemudian Sakura melirik kedua tangannya dan kaget melihat kedua tangannya dibasahi darah.
"Lukamu terbuka! Sini, tak ada alasan lagi sekarang aku harus membalut lukamu." Sakura langsung menarik tangan Itachi dan membawanya ke dalam gua tanpa menunggu jawaban apapun darinya.
Setelah Itachi duduk di lantai gua, Sakura dengan cepat melepas jubah yang dikenakan Itachi dan kemudian dia merobek sedikit bagian samping baju Itachi untuk mengamati lukanya. Lukanya masih ada dan sekarang terbuka lagi. Sakura mencari-cari di dalam ranselnya dan kemudian duduk di depan Itachi sambil membawa perban di tangannya. Dia mulai membersihkan luka Itachi dengan cairan di dalam botol yang baunya menusuk hidung. Setelah itu, dia membalutkan perban di sekeliling luka di perut Itachi.
"Phiuh! Sudah selesai. Untuk sementara kamu tidak boleh bergerak dulu. Kalau aku masih mempunyai sisa chakra aku bisa menyembuhkannya dengan cepat tapi sayangnya selama seminggu ini level chakraku akan tetap rendah karena kemarin aku terlalu berlebihan menggunakannya. Selama itu, perban dapat menahan luka di perutmu." Sakura tersenyum kecil sambil mengamati hasil kerjanya. Sebagai kunoichi dia selalu membawa perban bersamanya, bahkan setelah dia menguasai jurus medis yang diajarkan Tsunade, dia tidak pernah lupa akan satu hal kecil itu.
Suasana yang tegang sedikit mengendur oleh perkembangan terbaru ini. Sakura mengintip wajah Itachi dari sisi wajahnya. Itachi sedang memejamkan mata dan kelihatan tenang. Sakura menghembuskan napas dengan lega. Sepertinya Itachi tidak akan berusaha untuk membunuhnya lagi dalam waktu dekat ini.
"Sepertinya kita belum berkenalan dengan benar, Itachi-san. Namaku Haruno Sakura." Itachi hanya membuka matanya beberapa saat sebelum menutupnya lagi. Tapi Sakura tidak keberatan, karena sudah terbiasa menghadapi Sasuke. Dasar adik-kakak yang entah mengapa mirip dalam beberapa hal aneh…
Sakura kembali mencari-cari sesuatu di dalam ranselnya dan kemudian dia menarik keluar dua bungkusan dari dalamnya dengan teriakan kemenangan.
"HA! Ini dia!" Sakura melemparkannya ke arah Itachi yang langsung membuka matanya dan menangkap bungkusan itu dengan sebelah tangannya. Itachi menatap bungkusan berwarna merah ditangannya dengan sebelah alis terangkat.
"Kamu boleh memakannya. Itu ransum ninja, memang rasanya tidak enak tapi bisa mengenyangkan perutmu selama seharian penuh dan memberikan energi yang dibutuhkan shinobi dalam melakukan tugasnya di luar. Tenang saja, ransum ini dikembangkan oleh Tsunade-shisou jadi dijamin tidak merusak kesehatan. Kita mempunyai persediaan yang cukup selama seminggu di ranselku" Jelas Sakura sambil merobek bungkusannya dan memakan batangan kecoklatan yang ada di dalamnya dengan ekspresi agak jijik.
Itachi mengikuti contoh Sakura dan memakan batangan itu. Dalam sekejap dia merasa ingin muntah, ini makanan yang paling tidak enak dan paling menjijikkan yang pernah dimakannya seumur hidup. Berusaha supaya tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun di wajahnya, Itachi melanjutkan usahanya (yang susah payah) menghabiskan makanan itu dan Sakura melakukan hal yang sama tidak jauh dari Itachi.
"Iiih… aku tidak tahan kalau harus makan makanan ini selama seminggu berturut-turut!" sahut Sakura dengan nada jijik sambil meremas pembungkus ransum ninja di tangannya dan kemudian melemparkannya sampai ke sudut gua yang jauh.
"Hn." tambah Itachi, diam-diam setuju dengan pendapat Sakura.
TBC
AN: Aku gak puas sama chapter ini. Aku pikir terlalu membosankan dan kurang angst. Tapi chapter ini diperlukan, jadi terpaksa deh. Kayaknya aneh gak sih? Aku berusaha mati-matian supaya Itachi tidak OOC, tapi kalau masih OOC juga artinya kemampuanku masih payah banget deh. Aaahhh kalian semua pasti pada kesal deh…. Maaf! Aku saja kesal pada diriku sendiri… kenapa aku tidak bisa menulis yang lebih bagus lagi? Tapi aku berjanji di chapter berikutnya akan lebih berkembang lagi ceritanya dan akan lebih menarik. Aku sudah memikirkan akhir dari cerita ini dan sudah membayangkan detil di sana-sini. Kalau kalian ada saran mengenai bagaimana seharusnya Itachi dan Sakura saling tertarik kepada masing-masing silahkan pm aku yah… dan juga kalau mau request adegan romantis tertentu antara Itachi dan Sakura kalau bisa dimasukkan dalam fic ini maka dengan senang hati akan aku masukkan!
Mengenai 'sentient zombie' itu ide yang muncul pada saat nonton Resident Evil… kemudian aku mengingatnya untuk digunakan suatu saat nanti. Ransum ninja cuman ide di tempat yang aku pikirkan untuk mengerjain Itachi dan Sakura. HWAHAHAHAHA!
Nah, ini saatnya untuk (dun dun dun…),
AUTHOR'S SUPER MEGA ULTRA LONG RANT! (dijamin pasti gak ada yang menantikan bacot ini…)
Topik: Akatsuki.
Bacotan: Akatsuki. Sebenarnya sih nama ini juga merupakan suatu kontradiksi. Beberapa orang mengartikan ini sebagai "Bulan Merah" (Aka merah, Tsuki bulan), dan ada beberapa yang mengartikannya sebagai "Fajar" (Akatsuki fajar). Nah yang bener sih kayaknya yang fajar… kalau tidak motif di jubah para anggota Akatsuki pasti bulan merah… bukannya awan merah dong?
Aku akan menceritakan tentang temanku yang terobsesi dengan Uchiha Itachi dan Akatsuki sampai aku saja sampai terheran-heran dibuatnya.
Suatu hari di bulan yang hari-harinya selalu hujan. Aku datang ke sekolah dengan memakai jaket yang ukurannya kebesaran tiga nomor punya bapakku. Yah, terpaksa… habisnya jaketku dua-duanya dicuci. Nah, pokoknya aku masuk kelas seperti biasa dan menyapa temanku seperti biasa. Habis itu belajar seperti biasa. Yang tidak biasa nih, temen cowok yang satu ini (aku tahu dia penggemar Naruto habisnya kadang-kadang dia suka nanya-nanya gitu) tiba-tiba mendekatiku dan mengajak ngobrol pada saat aku sedang beres-beres mau pulang.
"Bagus banget jaketnya."
"Haa? Oh ini punya bokap kok. Emang kenapa? Besar banget yah? Emang nih kayaknya kegedean seenggak-enggaknya tiga nomor."
"Bukan itu… warnanya… merah gitu loh."
"Oh…"
Aku gak tahu deh mesti menjawab apa. Kok aneh sih? Memangnya kenapa yah dengan jaket merah? Wong bukan cuma aku kok di dunia yang luas besar dan dijajahi manusia seperti ini yang punya jaket merah… mencurigakan!
Seminggu kemudian, dia muncul di sekolah dengan jaket hitam yang disablon motif awan merah. Oh… pikirku. Begitu toh maksudnya…
Yah itu adalah pengalaman yang cukup aneh tapi aku bisa jujur bilang…. AKU MAU DONG JAKET KAYAK BEGITU! NYABLON DI MANA? Tapi karena gengsi, entar aja deh kalo inget lagi (eh, sekarang kan aku inget lagi!)
Ehem… ehem… nah, soal lain lagi. Sekarang mengenai taichou-nya Akatsuki. Gosip nih gossip! Masa' sih katanya ada yang bilang kalau Yondaime-sama itu ketua Akatsuki! Aku tidak percayaaaaa! Siapa sih yang punya ide kayak gitu! Mentang-mentang rambutnya spiky (ada di chp berapaaa gitu….) masa' langsung dibilang Yondaime sih… aku kan suka Yondaime… Yondaime itu adalah obsesi rahasiaku loh (psst… aku pengen banget bisa nulis fic tentang dia…) Makanya orang yang bilang ketua Akatsuki itu Yondaime (di forum mana tau… udah lupa) harus menyertakan bukti lain, dong! Artinya kita harus sabar menunggu kelanjutan Naruto… (dalam hati: AKU NGGAK SABAAARRRR!) Mau tahu teoriku tentang identitas ketua Akatsuki? SPOILER (kalau menurutku, ketua Itachi itu orang yang namanya Uchiha Madara, soalnya mata ketua Akatsuki itu mata sharingan, hal itu juga menjelaskan kenapa Itachi membunuh klan-nya dan bergabung dengan Akatsuki. Tapi aku gak bakal pake teori itu di fic ini. Aku tahu nama Uchiha Madara dari chapter 309 Naruto saat Kyuubi berbicara dengan Sasuke dia menyebut-nyebut Uchiha Madara jadi kupikir mungkin ini orangnya)
Sudah ngomongin Taichou, sekarang kita tengok anggota Akatsuki lainnya (Aah, Itachi gak bakal aku bacotin di sini… nanti kebanyakan spoiler cerita ini). Kisame nih, yang barusan aku matiin di atas (maaf Kisa-kun…) Kisame kayaknya adalah salah satu tokoh favoritku di Naruto… (kelihatan gak tadi?) habisnya gayanya aneh tapi lucu juga! Nama Kisame berarti salah satu jenis hiu dalam bahasa jepang. Pedang Kisame, Samehada juga sama. Kisame keren yah (pembaca: apanya? Gak ada tampang manusia gitu?) yah keren gayanya. Aku suka ngeliat dia yang percaya diri banget kayak gitu. Suka mengejek lagi… Huwaaann! Maafkan aku… aku telah membunuhmu demi kelanjutan cerita ini… huuu… apakah aku bisa dimaafkan? TTTT
Zetsu… yah… no comment… dia tanaman, gitu. Artinya makanannya pupuk dong? Jangan-jangan dia makan pupuk kompos untuk sarapan, pupuk hijau untuk makan siang dan pupuk (hiiiyyy) kandang untuk makan malam? Hueekksss (author muntah)
Sasori yang digantikan Zetsu? Secara pribadi aku pikir dia tuh mirip vampire yah. Gayanya itu loh. Tapi… boneka pembunuh? Kenapa yah aku jadi inget sama film Chucky yang ceritanya boneka yang dirasukin arwah pembunuh terus membunuhin orang? Yah seperti itu kira-kira.
Hohoho… Deidara! Nah ini nih yang menarik! Ada nggak yang yakin 100 kalau dia tuh cowok atau cewek! Di beberapa fanfiction yang kubaca aja ada yang menuliskan dia sebagai cewek. Hey kalau dia cowok kasian banget yah dibilang cewek begitu… Hwahahahahaha! Jadi inget Kurapika dari HxH dan Kurama dari Yuu Yuu Hakusho. Yang bikin sama-sama Togarashi (bener gak sih) sensei juga, tapi mereka gak jelas gendernya apaan. Kalau cowok kok cewek sekali yah? Sementara kalo cewek mana dadanya (author digetok pakai tongkat sapu sama nyokap yang kebetulan lewat saat dia sedang mengetik), lagipula tomboy dan gak ada cewek-ceweknya sama sekali. Yah, buat amannya yang seperti itu aku daftarkan sebagai "Bishounen" dan cuman cowok bertampang cewek. Eh di kelasku waktu kelas dua ada yang bishounen loh! Pas ada tugas pentas drama gitu, dia dipaksa oleh kami, para cewek, buat berperan sebagai puteri raja karena gak ada yang mau pake kemben yang repot begitu. Dadanya… dadanya tepos (hmmph... menahan tawa di belakang panggung sampai tulang rusukku kayaknya bakal retak nih)
Hidan dan Kakuzu. Belum banyak sih yang diketahui dari mereka tapi tampang Hidan boleh juga meskipun dia kayak pendeta nyasar dan dia aneh. Kakuzu kok mirip sub-zero dari Mortal Kombat yah? Pake topeng gituan segala. Aneh, aneh…. (Btw, gw gak spoiler kan? Aku kan gak menjelaskan cerita gitu… cuma tokoh doang… maaf dulu dong –hug-)
Nah loh kok jadi menyimpang dari topik yah… Oke deh… Akatsuki! Err… Akatsuki! Aahh, kehabisan ide bacotan! Bagaimana mungkiiiiinnnn? Yah sudahlah….
Update Announcement: tunggu aja deh setiap hari Jum'at/Sabtu/Minggu/Senin setiap minggunya. Kalau belum ada artinya minggu depannya lagi. Kalau belum ada artinya minggu depannya lagi. Kalau belum ada artinya minggu depannya lagi. Kalau belum ada…. (para pembaca: Hey! Kita sudah ngertiiii! BDT: maaf…)
Sebagai penutup, REVIEW REVIEW REVIEW!
With love and peace in the world,
bad day today!
