Freesia


#NulisRandom2017

Day 7; 07 Juni 2017


Naruto mengepalkan tangannya, dan tinjunya mendarat pada dinding pintu mobil. Untungnya, pintu besi itu tidak rusak. Hal tersebut membuat seseorang yang ada di sampingnya terperanjat kaget.

Kemudian orang itu diam, inginnya menegur. Namun dia tahu, jika menegur dan mengeluarkan suara sedikit untuk menyela. Naruto akan marah padanya.

"Jika aku tidak sampai ke London tepat waktu, apa yang akan keluargaku lakukan padamu?" pertanyaan itu cukup membuat orang itu meringis takut. Dia memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, jika Master-nya tidak sampai di London tepat waktu. "Dan, bagaimana jika aku benar-benar tidak kembali ke London?" orang itu buru-buru menarik napas terkejut. Sampai paru-parunya hampir lepas dari tempatnya karena tarikan napas kasar itu.

Dia tidak akan mau membayangkan kemarahan orang-orang yang memerintahkan dirinya untuk membawa Naruto kembali ke London dengan selamat.

Ia sudah berjanji. Mereka kembali ke Jepang hanya untuk mengurus beberapa surat kepindahan dan mengirim beberapa barang yang belum sempat dibereskan satu tahun silam. Mereka ada di sini sekarang, bukan untuk menetap kembali di sini.

"Master, mungkin saya tidak akan ada di Dunia ini lagi. Madam Tsunade sangat menakutkan. Bukan hanya saya yang mendapatkan amukan. Tetapi dengan Anda juga," Orang itu masih meringis karena memohon untuk tidak berbuat aneh-aneh. "Tidak hanya Madam Tsunade, kemungkinan Lord Jiraiya akan lebih menakutkan. Anda tahukan kemarahan kakek dan nenek Anda tidak main-main?"

Naruto menelan ludahnya kasar. Dan itu cukup sakit, seperti ia sedang menelan beberapa paku besi. Dia memang tidak akan bisa melupakan sifat tegas kakek dan neneknya. Bibirnya merengut sebal jika mengingat kemarahan yang cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Si pirang itu juga sempat pula mengerutkan dahinya. Menarik kedua alisnya melengkung ke atas.

Pada satu kesempatan kali ini, kepalanya mendadak terasa panas. Ada ketidakrelaan yang sedang ia rasakan sekarang. Kepalanya mendidih dengan hebat. Seperti ada letusan gunung merapi di atasnya.

Dia tidak mau memikirkan tentang penolakan. Namun dia terus mengingat satu pukulan yang dilayangkan oleh kakak laki-laki gadis bernama Hinata itu. Banyak sekali yang membuatnya agak tidak biasa mengambil kepastian yang besar dan cepat. Jika sudah mendapatkan bukti penolakan di awalnya seperti tadi.

Dalam hal berjuang yang tidak pasti, Naruto sama-sekali tidak pernah melakukan hal tersebut. Namun, jika dia memikirkan kegagalan, itu juga tidak membuat kepalanya berhenti bergemuruh. Ia cukup dilema dalam masalah ini.

"Master, sudah waktunya." Orang di sampingnya kembali bersuara—menyela kesadarannya yang hampir hilang karena terlalu lama memikirkan kondisi gadis indigo itu.

Naruto membuang napasnya. Dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku mantel bagian kiri. Meremas dompet persegi panjangnya di sana. Tiba-tiba, kepalanya begitu saja menyusun segala rencana aneh. Ia tidak ingin pergi dari sini dan ia juga ingin menarik kata-katanya untuk menetap di London.

"Masuklah," kata Naruto. "Aku bisa membuka pintu mobil sendiri." Dia menarik sudut bibirnya, dan menjadikan bibir tersebut melengkung. Dia berusaha untuk tersenyum, tanpa membuat orang di sampingnya merasa curiga. Dia juga harus menyiapkan kakinya untuk berlari sejauh mungkin, menghindari lelaki yang dipercaya untuk menjaga dirinya di Jepang.

Setidaknya, sekarang harus menghindari penerbangan yang sudah direncanakan. Tidak—Naruto kembali sadar. Meskipun penerbangan itu dibatalkan. Ada jet pribadi yang mungkin akan menjemput dirinya dalam hitungan jam saja.

Satu yang dia pikirkan sekarang, pergi ke mesin ATM dan mengambil uang sebanyak-banyaknya untuk kabur dan tinggal di tempat seadanya. Ia memang melupakan penobatannya sebagai ahli waris.

Kenyataan tentang; ketika orang jatuh cinta, nyaris sama seperti orang gila itu—memang benar adanya. Sekarang Naruto benar-benar gila. Dan dia tidak bisa menyadarkan dirinya sendiri dari kegilaan ini.

Orang di sebelahnya itu memandang Naruto dalam. Tetapi pandangannya tidak lama.

Orang itu kemudian mengangguk, dengan menarik pintu mobil bagian kemudi. Lalu, orang itu masuk dan berhasil duduk pada kursi—dan hampir menggunakan sabuk pengaman. Tetapi pada saat yang sama, saat ia telah berhasil percaya, tiba-tiba seseorang yang seharusnya duduk di kursi penumpang berlari dengan sangat cepat, menjauhi dirinya.

Mau tidak mau, dia kembali keluar dari mobil dan berteriak;

"Master!"


Bersambung