We Belong Together?
Cast: SoonHoon, SVT member(s)
Rate: T
Hurt/Comfort, Drama, School-life.
Warning: Yaoi/BL, OOC, typo(s).
Disclaimer: all casts belong to God and their family. Don't do plagiarism or share this fic without permission from me.
©Squishy Carrot
.
.
.
Jihoon mengetukkan kakinya ke lantai sementara matanya tak lepas sedikitpun dari daun pintu. Jika diibaratkan di dalam film fiksi, mungkin seluruh penonton dapat melihat efek sinar laser keluar dari kedua mata sipitnya. Namja bertubuh mungil —tapi kejam— itu mengalihkan pandang pada jam yang melingkari pergelangan tangannya dan mendengus kesal.
"Tenanglah, Jihoon-ah. Kau bahkan bisa membunuh seekor semut dengan tatapan mematikanmu," ujar Wonwoo.
Jihoon menoleh kearah Wonwoo dan tersenyum, "Joyonghi hada!*" desisnya pelan, namun cukup untuk membuat Wonwoo tersenyum canggung dan melipir menuju kekasihnya yang membaca buku di sudut ruangan.
Jihoon kembali melemparkan pandangan kearah pintu dan tersenyum saat pintu terayun dengan keras hingga memperlihatkan sosok adik tersayangnya— yang sedang menyeret seseorang dengan sangat kejam.
"Jihoon hyung! Chan menemukannya!" teriak Chan. Ia berjalan mendekati Jihoon dengan satu tangan yang masih setia menarik kerah seragam milik namja lain yang wajahnya mulai memucat karena sulit bernafas.
"Y-yah, pabo maknae! Le-lepaskan kerahku!" mohon namja itu dengan wajah memelas. Jihoon membulatkan matanya dan memukul kepala namja itu dengan buku yang berada di dekatnya.
"Jangan menyebut adikku pabo, Kwon Soonyoung!" desis Jihoon. "Lepaskan dia, Chan-ah. Kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik," lanjutnya seraya tersenyum sangat manis.
'Bagaimana bisa setan kecil itu tersenyum sangat manis—'
'Jihoon memang hanya akan tersenyum pada Chan. Andai saja aku adiknya..'
'Monster kecil itu sangat tidak dapat diprediksi.'
'Cantik—'
Jihoon tidak memperdulikan teman-temannya yang kini sibuk berbicara di belakangnya. Kini ia memiliki hal yang lebih penting untuk diurus. Mengeksekusi Kwon Soonyoung.
"Kemana saja kau, Tuan Kwon?" Jihoon menyipitkan matanya yang tertutupi oleh kacamata.
Sang korban— yang kini diketahui bernama Kwon Soonyoung, tersenyum manis, "um- mencari udara segar?"
"Bohong, Hyungie! Tadi Chan menemukan Soonyoung hyung sedang tertidur di atap sekolah!"
Senyum mematikan terlukis pada bibir sang ketua, "mencari udara segar hingga tertidur dan menelantarkan tugas tugasmu?"
Soonyoung tersenyum kikuk, "e-eh, itu—"
"Sebenarnya otak kecilmu dipakai untuk apa, Kwon?"
"Otakku tidak sekecil tubuhmu—" sebuah buku melayang tepat ke dahi Soonyoung. Tampaknya otaknya benar benar akan mengecil dan ia akan menjadi bodoh setelah ini.
"Jangan memotong perkataanku, dan jangan menghina tinggi badanku!" Soonyoung mengangguk cepat, 'iyakan saja daripada nyawaku hilang ditangan iblis kecil ini,'—pikirnya.
"Kau tahu? Aku sedang tidak dalam mood yang baik hari ini—"
'memangnya moodmu pernah baik?'
"—dan kau ikut terlibat dalam hancurnya moodku hari ini."
Mata sipit pemuda itu membulat, "Naega wae!?"
"Kau meninggalkan tugasmu, yang sudah berkali-kali ku ingatkan untuk dikerjakan secepat dan serapi mungkin. Bahkan kau menyempatkan diri untuk bersantai—"
"Ralat, tidur, Kwon Jihoon—"
"sama saja. Intinya kau menelantarkan tugasmu dan bersantai hingga tertidur di atap. Dan apa itu? Kwon Jihoon? Jangan gila, wakil bodoh," Jihoon kembali memukul kepala Soonyoung dengan map yang cukup tebal.
Sementara para saksi hanya dapat menatap Soonyoung prihatin dan memberikan semangat, minus Seokmin yang menahan tawa kala melihat sahabatnya dimarahi oleh ketua OSIS mereka yang terkenal akan kedisiplinan dan temperamennya.
'Sialan kau, Lee Seokmin!' gerutu Soonyoung dalam hati dan kembali menatap sosok namja mungil yang masih setia menceramahinya dengan nada datar dan dingin yang sangat kentara.
Pikiran Soonyoung mulai melayang, atau melamun, lebih tepatnya.
Sosok dihadapannya, namja yang duduk di tingkat dua dengan nama yang semanis wajahnya—namun tidak semanis mulutnya, Lee Jihoon, pujaan hatinya dan juga ketua OSIS tersayangnya.
Masih segar dalam ingatannya saat bertemu namja itu pertama kalinya, bukan di upacara penerimaan murid baru seperti yang sering ia baca di cerita fiksi, tetapi di pusat perbelanjaan yang cukup besar di Seoul.
Disaat seorang namja yang bertubuh jauh lebih pendek dari dirinya tak sengaja menyenggolnya akibat berlari tanpa memerhatikan sekitar. Soonyoung ingin marah, awalnya. Namun ia mengurungkan niatnya untuk marah saat melihat sosok mungil itu menghajar seorang pria berumur dengan flying-kick, Twieo Dwi Chagi, dan Sambion Jireugi*. Tentu saja ia sangat mengenal teknik itu, mengingat ia pernah mempelajari Taekwondo semasa kecil hingga Sekolah menengah pertama.
Pandangan matanya tak dapat beralih dari gerakan lincah pemuda mungil tersebut. Bagaimana namja itu melayangkan tendangan dan pukulan yang ia yakini terasa sangat menyakitkan. Ia terkesiap saat namja mungil itu berjalan ke arahnya dan membungkukkan badan.
"Maaf karena telah menabrakmu. Jeongmal joesonghamnida," ucap namja itu datar.
"Ah— ne, gwaechana," Soonyoung mengangguk kaku. "Mengapa kau menghajar ahjussi itu, kalau boleh tahu?"
Pemuda mungil itu menatap Soonyoung datar, "Bukankah orang mesum memang pantas dihajar?"
Soonyoung mengangguk lagi. 'Mungkin ahjussi itu melakukan hal mesum dan pemuda ini melihatnya,' pikir Soonyoung. Ia kembali memperhatikan namja mungil di hadapannya. Cukup manis walaupun wajahnya terlampau datar. Rambut oranyenya bergoyang mengikuti gerakan kepala pemiliknya. Cukup satu kata yang dapat mendeskripsikan namja itu— manis.
"Hyung!" suara seorang namja lain menginterupsi Soonyoung, ia menolehkan wajahnya dan merengut tidak suka kala namja mungil di hadapannya di peluk oleh namja lain.
"Ayo kita pulang! Aku sudah lelah mencari hyung sejak tadi," rengek namja itu dan dihadiahi dengusan oleh si namja mungil.
"Ne. Kajja, Chan-ie," Soonyoung menahan pergelangan tangan namja mungil tersebut dengan cepat.
"Neoui… ireum?" Jihoon mengerutkan dahinya.
"Mwoya?"
Soonyoung menghela nafasnya sejenak sebelum kembali bertanya dengan ragu, "Neoui.. ireum? Namamu?"
"Jihoon."
"Eh?"
"Lee Jihoon. Sekarang tolong lepaskan tanganku sebelum kau membuat adikku menangis karena menunggu terlalu lama," namja mungil itu, Jihoon, menatap Soonyoung tajam hingga namja yang lebih tinggi melepaskan tangannya dan berjalan beriringan dengan adiknya.
Soonyoung memperhatikan punggung kecil yang mulai menghilang di balik tubuh orang-orang yang jauh lebih besar dari dirinya. Ia bahkan tersenyum lebar tanpa ia sadari.
.
'Jika sudah jodoh, tentu akan bertemu lagi.' Begitu kata orang. Dan mungkinkah dia berjodoh dengan si mungil? Ia tak sengaja mendengar percakapan Seokmin dengan Seungcheol hyung. Benar-benar tidak sengaja. Salahkan Seokmin yang berbicara dengan suara yang bisa dikatakan sangat kencang.
"Si setan kecil itu benar-benar mengerikan, hyung! Bahkan beberapa siswa dari sekolah kita melihat betapa sadisnya saat ia menghajar ahjussi mesum itu!"
Seungcheol menaikkan sebelah alisnya, "Aku tahu, Seokmin. Lagipula ini bukan pertama kalinya, bukan? Seperti kau baru mengenal Jihoon saja."
Mendengar nama si mungil itu disebut, dengan segera Soonyoung masuk dan bergabung dengan Seungcheol dan Seokmin.
"Kalian membicarakan siapa? Lee Jihoon?" Tanya Soonyoung penasaran. Maklum saja, pemuda itu sedang kasmaran.
Seokmin mengangguk cepat, "Eo, Lee Jihoon. Si setan kecil yang akan menggantikan Seungcheol hyung sebagai ketua OSIS tahun depan."
"Jihoon murid sekolah kita?"
"Jihoon tidak sekecil itu hingga kau tak mengetahui keberadaannya, Kwon. Kemana saja kau setahun belakangan? Dia bahkan seangkatan dan kelasnya tepat berada di sebelah kelasmu," jelas Seungcheol. Mata sipitnya membulat mengetahui fakta tersebut. Lee Jihoon, si mungil itu, tidak hanya satu sekolah dengannya tetapi juga bersebelahan dengan kelasnya.
'Takdir, mungkin?' Soonyoung tersenyum lebar.
Seokmin menatap Soonyoung ngeri, "Yah, Kwon! Senyummu mengerikan!"
Soonyoung tidak mengindahka perkataan Seokmin. Namja itu menolehkan wajahnya menatap Seungcheol dengan senyuman yang belum luntur sedikitpun.
"Hyung, boleh aku tahu syarat bergabung dengan OSIS?"
Dan, ya. Begitulah awal mula Soonyoung bergabung dengan OSIS. Jika ikan terdampar karena arus, maka Soonyoung adalah tipe ikan yang mendamparkan dirinya sendiri demi mengejar cinta.
.
"—kau seharusnya mengerti dengan itu semua, bodoh. Kau paham, tidak?" Tanya Jihoon.
Seketika, lamunan Soonyoung terbuyarkan. Ia memasang senyum konyol dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Jihoon melemparkan tatapan bengisnya, "Kau tidak mendengarkanku?"
.
.
Gulp. Mati kau, Kwon!
.
.
Jihoon turun dari meja yang ia duduki dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang tergeletak diatas lantai.
.
.
ALERT!
.
.
"MATI KAU, WAKIL KETUA BODOH!"
Soonyoung bangkit dan segera berlari keluar ruangan, dengan diikuti Jihoon yang siap melemparkan nunchucks yang tengah ia genggam.
"Soonyoung sengaja, ya?"
Mingyu menatap Wonwoo dan mengedikkan bahu, "Nan molla."
Jisoo dan Jeonghan menghela nafas, "tampaknya kita harus bekerja keras untuk menenangkan Jihoon setelah ini," ucap Jisoo dengan diiringi anggukan Jeonghan.
"Chan-ie, ayo bermain!" ajak Minghao. Tampaknya dua pemuda yang masih kekanakan itu tak peduli dengan nasib Soonyoung yang mungkin sedang terancam nyawanya.
"Jun hyung, katakana pada Jihoon hyung bahwa tugasku sudah selesai dan aku sudah meletakkannya di atas meja. Aku ingin pulang, I'm tired. Bye," ucap Hansol seraya membereskan barangnya dan berjalan ke luar ruangan.
Seungkwan segera mengambil tasnya dan menyusul Hansol, "Yah, Hansol-ah! Tunggu aku!"
"Aku mau tidur, jangan mengganggu," titah Seungcheol yang dengan segera diangguki oleh yang lainnya.
Jun membaringkan dirinya di dekat Seungcheol dan memasang earphone. Mendengarkan musik lebih baik ketimbang memikirkan nasib temannya yang sedang dikejar iblis kecil.
Sementara itu..
"BERHENTI, KWON!" sahut Jihoon dengan suara lumba-lumbanya.
Soonyoung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan terus berlari. Sungguh beruntung ia jauh lebih tinggi dari Jihoon, dan itu artinya langkah kakinya pun lebih lebar dari Jihoon.
"Tidak! Tidak akan!"
"AKU AKAN MEMBUNUHMU HARI INI JUGA, WAKIL BODOH!"
.
.
.
Tbc.
(*)
Joyonghi hada!: Diamlah!
Twieo Dwi Chagi: Tendangan belakang yang dilakukan sambil melompat.
Sambion Jireugi: Pukulan Ke Bawah,Perut,Dan Kepala.
A/N:
Thanks for the reviews on last chap! I'll try to update this fic as soon as I can, kk.
I wrote this fic without a clear plot, so I'm sorry if the genre or the story will be weird, lol.
Cleo bukan tipe yang nulis fic berdasar plot yang jelas. Apa yang ada di otak, itu yang Cleo tulis. Jadi Cleo sendiri tidak tahu ff ini akan berakhir seperti apa.
Don't forget to leave review on review box! I need it to improve my writing skills and also for encourage myself.
— Cleo —
