Susan's POV
Kereta mulai berjalan. Aku melihat terus benda yang disebut tongkat sihir. Bagaimana cara kerjanya ? Sudahlah, aku mau membaca buku pelajaranku. Mungkin aku ketinggalan banyak pelajaran.
"Susan, menurutmu nama yang bagus untuk burung hantu ini apa ?" Tanya Edmund
"Entahlah Edmund, itu jantan atau betina ?" Tanyaku sambil membaca buku History of Magic.
"Hmm...Jantan. Apa ya nama yang bagus ?" Kata Edmund.
"Mungkin Scintilula...?" Usulku.
"Namanya bagus juga, nama burung hantumu apa Susan ?" Tanya Edmund. Aku lalu menutup buku dan mulai mencari nama. Satu hari tanpa menjadi kutu buku. Burung hantuku betina dan dia memiliki warna abu-abu. Scintilula berwarna coklat muda. Peter mempunyai burung hantu yang berwarna hitam jantan. Lucy mempunyai burung hantu yang berwarna putih bersih, betina.
"Namanya Candentia ? Bagus tidak ?" Tanyaku
"Ya, namanya bagus. Sekarang aku menamai burung hantuku Nixy." Kata Lucy.
"Punyaku kunamai siapa ya...? Aha ! Magnifica." Kata Peter.
Aku pikir aku akan membaca buku lagi. Tidak ada hal yang dapat dilakukan selain membaca. Aku mengambil buku Charms. Lucu sekali...Beberapa tahun lalu aku sama sekali tidak mempercayai sihir, tapi sekarang aku masuk ke sekolah sihir dan pernah pergi ke Narnia.
Tiba-tiba kereta berhenti. Makhluk dengan jubah hitam datang dan sekejap semua terasa dingin dan seolah-olah kebahagiaan telah tiada dari muka bumi. Tidak lama setelah itu, makhluk itu pergi.
"Whoa, makhluk apa itu ? Aku tidak pernah melihat makhluk seperti itu di Narnia." Kata Edmund.
"Itu Dementor. Bacalah di buku, Ed." Kata Lucy. Dia sekarang menjadi kutu buku baru, ya ?
"Buku kita kan berbeda, Lu ? Aku tahun ke-3 dan kamu tahun ke-2. Jelas buku kita berbeda." Kata Edmund.
"Haha...Lucu sekali, Ed. Aku membacanya dari bukumu." Kata Lucy.
"Oh..." Kata Ed. Mukanya menjadi merah. Mungkin dia malu dikalahkan dalam hal kepintaran oleh adiknya.
"Jadi..." Kata Peter memulai percakapan. "Susan ada di tahun ke-4 dan aku tahun ke-5. Satu hal lagi, aku dengar ada 4 asrama. Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff. Menurutku Gryffindor yang bagus." Lanjut Peter.
"Ya, dari gosipnya, begitulah." Kata Lucy.
"Sejak kapan kau mendengar gosip ?" Tanyaku penasaran sambil masih membaca buku.
"Sejak aku mendengar banyak anak tahun pertama yang membicarakan Gryffindor." Kata Lucy.
"Terserah. Oh, iya. Aku mau ganti baju. Kalian ?" Aku bertanya. Yang lainnya menganggunk dan mereka juga mengganti baju.
Setelah mengganti baju, kami kembali ke tempat kami dan beberapa jam kemudian kami sampai di Hogwarts. Hogwarts itu sangat besar dan... Tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aku sampai di Great Hall. Kami semua tepatnya. Aku, Peter, Edmund, dan Lucy harus mengikuti anak-anak tahun pertama untuk ditentukan asramanya.
"Edmund Pevensie." Kata Prof. McGonagall. Aku tahu namanya karena dia telah memperkenalkan dirinya tadi. Topi itu diletakan di atas kepalanya. "Gryffindor !" Kata topi itu. Semua yang ada di meja Gryffindor bertepuk tangan dan memberi selamat.
"Lucy Pevensie."
"Gryffindor !"
"Peter Pevensie."
"Gryffindor !"
"Susan Pevensie."
Aku maju dengan agak gugup. Topi itu diletakan di atas kepalaku.
"Gryffindor !"
Aku sangat senang karena bisa bersama semua saudaraku. Harry, Hermione, dan semua Weasley juga di Gryffindor.
Setelah makan malam selesai, aku pergi ke common room. Tapi aku merasa lelah dengan perjalanan tadi. Aku masuk ke kamar tidur dan mengetahui kamarku dan Lucy sama. Bagaimana bisa ? Berdua saja ? Ah, sudahlah, aku mau melanjutkan belajar sebelum tidur. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Peter dan Edmund ? Aku tanya besok sajalah.
