playlist: léon - i believe in us
ablaut: renjana
bab 1 - bilai
"Hinata …."
Hidan mengusap tengkuknya yang meremang dingin. Mata bungurnya tertuju pada pergelangan kiri Hinata yang masih agak membiru. Sedetik kemudian kelereng itu bergulir mengunci dua bandul Hinata. Pandangannya melembut. Sesuatu di ujung lidah yang selama ini tertahan karena keegoisannya meluncur begitu saja.
"Maaf … aku salah."
Saat pintu toko terbuka, Hidan melihat Hinata masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah dari sepatu bot cokelat kacang tanpa haknya. Kakinya pun masih terbalut legging hitam dengan dress sepaha yang senada dengan warna botnya. Ia juga ingat pada kardigan merah muda yang gadis itu kenakan, pemberiannya beberapa tahun lalu.
Sebalut rasa hangat yang menguar dari tubuhnya membuatnya nyaman. Sebuah pertanda baik.
Di mata Hinata, Hidan tampak normal. Mungkin bukan hanya baginya saja, bagi orang lain yang melihat hubungan mereka pun, semua berjalan dengan sewajarnya. Hidan memang tidak selalu menunjukkan sikapnya, hanya saat tertentu sifat dan sikapnya menukik tajam.
"Aku sudah memikirkannya kembali. Dan mungkin aku masih bisa melanjutkannya, tapi aku tidak bisa menerima sikapmu yang kasar."
Banyak alasan yang ingin dilontarkan Hidan mengenai sikapnya tempo lalu, tetapi tertahan melihat gurat keteguhan yang membutuhkan seluruh hidupnya untuk merobohkannya.
"Aku akan berusaha."
"Akan? Berarti sekarang dan sebelum ini kau hanya melihatku sebagai objek."
"Aku tidak bilang seperti i—"
"Kau gila. Aku sudah mencoba kembali menerimamu, tapi kau malah melempar batu ke mukaku."
Kening Hidan mengerut dalam, kepalanya menggeleng. Tangan kanannya refleks meraup lengan Hinata sebelum ia teringat untuk segera melepaskannya. Ujung dress Hinata menyapu angin dengan kasar ketika ia berusaha mundur, mengangkat ke dada lengan yang sempat tersentuh.
"Maaf, maaf, Hinata. Aku sungguh-sungguh memegang kalimatku. Maaf, aku mengacaukannya lagi," gumamnya sambil menjambak rambutnya dengan jemarinya, frustrasi.
Ia benar-benar mengacaukannya. Saat niat baik Hinata mulai pupus satu per satu, aroma madu yang ia kenal mengetuk penciumannya. Ia menoleh dan mendapati Sakura melaluinya. Beberapa langkah kemudian, Sakura membalikkan tubuh dengan memberikan kepalan tangan dan anggukan mantap, seolah menguatkannya sebelum menghilang ditelan malam.
Semua yang terjadi memang tidak sepenuhnya salah Hinata. Namun, ia harus meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan agar dapat menyelami pria yang sedang tertunduk di hadapannya. Hidan memang telah mengacaukannya, atau mungkin hanya perasaan Hinata saja yang menjadi terlalu sensitif. Apa pun itu, ia masih tetap tidak bisa membohongi hatinya.
Dengan mengirup udara mendingin, Hinata menyodorkan satu kantong berisi dua roti sisa penjualan. Mendengar sesuatu berusik di hadapannya, Hidan menaikkan wajah, menurunkan jemari itu dari jurai keperakannya.
Hidan menyukai melon. Ia dapat membaui buah itu dari dalam kantong kertas Hinata.
"Kebetulan sisa dua. Kau pasti lapar, 'kan?"
Pria itu memang tidak pernah sempat untuk menghabiskan makan malamnya belakangan ini. Dan tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan roti melon dari gerai Mi-Pan tempat Hinata bekerja.
Ia menatap Hinata sebelum menerima kantong itu. Seberkas hangat menyelubunginya. Bukan karena rasa percaya dirinya tinggi, tetapi Hidan memang selalu merasa Hinata tidak pernah meninggalkannya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu. Sepuluh menit lagi ada bus terakhir lewat, aku naik itu saja."
Hinata melangkah pergi menuju halte yang berjarak sekitar lima kali gerai roti. Hidan menyusulnya, berusaha untuk tidak menahan gadis itu dengan memaksanya.
"Ayolah, Hinata. Kau tidak takut menunggu sendirian begitu?"
Hinata mengerlingkan pandangan pada pria yang menyusulnya. Ia semakin mempercepat gerakan. Dari liukan cepat rambut panjangnya, Hidan dapat menghirup aroma yang dirindukan. Jika saja mereka tidak bermasalah, ia akan merengkuh Hinata, menciumi sulur gelapnya.
"Tidak."
Selama ini Hinata tahu ada mata lain yang selalu mengawasinya ketika sedang menunggu sendirian, dari balik mobil Tesla merah metaliknya. Sebelum menaiki bus, ia akan melempar tatapan dingin pada orang yang duduk di balik kemudi, sebelum pintu bus menutup dan mobil itu meluncur ke arah yang berbeda. Ia mengakui bahwa Hidan-lah yang selalu melindunginya pada malam-malamnya.
"Kau yakin tidak mau aku antar?" tanya Hidan menekan.
Nihil respons.
Selama beberapa hari, Hinata selalu menghindarinya tanpa sempat ia berkata. Hidan tidak mungkin melepaskan kesempatan kali ini.
Mereka berdua tiba di halte. Hinata duduk menunggu. Masih tujuh menit lagi sebelum bus tiba dan ia sudah ingin segera mengistirahatkan tubuhnya. Hidan mengerti untuk tidak menunggu lebih lama. Dalam tujuh menit, jika ia masih terus membujuk tanpa jawaban, ia akan kembali kehilangan Hinata.
Hidan mengambil ponselnya. Mobilnya terparkir beberapa puluh meter dari halte. Ia selalu memarkirkan mobilnya di sebuah toko perlengkapan golf—dua gerai dari Mi-Pan, karena tidak adanya lahan parkir di toko roti. Dari sanalah ia selalu mengawasi Hinata selama beberapa hari.
Ia mengaktifkan suatu fitur untuk memanggil mobilnya. Dengan hanya mengandalkan lampu jalan, sayup-sayup sebuah mobil merah metalik tampak bergerak pelan sesuai instruksinya pada ponsel.
Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Hinata yang kini menggerak-gerakkan kakinya seperti bocah kebosanan. Hidan tersenyum tipis sebelum memilih duduk di sebelahnya. Ia bersyukur Hinata tidak menolak keberadaannya walaupun pandangan gadis itu sama sekali tidak tertuju padanya.
Hidan membuka kantong, kemudian melahap satu roti yang masih terasa hangat.
"Ambillah satu, kita makan berdua."
Beberapa detik kosong. Hinata akhirnya mengambil roti itu walaupun lidahnya sudah bosan mencicipi rasanya. Kakinya masih tetap bergoyang pelan menyapu angin, matanya memandang hampa pada ranting dari pohon yang mulai meranggas. Hidan mengikuti arah pandangnya, melahap satu gigitan penuh, rasa manis kembali bercampur.
"Apa kau masih balapan liar?"
Hampir saja pria itu memuntahkan rasa favoritnya. Pembahasan yang selalu ia hindari. Pembahasan yang selalu berhasil membuat mereka bertengkar hebat. Pembahasan yang selalu meloloskan ketakutan ke dalam benaknya.
"Kemarin lusa aku hanya menemani—"
"Jawabannya mudah saja, 'iya' atau 'tidak'."
Hidan menelan ludahnya, bersama rasa manis yang berubah getir. "Iya …."
Hinata mengembuskan napas lelah, mencoba kembali mengingat-ingat perkataan Sakura. Ia berusaha menahan diri.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi suatu saat nanti aku akan berhenti."
Kalimat itu naik menuju atap halte, sebelum menghilang ditelan suara lirih Tesla Model S-nya.
Mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Ketika mobil itu datang ke hadapannya dua bulan lalu, Hinata mengerutkan wajahnya. Mobil keluaran terbaru yang tidak mungkin dapat dimiliki oleh pegawai berpenghasilan rata-rata. Hidan mengatakan bahwa mobil itu dipinjamkan oleh boss-nya. Kebohongan yang sulit dipercaya, hingga gadis itu mengetahui sendiri bahwa mobil itu hasil dari uang taruhan yang telah dikumpulkannya selama beberapa periode. Hinata marah besar atas dua hal: kebohongan Hidan dan pekerjaan sampingan yang selama ini berusaha ditutupi.
Mobil itu jelas tidak membawa kenangan manis baginya.
"Aku akan mengantarmu."
Tepat saat Hidan menyelesaikan kalimatnya, suara berat bus mulai terdengar dari belokan pertigaan. Hinata bangkit, Hidan gusar tanpa jawaban.
"Pulanglah, Hidan, busku sudah datang."
"Aku mohon, Hinata. Kau tidak lihat bus itu hampir tidak berpenumpang?"
"Aku tidak apa—"
Jantungnya berdentum nyeri. Hidan tidak kuasa menahan hasratnya lebih lama. Lagi-lagi ia terjatuh pada sikap memaksanya. Hal lain-lain bisa dipikirkan nanti setelah gadis yang ia tarik lengannya masuk ke dalam mobil. Ia mengabaikan Hinata yang berteriak dan berusaha melepaskan diri.
Dengan satu tangan yang bebas, Hidan menyentuhkan jemarinya pada kenop pintu yang langsung direspons dengan bergeraknya kenop ke permukaan. Hidan menarik kasar pintu mobil itu, lalu mendorong Hinata masuk. Segera setelahnya, ia menuju kemudi sebelum sempat Hinata mengerti cara keluar dari mobil yang belum pernah ia naiki.
Di dalam, pada layar sentuh tujuh belas inci, Hidan menyentuh gembok untuk mengunci semua akses keluar. Saat bus berada tiga meter dari mereka, mobil merah metalik itu meluncur kencang.
"Aku benci saat kau menarik lenganku tiba-tiba," Hinata memulai, mengelus pergelangan tangannya yang terasa ngilu. "Kau tidak pernah lembut padaku."
"Maaf, Hinata. Aku tidak akan begitu kalau kau mendengarkanku."
"Kau gila."
Hidan tidak merespons. Ia siap untuk menerima kalimat menyakitkan lain setelah ini.
"Kenapa kau memaksaku? Tidak ada bedanya dengan naik bus, aku juga akan sampai."
Jelas berbeda. Lidah pria itu terlalu kelu untuk mengatakan yang sejujurnya. "Aku tidak bisa tenang kalau kau sendirian di bus itu."
"Sebelumnya kau tidak pernah separah ini."
"Aku tahu, Hinata. Maaf aku keterlaluan."
"Kau sama sekali tidak menjawab dan kau bukan Hidan yang kukenal dulu."
Hidan yang ia kenal adalah pria yang memiliki rasa percaya diri tinggi dan terlalu egois untuk meminta maaf duluan. Sedikit demi sedikit kedua sifat itu terkisis menjadi rasa kecemasan dan rasa bersalah tanpa alasan. Dan kedua sifat baru Hidan sudah cukup membuat harinya terkukung. Pria itu menjadi lebih sering mengirim pesan ataupun meneleponnya, menanyakan keberadaannya dan lain sebagainya.
"Seandainya saja setelah ini kau membenciku pun, aku akan menerimanya. Tapi biarkan aku tetap mencintaimu dengan caraku."
Hinata bungkam. Bagaimana bisa ia tidak mencintai pria itu lagi saat mimpi-mimpinya hanya berpusar pada Hidan? Ia bisa mengesampingkan fakta bahwa Hidan menyakiti fisiknya. Ia mengerti sifat seseorang tidak mungkin berubah dalam satu malam. Pikirannya memberontak untuk segera menjauh, tetapi hatinya selalu mengatakan hal yang sebaliknya. Guilty pleasure terbesar dirinya.
Jika perempuan tidak dibentuk dari emosi, maka ia telah meninggalkan Hidan sejak lama.
Gadis itu memilih untuk diam. Tenaganya sudah terkuras habis di toko roti. Ia hanya termangu menatap sekitar.
Suara yang dihasilkan mobil Hidan sangat lirih, ia yakin bisikan sekecil apa pun dapat terdengar jelas. Sesekali matanya akan melihat jemari Hidan yang bergerak memindahkan transmisi. Tak lama kemudian, berbelok memasuki jalan tol.
Pertama kali dipaksa masuk, Hinata cukup takjub pada layar sentuh besar yang tertanam di tengah dasbor. Namun rasa takjub itu tidak seberapa ketika Hidan menyuruhnya menengadah. Hampir semua atapnya transparan. Ia tidak pernah naik mobil mewah yang memiliki kaca panorama sebelumnya. Pada iklan televisi yang ia lihat pun, kaca panorama hanyalah sepetak kecil partisi bening yang terletak di bagian tengah, tidak sampai ke bangku depan seperti sekarang.
Hinata terpaku pada langit gelap. Satu-dua mega besar menyelimuti perjalanannya. Tidak lama, hujan terakhir di musim gugur tertumpah, menetes kasar di permukaan transparan atap. Dengan dibantu cahaya lampu tol, ia menghitung rintik-rintik yang tertangkap matanya. Hingga hitungan di antara 23 dan 24, ia menyerah pada rasa lelah dan membiarkan tubuhnya terjatuh pada mimpi.
Mendapati lenguhan halus, Hidan mengalihkan pandangan sejenak pada asal suara. Ia tersenyum tipis melihat kekasihnya tertidur pulas. Memang tidak ada kata 'balikan' yang terlontar, tetapi ia dapat merasakan hubungan mereka telah kembali ke semula.
Hidan menaikkan sedikit suhu mobilnya pada layar sentuh ketika mendapati kedua lengan Hinata bertaut. Ia juga melepaskan jaket hitamnya, kemudian menyampirkannya pada gadis itu. Secara signifikan suhu di luar menurun bersama derasnya hujan dan musim yang semakin menuju penghujung.
Belum sempat senyum itu menghilang, ponselnya berdering mengantarkan pesan masuk. Hidan menggeser layar, membaca tulisan yang tertampil.
"Ternyata memang benar dia orangnya. Selamat! Kau menyelamatkannya tepat waktu. Permainan ini tidak akan seru kalau aku mudah mendapatkannya, bukan, Knight in Shining Armor? Selamat malam."
Tidak lama, ponselnya menampilkan foto Hinata yang sedang berbincang dengan Sakura di dalam gerai Mi-Pan. Jelas foto itu diambil dari luar dengan pembesaran berkali-kali, dan diambil menggunakan kamera resolusi tinggi. Ia dapat menebak foto itu diambil dari dalam sebuah mobil yang melaju pelan. Secara sepintas, foto itu terlihat tajam, tetapi ada bagian yang tampak memburam. Foto itu juga agak berdistorsi, membuktikan ia tidak terlalu mengatur perspektif jepretan.
Hidan mendesis. Ia mengawasi sejenak jalanan sepi di depan, lalu mengaktfikan fitur autopilotnya. Garis pinggir pada jalan yang tertampil dari layar di balik kemudi berubah biru. Mobil itu bergerak dengan sendirinya, melambat pada kecepatan 70 km/jam.
Dengan dua tangannya yang kini terbebas, ia mengetik sesuatu dengan emosi yang menyesakkan dada.
"Keluar kau, brengsek! Akan aku pastikan kau kehilangan tanganmu kalau saja kau berani menyentuhnya seujung rambut."
Hidan melempar ponselnya sembarang ke dasbor. Sedetik kemudian ia menyesal telah melakukannya ketika mendengar dentuman keras. Pandangannya refleks menuju Hinata. Kemudian bersyukur kekasihnya tidak terusik.
Hidan mengurut keningnya. Bukan pertama kali ia mendapat ancaman. Ia cenderung tidak mengacuhkan ancaman yang masuk jika berkenaan dengan dirinya sendiri. Beberapa email ia biarkan begitu saja. Namun, sejak dua bulan belakangan, ancaman itu menjadi lebih intens. Dan untuk kali ini, kesabaran Hidan menghilang saat foto Hinata tertampil. Siapa pun yang mengancamnya, pastilah benar-benar menginginkan ia hancur, sehancur-hancurnya.
Hujan telah lama berhenti saat ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sempit. Tepat di sebalik tembok, terdapat sebuah apartemen murah.
"Hinata …."
Yang dipanggil tetap stagnan seperti semula. Kelopak matanya masih menempel rapat.
Hidan membuka pintu dengan hati-hati agar tidak membentur tembok. Ia lalu keluar dan membuka pintu penumpang. Beberapa detik ia terdiam di depan pintu, memperhatikan wajah damai Hinata. Karena kesalahan yang tidak ia mengerti, gadis itu turut menerima getahnya. Ia tidak mungkin bisa melepaskan Hinata, bagaimanapun caranya, walaupun itu artinya dengan menyakitinya.
Setelah memasukkan udara dingin lebih banyak, Hidan mengangkat Hinata. Jaket hitam itu meluncur jatuh ke bangku. Dengan kakinya, ia menutup pintu dan semampu mungkin memencet tombol kunci pada fob berbentuk mobil Tesla mini.
Apartemen Hinata berada di lantai tiga. Ia tinggal bersama satu-satunya keluarga yang masih tersisa, Hyuuga Hanabi. Hanabi berusia enam tahun lebih muda dari Hinata dan sekarang sedang menempuh pendidikan di SMA yang berada tidak jauh dari apartemen mereka. Tidak begitu banyak yang Hidan ketahui tentang Hanabi. Namun, ia tahu gadis itu telah menganggapnya sebagai kakaknya sendiri.
Setelah menaiki puluhan tangga, Hidan pun tiba di depan pintu 303 dengan sedikit keringat yang meluncur perlahan. Ia berusaha mengetuk pintu tanpa mengganggu kenyamanan Hinata. Tidak lama, pintu terbuka menampilkan Hanabi yang mengenakan piyama ungu. Tampaknya gadis itu baru saja bangun dan langsung terkejut melihat kakaknya yang tidak sadarkan diri.
"Kakak kenapa?" tanyanya khawatir.
"Hinata hanya kelelahan bekerja, Hanabi. Dia shift dari pagi, bukan?" tanyanya retorik. Hanabi jelas lebih tahu tentang itu.
Hidan dapat mendengar napas kelegaan yang keluar dari gadis di depannya. Mereka hanya hidup berdua. Karena itulah mereka saling mementingkan satu sama lain. Hidan teringat ancaman yang masuk sebelumnya, dan ia bersumpah akan meretorsi pengancam yang berani menyakiti salah satu di antara mereka.
Hanabi memberi jalan, Hidan melangkah masuk.
Ketika pria itu tiba di ranjang Hinata, ia menurunkannya dengan perlahan. Rambut keperakan itu turut menjurai sebagian, telah kehilangan efek pomade. Ia juga membenarkan posisi bantal yang agak miring, lalu menarik selimut. Sebagai penutup, kecupan ringan turun ke kening Hinata dan tidak lupa pula bisikan 'selamat tidur' sebelum beranjak pergi.
Hanabi telah menunggunya di kursi makan. Membuntuti Hidan hingga ia mulai memasang sepatunya. Senyum itu membuatnya bingung.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku kira kalian sudah …." Hanabi menyatukan jemari dari kedua tangannya, kemudian jemari itu bergerak menjauh.
Hidan terkekeh di sela-sela ikatan sepatu. Ia lalu menatap gadis itu tepat di matanya. "Tidak mungkin, Hanabi. Aku tidak mungkin melakukannya. Tidak ada yang bisa menggantikan Hinata."
Hanabi merona. Romansa yang sering ia tonton dari drama ternyata dapat ia saksikan langsung. Sedikit-banyak pengakuan Hidan membuatnya tenang. Baginya, Hidan dan kakaknya adalah satu paket.
"Jangan lupa mengganti pakaian Hinata, dan …," Hanabi mengangguk, "segera hubungi aku kalau ada apa-apa."
"Oke, Kak," jawabnya sambil mengacungkan jempol.
Hidan tersenyum simpul. Tampaknya Hanabi menganggap kalimat terakhirnya hanya basa-basi kosong belaka.
"Berjanjilah kau segera menghubungiku kalau ada hal yang aneh."
Gadis itu mengerutkan dahinya, tetapi tidak ada hal buruk yang melintasi pikirannya.
"Uh, oke, aku janji."
Hidan menghilang di balik pintu. Ia memandang pada langit gelap yang terhampar di depannya. Menerawang jauh pada kerlap-kerlip lampu kota yang satu per satu mulai padam. Pada setiap lampu yang terpadam, ia berharap harinya dapat mendamai seperti dahulu.
Ia memejamkan matanya sejenak, memasukkan udara dingin banyak-banyak. Lalu pergi menuruni tangga.
Bersambung ….
